Genus Lactuca L. berasal dari famili Asteraceae (Compositae), merupakan yang terbesar dari keluarga dikotil (Judd et al., 1999). Tanaman yang berasal dari Lembah Mediterania ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu selada telur atau kropsla var. capitata, selada umbi var. longifolia, selada daun atau keriting var. crispa L., dan selada asparagus var. asparagina Bailey (Ashari, 2006).
Selada telur atau kropsla var. capitata merupakan jenis selada yang paling banyak dibudidayakan orang, dimana tanaman ini membentuk krop yang sangat padat. Selada umbi var. longifolia memiliki daun yang berbentuk silindris, lonjong atau bulat telur, batangnya roset, tumbuh tegak, dan teksturnya kasar. Jenis selada ini pada umumnya melipat daunnya yang berbentuk jantung. Selada daun atau keriting var. crispa L. memiliki tekstur daun yang sama dengan var. capitata, tetapi kurang membentuk krop dan umumnya daunnya keriting. Selada asparagus var. asparagina Bailey memiliki tekstur daun yang kasar dan bagian yang biasanya dikonsumsi adalah tangkai daunnya. Jenis selada ini banyak ditanam di Cina (Ashari, 2006).
Tanaman Selada dapat tumbuh di segala musim baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, akan tetapi lebih baik bila dibudidayakan di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 1 500 m di atas permukaan laut (Ashari, 2006). Suhu udara optimum yang dibutuhkan selada adalah 20 °C pada siang hari dan 10 °C pada malam hari. Suhu yang lebih dari 30 °C biasanya menghambat pertumbuhan, merangsang tumbuhnya tangkai bunga (bolting) dan menyebabkan rasa pahit. Suhu juga mempengaruhi kematangan tanaman dan masa panen. Pemanenan dapat dilakukan paling cepat setelah tanaman berumur 60 hari pada cuaca panas (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
Tanaman selada dapat ditanam pada media tanah dengan kisaran pH 6.5 – 7. Selada dapat tumbuh baik pada tanah yang remah, subur, mengandung banyak bahan organik dan berdrainase baik. Selada membutuhkan air dalam jumlah yang cukup banyak, terutama pada masa vegetatif, yang harus diberikan setiap hari
melalui penyiraman berkala. Sebagian varietas selada ada yang tidak tahan cuaca panas, tetapi ada juga yang mampu mengatasi keadaan ini seperti varietas selada daun (Ashari, 2006).
Intensitas cahaya tinggi dan hari panjang dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan mempercepat perkembangan luas daun sehingga daun menjadi lebih lebar. Namun, pada hari panjang, beberapa kultivar selada terinduksi untuk membentuk tangkai bunga. Hal ini cenderung karena terpacu oleh suhu tinggi (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
Pemupukan
Tanaman membutuhkan unsur hara atau nutrisi selama pertumbuhannya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pemberian atau penambahan unsur hara kepada tanaman dapat dilakukan melalui pemupukan. Pupuk adalah suatu zat yang ditambahkan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman untuk menyediakan unsur-unsur kimia untuk pertumbuhan tanaman. Pemupukan tanaman merupakan kegiatan yang perlu dilakukan karena saat ini pencucian yang mengakibatkan menurunnya jumlah unsur hara dalam tanah semakin meningkat (Samekto, 2008).
Unsur hara dari tanah pertanian hilang dalam jumlah yang cukup besar, seperti panen padi sebanyak 4 000 kg padi kering mengangkut unsur-unsur N, P dan K dari tanah masing-masing sebanyak 32 kg N, 36 kg P2O5, dan 21 kg K2O (Hardjowigeno, 2007). Hara pada tanah juga dapat berkurang karena terjadinya pencucian akibat curah hujan yang tinggi (Salisbury dan Ross, 1995).
Hara harus dilarutkan dalam larutan tanah agar tersedia bagi tanaman dan bahan organik yang mengandung nutrisi, seperti kotoran, residu tanaman atau bahan organik tanah harus dipecah dan dimineralisasi menjadi molekul sederhana sebelum dimanfaatkan oleh tanaman. Hara tanaman dibagi menjadi tiga subkelompok (Lægreid et al., 1999), yaitu :
1. hara makro atau primer : N, P, K;
3. hara mikro yang merupakan zat yang dibutuhkan oleh tanaman yang sedang tumbuh : klorin (Cl), besi (Fe), mangan (Mn), boron (B), seng (Zn), tembaga (Cu), molybdenum (Mo) dan nikel (Ni).
Tujuan pemupukan adalah memberikan unsur hara yang cukup kepada tanaman agar produksi meningkat atau mencapai titik optimal, menambah dan mempertahankan kesuburan tanah. Kebutuhan hara tanaman akan pupuk tergantung jenis tanamannya. Kebutuhan pupuk oleh tanaman juga ditentukan oleh bagian tanaman yang akan dipanen (Mulyono, 2007). Tanaman yang diambil daunnya memerlukan pupuk N (sayuran, teh), tanaman yang menghasilkan pati atau gula disamping memerlukan N juga unsur K (ubi kayu, ubi jalar, wortel, lobak), tanaman yang diambil bunga, buah atau bijinya disamping unsur N (untuk pertumbuhan vegetatif) juga memerlukan banyak unsur P untuk pertumbuhan generative (Hardjowigeno, 2007).
Cara pemberian pupuk juga merupakan hal yang perlu dperhatikan agar pengambilan hara oleh akar tanaman lebih efisien dan tidak merusak tanaman tersebut. Beberapa cara pemupukan, diantaranya dengan cara disebar (broadcast), di samping tanaman (sideband), dalam larikan (in the row), ditaburkan pada tanaman setelah tumbuh (top dressed atau side dressed), dimasukkan bersama biji yang ditanam (pop up), pemupukan lewat daun (foliar application) dan pemupukan lewat air irigasi atau fertigation (Hardjowigeno, 2007).
Bahan Organik
Bahan organik memiliki peranan yang penting bagi tanah. Jumlah bahan organik pada permukaan tanah tidak besar, yaitu hanya sekitar 3 – 5 persen. Peranan bahan organik bagi sifat-sifat tanah dan akibatnya bagi pertumbuhan tanaman, diantaranya memperbaiki struktur tanah, sumber unsur hara makro dan mikro, manambah kemampuan tanah untuk menahan air, menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara (kapasitas tukar kation tanah menjadi tinggi) dan menjadi sumber energi bagi mikroorganisme (Hardjowigeno, 2007).
Bahan organik juga mampu memperbaiki sifat biologi tanah sehingga tercipta lingkungan yang lebih baik bagi perakaran tanaman sehingga akar dapat menyerap unsur hara yang lebih banyak (Pangaribuan dan Pujisiswanto, 2008).
Bahan organik tanah adalah sisa-sisa bahan secara keseluruhan yang berasal dari jasad hidup, baik berupa bahan yang masih segar maupun yang sudah melalui pembusukan (AAK, 2005). Bahan organik tanah juga diartikan sebagai fraksi yang berasal dari organisme hidup. Bahan organik merupakan sumber unsur mineral yang menjadi tersedia apabila sudah terurai oleh bakteri, cendawan, dan organisme lain dengan membentuk karbondioksida dan air dan pelepasan mineral (Harjadi, 1984).
Beberapa sumber bahan organik, yaitu tanah-tanah hutan, daun-daun dari berbagai tanaman dan sisa hewan yang mati pada permukaan tanah; pada tanah- tanah pertanian yang diperoleh melalui sisa-sisa tanaman setelah panen dan berbagai macam rumput liar, serta tanaman penutup tanah, berbagai pupuk hijau yang dimasukkan ke dalam tanah pada waktu pengolahan tanah; sumber-sumber lain dari bahan organik, seperti pupuk kandang, kompos, dan berbagai jasad-jasad hidup dalam tanah yang sudah mati (AAK, 2005).
Tanah yang sehat mengandung cacing tanah, jamur, bakteri, protozoa, artropoda, alga dan serangga. Bakteri dan organisme tanah lainnya mendekomposisi bahan organik (seperti pupuk kandang), kemudian melepaskan nutrisi dari bahan organik dan mineral tanah bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah, mengatasi penyakit akar dan detoksifikasi tanah (Bradley, 2008). Proses dekomposisi atau mineralisasi bahan organik akan mempengaruhi ketersediaan hara (Setyorini et al., 2006). Ketersediaan unsur hara pada pupuk organik umumnya lambat. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikroba tanah untuk diubah dari bentuk ikatan kompleks organik yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik sederhana yang dapat diserap oleh tanaman (Sutanto, 2002). Mikroba tanah memetabolisme karbon organik (C) dan mengkonversi senyawa organik N menjadi ammonium. Proses berikutnya mengoksidasi ammonium menjadi nitrat melalui proses nitrifikasi (Gaskell dan Smith, 2007).
Proses fermentasi pupuk cair organik dapat berlangsung selama tujuh hari (Londra, 2008; Prabukusuma dan Sulistyorini, 2009). Pupuk cair yang sudah difermentasi memiliki warna yang coklat gelap dan bau amoniaknya sudah berkurang (Prabukusuma dan Sulistyorini, 2009).
Limbah Peternakan
Limbah peternakan merupakan limbah yang diperoleh dalam jumlah besar dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Limbah ternak dapat berupa limbah padat (feses) dan limbah cair (urin). Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan (Hidayatullah et al., 2005). Pupuk dari limbah peternakan (cair atau padat) dapat dimanfaatkan untuk menyediakan hara dalam tanah, sebagai sumber bahan organik dan membantu memperbaiki struktur tanah dan kandungan humus, walaupun aplikasi pupuk kandang untuk mengembalikan hara ke tanah hanya sebagian kecil (Lægreid et al., 1999).
Pupuk kandang merupakan sumber bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai penyedia hara bagi tanah dan tanaman. Pupuk kandang terdiri dari beberapa bentuk, yaitu pupuk kandang yang berasal dari lahan pertanian atau pupuk kandang stabil (kering-limbah ternak dicampur dengan sampah/jerami yang digunakan untuk alas), urin (cair), kental (dicampur dengan kotoran kering dan basah) atau kompos.
Setiap pupuk kandang memiliki kandungan hara yang berbeda-beda. Kandungan hara pada pupuk tergantung pada spesies hewan, jenis pakan, metode pengumpulan dan lama penyimpanan. Proses pengolahan pupuk kandang juga tergantung pada metode yang digunakan, baik untuk pengumpulan maupun penyimpanannya (Lægreid et al.,1999). Pupuk kandang mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan merupakan sumber penting untuk penyediaan nitrogen. Pupuk kandang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui pemberian bahan organik yang diperlukan tanaman dan peningkatan kondisi fisik tanah (Splittstoesser, 1990).
Pengolahan limbah ternak menjadi pupuk cair dapat menggunakan bahan yang berasal dari urin (biourin) dan pupuk cair dari kotoran ternak yang padat (biokultur). Pupuk kandang cair merupakan pupuk kandang berbentuk cair yang berasal dari kotoran hewan yang masih segar yang bercampur dengan urin hewan atau kotoran hewan yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu. Urin dihasilkan oleh ginjal dan merupakan sisa hasil
creatine hasil metabolisme protein. Urin juga berasal dari perombakan
senyawa-senyawa sulfur dan fosfat dalam tubuh (Hartatik dan Widowati, 2006).
Pengolahan limbah ternak menjadi pupuk cair dapat dilakukan melalui proses fermentasi. Hasil analisis di laboratorium menunjukkan kadar hara N, K dan C-organik pada biourin maupun biokultur yang diferrnentasi lebih tinggi dibanding urin atau cairan feses yang belum difermentasi. Kandungan N pada biourin meningkat dari rata-rata 0.34% menjadi 0.89%, sedangkan pada biokultur meningkat dari 0.27% menjadi 1.22%. Kandungan K dan C-organik
juga meningkat drastis (Londra, 2008).
Tabel 1. Kandungan Unsur Hara dan Air Beberapa Jenis Pupuk Kandang
Pupuk Kandang Nitrogen Kadar Unsur Hara dan Air (%) Fosfor Kalium Air
Sapi -Padat 0.40 0.20 0.10 85 -Cair 1.00 0.50 1.50 92 Kerbau -Padat 0.60 0.30 0.34 85 -Cair 1.00 0.15 1.50 92 Kambing -Padat 0.60 0.30 0.17 60 -Cair 1.50 0.13 1.80 85 Domba -Padat 0.75 0.50 0.45 60 -Cair 1.35 0.05 2.10 85
Sapi : kotoran dan urin* 1.20 – 1.70 0.30 – 1.01 0.50 – 0.94
Domba* 1.50 0.33 1.35
Kelinci* 1.20 – 1.90 0.29 – 0.55 0.46 – 1.67
Ayam** 1.50 1.50 0.80
Sapi** 0.50 0.20 0.50
Sumber : Lingga (1998), *Lekasi et al. (2001), **William et al. (1993)
Pupuk cair organik dapat menambah unsur hara pada tanah yang berkurang akibat beberapa hal, seperti erosi. Pemberian urin ternak dalam 1 m3 pada lahan dapat mengembalikan sekitar 1.5 kg N; 0.25 kg P; dan 4 kg K (AAK, 2007). Kandungan K dan N pada urin ternak juga lebih tinggi dibandingkan kotoran padat. Urin ternak memiliki kandungan K lima kali lebih banyak dan kandungan N dua sampai tiga kali lebih banyak daripada unsur N dalam kotoran padat (Hardjowigeno, 2007).
Kualitas Selada setelah Panen
Kualitas sayur selada tergantung dari beberapa faktor yang bila dikombinasikan akan menentukan produk tersebut dapat diterima atau tidak oleh konsumen. Hal ini terbagi atas dua kategori, yaitu 1) sifat-sifat yang mudah teramati (dirasakan) seperti kenampakan, warna, tekstur dan ketegaran (turgidity), 2) sifat-sifat yang kurang mudah teramati (dirasakan dari aroma dan nilai gizi. Kualitas sayuran adalah sifat yang tidak stabil yang harus dipertahankan dalam jangka waktu tertentu (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
Warna merupakan salah satu pengamatan penampakan bahan pangan yang berperan penting. Warna dapat menarik konsumen secara organoleptik dan dapat digunakan sebagai indikator kualitas serta kandungan gizi (Apriantini, 2009). Warna sayuran juga akan memengaruhi harga sayuran berdasarkan persentase atau banyaknya daun yang menguning, serta kelayakan produk untuk dipasarkan. Persentase daun yang menguning semakin tinggi menyebabkan harga akan semakin menurun dan jika daun yang sudah menguning lebih dari 10 %, maka selada tidak dapat dipasarkan (Utama et al., 2007).
Selada yang telah dipanen harus segera diangkut dari lapangan untuk mempertahankan kualitas yang tinggi. Sayur Selada yang disimpan pada suhu rendah (1 – 2 °C) dan kelembaban yang tinggi (90 – 95 %) dapat bertahan dalam kondisi baik selama 2 – 3 minggu. Pemaparan etilen harus dihindari karena dalam jumlah yang kecil juga dapat menyebabkan sense dini, bercak coklat kemerahan dan kemerosotan kualitas yang nyata (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
Produk sayuran yang disimpan akan mengalami pembusukan. Hal ini akan berdampak pada kualitas produk sayuran. Kerusakan atau pembusukan produk dapat terjadi akibat dehidrasi pada jaringan karena terbentuknya kristal dari pembekuan air pada sel-sel dan menyebabkan jaringan menjadi kering dan hitam (Apriantini, 2009). Sayuran yang layu juga dapat menurunkan kualitas. Awalnya sayuran memiliki warna hijau segar, tetapi semakin lama warna menjadi hijau cerah tetapi tidak segar, pucat dan mengalami pelayuan (Utama et al., 2007). Kecerahan pada bahan pangan mentah dapat disebabkan kurangnya pigmen pada kulit bahan tersebut (Apriantini, 2009).
Pemanfaatan Pupuk Organik dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Beberapa penelitian telah membuktikan dengan adanya penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bahan pembuatan pupuk organik dapat berasal dari limbah ternak (kotoran padat dan urin), sampah dedaunan (jerami, serasah bambu, sisa dedaunan), tulang dan sebagainya. Penggunaan pupuk organik, seperti pupuk kandang, sudah dilakukan petani sejak lama, tetapi penggunaannya dalam jumlah besar menimbulkan kesulitas dalam sumber penyediaan, pengangkutan dan aplikasinya (Hartatik dan Widowati, 2006).
Pupuk organik mempunyai peran yang cukup besar dalam meningkatkan kandungan hara tanah, terutama kandungan C-organik tanah. Tanah-tanah yang mempunyai kandungan C-organik yang rendah mutlak harus diberikan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanah. Dengan semakin meningkatnya kandungan C-organik tanah akan berpengaruh terhadap aktivitas mikroba tanah sehingga ketersediaan hara lebih meningkat (Sirappa dan Razak, 2007).
Aplikasi pupuk kandang meningkatkan produksi kentang lebih dari 50 % dan pisang 11 % (pada petani kecil), pertumbuhan jenis sayuran utama (ubi jalar, wortel, kubis dan buncis Perancis) 43 – 45 % (Lekasi et al., 2001). Tanaman sayuran dan bunga yang telah diberi pupuk cair organik juga memiliki daun yang lebih hijau. Pemberian pupuk organik cair dari urin sapi yang difermentasi dengan dosis 4 000 l/ha mampu menekan penggunaan pupuk kimia sampai 50 % dengan tingkat produksi yang lebih tinggi ± 5 % (Prabukusuma dan Sulistyorini, 2009).
Padi sawah (Oryza sativa) mengalami pertumbuhan vegetatif yang cukup baik dengan melakukan manajemen jerami dimana salah satunya dengan memberikan kompos jerami padi (Amrah, 2008). Pemberian kompos jerami padi juga meningkatkan produksi tanaman tomat (Pangaribuan dan Pujisiswanto, 2008). Pertumbuhan dan hasil tanaman padi cenderung lebih tinggi dengan menggunakan bahan organik dibanding tanpa pupuk organik baik secara tunggal maupun interaksinya dengan pupuk N, P dan K (Arafah dan Sirappa, 2003).
Pemberian Posidan-HT pada tanaman selada secara umum dapat meningkatkan produktivitas tanaman selada. Posidan-HT adalah salah satu pupuk
organik cair yang bahannya berasal dari ekstrak tumbuhan (daun, bunga, kara, batang dan biji-bijian). Posidan-HT pada dosis 150 ml/l air memberikan pengaruh yang paling baik terhadap pertumbuhan tinggi dan bobot segar tanaman selada (Azis et. al., 2006). Pemberian pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk organik menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan hasil Cucumis sativus L. (Rachmat et al., 2005). Penelitian pada tanaman Bit (Beta vulgaris L.) dan selada head (Lactuca sativa L.) menunjukkan terdapat pengaruh nyata pemberian perlakuan pupuk organik terhadap produksi tanaman bit dan selada (Mahasari, 2008).
Tanah Latosol
Tanah latosol memiliki lapisan solum yang tebal sampai sangat tebal, yaitu dari 130 cm s.d. 5 m bahkan lebih, sedangkan batas horizon tidak begitu jelas. Warna tanah ini adalah merah, coklat hingga kekuning-kuningan dengan kandungan bahan organik 3 – 9 persen. Reaksi tanah pH dari jenis tanah ini adalah 4.5 – 6.5, yaitu dari asam sampai agak asam. Tekstur jenis tanah ini umumnya adalah liat, sedangkan strukturnya remah. Ciri-ciri umum lainnya adalah kandungan hara tanah ini rendah hingga sedang, agak sukar merembeskan air, daya menahan air cukup baik dan tahan terhadap erosi (Sarief, 1985).
Daerah penyebaran jenis tanah ini, yaitu pada daerah dengan tipe iklim Alfa- Ama (menurut Koppen), sedang Schmidt dan Ferguson pada tipe A, B, dan C, dengan curah hujan sebesar 2 000 – 7 000 mm/tahun, tanpa atau mempunyai bulan kering kurang dari tiga bulan. Tanah ini terdapat pada daerah dengan ketinggian 10 – 1 000 di atas permukaan laut (m dpl). Daerah penyebarannya terutama di daerah Sumatera dan Sulawesi, tetapi dalam areal yang tidak begitu luas terdapat pula di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Kepulauan Maluku, Minahasa, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.
Tanaman yang dapat tumbuh baik pada jenis tanah ini, diantaranya padi, sayur-sayuran, buah-buahan, palawija, dan beberapa jenis tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, cengkeh, kopi dan lada). Tanah ini secara keseluruhan mempunyai sifat-sifat fisik yang baik, tetapi sifat-sifat kimianya kurang baik (Sarief, 1985).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian (pembuatan pupuk cair organik dan penanaman selada) dilaksanakan di Kebun Percobaan University Farm Cikabayan, Dramaga, Bogor (persemaian). Kegiatan pascapanen dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai Maret 2011.
Jenis tanah di daerah ini adalah tanah latosol. Daerah ini memiliki ketinggian sekitar 250 m dpl dengan curah hujan selama penelitian cukup tinggi, yaitu 456.5 mm.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan, diantaranya benih selada daun atau keriting var. crispa sebanyak ± 6 g, media tanam semai (tanah, pupuk kandang, sekam), pupuk kandang ayam (sebagai pupuk dasar), urin murni ternak (sapi, domba, kelinci), kotoran padat sapi, larutan gula merah dan EM4. Alat yang digunakan adalah alat budidaya, alat tulis, alat pembuatan pupuk cair (ember dan penutup ember, aerator, kayu pengaduk, plastik), termometer, timbangan digital, oven, gelas ukur dan meteran.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu jenis pupuk cair organik. Penggunaan Rancangan Acak Kelompok didasarkan karena adanya perbedaan kondisi lahan yang berbeda pada masing- masing blok (kelompok). Layout penelitian terlampir pada Lampiran 1. Perlakuan yang diberikan ada delapan perlakuan, dimana masing-masing perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Jumlah tanaman contoh yang diambil sebanyak 10 tanaman. Perlakuan dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1. P0 : Tanpa aplikasi pupuk cair organik (hanya pemberian air) 2. P1 : Pupuk cair organik dari urin sapi (biourin sapi)
3. P2 : Pupuk cair organik dari urin domba (biourin domba) 4. P3 : Pupuk cair organik dari urin kelinci (biourinkelinci) 5. P4 : Pupuk cair organik dari kotoran padat sapi (biokultur) 6. P5 : Pupuk cair organik campuran dari biokultur dan urin sapi 7. P6 : Pupuk cair organik campuran dari biokultur dan urin domba 8. P7 : Pupuk cair organik dari campuran biokultur dan urin kelinci
Petak satuan percobaan berukuran 1 m x 5 m, sehingga total luasan lahan yang dibutuhkan seluas 120 m2. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yij = µ + αi + βi + εij Keterangan :
Yij = Pengamatan pada perlakuan pupuk cair ke – i dan kelompok ke – j µ = Rataan umum pengamatan
αi = Pengaruh pupuk cair pada taraf ke – i βi = Pengaruh kelompok pada taraf ke – j εij = Galat percobaan
Pengaruh perlakuan dapat diketahui dengan menggunakan uji F pada taraf 1% dan 5%. Setiap perlakuan dibandingkan dengan menggunakan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 1% dan 5% apabila terdapat pengaruh nyata terhadap peubah yang diamati.
Pelaksanaan Penelitian 1. Pembuatan Pupuk Cair Biourin dan Biokultur
Cara pembuatan pupuk cair dari urin ternak (biourin), urin sebanyak 5 l ditampung di dalam ember berukuran 20 l, kemudian dicampur dengan bakteri fermentasi (EM4) sebanyak 60 ml untuk mempercepat proses pengolahan limbah organik, 600 ml larutan gula merah (0.25 kg gula merah) dan bahan- bahan tambahan. Bahan tambahan yang digunakan, diantaranya lengkuas,
kunyit, dan kencur masing-masing sebanyak 1 ons untuk masing-masing pupuk cair. Bahan-bahan tersebut ditumbuk sampai halus, kemudian dimasukkan ke dalam ember plastik. Pengadukan dilakukan menggunakan kayu pengaduk. Permukaan ember ditutup dengan plastik dan penutup, kemudian larutan dibiarkan selama 10 hari. Pengadukan dilakukan setiap hari selama proses fermentasi (10 hari).
Cara untuk membuat pupuk cair dari kotoran ternak (biokultur), kotoran ternak (feses) sebanyak satu ember berukuran 5 l ditampung di dalam ember berukuran 20 l, kemudian dicampur dengan air sebanyak 10 l. Biokultur diberikan bakteri fermentasi (EM4) sebanyak 60 ml ke dalam ember untuk mempercepat proses pengolahan limbah organik, 600 ml larutan gula merah (0.25 kg gula merah) dan bahan-bahan tambahan. Bahan tambahan yang digunakan diantaranya lengkuas, kunyit, dan kencur masing-masing sebanyak 1 ons untk masing-masing pupuk cair. Bahan-bahan tersebut ditumbuk sampai halus, kemudian dimasukkan ke dalam ember plastik. Pengadukan dilakukan dengan menggunakan kayu pengaduk. Permukaan ember ditutup dengan plastik dan penutup, kemudian larutan dibiarkan selama 10 hari. Pengadukan dilakukan setiap hari selama proses fermentasi (10 hari). Hari ke – 11, bagian cairan (yang ada di atas) diambil dan bagian yang mengendap (padat) diperas/dipres. Cairan hasil perasan dapat dicampur dengan cairan yang diambil sebelumnya.
Cara untuk membuat pupuk cair dari campuran antara urin (sapi, domba atau kelinci) dan kotoran sapi, kotoran ternak (feses) sebanyak setengah ember berukuran 5 l ditampung dalam ember berukuran 20 l, kemudian dicampur dengan urin sebanyak 5 l. Larutan diberikan bakteri fermentasi (EM4) sebanyak 60 ml ke dalam ember untuk mempercepat proses pengolahan limbah organik , 600 ml larutan gula merah (0.25 kg gula merah) dan bahan- bahan tambahan. Bahan tambahan dalam pupuk cair, diantaranya lengkuas, kunyit, dan kencur masing-masing sebanyak 1 ons untk masing-masing pupuk cair. Bahan-bahan tersebut ditumbuk sampai halus, kemudian dimasukkan ke dalam ember plastik. Pengadukan dilakukan dengan menggunakan kayu pengaduk. Permukaan ember ditutup dengan plastik dan penutup, kemudian
larutan dibiarkan selama 10 hari. Pengadukan dilakukan setiap hari selama proses fermentasi (10 hari). Hari ke – 11, bagian cairan (yang ada di atas) diambil dan bagian yang mengendap (padat) diperas/dipres. Cairan hasil perasan dapat dicampur dengan cairan yang diambil sebelumnya.
Hari ke – 11, masing-masing pupuk cair organik diaduk menggunakan aerator selama 1 jam 30 menit. Pengadukan menggunakan aerator bertujuan untuk menguapkan amoniak yang bersifat racun bagi tanaman. Tujuan penambahan bahan-bahan tambahan (lengkuas, kunyit, dan kencur) ke dalam pupuk cair adalah untuk menghilangkan limbah ternak dan memberikan rasa yang tidak disukai oleh hama.
2. Persiapan Lahan
Petak penelitian yang digunakan berupa bedengan dengan lebar 0.6 m dan