A. Pengertian Tentang Perkawinan
Dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan demikian maka perkawinan itu adalah ikatan lahir antara seorang pria dan wanita, ikatan lahir disini merupakan hubungan formal yang dapat dilihat karena dibentuk menurut undang-undang, hubungan mana mengikat kedua pihak dan pihak lain dalam masyarakat. Ikatan batin adalah hubungan tidak formal yang dibentuk dengan kemauan bersama yang sungguh-sungguh, yang mengikat kedua pihak saja. (Abdulkadir Muhammad, 2000:74).
Jurnal Humanika No.17 Vol.2 Edisi Juli 2016 (ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA)
B. Perceraian dan Alasan Terjadinya Perceraian
Dalam istilah teknis syari‟at, cerai artinya berpisah dimana suami menghendaki atas dasar hak.Ia bebas melakukan hal ini, ia diperbolehkan bila ia mau melepas haknya sebagai suami/isteri yang timbul dari imbalan membayar mas kawin/mahar (Lili Rasjid, 1991:24)
Lili Rasjidi (1983:8) menyatakan 4 (empat) penyebab perceraian perkawinan, yaitu sebagai berikut :
1. Kalau suami meninggalkan isteri selama 3 bulan jalan darat dan tidak member nafkah. 2. Kalau suami meninggalkan isteri selama 6 bulan jalan laut dan tidak member nafkah. 3. Kalau suami menggantung isteri dengan baik tidak bertali berarti suami tidak
memperlakukan isteri sebagai seorang isteri, tetapi juga tidak menceraikannya. 4. Kalau suami memukul isteri sampai berbekas.
C. Penyebab Putusnya Perkawinan
Dalam ketentuan pasal 38 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menetapkan penyebab putusnya perkawinan, perkawinan dapat putus karena:
a. Kematian; b. Perceraian; dan
c. Atas putusan pengadilan.
Putusnya perkawinan karena kematian sering disebut oleh masyarakat dengan istilah “cerai mati” sedangkan putusnya perkawinan karena perceraian,ada dua sebutan, yaitu “cerai gugat” dan “cerai talak”. Putusnya perkawinan karena atas keputusan pengadilan disebut
“cerai batal”.Penyebutan putusnya perkawinan dengan istilah-istilah di atas memang
beralasan juga.Pertama, penyebutan “cerai mati” dan “cerai batal” tidak menunjukkan kesan adanya perselisihan antara suami dan isteri.Adapun penyebutan “cerai gugat dan cerai “talaq” menunjukkan kesan adanya perselisihan antara suami dan isteri.Kedua, putusnya perkawinan karena atas keputusan pengadilan dank arena perceraian, kedua-duanya harus dengan keputusan pengadilan.Lebih tepat jika digunakan istilah putusnya perkawinan karena
“pembatalan”.Jadi, perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan pembatalan.(
Subekti, 1993: 108).
Hilman Hadikusuma (2003:170) dalam hukum perkawinan adat menyatakan bahwa: Perkawinan dapat putus dikarenakan “kematian” atau “perceraian”, walaupun hubungan perkawinan itu sendiri belum tentu putus sama sekali, dikarenakan hukum adat setempat tidak mengenal putus hubungan perkawinan. Tegasnya perkawinan antara suami isteri itu putus karena kematian, tetapi hubungan sebagai akibat perkawinan diantara kerabat para pihak bersangkutan tidak putus, apalagi jika dari perkawinan itu terdapat keturunan.
Artinya dikalangan masyarakat hukum adat yang bersifat bilateral, apabila suami wafat, maka isteri yang putus perkawinannya dapat kembali kekerabatan asalnya. Tetapi dikalangan masyarakat patrilineal dalam bentuk perkawinan jujur, apabila suami wafat, isteri tetap di rumah kerabat suaminya, walaupun ia tidak mempunyai keturunan, oleh karena kedudukan isteri bukan lagi warga adat dari kekerabatan asalnya, tetapi telah menjadi warga adat kekerabatan suaminya.
D. Harta Bersama Menurut Hukum Adat
Menurut hukum adat pengertian harta bersama sebagaimana yang dikemukakan oleh R. Vanjik yakni:
Jurnal Humanika No.17 Vol.2 Edisi Juli 2016 (ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA)
Menurut hukum adat harta bersama merupakan segala milik yang diperoleh selama perkawinan adalah harta pencaharian bersama dan dengan sendirinya menjadi lembaga harta bersama yang lazim disebut harta syarikat (Fahri Al Amruzi 2014:68) Lebih lanjut B. Ter Haar menyatakan bahwa:
Dalam artian umum menurut hukum adat harta bersama adalah barang-barang yang diperoleh suami isteri selama perkawianan. Bentuk harta bersama yang seperti itu, telah dibenarkan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat dan oleh berbagai yurisprudensi tanpa mempersoalkan lingkungan adat dan stelsel kekeluargaan (Fahmi Al Amruzi 2014:68)
E. Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama Menurut Hukum adat
“Prosedur pembagian harta bersama biasanya dibagi seperdua, namun pembagian ini tidaklah mutlak untuk diikuti, karena bisa berubah dengan adanya pertimbangan- pertimbangan lain yang ada pada masing-masing pihak yakni suami dan isteri yang bercerai” (Ade Lanuari, 20:2013)
Lebih lanjut jika dilihat dalam proses pembagian harta bersama pada masyarakat adat Bugis, Mais Bahari, 2013 menyatakan:
Pelaksanaan Pembagian harta berama pada masyarakat adat Bugis bila terjadi perceraian, maka harta bersama tersebut tidak dibagi 2 (dua) melainkan berdasarkan siapa yang lebih banyak mencari nafkah diantara kedua belah pihak, dimana pada umumnya pada laki-laki (suami) lebih banyak mendapatkan harta bersama dibandingkan pihak isteri. Hal ini disebabkan laki-laki pada masyarakat adat Bugis dipandang sebagai pemikul dan perempuan menjunjung.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam proses pelaksanaan pembagian harta bersama dapat dilihat dari beberapa langkah yakni:
1. Musyawarah antara suami dan isteri yang akan membagi harta bersama tersebut tanpa ada tokoh adat.
2. Jika tidak ada titik temu dalam hasil musyawarah tersebut, maka tokoh adat memediasi pertemuan antara suami dan isteri tersebut untuk dipertemukan dengan para tokoh adat, tokoh agama untuk membicarakan pembagian harta bersama tersebut.
3. Dari hasil pertemuan antara tokoh adat dan yang berperkara tersebut maka harta yang diperoleh selama masa perkawinan tersebut akan dimusyawarakan bersama guna dibagi harta tersebut secara merata tanpa ada yang merasa dirugikan dari pembagian harta tersebut.
F. Penyelesaian Sengketa Pembagian Harta Bersama Menurut Hukum Adat
Fahmi Al Amruzi (2014:38) menyatakan bahwa dalam proses penyelesaian sengketa pembagian harta bersama menurut hukum adat yakni:
Penyelesaian sengketa pada pembagian harta bersama dilakukan dengan pemanggilan kedua belah pihak yang berperkara yang selanjutnya dipanggil juga saksi-saksi dari kedua belah pihak untuk menyaksikan penyelesaian sengketa pembagian harta bersama tersebut.
Jurnal Humanika No.17 Vol.2 Edisi Juli 2016 (ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA)
Dalam penjelasan hal tersebut di atas dapat digambarkan bahwa dalam penyelesaian pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian antara suami dan isteri dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pemanggilan kedua belah pihak yang berperkara untuk diadakan musyawarah bersama 2. Dipanggilnya saksi-saksi dari kedua belah pihak yang berperkara
3. Pemutusan hasil dari penyelesaian sengketa oleh tokoh adat tersebut dengan menyampaikan kepada para saksi hasil musyawarah tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Maligano Kecamatan Maligano Kabupaten Muna. Pemilihan lokasi ini karena adanya pertimbangan bahwa di Desa Maligano berdasarkan observasi awal sebagian penduduknya adalah masyarakat adat suku Koroni Taloki yang sebagian besar masih mengikuti ketentuan hukum adat setempat dalam proses pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian, sehingga pemilihan daerah ini sebagai lokasi penelitian dianggap sesuai dengan objek penelitian yang akan diteliti. Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini dari proses observasi awal hingga pada proses pengumpulan hasil penelitian adalah dimulai dari 6 Desember 2014 sampai dengan 11 Februari 2015.
Jenis penelitian ini adalah menggunakan tipe penelitian deskriptif, yaitu menggambarkan atau menjelaskan tentang sesuatu hal terkait dengan objek atau subjek yang akan diteliti sebagaimana adanya pada saat tertentu, dalam hal ini memberikan gambaran atau menjelaskan secara rinci proses pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian antara suami dan isteri menurut adat Koroni Taloki, pada masyarakat Desa Maligano.
Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang, masing-masing adalah 2 orang tokoh masyarakat, 2 orang tokoh adat, Pemerintah Desa Maligano dalam hal ini Kepala Desa, Sekretaris Desa Maligano, 2 orang tokoh agama dan 2 (dua) pasang suami isteri sebagai responden yang pernah mengalami proses pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian.
Dalam rangka memperoleh data sebagaimana yang diharapkan, maka penulis melakukan pengumpulan data, dengan menggunakan:
1. Teknik wawancara, yaitu mengumpulkan data secara langsung dengan menggunakan pedoman wawancara yang diajukan kepada informan dan responden melalui tanya jawab berdasarkan objek penelitian untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan.
2. Teknik dokumenteryaitu pengumpulan data dengan menggunakan alat form dokumentasi untuk menelaah berbagai teori yang relevan dengan penelitian ini. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
a. Data Primer yaitu data empiris yang diperoleh secara langsung dari informan dan responden di lokasi penelitian, baik berupa wawancara langsung terhadap informan maupun responden yang mempunyai pengetahuan maupun pengalaman terkait dengan objek penelitian.
b. Data Sekunder yaitu data yang dijadikan landasan teori dalam memecahkan dan menjawab masalah. Data sekunder ini sumbernya diperoleh melalui catatan resmi, dokumen ekspresif, laporan media massa, studi pustaka buku, skripsi, peraturan perundang-undangan dan lain-lain yang relevan dengan objek penelitian.
Jurnal Humanika No.17 Vol.2 Edisi Juli 2016 (ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA)
Setelah semua data terkumpul, baik data primer maupun data sekunder yang telah dianggap valid selanjutnya akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. Untuk lebih mendapatkan gambaran nyata maka data kualitatif akan diuraikan dalam bentuk uraian yang logis dan sistematis untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini.