• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah gizi merupakan efek kumulatif dari masalah sosial ekonomi, kesehatan, dan gizi (WHO 2008). Riset menunjukkan bahwa tingkat sosial ekonomi keluarga anak mempunyai dampak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan. Penyebab perbedaan ini kurang jelas, meskipun kesehatan dan gizi yang kurang baik pada tingkat sosial ekonomi rendah mungkin merupakan faktor signifikan. Sumber makanan bergizi (khususnya protein) sulit didapatkan, dan faktor lain (misalnya ukuran keluarga besar dan ketidakteraturan dalam makan, tidur, dan latihan fisik) dapat memainkan peran. Keluarga dari kelompok sosial ekonomi rendah mungkin kurang memiliki pengetahuan atau sumber daya yang diperlukan untuk memberikan lingkungan yang aman, menstimulasi, dan kaya gizi yang membentuk perkembangan optimal (Fotso et al. 2008).

Usia

Setiap rumah tangga memiliki kebutuhan akan makanan yang berbeda-beda, perbedaan ini dapat dilihat dari umur masing-masing anggota rumah tangga. Menurut Sumarwan (2004) menyatakan bahwa perbedaan usia dapat mempengaruhi tingkat maupun macam barang dan jasa (baik berupa pangan maupun non pangan) yang akan dibeli dan dikonsumsi seseorang. Konsumen yang berbeda usia akan mengonsumsi produk dan jasa yang berbeda pula. Perbedaan usia juga dapat mengakibatkan selera dan kesukaan terhadap merek suatu produk pangan maupun jasa.

Sediaoetama (1985) mengatakan bahwa distribusi kebutuhan pangan dalam rumah tangga tidak merata, artinya setiap anggota rumah tangga tersebut mendapat jumlah makanan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, menurut umur dan keadaan fisiknya. Zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan anggota rumah tangga yang masih muda pada umumnya lebih tinggi dari kebutuhan orang dewasa, tetapi kalau dinyatakan dalm kuantum absolut, anak-anak tentu membutuhkan kuantum makanan yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantum yang diperlukan oleh orang dewasa. Hurlock (1980) mengelompokkan usia menjadi tiga kelompok, yaitu dewasa dini (18-40 tahun), dewasa madya (40-60 tahun), dan dewasa lanjut (>60 tahun).

Tingkat Pendidikan

Menurut BPS (2004) kualitas manusia secara keseluruhan mencakup dua komponen, yaitu kualitas fisik dan non fisik yang keduanya saling berkaitan erat.

Kualitas fisik manusia berhubungan dengan kondisi kebugaran dan kesehatan fisik, serta daya tahan tubuh. Sejalan dengan itu, kualitas fisik seseorang biasa diukur dengan indikator kesehatan. Kualitas non fisik berhubungan dengan keterampilam, kemampuan intelektual, dan moral serta perilaku yang bermartabat. Kualitas non fisik biasanya diukur dari tingkat pendidikan. Sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan selain merupakan sarana untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan intelektual dan keterampilan, juga merupakan sarana untuk membentuk watak dan peradaban yang sesuai dengan bangsa yang bermartabat. Pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam pendidikan formal dan non formal (Suhardjo 1989).

Pendapatan

Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat pengelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya (Apriadji 1986 dalam Syafiq et al. 2009).

Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Orang dengan tingkat ekonomi rendah biasanya akan membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk makanan, sedangkan orang dengan tingkat ekonomi tinggi akan berkurang belanja untuk makanan. Menurut Berg (1986) dalam Syafiq el al

(2009) mengatakan bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh. Semakin tinggi penghasilan semakin menurun bagian penghasilan yang dialokasikan untuk membeli pangan. Bila penghasilan keluarga semakin membaik, maka jumlah uang yang dialokasikan untuk pembelian pangan meningkat, sampai tingkat tertentu dimana uang pembeli pangan itu tidak bertambah secara berarti atau dianggap tetap dan tidak banyak berubah. Hal tersebut sesuai dengan teori Engel yang menyatakan bahwa semakin sejahtera seseorang maka semakin kecil persentase pendapatannya untuk membeli pangan (Sumarwan 2003). Berdasarkan garis kemiskinan Jawa Barat (BPS 2011), pendapatan per kapita keluarga contoh

dikelompokkan menjadi dua, yaitu keluarga miskin jika pendapatan/kapita/bulan

keluarga ≤Rp 220.098 dan tidak miskin jika pendapatan/kapita/bulan keluarga >Rp 220.098.

Besar Keluarga

Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, anak dan anggota keluarga lain yang hidup dari pengelolaan sumberdaya yang sama. Ukuran rumah tangga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga (Sukandar 2007).

Menurut BKKBN (1998), besar rumah tangga adalah jumlah anggota keluarga yang terdiri dari suami, isteri, anak, dan anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama. Berdasarkan jumlah anggota rumah tangga, besar rumah tangga dikelompokkan menjadi tiga, yaitu rumah tangga kecil, sedang, dan besar. Rumah tangga kecil adalah rumah tangga yang jumlah anggotanya kurang atau sama dengan 4 orang. Rumah tangga sedang adalah rumah tangga yang memiliki anggota antara lima sampai tujuh orang, sedangkan rumah tangga besar adalah rumah tangga dengan jumlah anggota lebih dari tujuh orang.

Hasil penelitian Latief et al. (2000) menemukan bahwa jumlah anggota rumah tangga akan mempengaruhi kontribusi karbohidrat, lemak, dan protein terhadap total energi intake per kapita per hari. Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 1989 juga membuktikan bahwa semakin besar jumlah anggota rumah tangga semakin besar proporsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan daripada untuk bukan makanan. Semakin besar jumlah anggota rumah tangga maka akan semakin berkurang kontribusi karbohidrat, lemak dan protein terhadap total energi yang dikonsumsinya.

Sanjur (1982) menyatakan bahwa jumlah pangan yang dikonsumsi dan juga pembagian berbagai jenis makanan yang dikonsumsi kelluarga berhubungan dengan besar keluarga. Keluarga yang memiliki anggota banyak, cenderung akan membagi makanan yang dimilikinya dengan semaksimal mungkin sehingga makanan yang dikonsumsi tidakakan cukup untuk memenuhi kebutuhan dari setiap orang. Hal ini dapat menyebabkan masalah gizi yang dapat tercipta berdasarkan jumlah keluarga yang besar (Suhardjo 1989). Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. Hal ini disebabkan oleh besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi dalam satu keluarga.

Gizi Usia Dewasa

Kebutuhan gizi pada usia dewasa berubah sesuai kelompok usia tersebut. Peranan gizi pada usia dewasa terutama adalah untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan. Makan merupakan salah satu kesenangan dalam hidup. Memilih makanan secara bijak selama usia dewasa, dapat menunjang kemampuan seseorang dalam menjaga kesehatan fisik, emosional, mental, dan mencegah penyakit. Tujuan utama kesehatan gizi pada usia dewasa adalah meningkatkan kesehatan secara menyuluruh, mencegah penyakit, dan memperlambat proses menjadi tua (Soetardjo 2011, diacu dalam Almatsier et al. 2011).

Penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, kanker, serta penyakit lainnya berkaitan erat dengan gaya hidup dan proses menua. Contoh gaya hidup sehat adalah mengonsumsi makanan seimbang, minum air putih, berolahraga secara teratur, tidak merokok, cukup tidur, berteman dan bersosialisasi, selalu optimis, dan belajar seumur hidup (life long learning). Pada usia dewasa seseorang perlu menjaga kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah dalam batas normal, serta berkonsultasi dengan profesi kesehatan secara teratur. Menurut Worhington et al (2000) dalam Almatsier et al. (2011) secara umum, kunci untuk memaksimalkan kesehatan seumur hidup adalah menciptakan keseimbangan antara status fisik, mental, psikologis, dan sosial.

Konsumsi Pangan dan Faktor yang Mempengaruhinya

Dikemukakan oleh Maslow, pangan merupakan salah satu kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan hidup (Sumarwan 2003). Pangan merupakan kebutuhan pokok yang paling mendasar bagi manusia, karenanya pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian dari hak azasi individu. Pemenuhan kebutuhan pangan sangat penting sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Mengingat pentingnya memenuhi kecukupan pangan, setiap negara akan mendahulukan pembangunan ketahanan pangan sebagai fondasi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya (Dewan Ketahanan Pangan 2006).

Hak atas kecukupan pangan tidak dapat dilepaskan dari masalah hak asasi manusia. Aspek gizi memandang bahwa tujuan mengonsumsi pangan adalah memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan tubuh, sehingga bila hak

atas pangan terpenuhi, maka kualitas hidup yang baik mencakup status gizi dan kesehatan akan tercapai (Khomsan 2002). Jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi tidak saja dipengaruhi oleh produksi, ketersediaan pangan, tetapi juga daya beli, kesukaan, pendidikan, nilai sosial budaya yang berlaku di masyarakat.

Metode Food Recall 24 Jam

Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini, responden disuruh menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai istirahat malam harinya, atau dapat juga dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara mundur ke belakang sampai 24 jam penuh.

Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring, dan lain-lain) atau ukuran lainnya yang biasa dipergunakan sehari-hari.

Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1x24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makanan individu. Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur 1997, diacu dalam Supariasa 2002).

Metode recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, sebabgai berikut:

Kelebihan metode recall 24 jam:

Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden. Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan

tempat yang luas untuk wawancara.

Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden. Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf.

Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi indvidu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.

Kekurangan metode recall 24 jam:

Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya dilakukan recall satu hari.

Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden.

The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus unruk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate).

Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.

Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian.

Untuk menggambarkan konsumsi makanan sehari-hari, recall jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, hari akhir pekan, pada saat melakukan upacara-upacara keagamaan, selamatan, dan lain-lain.

Lemak

Lemak adalah senyawa organik yang terdiri dari atom karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Lemak bersifat larut dalam pelarut lemak, seperti benzen, eter, petroleum, dan sebagainya. Lemak yang mempunyai titik lebur tinggi berbentuk padat pada suhu kamar disebut lemak, sedangkan yang mempunyai titik lebur rendah berbentuk cair disebut minyak (Syafiq et al. 2009).

Lemak dan minyak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan kandungan yang berbeda-beda. Tetapi lemak dan minyak sering kali ditambahkan dengan sengaja ke dalam bahan makanan dengan berbagai tujuan. Dalam pengolahan bahan pangan, minyak dan lemak berfungsi sebagai media penghantar panas, seperti minyak goreng, shortening (mentega putih), lemak (gajih), mentega, dan margarin. Di samping itu, penambahan lemak dimaksudkan juga untuk menambah kalori serta memperbaiki terkstur dan cita rasa bahan pangan, seperti pada kembang gula, penambahan shortening pada pembuatan kue-kue, dan lain-lain.

Berdasarkan sumbernya lemak dibedakan menjadi lemak hewani dan lemak nabati. Lemak hewani mengandung banyak sterol yang disebut kolesterol, sedangka lemak nabati mengandung fitosterol dan lebih banyak mengandung

asam lemak tak jenuh sehingga umumnya berbentuk cair. Lemak hewani ada yang berbentuk padat (lemak) yang biasanya berasal dari hewan darat seperti lemak susu, lemak babi, lemak sapi, dan lemak sapi. Lemak hewan laut biasnya berbentuk cair dan disebut minyak (Winarno 2008).

Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan (minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung, dan sebagainya), mentega, margarin, dan lemak hewan (lemak daging dan ayam). Sumber lemak lain adalah kacang-kacangan, biji-bijian, daging dan ayam gemuk, krim, susu, keju dan kuning telur, serta makanan yang dimasak dengan lemak atau minyak. Sayur dan buah (kecuali apokat) sangat sedikit mengandung lemak (Almatsier 2011).

Lemak merupakan salah satu komponen makanan multifungsi yang sangat penting untuk kehidupan. Selain memiliki sisi positif, lemak juga mempunyai sisi negatif terhadap kesehatan. Fungsi lemak dalam tubuh antara lain sebagai sumber energi, bagian dari membran sel, mediator aktivitas biologis antar sel, isolator dalam menjaga keseimbangan suhu tubuh, pelindung organ-organ tubuh, serta pelarut vitamin A, D, E, dan K. Penambahan lemak dalam makanan memberikan efek rasa lezat dan tekstur makanan menjadi lembut dan gurih. Di dalam tubuh, lemak menghasilkan energi 2 kali lebih banyak dibandingkan dengan protein dan karbohidrat, yaitu 9 kkal/gram lemak yang dikonsumsi.

Komponen dasar lemak adalah asam lemak dan gliserol yang diperoleh dari hasil hidrolisis lemak, minyak maupun senyawa lipid lainnya. Asam lemak pembentuk lemak dapat dibedakan berdasarkan jumlah atom C (karbon), ada atau tidaknya ikatan rangkap, jumlah ikatan rangkap, serta letak ikatan rangkap. Berdasarkan struktur kimianya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA), yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Sementara itu, asam lemak yang memiliki ikatan rangkap disebut sebagai asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acids), dibedakan menjadi

Mono Unsaturated Fatty Acid (MUFA) memiliki satu ikatan rangkap, dan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA) dengan satu atau lebih ikatan rangkap (Syafiq 2009).

Asam Lemak Trans

Asam lemak adalah monokarboksilat berantai lurus yang terdapat di alam sebagai ester dalam molekul lemak atau trigliserida. Hasil hidrolisis trigliserida

akan menghasilkan asam lemak jenuh dan tak jenuh berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap rantai karbon di dalam molekulnya. Asam lemak tak jenuh (memiliki ikatan rangkap) yang terdapat di dalam minyak dapat berada dalam dua bentuk yakni isomer cis dan trans. Asam lemak tak jenuh alami biasanya berada sebagai asam lemak cis, hanya sedikit bentuk trans. Isomer asam lemak tak jenuh dapat dibedakan menjadi isomer geometris dan isomer posisi. Isomer geometris atau sering disebut isomer cis/trans terbentuk ketika asam lemak tak jenuh dengan konfigurasi cis terisomerasi menjadi berkonfigurasi trans. Isomer posisi terbentuk jika ikatan rangkap dalam molekul asam lemak bergeser dari posisi semula ke posisi lain. Asam lemak berikatan rangkap pada posisi 9 dan 12 jika mengalami isomerasi posisi, ikatan rangkapnya dapat berubah ke berbagai posisi dalam molekul mulai dari posisi 4 sampai 16 dengan domain pada posisi yang dekat pada posisi awalnya. Isomerisasi posisi umumnya disertai pula dengan isomerisasi geometris (Schmidt 1992).

Gambar 1 Struktur molekul asam lemak tak jenuh cis dan trans

Jumlah asam lemak trans (Trans Fatty Acid/TFA) dapat meningkat di dalam makanan berlemak terutama margarin akibat dari pengolahan yang diterapkan seperti hidrogenasi dan pemanasan pada suhu tinggi. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan TFA di dalam makanan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan yakni sebagai pemicu penyakit jantung koroner (PJK) yang tidak boleh diabaikan. Bahkan menurut hasil-hasil penelitian dua tahun terakhir bahwa pengaruh TFA lebih buruk daripada efek asam lemak jeuh dan kolesterol (Silalahi & Tampubolon 2002).

Berdasarkan penelitian epidemiologis telah menunjukkan bahwa TFA merupakan faktor resiko yang penting pada PJK. Konsumsi TFA menimbulkan pengaruh dari asam lemak jenuh, akan tetapi disamping menaikkan LDL, TFA juga akan menurunkan HDL sedangkan asam lemak jenuh tidak akan menurunkan HDL. Jadi TFA memiliki efek yang lebih negatif lebih tinggi dibandingkan pengaruh asam lemak jenuh atau kolesterol (Ovesen et al. & Subbaiah et al. 1998). Menurut Wardlaw & Kessel (2002) peningkatan 5% asupan energi dari asam lemak jenuh akan menaikkan resiko PJK sebesar 17%, sedangkan setiap kenaikkan 2% asupan energi dari TFA akan meningkatkan resiko PJK sebesar 93%. Hal serupa juga dikemukakan oleh Silalahi (2002), bahwa menggantikan asam lemak jenuh dengan asam lemak tak jenuh sebanyak 5% akan menurunkan resiko PJK sebesar 42%, sedangkan penggantian 2% TFA dengan asam lemak cis akan mengurangi 53% resiko PJK. Mekanisme TFA menurunkan HDL adalah dengan menghambat aktifitas lechitin cholesterol acyl transferase (LCAT).

Asupan TFA yang tinggi juga akan mempengaruhi dan mengganggu metabolisme asam lemak omega-3 yang sangat diperlukan dan berfungsi dalam otak dan penglihatan, serta mengganggu metabolisme asam lemak esensial selama kehamilan sehingga akan mempengaruhi perkembangan janin. Oleh karena itu asupan lemak dengan kandungan TFA yang tinggi bagi anak-anak terutama margarin tidak dianjurkan (Wardlaw & Kessel 2002).

Pengaruh TFA sangat bergantung pada kadar asupan. Sekitar 90% dari TFA yang dikonsumsi manusia berasal dai tumbuhan sumber utama pangan nabati yang digoreng, khususnya makanan siap saji (fast food). Di Indonesia sendiri data mengenai kadar dan konsumsi TFA belum ada, namun margarin berpotensi pula sebagai sumber TFA dalam diet orang Indonesia, karena margarin cenderung lebih disukai daripada mentega karena bersifat lebih padat pada suhu kamar sehingga penanganannya lebih mudah dan didukung pula oleh kebiasaan orang Indonesia yang kurang menyukasi susu maupun produk-produk susu (Puspitasari 1996).

Angka Kecukupan Gizi

Dikemukakan pula oleh Hardinsyah dan Martianto (1989), agar hidup sehat dan dapat mempertahankan kesehatannya manusia memerlukan sejumlah zat gizi. Jumlah zat gizi yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus

mencukupi kebutuhan tubuh untuk melakukan kegiatan, pemeliharaan tubuh, dan pertumbuhan bagi yang masih dalam taraf pertumbuhan.

Kekurangan zat gizi terutama energi dan protein pada tahap awal akan menimbulkan rasa lapar, akan tetapi bila berlangsung cukup lama akan berakibat berat badan menurun disertai dengan menurunnya produktivitas kerja. Apabila kekurangan berlanjut terus akan menyebabkan marasmus, kwashiorkor atau marasmus dan kwashiorkor. Penanganan yang terlambat akan mengakibatkan mudah terkena infeksi yang dapat berakhir dengan kematian.

Sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan disebut sebagai kebutuhan gizi. Konsumsi yang berlebih maupun kekurangan dan berlangsung dalam jangka waktu lama akan berbahaya bagi kesehatan (Hardinsyah dan Martianto 1989). Kebutuhan gizi didefinisikan pula sebagai kebutuhan minimal zat gizi agar dapat hidup sehat, sedangkan kecukupan gizi adalah jumlah masing-masing zat gizi yang sebaiknya dipenuhi seseorang agar hampir semua orang (sekitar 97.5% populasi) hidup sehat.

Angka Kecukupan Energi

Angka kecukupan energi (AKE) pada WNPG VIII bagi orang dewasa didasarkan pada Oxford Equation, yang merupakan hasil meta analysis untuk estimasi energi basal metabolisme (EBM) berdasarkan berat badan. Basis dari RNI dan RDA adalah EAR atau kebutuhan. Oleh karena itu, sejalan dengan definisi FAO/WHO (1985) yang juga digunakan IOM (2002), Angka Kecukupan Energi (AKE) adalah rata-rata tingkat konsumsi energi dari pangan yang seimbang dengan pengeluaran energi pada kelompok usia, jenis kelamin, ukuran tubuh (berat) dan tingkat kegiatan fisik agar hidup sehat dan dapat melakukan kegiatan ekonomi dan sosial yang diharapkan. Khusus bagi anak, ibu hamil dan menyusui, AKE ini termasuk kebutuhan energi untuk pertumbuhan janin, cadangan energi dan produksi ASI untuk hidup sehat. Menurut hasil WNPG tahun 2004, Angka Kecukupan Energi (AKE) rata-rata orang Indonesia untuk tingkat konsumsi sebesar 2.000 kalori dan sebesar 2.200 kalori untuk tingkat ketersediaan. Depkes (1996) mengklasifikasikan tingkat kecukupan konsumsi energi menjadi defisit berat (<70%), defisit sedang (70-79%), defisit ringan (80-89%), normal (90-119%), dan lebih (≥120%).

Angka Kecukupan Protein

Angka Kecukupan Protein (AKP) adalah rata-rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan protein yang hilang ditambah sejumlah tertentu, agar

mencapai hampir semua populasi sehat (97,5%) di suatu kelompok usia, jenis kelamin, dan ukuran tubuh tertentu pada tingkat aktifitas sedang. Khusus bagi anak, ibu hamil dan menyusui ditambah untuk pertumbuhan janin, cadangan dan produksi ASI. Perbedaannya dengan AKE adalah adanya tambahan sejumlah tertentu untuk mencapai RDA, yang biasanya dengan menambah sejumlah dua kali standar deviasi atau dianggap sama dengan dua kali CV (Coefficient of Variation). Angka Kecukupan Protein (AKP) pada tingkat konsumsi sebesar 52 gram sedangkan pada tingkat ketersediaan sebesar 57 gram. Depkes (1996) juga mengklasifikasikan tingkat kecukupan konsumsi energi dan protein menjadi defisit berat (<70%), defisit sedang (70-79%), defisit ringan (80-89%), normal (90-119%), dan lebih (≥120%).

Angka Kecukupan Lemak Total

Proporsi konsumsi energi dari lemak saat ini sekitar 20% dari total konsumsi energi. Kontribusi energi dari lemak sebaiknya tidak melebihi 30% dan perlu upaya untuk memperbaiki komposisi asam lemak yang yang lebih baik agar sejalan dengan upaya pencegahan penyakit kronik degeneratif sedini mungkin melalui pengaturan komposisi lemak/minyak yang dikonsumsi (WNPG 2004). Angka Kecukupan Lemak Trans

WHO dalam FAO/WHO Expert Consultation on Fats and Fatty Acids in Human Nutrition tahun 2008 di kota Geneva menganjurkan asupan lemak total dari konsumsi makanan sebesar 20-35% dari energi total, sedangkan anjuran untuk TFA adalah sebesar <1% dari energi total. Efek negatif dari konsumsi TFA

Dokumen terkait