DAFTAR LAMPIRAN
TINJAUAN PUSTAKA
Oriented Strands Board (OSB)
Oriented Strands Board (OSB) merupakan panel untuk penggunaan struktural terbuat dari strands kayu tipis yang diikat bersama menggunakan perekat resin tahan air (waterproof) dan dikempa panas (Lowood 1997). Youngquist (1999) melengkapi bahwa OSB dibuat dari strands kayu yang tipis, panjang dan sempit yang diarahkan sejajar satu sama lain, direkat dengan resin waterproof dibawah panas dan tekanan.
OSB merupakan panel tiga lapis, terbuat dari strandss dengan lapisan permukaan ditempatkan sejajar searah produksi panel sementara bagian intinya tegak lurus. Konstruksi OSB mirip dengan kayu lapis, karena itu sifat-sifat kekuatan lengkung (bending), kekakuan (MOE) dan stabilitas dimensinya juga hampir sama dengan kayu lapis (Tsoumis 1991). OSB bisa dibuat dengan arah serat sejajar dan tidak sejajar. OSB dengan arah tidak sejajar dapat berupa OSB lapisan luar sejajar sedangkan lapisan tengahnya acak, atau lapisan luar tegak lurus dengan lapisan tengah. Berdasarkan jumlah lapisannya, OSB terdiri dari satu lapis, tiga lapis atau lebih (Blomquist et al. 1983).
OSB merupakan perkembangan dari waferboard yaitu suatu produk panel yang pertama kali dibuat di Amerika Utara pada tahun 1954. Dibandingkan dengan kayu lapis, waferboard mempunyai banyak keunggulan diantaranya dapat menggunakan bahan baku dari jenis yang kurang dikenal, sifat kekuatannya tinggi sehingga sangat cocok digunakan sebagai subtitusi terhadap kayu lapis dalam beberapa aplikasi (Walter 1993). Saat ini waferboard sudah dieliminasi dan digantikan oleh OSB yang termasuk golongan panel struktural bersama kayu lapis (Bowyer et al. 2003).
Ukuran dimensi strands menurut Marra (1992) adalah panjang 0,5-3 inchi (1,27-7,62 cm), lebar 0,25-1 inchi (0,64-2,54), dan tebal 0,010-0,025 inchi (0,02- 0,06 cm). Strands pada OSB itu sendiri memiliki dimensi panjang paling sedikit tiga atau empat kali lebih besar dibanding lebarnya. Perbandingan ini mendukung
pelurusan strands-strands dalam rangka usaha pembentukan lembaran (Koch 1985).
Dua perbandingan yang harus dipertimbangkan dalam hal pengarahan partikel. Yang pertama adalah slenderness ratio (rasio kelangsingan) yaitu perbandingan antara panjang partikel dengan tebalnya. Partikel dengan nilai perbandingan yang lebih dari satu akan mempunyai dimensi panjang yang lebih besar dari tebalnya dan dengan demikian, partikel akan mudah untuk diarahkan. Nilai perbandingan yang lebih tinggi berarti partikel lebih langsing. Perbandingan yang kedua adalah aspect ratio yaitu perbandingan antara panjang partikel dengan lebarnya. Nilai perbandingannya satu berarti partikelnya persegi empat dengan demikian tidak dapat diarahkan. Aspect ratio minimal bernilai tiga agar diperoleh arah yang cukup baik (Maloney 1993).
Dari hasil penelitian Nishimura et al. (2004) luasan strands yang besar dengan aspect ratio yang tinggi menghasilkan OSB dengan orientasi strands dan sifat mekanis yang optimum. Youngquist (1999) menyarankan agar menghasilkan OSB dengan kekuatan lengkung (bending) dan kekakuan yang lebih besar, maka strands kayu yang dibuat harus memiliki aspect ratio paling sedikit tiga.
Pada umumnya bahan berlignoselulosa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan OSB, kayu yang memiliki berat jenis 0,35-0,65 lebih disukai dan disarankan (Tambunan, 2000). Menurut Caesar (1997), OSB dapat diproduksi dengan menggunakan kayu berkerapatan rendah yang berkisar 350-700 kg/m3. Kayu yang mempunyai kerapatan kurang dari 350 kg/m3 tidak cukup hanya dimampatkan untuk mendapatkan kekuatan yang baik, sedangkan kerapatan papan yang sangat tinggi dapat menyebabkan blow, karena uap pada bagian uap air bagian dalam papan yang dihasilkan selama proses pengempaan tidak dapat dilepaskan.
OSB telah dikembangkan secara luas untuk bahan konstruksi perumahan dan bangunan komersial utamanya adalah untuk keperluan dinding, atap dan lantai pada bangunan rumah tinggal (Lowood 1997). OSB dapat digunakan untuk komponen rumah dari lantai yang paling dasar hingga ke bagian atasnya seperti dinding, panel atap, sub-lantai, lantai berlapis tunggal, pelapis, panel insulasi struktural, papan sisi dan lantai joint (Youngquist 1999).
7
Perekat Isocyanate
Perekat tahan air seperti phenol formaldehyde (PF), isocyanate dan melamin urea formaldehyde (MUF) dapat digunakan sebagai perekat pada pembuatan OSB karena umumnya aplikasi OSB untuk bangunan dan penggunaan exterior (Caesar 1997). Tipe dan jumlah resin perekat yang dipakai akan berpengaruh terhadap kualitas OSB yang diproduksi. Perekat yang umum digunakan dalam produksi OSB adalah resin PF dan Metane diisocyanate (MDI) (SBA 2005).
Perekat berbasis isocyanate memainkan peran yang relatif kecil dari jumlah total perekat yang digunakan di dunia, akan tetapi isocyanate serbaguna karena dapat diaplikasikan pada kempa panas maupun kempa dingin (Weaver dan Owen 1992). Perekat isocyanate telah menarik perhatian yang luas dalam pembuatan kayu komposit. Hal tersebut disebabkan oleh reaktifitas yang tinggi, kekuatan ikatan yang tinggi, daya tahan yang tinggi, serta merupakan perekat yang tidak berbasis formaldehida (Kawai et al. 1998).
Polymeric methylene diphenyl diisocyanat (pMDI) dikembangkan sebagai perekat kayu dengan kekuatan yang tinggi dan tahan lama. Perekat ini sekarang digunakan secara luas dalam pembuatan produk komposit (Vick 1999).
Perekat isocyanate tersebut berbasis pada reaktifitas yang tinggi dari radikal isocyanate, -N = C = O. Ikatan dengan polaritas yang kuat dari senyawa yang membawa radikal ini tidak hanya mempunyai potensi daya rekat yang baik tetapi juga potensial untuk membentuk ikatan kovalen dengan substrat yang mempunyai gugus hidrogen reaktif. Jika molekul memuat 2 radikal isocyanate seperti dalam diisocyanate, kombinasi perekat akan memiliki kemampuan untuk membentuk ikatan kohesi melalui polimerisasi. Reaksi bifungsional isocyanate dengan bifungsional alkohol menghasilkan molekul-molekul linear, dimana molekul-molekul tri- dan tetrafungsional memungkinkan terjadinya ikatan silang. Sifat material ini dapat bervariasi dengan kisaran yang luas dari elastomer ke rigid, yang memungkinkannya untuk dibuat berbagai macam produk (Marra 1992).
Ikatan kayu dengan isocyanate tidak sama dengan resin PF dan UF. Kebanyakan resin kayu konvensional mengalir pada permukaan kayu yang kasar dan mengeras. Segera setelah mengeras, dia akan melekat secara mekanis dan mengeras untuk menarik permukaan kayu yang lebih luas. Ini serupa dengan velcro (bahan untuk fastening pakaian, yaitu terdiri dari 2 strip nilon, satu kasar dan satunya halus dimana akan melekat satu sama lain ketika dikempa bersama- sama) dimana terjadi adhesi tetapi tidak ada interaksi kimia. Tipe adhesi demikian disebut adhesi mekanik. Pada isocyanate disamping terjadi adhesi mekanik, juga terjadi ikatan kimia. Secara kimia isocyanate bereaksi dengan hydroxyl group yang terdapat dalam kayu membentuk ikatan poliuretan diantara partikel kayu. Secara fisik, isocyanate bereaksi dengan air yang terdapat dalam kayu membentuk lem (glue) poliurea yang membentuk ikatan fisik dengan partikel kayu (Galbraith and Newman 1992).
Gugus hydroxyl pada kayu berikatan secara kimia dengan sistem ikatan yang menghasilkan ikatan yang sangat baik. Ikatan tersebut tahan terhadap air, cairan asam, dan liquors (Maloney 1993).
Massijaya (1997) menyatakan bahwa kadar perekat yang umum digunakan untuk perekat isocyanate sekitar 4%, namun demikian berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya pada pembuatan papan partikel limbah kertas koran, kadar perekat 2% menghasilkan keteguhan lentur yang lebih besar dari perekat urea formaldehida dan phenol formaldehida dengan kadar 10%. Fenomena ini disebabkan oleh perbedaan mekanisme ikatan antara PF dan UF dengan isocyanate. PF dan UF berikatan secara mekanik dengan partikel kertas koran sementara pada perekat isocyanate, disamping terjadi ikatan secara mekanis juga terjadi ikatan secara kimia.
Menurut Marra (1992) keuntungan menggunakan perekat isocyanate dibandingkan dengan perekat lain adalah dibutuhkan dalam jumlah sedikit saja untuk memproduksi papan dengan kekuatan yang sama, dapat menggunakan suhu yang lebih rendah, memungkinkan penggunaan kempa yang lebih cepat, lebih toleran pada partikel berkadar air tinggi, energi untuk pengeringan lebih sedikit dibutuhkan, stabilitas dimensi papan yang dihasilkan lebih stabil dan tidak ada
9
emisi formaldehida. Kelemahannya hanyalah harganya yang relatif mahal dibandingkan perekat sintesis lainnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Brochmann et al. (2004) tentang pengaruh jenis resin dan tebal flake terhadap sifat OSB menunjukkan bahwa kombinasi perekat PF sebagai perekat face dan back serta isocyanate sebagai perekat core menghasilkan stabilitas dimensi terbaik. Hal ini terjadi karena persentase resin solid yang rendah pada PF dapat memplastisasi permukaan strands yang memperbaiki ikatan permukaan dan sedikit meningkatkan sifat hidrophobik.
Penelitian Wang et al. (2005) mengenai pengaruh kombinasi MDI dan PF bubuk terhadap performa OSB menunjukkan bahwa sistem bider dengan kombinasi MDI dan MDI/PF bubuk (50:50) lebih toleran terhadap variasi kadar air dibandingkan PF bubuk saja.
Penelitian yang dilakukan oleh McElart (1992) dalam Nuryawan dan Massijaya (2006) melaporkan bahwa MDI berpotensi dapat memaksimalkan sifat fisis penampilan panel OSB, mengefisienkan proses, dan menguntungkan dalam hal : 1) lebih cepat pengempaannya karena lebih cepat matang (curing) dan terikat (bonding), 2) memperbaiki penampilan fisik papan, 3) biaya produksi (energi) lebih rendah, 4) mengurangi emisi VOC (volatile organic compound) selama pengeringan dan pengempaan, dan 5) tidak mengandung formaldehida.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Nuryawan (2007) tentang sifat fisis dan mekanis OSB dari kayu Akasia, Ekaliptus,dan Gmelina berdiameter kecil menunjukkan bahwa penggunaan PF cair dan PF bubuk pada bagian face dan back serta isocyanate pada bagian core meningkatkan sifat fisis (stabilitas dimensi) OSB, namun akan menurunkan sifat mekanis (kemampuan menahan beban) jika dibandingkan dengan menggunakan PF bubuk saja atau PF cair saja.
Bambu
Bambu telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan seperti perabot rumah tangga, bahan bangunan, kerajinan tangan bahkan makanan. Menurut Wijaya et al. (2004), bambu memiliki keanekaragam jenis di dunia sekitar 1250 – 1500 jenis sedangkan Indonesia memiliki sekitar 154 jenis bambu.
Bambu pada umumnya hidup mengelompok membentuk suatu rumpun yang rapat. Batang terdiri atas ruas-ruas berongga yang menyerupai tabung dengan diameter 2-30 cm dan panjangnya mencapai 3-15 m. Batang ini umumnya berongga dan terbagi atas internode yang dibatasi oleh buku (node) dan rongga antar buku yang dipisahkan oleh diafragma. Panjang, garis tengah, dan ketebalan dinding dari bambu tergantung dari umur bambu (Sastrapradja 1980).
Menurut Janssen (1980), bambu memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan jika digunakan sebagai bahan bangunan. Kelebihan bambu antara lain a) pertumbuhannya sangat cepat, dapat diolah dan ditanam dengan cepat sehingga dapat memberikan keuntungan secara kontinyu, b) memiliki sifat mekanis yang baik, c) hanya memerlukan alat yang sederhana, d) kulit luar yang mengandung silika yang dapat melindungi bambu. Sedangkan kelemahannya antara lain a) keawetan bambu relatif rendah sehingga memerlukan upaya pengawetan, b) Bentuk bambu yang tidak benar-benar silinder melainkan taper, c) sangat rentan terhadap resiko api, d) bentuknya silinder sehingga menyulitkan proses penyambungan.
Bambu sebagai bahan baku dapat berbentuk buluh utuh, buluh belahan, bilah dan partikel. Bahan ini digunakan untuk komponen kolom, kuda-kuda, kaso, reng, rangka, jendela/pintu dan balok lamina. Semua komponen bangunan yang biasanya dari kayu dapat dibuat dari bambu. Jenis-jenis bambu yang biasa digunakan untuk bahan bangunan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper (Schult.f.) Backer ex Heyne), bambu andong/gombong, (Gigantochloa pseudoarundunaceae), bambu ater (Gigantochloa atter), bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae) dan bambu tali (Gigantochloa apus) (Surjokusumo 1997).
Bambu betung memiliki tinggi mencapai 20-30 m (batang berbuluh tebal dan tebal dinding batang 11-36 mm) diameter batang 8-20 cm (jarak buku 10-20 cm dari bagian bawah dan 30-50 cm di bagian atas), warna batang coklat tua. Bambu ini tumbuh mulai dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dan tumbuh di semua jenis tanah tetapi paling baik di tanah berdrainase baik. Batangnya digunakan untuk bahan bangunan (perumahan dan jembatan), peralatan masak, bahkan juga untuk penampungan (PT. Bambu Nusantara 2003).
11
Batang bambu betung baik untuk furniture dan industry chopstick. Batang bambu betung sangat tebal dan kuat sehingga sering dipakai sebagai bahan bangunan atau jembatan (Dransfield dan Widjaja 1995). Menurut Surjokusumo (1994) bambu betung dan sembilang memiliki sifat fisis mekanis yang lebih baik dari pada jenis bambu lainnya sehingga potensial untuk dikembangkan menjadi komponen struktural maupun sebagai bahan bangunan.
Selain untuk bahan bangunan, batangnya sering dipakai untuk tempat mengambil air, saluran air di desa-desa, penampungan air aren yang disadap,dan untuk pipa penyulingan air aren menjadi saguer atau sopi. Selain itu buluhnya juga dipakai untuk membuat dinding rumah yang dianyam atau dibelah. Baik juga untuk bahan anyaman misalnya keranjang dan tempat makanan atau tempat beras (Sastrapradja 1980).
Batang bambu terdiri atas sekitar 50% parenkim, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes). Parenkim dan sel penghubung lebih banyak ditemukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Sedangkan susunan serat pada ruas penghubung antar buku memiliki kecenderungan bertambah besar dari bawah ke atas sementara parenkimnya berkurang. Sifat anatomi dari batang bambu betung yaitu panjang serat 2,78 mm, diameter 19 µm, diameter lumen 7 µm, tebal dinding seratnya 6 µm (Dransfield dan Widjaja 1995).
Penelitian terhadap sifat fisis dan mekanis bambu betung yang dilakukan oleh Hadjib dan Karnasudirdja (1986) dalam Krisdianto et al. (2005) menunjukkan bahwa bambu betung memiliki keteguhan lentur maksimum 342,47 kg/cm2, modulus elastisitas 53173 kg/cm2, keteguhan tekan sejajar serat 416,57 kg/cm2, dan berat jenis 0,68. Hasil penelitian terhadap sifat kimia bambu betung yang dilakukan oleh Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988) dalam Krisdianto et al. 2005 menunjukkan bahwa bambu betung memiliki kadar selulosa 52,9%, lignin 24,8%, pentosan 18,8%, kadar abu 2,63%, silika 0,20% serta kelarutan dalam air dingin 4,5%, air panas 6,1%, alkohol benzen 0,9% dan NaOH 1% sebesar 22,23%.
Bambu memiliki keawetan yang sangat rendah, mudah diserang mikroorganisme dan serangga sehingga untuk penggunaan jangka panjang orang
tidak memilih bambu. Tanpa pengawetan, di tempat terbuka bambu hanya dapat digunakan 1 – 3 tahun, apabila dibawah naungan/terlindung 4 – 7 tahun, dan pada kondisi ideal dapat digunakan 10 – 15 tahun, apabila dengan pengawetan dapat digunakan lebih dari 15 tahun (Liese, 1980 dalam Morisco 2005)
Gambar 1. Batang bambu betung di Kebun Raya Bogor
Dalam penggunaannya di masyarakat, bahan bambu kadang-kadang menemui beberapa keterbatasan. Seperti ketidakawetan bahan bambu yang menjadikan bambu tidak dipilih sebagai bahan komponen rumah. Sering ditemui barang-barang yang berasal dari bambu yang dikuliti khususnya dalam keadaan basah mudah diserang oleh jamur biru dan bulukan sedangkan bambu bulat utuh dalam keadaan kering dapat diserang oleh serangga bubuk kering dan rayap kayu kering (Krisdianto et al. 2005).
Biodeteriorasi oleh Rayap
Rayap merupakan serangga pemakan kayu (xylophagus) atau bahan-bahan yang terutama terdiri dari sellulosa. Pada keadaan yang luar biasa rayap juga bersifat kanibal di dalam koloninya tetapi ia bukan predator. Secara umum sumber makanan rayap dikelompokkan ke dalam dua tipe yaitu : 1) sumber makanan
13
mentah (crude nutrient) dan 2) sumber makanan yang berasal dari kasta pekerja (Nandika et al. 2003).
Rayap membutuhkan empat komponen esensial untuk dapat bertahan hidup dan berkembang yaitu : makanan, udara, kadar air, dan temperatur yang sesuai. Dalam konteks tersebut, kayu berfungsi sebagai sumber makanan bagi rayap. Aktifitas rayap merupakan fungsi dari temperatur dimana kondisi yang hangat lebih disukai (Becker 1993).
Rayap adalah serangga sosial, yang hidup dalam suatu komunitas yang disebut koloni. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama bila tidak berada dalam koloninya (Nandika et al. 2003). Di dalam setiap koloni rayap terdapat tiga kasta yang memiliki bentuk yang berbeda sesuai dengan fungsinya masing-masing yaitu kasta pekerja, kasta prajurit dan kasta reproduktif. Kasta pekerja bertugas membangun sarang, mengumpulkan makanan dan memberi makan kasta reproduktif dan prajuritnya. Kasta pekerja melakukan seluruh pekerjaan dalam koloni dan yang paling bertanggung jawab dalam kerusakan terhadap struktur bangunan. Kasta prajurit hanya mempertahankan koloni melawan gangguan dari luar (Yusuf dan Utomo 2006).
Kofoid et al. (1934) dalam Hunt and Garrat (1986) mengemukakan bahwa rayap menyerang kayu dengan tujuan ganda, yaitu untuk mendapatkan perlindungan dan menjamin kebutuhan makannya bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk hidupnya, rayap ini bergantung terutama pada selulosa, yang bersama dengan lignin membentuk dinding sel, atau zat kayu sebenarnya. Tetapi beberapa spesies rayap tidak dapat menggunakan bahan tersebut secara langsung dan remukan kayu yang dimakannya sebenarnya dicerna oleh ribuan protozoa di dalam ususnya. Lebih lanjut ditegaskan oleh Nandika et al. (2003) bahwa protozoa flagelata berperan sebagai simbion untuk menguraikan selulosa sehingga rayap mampu mencernanya. Rayap memberikan perlindungan berupa tempat yang anaerob dan makanan bagi organisme simbion. Di pihak lain organism simbion menyumbangkan enzim selulosa untuk pencernaan selulosa yang masuk ke dalam saluran pencernaan rayap. Rayap juga memanfaatkan hasil akhir dari metabolisme selulosa yang berupa asam asetat dan menggunakannya sebagai salah satu energi.
Gambar 2. Rayap kasta pekerja (a); kasta prajurit (b); kasta reproduktif (c) Rayap memainkan peran yang penting dalam siklus ekologi. Mereka memakan selulosa yang terkandung dalam kayu, dan membantu merombak pohon yang telah mati dalam hutan atau di areal lain sehingga menyuburkan tanah. Rayap mulai menyerang rumah ketika suatu lahan dibersihkan untuk konstruksi bangunan dan tidak terdapat sumber makanan lain yang tersedia di sekitarnya (Becker 1993). Nandika et al. (2003) menyatakan bahwa serangan rayap pada bangunan yang ada di Indonesia menimbulkan kerugian sekitar Rp. 1,67 trilyun pada tahun 1995. Jumlah tersebut meningkat berturut-turut menjadi Rp. 2,52 triliyun dan Rp. 2,80 trilyun pada tahun 1999 dan 2000.
Menurut Yusuf dan Utomo (2006) dari seluruh jenis rayap yang sudah dikenal yaitu kurang lebih sekitar 2000 jenis yang terbagi dalam 7 famili, 15 sub famili dan 200 genus, tidak semuanya bertindak sebagai hama perusak. Yang merupakan perusak hanya sekitar 100 jenis, yang masuk dalam kategori jenis rayap perusak ganas ada sekitar 47 jenis yaitu 6 jenis dari famili Kalotermitidae (rayap kayu kering); dari famili Rhinotermitidae (rayap kayu basah) ada 25 jenis; 1 jenis dari famili Mastotermitidae dan 15 jenis dari famili Termitidae (rayap tanah) Komponen kayu pada bangunan yang dipasang kurang dari 15 cm di atas lantai merupakan bagian pertama yang biasanya diserang oleh rayap Coptotermes curvignathus (Rhinotermitidae). Lewat lubang kecil pada kayulah rayap ini masuk ke dalam kayu sampai bagian tengah, memanjang searah dengan serat kayu. Ada yang unik dari cara atau perilaku penyerangan rayap perusak jenis ini yaitu bagian atau lapisan luar dari kayu yang diserang tidak mereka rusak/ganggu. Sebab bagian luar kayu tersebut mereka perlukan sebagai pelindung dari predator atau pemangsa
15
maupun untuk menghindari cahaya langsung (dikenal dengan sifat kriptobiotik yakni sifat cenderung menyembunyikan diri dan tidak menyenangi cahaya secara langsung) (Yusuf dan Utomo 2006).
C. curvignathus mampu menyerang suatu bangunan melalui berbagai cara yaitu, (a) melalui lubang atau retakan kecil pada pondasi, celah-celah dinding dari semen/beton, lantai ubin/keramik, tiang-tiang, pipa-pipa saluran air maupun kabel (b) lewat bagian bangunan dari kayu yang berhubungan dengan tanah (c) rayap menembus penghalang fisik seperti plat logam, plastik dan lain-lain. Jenis ini merupakan rayap perusak dengan tingkat serangan paling ganas. Tidak mengherankan mereka mampu menyerang sampai ke lantai atas suatu bangunan bertingkat. Walaupun tidak ada hubungan dengan tanah secara langsung, asal saja sarang rayap sesekali memperoleh kelembaban misalnya lewat tetesan-tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor atau saluran air dekat instalasi pendingin ruangan, rayap perusak ini akan memperluas serangannya dengan membuat sarang yang cukup lembab. Sebab, rayap perusak ini merupakan jenis rayap yang memerlukan air dan tanah (kelembaban yang cukup sebagai kebutuhan mutlak koloninya) (Yusuf dan Utomo 2006).
Jenis rayap perusak lainnya adalah Cryptotermes cynocephalus (rayap kayu kering) dari famili Kalotermitidae. Cara penyerangan rayap ini berbeda dengan rayap tanah. Serangan kayu kering ini tidak mudah dideteksi sebab hidupnya terisolir di dalam kayu yang berfungsi sebagai sarangnya. Sering terlihat secara kasat mata bahwa kayu terlihat masih utuh dan mulus, namun apabila kita tekan/ketuk permukaannya maka kayu akan pecah sebab telah keropos di dalamnya (Sigit dan Hadi 2006). Rayap kayu kering umum terdapat di rumah- rumah dan perabot-perabot seperti meja dan kursi. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering (Tarumingkeng 2001)
Rayap kayu kering mampu menyerang melalui beberapa cara antara lain (a) kayu yang diserang lebih dulu telah terserang oleh rayap lain dan letaknya berdekatan (b) lewat laron (kasta reproduktif) yang terbang keluar dari sarangnya dan hinggap di kayu yang tidak terlindungi dimana mereka akan menetap dan
berkembangbiak di situ guna membangun koloni baru. Walaupun mereka menyerang komponen-komponen kayu pada bangunan, namun yang unik rayap kayu kering tidak menyerang barang berlignoselulosa lainnya seperti arsip-arsip, buku, lukisan dan lain-lain (Yusuf dan Utomo 2006).
Jenis rayap tanah di Indonesia berasal dari famili Termitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M. gilvus) Odontotermes spp. dan Microtermes spp. Jenis-jenis rayap ini sangat ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya, mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya (Tarumingkeng 2001).
Perilaku Coptotermes mirip dengan Macrotermes, namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh pelembab, misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani pelayaran Palembang-Jakarta. Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak menyebabkan kerugian pada bangunan (Tarumingkeng 2001).