1955 DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH1955 DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH
1955 DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH
1955 DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH
B
BB
BB
Gambar 4.2 Gambar 4.2 Gambar 4.2 Gambar 4.2Gambar 4.2 Kabinet Natsir bersama presiden dan wakil presiden
Bab 4 Perkembangan Politik dan Ekonomi Indonesia Pascapengakuan Kedaulatan 4 74 74 74 74 7
b. b. b. b.
b. Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 23 Februari 1952)Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 23 Februari 1952)Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 23 Februari 1952)Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 23 Februari 1952)Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 23 Februari 1952)
Dengan jatuhnya Kabinet Natsir, Presiden Sukarno menunjuk Dr. Sukiman Wiryosanjoyo dari Masyumi dan Dr. Suwiryo dari PNI untuk membentuk kabinet. Atas usaha dua orang formatur ini terbentuklah kabinet yang diberi nama Kabinet Sukiman dengan perdana menteri Dr. Sukiman dan wakil perdana menteri Dr. Suwiryo.
Program kerja kabinet Sukiman antara lain:
1) menjalankan tindakan-tindakan yang tegas sebagai negara hukum untuk menjamin keamanan dan ketentraman
2) mempercepat usaha penempatan bekas pejuang dalam lapangan pembangunan 3) menyelesaikan persiapan pemilihan umum Konstituante.
4) menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang menuju perdamaian 5) memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia.
Kabinet Sukiman jatuh, karena ditandatanganinya kerja sama keamanan Indonesia - Amerika Serikat berdasarkan Mutual Security Aids (MSA).Mutual Security Aids (MSA).Mutual Security Aids (MSA).Mutual Security Aids (MSA).Mutual Security Aids (MSA).
c. c. c. c.
c. Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)
Kabinet Wilopo merupakan koalisi dengan tulang punggung PNI, PSI, dan Masyumi Natsir. Program kabinet Wilopo antara lain seperti berikut.
1) Bidang pendidikan dan pengajaran adalah mempercepat usaha perbaikan untuk pembaharuan pendidikan dan pengajaran.
2) Bidang perburuhan adalah melengkapi undang- undang perburuhan.
3) Bidang keamanan adalah menyempurnakan organisasi alat-alat kekuasaan negara.
4) Bidang luar negeri adalah meneruskan perjuangan merebut Irian Barat.
Kabinet Wilopo jatuh karena Peristiwa Tanjung Morawa, Sumatra Utara yang ditunggangi oleh PKI yang berhubungan dengan masalah pembagian tanah.
d. d. d. d.
d. Kabinet Ali – Wongso- Arifin atau Kabinet Ali I (1 Agustus 1953 – 24 Juli 1955)Kabinet Ali – Wongso- Arifin atau Kabinet Ali I (1 Agustus 1953 – 24 Juli 1955)Kabinet Ali – Wongso- Arifin atau Kabinet Ali I (1 Agustus 1953 – 24 Juli 1955)Kabinet Ali – Wongso- Arifin atau Kabinet Ali I (1 Agustus 1953 – 24 Juli 1955)Kabinet Ali – Wongso- Arifin atau Kabinet Ali I (1 Agustus 1953 – 24 Juli 1955) Kabinet Ali-Wongso-Arifin dibentuk pada tanggal 30 Juli 1953. Program kerja kabinet Ali-Wongso-Arifin adalah sebagai berikut.
1) Bidang dalam negeri, meliputi keamanan, pemilihan umum, kemakmuran dan keuangan, organisasi negara, serta perburuhan.
2) Bidang Irian Barat adalah mengusahakan kembalinya Irian Barat ke dalam kekuasaan wilayah RI.
3) Bidang politik luar negeri, meliputi politik luar negeri bebas aktif, peninjauan kembali tentang hasil KMB.
Keberhasilan Kabinet Ali adalah pada masa pemerintahannya berhasil melaksanakan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Terjadinya peristiwa pergantian pimpinan Kepala Staf Angkatan Darat yang dikenal dengan “Peristiwa 27 Juni 1955”“Peristiwa 27 Juni 1955”“Peristiwa 27 Juni 1955”“Peristiwa 27 Juni 1955”“Peristiwa 27 Juni 1955”, beberapa anggota parlemen mengajukan mosi tidak percaya yang diterima oleh DPR.
e. e. e. e.
e. Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)
Kabinet Burhanuddin Harahap terbentuk pada tanggal 11 Agustus 1955. Program kerja Kabinet Burhanuddin Harahap antara lain:
Gambar 4.3 Gambar 4.3 Gambar 4.3 Gambar 4.3
Gambar 4.3 Mr. Wilopo dilantik sebagai perdana menteri dan kabinet Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka
IPS Terpadu SMP dan MTS Kelas IX 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8
1) mengembalikan kewibawaan moral pemerintah 2) melaksanakan pemilihan umum
3) memberantas korupsi
4) meneruskan perjuangan merebut kembali irian Barat.
Keberhasilan Kabinet Burhanuddin Harapan adalah dapat menyelenggarakan pemilu pertama sejak Indonesia merdeka. Setelah hasil pemungutan suara dan pembagian kursi di DPR diumumkan, maka tanggal 2 Maret 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan mandatnya kepada Presiden Sukarno, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilu.
f. f. f. f.
f. Kabinet Ali II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)Kabinet Ali II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)Kabinet Ali II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)Kabinet Ali II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)Kabinet Ali II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)
Kabinet Ali II dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No. 85 Tahun 1956. Program kerja Kabinet Ali II, antara lain:
1) pembatalan hasil KMB
2) meneruskan perjuangan mewujudkan kekuasaan de facto Indonesia atas Irian Barat dan membentuk Provinsi Irian Barat
3) bidang dalam negeri, meliputi : memulihkan keamanan, memperbaiki perekonomian dan keuangan, memperkuat pertahanan, memperbaiki sistem perbuuruhan, memperluas dan meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran
4) bidang luar negeri, meliputi menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan meneruskan kerja sama dengan negara-negara Asia Afrika.
Keberhasilan Kabinet Ali II adalah membatalkan hasil KMB, membentuk Provinsi Irian Barat yang beribu kota di Soasio, Maluku Utara, dan pengiriman misi Garuda I ke Mesir. Sebab-sebab kejatuhan Kabinet Ali II.
1) Timbulnya pemberontakan di berbagai daerah 2) Adanya Konsepsi Presiden 21 Februari 1957
3) Adanya keretakan dalam tubuh kabinet, hal ini dapat dibuktikan dengan mundurnya satu per satu anggota kabinet.
g. g. g. g.
g. Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)
Kabinet Juanda atau Kabinet Karya dilantik pada tanggal 9 April 1957 dengan program kerja:
1) membentuk Dewan Nasional
2) normalisasi keadaan Republik Indonesia 3) melanjutkan pembatalan KMB
4) memperjuangkan Irian Barat 5) mempercepat pembangunan.
Salah satu keberhasilan Kabinet Karya yaitu pada tanggal 18 November 1957 mengadakan rapat umum pembebasan Irian Barat di Jakarta. Rapat ini diikuti dengan tindakan-tindakan pemogokan kaum buruh di perusahaan Belanda dan pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat.
Tanggal 5 Juli 1959 Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit, berarti negara kita kembali ke UUD 1945 dan UUDS 1950 tidak berlaku. Kabinet Juanda secara otomatis harus diganti, sehari kemudian Ir. Juanda menyerahkan mandatnya kepada Presiden Sukarno.
Gambar 4.4 Gambar 4.4 Gambar 4.4 Gambar 4.4
Gambar 4.4 Kabinet Ali II
Bab 4 Perkembangan Politik dan Ekonomi Indonesia Pascapengakuan Kedaulatan 4 94 94 94 94 9
Lengkapilah tabel di bawah ini dengan keterangan yang tepat! Salinlah di buku tugas!
2.
2.
2.
2.
2. Pemilihan Umum PertamaPemilihan Umum PertamaPemilihan Umum PertamaPemilihan Umum PertamaPemilihan Umum Pertama
Setelah beberapa tahun lamanya menjadi program pemerintah dari kabinet yang satu ke kabinet yang berikutnya, akhirnya selesailah persiapan-persiapan untuk melaksanakan pemilihan umum. Pemilihan umum dilaksanakan melalui dua tahap berikut.
a. Tahap pertama pada tanggal 29 September 1955 bertujuan untuk memilih anggota- anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
b. Tahap kedua pada tanggal 15 Desember 1955 bertujuan untuk memilih anggota-anggota Konstituante (Badan pembuat Undang-Undang
Dasar).
DPR hasil pemilihan umum beranggotakan 272 orang, yaitu dengan perhitungan bahwa satu orang anggota DPR mewakili 300.000 orang penduduk. Sedangkan anggota Konstituante berjumlah 542 orang. Pelantikan anggota DPR hasil pemilihan umum dilakukan pada tanggal 20 Maret 1956,sedangkan anggota Konstituante pada tanggal 10 November 1956.
Sebagai akibat banyaknya partai, organisasi dan perorangan yang ikut dalam pemilihan umum, maka DPR
terbagi dalam banyak fraksi. Adapun empat fraksi besar di DPR adalah sebagai berikut. a. Fraksi Masyumi : 60 anggota
b. Fraksi PNI : 58 anggota c. Fraksi NU : 47 anggota d. Fraksi PKI : 32 anggota
Pemilu tahun 1955 ternyata tidak dapat memenuhi harapan rakyat yang menghendaki pemerintah yang stabil. Para wakil rakyat terpilih hanya memperjuangkan partainya masing- masing sehingga pergantian kabinet terus saja terjadi.
Gambar 4.5 Gambar 4.5 Gambar 4.5 Gambar 4.5
Gambar 4.5 Tanda-tanda gambar kontestan pesertapemilu tahun 1955 Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka
No. No. No. No.
No. Kabinet pada MasaKabinet pada MasaKabinet pada MasaKabinet pada MasaKabinet pada Masa Nama Perdana MenteriNama Perdana MenteriNama Perdana MenteriNama Perdana MenteriNama Perdana Menteri Masa Pemerintahan Masa Pemerintahan Masa Pemerintahan Masa Pemerintahan Masa Pemerintahan Demokrasi Liberal Demokrasi Liberal Demokrasi Liberal Demokrasi Liberal Demokrasi Liberal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
Kegiatan Individu
Kegiatan IndividuKegiatan Individu
Kegiatan IndividuKegiatan Individu
IPS Terpadu SMP dan MTS Kelas IX 5 0 5 0 5 0 5 0 5 0
1.
1.
1.
1.
1. Latar Belakang Dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959Latar Belakang Dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959Latar Belakang Dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959Latar Belakang Dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959Latar Belakang Dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Setelah Konstituante terbentuk melalui pemilihan umum tahap kedua tahun 1955, maka pada tanggal 10 November 1956 mulai bersidang. Pada waktu itu keadaan negara sedang diliputi kekacauan yang ditimbulkan karena pergolakan-pergolakan di daerah yang menginginkan adanya integritas nasional. Seperti halnya DPR, anggota Konstituante terdiri atas wakil-wakil dari puluhan partai besar maupun partai kecil. Partai tersebut terpecah belah dalam berbagai ideologi yang sukar dipersatukan. Untuk mengatasi situasi yang tidak menentu itu, Presiden Sukarno pada tanggal 21 Februari 1957 mengajukan gagasan yang disebut Konsepsi PresidenKonsepsi PresidenKonsepsi PresidenKonsepsi Presiden mengenai:Konsepsi Presiden
a. pembentukan kabinet gotong royong yang terdiri dari wakil semua partai ditambah golongan fungsional
b. pembentukan Dewan Nasional (nantinya bernama DPA) yang beranggotakan seluruh partai dan golongan fungsional dalam masyarakat, dewan ini berfungsi memberi nasihat kepada kabinet baik diminta ataupun tidak.
Akan tetapi beberapa partai menolak Konsepsi Presiden tersebut. Pada tanggal 22 April 1959 di depan sidang Konstituante Presiden Sukarno mengharapkan agar kembali kepada UUD 1945. Harapan presiden ini juga menimbulkan pro dan kontra. Akibatnya meskipun sudah bersidang lebih kurang tiga tahun Konstituante tidak dapat menjalankan tugasnya. Latar belakang dikeluarkannya Dekrit Presiden adalah Konstituante gagal menyusun UUD baru.
2.
2.
2.
2.
2. Isi Dekrit PresidenIsi Dekrit PresidenIsi Dekrit PresidenIsi Dekrit PresidenIsi Dekrit Presiden
Sebagai akhir kemelut di Konstituante, presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Adapun isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah:
a. pembubaran Konstituante
b. berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950 c. segera dibentuk MPRS dan DPAS.
3.
3.
3.
3.
3. TTTTTanggapan Masyarakat terhadap Dekrit Presiden 5 Juli 1959anggapan Masyarakat terhadap Dekrit Presiden 5 Juli 1959anggapan Masyarakat terhadap Dekrit Presiden 5 Juli 1959anggapan Masyarakat terhadap Dekrit Presiden 5 Juli 1959anggapan Masyarakat terhadap Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Dikeluarkannya Dekrit Presiden tersebut mendapat dukungan dari masyarakat antara lain:
a. KSAD mengeluarkan perintah harian yang ditujukan kepada seluruh anggota TNI untuk melaksanakan dan mengamankan dekrit tersebut
b. Mahkamah Agung kemudian juga membenarkan Dekrit Presiden tersebut
c. DPR hasil Pemilihan Umum dalam sidangnya padsa tanggal 2 Juli 1959 secara aklamasi menyatakan kesediaannya untuk bekerja terus berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.