• Tidak ada hasil yang ditemukan

Begomovirus merupakan salah satu genus dari famili geminivirus. Geminivirus merupakan golongan virus tumbuhan dengan morfologi partikel yang berbeda dengan golongan virus tumbuhan lainnya yang telah umum dikenal. Nama geminivirus berasal dari karakteristik partikel virus yang isometrik ganda, yang dalam keadaan tunggal umumnya mempunyai diameter berkisar 18 – 20 nm dan sebagian besar senantiasa terdapat dalam keadaan berpasangan dengan ukuran 20 nm x 30 nm (Bock 1982). Kelompok geminivirus merupakan golongan virus yang mempunyai asam nukleat deoksiribonukleat dalam bentuk utas tunggal (single stranded (ss) DNA). Di dalam tanaman virus berada dalam jaringan floem dan terakumulasi di dalam inti sel jaringan floem yang terinfeksi.

Berdasarkan struktur genom, serangga vektor dan tanaman inang, geminivirus terbagi menjadi empat genus yaitu Mastrevirus, Curtovirus, Begomovirus dan Topocuvirus (van Regenmortel et al. 2000, Hull 2002). Mastrevirus adalah geminivirus dengan tanaman inang dari kelompok monokotil, ditularkan oleh vektor wereng daun dan memiliki genom monopartit. Genus ini memiliki lebih dari 10 jenis virus yang sudah diketahui, dengan tanaman inang dari famili Graminea, di antaranya adalah chlorosis striate mosaic virus (CSMV), digitaria streak virus (DSV), maize streak virus (MSV) dan wheat dwarf virus (WDV). Curtovirus adalah geminivirus dengan tanaman inang dikotil, ditularkan oleh vektor wereng daun, dan genomnya monopartit. Anggota genus ini di antaranya adala h beet curly top virus (BCTV) dengan vektor Circulifer tenellus (Hemiptera: Cicadellidae), dan tobacco yellow dwarf virus (TYDV) dengan vektor Orosius argentatus (Hemiptera: Cicadellidae). Begomovirus adalah geminivirus dengan tanaman inang dikotil, ditula rkan oleh vektor kutukebul memiliki genom bipartit atau monopartit. Berdasarkan daerah asal genus tersebut anggota begomovirus terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang berasal dari Old World (benua Eropa, Asia dan Afrika) dan kelompok New World (Benua Amerika). Begomovirus memiliki anggota yang paling banyak bila dibanding genus-genus lainnya. Anggota begomovirus yang memiliki genom bipartit di antaranya abutilon mosaic virus (AbMV), african cassava mosaic virus

(ACMV), bean dwarf mosaic virus (BDMV), bean golden mosaic virus (BGMV), cotton leaf crumple virus (CLCV), euphorbia mosaic virus (EuMV), indian cassava mosaic virus (ICMV), mungbean yellow mosaic virus (MYMV), potato yellow mosaic virus (PYMV), tomato golden mosaic virus (TGMV) dan squash leaf curl virus (SqLCV), sedangkan yang memiliki genom monopartit contohnya tomato leaf curl virus dari Australia (ToYLV-Aus) dan tomato yellow leaf curl virus dari Israel (TYLCV-Is) (Navot et al. 1991; Dhar & Singh 1996; Navas- Castillo et al. 1999) . Topocuvirus adalah genus pada geminivirus yang merupakan bagian dari genus curtovirus. Topocuvirus mempunyai genom yang mirip dengan curtovirus tetapi ditularkan melalui wereng pohon Micrutalis malleifera. Anggota genus tersebut adalah tomato pseudocu rly top virus.

Gejala Infeksi Begomovirus pada Tanaman Tomat

Gejala yang timbul karena infeksi begomovirus pada tanaman tomat sangat bervariasi, tergantung pada strain virus, kultivar, umur tanaman pada waktu terinfeksi dan lingkungan. Umumnya gejala ya ng ditimbulkannya pada tanaman tomat merupakan kombinasi mosaik kuning, belang-belang klorotik, klorotik pada ujung daun, daun berkerut, daun mengecil, tanaman menjadi kerdil dan bunga cepat rontok (Polston & Anderson 1997).

Tomato golden mosaic virus yang menginfeksi tanaman tomat menunjukkan gejala mosaik kuning (Costa 1969; Hamilton et al. 1981). Lastra & Uzcateque (1978 ) melaporkan bahwa mosaico amarillo del tomate (MAT)/ tomato yellow mosaic virus yang menginfeksi tanaman tomat di Venezuela menunjukkan gejala mosaik kuning, keriting dan tanaman menjadi kerdil.

Butter & Rataul (1977) melaporkan bahwa tanaman tomat yang terinfeksi ToLCV menunjukkan gejala daun keriting, daun menggulung (rolling), perubahan bentuk daun, daun berkerut (puckering) dan terdapat enasi pada permukaan bawah daun. Gejala strain ToLCV-Aus berupa daun keriting, kuning, daun menggulung ke atas. Tanaman yang terinfeksi pada umur muda tidak berbuah dan kerdil (Conde & Connelly 1994). Chiang et al. (1997) melaporkan adanya strain ToLCV yang menginfeksi tanaman tomat di Makutupora, Tanzania (ToLCV- Tan). ToLCV-Tan ini menim bulkan gejala berupa belang-belang kuning, daun keriting, kerdil dan batang menjadi kaku. ToLCV yang dilaporkan pertama kali

menginfeksi tanaman tomat di Pakistan menunjukkan gejala berupa tepi daun yang melengkung ke atas atau ke bawah, tulang daun menjadi tebal dan tanaman kerdil (Mansoor et al. 1997).

Tanaman tomat di Culiacan Valley yang terinfeksi tomato leaf crumple begomovirus (TLCrV) menunjukkan gejala daun kisut, berkerut, epinastis, bergelombang (purpling), keriting dan belang-belang (Paplomatas 1994).

Polston et al. (1993 & 1995) melaporkan tomato mottle virus (ToMoV) menginfeksi tanaman tomat sejak tahun 1989 di Florida dan California Selatan. Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus tersebut berupa belang-belang klorotik, daun melengkung ke atas dan kerdil. Infeksi ToMoV pada tanaman tomat di Yucatan, Meksiko menunjukkan gejala pertumbuhan terhambat, daun belang- belang dan deformasi (Garr ido-Ramirez & Gilbertson 1998).

Infeksi TYLCV pada tanaman tomat menyebabkan daun menjadi kecil, keriting, keras, dan klorotik; bunga jatuh prematur; tunas kaku, internoda pendek dan tanaman menjadi kerdil (Cohen & Nitzany 1966). Jones et al. (1991), menjelaskan bahwa tanaman yang terinfeksi TYLCV mengakibatkan bunga rontok dan kualitas buah rendah serta cepat masak. Muniyappa et al.(1991) melaporkan adanya strain TYLCV yang menginfeksi tanaman tomat di India. Gejala yang ditimbulkan oleh TYLCV-India berupa mosaik kuning, keriting, daun menjadi seperti mangkok dan tanaman kerdil. Di Jepang, TYLCV yang menginfeksi tanaman tomat di daerah Shizuoka dan Aichi mirip dengan TYLCV- Is-M. Gejala yang ditimbulkan berupa daun menguning mulai dari ujung hingga ke bawah, daun yang baru muncul menjadi kecil dan keriting (Kato et al. 1998).

Sinaloa tomato leaf curl virus (STLCV) yang menginfeksi tanaman tomat di Sinaloa, Meksiko menunjukkan gejala berupa daun menjadi klorosis, bergelombang, keriting, internoda menjadi pendek (Brown et al. 1993; Idris et al. 1999).

Di Indonesia, infeksi begomovirus pada tomat menimbulkan geja la berupa penebalan tulang daun, lamina daun berkerut-kerut, menguning, tepi daun melengkung ke atas, daun menjadi keriting dan tanama n menjadi kerdil (Sugiarman & Hidayat 2000; Sudiono et al. 2004; Aidawati & Hidayat 2002).

Penularan Begomovirus

Begomovirus pada umumnya dapat ditularkan dengan berbagai cara, ba ik melalui serangga vektor kutukebul maupun wereng daun, melalui penyambungan dan secara mekanik dengan cairan perasan tanaman sakit. Walaupun demikian penularan dan pemencaran virus tersebut di lapangan terutama ditentukan oleh aktifitas serangga vektor.

Hasil penelitian Uzcategui & Lastra (1978) menunjukkan bahwa periode makan akuisisi (PMA) minimum B. tabaci menularkan MAT adalah 2 jam dengan periode laten 20 jam. Efisiensi penularan B. tabaci yang dipelihara pada suhu 30-34°C adalah 93%, sedangkan yang dipelihara pada suhu 20-30°C hanya 75%. Serangga vektor mampu menularkan MAT maksimum 7 hari. Serangga betina lebih efisien menularkan MAT dibandingkan yang jantan.

Cohen & Nitzany (1966) menunjukkan bahwa periode akuisisi B. tabaci untuk dapat menularkan TYLCV-Is adalah 15 menit dengan periode makan inokulasi (PMI) 48 jam. Penularan tidak terajadi apabila PMA di bawah 15 menit. Penularan semakin meningkat setelah PMA 4 jam. PMI minimun serangga vektor ini menularkan TYLCV-Is adalah 30 menit, dengan PMI 15 menit virus tidak dapat ditularkan. Penularan semakin meningkat setelah PMI lebih dari 1 jam. Periode laten virus di dalam tubuh serangga 21 jam. Periode retensi TYLCV-Is di dalam tubuh serangga selama 10-15 hari. Nimfa mampu mengakuisisi virus dan imago yang dihasilkan virulifer. TYLCV-Is tidak ditularkan secara transovarial

Hasil penelitian Butt er & Rataul (1977) menunjukkan bahwa PMA minimum B. tabaci untuk dapat menularkan ToLCV adalah 31 menit dengan PMI selama 24 jam. Semakin lama PMA penularan semakin meningkat. PMI minimum kutukebul tersebut untuk dapat menularkan ToLCV adalah 32 menit dengan PMA selama 24 jam. B. tabaci mampu mengakuisisi virus dari kotiledon tanaman tomat yang terinfeksi, tetapi infeksi tidak terjadi ketika serangga virulifer tersebut dipindahkan ke kotiledon tanaman yang sehat. Bemisia tabaci mampu menularkanToLCV dengan efesiensi tertinggi apabila PMA dan PMI dilakukan pada daun muda. Kutukebul mampu menularkan ToLCV sebesar 38% apabila akusisi dilakukan pada sumber inokulum berumur 2 bulan, sedangkan akuisisi

yang dilakukan pada sumber inokulum yang berumur 11 bulan hanya menyebabkan infeksi sebesar 8%. Kutukebul betina yang virulifer mempunyai efisiensi penularan 53 hari, sedang yang jantan hanya 8 hari. Nimfa mampu mengakuisisi ToLCV dan menularkannya. ToLCV tidak ditularkan secara transovarial.

Brown & Nelson (1988) menunjukkan bahwa satu ekor B. tabaci yang telah diberi perlakuan PMA selama 48 jam dan PMI selama 3 hari, mampu menularkan chino del tomato virus (CdTV) dengan jumlah tanaman terinfeksi 15%. Penularan semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah serangga. PMA minimum B. tabaci untuk dapat menularkan CdTV apabila diberi PMI selama 3 hari adalah 1 jam, sedang PMI minimum 2 jam dengan PMA 24 jam. Apabila PMA ditingkatkan hingga 48 jam, penularan terjadi setelah PMI 10 menit.. Periode laten CdTV dalam tubuh serangga 17-22 jam. Periode retensi virus dalam tubuh kutukebul selama 4,5 hari setelah PMA 24 jam dan 7,3 hari setelah PMA 72 jam.

Hasil penelitian Mehta et al. (1994b) menunjukkan bahwa satu ekor B. tabaci biotipe B mampu menularkan TYLCV-Mesir , dan efisiensi penularan meningkat 4 kali jika jumlah serangga ditingkatkan hingga 5 ekor per tanaman. PMA serangga vektor untuk dapat menularkan virus adalah 15 menit. Penularan semakin meningkat dengan semakin lamanya PMA dan mencapai maksimum setelah 24 jam. PMI minimum adalah 15 menit. Penularan semakin meningkat dengan meningkatnya PMI dan mencapai maksimum setelah 12 jam PMI. Imago B. tabaci yang berasal dari nimfa yang dibiakan pada tanaman tomat terinfeksi TYLCV mampu menularkan virus tersebut setelah PMI 2 jam. Penularan semakin meningkat dengan meningkatnya PMI.

Idris & Brown (1998) menunjukkan bahwa B. tabaci biotipe A yang telah diberi PMA 0,5 jam tidak mampu menularkan STLCV. Penularan terja di setelah 1 jam dengan PMI 24 jam. Semakin lama PMA kemampuan serangga vektor menularkan STLCV semakin meningkat. B. tabaci yang diberi perlakuan PMA 24 jam tidak mampu menularkan STLCV setelah PMI 0,5 jam, tetapi penularan terjadi setelah PMI 1 jam. Penularan meningkat dengan semakin lamanya PMI. Periode retensi STLCV didalam tubuh serangga vektor mencapai 9 hari. Hasil

penularan secara berseri menunjukkan bahwa penularan STLCV oleh B. tabaci biotipe A ini bersifat intermittent. Virus ini tidak ditularkan secara transovarial.

Hasil penelitian Sanchez-Campos et al. (1999) menunjukkan bahwa B. tabaci biotipe B dan Q mempunyai kemampuan menularkan TYLCV-Sar dan TYLCV-Is. Biotipe Q lebih efisien menularkan kedua virus dibandingkan biotipe B. Kedua biotipe lebih efisien menularkan TYLCV-Is. Satu ekor B. tabaci biotipe B lebih rendah menularkan TYLCV-Sar dibandingkan biotipe Q, hal yang sama terjadi pada TYLCV-Is. Perbedaan penularan ini tidak membedakan kemampuan biotipe B atau Q dalam mengakuisisi TYLCV-Sar atau TYLCV-Is dari sumber virus.

Hasil penelitian Ghanim et al. (1998) menunjukkan bahwa TYLCV-Is mampu ditularkan secara transovarial oleh B. tabaci selama dua generasi dan melalui kopulasi antar individu (Ghanim & Czosnek 2000). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa TYLCV dapat berperan sebagai patogen pada B. tabaci, karena sangat mempengaruhi siklus hidupnya dan fekunditinya. Diduga TYLCV berreplikasi di dalam tubuh B. tabaci, tetapi cara replikasinya belum diketahui.

McGrath & Harrison (1995) menunjukkan bahwa penularan tomato leaf curl begomovirus oleh B. tabaci dipengaruhi oleh isolat begomovirus dan biotipe serangga vektor yang menularkannya. Hal ini diduga karena adanya perbedaan protein selubung begomovirus . Protein selubung tersebut berpengaruh terhadap kemampuan serangga vektor dalam menularkan virus.

Deteksi Begomovirus

Deteksi begomovirus dengan metode konvensional seringkali tidak mungkin dilakukan, karena tidak semua begomovirus dapat ditularkan secara mekanik dengan cairan perasan tanaman terinfeksi. Beberapa begomovirus yang dapat ditularkan secara mekanik yaitu BDMV (Morales et al. 1990), MYMV (Honda et al. 1983) dan TYMV (Uzcategui & Lastra 1978). Dengan demikian penggunaan bioasai untuk identifikasi dan evaluasi kisaran inang menjadi sulit untuk dilakukan.

Metode serologi dilaporkan dapat digunakan untuk mendeteksi begomovirus. Penggunaan metode ini telah dilakukan untuk mendeteksi virus krupuk tembakau (Trisusilowati 1990), BDMV (Morales et al. 1990), ToYDV

(Thomas & Bowyer 1980), TGMV (Stein et al. 1983), labu leaf curl virus (SLCV) (Cohen et al. 1983), ACMV dan BGMV (Sequeira & Harrison 1982), honeysuckle yellow vein mosaic (HYVM) dan tobacco leaf curl viruses (TLCV) (Osaki et al. 1979). Akan tetapi untuk saat ini penggunaan metode serologi tersebut tidak efektif untuk mendeteksi begomovirus , karena keanekaragaman begomovirus yang cukup tinggi dan kesulitan untuk pembuatan antisera yang disebabkan oleh sifat fisik dan kimia partikel virus yang me mbuatnya sulit untuk dimurnikan dalam bentuk yang stabil ; sifat imunogenik dari virion yang lemah; protein selubung, terutama untuk virus-virus yang ditularkan oleh B. tabaci tidak dapat dibedakan melalui antisera poliklonal maupun monoklonal (Roberts et al. 1984).

Sekarang ini metode deteksi yang didasarkan pada analisis asam nukleat virus telah banyak digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi begomovirus. Sebagai contoh teknik hibridisasi asam nukleat (Polston et al. 1989; Gilbertson et al. 1991; Hidayat et al. 1993; Bendahmane et al. 1995) dan teknik Polymerase chain reaction (PCR) dengan menggunakan primer universal (Chiemsombat et al. 1990; Rojas et al. 1993 ; Wyatt & Brown 1996 ; Roye et al. 1997; Hidayat et al. 1999; Aidawati et al. 2001; Aidawati & Hidayat 2002; Sudiono et al. 2004; Sulandari et al 2001,2006), telah terbukti dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi begomovirus dari tanaman yang berbeda dan tempat yang berbeda. Kedua teknik ini tidak hanya dapat mendeteksi asam nukleat genimivirus pada jaringan tanaman terinfeksi tetapi juga berhasil mendeteksi asam nukleat begomovirus dalam tubuh serangga vektor B. tabaci (Navot et al. 1989 ; Polston et al. 1990 ; Chiemsombat et al. 1990; Mehta et al. 1994a ; Aidawati & Hidayat 1999).

Selain melalui analisis sekuen DNA, keanekaragaman begomovirus dapat dilihat dari pola pita PCR-RFLP. Hasil analisis pola enzim restriksi (Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP)) dari fragmen DNA hasil amplifikasi dengan PCR menunjukkan kemungkinan adanya strain begomovirus yang berbeda. Rojas et al. (1993) menunjukkan adanya perbedaan strain begomovirus yang menginfeksi tanaman tomat dari Costa Rica dan Meksiko. Behjatnia et al. (1996) menunjukkan bahwa ada dua strain ToLCV yang berasal dari Darwin dan

strain tersebut berbeda dengan ToLCV-Aus. Pola PCR-RFLP fragmen DNA-A dan DNA-B isolat dari Guadeloupe, Martinique dan Puerto Rico adalah sama, sehingga diduga tanaman tomat tersebut terinfeksi oleh virus yang sama (Polston et al. 1997). Momol et al. (1999) menunjukkan bahwa fragmen DNA begomovirus yang menginfeksi tanaman tomat di daerah Georgia Selatan dan Florida Utara setelah dipotong dengan enzim EcoRI dan ClaI polanya sama dengan TYLCV yang menginfeksi tanaman tomat, tetapi berbeda dengan tomato mottle virus (ToMoV). Hasil penelitian Hidayat et al. (1999) menunjukkan bahwa pola enzim restriksi virus cabai-Cugenang berbeda dengan virus cabai- Segunung tetapi sama dengan virus cabai-Baranangsiang. Dengan metode yang sama, Sudiono et al. (2004) berhasil menganalisis pola enzim restriksi dari fragmen DNA hasil amplifikasi dengan PCR dan menunjukkan adanya strain begomovirus yang berbeda pada tanaman tomat yaitu isolat begomovirus dari Bandung, Cisaat dan Cibeunying ada lah sama, tetapi berbeda dengan isolat begomovirus dari Ciloto.

Pada saat ini hasil sekuensing genom begomovirus yang menginfeksi tomat, cabai dan tembakau telah dilaporkan dan dimasukkan ke GeneBank (Shih et al. 1999; Kon et al. 2003; Sukamto et al. 2005; Hidayat et al 2006ab; Tsai et al. 2006a,b; Ikegami, belum dipublikasikan).

Serangga Vektor Begomovirus : Bemisia tabaci Genn. (Hemiptera: Aleyrodidae)

Persebaran B. tabaci

B. tabaci ditemukan pertama kali pada tahun 1889. Serangga tersebut menyerang tanaman tembakau di Greeca dan dinamakan kutukebul tembakau (Aleyrodes tabaci) (Gennadius 1889). Kemudian pada tahun 1897 B. tabaci kembali ditemukan pada tanaman ubi jalar yaitu di daerah Amerika Serikat. Kutukebul tersebut dinamakan A. inconspicua Quaintance dengan nama umum kutukebul ubi jalar (sweetpotato whitefly) (Quaintance 1900). Nama spesies tersebut kemudian berubah menjadi genus baru yaitu Bemisia dan pada tahun 1914 disebut B. inconspicua (Quaintance & Baker 1914). Pada awalnya Quaintance & Baker (1914) tidak dapat menempatkan A. tabaci ke dalam genus yang baru karena deskripsi serangga tersebut sangat kurang. Setelah lebih dari 50

tahun, pada tahun 1964 telah ditemukan 19 spesies kutukebul yang sama dengan B. tabaci. Kutukebul tersebut dideskripsi dari 14 negara lain pada bermacam- macam tanaman inang. Berdasarkan daftar spesies yang ada Takahashi (1936) menempatkan A. tabaci ke dalam genus Bemisia, sehingga menghasilkan nama B. tabaci hingga saat ini.

Di Brazil, pada tahun 1928 kutukebul ditemukan pertama kali pada tanaman Euphorbia hirtella dan dinamakan B. costalimai Bondar. Di Taiwan, kutukebul ditemukan tahun 1933 dinamakan B. hibisci (Mound & Halsey 1978). Selanjutnya kutukebul menyebar ke daerah-daerah tropik dan subtropik te rmasuk daerah iklim sedang. Sekarang kutukebul tersebar secara luas dan ditemukan pada semua kontinental kecuali antartika (Martin 1999; Martin et al. 2000).

Menurut Campbell et al. (1996) berdasarkan hubungan evolusioner secara taksonomi Bemisia termasuk famili Aleyrodidae dan diduga berasal da ri daerah tropik yaitu Afrika. Selanjutnya serangga tersebut terbawa hingga ke neotropik dan Amerika bagian Timur serta Utara. Brown et al. (1995b) menduga bahwa B. tabaci berasal dari India atau Pakistan. Hal tersebut ditunjukkan dengan ditemukannya keanekaragaman parasitoid kutukebul yang sangat tinggi. Kriteria tersebut menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan pusat genus kutukebul.

Populasi B. tabaci mulai meledak sejak tahun 1980-a n di berbagai tempat. Populasi B. tabaci di lembah Imperial California meningkat 300 kali pada pertengahan tahun 1980-an dan 1600 kali pada pertengahan 1970-a n hingga pertengahan 1990-an (Wisler et al. 1998). Serangga tersebut merupakan faktor pembatas produksi tanaman makanan dan umbi-umbian di seluruh dunia karena B. tabaci secara langsung menyebabkan kerusakan pada tanaman dan secara tidak langsung merupakan vektor virus tanaman (Brown 1994).

Menurut Cock (1986) B. tabaci merupakan hama utama tanaman hias di rumah kaca, walaupun tanaman utama yang diproduksi di rumah kaca seperti tomat, cabai, buncis, terong dan mentimun juga terserang. Price et al. (1986) melaporkan pertama kali bahwa B. tabaci menyebabkan kerusakan pada tanaman hias di rumah kaca di Amerika Serikat. Serangga tersebut sangat cepat penyebarannya dan sangat sulit untuk dikendalikan. Akibat adanya kutukebul pada tanaman hias, maka diperlukan aplikasi insektisida yang berulang-ulang

sehingga menyebabkan fitotoksik. Disamping itu embun madu yang dihasilkan kutukebul merupakan substrat bagi pertumbuhan cendawan embun jelaga pada daun tanaman yang terinfestasi sehingga mengakibatkan penurunan kualitas estetika tanaman hias.

Biologi B. tabaci

Perkembangan B. tabaci dimulai dari telur, nimfa, pupa dan kemudian imago. Telur berbentuk bulat panjang (0.2–0.3 mm) dengan tangkai yang pendek pada salah satu ujungnya. Telur diletakkan satu per satu dengan posisi tangkai tegak lurus pada permukaan bawah daun (Gameel 1977). Menurut Badri (1983) telur yang baru diletakkan berwarna kekuning-kuningan dan tertutup oleh tepung lilin, setelah 24 jam warnanya berubah menjadi coklat dan dalam waktu dua hari telah terbentuk dua bintik merah kecoklat – coklatan yaitu mata faset embrio.

Masa inkubasi telur tergantung pada keadaan lingkungan, terutama suhu. Pada suhu antara 26°-32°C masa inkubasi berlangsung selama 4-6 hari, sedangkan pada suhu 18°-22°C meningkat menjadi 10-16 hari dan perkembangan embrio terhenti pada suhu 16°C (Gameel 1977). Menurut Badri (1983) masa inkubasi telur B. tabaci yang berasal dari tanaman kedelai 5.78 ± 0.21 hari pada suhu 28°- 30°C.

B. tabaci mempunyai tiga instar nimfa yang perkembangannya secara keseluruhan berlangsung selama 12-15 hari pada suhu 28°-32°C, dan 28-32 hari pada suhu 20°-24°C. Pada suhu tinggi yaitu 30°-34°C periode perkembangan tersebut lebih cepat, dan menjadi lebih lama apabila suhu mencapai 18°-22°C (Gameel 1977). Nimfa instar pertama yang baru keluar dari telur aktif bergerak dan mengisap cairan makanan pada permuka an bawah daun selama 1-2 hari, dan setelah mendapatkan tempat yang sesuai akan menetap dan tidak bergerak lagi. Menurut Badri (1983) nimfa instar pertama B. tabaci lamanya 3.14±0.24 hari, berbentuk bulat panjang, berwarna hijau cerah dan pada bagian pinggir tubuh nimfa terdapat bulu-bulu halus dengan lapisan lilin tipis. Nimfa instar dua lamanya 3.21±0.16 hari dan nimfa instar tiga lamanya 3.14±0.16 hari. Nimfa instar dua dan tiga ini tidak bergerak dan berwarna hijau. Panjang tubuh nimfa berkisar antara 0.2-0. 4 mm.

Pupa B. tabaci berbentuk bulat panjang dengan torak agak melebar dan cembung, berwarna kuning dan ruas abdomen tampak jelas. Lamanya stadium pupa adalah 2.51±0.21 hari (Badri 1983). Bagian pinggir pupa tidak rata dan ter dapat tujuh pasang seta pada bagian dorsal dan satu pasang pada ujung anal. Vasiform orifice berbentuk segitiga dan memanjang, serta operkulum menutupi hampir separuh bagian dari vasiform orifice.

Tubuh imago B. tabaci berwarna kuning, panjang 1.0-1. 5 mm dan sayapnya tertutup oleh tepung berwarna putih (Kalshoven 1981). Menurut Gameel (1977), imago berwarna putih kekuning – kuningan, tubuh imago ditutupi oleh sekresi seperti tepung. Imago jantan berukuran lebih kecil daripada betina, sayap depan berwarna putih, mempunyai antena tujuh ruas dengan ruas ketiga lebih panjang daripada ruas yang lain, sedangkan ruas terakhir meruncing dan ditutupi oleh rambut-rambut. Imago B. tabaci yang baru menjadi dewasa akan mengembangkan sayapnya selama lebih kurang 8-15 menit dan kemudian tubuh serangga mulai tertutupi tepung lilin. Lama hidup imago bervariasi tergantung pada keadaan lingkungan dan faktor-faktor lain. Menurut Kalshoven (1981) lama hidup imago B. tabaci di Indonesia berkisar enam hari, sedangkan Gamel (1977) melaporkan B. tabaci di Sudan lama hidup serangga jantan umumnya lebih pendek dibandingkan dengan serangga betina yaitu 9.54-17.20 hari, sedangkan yang betina dapat mencapai 37.75-74.20 hari.

Kisaran Inang B. tabaci

B. tabaci mempunyai kisaran inang lebih dari 600 spesies tanaman (Greathead 1986) yang berasal dari 63 famili tanaman (Mound & Halsey 1978). Serangga tersebut mempunyai sifat polifagus (Costa & Brown 1990, 1991) dan sejumlah besar spesies tanaman tahunan dan setahun yang telah dibudidayakan maupun yang belum dibudidayakan sesuai untuk makan dan/atau inang reproduksi (Bedford et al. 1992, 1994; Brown et al. 1992, 1995b). Mound & Halsey (1978) menunjukkan bahwa sebanyak 50% spesies tanaman yang merupakan inang kutukebul berasal dari famili Fabaceae, Asteraceae, Malvaceae, Solanaceae dan Euphorbiaceae. Di antara famili tersebut 99% spesies tanaman yang merupakan inang kutukebul adalah Fabaceae (Basu 1995).

Hubungan inang B. tabaci yang kompleks terjadi di Puerto Rico yaitu biotipe Sida bersifat polifagus dan biotipe Jatropha bersifat monofagus berada pada daerah geografi yang sama, tetapi relung ekologinya berbeda (Brown et al. 1995b).

Menurut Lima et al. (2000) dan Oliveira et al. (2000) di Brazil kutukebul telah menginfestasi tanaman baru dan gulma sebagai inang. Gulma yang menjadi inang kutukebul tersebut adalah: Cleome espinosa (Cleomaceae), Senna

Dokumen terkait