• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INTERAKSI KELAS DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI ANAK DI KELAS RENDAH SD INPRES 3/77 APALA KABUPATEN BONE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS INTERAKSI KELAS DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI ANAK DI KELAS RENDAH SD INPRES 3/77 APALA KABUPATEN BONE"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INTERAKSI KELAS DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI ANAK DI KELAS RENDAH SD INPRES 3/77

APALA KABUPATEN BONE

ANALYSIS OF CLASS INTERACTIONS IN LEARNING TO READ CHILDREN POETRYIN THE LOW CLASS ELEMENTARY SCHOOL OF 3/77 APALA

IN BONE REGENCY

TESIS Oleh

YUSMANIAR

Nomor Induk Mahasiswa: 105.06.01.011.16

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN DASAR

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2020

(2)

ANALISIS INTERAKSI KELAS DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI ANAK DI KELAS RENDAH SD INPRES

3/77 APALA KABUPATEN BONE

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi

Magister Pendidikan Dasar

Disusun dan Diajukan oleh

YUSMANIAR

Nomor Induk Mahasiswa: 105.06.01.011.16

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN DASAR

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2020

(3)
(4)
(5)
(6)

MOTO

Jangan sampai terjebak pada satu kasus mematikan yaitu “Menggebu-gebu dalam kata namun beku dalam

tindakan

Persembahan :

Sujud syukurku kusembahkan kepadaMu ya Allah, Atas takdirmu saya bisa menjadi pribadi yang berpikir, berilmu, beriman dan bersabar. Semoga keberhasilan ini menjadi satu langkah awal untuk masa depanku untuk meraih cita-cita

Dengan ini saya persembahkan Tulisan ini untuk

1. Papa (Almarhum) Terima kasih atas kasih sayang yang berlimpah dari mulai saya lahir, hingga saat ini.

2. Mama yang sebagai motivator terbesar dalam hidupku yang tak pernah berhenti mendoakan yang terbaik untukku

3. Suamiku tercinta yang selalu setia menemaniku disetiap urusan pendidikanku hingga selesai

4. Kedua putri kecilku yang selalu ada disampingku

5. Dan kepada sahabat-sahabatku yang selalu memberiku dorongan dan semangat.

RIWAYAT HIDUP

(7)

ABSTRAK

Yusmaniar. 2019. Analisis Interaksi Kelas dalam Pembelajaran Membaca Puisi Anak di Kelas Rendah Sekolah Dasar Kabupaten Bone.Tesis. Dibimbing oleh Sitti Aida Azis dan Erwin Akib.

Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi anak di kelas rendah SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone; 2) mendeksripsikan implikasi interaksi kelas yang digunakan dalam pembelajaran membaca puisi anak di kelas rendah terhadap kemampuan membaca puisi anak.

Peneliti menggunakan model Flanders Interaction Analysis Categories (FIAC) untuk menganalisis interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran. Penelitian ini mengggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik studi pustaka, observasi, dan teknik catat. Data dianalisis secara interaktif dengan tiga tahapan utama yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Hasil penelitian membuktikan bahwa (1) Guru berbicara (GB) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 48,18%, (2) Siswa Berbicara (SB) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 27,53%, (3) Kesunyian (K) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 14,41%, (4) Rasio Respon Guru (RRG) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 32,45%, (5) Rasio Inisiatif Siswa (RIS) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 11,62%, (6) Rasio Respon Langsung Guru(RRLG) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 69,45%, (7) Rasio Pergantian Konten (RPK) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 45,77%, (8) Rasio Tetap Siswa (RTS) menghasilkan nilai rata- rata sebesar 0%, dan (9) penggunaan bahasa antara siswa dan guru selama berinteraksi sebesar 93,56% untuk penggunaan bahasa Indonesia, terdiri dari guru sebesar 65,34% dan siswa 28,21%; dan penggunaan bahasa Jawa sebesar 6,44%, terdiri dari guru 3,13% dan siswa 3,32%.Interaksi kelas bersifat multi arah, namun tetap berpusat pada guru. Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa merupakan jenis interaksi edukatif. Artinya, interaksi guru dan siswa berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.

Kata kunci: interaksi kelas, FIAC, sastra, membaca puisi, kelas rendah

(8)
(9)

x

KATA PENGANTAR

Sebagai pribadi yang memiliki keyakinan atas Tuhan Yang Maha Esa, sepatutnya penulis mengucap syukur atas segala limpahan rahmat dan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT.yang telah dirasakan oleh penulis dalam menjalani dan mengarungi hidup dan kehidupan ini. Allah telah menjanjikan kepada setiap hamba-Nya derajat yang tinggi bagi mereka yang berilmu.Salawat dan salam senantiasa tercurahkan baik lisan maupun dalam hati penulis kepada Nabi Muhammad saw., nabi yang diutus oleh Allah SWT., dipermukaan bumi ini untuk senantiasa memberikan petunjuk dan pedoman kepada setiap hamba yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT.

Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis dari awal perencanaan penelitian hingga pada tahap penyusunan tesis. Tetapi, berkat bantuan berbagai pihak, maka tesis ini dapat terselesaikan. Untuk itu, penulis dengan bangga mempersembahkan tesis yang berjudul “Analisis Interaksi Kelas dalam Pembelajaran Membaca Puisi Anak di Kelas Rendah SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone”.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada; Pembimbing Dr. Sitti Aida Azis, M.Pd (Pembimbing I) dan Erwin Akib, M.Pd.,Ph.D atas bantuan dan bimbingan yang telah diberikan mulai dari pengembangan minat terhadap permasalahan penelitian, rancangan penelitian, penulisan proposal sampai pada penulisan tesis. Ketua Program Studi Magister

(10)

x

Pendidikan Dasar Sulfasyah, S.Pd., M.Pd., Ph.D, yang mendukung penuh segala aktivitas yang penulis lalui dalam dunia perkuliahan dan penelitian.

Segenap Dosen dan Staf Administrasi Universitas Muhammadiyah Makassar, terkhusus kepada dosen-dosen Program Studi Pendidikan Dasar. Rekan-rekan mahasiswa Angkatan 2016 yang senantiasa bersedia menjadi lawan bicara, bercanda, belajar, serta tempat mengaduh kesulitan dalam menyelesaikan studi.

Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada orang- orang tercinta yaitu mama, suami, anak, keluarga, serta saudara-saudara tercinta. Semoga Allah swt, senantiasa memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Selain ucapan terima kasih tersebut, melalui tulisan pengantar ini, penulis menyampaikan maaf apabila selama ini penulis pernah melakukan salah, baik secara fisik maupun psikis, baik sengaja maupun tidak sengaja. Semoga semuanya mampu menjadi pribadi yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Amin.

Makassar, Januari 2020

Penulis

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI ... iii

KARTU KONTROL ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Tinjauan Hasil Penelitian ... 9

B. Tinjauan Teori dan Konsep... 18

1. Hakikat Pragmatik ... 18

2. Ruang Lingkup Pragmatik ... 21

a. Deiksis ... 21

b. Praanggapan ... 22

c. Implikatur ... 23

d. Tindak Tutur ... 24

3. Hakikat Tindak Tutur (Speech Act) ... 25

a. Pengertian Tindak Tutur ... 25

b. Jenis Tindak Tutur ... 28

4. Interaksi dalam Proses Belajar Mengajar ... 32

5. Interaksi Kelas ... 33

6. Metode Analisis Interaksi Kelas Flander ... 35

7. Sastra Anak dan Pengajarannya di Sekolah Dasar ... 42

8. Manfaat Sastra Anak ... 43

9. Hakikat Membaca Puisi ... 44

10. Cara Membaca Puisi ... 46

11. Pengertian Puisi Anak ... 49

C. Kerangka Pikir ... 52

(12)

BAB III METODE PENELITIAN ... 54

A. Jenis Penelitian ... 54

B. Pendekatan Penelitian ... 54

C. Data dan Sumber Data ... 55

D. Instrumen Penelitian ... 55

E. Teknik Pengumpulan Data ... 55

F. Teknik Analisis Data ... 56

G. Pengecekan Keabsahan Temuan ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 60

A. Hasil Penelitian ... 60

1. Data Hasil Pengamatan Pertama Pembelajaran Membaca Puisi ... 60

2. Data Hasil Pengamatan Kedua Pembelajaran Membaca Puisi ... 67

3. Interpretasi Hasil Pengamatan Interaksi Kelas dalam Pembelajaran Membaca Puisi di Kelas Rendah Menggunakan Flander’s Interaction Analysis Categories (FIAC) ... 74

4. Deskripsi Kemampuan Membaca Puisi Anak ... 77

B. Pembahasan ... 79

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 91

A. Simpulan ... 91

B. Saran... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 93

LAMPIRAN ... 97

Riwayat Hidup ... 112

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bagan Kerangka Pikir ... 54

2. Diagram Hasil Analisis Matriks Pengamatan Pertama ... 64

3. Indikasi Pola Interaksi Pengamatan Pertama ... 66

4. Diagram Hasil Analisis Matriks Pengamatan Kedua ... 70

5. Indikasi Pola Interaksi Pengamatan Kedua ... 73

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Matriks Interaksi Kelas Pengamatan Pertama ... 61

2. Hasil Analisis Matriks Pengamatan Pertama ... 63

3. Matriks Interaksi Kelas Pengamatan Kedua ... 68

4. Hasil Analisis Matriks Pengamatan Kedua ... 69

5. Interpretasi Indikator Interaksi Kelas ... 74

6. Rangkuman Hasil Tes Kemampuan Membaca Puisi Siswa ... 78

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Profil SD Inpres 3/77 Apala ... 97

2. Instrumen Penelitian ... 98

3. Rangkuman Data Hasil Pengamatan ... 103

4. Surat Keterangan Penelitian ... 105

5. Dokumentasi Kegiatan Penelitian ... 108

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan manusia lainnya untuk saling berinteraksi, bertukar pengalaman, ide, dan informasi, serta berbagi pengetahuan. Tanpa proses interaksi, manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah mampu mewujudkan eksistensi dan membangun dirinya untuk dapat menjadi lebih baik. Hal tersebut sebagaimana telah difirmankan oleh Allah swt. dalam Q.S Al-Hujurat: 13 sebagai berikut;

Batasan sederhananya adalah manusia tidak dapat terlepas dari keberadaan manusia lainnya.Interaksi antarmanusia dibangun dengan memosisikan bahasa sebagai komponen utama.Oleh karena itu, keberhasilan sebuah interaksi bergantung pada kemampuan pelaku interaksi itu sendiri dalam memanfaatkan bahasa sebagai manifestasi

1

(17)

pikiran.Salah satu bentuk kegiatan yang di dalamnya terdapat interaksi manusia yang memosisikan bahasa sebagai medianya adalah pembelajaran.

Pembelajaran di kelas pada hakikatnya bertumpu pada proses interaksi para pelaku belajar yang terlibat di dalamnya yaitu antara guru dan siswa atau siswa dengan siswalainnya yang kemudian dikenal dengan istilah interaksi kelas. Interaksi kelas menghendaki adanya pola hubungan timbal balik, memberi dan menerima ide atau informasi, berbagi perasaan dan pengalaman, serta menerima persoalan dan memberi solusi. Interaksi kelas menjadi sangat penting dalam sebuah prosesbelajar mengajar. Bahkan dikatakan bahwa interaksi kelas menjadi penentu keberhasilan belajar siswa. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Berlo (Arief, 2015: 1) bahwa interaksi antara guru dan siswa dengan menggunakan bahasa yang segar, komunikatif, dinamis selama proses pembelajaran berlangsung sangat menentukan keberhasilan belajar siswa sebab penyerapan pesan dari interaksi tersebut menjadi lebih efektif.Luz (2015) menyarankan untuk membangun interaksi kelas yang baik untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang lebih baik.Bahkan, Nunan (Arief, 2015: 1) menyebutkan bahwa interaksi kelas adalah penentu keberhasilan siswa dalam mempelajari bahasa ataupun sastra (literature) disamping memudahkan proses pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi guru untuk membina interaksi kelas yang baik selama pembelajaran berlangsung.

(18)

Selain alasan keberhasilan belajar, pentingnya membina interaksi kelas juga dikarenakan alasan kenyamanan belajar siswa sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad, dkk., (2017) dalam penelitiannya bahwa membina interaksi kelas dengan baik dengan memperhatikan keterlibatan, kebutuhan, dan karakteristik siswa berpengaruh terhadap kenyamanan belajar. Sebab, dengan interaksi kelas, perspektif belajar siswa menjadi lebih luas, bukan hanya sekadar memahami materi saja melainkan ada prinsip keterbukaan, saling menerima, saling membantu, serta belajar untuk kemajuan bersama sehingga terbentuk suasana kelas yang kondusif atas dasar keakraban.Terzi dan Celik (2005) juga mengungkapkan bahwa interaksi kelas menjadi sangat penting untuk dibina agar menghindari adanya jarak atau ruang pemisah antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa lainnya.Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang dalam suatu pembelajaran interaksi hanya terjalin intensif antara guru dengan siswa tertentu saja atau hanya siswa dengan siswa dalam satu kelompok tertentu.

Mengacu pada berbagai hasil riset, dampak terburuk yang akan terjadi ketika interaksi kelas tidak terlaksana dengan baik adalah (1) terciptanya proses pembelajaran yang tidak kondusif (Razak, 2013, Wahyudi dkk., 2015), (2) motivasi belajar siswa terganggu (Dewi, dkk., 2016,Ahmad, dkk., 2017), dan (3) rendahnya prestasi belajar siswa (Meilani, 2015, Rizawati, dkk., 2017).

(19)

Interaksi kelas sebagai suatu kegiatan berkomunikasi dapat ditelaah lebih jauh dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu linguistik.

Salah satu diantaranya adalah pragmatik. Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian ilmu linguistik yang keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan manusia sebagai pengguna bahasa. Fenomena penggunaan bahasa seperti halnya dalam interaksi kelas merupakan ranah dari kajian pragmatik.Pragmatik secara praktis dapat didefinisikan sebagai studi mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu (Djajasudarma, 2012: 47). Penutur saat berinteraksi tidak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi bahasa, tetapi juga mempunyai maksud atau tujuan tertentu dari tuturan yang disampaikan kepada mitra tutur. Leech (2011: 8), mengungkapkan bahwa pragmatik merupakan studi tentang makna yang berhubungan dengan situasi-situasi ujar (speech situations).

Ruang lingkup kajian pragmatik terbagi menjadi beberapa bagian salah satu diantaranya adalah tindak tutur. Djajasudarma (2012: 53), menjelaskan bahwa tindak tutur merupakan aksi berupa tindakan dengan menggunakan bahasa. Aksi tersebut sering digunakan untuk menyatakan sesuatu, seperti memberikan informasi, memerintah, mengajukan permohonan, dan lain sebagainya. Aksi atau tindakan tersebut memanfaatkan bahasa untuk menyampaikan maksud ataupun tujuan penutur. Tindak tutur sering kali kita jumpai digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, memahami interaksi kelas sebagai suatu proses berbahasa untuk menyukseskan pembelajaran yang

(20)

dilakukan oleh guru dapat dilakukan dengan mengkaji tindak tutur yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.

Model kajian wacana tindak tutur dalam interaksi kelas telah banyak dikonseptualkan oleh ahli seperti (1) Flanders (1970), Moskowitz (1971), (2) Burton (1981), (3) Sinclair dan Coulthard (1978), (4) J.A. van Ek (1976), (5) Grice (1981), serta (6) Leech (1993) (Arief, 2015: 2). Para ahli tersebut mengemukakan pendapat dan gagasan tentang jenis, fungsi, dan subfungsi tindak tutur guru.Setelah membaca dan menelaah keenam model kajian wacana tindak tutur dalam interaksi kelas tersebut, peneliti tertarik dengan model yang dikemukakan oleh Flanders (1970).

Alasannya, model ini secara sistematis menjelaskan prosedur belajar dalam kaitannya dengan perilaku belajar, interaksi kelas, serta hasil belajar yang ditimbulkan dari perilaku dan interaksi kelas tersebut.

Flanders (1970) memperkenalkan suatu sistem observasi tindak tutur dalam interaksi kelas yang dikenal dengan nama “Analisis Kategori Interaksi Flanders” (Flanders Interaction Analysis Categories/FIAC).

Sistem ini digunakan oleh Flandersuntuk mengamati hubungan antara perilaku mengajar, interaksi kelas, dan hasil pengajaran itu sendiri (Arief, 2015: 61).

Pembelajaran membaca puisi anak merupakan salah satu kompetensi yang dibelajarkan kepada siswa di kelas rendah.

Pembelajaran membaca puisi di kelas rendah ini menjadi sangat penting keberhasilannya untuk diupayakan, sebab merupakan peletakan dasar

(21)

peminatan dan kemampuan mengapresiasi bahasa (membaca) dan sastra (puisi) pada siswa. Jika pembelajaran bahasa dan sastra di kelas rendah gagal, maka kemungkinan terbesar akan terjadi pula hal serupa di kelas tinggi. Oleh karena itu, pembelajaran di kelas rendah seperti halnya

“membangun pondasi untuk menghasilkan bangunan yang kokoh”.

Dengan demikian, tugas guru untuk mengajarkan pembacaan puisi anak di kelas rendah menjadi sangat sulit. Tetapi, seperti yang dikemukakan oleh para ahli dan beberapa bukti hasil riset yang telah dikemukakan sebelumnya, hal yang harus dilakukan oleh guru untuk menciptakan susana belajar yang kondusif, memotivasi siswa untuk belajar, serta meninggkatkan hasil belajar siswa adalah dengan membina interaksi kelas yang baik.

Pertanyaannya, apakah guru yang mengajarkan kompetensi membaca puisi anak di kelas rendah telah mampu membina interaksi kelas dengan baik? Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar peneliti untuk selanjutnya dibuktikan kebenarannya melalui tindakan riset khususnya di SD Inpres 3/77 Apala Kabupaten Bone.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut;

1. Bagaimana interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi anak di kelas rendah SD Inpres 3/77ApalaKabupaten Bone

(22)

ditinjau dari model Analisis Interaksi Kelas Flanders (Flanders Interaction Analysis Categories)?

2. Bagaimana implikasi interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi anak di kelas rendah terhadap kemampuan membaca puisi siswa SD Inpres 3/77 ApalaKabupaten Bone?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah;

1. Mendeskripsikan interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi anak di kelas rendah SD Inpres 3/77ApalaKabupaten Bone ditinjau dari model Analisis Interaksi Kelas Flanders (Flanders Interaction Analysis Categories)

2. Mendeskripsikan implikasi interaksi kelas yang terjadi dalam pembelajaran membaca puisi anak di kelas rendah terhadap kemampuan membaca puisi siswa SD Inpres 3/77 ApalaKabupaten Bone

(23)

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis, manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah;

a. Menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang pendidiikan berdasarkan hasil riset.

b. Mengembangakn konsep interaksi kelas dalam pembelajaran bahasa dan sastra.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah;

a. Bagi guru, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan refleksi untuk meningkatkan kinerja profesional khususnya dalam pengajaran. Guru akan memperoleh pengetahun lebih terkait pentingnya membina interkasi kelas dalam pembelajaran.

b. Bagi sekolah, penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar evaluasi untuk meningkatkan kinerja sekolah demi terwujudnya fungsi sekolah yang ideal dengan cara mengevaluasi kemampuan guru dalam mengajar. Hasil penelitian ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai objek pelatihan pengembangan keterampilan mengajar guru.

c. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi tambahan untuk mengkaji fokus penelitian serupa atau fokus lainnya.

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Hasil Penelitian

Salah satu dasar pertimbangan dilakukannya penelitian ini adalah telah dilakukannya tinjauan terhadap beberapa hasil penelitian yang relevan sehingga peneliti memiliki pengetahuan dan pemahaman yang dijadikan sebagai dasar dilakukannya penelitian ini. Adapun penelitian relevan tersebut sebagai berikut;

Dewi, dkk., (2016) dengan judul “Analisis Interaksi Guru dan Siswa dalam PembelajaranBahasa Indonesia di Kelas 1 SDN 1 Nawa Kerti” Hasil penelitian ini mengidentifkasi bahwa interaksi yang terjadi antara guru dan siswa bersifat multiarah. Selain itu, interaksi kelas tersebut mampu meningkatkan hasil belajar dan afeksi positif siswa. Ditinjau dari fokus penelitian, ada kesamaan antara penelitian Dewi dkk, (2016) dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu pada interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah. Perbedaannya, (1) penelitian Dewi dkk, (2016) memilih kelas 1 sebagai subjek kajiannya, sedangkan penelitian ini melibatkan siswa kelas 3 SD sebagai subjeknya, (2) penelitian Dewi dkk, (2016) memilih aspek keterampilan berbahasa berupa membaca dan menulis sebagai objeknya sedangkan objek penelitian ini memilih aspek membaca sastra berupa puisi. Ditinjau dari

9

(25)

metode penelitian yang digunakan, penelitian Dewi dkk, (2016) serupa dengan penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif.

Pulungan, dkk (2014) dengan judul “Interaksi Sosial Antara Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajarandi Sekolah Dasar”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa perkembangan prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor interaksi belajar yang terjadi di kelas. Interaksi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hubungan komunikasi yang baik antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung. Fokus penelitian Pulungan, dkk (2014) adalah sama dengan penelitian ini yaitu mengkaji interaksi belajar. Subjek dalam penelitian Pulungan, dkk (2014) adalah siswa sekolah dasar pada umumnya sedangkan penelitian ini menetapkan siswa kelas rendah khususnya kelas 3. Metode penelitian yang digunakan adalah sama yaitu kualitatif.

Majid (2017) dengan judul “Interaksi Kelas dalam Pengajaran Bahasa Inggris Bagi Pemula”. Hasil penelitian Majid (2017) membuktikan bahwa pengetahuan guru tentang model pembelajaran komunikatif tergolong sangat buruk. Selain itu, kemampuan dan pengetahuan guru tentang cara mengajarkan bahasa Inggris juga tergolong rendah. Proses belajar mengajar pun tidak mengaktifkan siswa secara optimal. Penelitian Majid (2017) memiliki persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan diantaranya (1) sama-sama menganalisis interaksi kelas, (2) subjeknya adalah siswa sekolah dasar kelas rendah sebagai pembelajar pemula, (3) metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Sedangkan

(26)

perbedaannya yaitu (1) penelitian Majid (2017) menganalisis interaksi kelas pada pembelajaran bahasa Inggris sedangkan penelitian ini menganalisis interaksi kelas dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, (2) analisis interaksi kelas oleh Majid (2017) hanya berupa analisis sederhana terhadap rangkaian proses interaksi dalam pembelajaran sedangkan penelitian ini analisis didasarkan pada teori interaksi kelas dalam kajian tindak tutur Flanders.

Meilani (2015) dengan judul “Pengaruh Interaksi Guru dan Siswa dalam Pembelajaran dan Fasilitas Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ekonomi pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 3 Klaten Tahun Ajaran 2014-2015”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa interaksi kelas antara guru dan siswa berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI Jurusan IPS SMA Negeri 3 Klaten.

Letak persamaan penelitian Meilani (2015) dengan penelitian yang akan dilakukan hanya pada variabel interaksi kelasnya. Sedangkan perbedaannya terletak pada metode penelitian yang digunakan, populasi dan sampel penelitiannya, jenjang pendidikan yang diteliti, serta mata pelajaran yang dijadikan objek penelitian.

Rizawati, dkk (2017) dengan judul “Hubungan Antara Interaksi Edukatif Guru dengan HasilBelajar Siswa Kelas VI SD Negeri 18 Banda Aceh” Hasil penelitian Rizawati, dkk (2017) membuktikan bahwa interaksi edukasi memiliki hubungan yang linear terhadap hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 18 Banda Aceh. Interaksi edukatif dalam penelitian Rizawati,

(27)

dkk (2017) pada hakikatnya sama dengan interaksi kelas yang dijadikan objek analisis dalam penelitian yang akan dilakukan. Antara penelitian Rizawati, dkk (2017) dengan penelitian ini terdapat beberapa perbedaan yaitu (1) tujuan penelitian Rizawati, dkk adalah mencari hubungan antarvariabel yaitu interaksi edukatif terhadap hasil belajar yang didesain dengan penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif sedangkan penelitian yang akan dilakukan berupa penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. (2) subjeknya adalah siswa kelas VI SD yang merupakan kelas tinggi sedangkan dalam penelitian yang akan dilaksanakan subjeknya adalah siswa kelas 3 SD yang merupakan kelas rendah.

Wahyudi, dkk (2015) dengan judul “Analisis Pengolaan dan Interaksi Kelas dalam Pembelajaran Bahasa Inggris” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengelolaan dan interaksi kelas oleh dosen dalam mengajar bahasa Inggis serta respon mahasiswa terhadap interaksi dosen dalam mengajar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di prodi Pendidikan Bahasa Inggris semester 4, FKIP UNSIKA. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa secara keseluruhan proses pengelolaan kelas oleh dosen dalam mengajar berjalan dengan cukup baik. Selain itu baik dosen juga menerapkan aspek-aspek yang berkaitan dengan pengelolaan kelas seperti movement (proximity, aprociacy, movement, awareness), mantaining discipline (before and after problem), giving feedback (written, oral, positif and

(28)

negative), dan seating arrangemen. Sementara itu, respon mahasiswa terhadap interaksi yang dilakukan dosen cukup positif. Hal ini disebabkan oleh perlakuan dosen yang baik pula terhadap mahasiswa sehingga mahasiswa menjadi tenang dan rileks dalam belajar. Selain itu mahasiswa juga menjadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk aktif dikelas karena dorongan dan pujian dari dosen. Hal ini membuat interaksi antara dosen dan mahasiswa di kelas menjadi terbangun dan lebih hidup. Letak persamaan antara penelitian Wahyudi dkkdengan penelitian yang akan dilakukan hanya terletak pada salah satu fokus kajiannya yaitu interaksi kelas dan metode penelitian yang digunakan.

Helena, dkk (2014) dengan judul “Real-Time Teacher-Student Interactions: A Dynamic SystemsApproach”. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua kelas belajar dengan pendekatan belajar yang berbeda. Adapun yang menjadi perbandingannya adalah karakteristik interaksi kelas yang terjadi selama pembelajaran berlangsung dan hasil dari interaksi kelas tersebut. Helena dkk menyimpulkan bahwa kedua guru dengan pendekatan pengajaran yang berbeda memiliki pemahaman mengajar yang berbeda-beda sehingga karakteristik interaksi kelas pun berbeda. Hanya saja, guru dengan kemampuan interaksi kelas yang baik mampu melaksanakan pembelajaran dengan lebih baik sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Metode penelitian yang digunakan oleh Helena dkk sama dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu kualitatif. Peneliti juga melihat adanya kesamaan pada kajian interaksi kelasnya.

(29)

Terzi dan Celik (2015) dengan judul “Teacher-Student Interaction in Distance Learning”. Penelitian ini mengkaji tentang pengembangan model interaksi belajar yang tidak lagi dibatasi pada ruang kelas atau tatap muka tetapi model interaksi belajar berbasis teknologi yang dapat dilakukan di mana saja. Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa. Hasil penelitian membuktikan bahwa interaksi kelas secara langsung sesungguhnya lebih baik daripada model interaksi belajar yang diajukan. Tidak ada lemajuan yang signifikan yang diperoleh oleh dosen maupun mahasiswa dari interaksi kelas jarak jauh tersebut sebab, pengetahuan dan sikap lebih kuat diperoleh secara langsung daripada melalui teknologi. Kesamaan penelitian Terzi dan Celik dengan penelitian yang akan dilakukan hanya terletak pada metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif.

Luz (2015) dengan judul “The Relationship between Teachers and Studentsin the Classroom: Communicative LanguageTeaching Approach and Cooperative Learning Strategy to Improve Learning”. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan interaksi hubungan antara siswa dengan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan komunikaitf dan kooperatif learning. Asumsi dasar penelitian ini bahwa dengan kedua model tersebut mampu meningkatkan intensitas hubungan interaksi antara siswa dengan guru. Dengan demikian akan tercipta suasana pembelajaran yang kondusif sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud. Hasil penelitian membuktikan bahwa kedua pendekatan tersebut dapat meningkatkan hubungan

(30)

interaksi antara siswa dengan guru selama proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan oleh Luz (2015) adalah kualitatif.

Herskovitz, dkk (2015) dengan judul “Teacher-Student Calssroom Interaction: A Computational Approach” telah menciptakan sebuah pendekatan baru yang menghubungkan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran menggunakan media computer. Pendekatan interaksi belajar ini hanya pada tataran pengembangan, belum diuji validitas dan keefektifannya.

Nasrulloh, (2013) dengan judul “Teacher Student Interaction in a Project Based Learning Classroom”. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan antara pendekatan pembelajaran konvensional dengan pendekatan belajar berbasis proyek. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa karakteristik pendekatan belajar berbasis proyek lebih berkonstribusi terhadap meningkatkan interaksi belajar antara guru dan siswa. Jenis penelitian Nasrulloh ini adalah komparasi dengan pendekatan kuantitatif. Dengan demikian, metode penelitian yang digunakan berbeda dengan metode yang akan digunakan.

Ahmad, dkk (2017) dengan judul “Teacher-Student Interactions, Learning Commitment, Learning Environment and Their Relationship with Student Learning Comfort”. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara interaksi guru dan siswa, komitmen belajar, dan lingkungan belajar terhadap kenyamanan belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah ex-pots facto dengan pendekatan kuantitatif.

(31)

Analisisnya adalah regresi berganda karena melibatkan lebih dari satu variabel bebas yang selanjutnya diukur pengaruhnya terhadap satu variabel terikat. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa membina interaksi yang baik dan intensif antara guru dan siswa berhubungan dengan terciptanya kenyamanan pada diri siswa selama proses belajar berlangsung. Metode yang digunakan dalam penelitian Ahmad dkk berbeda dengan metode penelitian yang akan digunakan.

Dewi (2009) dengan judul “Deskripsi Interaksi Siswa dan Guru dalam Pembelajaran Membaca Puisi Anak di Sekolah Dasar Kelas Rendah Melalui Teori Flander dan Larsen-Freeman”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Guru berbicara (GB) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 48,18%, (2) Siswa Berbicara (SB) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 27,53%, (3) Kesunyian (K) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 14,41%, (4) Rasio Respon Guru (RRG) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 32,45%, (5) Rasio Inisiatif Siswa (RIS) menghasilkan nilai rata- rata sebesar 11,62%, (6) Rasio Respon Langsung Guru (RRLG) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 69,45%, (7) Rasio Pergantian Konten (RPK) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 45,77%, (8) Rasio Tetap Siswa (RTS) menghasilkan nilai rata-rata sebesar 0%, dan (9) penggunaan bahasa antara siswa dan guru selama berinteraksi sebesar 93,56% untuk penggunaan bahasa Indonesia, terdiri dari guru sebesar 65,34% dan siswa 28,21%; dan penggunaan bahasa Jawa sebesar 6,44%, terdiri dari guru 3,13% dan siswa 3,32%.

(32)

Wulandari (2007) dalam penelitian yang berjudul The Teacher and LearnerTalk in The Classroom Interaction A Case of The Second Grade Students of SMA Sedes Sapientiae Semarang menerangkan bahwa interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas sangat menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Penelitian ini difokuskan pada keseimbangan antara guru berbicara dan siswa berbicara atau diam.

Wulandari memaparkan bahwa keaktifan baik guru maupun siswa sangat memungkinkan keberhasilan pembelajaran. Secara detail, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 67% menunjukkan frekuensi guru berbicara, yang meliputi mengajar, bertanya dan menjawab pertanyaan, menerima ide siswa, mengkritik dan memotivasi, dan memberi perintah kepada siswa. Frekuensi siswa berbicara yaitu 21%, yang meliputi respon dan inisiatif siswa. Sisanya 18% yaitu tidak ada komunikasi antara siswa dengan guru. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti yaitu sama-sama menggunakan teori interaksi kelas dari Flander (FIAC). Perbedaannya yaitu dalam penelitian ini Wulandari hanya sampai pada teori Flander, sedangkan penelitian yang dilakukan lebih dikembangkan lagi ke dalam teori analisis kelas dari Larsen-Freeman untuk mendeskripsikan karakteristik proses pembelajaran membaca puisi anak.

Sulistyanti (2008) dalam penelitiannya yang berjudul An Interaction Analysis of English Language Teaching at SPEC Magelang mengulas tentang interaksi guru dan siswa yang terjadi di dalam kelas dan

(33)

mengetahui teknik serta prinsip mengajar yang digunakan guru pada pembelajaran bahasa Inggris. Bagaimana interaksi guru dan siswa serta karakteristik mengajar guru, dapat dianalisis dengan menggunakan teori Flander (FIAC) dan dapat dideskripsikan menggunakan teori Larsen- Freeman. Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa (1) Guru Bicara / GB (48,18%), (2) Siswa Bicara / SB (28,92%), (3) Kesunyian / K (22,90%), (4) Rasio Respon Guru / RRG (43,69%), (5) Rasio Inisiatif Siswa / RIS (3,42%), (6) Rasio Respon Langsung Guru / RRLG (52,10%), (7) Rasio Pergantian Konten / RPK (25,90%), (8) Rasio Respon Tetap Siswa / RRTS (0%), dan (9) proporsi penggunaan bahasa yaitu bahasa Inggris (62,36%) dan bahasa Indonesia. Persamaan penelitian ini dengan peneliti terletak pada cara menganalisisnya yaitu menggunakan teori interaksi kelas dari Flander (FIAC) dan teori analisis kelas dari Larsen-Freeman.

B. Tinjauan Teori dan Konsep

1. Hakikat Pragmatik

Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian ilmu linguistik yang keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan manusia sebagai pengguna bahasa. Manusia selalu menggunakan bahasa untuk menjalin interaksi dengan manusia lain untuk menjalin interaksi sosial. Interaksi antara penutur dan mitra tutur tersebut mengandung makna dan maksud tertentu sesuai dengan konteks yang melatarbelakangi sebuah tuturan.

Fenomena berbahasa tersebut merupakan ranah dari kajian pragmatik.

(34)

Pragmatik secara praktis dapat didefinisikan sebagai studi mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Penutur saat berinteraksi tidak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi bahasa, tetapi juga mempunyai maksud atau tujuan tertentu dari tuturan yang disampaikan kepada mitra tutur. Aturan dalam berkomunikasi dan kajian mengenai maksud yang terkandung dalam suatu tuturan, dikaji dalam disiplin ilmu pragmatik. Leech (2011: 8), mengungkapkan bahwa pragmatik merupakan studi tentang makna yang berhubungan dengan situasi-situasi ujar (speech situations). Makna suatu ujaran yang disampaikan oleh penutur tersebut dipengaruhi oleh situasi-situasi tertentu ketika berkomunikasi. Kajian pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang menekankan pada makna di balik ujaran yang dilontarkan oleh penutur kepada mitra tutur.

Kajian pragmatik juga mempertimbangkan adanya konteks yang melatarbelakangi terjadinya interaksi antara penutur dan mitra tutur.

Rusminto (2015: 59), menjelaskan bahwa pragmatik merupakan kajian bahasa yang berhubungan dengan pemakaian bahasa dalam suatu situasi penggunaan bahasa secara konkret, baik dalam bentuk lisan maupun tulis. Penggunaan bahasa dalam kajian pragmatik sangat memperhatikan konteks secara utuh dan lengkap. Kajian pragmatik mengkaji tentang bentuk bahasa yang muncul dalam peristiwa komunikasi yang merupakan hasil perpaduan antara maksud, pesan, dan makna tuturan dengan situasi atau konteks yang melingkupinya.

(35)

Makna yang terkandung di dalam sebuah ujaran yang diutarakan oleh penutur tidak dapat diartikan secara harfiah, melainkan perlu adanya interpretasi mendalam mengenai ujaran tersebut. Djajasudarma (2012:

48), mengungkapkan bahwa pragmatik mengkaji unsur makna suatu ujaran yang tidak dapat dijelaskan melalui referensi langsung pada pengungkapan suatu ujaran tersebut. Kajian pragmatik mencakup interaksi antara pengetahuan kebahasaan dan dasar pengetahuan tentang dunia yang dimiliki oleh pendengar atau pembaca. Selain itu, studi ini juga melibatkan interpretatif yang mengarah pada studi tentang keseluruhan pengetahuan tentang konteks. Selain menekankan pada aspek makna dalam ujaran, Djajasudarma juga menekankan pada aspek konteks ujaran. Perlu adanya persamaan skemata antara penutur dan mitra tutur agar interaksi antara kedua peserta tuturan bisa berhasil.

Kajian pragmatik merupakan telaah tentang makna ujaran yang diutarakan oleh penutur. Yule (2006: 3-4), menjelaskan pengertian telaah pragmatik dari beberapa ruang lingkup yang berbeda. Menurutnya, pragmatik merupakan studi tentang maksud penutur; pragmatik merupakan studi tentang makna kontekstual; pragmatik merupakan studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan; dan pragmatik merupakan studi tentang ungkapan dari jarak hubungan.

(36)

2. Ruang Lingkup Pragmatik

Pragmatik mempunyai ruang lingkup tersendiri yang menjadi bidang kajiannya. Pragmatik mengkaji bidang-bidang seperti deiksis, praanggapan, implikatur percakapan dan tindak tutur.

a. Deiksis

Deiksis adalah hubungan antara kata yang digunakan di dalam tindak tutur dengan referen kata itu yang tidak tetap atau dapat berubah dan berpindah (Chaer dan Leonie, 2004:57). Deiksis adalah teknis untuk satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan.

Deiksis berati ‘penunjukan’ melalui bahasa (Yule, 2006:13).

Penunjukan atau deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses, atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Djajasudarma, 2012:43).

Kajian linguistik sekarang, kata deiksis dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti persona, kata ganti demonstratif, fungsi waktu, dan berbagai jenis ciri gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran (Purwo, 1990:20). Deiksis sebagai objek kajian pragmatik adalah bentuk-bentuk bahasa yang tidak memiliki acuan yang tetap.

Oleh karena itu, maknanya sangat bergantung pada konteks (Wijana, 2011:38).

(37)

b. Praanggapan

Praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presupposisi adalah penutur, bukan kalimat (Yule, 2006:43). Praanggapan dalam tindak tutur adalah makna atau informasi “tambahan” yang terdapat dalam ujaran yang digunakan secara tersirat (Chaer dan Leonie, 2004:58). Nababan (Sulistyo, 2013:11) mengatakan bahwa praanggapan adalah dasar atau penyimpulan mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu, dan sebaliknya dapat membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan makna yang dimaksud. Dengan kata lain, praanggapan dapat mengganggu menurangi hambatan respons orang terhadap penafsiran suatu tuturan.

Jika suatu kalimat yang diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut disertakan pula tambahan makna dalam kalimat itu, maka itulah yang disebut praanggapan. Menurut Suryono (Rohmadi, 2010: 39) praanggapan merupakan pengetahuan latar belakang yang dapat memuat suatu tindakan atau ungkapan yang mempunyai makna masuk akal dan dapat diterima oleh para partiisipan yang terlibat dalam peristiwa komunikasi. Menurut Bambang (Rahardi, 2005:39), praanggapan

(38)

dapat pula dipakai untuk menggali perbedaan ciri semantis verba yang satu dengan verba yang lain.

Menurut Leech (2011:101), bahwa praanggapan haruslah dianggap sebagai dasar dari kelancaran wacana yang komunikatif. Bila dua orang terlibat dalam suatu percakapan mereka saling mengisi latar belakang pengetahuan yang bukan hanya pengetahuan terhadap situasi pada waktu itu, melainkan pengetahuan terhadap dunia pada umumnya. Begitu percakapan berlanjut, konteksnya pun berlanjut, dalam arti unsur-unsur baru semakin bertambah. Pernyataan ini dari suatu proposisi menjadi praanggapan bagi tuturan selanjutnya.

c. Implikatur

Konsep implikatur pertama kali diperkenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Rani dkk, 2006:170). Yang dimaksud implikatur percakapan adalah adanya keterkaitan antara ujaran-ujaran yang diucapkan antara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Keterkaitan ini tidak nampak secara literal, tetapi hanya dipahami secara tersirat (Chaer dan Leonie, 2004:59). Grice (Wijana dan Rohmadi, 2011:13) kembali menyatakan bahwa yang dimaksud dengan implikatur percakapan adalah tuturan (ujaran) yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang

(39)

sebenarnya diucapkan. Dengan kata lain, sesuatu yang dimaksud oleh penutur berbeda dengan apa yang dikatakan (tersurat).

Implikatur percakapan menurut Nurgiyantoro (2007:314) diartikan sebagai pemahaman terhadap percakapan dalam konteks pragmatik (imlicature, yang sebenarnya merupakan kependen dari conversitional implicature, ‘implikatur percakapan’). Konsep implikatur merupakan hal yang esensial dalam pragmatik.Orang yang mampu memahami implikatur sebuah percakapan hanyalah orang yang menguasai bahasa, kebiasaan, konvensi budaya, dan mengetahui konsep percakapan itu (Nurgiyantoro, 2007:315).

d. Tindak tutur

Ahli pertama yang memperkenalkan istilah dan teori tindak tutur adalah Austin pada 1962. Austin adalah seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori itu berasal dari perkuliahan yang kemudian dibukukan oleh Umson (1965) dengan judul “How to do things with words?” (Putrayasa, 2014: 37). Namun, teori ini baru berkembang dan dikenal dalam dunia linguistik setelah Searle (1969) menerbitkan buku dengan judul “Peect Act, and Essay in the Philosophy of Language”

(Aslinda dan Leni, 2007:33). Searle mengemukakan bahwa, dalam semua interaksi lingual terdapat tindak tutur. Interaksi lingual tidak hanya lambang, kata, atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (the performant of speech act). Secara ringkas dapat dikatakan, bahwa

(40)

tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari interaksi lingual.

3. Hakikat Tindak Tutur (Speech Act) a. Pengertian tindak tutur

Tindak tutur termasuk dalam kajian ilmu pragmatik. Tindak tutur merupakan produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan bentuk terkecil dari komunikasi secara linguistik yang dapat berwujud pernyataan, pertanyaan, perintah atau yang lainnya.

Ujaran dalam suatu komunikasi bukan hanya sekadar berwujud lambang, kata, atau kalimat, tetapi lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau kalimat yang terwujud perilaku tindak tutur (the performance of speech acts).

Seseorang dalam mengungkapkan diri dengan bahasa tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata atau struktur-struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga harus memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan yang diutarakan. Proses berkomunikasi antara penutur dan mitra tutur melibatkan dua gejala berbahasa, yaitu peristiwa tutur dan tindak tutur.

Djajasudarma (2012: 53), menjelaskan bahwa tindak ujar merupakan aksi berupa tindakan dengan menggunakan bahasa. Aksi tersebut sering digunakan untuk menyatakan suatu, seperti memberikan informasi, memerintah, mengajukan permohonan, dan lain sebagainya.

(41)

Aaksi atau tindakan tersebut memanfaatkan bahasa untuk menyampaikan maksud ataupun tujuan penutur.

Konsep tindak tutur merujuk pada kemampuan masing-masing individu dalam menggunakan bahasa. Sulistiyo (2013: 6), menjelaskan bahwa tindak tutur merupakan kemampuan seorang dalam menggunakan bahasa untuk menyampaikan pesan-pesan atau tujuan- tujuan penutur kepada mitra tutur. Pendapat ini mengindikasikan bahwa tindak tutur berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menggunakan bahasa untuk menyampaikan maksud dan tujuan kepada mitra tutur. Dengan demikian, tindak tutur masing- masing individu memiliki perbedaan, bisa berkemampuan tinggi atau berkemampuan rendah.

Tindak tutur merupakan kegiatan seorang penutur dalam menggunakan bahasa untuk menyatakan suatu. Putrayasa (2014: 86), menjelaskan bahwa tindak tutur merupakan kegiatan seseorang untuk menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka untuk mengomunikasikan sesuatu. Makna yang dikomunikasikan kepada mitra tutur tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur. Akan tetapi, makna juga ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara menyeluruh, termasuk aspek situasional komunikasi.

Tindak tutur berkaitan dengan cara seorang pengguna bahasa yang melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu dengan

(42)

memanfaatkan kalimat untuk berkomunikasi sesuai dengan konteks.

Tarigan (2015: 31), mengungkapkan bahwa tindak tutur merupakan telaah bagaimana cara melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kalimat-kalimat dengan menyadari bahwa konteks ucapan atau ungkapan sangatlah berpengaruh.

Teori tentang tindak tutur ini bertujuan untuk mengutarakan pertanyaan, padahal yang dimaksud adalah menyuruh atau mengatakan suatu hal dengan intonasi khusus (sarkastik). Pendapat tersebut juga menjelaskan bahwa dalam penggunaan tindak tutur, seseorang memiliki tujuan untuk mengajukan pertanyaan, padahal sebenarnya orang tersebut memiliki tujuan untuk menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu atau meminta mitratutur untuk mengatakan sesuatu.

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merujuk pada gejala psikologis yang timbul dari dalam diri seseorang berupa tindakan yang memanfaatkan bahasa untuk menyatakan sesuatu kepada mitra tutur. Makna yang dikomunikasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam kegiatan bertutur, tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara komprehensif, termasuk aspek situasional. Tindakan yang memanfaatkan bahasa bergantung pada kemampuan seorang penutur dalam menggunakan bahasa untuk menyampaikan tujuan dan maksud yang diinginkan. Kemampuan

(43)

dalam melakukan tindakan dalam bentuk bahasa tersebut memiliki sifat relatif antara masing-masing individu.

b. Jenis tindak tutur

Tindak tutur merupakan suatu tindakan atau aksi yang memanfaatkan bahasa untuk berkomunikasi. Tindak tutur memiliki beberapa jenis tindakan yang dilakukan oleh penutur dalam mengomunikasikan maksud dan tujuannya kepada mitra tutur. Austin (dalam Leech, 2011: 316), membagi tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh penutur, yaitu tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (ilocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).

Ketiga jenis tindak tutur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, pengertian tindak lokusi secara sederhana dijelaskan oleh Yule (2006: 83), bahwa tindak lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau tindak tuturan yang menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang memiliki makna. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa tutur lokusi merupakan tindak tutur yang menjadi dasar suatu tuturan dan memiliki suatu makna. Tindak lokusi ini hanya sebatas suatu ungkapan lingusitik yang memiliki makna.

Tindak lokusi merupakan tindak tutur yang hanya bertujuan untuk menyatakan sesuatu, sehingga mudah untuk dikenali dan dianalisis. Wijana dan Rohmadi (2011: 21), mengungkapkan bahwa tindak lokusi merupakan tindak tutur untuk menyatakan sesuatu atau disebut dengan the act of saying something. Konsep lokusi berkaitan

(44)

dengan proposisi kalimat. Tuturan berupa kalimat dalam hal ini dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dari dua unsur, yaitu subjek/topik dan predikat/ comment. Tindak tutur jenis ini relatif mudah dalam mengidentifikasinya karena tidak disertai dengan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur.

Dengan demikian, tindak lokusi merupakan jenis tindak tutur yang menjadi dasar suatu tuturan yang memiliki suatu makna. Tindak lokusi hanya bertujuan untuk menyatakan sesuatu, sehingga mudah untuk dikenali karena tidak disertai dengan konteks tuturan. Selain itu, penutur dalam tindak lokusi dalam bertutur tidak bertujuan untuk menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu, serta tidak bertujuan untuk memengaruhi mitra tutur dalam suatu tindak bahasa yang dilontarkan.

Kedua, definisi tindak ilokusi dijelaskan oleh Yule (2006: 84), bahwa tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang membentuk suatu tuturan dengan beberapa fungsi yang terdapat di dalam pikiran. Tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan.

Penekanan yang dimaksud adalah penekanan dalam suatu tuturan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan.

Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dan untuk melakukan sesuatu. Wijana dan Rohmadi (2011: 22), menjelaskan bahwa tindak ilokusi merupakan sebuah tuturan yang dapat digunakan untuk melakukan sesuatu atau

(45)

disebut dengan the act of doing something. Tindak tutur ini susah untuk diidentifikasi karena harus terlebih dahulu mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi. Dengan demikian, tindak ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami suatu tindak tutur. Pendapat tersebut mengindikasikan bahwa tindak ilokusi merupakan bagian sentral dalam memahami suatu tindak tutur karena dalam tindak tutur ini dapat digunakan untuk melakukan sesuatu. Selain itu, tindak tutur ini susah untuk diidentifikasi karena perlu adanya pertimbangan tentang siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi.

Dengan demikian, tindak ilokusi (ilocutionary act) merupakan salah satu jenis tindak tutur yang dapat digunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi dapat membentuk suatu tuturan dengan beberapa fungsi yang ditampilkan melalui suatu penekanan komunikatif. Penekanan yang dimaksud adalah penekanan dalam suatu tuturan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan. Tindak tutur ini memerlukan suatu pertimbangan tentang siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi. Dengan demikian, tindak ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami suatu tindak tutur.

Ketiga, definisi tindak perlokusi dijelaskan oleh Yule (2006: 84), bahwa tindak perlokusi merupakan tuturan yang tidak hanya menciptakan tuturan yang memiliki fungsi saja, melainkan tuturan

(46)

tersebut juga memiliki akibat atau efek. Pendapat tersebut mengindikasikan bahwa tindak perlokusi merupakan tindak tutur yang tidak hanya sebatas tuturan yang memiliki fungsi tertentu seperti halnya ilokusi, melainkan tindak tutur ini juga memiliki efek atau akibat yang ditimbulkan setelah tuturan tersebut disampaikan.

Tindak perlokusi merupakan tindak tutur yang bertujuan untuk memengaruhi lawan tuturnya agar melakukan sesuatu yang diharapkan oleh penutur. Wijana dan Rohmadi (2011: 22), menjelaskan bahwa tindak perlokusi merupakan tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk memengaruhi lawan tutur atau disebut dengan the act of affecting someone. Tindak tutur ini melihat bahwa tuturan yang diutarakan oleh penutur seringkali mempunyai daya pengaruh atau memiliki efek bagi yang mendengarkannya agar melakukan sesuatu yang diharapkan oleh penutur.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dijelaskan di atas, dapat ditarik simpulan bahwa tindak perlokusi merupakan suatu tindak bahasa,baik yang berupa lisan maupun tulisan yang dimaksudkan untuk memengaruhi dan memberikan efek tertentu bagi mitra tutur, dalam hal ini bisa pendengar ataupun pembaca. Tindak tutur ini melihat bahwa tuturan yang diutarakan oleh penutur seringkali mempunyai daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarkannya agar melakukan sesuatu yang diharapkan oleh penutur.

(47)

4. Interaksi dalam Proses Belajar Mengajar

Menurut Elly M danKolip (2011: 62), interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Berdasarkan pengertian diatas interaksi dapat terjadi jika pihak yang terlibat saling memberikan aksi dan reaksi.

Interaksi yang berlangsung di sekitar kehidupan manusia dapat diubah menjadi “interaksi yang bernilai edukatif”, yakni interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai interaksi edukatif (Syaiful. B dan Aswan Z, 2010: 11).

Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bernakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antar guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan (Syaiful. B, 2010: 11).

Proses belajar mengajar merupakan kegiatan interaksi antara gurusiswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar. Perlu lebih dipahami bahwa interaksi dalam proses belajar mengajar tidak sekedar hubungan komunikasi antara siswa dengan guru tetapi merupakan interaksi edukatif

(48)

yang tidak hanya menyampaikan materi pelajaran melainkan juga menanamkan sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar (Nuryani R, 2005: 5).

Menurut Soetomo (1993: 11-12), dalam interaksi belajar-mengajar ada beberapa komponen yang harus dipenuhi yaitu:

a. Tujuan interaksi belajar-mengajar yang diharapkan.

b. Bahan (pesan) yang akan disampaikan pada anak didik.

c. Pendidik dan si anak didik.

d. Alat/sarana yang digunakan untuk menunjang tercapainya tujuan.

e. Metode yang digunakan untuk menyapaikan bahan (materi).

f. Situasi lingkunga untuk menyampaikan bahan agar tercapainya tujuan.

Berdasarkan beberapa komponen dan kompetensi diatas maka jelas bahwa untuk melaksanakan interaksi belajar-mengajar, seorang guru tidak hanya semata-mata membutuhkan kepandaian atau keahlian dibidang materi yang diajarkan saja, namun guru masih dituntut dengan beberapa kemampuan misalnya mengetahui karakteristik siswa dan memilih metode yang tepat untuk menyampaikan materi.

5. Interaksi Kelas

Interaksi di dalam kelas menunjukkan semua perilaku siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung yang terdiri dari memberi dan menerima ide atau informasi, berbagi perasaan dan pengalaman, sosialisasi, serta tindakan guru ketika siswa melakukan kesalahan.

(49)

Menurut Chaudron (1993: 131-136), ada banyak aktivitas yang terjadi antara siswa dan guru selama berinteraksi di dalam kelas, yaitu:

a. Pergantian komunikasi

Selama di dalam kelas, guru dan siswa sering bergantian dalam berbicara, ini berarti antara siswa dan guru ada pergantian komunikasi.

Jika siswa banyak berbicara, maka siswa cenderung aktif.

b. Tanya jawab

Pertanyaan guru bisa menjadi fasilitator siswa dalam memproduksi materi pengajaran. Sementara itu respon siswa bisa dipandang sebagai usaha yang efektif untuk terus belajar.

c. Menanyakan Maksud

Situasi pada saat siswa tidak memahami maksud dari materi yang diberikan, mereka bisa saling bertanya dengan pemeriksaan komprehensif, konfirmasi serta klarifikasi.

d. Timbal Balik

Ini digunakan untuk menilai pemahaman siswa. Di sisi lain, juga digunakan untuk mengoreksi kesalahan.

Secara umum, belajar dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori (Sardiman 1992: 24). Dalam hal ini terkandung suatu maksud bahwa proses interaksi itu adalah: (1) proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri seseorang yang sedang belajar, (2) dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera.

(50)

Chaudron (1993:10) juga menyatakan bahwa interaksi penting untuk mengetahui apakah:

a. Hanya dengan interaksi siswa bisa belajar,

b. Interaksi memungkinkan siswa untuk menggunakan struktur bahasa sasaran ke dalam ujaran mereka,

c. Makna interaksi dianggap interaktif atau tidak, tergantung gaya komunikasi yang terjalin antara guru dan siswa.

Chaudron (1993: 10) mengemukakan bahwa interaksi antara siswa dan guru pada proses pembelajaran bersifat fundamental. Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa interaksi di dalam kelas bersifat fundamental, karena proses pembelajaran tidak akan sempurna tanpa adanya seorang guru. Melalui interaksi, pesan dapat disampaikan dengan baik serta dapat menciptakan hubungan yang baik antara siswa dengan guru, sehingga prestasi siswa dapat meningkat. Dengan kata lain, interaksi memberi kesempatan siswa untuk memiliki kesempatan lebih dalam memahami pelajaran. Siswa bisa menerapkan input mereka ketika tidak memahami materi yang diberikan dengan cara bertanya.

6. Metode Analisis Interaksi Kelas Flander

Metode kajian interkasi kelas melalui tindak tutur dicetuskan oleh Flander. Flander mengembangkan metode analisis interaksi kelas pada tahun 1970-an. Metodenya dikenal dengan nama Flander’s Interactional Analysis Categories (FIAC). Flander berargumen bahwa mengajar yang efektif tergantung pada seberapa besar guru mampu mempengaruhi

(51)

perilaku siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung (Arief, 2015:

61).

Ada sepuluh kategori dalam Flander’s Interaction Analysis Categories (FIAC). Tujuh kategori digunakan untuk mengkategorisasi berbagai aspek dari apa yang disampaikan oleh guru, dua kategori digunakan untuk mengkategorisasi apa yang disampaikan siswa, dan kategori terakhir digunakan ketika kelas menjadi sunyi atau ada kebingungan (Arief, 2015: 61).

Apa yang disampaikan guru dibagi ke dalam dua kategori utama.

Empat kategori pertama disebut omongan tidak langsung karena guru kurang mendominasi sehingga proporsi bicara siswa meningkat serta memancing partisipasi siswa. Keempat kategori tersebut dijelaskan sebagai berikut.

a. Rasa menerima (Kategori 1)

Mengungkapkan perasaan tanpa tekanan. Perasaan bisa positif ataupun negatif. Prediksi bisa berupa pujian atau pancingan.

Contoh:

Guru : Bagaimana kabarnya hari ini?

Siswa : Baik bu, kalau Ibu?

Guru : Baik juga.

Berdasarkan contoh dialog antara guru dan siswa atas, ketika guru mengatakan “baik juga”, itu berarti bahwa guru menerima dan mengklarifikasi perasaan siswa.

(52)

b. Pujian / pemicu (Kategori 2)

Memuji atau memicu tindakan siswa. Gurauan yang tidak menyinggung, menganggukkan kepala atau berkata “um... hum...” atau

“terus”.

Contoh:

Guru : Puisi ini ada berapa baris?

Siswa : Lima.

Guru : Bagus.

Di sini, guru memuji siswa dengan mengatakan “bagus” karena bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Ini juga bisa memicu siswa untuk menjawab pertanyaan lain dengan benar pula.

c. Menerima dan menggunakan ide siswa (Kategori 3)

Kategori ini guru berusaha untuk menerima, mengklarifikasi, membangun, atau mengembangkan ide siswa.

Contoh:

Guru : Kalau kita membaca puisi itu tidak boleh apa?

Siswa : Tidak boleh malu..

Guru : Iya, kamu kalau membaca puisi harus menghilangkan rasa malu.

Pertanyaan pertama diajukan untuk membantu siswa mengembangkan ide mereka. Guru menggunakan pertanyaaan “Iya, kamu kalau membaca puisi harus menghilangkan rasa malu” dan menggunakan ide siswa sebagai bahan pembicaraan lebih lanjut.

(53)

d. Bertanya (Kategori 4)

Menanyakan sesuatu yang memancing siswa agar mau menjawab.

Contoh:

Guru : Puisi ini bercerita soal apa?

Siswa : Tentang cita-citaku setinggi langit bu....

Guru mengajukan pertanyaan ini untuk memancing siswa mengekspresikan opininya dalam menjawab pertanyaan.

Tiga kategori terakhir mungkin menghambat partisipasi siswa.

Disebut dengan pengaruh langsung karena guru lebih dominan di kelas.

Kategori tersebut adalah a. Mengajar (Kategori 5)

Memberi fakta atau opini tentang sesuatu seperti mengekspresikan ide dan memberi siswa pertanyaan retorik.

Pertanyaan retorik adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Pertanyaan retorik digunakan guru untuk memberikan pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan materi kepada siswa.

Contoh:

Guru : Bahasa puisi itu bagaimana?

Siswa : Indah bu....

Guru : Bagus. Jadi, kalian ingat ya, puisi itu indah dan bersifat menghibur.

(54)

b. Mengarahkan (Kategori 6)

Arahan, komentar atau perintah yang harus ditaati siswa.

Contoh:

Guru : Baiklah, sekarang kalian menirukan gaya Bu guru membaca puisi. Kalian siap?

Siswa : Siap, bu.

Kalimat ini mengandung instruksi kepada siswa tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya. Arahan ini bisa verbal dan non- verbal.

c. Hak mengkritik/ memberi alasan (Kategori 7)

Pernyataan yang mengubah perilaku yang tidak bisa diterima menjadi bisa diterima, misalnya membenarkan atau menyalahkan pendapat siswa dengan memberikan referensi.

Contoh:

Guru : Pada saat membaca puisi, kalau liriknya itu marah, nada suara kita harus?

Siswa : Rendah.

Guru : Kalau kamu sedang marah itu nada bicaranya tinggi apa rendah?

Siswa : Tinggi Bu...

Ini merupakan pertanyaan yang bertujuan mengubah jawaban siswa yang salah. Kesalahan siswa bisa diperbaiki melalui kritikan.

Dua kategori yang didominasi siswa adalah:

(55)

d. Respon siswa (Kategori 8)

Siswa memberikan respon kepada guru, seperti misalnya menjawab pertanyaan guru. Kemudian guru mengajukan konteks atau mengumpulkan ide siswa.

Contoh:

Guru : Kemudian kalau puisi bertema kesedihan itu dibaca seperti orang yang perasaannya sedang apa?

Siswa : dibaca seperti orang yang sedang sedih bu...

Jawaban tersebut sudah diprediksi oleh guru, karena ini merupakan respon dari pelajaran yang diberikan.

e. Inisiatif siswa bicara (Kategori 9)

Siswa berinisiatif memulai pembicaraan. Responnya tidak bisa ditebak.

Contoh:

Siswa : Bu, kalau puisinya sedih bacanya sambil nangis boleh tidak?

Guru : O... ya boleh saja, itu malah bagus.

Terkadang siswa merasa penasaran dengan pelajaran yang diajarkan. Ini akan membuat siswa mengatakan sesuatu di luar prediksi guru. Kategori terakhir yaitu:

f. Diam/ramai (Kategori 10)

Kategori ini tidak termasuk ke dalam kategori siswa berbicara atau guru berbicara, melainkan kategori tersendiri.siswa diam atau ramai, mengabaikan pelajaran, bermain atau ngobrol dengan teman.

(56)

Contoh: Siswa diam atau ramai, mengabaikan pelajaran, bermain atau ngobrol dengan teman.

Berdasarkan sepuluh katagori interaksi kelas tersebut, Flander (dalam Arief, 2015: 64)selanjutnya merumuskan delapan formula untuk menentukan pola interaksi kelas yang terbentuk atau yang dapat diketahui ketika sepuluh katagori tersebut telah diketahui yaitu intensitas guru bicara (GB), siswa bicara (SB), kesunyian (K), rasio respon guru (RRG), rasio respon langsung guru (RRLG), rasio inistif siswa (RIS), rasio pergantian konten (RPK), serta rasio siswa tetap (RST).

Flanders (dalam Arief, 2015: 67) menjelaskan bahwa intensitas guru bicara (GB) merupakan pola interaksi yang menunjukkan intensitas atau persentase banyaknya waktu atau peluang yang digunakan oleh guru untuk berbicara selama PBM berlangsung.Siswa bicara (SB) merupakan pola interaksi yang menunjukkan intensitas atau persentase banyaknya waktu atau peluang yang digunakan oleh siswa untuk berbicara selama PBM berlangsung.Kesunyian (K) merupakan pola interaksi yang menunjukkan intensitas atau persentase kesenyapan (tidak ada interaksi) dari pelaku interaksi yang terlibat (guru dan siswa).Rasio respon guru (RRG) merupakan indeks kecenderungan guru dalam bereaksi menanggapi ide dan perasaan siswa.Rasio respon langsung guru (RRLG) merupakan kecenderungan guru untuk merespon ide dan perasaan siswa ke dalam diskusi kelas ketika siswa tersebut selesai berbicara.Rasio inistif siswa (RIS) merupakan proporsi kecenderungan inisiatif dari siswa untuk

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Tabel 4.1 Matriks Interaksi Kelas Pengamatan Pertama
Tabel 4.2Hasil Analisis Matriks Pengamatan Pertama
Gambar 4.1 Diagram Hasil Analisis Matriks Pengamatan Pertama
+7

Referensi

Dokumen terkait

Handayani, Erna Dwi. Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Siswa Kelas V dengan Menggunakan Video Pembelajaran di SD Negeri 03 Ngadirgo Mijen Semarang. Jurusan Pendidikan

Alasan penelitian ini menarik untuk diteliti karena banyak ditemukan tindak tutur ilokusi ekspresif yang terdapat pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD

(2) Faktor-faktor apa saja yang menghambat guru dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia materi membaca puisi pada siswa berkebutuhan khusus kelas V di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi interaksi pedagogik antara guru dan siswa di kelas 4 SD Muhammadiyah Tasikmalaya. Penelitian ini

Pertama bentuk dan fungsi tindak tutur direktif guru ke siswa dalam interaksi pembelajaran bahasa Indonesia kelas XI IPA 2 SMA Negeri 22 Makassar, 1) Bentuk

Dengan masalah yang sudah diuraikan tersebut, maka guru harus menindaklanjuti dengan cara mencari dan mengembangkan strategi, metode maupun media yang akan

234 Dalam menerapkan pembelajaran membaca permulaan pada mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas I SD Inpres 1 Kamarora dengan menggunakan media

Bentuk Tindak Tutur lokusi Guru Dan Siswa Dalam Interaksi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII SMPN 1 Banjarsari Tindak tutur lokusi adalah tindak dasar tuturan atau