BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Kerangka Pikir
Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa membutuhkan orang lain untuk mewujudkan eksistensi dirinya. Kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya terwujud melalui kegiatan interaksi. Interaksi tersebut ditandai dengan kegiatan berkomunikasi. Salah satu contohnya adalah kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi antara siswa dan guru yang kemudian disebut dengan interaksi kelas. Interaksi kelas menjadi sangat penting untuk dibina dalam rangka menyukseskan kegiatan pembelajaran. Pentingnya interaksi kelas ini juga membutuhkan perhatian serius. Sebab, keberhasilan pembelajaran yang ditandai dengan keberhasilan sebuah interaksi kelas ditentukan oleh kegiatan komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Guru menggunakan bahasa dalam interaksi kelas untuk memandu dan menggerakkan kinerja-kinerja siswa selama proses belajar belangsung. Artinya, dengan bahasa guru dapat mengelola, mengontrol, dan mengarahkan kegiatan belajar dikelas. Oleh karena itu, bahasa digunakan sebagai alat untuk mengatur atau mengendalikan suatu objek.
Kajian tentang interaksi kelas dapat melibatkan berbagai disiplin ilmu bahasa. Dalam fenomena ini, peneliti menilai bahwa disiplin ilmu bahasa yang paling tepat digunakan adalah pragmatik. Ruang lingkup ilmu pragmatik sendiri terbagi menjadi beberapa bidang seperti deiksis, praanggapan, implikatur percakapan, dan tindak tutur. Bidang kajian tindak tutur inilah yang menjadi dasar peneliti dalam menalaah fenomena interaksi kelas dalam pembelajaran membaca puisi di kelas rendah SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone.
Fenomena interaksi kelas dalam penelitian ini akan di analisis dengan menggunakan metode pengamatan tindak tutur Flander (Flander’s Interactional Analysis Categories (FIAC) dengan tujuan untuk mengathui apakah pola interaksi kelas yang terjadi pada saat pembelajaran membaca puisi siswa di kelas rendah memiliki implikasi positif terhadap keberhasilan pembelajaran membaca puisi.
Uraian kerangka pikir dalam penelitian ini disajikan dalam gambar bagan kerangka berikut ini;
Kelas Rendah SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone
Interaksi Kelas (Interaksi Guru-Siwa)
Kajian Pragmatik
Analisis Tindak Tutur Interaksi Kelas Flander
Deiksis Implikatur Tindak Tutur
Praanggapan
Kemampuan Membaca Puisis Anak Siswa di Kelas
Rendah
Temuan Implikasi
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
10 Katagori yaitu; Rasa menerima, Pujian (pemicu), Menggunakan ide siswa, Bertanya, Mengajar, Mengarahkan, Hak mengkritik, Respon siswa, Inisiatif siswa
Diam atau Ramai
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalahpenelitian deskriptif, sebab penulis akan menggambarkan secarajelas interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi di kelas rendah SD Inpres 3/77 Kabupaten Bone.Dalam penelitian ini, tipe realitas bersifat ganda, holistik, hasilkonstruksi, dan merupakan hasil pemahaman (Sugiyono, 2011: 10).
Sehinggahasil yang diperoleh penulis pada penelitian ini bisa saja berbeda denganpeneliti lain jika meneliti objek yang sama.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu pendekatan kajian yang melibatkan fenomena sosial bukan dalam bentuk angka-angka yang dijadikan acuan dasar penarikan kesimpulan (Damono,1978: 2). Memahami interaksi kelas dalam pembelajaran membaca puisi di kelas rendah ini menggunakan metode Flander’s Interactional Analysis Categories (FIAC).Ada sepuluh kategori dalam Flander’s Interaction Analysis Categories (FIAC). Tujuh kategori digunakan untuk mengkategorisasi berbagai aspek dari apa yang disampaikan oleh guru, dua kategori digunakan untuk mengkategorisasi
54
apa yang disampaikan siswa, dan kategori terakhir digunakan ketika kelas menjadi sunyi atau ada kebingungan (Arief, 2015: 61).
C. Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah segala bentukinteraksi kelasyang terjadi di dalam pembelajaran membaca puisi siswa kelas rendah SD Inpres 3/77 ApalaKabupaten Bone.Interaksi kelas yang dimaksud adalah segala bentuk komunikasi antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa.Oleh karena itu, wujud data dalam penelitian ini adalah rekaman interaksi kelas yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung.
Terkait dengan hal tersebut, maka sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas rendah khususnya kelas tiga.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri (instrumen kunci). Sugiyono (2011) menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci yang terlibat atau melibatkan diri, pikiran dan perasaannya untuk mencermati, menganalisis, dan menemukan fakta yang terdapat di dalam sumber data.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ada tiga yaitu teknik studi pustaka, teknik observasi dengan bantuan alat rekam, dan teknik catat. Teknik studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan informasi
awal terkait kebutuhan yang mendasari penelitian ini seperti studi terhadap hasil penelitian terdahulu, buku referensi, artikel internet, dan sumber lainnya(Khaeruddin, 2006).
Teknik observasi (perekaman) merupakan teknik pengumpulan data dengan caramelakukan observasi atau merekam seluruh interkasi kelas yang terjadi berupa tindak tutur guru dan siswa. Hasil observasi ataupun rekaman tersebut selanjutnya di transformasi ke dalam data tertulis
Teknik catat merupakan teknik lanjutan dari teknik perekaman.
Artinya, setelah peneliti membaca dan memberikan tanda pada sumber data, langkah selanjutnya adalah memindahkan data tersebut ke media atau buku lain dengan cara mencatat. Teknik ini digunakan untuk memperdalam pemahaman peneliti terhadap data yang dikumpulkan.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini terbagi dalam dua tahap yaitu analisis data sebelum dilapangan dan analisis data selama di lapangan.
1. Analisis Data Kualitatif Sebelum di Lapangan
Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun hal ini bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan. Artinya, permasalahan yang ditetapkan dalam studi pendahuluan belum bersifat final sebab
kemungkinan-kemungkinan fenomena lain dapat dijumpai selama dilapangan nantinya.
2. Analisis Data Kualitatif Selama di Lapangan Model Miles dan Huberman
Miles dan Hubermen (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) serta Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing / verification). Reduksi data (data reduction) merupakan tahapan pemilahan dan pemilihan data yang dianggap tepat mewakili informasi yang dibutuhkan untuk menarik sebuah kesimpulan. Pada tahapan ini data yang tidak terpilih tidak langsung dihilangkan atau dibuang, sebab tidak menutup kemungkinan data tersebut akan dibutuhkan nantinya. Penyajian data (data display) merupakan tahapan pengungkapan temuan secara deksriptif. Tahap ini, semua data yang digunakan untuk menjawab permasalahan dipaparkan secara deskriptif.Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/verification) merupakan tahapan perumusan inti temuan berdasarkan data yang telah dipaparkan.Selanjutnya, dari kesimpulan tersebut dilakukan tindakan
verifikasi untuk mencocokkan teori atau konsep, hipotesis, atau pandangan tertentu dengan temuan dan kesimpulan yang dihasilkan.
G. Pengecekan Keabsahan Temuan
Menurut Moleong (2017: 319) kriteria keabsahan data dalam penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi mpat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility), (2) keteralihan (tranferability), (3) kebergantungan (dependibility), (4) kepastian (konfermability). Namun, dalam penelitian ini, peneliti hanya memilih tiga dari empat kriteria tersebut sebagaimana yang diuraikan berikut ini:
1. Kepercayaan (Creadibility)
Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi, sumber, pengecekan anggota, perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan, diskusi teman sejawat, dan pengecekan kecakupan refrensi.
2. Kebergantungan (Depandibility)
Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasi data sehingga data dapat dipercaya secara ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman, waktu, pengetahuan. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan
melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing.
3. Kepastian (Konfermability)
Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini berupa data dikumpulkan dari interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi siswa kelas rendah di SD Inpres 3/77 ApalaKabupaten Bone. Peneliti mentranskrip percakapan selama proses belajar mengajar dan menterjemahkannya dalam bentuk kode deskriptif dan menganalisisnya menggunakan Flander’s Interaction AnalysisCategories (FIAC).
1. Data Hasil Pengamatan Pertama Pembelajaran Membaca Puisi Interaksi antara siswa dan guru selama pembelajaran membaca puisi ditranskrip ke dalam sepuluh kategori sehingga menghasilkan matriks sebagaimana yang ditampilkan pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Matriks Interaksi Kelas Pengamatan Pertama
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ∑
1 2 7 1 5 1 1 1 18
2 1 4 5
3 1 1 2
4 1 1 37 1 1 41
5 5 1 5 1 1 13
6 2 9 2 2 1 7 1 39 63
7 3 2 9 14
8 9 3 2 13 5 14 4 2 2 69
9 2 1 2 5
10 2 2 3 5 8 24 51 44
∑ 18 5 2 41 13 63 14 69 5 44 274
Matriks di atas menjelaskan bahwa interaksi antara guru dan siswa pada observasi pembelajaran pertama yang terindikasi saling memiliki rasa menerima terjadi sebanyak dua kali.Tidak terjadi interaksi rasa menerima dengan pujian, menerima ide siswa, bertanya, maupun mengajar.Dua kali terjadi interaksi rasa menerima dengan mengarahkan dan memberi perintah, Tiga kali terjadi interaksi rasa menerima dengan mengkritik atau membenarkan.Sembilan kali terjadi interaksi rasa saling menerima dengan respon siswa.Tidak terjadi interaksi rasa menerima dengan inisiatif siswa.Dua kali terjadi interaksi rasa menerima dengan kondisi diam atau ramai.Selanjutnya, untuk indikator kedua, interaksi pujian dari guru tidak pernah terjadi dengan interaksi pujian, menerima ide siswa, bertanya, mengajar, mengarahkan dan memberi perintah, mengkritik atau membenarkan.Tiga kali terjadi interaksi pujian dengan respon siswa.Tidak terjadi interaksi pujian dengan inisiatif siswa.Dua kali terjadi interkasi pujian dengan damai atau ramai. Deskripsi isi matriks di atas dapat dijabarkan lebih lanjut dengan cara memasangkan indikator interaksi secara horizontal dengan interaksi vertical. Angka menunjukkan jumlah interaksi tersebut terjadi.
Berdasarkan matriks di atas, hasil analisis interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi kelas rendah di SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone sebagaimana yang ditampilkan dalam tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2Hasil Analisis Matriks Pengamatan Pertama
No Katagori Persentase
1 Rasa menerima 6.57
2 Pujian 1.82
3 Menerima ide siswa 0.73
4 Bertanya 14.96
5 Mengajar 4.74
6 Mengarahkan dan memberi perintah 22.99
7 Mengkritik atau membenarkan 5.11
8 Respon siswa 25.18
9 Inisiatif siswa 1.82
10 Damai atau ramai 16.06
Data pada tabel 4.2 di atas mewakili hasil analisis matriks interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran membaca puisi di kelas rendah pada pengamatan pertama.Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa interaksi kelas pada indikator rasa menerima sebesar 6.57%, interaksi pujian sebesar 1.82%, interaksi menerima ide siswa sebesar 0.73%, interaksi bertanya sebesar 14.96%, interaksi mengajar sebesar 4.74%, interaksi mengarahkan dan memberi perintah sebesar 22.99%, interaksi mengkritik atau membenarkan sebesar 5.11%, interaksi respon siswa sebesar 25.18%, interaksi inisiatif siswa sebesar 1.82%, dan interaksi damai atau ramai sebesar 16.06%. Hasil analisis matriks interaksi guru dan siswa pada pengamatan pertama jika disajikan dalam bentuk diagramakan terlihat seperti pada diagram 4.1 di bawah ini.
Gambar 4.1 Diagram Hasil Analisis Matriks Pengamatan Pertama
Gambar diagram 4.1 di atas menunjukkan bahwa aktivitas yang dilakukan guru dalam pembelajaran membaca puisi anak memiliki proporsi yang berbeda-beda, yaitu persentase guru dalam memotivasi siswa sebesar 6.57 %, persentase guru dalam memberikan pujian kepada siswa sebesar 1.82 %, persentase guru dalam menerima ide siswa sebesar 0.73 %, persentase guru dalam memberi pertanyaan kepada siswa sebesar 14.96 %, persentase guru dalam mengajarkan materi sebesar 4.74 %, persentase guru dalam memberi arahan dan perintah kepada siswa sebesar 22.99 %, persentase guru dalam mengkritik dan membenarkan pendapat siswa sebesar 5.11 %. Berdasarkan nilai-nilai yang dihasilkan guru tersebut dapat diketahui bahwa persentase guru dalam memberikan arahan dan perintah kepada siswa mencapai nilai tertinggi dibandingkan dengan aktivitas guru dalam memotivasi siswa,
6,57
1,82 0,73
14,96
4,74
22,99
5,11
25,18
1,82
16,06
Hasil Analisis Matriks
Hasil Analisis Matriks
guru dalam memberikan pujian kepada siswa, guru dalam menerima ide siswa, guru dalammemberi pertanyaan kepada siswa sebesar, guru dalam mengajarkan materi, serta guru dalam mengkritik dan membenarkan pendapat siswa.
Hal ini dapat diidentifikasikan bahwa guru selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksperimen, sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan membaca puisi anak yang dimilikinya.Sedangkan nilai rata-rata dari aktivitas yang dilakukan guru pada saat pembelajaran sebesar 56.92%.Nilai rata-rata tersebut berasal dari jumlah nilai dari seluruh aktivitas guru.
Aktivitas yang dilakukan siswa pada saat pembelajaran membaca puisi anak juga memiliki proporsi yang berbeda-beda.Pernyataan ini dapat dilihat dari persentase siswa dalam memberi respon kepada guru sebesar 25.18%, sedangkan persentase siswa dalam mengungkapkan inisiatifnya sebesar 1.82%.Dari nilai tersebut diketahui bahwa siswa lebih aktif dalam menanggapi perintah guru daripada mengungkapkan inisiatifnya sendiri.Nilai rata-rata aktivitas siswa sebesar 27%.Nilai rata-rata tersebut di dapat dari jumlah nilai dari seluruh aktivitas siswa.
Jika dilihat dari jumlah nilai rata-rata yang dihasilkan oleh aktivitas guru sebesar 56.92% dan aktivitas siswa sebesar 27%, dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran membaca puisi anak persentase guru dalam berbicara lebih tinggi dibandingkan dengan siswa. Hal ini menandakan bahwa guru menjadi pusat dalam pembelajaran.Jumlah nilai aktivitas guru
dan siswa sebesar 83.92%.Sedangkan nilai keramaian atau kesunyian pada pembelajaran membaca puisi anak yaitu sebesar16.06%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa keramaian dan kesunyian yang tercipta di dalam proses pembelajaran sangat rendah. Ini berarti guru dan siswabanyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan materi dibandingkan aktivitas diluar materi.
Berdasarkan hasil analisis interaksi kelas untuk data pengamatan pertama di atas, indikasi pola interkasi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi dapat diketahui dengan cara menghitung besarnya intensitas guru bicara (GB), siswa bicara (SB), kesunyian (K), rasio respon guru (RRG), rasio respon langsung guru (RRLG), rasio inistif siswa (RIS), rasio pergantian konten (RPK), serta rasio siswa tetap (RST).
Adapun hasil analisis indikasi pola interaksi kelas pada pengamatan pertama sebagai berikut.
Gambar 4.2Indikasi Pola Interaksi Pengamatan Pertama
Berdasarkan data interaksi guru dan siswa pada observasi pertama, dapat dideskripsikan indikasi pola interaksi kelas dalam
GB; 57,72 SB; 27,01
K; 16,28 RRG;
24,51
RIS; 6,76 RRLG; 70,78
RPK; 39,42 RST; 0
pembelajaran membaca puisi di kelas rendah yaitu proporsi guru berbicara (GB) memiliki nilai terbesar yaitu 57.72%. Nilai tersebut mengindikasikan waktu interaksi total yang dihabiskan oleh guru selama pelajaran berlangsung. Nilai siswa berbicara (SB) sebesar 27.01%, nilai tersebut mengindikasikan waktu interaksi total yang dihabiskanoleh siswa selama pelajaran berlangsung.
Nilai siswa berbicara hampir sama dengan nilai kesunyian yaitu 16.28%. Nilai kesunyian mengindikasikan bahwa waktu kesunyian atau percakapan yang tidak terindikasikan selama pelajaran berlangsung.Rasio Respon Guru (RRG) sebesar 24.51%, nilai tersebut mengindikasikan indeks kecenderungan guru dalam bereaksi menanggapi ide dan perasaan siswa.Nilai Rasio Inisiatif Siswa (RIS) sebesar 6.76%, nilai tersebut mengindikasikan proporsi inisiatif siswa dalam memulai pembicaraan. Nilai Rasio Respon Langsung Guru(RRLG) sebesar 70.78%, nilai tersebut mengindikasikan tingginya tingkat kecenderungan guru dalam merespon ide siswa ke dalam diskusi begitu siswa tersebut selesai bicara. Nilai Rasio Pergantian Konten sebesar 39.42%, nilai tersebut menggambarkan derajat pengarahan guru dalam mengarahkan konten pembicaraan.Rasio Tetap Siswa (RTS) adalah indeks kecepatan interaksi guru dan siswa.Kemudian nilai Rasio Tetap Siswa (RTS) yaitu sebesar 0%, nilai tersebut menunjukkan indeks kecepatan interaksi guru dan siswa.
2. Data Hasil Pengamatan Kedua Pembelajaran Membaca Puisi
Hasil pengamatan kedua interaksi kelas antara siswa dan guru selama pembelajaran membaca puisi ditranskrip ke dalam sepuluh kategori sehingga menghasilkan matriks sebagaimana yang ditampilkan pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Matriks Interaksi Kelas Pengamatan Kedua
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ∑
Matriks di atas menjelaskan bahwa interaksi antara guru dan siswa pada observasi pembelajaran pertama yang terindikasi saling memiliki rasa menerima terjadi sebanyak dua kali.Terjadi interaksi rasa menerima dengan pujian sebanyak satu kali.Tidak terjadi interaksi rasa menerima dengan menerima ide siswa, bertanya, maupun mengajar.Satu kali terjadi interaksi rasa menerima dengan mengarahkan dan memberi perintah.Dua kali terjadi interaksi rasa menerima dengan mengkritik atau membenarkan.Delapan kali terjadi interaksi rasa saling menerima dengan respon siswa.Tiga kali terjadi interaksi rasa menerima dengan inisiatif
siswa.Satu kali terjadi interaksi rasa menerima dengan kondisi diam atau ramai.Selanjutnya, untuk indikator kedua, interaksi pujian dari guru tidak pernah terjadi dengan interaksi pujian, menerima ide siswa, bertanya, mengajar, mengarahkan dan memberi perintah, mengkritik atau membenarkan.Delapan kali terjadi interaksi pujian dengan respon siswa.Tidak terjadi interaksi pujian dengan inisiatif siswa.Tiga kali terjadi interkasi pujian dengan damai atau ramai. Deskripsi isi matriks di atas dapat dijabarkan lebih lanjut dengan cara memasangkan indikator interaksi secara horizontal dengan interaksi vertical. Angka menunjukkan jumlah interaksi tersebut terjadi.
Berdasarkan matriks di atas, hasil analisis interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi kelas rendah di SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone sebagaimana yang ditampilkan dalam tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4Hasil Analisis Matriks Pengamatan Kedua
No Katagori Persentase
1 Rasa menerima 5.86
2 Pujian 4.23
3 Menerima ide siswa 3.58
4 Bertanya 21.17
5 Mengajar 4.88
6 Mengarahkan dan memberi perintah 15.31
7 Mengkritik atau membenarkan 4.88
8 Respon siswa 23.13
9 Inisiatif siswa 4.56
10 Damai atau ramai 12.38
Data pada tabel 4.4 di atas mewakili hasil analisis matriks interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran membaca puisi di kelas rendah pada pengamatan kedua.Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa interaksi kelas pada indikator rasa menerima sebesar 5.86%, interaksi pujian sebesar 4.23%, interaksi menerima ide siswa sebesar 3.58, interaksi bertanya sebesar 21.17, interaksi mengajar sebesar 4.88%, interaksi mengarahkan dan memberi perintah sebesar 15.31%, interaksi mengkritik atau membenarkan sebesar 4.88%, interaksi respon siswa sebesar 23.13%, interaksi inisiatif siswa sebesar 4.56%, dan interaksi damai atau ramai sebesar 12.38%.Hasil analisis matriks interaksi guru dan siswa pada pengamatan pertama jika disajikan dalam bentuk diagramakan terlihat seperti pada diagram 4.2 di bawah ini.
Gambar 4.3 Diagram Hasil Analisis Matriks Pengamatan Kedua
5,86 4,23 3,58
21,17
4,88
15,31
4,88
23,13
4,56
12,38
Hasil Analisis Matriks
Hasil Analisis Matriks
Gambar diagram 4.3 di atas menunjukkan bahwa aktivitas yang dilakukan guru dalam pembelajaran membaca puisi anak memiliki proporsi yang berbeda-beda, yaitu persentase guru dalam memotivasi siswa sebesar 5,86%, persentase guru dalam memberikan pujian kepada siswa sebesar 4,23%, persentase guru dalam menerima ide siswa sebesar 3,58%, persentase guru dalam memberi pertanyaan kepada siswa sebesar 21,17%, persentase guru dalam mengajarkan materi sebesar 4,88%, persentase guru dalam memberi arahan dan perintah kepada siswa sebesar 15,31%, persentase guru dalam mengkritik dan membenarkan pendapat siswa sebesar 4,88%. Berdasarkan nilai-nilai yang dihasilkan guru tersebut dapat diketahui bahwa persentase guru dalam memberikan arahan dan perintah kepada siswa mencapai nilai tertinggi dibandingkan dengan aktivitas guru dalam memotivasi siswa, guru dalam memberikan pujian kepada siswa, guru dalam menerima ide siswa, guru dalam memberi pertanyaan kepada siswa sebesar, guru dalam mengajarkan materi, serta guru dalam mengkritik dan membenarkan pendapat siswa. Hal ini dapat diidentifikasikan bahwa guru selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksperimen, sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan membaca puisi anak yang dimilikinya. Sedangkan nilai rata-rata dari aktivitas yang dilakukan guru pada saat pembelajaran sebesar 59,91%. Nilai rata-rata tersebut berasal dari jumlah nilai dari seluruh aktivitas guru.
Aktivitas yang dilakukan siswa pada saat pembelajaran membaca puisi anak juga memiliki proporsi yang berbeda-beda. Pernyataan ini dapat dilihat dari persentase siswa dalam memberi respon kepada guru sebesar 23,13%, sedangkanpersentase siswa dalam mengungkapkan inisiatifnya sebesar 4,56%. Dari nilai tersebut diketahui bahwa siswa lebih aktif dalam menanggapi perintah guru daripada mengungkapkan inisiatifnya sendiri. Nilai rata-rata aktivitas siswa sebesar 27,69%. Nilai rata-rata tersebut di dapat dari jumlah nilai dari seluruh aktivitas siswa.
Jika dilihat dari jumlah nilai rata-rata yang dihasilkan oleh aktivitas guru sebesar 59,91% dan aktivitas siswa sebesar 27,69%, dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran membaca puisi anak persentase guru dalam berbicara lebih tinggi dibandingkan dengan siswa. Hal ini menandakan bahwa guru menjadi pusat dalam pembelajaran. Jumlah nilai aktivitas guru dan siswa sebesar 87,6%. Sedangkan nilai keramaian atau kesunyian pada pembelajaran membaca puisi anak yaitu sebesar 12,38%.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa keramaian dan kesunyian yang tercipta di dalam proses pembelajaran sangat rendah. Ini berarti guru dan siswa banyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan materi dibandingkan aktivitas diluar materi.
Berdasarkan hasil analisis interaksi kelas untuk data pengamatan kedua di atas, indikasi pola interkasi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi dapat diketahui dengan cara menghitung besarnya intensitas guru bicara (GB), siswa bicara (SB), kesunyian (K),
rasio respon guru (RRG), rasio respon langsung guru (RRLG), rasio inistif siswa (RIS), rasio pergantian konten (RPK), serta rasio siswa tetap (RST).
Adapun hasil analisis indikasi pola interaksi kelas pada pengamatan pertama sebagai berikut.
Gambar 4.4 Indikasi Pola Interaksi Pengamatan Kedua
Berdasarkan data mengenai variabel interaksi guru dan siswa pada observasi kedua, dapat dideskripsikan bahwa proporsi guru berbicara (GB) memiliki nilai terbesar yaitu 60.72%. Nilai tersebut mengindikasikan waktu interaksi total yang dihabiskan oleh guru selama pelajaran berlangsung. Nilai siswa berbicara (SB) sebesar 28.05%, nilai tersebut mengindikasikan waktu interaksi total yang dihabiskan oleh siswa selama pelajaran berlangsung. Nilai siswa berbicara hampir sama dengan nilai kesunyian yaitu 12.54%. Nilai kesunyian mengindikasikan bahwa waktu kesunyian atau percakapan yang tidak terindikasikan selama pelajaran
GB; 60,72
SB; 28,05
K; 12,54 RRG; 40,38
RIS; 16,47 RRLG; 68,12
RPK; 52,12
RST; 0
berlangsung.Rasio Respon Guru (RRG) sebesar 40.38%, nilai tersebut mengindikasikan indeks kecenderungan guru dalam bereaksi menanggapi ide dan perasaan siswa.Nilai Rasio Inisiatif Siswa (RIS) sebesar 16.47%, nilai tersebut mengindikasikan proporsi inisiatif siswa dalam memulai pembicaraan. Nilai Rasio Respon Langsung Guru(RRLG)sebesar 68,12%,
berlangsung.Rasio Respon Guru (RRG) sebesar 40.38%, nilai tersebut mengindikasikan indeks kecenderungan guru dalam bereaksi menanggapi ide dan perasaan siswa.Nilai Rasio Inisiatif Siswa (RIS) sebesar 16.47%, nilai tersebut mengindikasikan proporsi inisiatif siswa dalam memulai pembicaraan. Nilai Rasio Respon Langsung Guru(RRLG)sebesar 68,12%,