SYARAT-SYARAT MALPRAKTIK MEDIS YANG DILAKUKAN DOKTER A. Hubungan Pasien Dengan Dokter
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian malpraktik
Berdasarkan penelusuran kami pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata tidak terdapat kata malpraktik dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi hal yang Anda maksud bisa memiliki makna apabila kata “mala” digabung dengan kata “praktik” sehingga bermakna celaka yang diakibatkan dalam pelaksanaan pekerjaan (dokter, pengacara, dsb).Hal serupa diutarakan oleh J.Guwandi dengan mengutip Black’s Law Dictionary, mengatakan bahwa:8
“Malpraktek adalah, setiap sikap tindak yang salah, kekurangan keterampilan dalam ukuran tingkat yang tidak wajar. Istilah ini umumnya dipergunakan terhadap sikap tindak dari para dokter, pengacara dan akuntan. Kegagalan untuk memberikan pelayanan profesional dan melakukan pada ukuran tingkat keterampilan dan kepandaian yang wajar di dalam masyarakatnya oleh teman sejawat rata-rata dari profesi itu, sehingga mengakibatkan luka, kehilangan atau kerugian pada penerima pelayanan tersebut yang cenderung menaruh kepercayaan terhadap mereka itu. Termasuk di dalamnya setiap sikap tindak profesional yang salah, kekurangan
8
keterampilan yang tidak wajar atau kurang kehati-hatian atau kewajiban hukum, praktek buruk atau ilegal atau sikap immoral.”
Apapun definisi malpraktek medik pada intinya mengandung salah satu unsur berikut: 1. Dokter kurang menguasai ilmu pengetahuan kedokteran dan keterampilan yag sudah
berlaku umum dikalangan profesi kedokteran.
2. Dokter memberikan pelayanan medik dibawah standar (tidak lege artis)
3. Dokter melakukan kelalaian berat atau kurang hati-hati, yang dapat mencakup : a. Tidak melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau
b. Melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan. c. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum
Dalam praktiknya banyak sekali hal hal yang dapat diajukan sebagai malpraktik, seperti salah diagnosis atau terlambat diagnosis karena kurang lengkapnya pemeriksaan, pemberian terapi yang sudah ketinggalan zaman, kesalahn teknis waktu melakukan pembedahan, salah dosis obat, salah metode atau pengobatan, perawatan tidak tepat, kelalaian dalam pemantauan pasien, kegagaan komunikasi, dan kegagalan peralatan. Walaupun Undang-Undang Nomor 6 tahun 1963 Tentang Tenaga Kesehatan sudah dicabut oleh Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan, namun perumusan malpraktik/kelalaian medik yang tercantum pada pasal 11b masih dipergunakan, yaitu: Dengan tidak mengurangi ketentuan di dalam KUHP dan peraturan perundang-undangan yang lain, terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan administratif dalam hal sebagai berikut:
a. Melalaikan kewajiban
b. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan baik mengingat sumpah jabatannya, maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan.
Dari 2 butir tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pada butir (a) melalaikan kewajiban, yang berarti tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sedangkan pada butir (b) berarti melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan jika kelalaian tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang tidak menerimanya. Ini bedasarkan prinsip hukukm “De minimis noncurat lex” yang berarti hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Akan tetapi , jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, klasifikasikan sebagai kealaian berat (culpa lata), serius dan kriminil. Tolak ukur culpa lata adalah : 1. Bertentangan dengan hukum, 2. Akibatnya dapat dibayangkan, 3. Akibatnya dapat dihindarkan, 4. Perbuatannya dapat dipersalahkan.9
Jadi malpraktik medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di bawah standar. Malpraktik medik murni (criminial malpracitice) sebenarnya tidak banyak dijumpai. Misalnya melakukan pembedahan dengan niat membunuh pasiennya atau adanya dokter yang sengaja melakukan pembedahan pasiennya tanpa indikasi medik, (appendektomi,
histerektomi, dan sebagainya), yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, jadi semata-mata
untuk mengeruk keuntungan pribadi. Memang masyarakat yang menjadi materialistis, hedonistis, dan konsumtif, kalangan dokter trurt berimas, malpraktik seperti di atas dapat meluas. Pasien/keluarga menaruh kepercayaan kepada dokter, karena :10
9
Fred Ameln, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya, Jakarta, 1991, hal. 84 10
Hendrojono Soewono, Malprakter Dokter, Srikandi, Surabaya, 2007, hal. 8
1. Dokter mempunyai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menyembuhkan penyakit atau setidak-tidaknya meringankan penderitaan
3. Dokter akan bertindak bedasarkan standar profesinya
2. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana
Dalam bahasa asing pertanggungjawaban pidana disebut sebagai
‟toerekenbaarheid”, “criminal responbility”, “criminal liability” merujuk kepada
pemidanaan pelaku dengan maksud untuk menentukan apakah seseorang terdawa atau tersangka dipertanggungjawabakan atas suatu tindak pidana yang terjadi atau tidak. Pertanggungjawaban itu sendiri adalah diteruskannya celaan yang obyektif yang ada pada tindak pidana dan untuk dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya haruslah memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam undang-undang. Seseorang akan dipertanggungjawabkan atas tindakan tersebut apabila dalam tindakan itu terdapatnya melawan hukum serta tidak ada alasan pemaaf.
Pertanggungjawaban pidana adalah kesalahan yang terdapat pada jiwa pelaku dalam hubungannya dengan kelakuan yang dapat dipidana. Berdasarkan kejiwaan itu pelaku dapat dicela karena kelakuannya. Kesalahan ditempatkan sebagai faktor yang menentukan dalam pertanggungjawaban pidana dan tidak hanya dipandang sekedar unsur mental dalam tindak pidana.11
Menurut Roeslan Saleh,dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk hal pertanggungjawaban. Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarangnya perbuatan. Apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga dipidana, tergantung pada soal apakah dia dalam melakukan perbuatan itu memang mempunyai kesalahan atau tidak. Apabila orang yang melakukan perbuatan pidana itu memang mempunyai kesalahan, maka Konsep pertanggungjawaban pidana merupakan syarat yang diperlukan untuk mengenakan pidana terhadap seseorang pembuat tindak pidana.
11
tentu dia akan dipidana”.Di dalam pasal-pasal KUHP, unsur-unsur delik dan unsur pertanggungjawaban pidana bercampur aduk dalam buku II dan III, sehingga dalam membedakannya dibutuhkan seorang ahli yang menentukan unsur keduanya. Menurut pembuat KUHP syarat pemidanaan disamakan dengan delik, oleh karena itu dalam pemuatan unsur-unsur delik dalam penuntutan haruslah dapat dibuktikan juga dalam persidangan.12
Pertanggungjawaban pidana menjurus kepada pemidanaan pelaku, jika telah melakukan suatu tindak pidana dan memenuhi unsur-unsurnya yang telah ditentukan dalam undang-undang. Dilihat dari sudut terjadi suatu tindakan yang terlarang (diharuskan), seseorang akan dipertanggungjawabpidanakan atas perbuatan tersebut apabila perbuatan tersebut bersifat melawan hukum. Dalam pertanggungjawaban pidana tersebut tersangka ini harus mempertanggungjawabkan perbuatan pidananya di hadapan polisi ataupun di hadapan hakim, kesalahan kesalahan yang dibuat pelaku tersebut tentu perbuatan yang tercela dan dapat merugikan diri sendiri ataupun orang sekitarnya termasuk keluarganya sendiri, pertanggungjawaban ini harus diadili oleh hakim yang bersangkutan apakah yang dilakukannya tentu hal hal yang tercela dan merugikan orang lain ataupun orang orang terdekat, dalam pertanggungjawaban pidana tersebut harus memenuhi unsur-unsur yang telah dilakukan dan dilihat apa yang dilakukan oleh terdakwa selama dia melakukan perbuatan yang tercela. Orang-orang yang telah melakukan perbuatan pidan memang harus diminta pertanggungjawaban pidananya di hadapan hakim dan jika telah melakukan suatu tindak pidana maka dipenuhi lah dengan unsur-unsurnya yang telah ditentukan dalam undang-undang. seseorang akan dipertanggungjawab-pidanakan atas tindakan-tindakan tersebut apabila tindakan tersebut bersifat melawan hukum (dan tidak ada peniadaan sifat melawan
12
Roeslan Saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 98
hukum atau rechtsvaardigingsgrond atau alasan pembenar) untuk itu. Dilihat dari sudut kemampuan bertanggungjawab, maka hanya pelaku yang yang “mampu bertanggung-jawab yang dapat dipertanggung-jawabkan.