BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Tinjauan Pendekatan Rancangan
Pendekatan dari Perancangan Balai Pelatihan Peternakan Ayam Petelur ini menggunakan pendekatan Metafora. Berikut penjelasan lebih rinci dari pendekatan tersebut.
2.4.1 Sejarah awal kemunculan metafora.
Aliran-aliran Arsitektur Post-Modern dibedakan berdasarkan konsep perancangan dan reaksi terhadap lingkungannya. Didalam evolutionary tree-nya Charles Jenks menjelaskan aliran-aliran ini sudah mulai sejak tahun 1960-an dan mengelompokkan Arsitektur Post-modern menjadi 6 (enam) aliran, yaitu:
1. Historicism
2. Straight Revivalism 3. Neo-Vernacularism
4. Contextualism (Urbanist + Ad Hoc) 5. Metaphor dan Metaphisical
6. Post-Modern Space
Kemudian pada awal tahun 1970 muncul ide untuk mengkaitkan arsitektur dengan bahasa, menurut Charles Jenks dalam bukunya „The Language of Post Modern‟ arsitektur dikaitkan dengan gaya bahasa yaitu dengan cara metafora. (www.calonarsitek.wordpress.com/2008/10/22/metafora-definisi-dalam- arsitektur).
2.4.2 Definisi Metafora
2.4.2.1 Definisi Umum Metafora
Metafora berasal dari bahasa latin yaitu “Methapherein” yang terdiri dari 2 buah
kata yaitu “metha” yang berarti: setelah, melewati dan “pherein” yang berarti: membawa. Secara etimologis diartikan sebagai pemakaian kata-kata bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan dan perbandingan. (www.calonarsitek.wordpress.com/2008/10/22/metafora-definisi-dalam- arsitektur).
2.4.2.2 Definisi metafora Menurut beberapa Tokoh
Menurut Robert Ventury Metafora merupakan sesuatu bahasa yang menimbulkan persepsi yang semestinya merupakan tanda secara arsitektural dari suatu bangunan secara komunikasi. (www.calonarsitek.wordpress.com/2008/10/22/metafora-definisi-dalam- arsitektur).
James C. Snyder, dan Anthony J. Cattanese dalam “Introduction of Architecture”
menjelaskan Metafora merupkan pola-pola yang mungkin terjadi dari hubungan-hubungan paralel dengan melihat keabstrakannya, berbeda dengan analogi yang
melihat secara literal. (www.calonarsitek.wordpress.com/2008/10/22/metafora-definisi-dalam- arsitektur).
Sedangkan Anthony C. Antoniades, 1990 dalam ”Poethic of Architecture” Metafora adalah Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik dalam pembahasan dan menerangkan suatu subyek dengan subyek lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain. Kemudian Anthony C. Antoniades membagi Metafora menjadi 3 Kategori, yaitu:
1. Metafora Intangibel
Metafora Intangible adalah Metafora yang tidak diraba yang termasuk dalam
kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide (Individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya).
2. Metafora Tangible
Metafora Tangible adalah Metafora yang dapat diraba dan dapat dirasakan dari
suatu karakter visual atau material, yaitu sebuah arsitektur menampilkan sifat fisik dari sesuatu yang lain.
3. Metafora Kombinasi
Sementara Metafora Kombinasi merupakan gabungan antara Metafora Intangible dan Metafora Tangible. Sehingga dalam proses merancang sebuah bangunan selain menampilkan sifat fisik dari subyek lain, juga menerapkan sifat non fisiknya
.
(www.calonarsitek.wordpress.com/2008/10/22/metafora-definisi-dalam- arsitektur).2.4.3 Pemilihan Pendekatan
Dari pemaparan diatas penulis memilih Metafora Kombinasi sebagai ide pokok pikiran untuk penyelesaian masalah yang di temui dalam proses Perancangan Balai
Pelatihan Peternakan Ayam Petelur dan juga untuk membatasi dan menyederhanakan
konsep yang akan dituang dalam desain. Dari objek nya yang berupa pusat pembelajaran peternakan ayam petelur, kemudian penulis berusaha menyederhanakan konsep dan mentransfer komponen, sifat-sifat, dan bentuk dari telur menggunakan menggunakan teori dari Metafora Kombinasi. Berikut penjelasan lebih rinci dari definisi, struktur, dan sifat-sifat dari telur.
2.4.3.1 Karakter Fisik Telur Ayam
Gambar 2.4.1 Karakter Fisik Telur ayam ras petelur Sumber: Analisis Pribadi, 2017
Menurut Sarwono (1995), telur ayam ras memiliki fisik terdiri dari 10% kerabang (kulit telur, cangkang), 60% putih telur dan 30% kuning telur.
Akan tetapi Suprapti (2002) mengatakan bahwa secara umum telur terbagi atas tiga komponen pokok, yaitu kulit telur atau cangkang (11% dari bobot tubuh), putih telur (57% dari bobot tubuh) dan kuning telur (32% dari bobot tubuh).
Telur pada dasarnya adalah bakal calon individu baru yang dihasilkan dari individu betina. Bila terjadi pembuahan maka telur akan berkembang menjadi embrio dan selanjutnya terbentuk individu baru setelah lahir atau menetas. Istilah telur merujuk pada sel telur yang berkembang pada saluran reproduksi aves betina. Karena komposisi telur merupakan zat nutrisi yang edibel maka selanjutnya telur diproduksi untuk konsumsi manusia (Sarwono, 1995).
Gambar 2.4.2 Komponen Dalam Telur Sumber: Gisslen, Professional Baking 4th Edition
Menurut Paula Figoni (2008), telur memiliki beberapa komponen didalamnya, yaitu: 1. Putih telur
Nama lain dari putih telur adalah albumen telur. Putih telur terdiri sepenuhnya oleh protein dan air, memiliki rasa (flavor) dan warna yang sangat rendah.
2. Kuning telur (Yolk)
Kuning telur setengahnya mengandung uap basah (moisture) dan setengahnya adalah kuning padat (yolk solid). Semakin bertambah umur telur, kuning telur akan mengambil uap basah dari putih telur yang mengakibatkan kuning telur semakin menipis.
3. Kulit telur (Shell)
Kulit telur memiliki berat sekitar 11% dari jumlah total berat telur. Meskipun terlihat keras dan menutupi isi telur, kulit telur itu berpori (porous). Sehingga telur tidak bisa diperlakukan secara sembarangan karena beberapa hal, yaitu:
• Kulit telur tidak sekuat dan seliat kulit buah-buahan • Kulit telur tipis dan rigit sehingga mudah retak dan pecah
• Kulit telur memiliki pori-pori sehingga mudah terjadi pertukaran udara dan ini mem-butuhkan kondisi penyimpanan dengan kelembaban dan temperatur tertentu
• Bentuk telur yang tidak seragam sehingga menyulitkan dalam sistem penanganan mekanis secara terus menerus
Warna kulit telur dipengaruhi dari perkambangan warna bulu ayam, ayam dengan bulu putih dan cuping putih menghasilkan telur dengan kulit putih, tetapi ayam dengan bulu berwarna merah dan cuping merah menghasilkan telur dengan kulit cokelat.
4. Rongga udara (Air Cell)
Telur memiliki dua selaput pelindung diantara kulit telur dan putih telur. Sesudah telur diletakkan, rongga udara terbentuk diantara selaput telur. Semakin telur bertambah tua, kehilangan uap basah (moisture), & menyusut maka rongga udara akan semakin membesar yang mengakibatkan telur yang sudah lama akan melayang apabila diletakkan ke dalam air.
5. Chalazae
Chalazae adalah tali dari putih telur yang mempertahankan kuning telur agar tetap
ditengah–tengah telur.
2.4.4 Penerapan Prinsip Pendekatan Metafora
Berdasarkan pembagian kategori metafora menurut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam ”Poethic of Architecture”, yaitu Metafora Intangible, Metafora Tangible, dan
Metafora Kombinasi. Berikut pemaparan dari prinsip dan penerapannya metafora kombinasi:
Tabel 2.4.1 prinsip dan penerapan pendekatan Metafora pada aspek arsitektural
Telur Metafora Intangible Metafora Tangible
Gambar 2.4.2 Komponen Dalam
Telur Gambar 2.4.2 Komponen
Sumber: Gisslen, Professional Dalam Telur
Gambar 2.4.1 Telur ayam ras petelur Baking 4th Edition Sumber: Gisslen, Professional
Sumber: Analisis Pribadi Pertumbuhan individu sebuah Baking 4th Edition
kehidupan selalu dimulai dari Telur selalu memiliki strutur
dalam keluar. seperti halnya komponen yang sama
yang terjadi pada telur, bentuk komposisi nya. Cangkang
terluarnya tidak akan telur yang cenderung
mengalami perubahan. Namun memiliki tekstur yang
didalamnya mengalami sederhana dan rentan tetapi
hingga titik akhir
perkembangannya membuat
telur itu pecah. Filosofi Pecah: 1. Pecah
Tetap terlihat bentuk asli tapi pecah dan menjadi serpihan.
Penerapan untuk bukaan,
fasad, elemen detail. 2. Menyebar
Ada sebuah inti titik sebab
akibat. Penerapan untuk
komposisi site, tata masa, organisasi ruang. 3. Menyampur
Awal memiliki komposisi yang
jelas kemudian menyatu
menjadi satu kesatuan tetap memiliki sifat awal. Penerapan untuk bentukan masa.
pembungkus, pelindung putih telur dan kuning telur. Cangkang telur juga memiliki pori-pori sehingga suhu udara dari luar tetap bisa masuk kedalam telur.
Pola tatanan massa:
• Putih telur sebagai fasilitas sekunder. • Kuningtelur(Yolk) penerapannya sebagai fasilitas primer. • Kulittelur(Shell) penerapannya sebagai ornamen fasad.
• Rongga udara (Air Cell) penerapannya sebagai lahan terbuka hijau.
•
Chalazae (tali dari putihtelur) penerapan nya sebagai penghubung dari fasilitas sekunder menuju fasilitas primer.
Fasad bangunan:
• Sifat dari kulit telur yang diterapkan dalam pemilihan material tunggal
• Pori-pori dari telur ayam ras petelur diterapkan ke objek rancangan sebagai bukaan keluar masuknya udara dalam massa bangunan.
Sumber: Analisis Pribadi, 2017