• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Tinjauan Pustaka

Bernando dan Ambarita (2014) telah melakukan penelitian tentang unjuk kerja mesin pengering pakaian dengan menggunakan AC ruangan. Mesin pengering ini menggunakan AC ruangan berdaya 1 PK. Mesin pengering pakaian ini dalam bekerjanya menggunakan siklus kompresi uap. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi usaha loundry dan pada penggunaan efisiensi energi listrik dapat diaplikasikan untuk skala kecil maupun besar. Komponen mesin pengering terdiri dari : kompresor, evaporator, kondensor, dan pipa kapiler. Fluida (2.9)

(2.10)

kerja yang digunakan adalah refrigeran HCFC-22. Jenis kompresor yang digunakan adalah kompresor sudu luncur. Hasil penelitian menunjukkan COP sebesar 5,093 dengan daya kompresor 1,03 kW. Juga diperoleh fraksi uap sebesar 0,008, dengan kecepatan refrigerant yang mengalir pada pipa kapiler sebesar 10,989 m/dt. Dengan faktor gesek sebesar 0,0186 dimana diperoleh panjang pipa kapiler sebesar 0,0366 meter.

Wibowo Kusbandono, PK Purwadi (2016) telah melakukan penelitian tentang pengaruh adanya kipas yang mengalirkan udara melintasi kondensor terhadap COP dan efisiensi mesin pendingin showcase, menjelaskan tentang pengaruh aliran udara melalui atau di seluruh kondensor terhadap karakteristik rendaman pendinginan. Aliran udara melintasi kondensor dalam penelitian ini dilakukan oleh kipas yang terpasang di dekat kondensor. Karakteristik pendinginan yang diperiksa meliputi Coefficien of Performance (COP) dan efisiensi. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pendinginan showcase dengan menggunakan siklus kompresi uap. Siklus kompresi uap, memiliki komponen utama: kompresor, evaporator, tabung kapiler dan kondensor. Komponen lainnya adalah memasang filter dan kontrol suhu alat di dalam ruang dingin. Kompresor dari showcase yang digunakan memiliki kekuatan 1/6 PK, sementara ukuran komponen utama lainnya menyesuaikan dengan jumlah daya kompresor. Refrigeran R134a yang digunakan adalah ramah lingkungan. Variasi penelitian dilakukan terhadap jumlah penggemar yang bekerja yang digunakan dalam aliran udara kondensor yang melewati: (a) tanpa kipas kipas (b) 1 bekerja dan (c) 2 kipas bekerja. Penggemar aliran udara sejuk yang digunakan masing-masing memiliki tenaga: 63 watt. Ukuran ruang pamer: 170 cm x 55 cm x 40 cm. Beban pendinginan berupa 20 botol air dengan volume per 1 liter sebotol air. Hasil penelitian: aliran udara yang melewati efek kondensor pada nilai COP dan efisiensi mesin menunjukkan: (1) ke kondensor tanpa kipas angin, nilai COP 3,23 dan efisiensi 0,76 (2) pada kondensor dengan 1 kipas angin, nilai COP 3,56 dan efisiensi 0,77 dan (3) ke kondensor dengan 2 kipas angin, nilai COP 3,80 dan efisiensi 0,81

Kurniandy Wijaya, PK Purwadi (2016) telah melakukan penelitian tentang mesin pengering handuk dengan energi listrik, menjelaskan tentang : (a) merancang

dan merakit mesin pengering handuk dengan energi listrik dan (b) mengetahui waktu yang diperlukan mesin pengering untuk mengeringkan 20 handuk secara serentak. Mesin pengering handuk yang dirakit mempergunakan mesin yang bekerja dengan siklus kompresi-uap. Komponen utama siklus kompresi-uap meliputi: kompresor, evaporator, kondensor dan pipa-kapiler. Kompresor rotari yang dipergunakan memiliki daya sebesar ½ HP. Komponen utama yang lain, ukurannya menyesuaikan dengan besarnya daya kompresor yang dipergunakan.

Fluida kerja yang dipergunakan pada mesin siklus kompresi-uap: R134a. Selain mempergunakan mesin siklus kompresi-uap, mesin pengering juga mempergunakan satu buah alat penukar kalor. Mesin pengering bekerja dengan menggunakan sistem-terbuka. Variasi penelitian dilakukan terhadap kondisi awal handuk yang akan dikeringkan: (a) hasil perasan tangan dan (b) hasil perasan mesin-cuci. Handuk terbuat dari katun, dengan ukuran 30 cm x 75 cm x 1,4 mm.

Jumlah handuk yang dikeringkan sebanyak 20 sekaligus. Ukuran ruang pengering handuk : 150 cm x 90 cm x 156 cm.Hasil penelitian menunjukkan (a) mesin pengering handuk dapat bekerja dengan baik, dengan kondisi udara rata-rata di dalam ruang pengering memiliki suhu udara bola-kering (Tdb): 53,7 oC, suhu udara bola-basah(Twb): 28 oC, dan kelembaban relative udara (RH) sekitar: 13%. (b) Untuk 20 handuk dengan kondisi awal hasil perasan tangan, memerlukan waktu pengeringan 165 menit, dengan massa awal handuk basah 4,833 kg sampai menjadi massa handuk kering 1,779 kg. (2) untuk handuk dengan kondisi awal hasil perasan mesin cuci, memerlukan waktu pengeringan 45 menit untuk 20 handuk, dengan massa awal handuk basah 2,575 kg sampai menjadi massa handuk kering 1,777 kg.

Arif Kurniawan (2016) telah melakukan penelitian tentang studi eksperimen pemanfaatan panas buang kondensor untuk pemanas air, menjelaskan tentang pengaruh penggunaan 3 variasi ukuran diameter pipa kondensor terhadap performa atau koefisien prestasi (COP) pada suatu mesin pendingin. Metode penelitian menggunakan studi eksperimen dengan parameter yang diuji adalah temperatur (T) dan tekanan (P) pada mesin pendingin yang diukur pada saat pipa kondensor dikenai pembebanan air. Variabel eksperimen adalah air pada pembebanan pipa kondensor dan diameter pipa kondensor (D). Hasil analisa data penelitian

menunjukkan COP mesin pendingin semakin naik dengan bertambahnya ukuran diameter dan pembebanan air pada pipa kondensor, yang nilainya masing-masing:

(1) D=0,00318 m, beban air 0 L, COP=1,96; beban air 0,6 L, COP=2,26; beban air 1,8 L, COP=2,28; beban air 3 L, COP=2,33; (2) D=0,00476 m, beban air 0 L, COP=2,18; beban air 0,6 L, COP=2,29; beban air 1,8 L, COP=2,38; beban air 3 L, COP= 2,46; (3) D=0,00635 m, beban air 0 L, COP=2,48; beban air 0,6 L, COP=2,56; beban air 1,8 L, COP=2,67; beban air 3 L, COP=2,74. Dari hasil penelitian ini dapat membuktikan dan menunjukkan hasil yang signifikan bahwa adanya pengaruh penggunaan diameter pipa kondensor dan pembebanan air terhadap performa mesin pendingin, yaitu adanya kenaikan nilai COP mesin pendingin

Handayani dkk (2014) telah melakukan penelitian tentang unjuk kerja mesin pengering jahe dengan menggunakan AC split dengan daya 1 PK. Mesin pengering ini dalam bekerjanya menggunakan siklus kompresi uap sistem terbuka dengan ditambah heater. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi suhu dan kelembaban udara, kapasitas dan kemampuan pengeringan. Komponen mesin pengering terdiri dari : kompresor, evaporator, kondensor, katup ekspansi dan heater. Fluida kerja yang digunakan adalah refrigerant R22. Ruang pengeringan berbentuk kotak dan memiliki 3 susun rak, masing masing rak berukuran 50 cm x 50 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peralatan mampu menghasilkan udara dengan temperatur udara masuk ruang pengering 60oC dan RH hingga 0% serta menurunkan kadar air dari 36% hingga menjadi 0,1% dalam waktu 7 jam.

30

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Alat penelitian menggunakan mesin pengering briket yang memiliki ukuran 120 cm x 120 cm x 135 cm dengan benda uji briket berbentuk kubus dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm. Berat briket untuk sekali pengeringan sekitar 50 kg.

Gambar 3.1 adalah skematik mesin pengering briket yang dijadikan objek penelitian.

Gambar 3.1 Skematik mesin pengering briket

Keterangan Gambar 3.1 a. Evaporator

b. Kompresor c. Kondensor d. Pipa kapiler e. Kipas

f. Selang water output g. Penampung air h. Briket

i. Filter

Gambar 3.2 Briket yang dikeringkan

Bahan utama untuk pembuatan briket adalah arang dari batok kelapa, arang kayu, tepung kanji dan abu, dengan komposisi arang batok kelapa 70%, arang kayu 20%, tepung kanji 5% dan abu 5%. Abu yang digunakan adalah abu hasil residu dari mesin crusher batok kelapa atau kayu, yang berguna untuk menambah massa briket. Briket yang dijadikan objek penelitian ini memiliki bentuk kubus dengan dimensi ukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm. Volume briket sebesar 15,625 cm3dengan berat per briket 19 gram. Berat per briket didapat dari total briket dalam 1 kali penelitian sebanyak sekitar 50 kg, dibagi dengan jumlah briket sebanyak 2631 buah.

Satu buah briket memiliki massa jenis sebesar 1216 kg/m3. Jumlah rak yang diperlukan saat proses pengeringan briket adalah 10 buah rak, dengan ketentuan 1

rak briket untuk menampung 5 kg briket. Rata-rata massa awal briket basah saat proses penelitian adalah sekitar 50 kg dan massa akhir briket kering adalah sekitar 44,2 kg. Susunan briket saat dikeringkan adalah dengan cara menyusun rak secara vertikal seperti yang terlihat pada Gambar 3.4 berikut ini.

Gambar 3.3 Susunan briket yang dikeringkan

3.2 Pembuatan Mesin dan Alat Pendukung Penelitian 3.2.1 Pembuatan Mesin

3.2.1.1 Alat

Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan lemari mesin pengering briket, antara lain :

a. Gerinda potong

Gerinda potong digunakan untuk memotong besi hollow dan siku pada proses pembuatan kerangka lemari pengering.

Gambar 3.4 Gerinda potong

b. Mesin las listrik

Mesin las listrik digunakan dalam pembuatan rangka lemari pengering.

Dengan memakai proses pengelasan untuk penyambungan besi, diharapkan rangka yang dibuat akan memiliki kontrsuksi yang kuat dan tahan lama.

Gambar 3.5 Mesin las listrik c. Palu las

Palu las digunakan untuk membersihkan lapisan-lapisan yang melindungi sambungan las. Lapisan tersebut berfungsi untuk melindungi ketika pengelasan tidak terkena oksigen, sehingga sambungan las tidak mudah korosi.

Gambar 3.6 Palu las d. Kaca mata las

Kaca mata las digunakan untuk melindungi mata agar tidak terkena langsung oleh cahaya dan asap yang ditimbulkan ketika proses pengelasan.

Gambar 3.7 Kaca mata las e. Kuas cat

Alat pengecat kerangka digunakan untuk memberi cat yang bertujuan untuk melapisi kerangka agar tidak mudah korosi.

Gambar 3.8 Kuas cat f. Tang jepit

Tang digunakan untuk mencabut paku yang bengkok pada saat membuat pintu lemari pengering.

Gambar 3.9 Tang jepit

g. Obeng

Obeng digunakan untuk memasang dan mengencangkan baut. Obeng yang digunakan adalah obeng plus (+).

Gambar 3.10 Obeng h. Pisau cutter

Pisau cutter digunakan untuk memotong gabus yang digunakan untuk membuat saluran masuk udara dari ruang pengering ke evaporator.

Gambar 3.11 Pisau cutter i. Double tape

Double tape digunakan sebagai perekat gabus dengan gabus dan gabus dengan evaporator.

Gambar 3.12 Double tape

j. Plester kertas

Plester kerats digunakan untuk memperkuat dan menutupi sela-sela lubang saluran masuk udara ke evaporator agar kuat dan rapat.

Gambar 3.13 Plester kertas k. Mesin gergaji triplek

Gergaji triplek digunakan untuk memotong triplek yang akan digunakan untuk membuat lemari mesin dan pintu lemari.

Gambar 3.14 Mesin gergaji triplek l. Gergaji besi

Gergaji besi digunakan untuk melubangi triplek sebagai tempat alat ukur hygrometer.

Gambar 3.15 Gergaji besi

m. Meteran

Meteran digunakan untuk mengukur panjang suatu benda. Dalam proses pembuatan mesin pengering briket meteran digunakan mengukur panjang besi hollow, besi siku, tripek dan kayu.

Gambar 3.16 Meteran n. Pensil

Pensil digunakan untuk menandai pada besi, triplek dan kayu ketika bahan tersebut akan dipotong.

Gambar 3.17 Pensil o. Bor listrik

Bor listrik digunakan untuk membuat lubang pada besi dan triplek untuk sebagai lubang penanaman baut. Sehingga triplek dapat terpasang pada kerangka mesin. Bor listrik juga digunakan untuk melubangi triplek ketika akan membuat lubang tempat alat ukur hygrometer.

Gambar 3.18 Bor listrik

p. Amplas

Amplas digunakan untuk menghaluskan triplek setelah dipotong dengan gergaji.

Gambar 3.19 Amplas q. Palu

Palu digunakan untuk memukul paku pada proses pembuatan pintu lemari pengering.

Gambar 3.20 Palu 3.2.1.2 Bahan

a. Evaporator

Evaporator merupakan unit yang berfungsi untuk menguapkan refrigeran dari fase cair dan gas menjadi gas sepenuhnya sebelum masuk ke kompresor.

Evaporator yang digunakan memiliki spesifikasi panjang 65 cm, lebar 16 cm dan tinggi 23,5 cm. Evaporator ini berjenis pipa bersirip, pipa berbahan alumunium dengan diameter pipa 6,20 mm dan jarak antar pipa 13 mm. Bahan sirip adalah alumunium dengan jarak antar sirip 1 mm. Evaporator ini cocok digunakan dengan daya kompresor 1 PK.

Gambar 3.21 Evaporator b. Kondensor

Kondensor merupakan suatu alat penukar kalor yang berfungsi mengkondisikan refrigeran dari fase uap panas lanjut menjadi fase cair. Agar dapat berubah fase dari uap menjadi cair diperlukan suhu di sekitar ruang pengering lebih rendah dari suhu refrigeran sehingga dapat terjadi pelepasan kalor di sekitar kondensor. Kondensor yang digunakan ini memiliki panjang 68 cm, lebar 25 cm dan tinggi 42 cm. Kondensor ini berjenis pipa bersirip, pipa berbahan alumunium dengan diameter pipa 6 mm dan jarak antar pipa 13 mm. Bahan sirip adalah alumunium dengan jarak antar sirip 1 mm. Dari hasil pengukuran didapat jarak pipa evaporator sampai ke kondensor adalah 102 cm. Kondensor ini dapat bekerja sama dengan kompresor yang memiliki daya 1 PK.

Gambar 3.22 Kondensor

c. Kompresor

Kompresor merupakan alat yang berfungsi untuk menaikkan tekanan refrigeran dan mensirkulasikan refrigeran ke komponen siklus kompresi uap yang lainnya melalui pipa-pipa dengan cara menghisap dan memompa refrigeran.

Kompresor yang digunakan pada penelitian ini adalah kompresor jenis rotary, dan menggunakan freon R134a. Kompresor ini memiliki daya sebesar 1 PK.

Gambar 3.23 Kompresor d. Pipa kapiler

Pipa kapiler merupakan alat yang berfungsi untuk menurunkan tekanan refrigeran dari tekanan tinggi ke tekanan rendah sebelum masuk ke evaporator.

Ketika tekanan refrigeran mengalami penurunan maka temperatur refrigeran juga mengalami penurunan. Dari hasil pengukuran, diketahui ukuran diameter pipa kapiler sebesar 0,8 mm. Pipa kapiler ini berbahan tembaga dengan panjang 50 cm.

Gambar 3. 24 Pipa kapiler

e. Kipas

Dalam penelitian ini menggunakan kipas AC outdoor merk Shining sebanyak 1 buah, seperti yang terlihat pada Gambar 3.26. Kipas dengan arus DC ini memiliki daya sebesar 16 watt, dengan diameter sebesar 33 cm dan memiliki 3 buah sudu.

Dengan alat ukur tachometer, diketahui kipas ini memiliki putaran sebesar 1300 rpm.

Gambar 3. 25 Kipas AC outdoor f. Besi hollow dan besi siku

Besi hollow digunakan untuk pembuatan kerangkan lemari pengering sedangkan besi siku digunakan sebagai penguat bagian bawah lemari pengering.

g. Triplek partikel

Triplek partikel digunakan sebagai penutup luar kerangka dan sebagai penutup pintu lemari pengering.

h. Kayu

Kayu digunakan untuk membuat kerangka pintu lemari pengering.

i. Glass wool

Glass wool digunakan untuk menutupi bagian tepi pintu terhadap kerangka lemari pengering agar pintu tertutup dengan rapat.

j. Baut

Baut digunakan merekatkan triplek dengan kerangka lemari pengering dan merekatkan engsel pintu dengan pintu lemari pengering dan engsel pintu dengan kerangka lemari pengering.

k. Paku

Paku digunakan untuk merekatkan antara triplek dengan kerangka pintu lemari pengering.

l. Engsel pintu

Engsel pintu digunakan untuk merekatkan pintu lemari pengering dengan kerangka lemari pengering.

m. Cat

Cat digunakan untuk melapisi kerangka lemari pengering agar tidak mudah korosi.

n. Dempul dan sealler

Dempul dan sealler digunakan untuk menutupi sela-sela sambungan triplek dengan triplek atau triplek dengan kerangka lemari pengering.

o. Engsel kunci

Engsel kunci digunakan mengunci pintu lemari pengering agar tertutup dengan rapat.

p. Gembok

Gembok digunakan untuk mengunci pintu lemari pengering agar tidak mudah dibuka oleh orang yang akan merusak atau mengambil komponen mesin.

3.2.1.3 Pembuatan Mesin Pengering Briket

Langkah - langkah yang dilakukan dalam pembuatan dan pembuatan mesin pengering briket :

a. Merancang bentuk dan ukuran mesin briket.

b. Membuat kerangka mesin.

Gambar 3.26 Kerangka mesin pengering briket c. Penambahan kerangkan penyangga bagian bawah.

d. Pemasangan triplek pada kerangka mesin pengering briket.

Gambar 3.27 Pemasangan triplek pada mesin pengering briket

Gambar 3.28 Pemasangan pintu ruang lemari pengering

Gambar 3.29 Pemasangan pintu ruang mesin pengering e. Penempelan glass wool pada tepi pintu.

Gambar 3.30 Pemasangan glass wool f. Menutup lubang sambungan tripek dengan dempul.

Gambar 3.31 Lubang sambungan triplek

Gambar 3.32 Sambungan triplek sudah rapat

g. Menutup sela-sela triplek pada bagian atap box dengan menggunakan sealler.

h. Membuat lubang udara untuk kondensor dan evaporator.

i. Memasang kondensor dan evaporator.

j. Pemasangan pipa-pipa tembaga pada kondensor dan evaporator.

k. Penyambungan kabel listrik.

l. Membuat lubang untuk kabel listrik mesin pengering.

m. Mengeluarkan udara yang berada di saluran pipa-pipa tembaga.

n. Membuat penutup pada saluran masuk udara dari ruang pengering menuju ke evoprator dengan gabus.

o. Pengetesan pengoperasian mesin pengering.

p. Pembuatan lubang untuk menempatkan higrometer dan lubang untuk jalur kabel listrik kipas.

q. Pemasangan alat ukur higrometer pada lubang yang sudah disiapkan.

3.2.1.4. Alat Pendukung Penelitian

Untuk proses pengambilan data diperlukan alat bantu pada saat proses penelitian sebagai berikut :

a. Pengukur suhu digital dan termokopel

Termokopel berfungsi untuk mengukur perubahan suhu atau temperatur yang terjadi saat pengujian. Cara kerjanya yaitu ujung termokopel diletakkan (ditempelkan atau digantung) pada bagian yang akan diukur, maka suhu akan terbaca pada penampil suhu digital. Jenis termokopel yang digunakan adalah tipe K, dengan rentang suhu -200°C – 1200°C. Dalam pelaksanaan pengujian dilakukan kalibrasi agar mendapatkan data yang akurat.

Gambar 3.33 Penampil suhu digital dan termokopel b. Stopwatch

Stopwatch digunakan untuk mengukur waktu yang dibutuhkan untuk pengujian. Pengambilan data pengujian dilakukan pada selang waktu 60 menit.

Gambar 3.34 Stopwatch digital c. Timbangan digital

Timbangan digital digunakan untuk mengukur berat briket dalam pengujian.

Dalam pelaksanaannya harus dilakukan kalibrasi karena ada tambahan rak.

Gambar 3.35 Timbangan digital

d. Hygrometer

Hygrometer digunakan untuk mengukur kelembaban dan suhu udara pada saat pengujian (suhu udara bola kering dan suhu udara bola basah).

Gambar 3.36 Hygrometer

3.3 Variasi Penelitian

Variasi penelitian dilakukan dengan memvariasikan keberadaan kipas di dalam ruang pengering briket meliputi : (a) tanpa kipas dan (b) 1 kipas. Jumlah briket sebanyak 2631 buah dengan berat total 50 kg. Briket berbentuk kubus dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm. Kipas yang digunakan mempunyai daya sebesar 16 watt.

Gambar 3.37 Kipas

Tidak baik

Baik

Ya

Belum 3.4 Cara Penelitian

3.4.1 Alur Pelaksanaan Penelitian

Alur pelaksanaan penelitian mengikuti alur penelitian seperti diagram aliran yang dapat dilihat pada Gambar 3.38.

Gambar 3. 38 Diagram alur pelaksanaan penelitian Persiapan alat, bahan, komponen

mesin, dan Perancangan mesin

Hasil Penelitian, Pengolahan data, Perhitungan, Pembahasan

Pembuatan Mesin (perakitan, pemvakuman, pengisian Freon)

Pengambilan data Uji Coba

Kesimpulan dan saran

Selesai

Penentuan variasi penelitian (a) tanpa kipas dan (b) ada kipas

Selesai variasi?

Mulai

3.4.2 Skematik Pengambilan Data

Pemasangan alat ukur pada mesin pengering briket dan alur udara di tampilkan pada Gambar 3.39

Gambar 3.39 Skematik pengambilan data

Keterangan Gambar 3.39 Skematik pengambilan data : a. Termometer bola kering (TAdb)

Suhu udara bola kering sebelum masuk ke evaporator.

b. Termometer bola basah (TAwb)

Suhu udara bola basah sebelum masuk ke evaporator.

c. Termokopel (TCe) Suhu kerja evaporator.

d. Termokopel (TBdb)

Suhu udara kering setelah melewati evaporator e. Termokopel (TEc)

Suhu kerja kondensor.

f. Termokopel (TDdb)

Suhu udara kering setelah melewati kondensor.

3.5 Cara Mendapatkan Data

Langkah – langkah yang dilakukan untuk mengambil data pada saat penelitian dilakukan yaitu :

a. Penelitian dilakukan di CV. Citra Gemilang, Klepu 005/039, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta 55563. Perubahan suhu sekitar dan kelembaban diabaikan, karena mesin pengering briket menggunakan siklus tertutup.

b. Mengkalibrasi termokopel, hygrometer, dan timbangan digital sebelum digu-nakan.

c. Meletakkan alat bantu penelitian pada tempat yang sudah ditetapkan.

d. Mencatat berat kosong rak, kemudian catat dan timbang berat briket yang akan diuji.

e. Mencatat massa total briket basah (MTBB) dan massa total briket kering (MTBK).

f. Meletakkan briket di dalam lemari pengering, dan menutup semua pintu lemari pengering dan menghidupkan mesin pengering.

g. Data yang harus dicatat yaitu setiap 60 menit hingga mencapai massa total kering dan massa persatuan briket kering yang dituju. Massa total kering briket (MTBK) 44,22 kg dan massa persatuan briket kering 16,8 gram.

h. Data yang perlu dicatat setiap 60 menit ialah : MTBKt : Berat briket basah saat t

TCe : Suhu kerja evaporator

TBdb : Suhu udara kering setelah melewati evaporator

TEc : Suhu kerja kondensor

TDdb : Suhu udara kering setelah melewati kondensor TAwb : Suhu udara basah sebelum masuk ke evaporator TAdb : Suhu udara kering sebelum masuk ke evaporator

Tabel 3.1 Tabel yang digunakan untuk mengambil data

No

3.6 Cara Mengolah Data

Cara yang digunakan untuk mengolah data yaitu sebagai berikut :

a. Data yang diperoleh dari hasil penelitian penelitian akan dimasukkan pada Tabel 3.1 dan menghitung rata – rata dari setiap 3 kali percobaan

b. Setelah diperoleh rata – rata, kemudian menghitung massa air yang menguap dari briket M dari tiap variasi masa air yang menguap dari briket M dapat dihitung menggunakan Persamaan 3.1

M= MTBB - MTBK ....(3.1)

Keterangan :

M : Massa air yang menguap dari briket (kg)

MTBB : Berat briket basah awal (kg) MTBKt : Berat briket kering (kg)

c. Menghitung nilai COP dengan menggunakan P-h diagram untuk refrigeran R134a. Dapat dihitung dengan Persamaan (2.5) maupun Persamaan (2.6).

d. Mencari kelembaban spesifik udara setelah melewati kondensor (Wf), dan kelembaban spesifik udara sebelum masuk evaporator (Wg), dengan menggunakan psychrometric chart.

e. Setelah mengetahui kelembaban spesifik udara setelah melewati kondensor (Wf), dan kelembaban spesifik udara sebelum masuk evaporator (Wg).

Kemudian dapat dihitung massa air yang berhasil diserap (ΔW) tiap variasi.

Massa air yang berhasil diserap dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.1).

f. Menghitung kemampuan mesin menguapkan massa air (ṁair) dengan menggunakan Persamaan (2.8). Kemampuan mesin menguapkan massa air (ṁair) adalah laju aliran udara (ṁudara) dikalikan dengan massa air yang berhasil diuapkan (ΔW).

g. Untuk memudahkan pembahasan, hasil perhitungan proses pengeringan, maka digambarkan dalam grafik. Pembahasan dilakukakan terhadap grafik yang dihasilkan dengan mengacu pada tujuan penelitian.

3.7 Cara Mendapatkan Kesimpulan dan Saran

Dari analisis yang dilakukan akan diperoleh suatu kesimpulan. Kesimpulan adalah hasil dari analisis penelitian dan kesimpulan harus menjawab tujuan dari penelitian. Saran merupakan masukan atau nasehat yang dapat digunakan pembaca jika pembaca tertarik dengan penelitian yang telah dilakukan dan ingin mendalaminya lebih lanjut.

53

BAB IV

HASIL PENELITIAN, PERHITUNGAN, DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Penelitian

Data yang digunakan pada penelitian ini ialah data percobaan pengeringan briket menggunakan 0 kipas dan data percobaan pengeringan briket menggunakan 1 kipas. Data – data dalam percobaan meliputi data massa briket kering, massa briket basah, penurunan massa saat t, suhu kerja evaporator (TCe), suhu udara kering setelah melewati evaporator (TBdb), suhu kerja kondensor (TEc), suhu udara kering setelah melewati kondensor (TDdb), suhu udara basah sebelum masuk ke evaporator (TAwb) serta suhu udara kering sebelum masuk ke evaporator (TAdb). Tabel 4.1 menyajikan hasil pengujian dengan tanpa kipas, dan Tabel 4.2 menyajikan hasil pengujian dengan 1 kipas.

Tabel 4. 1 Data percobaan pengeringan briket tanpa kipas

No

Tabel 4.2 Data percobaan pengeringan briket menggunakan 1 kipas

a. Perhitungan massa air yang menguap dari briket (M)

Massa air yang menguap dari briket adalah selisih antara massa briket basah awal dan berat briket kering. Berikut merupakan contoh perhitungan massa air yang menguap pada briket :

M = MTBB – MTBK M = 49,88 kg – 44,22 kg M = 5,66 kg

Tabel 4. 3 Hasil Perhitungan pada setiap variasi

Variasi Jumlah

Dokumen terkait