• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Tingkat Pertama

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA TEMUAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-40)

Pertimbangan Majelis Hakim pada pengadilan tingkat pertama mengenai unsur-unsur Pasal yang didakwakan kepada Terdakwa adalah sebagai berikut.

Unsur pertama adalah setiap orang, yang dimaksud dengan setiap orang atau barang siapa adalah seseorang tertentu, manusia alami, yang tunduk terhadap hukum pidana yang berlaku di Indonesia. Dalam persidangan ini yang dimaksud dengan setiap orang yaitu anak yang identitasnya sesuai dengan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dan keterangan saksi-saksi serta keterangan Terdakwa sendiri, bahwa benar yang dimaksud dengan setiap orang yaitu Megawaty H.

Maku, S.P yang didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana dalam surat

dakwaan Jaksa Penuntut Umum, dengan demikian maka unsur setiap orang terpenuhi. Dalam hukum pidana, unsur setiap orang ataupun barang siapa belum merupakan suatu delik melainkan untuk memastikan apakah orang yang didakwa merupakan orang yang telah diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum ke persidangan pengadilan adalah orang yang sesuai dengan data-data diri pada surat dakwaan agar tidak terdapat kesalahan tentang orangnya.

Unsur yang kedua adalah dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA. Unsur ini bersifat alternatif karena terdapat kata atau di dalamnya sehingga Majelis Hakim akan mempertimbangkan terhadap unsur yang berkaitan dengan perbuatan Terdakwa.

Bahwa yang dimaksud dengan tanpa hak adalah tidak berwenang atau tanpa ijin surat ijin yang diberikan oleh pihak yang berwenang. Bahwa yang dimaksud dengan sengaja memiliki arti bahwa pembuat harus menghendaki melakukan perbuatan tersebut dan juga harus mengerti akan akibat dari perbuatan tersebut.

Sedangkan yang dimaksud dengan informasi elektronik menurut Pasal 1 butir ke 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, elektronik data interchange (EDI), surat elektronik, telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, symbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Berdasarkan fakta hukum yang diperoleh

dari keterangan saksi-saksi yang bersesuaian satu sama lain dan dibenarkan oleh Terdakwa bahwa awalnya hari Selasa, tanggal 6 Juni 2017 sekitar pukul 20.53 WITA, Terdakwa dengan menggunakan telepon seluler merk Samsung warna biru miliknya, telah melakukan postingan diakun facebooknya dengan kalimat “boleh jo ini orang mengaji nda usah pake toa klo sadar nda bagus didengar..mana tajwid-harakat so baku cako. rupa oma2 saki puru talapas gigi..mangganggu skali!!! Al-qur’an itu qalam ilahi..ibarat pencipta lagu trus ada penyanyi yg bawain lagu ciptaannya antara lirik dan nada tidak seirama..apa yg nyiptain lagu gak jengkel?? apalagi yg denger. Ho tuhaii..ampir tiap mlm ini derita kasiang.

Somo prop deng apa ini kuping (emotion marah)” yang artinya “boleh orang mengaji ini tidak usah pakai pengeras suara (Toa) kalau sadar tidak bagus didengar. Mana tajwid-harakat sudah campur aduk. Seperti nenek-nenek sakit perut terlepas gigi. Mengganggu sekali. Al-Qur’an itu Qalam Ilahi, ibarat pencipta lagu terus ada penyanyi yang membawakan lagu ciptaannya antara lirik dan nada tidak seirama. Apa yang menciptakan lagu tidak kesal??apalagi yang mendengar.

Oh Tuhan..hampir tiap malam penderitaan ini kasian. mau di tampal dengan apa telinga (emotion/gambar ekspresi marah di facebook)”.selanjutnya pada tanggal 7 Juni 2017 pukul 21.57 WITA, Terdakwa kembali dengan menggunakan telepon seluler merk Samsung warna biru miliknya telah melakukan postingan diakun facebooknya dengan kalimat “itu pengajian atau ada b undang jailangkung p setan (emotion marah) kampret #MasjiDalamPasarBaruMarisa. Bolo tiap mlm thd!!!!”

yang artinya “itu pengajian atau mengundang setan jailangkung? (emotion marah) kampret/makian, setiap malam tahede=umpatan dalam dialeg Gorontalo. Bahwa

selanjutnya postingan Terdakwa tersebut terlihat di grub facebook Portal Gorontalo yang memiliki anggota lima ratus ribu pengguna facebook dimana hal dibenarkan oleh saksi Harry Gunarson Naue, Fengki Usman, dan Anugerah Wenas, oleh karena itu perkara a quo dapat dikatan sebagai bentuk menyebarkan informasi yang dapat diakses melalui informasi elektronik. Bahwa postingan tersebut ditujukan kepada ibu-ibu yang melakukan tadarus Al Qur’an di Masjid Al Aqsa merupakan suatu bentuk perbuatan yang ditujukan kepada kelompok masyarakat tertentu berdasarkan agama. Bahwa oleh karena semua unsur dari Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif kesatu.

Demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa maka, Pengadilan Negeri Marisa mengadili Megawaty H. Maku yang amarnya sebagai berikut.

Pertama, menyatakan Terdakwa Megawaty H. Maku, S.P telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian kelompok masyarakat tertentu berdasarkan agama, sebagaimana dalam dakwaan alternatif kesatu. Kedua, menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan penjara selama dua bulan. Ketiga, menetapkan pidana tersebut tidak usah dijalani

kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain disebabkan karena terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama empat bulan terakhir. Keempat, menjatuhkan pidana denda kepada Terdakwa sejumlah dua juta rupiah dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan. Kelima, menetapkan barang bukti satu buah telepon seluler warna biru, merk Samsung Galaxy J1 Ace versi android dengan imei: 357926/07/672489/2 dan S/N: RR8HB036Z0A, satu buah baterai merk Samsung dengan S/N: AA2HA25Ns/2-B, satu buah memory card V-Gen A01079321 M icro 16 GB dan dua buah sim card dengan nomor 032500001689221 dan 6221006423277417903 (barang bukti diatas dirampas untuk negara). Print screen status pada facebook Sdri Megawaty H. Maku S.P dengan menggunakan nama facebook Megawaty Maku pada tanggal 6 Juni 2017 pukul 20.53 WITA dan tanggal 7 Juni 2017 pukul 21.57 WITA (dirampas untuk dimusnahkan). Keenam, membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah lima ribu rupiah.

Dalam pengadilan tingkat pertama tersebut, Jaksa Penuntut Umum mengajukan permintaan banding pada tanggal 22 Mei 2019 sebagaiman Akta Permintaan Banding Penuntut Umum, tanggal 22 Mei 2019, Nomor 05/Akta/2019/PN.Mar yang pada pokoknya Penuntut Umum mengajukan permintaan banding terhadap putusan Pengadilan Negeri Marisa, Nomor 17/Pid.Sus/2019/PN.Mar. tanggal 17 Mei 2019. Pada permintaan bandingnya Penuntut Umum pada pokoknya menyatakan tidak sependapat dengan putusan Pengadilan Negeri Marisa dengan alas an yang pertama, berdasarkan fakta

persidangan bahwa tindakan Terdakwa yang telah menulis lalu memposting tulisannya diakun media sosial facebook miliknya tersebut, yaitu pada tanggal 6 Juni 2017 pukul 20.30 WITA dan tanggal 7 Juni 2017 pukul 21.57 WITA dengan menggunakan kalimat yang tidak baik menunjukan bahwa Terdakwa sadar betul dengan penggunakan kata-kata tersebut dapat menimbulkan kebencian dan menyinggung orang lain. Kedua, perimbangan Majelis Hakim yang menyatakan cukup beralasan untuk menjatuhkan pidana bersyarat terhadap diri Terdakwa sangatlah keliru, karena dengan fakta dipersidangan bahwa Terdakwa sadar dan mengetahui betul penggunakan kalimat yang tidak baik tersebut, hal itu menunjukan bahwa kesengajaan yang dilakukan oleh Terdakwa adalah kesengajaan dengan kepastian. Ketiga, berdasarkan para saksi dan ahli perbuatan Terdakwa telah mengusik Sebagian besar umat Islam, sehingga pemberian pidana bersyarat kepada Terdakwa tidak akan mewujudkan tujuan pemidanaan dari aspek preventif, edukatif dan korektif bagi Terdakwa atau orang lain untuk tidak melakukan tindak pidana tersebut. Bahwa berdasarkan alas an-alasan memori banding tersebut mohon supaya Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana dan dihukum sebagaimana dalam tuntutan Penuntut Umum.

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA TEMUAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-40)

Dokumen terkait