• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman Handeuleum (Graptophyllum pictum (Linn) Griff.)

Handeuleum dikenal sebagai Caricature plant (Inggris), Gertenschriftblatt (Jerman). Indonesia sendiri memiliki berbagai macam nama daerah: handeuleum, daun temen-temen (Sunda), daun putri (Ambon), temen (Bali), kabi-kabi (Ternate) dan dongo-dongo (Tidore). Masyarakat Madura menyebutnya karoton dan karotong. Daerah Jawa mengenal daun ini dengan nama daun ungu, demung, tulak, dan wungu (Heyne 1987).

Menurut United States Department of Agriculture (USDA) (2008), taksonomi handeuleum sebagai berikut:

Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Dicotyledonae Subkelas : Asteridae Ordo : Scrophulariales Family : Acanthaceae Genus : Graptophyllum

Spesies : Graptophyllum pictum (L.) Griff

Handeuleum merupakan tumbuhan perdu yang memiliki batang tegak (BPPT 2008). Tanaman ini berbentuk perdu dan tumbuh lurus dengan ketinggian berkisar antara 1.5-3 m (Heyne 1987). Tanaman ini memiliki batang berkayu, cabang bersudut tumpul, berbentuk galah dan beruas rapat (Lenny 2006).

Daun mempunyai struktur posisi daun yang letaknya berhadap-hadapan. Sebagai tanaman penghasil daun, pemanenan seringkali dilakukan secara bertahap. Pemanenan yang dilakukan dengan pemangkasan bagian vegetatif dapat merangsang pembentukan cabang baru (Dalimarta 2002). Daun tunggal bertangkai pendek, bulat telur sampai lanset. Ujung dan pangkal runcing, tepi

bergelombang, pertulangan menyirip, panjang 8-20 cm, lebar 3-13 cm, permukaan atas warnanya ungu mengkilap, kulit dan daun berlendir (Lenny 2006).

Pembungaan majemuk, keluar dari ujung batang, tersusun dalam rangkaian berupa tandan yang panjangnya 3-12 cm, berwarna merah keunguan (Lenny 2006). Bunga bersusun dalam satu rangkaian tandan yang berwarna merah tua (Dalimarta 2002). Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun, namun di Jawa jarang sekali menghasilkan buah. Buah berbentuk lonjong, warnanya ungu kecoklatan. Biji kadang-kadang dua, bentuknya bulat, warnanya putih (Dalimarta 2002). Rasa buahnya kurang enak (Lenny 2006).

Penelitian yang dilaksanakan di Balittro Bogor mulai bulan Agustus 1997 sampai Januari 1998 menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan pemupukan dengan pemangkasan terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman handeuleum. Pemupukan NPK dan pupuk kandang meningkatkan produktivitas dan status hara tanaman handeuleum. Perlakuan pemangkasan dapat meningkatkan bobot daun secara nyata. Produktivitas tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi pemangkasan dan pemupukan terutama pupuk kandang dan panen awal dengan cara pemangkasan antara umur 2-4 bulan setelah tanam (Djazuli dan Fathan 1999).

Manfaat Tanaman Handeuleum

Komoditas tanaman obat unggulan versi Badan POM (2001) telah ditetapkan yaitu sambilito, pegagan, jati belanda, tempuyung, temulawak, handeuleum, cabe jawa, sanrego, pasak bumi, pace, daun jinten, dan kencur. Teknologi budidaya untuk sebagian komoditas sudah tersedia. Hasil penelitian menjelaskan bahwa fraksi alkaloid dari ekstrak handeuleum memiliki efek analgesik atau anti inflamasi pada hewan percobaan. Efek analgesik ditunjukkan dengan penurunan nilai ambang nyeri setelah pemberian ekstrak alkaloid handeuleum (Kalsum 2008).

Ekstrak etanol daun handeuleum dapat menurunkan kadar total lipid serum darah dari 564 mg/dl menjadi 483 mg/dl dan menurunkan kadar kolesterol LDL serum darah dari 35.4 mg/dl menjadi 24.4 mg/dl. Ekstrak etanol daun handeuleum walau tidak secara nyata berpengaruh terhadap HDL juga dapat menurunkan kadar LDL dari 52.4 mg/dl menjadi 49.8 mg/dl. Kesimpulan dari penelitian ini

bahwa pemberian ekstrak etanol daun handeuleum mampu menurunkan kadar total lipid dan kolesterol LDL serta tidak berpengaruh terhadap kadar HDL

(Mu’minah 2007).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Kumuma (2006) diperoleh hasil bahwa ekstrak etanol daun handeuleum mampu menurunkan kadar kolesterol dan berat badan mencit yang diovariektomi. Pemberian ekstrak etanol daun handeuleum mampu menurunkan kadar kolesterol serum darah dengan kadar kolesterol dari 111.5 mg/dl menjadi 81.7 mg/dl dan menurunkan berat badan mencit yang diovariektomi dari 28.742 g menjadi 27.704 g.

Ekstrak daun handeuleum (Graptophyllum pictum (L.) Griff) pada konsentrasi 0.5 mg/0.05 ml minyak zaitun mempunyai efek estrogenik yang paling baik pada uterus dibandingkan ekstrak daun handeuleum 0.1 mg/0.05 ml minyak zaitun dan ekstrak daun handeuleum 1 mg/0.05 ml minyak zaitun. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan diameter, tebal lapisan mukosa, panjang sel epitel rongga dan kelenjar, tetapi tidak meningkatkan tebal lapisan otot sirkuler. Efek estrogenik ekstrak daun handeleum lebih rendah bila dibandingkan efek estrogenik dari ethinyl estradiol (Suhargo 2005).

Bagian tanaman handeuleum yang digunakan untuk mengobati penyakit wasir atau hemorrhoid antara lain daun, kulit batang dan bunganya. Daun berkhasiat untuk mengatasi wasir (hemorrhoids) dan sembelit (konstipasi), bunganya untuk mengatasi datang haid tidak lancar. Cara pemakaian daun yaitu daun segar sebanyak 10-15 g direbus lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun atau kulit batang secukupnya dibersihkan lalu diperas. Gunakan untuk menutup bisul, borok, luka, sakit telinga, payudara bengkak karena bendungan asi atau bagian tubuh yang bengkak (memar) akibat terbentur benda keras atau terpukul. Air perasan daun untuk sakit telinga. Rebusan daun wungu dapat menghilangkan gejala hemorrhoids) eksternum derajat II (Sardjono et al. dalam Dalimarta 2008).

Agroekologi Lingkungan Tumbuh Handeuleum

Pengembangan obat tradisional juga didukung oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang fitofarmaka, yang berarti perlu adanya pengendalian mutu simplisia yang akan digunakan untuk bahan baku obat atau sediaan galenik. Salah satu cara untuk mengendalikan mutu simplisia adalah dengan melakukan standarisasi simplisia dan ekstrak (sediaan galenik), karena khasiat suatu tanaman tergantung pada kandungan kimianya, dimana kandungan

kimia ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain tempat tumbuh, iklim, curah hujan, dan cara panen.

Pengembangan komoditas pertanian pada wilayah yang sesuai dengan tanaman akan memberikan hasil yang optimal dengan kualitas prima. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah aspek managemen dalam mengelola lahan yang didasarkan pada sifat-sifat lahan untuk mencapai produktivitas yang berkelanjutan (Djaenudin et al. 2002). Pemilihan lahan yang sesuai untuk diusahakan pada suatu kawasan ditentukan berdasarkan pada keadaan lereng, tekstur, tingkat kemasaman dan suhu (Amien 1997).

Handeuleum cocok tumbuh di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut (BPPT 2008).Tanaman handeuleum banyak terdapat di daerah subur berhawa panas hingga sejuk. Tanaman ini tumbuh baik pada tempat terbuka yang terkena sinar matahari, dengan iklim kering atau lembab. Tanaman ini tersebar di negara India, Malaysia, Siam, serta hampir tersebar di seluruh Indonesia (Isnawati dan Sudiro 2003).

Semua tanaman berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan sejenisnya (tanaman yang sama), dengan tanaman lain dan dengan lingkungan fisik tempat hidupnya. Dalam proses interaksi ini, tanaman saling mempengaruhi satu dengan lainnya dan dengan lingkungan sekitarnya. Demikian pula berbagai faktor lingkungan mempengaruhi kegiatan hidup tanaman (Jumin 2002).

Sistem pertanian yang efisien, berproduksi tinggi dan berkelanjutan dapat dicapai antara lain dengan memanfaatkan sumber daya lahan berdasarkan karakteristik, kemampuan dan kesesuaiannya (Syafrudin et al. 2004). Untuk tumbuh, dan berproduksi tinggi dengan kualitas hasil yang baik, maka tanaman harus dibudidayakan pada lingkungan yang sesuai (Amien 1994).

Dalam kaitannya dengan pengembangan potensi wilayah untuk sektor pertanian, keragaman sifat lahan akan sangat menentukan jenis komoditas yang dapat diusahakan serta tingkat produktivitasnya. Hal ini disebabkan setiap komoditas pertanian memerlukan sifat lahan yang spesifik untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal (Djaenudin et al. 2000).

Kaitan faktor-faktor lingkungan satu sama lainnya mempengaruhi fungsi fisiologis dan morfologis tanaman. Respon tanaman sebagai akibat faktor

lingkungan terlihat pada penampilan tanaman (performance). Tanaman berusaha menanggapi kebutuhan khususnya selama siklus hidup, kalau faktor lingkungan tidak mendukung. Tanggapan ini dapat terlihat berupa perubahan morfologis ataupun proses fisiolgis. Walaupun genotipenya sama, pada lingkungan yang berbeda, penampilan tanaman akan berbeda pula (Jumin 2002).

Standarisasi diperlukan agar dapat diperoleh bahan baku yang seragam yang akhirnya dapat menjamin efek farmakologi tanaman tersebut. Masalah yang dihadapi adalah bagaimana dapat menentukan keseragaman mutu simplisia dan ekstrak suatu tanaman yang tumbuh dari beberapa daerah yang mempunyai ketinggian, keadaan tanah dan cuaca yang berbeda.

Kandungan Fitokimia Handeuleum

Senyawa fitokimia sebagai senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan termasuk fungsinya dalam pencegahan terhadap penyakit degeneratif. Beberapa senyawa fitokimia yang diketahui mempunyai fungsi fisiologis adalah karotenoid, fitosterol, saponin, glikosinolat, polifenol, inhibitor protease, monoterpen, fitoestrogen. sulfida, dan asam fitat. Kandungan kimia handeuleum adalah saponin, flavanoid, tannin, glikosida dan alkaloid. Alkaloid tertentu mempunyai kemampuan mengurangi rasa nyeri dan bersifat sebagai penenang (Badan POM 2001).

Pemeriksaan terhadap golongan senyawa kimia menunjukkan adanya golongan antosianin, leukoantosianin. Pemeriksaan secara kualitatif dengan reaksi warna dan kromatografi kertas ditemukan tanin galat, sedangkan pemeriksaan asam fenolat dari ekstrak 95 % menggunakan kromatografi kertas dua dimensi diduga mengandung asam protokatekuat. Pemeriksaan lebih lanjut dengan kromatografi kertas preparatif yang kemudian dikarakteristik dengan spektofotometer ultra violet diduga adanya flavon dan flavonol (3-hidroksi tersubtitusi) (Isnawati dan Soediro 2003).

Batang handeleum mengandung kalsium oksalat, asam forlat dan lemak. Kandungan zat tersebut mengakibatkan tanaman bersifat diurietik atau meluruhkan kencing, mempercepat pemasakan bisul, mempunyai pencahar yang

memperlancar buang air besar (mild laxative) dan melembutkan kulit (emolien). Handeuleum mengandung senyawa yang memiliki manfaat untuk mengobati berbagai penyakit, diantaranya wasir, memperlancar peredaran darah dan bersifat antiinflamasi. Zat yang diduga berperan mengobati penyakit tersebut adalah golongan glikosida, steroid, dan flavonoid. Hasil analisis korelasi menunjukkan khlorofil tidak berkorelasi dengan glikosida, steroid, dan flavonoid. Tetapi berkorelasi dengan anthosianin (Lestari 2011).

Metabolisme primer pada tanaman menghasilkan prekursor bagi metabolisme sekunder untuk membentuk metabolisme sekunder. Jika metabolisme tanaman terhambat, maka prekursor bagi metabolisme sekunder berkurang sehingga kandungan bahan bioaktif menurun. Wibowo (2000) menyebutkan bahwa handeuleum mampu hidup pada ketinggian 800 m dpl. Semakin tinggi dataran tersebut, semakin tua warna daun handeuleum. Hal ini terjadi karena peningkatan senyawa flavonoid yang dikandungnya. (Kristina dan Mardiningsing 2008).

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan kandungan saponin dalam tanaman handeuleum sangat bervariatif. Saponin merupakan senyawa yang diduga memiliki efek seperti esterogen (Taylor 2004). Fungsi Saponin yang telah diketahui antara lain anti kanker dan anti oksidan (dihasilkan oleh komponen senyawa glikosenosides) (Park et al. 2005), obat penenang dan pereda kegelisahan (antianxiety) (Anonimous 2005) dan menghasilkan madecocassoside yang dapat memacu produksi kolagen. Seperti diketahui bahwa kolagen tersebut berperan besar dalam meregenerasi sel, termasuk sel telur (ovum) pada wanita dan sel sperma pada pria (Aninomous 2006).

Komposisi metabolit sekunder tanaman berbeda diantara tanaman dan didalam jaringan tanaman. Genotipe (kultivar atau varietas) adalah penentu utama komposisi metabolisme sekunder tanaman. Walau ekspresinya dipengaruhi secara kuat oleh tekanan lingkungan, iklim, paparan sinar ultaviolet (Dixon dan Paiva 1995). Pada gambar 2 disajikan ilustrasi lintasan metabolik primer pada tanaman.

Gambar 2. Ilustrasi lintasan metabolik primer pada tanaman (Kaufman et al. 1999)

Dalam proses produksinya, lintasan metabolisme sekunder fitokimia yang satu seringkali memiliki jalur lintasan terkait dengan jenis lainnya. Jalur lintasan metabolime sekunder dapat merupakan turunan atau kelanjutan dari jalur lintasan metabolit sekunder lainnya. Metabolit sekunder ini juga dapat memiliki prekursor yang sama, namun memiliki lintasan yang berbeda. Inilah yang menyebabkan peningkatan konsentrasi satu jenis metabolit sekunder akan menurunkan atau turut meningkatkan konsentrasi metabolit sekunder lainnya (Cseke et al. 2006).

CO2 Chlorophylls Monoterpens Sesquiterpens Diterpens Triterpens Tetraterpens (β-carotene) Polyterpens Tetrapyrrol Polyketides Steroids Malonic acid DOP/MEP pathway Mevalonic acid Terpenoids pathway Solar Energy C3 & C4 photosynthesis with Calvin Cycle

Carbohydrates Pentose phosphate pathway Erythrose 4-phosphate Shicimic acid

Aromatic amino acid

Nitrogen-containing secondary product Phenylpropanoids pathway Anthocyanin Glycolysis Pyruvic acid Acetyl CoA Tricarboxylic acid cycle Aliphatic amino acid S-adenosyl methionine Phenolic compounds

Senyawa lain yang terdapat pada tanaman handeleum adalah steroid. Kandungan steroid dalam penelitian ini sangatlah bervariatif, dari nol sampai dengan skor 4. Menurut Vickery dan Vickery (1981) steroid adalah bahan bioaktif yang termasuk dalam kelompok tetrasiklik triterpenoid. Selanjutnya dikatakan bahwa asam mevalonat merupakan prekursor bagi steroid atau yang termasuk ke dalam kelompok kolesterol. Pada tanaman handeulum, kandungan fitokimia tanaman yang menjadi penanda tanaman ini adalah vomivoliol termasuk dalam kelompok triterpenoid.

Keragaman Tanaman

Dalam proses pemuliaan tanaman ada beberapa hal penting yang umum dilakukan, yaitu: 1) mengenali karakter morfologi dan fisiologi serta respon secara patologi dari suatu species tanaman yang penting untuk adaptasi terhadap lingkungan, hasil dan kualitas tanaman tersebut, 2) merancang teknik yang akan mengevaluasi potensi genetik untuk karakter-karakter tersebut dalam proses penapisan spesies yang diinginkan, 3) mencari sumber-sumber gen untuk karakter yang diinginkan yang bisa digunakan dalam program pemuliaan tanaman dan mengkombinasikan potensi genetik untuk karakter-karakter ini ke dalam varietas atau kultivar baru (Poehlman 1983).

Berbagai usaha untuk membedakan dan mengklasifikasikan tanaman dengan dasar karakter morfologi telah dilakukan. Penanda morfologi digunakan dalam deskripsi taksonomi karena lebih mudah, lebih cepat, sederhana dan lebih murah. Disamping itu prosesnya tidak membutuhkan teknologi yang mahal. Sifat-sifat morfologi yang diamati haruslah yang memiliki nilai heritabilitas yang tinggi dan stabil pada beberapa lokasi percobaan, karena umumnya penampakan sifat yang nampak pada morfologi tanaman sangat dipengaruhi lingkungan (Maxted, et al. 1997).

Setiap spesies tanaman mempunyai deskripsi morfologi yang spesifik. Deskripsi morfologi tanaman telah diterbitkan oleh International Board of Plant Genetic Resources (IBPGR 1984) dan International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI 1996) untuk mempermudah dalam identifikasi karakter morfologi dan agronomi tanaman.

Penanda morfologi ini telah lama dan banyak digunakan terutama untuk mengatasi masalah duplikasi plasma nutfah di lapang (Sismon dan Sherperd 1955) Disamping itu juga digunakan untuk identifikasi kekerabatan dan keragaman genetik antar klon/kultivar dan masih terus digunakan sampai saat ini di luar maupun di dalam negeri seperti dilakukan oleh Vuylsteke et al. (1988) yang melihat keragaman genetik berdasarkan fenotipe terhadap tanaman. Identifikasi variasi fenotipe juga telah digunakan untuk membuat pengelompokkan plasma nutfah yang dilakukan oleh Ortiz et al. (1993).

Kekerabatan secara fenotipe merupakan kekerabatan yang didasarkan pada analisis sejumlah penampilan fenotipe dari suatu organisme. Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kesamaan sejumlah karakter dengan asumsi bahwa karakter-karakter berbeda disebabkan oleh adanya perbedaan susunan genetik. Karakter pada makhluk hidup dikendalikan oleh gen. Gen merupakan potongan DNA yang hasil aktivitasnya (ekspresinya) dapat diamati melalui perubahan karakter morfologi yang dapat diakibatkan oleh pengaruh lingkungan (Hadiati 2003).

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Cimanggu Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Juni 2008 sampai dengan September 2009. Analisis fitokimia dilakukan di Laboratorium Balittro, sedangkan analisis anatomi daun dilakukan di laboratorium Ekofisiologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian adalah setek tanaman handeuleum dari berbagai lokasi hasil eksplorasi Team Peneliti KKP3T antara lain: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Ambon, Papua, dan koleksi Balittro. Koleksi aksesi disajikan pada Tabel 1. Bahan lain yang digunakan antara lain polybag dengan volume 10 Kg, media tanam, pupuk kandang sapi, pupuk urea, insektisida, kutek, dan bahan kimia untuk analisis fitokimia.

Peralatan yang digunakan meliputi: cangkul, sekop, ember. Alat-alat yang digunakan untuk pengamatan adalah timbangan, mistar, jangka sorong, oven, pisau silet, pinset, selotip, gelas objek, sigmat mikrometer, mikroskop cahaya, kamera, dan alat-alat laboratorium untuk analisis fitokimia,.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari satu faktor perlakuan yaitu aksesi yang berasal dari lokasi berbeda (32 aksesi). Setiap perlakuan diulang 2 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 tanaman.

Model linier aditif yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y ij = µ + Ti+ єij

dimana : i = perlakuan j = ulangan

Yij = respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke i, ulangan ke j µ = nilai tengah umum

Ti = pengaruh perlakuan ke i

Hasil penelitian yang berupa data kuantitatif dianalisis dengan

menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf nyata (α) 5 % menggunakan

program SAS. Apabila hasil uji F nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan

(Duncan’s Multiple Range Test-DMRT). Analisis kemiripan dan korelasi

dilakukan dengan menggunakan program Minitab versi 14. Hasil analisis kemiripan disajikan dalam bentuk dendogram. Daftar daerah asal aksesi yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 1. Skema tahapan penelitian disajikan pada Gambar 3.

Tabel 1. Daftar Aksesi Tanaman Handaeleum

N0 Asal lokasi Bentuk dan warna daun Batang

01 Bogor Jawa Barat oval, ungu ungu

02 Manoko Jawa Barat oval, ungu ungu

03 Sukamenak Pengalengan Jawa Barat oval, ungu ungu 04 Rumah Itam Pengalengan Jawa Barat oval, ungu ungu

05 Ciwidey Jawa Barat oval, ungu ungu

06 Margamukti Pengalengan Jawa Barat oval, ungu ungu

07 Jawa Timur oval, ungu ungu

08 Kalimantan Tengah oval, ungu ungu

09 Kalimantan Selatan oval, ungu ungu

10 Soabali 1 Maluku oval, ungu ungu

11 Soabali 2 Maluku oval, ungu ungu

12 Salahutu Maluku oval, ungu ungu

13 Leihitu Maluku oval, ungu ungu

14 BTN Maluku oval, ungu ungu

15 Urimesing Maluku oval, ungu ungu

16 Waena Papua oval, ungu ungu

17 Angkasa Dok V Jayapura Papua oval, ungu ungu 18 Pengunungan Cyclops Sentani Papua oval, ungu ungu

19 Cigombong Papua oval, ungu ungu

20 Menteng Bogor panjang, variegata hijau-putih hijau 21 Cigombong Papua panjang, variegata hijau-putih coklat 22 Angkasa Dok V Jayapura Papua panjang, variegata hijau-putih coklat 23 Bogor Jawa Barat panjang, variegata hijau-putih putih 24 Kalimantan Selatan panjang, variegata hijau-putih putih 25 Cigombong Papua panjang, variegata hijau-putih putih 26 Lusikaya Maluku oval, variegata hijau-kuning (daun

muda), variegata hijau-putih-pink (daun tua)

merah, agak ungu 27 Cigombong Papua oval, variegata hijau-kuning (daun

muda), variegata hijau-putih-pink (daun tua)

merah, agak ungu 28 Angkasa Dok V Jayapura Papua oval, variegata hijau-kuning (daun

muda), variegata hijau-putih-pink (daun tua)

merah

29 Waena Papua oval, variegata hijau-kuning (daun muda), variegata hijau-putih-pink (daun tua)

merah

30 Abepura Pantai Papua Oval, ungu ungu kecoklatan 31 Waena Papua Oval, hijau agak ungu merah 32 Malabar Pengalengan Jawa Barat ungu ungu

Gambar 3. Skema tahapan penelitian Koleksi plasma nutfah Balittro

(18 aksesi)

Eksplorasi di Jawa Barat, Papua, dan Pulau Maluku

Tanaman Induk (32 aksesi)

Perbanyakan

Persemaian

Pengamatan morfologi, anatomi, laju pertumbuhan, dan kandungan fotokimia

Tanaman ditumbuhkan dibawah paranet 70 %

Pelaksanaan Penelitian

Bahan tanam yang diteliti terdiri atas 32 aksesi, yang berasal dari koleksi Balittro (18 aksesi), ditambah dengan aksesi baru hasil eksplorasi dari Jawa Barat (Pengalengan), Maluku, dan Papua. Bahan tanam berupa setek batang dari masing-masing aksesi berukuran 3-5 ruas dan memiliki 2 daun. Setek disemaikan di dalam bak pasir dan disungkup dengan plastik selama 2 minggu.

Setelah setek berakar, tanaman dipindahkan ke polybag ukuran 0,5 Kg untuk selanjutnya diaklimatisasi selama 2 minggu. Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam polybag ukuran 10 Kg dan ditumbuhkan di bawah paranet 70 persen. Media tanam yang digunakan adalah tanah dan pupuk kotoran sapi dengan perbandingan 2:1 dan diinkubasi selama satu minggu.

Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiraman, serta pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dilakukan dengan melakukan penyemprotan insektisida setiap minggu.

Pengamatan Penelitian Peubah yang diamati dalam penelitian ini antara lain : A. Peubah Morfologi

1. Bentuk penampang melintang batang, dikategorikan : a. bulat

b. bersegi c. pipih

2. Permukaan batang, dikategorikan : a. licin (rata)

b. beralur

3. Percabangan pada batang, dikategorikan : a. monopodial (batang pokok terlihat jelas) b. simpodial (batang pokok sukar ditentukan)

c. menggarpu (batang setiap kali menjadi dua cabang yang sama besarnya) 4. Tinggi tanaman (cm). Pengukuran dilakukan satu bulan setelah transplanting

(BST) sampai dengan tanaman berumur 4 BST, dengan cara mengukur pangkal batang sampai dengan titik tumbuh yang terletak di ujung batang utama.

5. Diameter batang (mm). Pengukuran dilakukan setiap bulan dari awal penanaman sampai berumur 4 BST. Pengukuran dilakukan di bagian tengah buku pada pangkal batang yang berada 5 cm diatas permukaan tanah.

6. Warna batang. Diamati pada batang bagian bawah dan batang bagian atas tanaman pada saat tanaman berumur 4 BST.

7. Jumlah buku. Penghitungan dilakukan dari pangkal batang sampai pucuk tanaman. Pengukuran dilakukan setiap bulan tanaman berumur 4 BST.

8. Bobot batang (gram). Pengukuran dilakukan pada saat tanaman berumur 5 BST.

9. Bentuk bangun daun (Gambar 4), dikategorikan : a. bulat telur

b. memanjang c. jorong d. lanset

a b c d Gambar 4. Bentuk bangun daun

10.Panjang daun (cm). Pengamatan dilakukan dengan mengukur panjang daun kedua yang telah mekar sempurna.

11.Lebar daun (cm). Pengamatan dilakukan dengan mengukur lebar daun kedua yang telah sempurna

12.Panjang tangkai daun

13.Bentuk pangkal daun (Gambar 5), dikategorikan : a. meruncing

b. tumpul c. membulat

a b c Gambar 5. Bentuk pangkal daun

14. Bentuk ujung daun (Gambar 6), dikategorikan : a. bulat b. tumpul c. menajam d. tajam e. meruncing f. bersepatu a b c d e f Gambar 6. Bentuk ujung daun

15. Bentuk susunan tulang daun (Gambar 7), dikategorikan : a. membusur b. menjari c. sejajar d. menyirip e. seperti jaring a b c d e Gambar 7. Susunan tulang daun

16. Bentuk tepi daun (Gambar 8), dikategorikan a. rata b. bergelombang c. bergerigi kecil d. biserrate e. denticulate f. lainnya a b c d e Gambar 8. Bentuk tepi daun

17. Permukaan daun, dikategorikan : a. licin

b. gundul c. kasap

18. Bobot daun. Pengukuran dilakukan pada saat tanaman berumur 5 BST. Peubah bentuk penampang melintang batang, permukaan batang, percabangan pada batang, bentuk bangun daun, bentuk pangkal daun, bentuk ujung daun, bentuk susunan tulang daun, bentuk tepi daun, permukaan daun, dikategorikan menurut Tjitrosoepomo (1989).

B. Peubah Anatomi :

1. Ketebalan daun (mm). Dihitung dengan mengukur tebal daun kedua dari pucuk tanaman.

2. Kerapatan stomata (jumlah stomata/luas bidang pandang). Pengamatan dilakukan dengan menghitung kerapatan stomata yang ada pada daun bagian bawah.

C. Peubah Kandungan Fitokimia :

Analisa fitokimia. Dilakukan untuk mengetahui kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid secara kualitatif. Analisa ini dilakukan pada saat tanaman berumur 5 BST.

Pengujian kandungan fitokimia tanaman dilakukan sesuai prosedur pada laboratorium kimia analitik sebagai berikut:

1. Pembuatan ekstrak : 10 g sampel kering yang sudah dihaluskan direndam dalam 100 ml metanol selama 24 jam pada suhu kamar. Setelah didapatkan

Dokumen terkait