BAB II LATAR BELAKANG DILAKUKANNYA PERKAWINAN
A. Tinjauan Atas Perkawinan yang tidak dicatatkan
Syarat-syarat perkawinan diatur mulai Pasal 6 sampai Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1974. Ketentuan Pasal 6 s/d Pasal 11 memuat mengenai syarat perkawinan yang bersifat materil, sedang Pasal 12 mengatur mengenai syarat perkawinan yang bersifat formil.
Syarat perkawinan yang bersifat materil dapat dilihat dari ketentuan Pasal 6 s/d 11 UU No. 1 Tahun 1974, yaitu:
1. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai 2. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21
tahun harus mendapat ijin kedua orangtuanya/salah satu orang tuanya, apabila salah satunya telah meninggal dunia/walinya apabila kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
3. Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 Tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 Tahun. Kalau ada penyimpangan harus ada ijin dari pengadilan atau pejabat yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.
kawin lagi kecuali memnuhi Pasal 3 ayat 2 dan pasal 4.
5. Apabila suami dan istri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya.
6. Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
Mengenai waktu tunggu ini diatur dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 sebagai berikut:
1. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130 hari, dihitung sejak kematian suami.
2. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan adalah 3 kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari, yang dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
3. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
4. Bagi janda yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda dan bekas suaminya belum pernah terjadi hubungan kelamin tidak ada waktu tunggu.
Selanjutnya dalam Pasal 8 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa perkawinan dilarang antara dua orang yang:
atas/incest.
2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu anatara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.
3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri/periparan.
4. Berhubungan sususan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan.
5. Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang
6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.
Sedangkan syarat perkawinan secara formal dapat diuraikan menurut Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1974 dan direalisasikan dalam Pasal 3 s/d Pasal 13 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.
Dalam Pasal 3 sampai 5 UU No. 1 Tahun 1974 ditentukan bahwa setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan harus memberitahukan kehendaknya kepada Pegawai Pencatat Perkawinan di mana perkawinan di mana perkawinan itu akan dilangsungkan, dilakukan sekurang-kurangnya 10 hari sebelum perkawinan dilangsungkan. Pemberitahuan dapat dilakukan lisan/tertulis oleh calon
agama, tempat tinggal calon mempelai.
Setelah syarat-syarat diterima Pegawai Pencatat Perkawinan lalu diteliti, apakah sudah memenuhi syarat/belum. Apabila semua syarat telah dipenuhi Pegawai Pencatat Perkawinan membuat pengumuman yang ditandatangani oleh Pegawai Pencatat Perkawinan yang memuat antara lain:
a. Nama, umur, agama, pekerjaan, dan pekerjaan calon pengantin. b. hari, tanggal, jam dan tempat perkawinan akan dilangsungkan.41
Perkawinan baru dapat dilaksanakan setelah hari kesepuluh yang dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Kedua calon mempelai menandatangani akta perkawinan di hadapan pegawai pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi, maka perkawinan telah tercatat secara resmi. Akta perkawinan dibuat rangkap dua, satu untuk Pegawai Pencatat dan satu lagi disimpan pada Panitera Pengadilan. Kepada suami dan Istri masing-masing diberikan kutipan akta perkawinan (Pasal 10-13).
Berdasarkan ketentuan sebagaimana yang diatur di dalam pasal 6 dan 7 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 mengenai syarat-syarat perkawinan, maka dapat disimpulkan pokok-pokok yang terkadung di dalamnya dalah sebagai berikut:
a. Harus ada persetujuan dari kedua calon mempelai.
Yang dimaksud dengan persetujuan dalam hal ini yaitu bahwa perkawinan harus dilaksanakan berdasarkan kehendak bebas calon mempelai pria maupun
untuk melaksanakan perkawinan merupakan syarat yang paling dominan dalam membentuk suatu keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera, sesuai dengan tujuan perkawinan itu sendiri.
b. Adanya ijin dari kedua orangtua atau wali (pasal 6 ayat 2).
Mengenai ijin ini hanya diperlukan bagi calon mempelai yang belum berusia 21 tahun. Mengenai perlunya ijin ini sangat erat kaitannya dengan pertanggungjawaban orangtua dalam pemeliharaan yang dilakukan oleh orangtua secara susah payah dalam membesarkan anak-anaknya, sehingga kebebasan yang ada pada anak untuk menentukan pilihan calon suami/isteri jangan sampai menghilangkan fungsi tanggung jawab orangtua.
c. Apabila kedua orangtua meninggal dunia, maka yang berhak memberi ijin sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat 3, 4 dan 5 adalah :
Jika kedua orangtua masih hidup maka yang berhak memberi ijin adalah kedua-duanya. Sedangkan apabila satah seorang meninggal dunia, maka yang berhak memberikan ijin adalah salah satu yang masih hidup. Jika yang meninggal dunia adalah orangtua wanita, maka ijin perkawinan ada pada orangtua laki-laki, demikian juga sebaliknya. Dalam hal ijin ada pada pihak orangua perempuan, maka orangtua perempuan yang bertindak sebagai wali. Perlu diketahui bahwa pasal 6 ayat 1 sampai dengan ayat 5 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 cendrung diperuntukkan bagi warganegara Indonesia non muslim, karena masalah perwalian sebagai mana yang diatur di dalam
perwalian harus dilakukan oleh seorang laki-laki, yang karena kedudukannya berhak menjadi wali. Akan tetapi jika kita hubungkan dengan pasal 6 ayat 6 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, maka ketentuan ini tidak bertentangan dengan hukum Islam sebab sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat 6 yang menentukan bahwa ketentuan tersebut pada ayat 1 sampai dengan 5 hanya berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya dari yang bersangkutan tidak menetukan lain. Jadi dengan kata lain, bagi mereka yang beragama Islam, dengan adanya ketentuan pasal 6 ayat 6, dalam hal syarat-syarat perkawinan sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat 1 sampai dengan 5 yang bertentangan dengan syarat-syarat perkawinan dan perwalian sebagaimana yang diatur dalam hukum Islam, maka diijinkan bagi mereka untuk menggunakan syarat-syarat perkawinan dan perwalian sebagaimana yang diatur di dalam hukum Islam.
d. Apabila salah seorang dari kedua orangtua dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya karena disebabkan :
1) karena dibawah kuratele (pengampuan); 2) atau sakit ingatan;
3) tempat tinggalnya tidak diketahui, maka ijin cukup diberikan oleh salah satu pihak saja yang mampu menyatakan kehendaknya (pasal 6 ayat 3). e. Apabila kedua orangtua telah meninggal dunia atau kedua-duanya tidak
2) keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya (pasal 6 ayat 4).
f. Jika ada perbedaan pendapat antara mereka sebagaimana yang disebut dalam pasal 6 ayat 2, 3 dan 4, atau salah seorang atau lebih di antara mereka tidak ada menyatakan pendapatnya, Pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang hendak melaksanakan perkawinan ; yang berhak memberikan ijin. Ijin dari Pengadilan ini diberikan atas permintaan pihak yang hendak melaksanakan perkawinan setelah lebih dahulu pengadiian mendengar sendiri keterangan dari orang sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 6 ayat (2), (3) dan (4).
g. Batas umur untuk melangsungkan perkawinan adalah sekurangkurangnya 19 tahun bagi calon suami dan 16 tahun bagi calon istri (pasal 7 ayat 1). Penentuan batas umur untuk melangsungkan perkawinan sangat penting karena perkawinan merupakan suatu perjanjian perikatan antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-isteri, harus dilaksanakan oleh mereka yang sudah cukup matang, baik dad segi biologi maupun dad segi psikologinya. Hal ini sangat penting karena dalam mewujudkan tujuan dan perkawinan itu sendiri, serta juga untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia dini atau perkawinan anak-anak, karena perkawinan yang dilakukan pada usia dini banyak mengakibatkan perceraian dan keturunannya yang tidak sehat sebagai
maupun dari segi psikologi. Sungguh pun demikian, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 masih memberikan kelonggaran untuk dilaksanakan suatu perkawinan yang menyimpang dari ketentuan sebagaimana tersebut di atas, sepanjang ada dispensasi dari Pengadilan berdasarkan permintaan dari kedua orangtua kedua belah pihak (Pasal 7 ayat 2).
2. Sahnya Perkawinan
Dalam UU No. 1 Tahun 1974 Perkawinan diartikan sebagai ikatan lahir batin antara seorong pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pengertian perkawinan tersebut dapat dirinci lagi, sebagai berikut :
a. perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang-wanita sebagai suami isteri
b. ikatan lahir batin itu ditujukan urituk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia yang kekal dan sejahtera.
c. dasar ikatan lahir batin dan tujuan bahagia yang kekal itu berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.
Undang-undang secara eksplisit melalui Pasal 2 ayat 1 menentukan: "perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu". Dalam penjelasannya disebutkan bahwa yang dimaksud
perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-undang perkawinan ini.
Dari bunyi dan penjelasan Pasal 2 ayat 1 dapat dilihat dengan jelas bahwa sah tidaknya suatu perkawinan semata-mata ditentukan oleh ketentuan agama dan kepercayaan mereka yang hendak melaksanakan perkawinan. Berarti setiap perkawinan yang dilakukan bertentangan dengan ketentuan hukum agama dengan sendirinya menurut hukum perkawinan belum sah dan tidak mempunyai akibat hukum sebagai ikatan perkawinan.
Ketentuan Pasal 2 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 ini diperjelas dalam Penjelasan yang bunyinya: "dengan perumusan pada Pasal 2 ayat 1 ini, tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945; yang dimaksud dengan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam Undang-undang ini".
UUD 1945 Bab XI Pasal 29 ayat 2 menentukan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”.
Dari bunyi Pasal 29 ayat 2 UUD 1945, yang dimaksud dengan agama dan kepercayaan itu ialah agama dan kepercayaan yang "dipeluk" seseorang. Jadi untuk menentukan hukum agama yang mengatur pelaksanaan perkawinan sesuai dengan bunyi Pasal 2ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 ialah agama dan
Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, maka bagi warganegara Indonesia yang beragama Islam apabila hendak melaksanakan perkawinan supaya sah harus memenuhi ketentuan-ketentuan tentang perkawinan sebagaimana yang diatur di dalam Hukum Perkawinan Islam. Demikian juga halnya dengan bagi mereka yang beragama Kristen, Buddha dan Hindu, hukum agama merekalah yang menjadi dasar pelaksanaan yang menentukan sahnya suatu perkawinan. "Ini berarti bahwa suatu perkawinan yang dilaksanakan bertentangan dengan ketentuan hukum agama, dengan sendirinya menurut undang-undang Perkawinan ini dianggap tidak sah dan tidak mempunyai akibat hukum sebagai ikatan perkawinan".43
Kemudian Pasal 2 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974, menentukan: "tiap-tiap perkawinan dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku", namun di dalam penjelasan Pasal Demi Pasal tidak dijelaskan lebih lanjut tentang perdaftaran ini.
Selanjutnya setahun kemudian yaitu pada tahun 1975, diundangkan peraturan pelaksanaan dari UU No. 1 Tahun 1974 itu, yang dikenal dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (PP No. 9 Tahun 1975). Pasal 2 PP No. 9 Tahun
42
M. Yahya Harahap, hal. 13
43Soemiyati,Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Liberty : Jakarta, 1982, ha1.63
beragama Islam dan non-Islam.
Bagi yang beragama Islam pencatatan perkawinannya dilakukan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 32 tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk, yaitu Kantor Urusan Agama. Sedangkan bagi mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Percatat Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai perundang-undangan mengenai percatatan perkawinan.
Penjelasan Pasal Demi Pasal dari Pasal 2 PP No. 9 Tahun 1975 ini, menentukan: "dengan adanya ketentuan tersebut dalam Pasal ini, maka "pencatatan" perkawinan dilakukan hanya oleh dua instansi, yakni Pegawai Pencatat Nikah, Talak dan Rujuk dan Kantor Catatan Sipil atau Instansi/Pejabat yang membantunya". Dengan demikian kedua lembaga itu, berfungsi "hanya mencatatkan" perkawinan yang telah dilangsungkan secara sah.
Bagi pasangan suami isteri yang melangsungkan perkawinan menurut tata cara Agama Islam, hampir semuanya dilakukan oleh Kadi yang juga Pegawai dari Kantor Urusan Agama (KUA), yang kemudian akan mencatatkan perkawinan yang dilangsungkannya di Buku Daftar Pencatatan Perkawinan dan selanjutnya dikeluarkanlah "buku nikah" dan tercantum hari, tanggal dan tahun waktu perkawinan dilangsungkan, dalam arti tidak ada perbedaan antara waktu pelangsungan perkawinan dan waktu pencatatan.
sekarang para ahli hukum baik di kalangan akademis maupun para praktisi hukum masih berbeda pendapat tentang pengertian yuridis formal sahnya perkawinan. Tentang hal ini ada dua pendapat yang berkembang, yaitu (l) bahwa perkawinan tersebut tidak dikategorikan sebagai nikah fasid sebab sahnya perkawinan itu cukup apabila dilaksanakan menurut ketentuan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu terpenuhinya rukun dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh agamanya. Sedangkan pencatatan itu merapakan tindakan administrasi saja, apabila tidak dilaksanakan tidak akan memengaruhi sahnya perkawinan yang telah dilaksanakan itu, (2) perkawinan dilaksanakan tersebut dapat dikategorikan sebagai nikah fasid dan bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan dari perkawinan tersebut dapat dimintakan pembatalan kepada Pengadilan Agama. Pasal 2 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus dilaksanakan secara kumulatif, bukan alternatif secara terpisah dan berdiri sendiri.
Akibat dari adanya perbedaan penafsiran terhadap ketentuan yang tersebut dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan itu, maka berbeda pula putusan yang diajukan oleh para Hakim Pengadilan Agama dalam menyelesaikan perkara pembatalan nikah yang diajukan kepadanya. Bagi para Hakim Peradilan Agama yang menganggap Pasal 2 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan dan satu kesatuan yang tidak terpisahkan,
dan kepercayaannya itu serta dicatat sesuai ketentuan yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan perkawinan merupakan hal yang wajib dilaksanakan sebab hal ini sengat erat hubungannya dengan kemaslahatan manusia yang dalam konsep syariat Islam harus dilindungi. Oleh karena itu, perkawinan yang tidak dicatat merupakan nikah yang fasid karena belum memenuhi syarat yang ditentukan dan belum dianggap sah secara yaridis formal dan permohonan pembatalan perkawinan dapat dikabulkan. Sedangkan bagi para Hakim Pengadilan Agama yang menganggap Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan suatu hal yang berdiri sendiri, tidak saling berhubungan, maka perkawinan adalah sah apabila telah dilakukan menurut agama dan kepercayaannya, pencatatan bukan suatu hal yang mesti dipenuhi sebab pencatatan itu hanya pekerjaan administrasi saja. Perkawinan tersebut bukan nikah fasid dan bila ada pengajaran pembatalan perkawinan kepada Pengadilan Agama, perkawinan tersebut tidak perlu dibatalkan, permohonan pembatalan perkawinan haruslah ditolak.
Mahkamah Agung RI tampaknya condong kepada pendapat yang pertama tersebut di atas. Dalam sebuah putusan kasasi Reg. No. 1948/K/PID/1991 tentang perkara poligami, kawin di bawah tangan dan tidak.dicatat pada instansi yang berwenang mengemukakan bahwa yang dimaksud perkawinan yang sah adalah perkawinan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yaitu perkawinan yang
ketentuan yang berlaku. Perkawinan yang sah adalah perkawinan yang telah terpenuhi ketentuan Pasal 2 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 secara kumulatif. Dalam perkara ini, Mahkamah Agung RI hanya mengakui sahnya perkawinan jika telah terpenuhinya sehingga segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh agama yang dianutnya, dilakukan di hadapan pejabat pencatat nikah dan dicatat oleh pejabat tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sejalan dengan apa yang telah dilaksanakan oleh Mahkamah Agung RI sebagaimana tersebut di atas, para Hakim Pengadilan Agama mengikuti hal yang sama terhadap masalah nikah fasid, meskipun bukan suatu keharusan dalam mengikuti yurisprudensi. Hal ini penting untuk dilaksanakan guna mewujudkan standar hukum yang bersifat united legal frame work (kesatuan kerangka kerja hukum) dan united legal opinion (kesatuan pandangan hukum) dalam mewujudkan kebenaran dan keadilan.
Pencatatan perkawinan merupakan syarat yang harus dipenuhi agar perkawinan tersebut sah menurut agama dan juga hukum positif. Kesatuan pandangan ini sangat penting untuk dilaksanakan agar dalam perkara yang sama tidak terjadi putusan yang berbeda. Di samping itu, dengan adanya kesamaan pandangan para Hakim Peradilan Agama ini diharapkan dapat memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat agar mereka patuh pada hukum dan menyadari bahwa perkawinan yang tidak dicatat sesuai dengan ketentuan yang berlaku akan membawa kemudaratan kepada pihak-pihak yang melakukannya dan juga kepada keturunannya. Pencatatan
masalah bagi tegaknya rumah tangga dan hal ini sejalan dengan prinsip/kaidah hukum Islam menolak kemudaratanlah didahulukan daripada memperoleh kemaslahatan. Adapun dampak perkawinan yang tidak dicatat itu antara lain suami istri tersebut tidak mempunyai akta nikah sebagai bukti mereka telah menikah secara sah menurut agama dan negara, anak-anak tidak dapat memperoleh akta kelahiran dari istri yang berwenang karena untuk mendapatkan akta kelahiran itu diperlukan akta nikah dari orang tuanya, anak-anak tidak dapat mewarisi harta orang tuanya karena tidak ada bukti autentik yang menyatakan mereka sebagai ahli waris orang tuanya, atau hak-hak lain dalam pelaksanaan administrasi negara yang mesti harus dipenuhi sebagai bukti diri.
Dengan tidak dicatatkannya suatu perkawinan, maka akan membawa akibat hukum baik bagi status perkawinan itu sendiri, terlebih pada status anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak dicatatkan tersebut. dari hasil penelitian, perkawinan tidak dicatatkan di KUA atau di KCS oleh karena pada umumnya mereka menganggap bahwa perkawinan secara agama sudah sah, sehingga tidak perlu untuk dicatatkan.
Menurut Ahmad Rafiq, pencatatan perkawinan bagi sebagian masyarakat tampaknya masih perlu disosialisasikan. Boleh jadi hal ini akibat pemahaman yang fiqh sentris, yang dalam kitab-kitab fiqh hampir tidak pernah dibicarakan, sejalan dengan situasi dan kondisi waktu fiqh itu ditulis. Namun apabila kita coba perhatikan ayat Al-Baqarah : 282 mengisyaratkan bahwa dalam ayat tersebut redaksinya dengan tegas menggambarkan bahwa pencatatan didahulukan daripada kesaksian, yang dalam perkawinan menjadi salah satu rukunnya tetapi sangat disayangkan, tidak ada sumber-sumber fiqh yang menyebutkan mengapa dalam hal pencatatan perkawinan dan membuktikannya dengan akta nikah, tidak dianalogikan kepada ayat tersebut. Lebih lanjut Ahmad Rafiq mengemukakan
secara formal tidak ada ketentuan ayat atau sunnah yang memerintahkan pencatatan, kandungan maslahatnya sejalan dengan tindakan syara yang ingin mewujudkan kemaslahatan bagi manusia. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa pencatatan perkawinan merupakan ketentuan yang perlu diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak. Karena ia memiliki landasan yang cukup kokoh yang menurut Asy-Satibi maslahat mursalah ini merupakan dalil qath’i yang dibangun atas dasar kejadian induktif.44
Di samping hal tersebut di atas, perlu diperhatikan juga tentang Maqashidus Syar’iyah dalam hukum Islam. Dalam konsep Maqashidus Syar’iyah diharapkan segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia tidak lepas dari kemaslahatan manusia itu sendiri dan manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, segala hal yang tidak sejiwa dengan tujuan perbuatan baik itu haruslah dihindari. Demikian juga dalam hal perkawinan ini, haruslah dijaga kemaslahatannya bagi orang yang melaksanakannya dan ketiirunannya. Segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya kemudaratan dari perkawinan itu haruslah dihindari sebagaimana sabda Rasulullah SAW. bahwa dilarang menimbulkan kemudaratan pada diri sendiri maupun pada orang lain. Perkawinan yang tidak dicatat akan menimbulkan banyak kemudaratan bagi pihak-pihak yang melakukannya maupun pihak-pihak lain yang ada kaitannya dengan perkawinan tersebut. Dengan pertimbangan ini, maka persyaratan yuridis formal seperti kewajiban mencatat perkawinan adalah perbuatan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, bahkan hal tersebut sangat dianjurkan karena akan membawa manfaat kepada semua pihak terutama kepada kedua mempelai dan keturunannya kelak.
44
Ahmad Rofiq,Hukum Islam di Indonesia, Manajemen PT RajaGrafindo Persada : Jakarta, 1995, hal. 118-121.
apabila tidak dilaksanakan, maka perkawinan tersebut akan fasid.
Kemudian Pasal 2 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974, menentukan: "tiap-tiap perkawinan dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku", namun di dalam Penjelasan tidak dijelaskan lebih lanjut tentang perdaftaran ini. Selanjutnya setahun kemudian yaitu pada Tahun 1975, diundangkan peraturan pelaksanaan dari UU No. 1 Tahun 1974 itu, yang dikenal dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975