• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Tinjauan Umum Mengenai Hakim

a. Pengertian Hakim

Pengertian hakim mengandung beberapa pengertian, antara lain :

1) Pasal 1 angka (8) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Hakim adalah pejabat peradilan negara yang di beri wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili, kemudian didalam Pasal 1 butir 9 KUHAP ditentukan bahwa yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim dalam menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur dan tidak memihak disidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang.

2) Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Hakim Pengadilan yaitu pejabat yang melaksanakan tugas kekuasaan kehakiman.

3) Pasal 3l Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam undang-undang.

4) Kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa hakim adalah : (a) Orang yang mengadili perkara

(b) Pengadilan (c) Juri; penilai

Syarat yang senantiasa harus dipenuhi oleh hakim yaitu jujur, merdeka, berani mengambil keputusan, dan bebas dari pengaruh baik dari dalam maupun dari luar. Selain syarat-syarat yang pengaturannya diatur dalam bentuk Undang-Undang, maka sebagai syarat batiniah kepada para

hakim dalam menjalankan keadilan, oleh Undang-Undang diletakan suatu tanggung jawab yang lebih berat dan mendalam dengan menginsafkan kepadanya dengan sumpah jabatan itu, bahwa hakim bertanggung jawab kepada hukum, kepada diri sendiri, kepada rakyat, kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b. Kewajiban dan Tanggung Jawab Hakim

Kewajiban hakim yang terutama sebagai organ pengadilan yaitu tidak boleh menolak untuk memutuskan mengadili suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili ( Pasal 16 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman).

Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 dijelaskan bahwa kewajiban hakim adalah sebagai berikut :

1) Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dalam masyarakat (Pasal 28 ayat (1));

2) Hakim wajib memperhatikan sifat baik dan jahat dari tertuduh pada waktu mempertimbangkan berat ringannya pidana (Pasal 28 ayat (2));

3) Seorang hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami atau istri meskipun telah bercerai, dengan ketua, salah seorang hakim anggota, jaksa, advokat, atau panitera. (Pasal 29 ayat (3));

4) Ketua Majelis, Hakim anggota dan bahkan jaksa atau panitera yang masih terikat dalam hubungan keluarga sedarah sampai derajat tiga atau semenda, wajib pula mengundurkan diri dari pemeriksaan (Pasal 29 ayat (4));

5) Seorang hakim atau panitera wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila ia mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara yang sedang diperiksa, baik atas kehendaknya sendiri maupun atas permintaan pihak yang berperkara (Pasal 29 ayat (5));

6) Hakim wajib bersumpah menurut agamanya sebelum memangku jabatan (Pasal 30));

7) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya hakim wajib menjaga kemandirian peradilan (Pasal 33)).

c. Wewenang Hakim

Wewenang hakim diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986. Hakim merupakan pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili ( Pasal 1 butir (8) KUHAP ) Selanjutnya dalam Pasal 1 butir (9) KUHAP ditentukan bahwa yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, tidak memihak disidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur Undang-Undang.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Pasal 50 disebutkan bahwa Pengadilan Negeri bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perdata ditingkat pertama Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Pasal 16 ayat (1) berbunyi: Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa mengadili dan memutus suatu petkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya dan Pasal l7 ayat (1) berbunyi: Semua pengadilan memeriksa, mengadili dan memutus dengan sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang hakim kecuali undang-undang menentukan lain merupakan landasan hukum wewenang

hakim dalam memeriksa memutus dan menyelesaikan perkara perdata dan pidana.

d. Kebebasan Hakim

Undang-Undang Dasar melarang campur tangan pihak eksekutif maupun pihak legislatif terhadap hukum bahkan pihak atasan langsung dari hakim yang bersangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mempengaruhi ataupun mendiktekan kehendaknya kepada hakim bawahan. Namun kebebasan hakim tidak harus diartikan bahwa hakim dapat melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap suatu perkara yang diperiksanya akan tetapi hakirn tetap terikat pada hukum yang berlaku. Didukung dengan Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004. Hakim merupakan salah satu faktor pembentuk hukum, dalam pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman menjelaskan bahwa pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa tidak ada atau kurang jelas hukumnya, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.

Pasal ini mengisyaratkan kepada hakim bahwa hakim dapat bertindak berdasar inisiatif sendiri untuk menyelesaikan suatu perkara bila Undang-Undang belum jelas atau tidak mengatur. Ada yang beranggapan bahwa Undang-Undang adalah lengkap, bahwa tertib hukum merupakan suatu sistem yang lengkap ataupun anggapan bahwa semua telah diatur oleh aturan-aturan hukum positif. Ada beberapa aspek hukum dimana hukum positif tidak mengaturnya secara tegas bahkan tidak ada sama sekali. Sehingga diperlukan peranan hakim untuk menemukan pemecahannya didalam Undang-Undang, dengan mempergunakan logikanya penemuan hukum secara bebas (Martiman Prodjohamidjojo,1984:2-3).

Penemuan hukum oleh hakim merupakan proses pembentukan hukum oleh hakim dalam menyelesaikan perkara yang konkret. Penemuan hukum ini ada dua bentuk:

1) Penemuan Hukum Otonom

Hakim dalam menyelesaikan masalah jika perlu melakukan pencarian hukum dengan pandangan pribadi, pikiran atau apresiasi sendiri tanpa ada bantuan dari hukum yang ada. Pandangan maupun apresiasi dari hakim dalam menemukan hukum didasarkan atas pengalaman, penilaian yuridis ataupun asas-asas hukum material.

2) Penemuan Hukum Heteronom

Ketentuan yang ada dalam Undang-Undang jadi dasar pokok bagi hakim dalam memutus perkara. Keputusan ini tidak dapat menyimpang dari ketentuan hukum yang berlaku yang mendasarkan pada hukum tersebut. Disini hakim tidak mandiri karena harus tunduk pada Undang-Undang (Premis Mayor) peristiwa yang konkret merupakan premis minor sedangkan keputusan merupakan konklusi atau kesimpulan (Sudikno Mertokusumo, 1993 :12-13).

Di lndonesia, putusan hakim atas dasar peraturan perundang-undangan yang terkait, ada kalanya peraturan tersebut tidak lengkap sehingga hakim perlu menafsirkan dan menemukan sendiri atas dasar pengetahuan yang dimilikinya. Peraturan perundang-undangan yang rupanya jelas, jika diterapkan pada hal-hal konkret seringkali membutuhkan penjelasan. Doktrin dan yurisprudensi mengajarkan kepada kita, bahwa hakim dapat menggunakan berbagai cara penafsiran untuk mencari arti Undang-Undang :

1) Penafsiran menurut tata bahasa (gramatikal) yaitu penafsiran dengan menetapkan perkataan menurut tata bahasa. Cara penafsiran ini tidak selalu dapat dipakai, sebab perkataan-perkataan tersebut mempunyai lebih dari satu pengertian, terbukti bahwa perkataan itu harus diartikan lain daripada tata bahasa. 2) Penafsiran sistematis atau logis yaitu keseluruhan sistem

perundang-undangan jadi dasar dalam menafsirkan Undang terhadap masalah dengan menghubungkan satu Undang-Undang dengan Undang-Undang-Undang-Undang yang lain. Misalnya, pengertian pegawai negeri dalam Pasal 92 KUHP diberikan pengertian yang luas dengan Pasal-Pasal Undang-Undang korupsi.

3) Penafsiran ekstensif (meluas) yaitu cara penafsiran dengan memberikan perluasan dari perkataan Undang-Undang. Misalnya penafsiran yang meluaskan ialah putusan tentang pencurian aliran listrik; aliran listrik diartikan sebagai barang.

4) Penafsiran restriktif (menyempitkan) yaitu dengan membatasi ketentuan suatu unsur peraturan (restriktif).

5) Penafsiran Historis (sejarah) yaitu cara penafsiran ini menurut maksud dari pembentuk Undang-Undang, apa yang dikehendaki oleh pembentuk Undang-Undang. Dan penyelidikan ini selalu kembali pada waktu atau zaman ketika dipersiapkan, antara lain dipergunakan memori penjelasan perslag sementara memori jawaban.

6) Penafsiran analogis yaitu cara penafsiran dengan cara memperlakukan suatu peraturan yang berpokok pangkal pada satu azas hukum pada suatu hal tertentu, yang tidak diatur dalam Undang-Undang. Dalam hukum pidana penafsiran analogis tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan asas legalitas yang ditentukan dalam Pasal 1 KUHP, bahwa seseorang tidak dapat dijatuhi hukuman pidana, kecuali apabila berdasarkan satu ketentuan Undang-Undang. Dalam hukum perdata diperbolehkan. 7) Penafsiran Teleologis yaitu berdasarkan tujuan kemasyarakatan,

perundang-undangan disesuaikan dengan hubungan dan situasi sosial yang sesuai dengan masyarakat.

8) Penafsiran a-contrario yaitu cara penafsiran kebalikan dari penafsiran analogis.

9) Penafsiran Autentik yaitu cara penafsiran yang didasarkan kepada pengertian-pengertian yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang itu sendiri (Martiman Prodjohamidjojo, 1983 : 9-11 ).

Dalam Pasal 28 ayat (l) Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004, kewajiban hakim sebagai penegak hukum dan keadilan ialah hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat, yang didalam penjelasan atas pasal tersebut dimaksudkan agar putusan hakim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat, agar hal itu tercapai maka hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. selain penafsiran undang-undang, hakim dalam menentukan seseorang bersalah atau tidak, harus berdasar pembuktian yang sah. Dalam sistem pembuktian dikenal beberapa teori, antara lain:

1) Conviction Raisonee

Sistem pembuktian atas dasar keyakinan hakim dan harus dilandasi alasan-alasan logis dan dapat diterima akal.

2) Conviction In time

Sistem pembuktian berdasar atas keyakinan hakim. Keyakinan hakim dapat diambil dan disimpulkan dari alat-alat bukti yang diperiksa dalam pengadilan atau dapat pula pemeriksaan alat-alat bukti ini diabaikan hakim untuk kemudian langsung menarik keyakinan dari keterangan pengakuan terdakwa. Jadi walaupun terdakwa bersalah menurut alat bukti tetapi hakim tidak menganggap bersalah, maka ia tidak dapat dijatuhi hukuman. 3) Pembuktian menurut Undang-Undang positif.

Sistem pembuktian ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan oleh Undang-Undang. Hakim dapat menghukum terdakwa berdasarkan alat bukti yang sah menurut Undang-Undang.

4) Pembuktian menurut Undang-Undang negatif.

Seorang terdakwa dapat dijatuhi hukuman jika ada dua komponen: (a) Pembuktian harus dilakukan menurut ketentuan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut Undang-Undang.

(b) Keyakinan dari hakim yang didasarkan atas ketentuan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut Undang-Undang. Sistem ini merupakan perpaduan antara sistem pembuktian positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan hakim (Martiman Prodjohamidjojo, 1983 : 14-17).

2. Tinjauan Umum mengenai Putusan Pengadilan a. Pengertian Putusan Pengadilan

Istilah putusan pengadilan mengandung beberapa pengertian :

1) Putusan pengadilan menurut Pasal 1 butir l1 Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang terbuka berupa pemidanaan, bebas, atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal dan cara menurut Undang-Undang.

2) “Putusan adalah hasil atau kesimpulan dari sesuatu yang telah dipertimbangkan dan dinilai dengan semasak-masaknya bisa berupa tulisan ataupun lisan” ( Martiman Prodjohamidjojo:1983:78).

b. Dasar Hukum Putusan Pengadilan

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986, Hakim merupakan pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili (Pasal 1 butir (8) KUHAP). Selanjutnya dalam Pasal 1 butir (9) KUHAP ditentukan bahwa yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, tidak memihak disidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur Undang- Undang.

Hakim adalah satu-satunya pejabat negara yang oleh Undang-Undang diberi wewenang untuk menyatakan seseorang bersalah melakukan tindak pidana dan wewenang menghukumnya. Menurut Pasal 183 KUHAP seseorang dapat dijatuhi hukuman bila :

1) Kesalahan yang dilakukan terbukti bersalah minimal dengan dua alat bukti yang sah menurut undang-undang.

2) Hakim mendapat keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwa bersalah melakukannya.

c. Macam-Macam Putusan

Menurut Pasal 191 KUHAP, terdapat tiga macam putusan, yaitu: 1) Putusan yang mengandung pembebasan terdakwa.

Pasal 191 ayat (1) KUHAP berbunyi : jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan disidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan maka terdakwa diputus bebas. Dakwaan tidak terbukti berarti apa yang dipersyaratkan oleh Pasal 183 KUHAP tidak terpenuhi, yaitu :

(a) Tiadanya sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, yang disebut oleh Pasal 184 KUHAP.

(b) Meskipun terdapat dua alat bukti yang sah, akan tetapi hakim tidak mempunyai keyakinan atas kesalahan terdakwa.

(c) Jika salah satu atau lebih unsur tidak terbukti dalam hal ini makna keyakinan hakim berdasarkan atas alat bukti yang sah menurut Undang-Undang bukan atas perasaan hakim sebagai seorang pribadi. Setelah hakim mengeluarkan putusan maka saat itu juga terdakwa bebas, dan untuk terdakwa yang berada dalam tahanan maka jaksa dapat segera memerintahkan untuk membebaskannya ( Pasal 192 ayat (1) KUHAP).

2) Putusan yang mengandung pelepasan terdakwa dari segala tuntutan hukum.

Pasal 191 ayat (2) KUHAP berbunyi : Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum. Hal ini terjadi jika :

(a) Terdapat kesalahan dalam merumuskan atau melukiskan perbuatan yang dilakukan terdakwa kedalam surat dakwaan, sehingga tidak mencocoki dengan rumusan ketentuan peraturan hukum pidana yang didakwakan. (b) Terdakwa dalam keadaan:

(i) Sakit jiwa, atau cacat jiwanya, Pasal 44 KUHP; (ii)Keadaan memaksa (overmacht) Pasal43 KUHP; (iii) Membela diri (noodweer) Pasal 49 KUHP;

(iv)Melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan Undang-Undang, Pasal 50 KUHP;

(v) Melakukan perintah yang diberikan oleh atasan yang sah, Pasal 51 KUHP;

(vi)Baik pada putusan yang mengandung pembebasan maupun mengandung pelepasan dari segala tuntutan hukum, menurut Pasal 67 KUHAP tidak dapat dimintakan pemeriksaan tingkat banding.

3) Putusan yang mengandung penghukuman terdakwa.

Pasal 193 ayat (l) KUHAP berbunyi, jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana. Terdakwa bersalah, berarti dakwaan itu terbukti, dan syarat untuk menjatuhkan pidana telah dipenuhi. Hakim wajib memberitahukan kepada terdakwa akan hak-haknya segera setelah hakim mengucapkan putusannya (Pasal 196 ayat (3) KUHAP), yaitu:

(a) Hak untuk menerima atau menolak putusan;

(b) Hak mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak putusan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang;

(c) Hak meminta menangguhkan pelaksanaan putusan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang untuk mengajukan grasi, dalam hal ia menerima putusan; (d) Hak meminta diperiksa perkaranya dalam tingkat banding

dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang, dalam hal ia menolak putusan;

(e) Hak mencabut pemyataan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini.

d. Jenis Putusan Pengadilan

Menurut KUHAP putusan pengadilan ada dua macam yaitu putusan sela dan putusan akhir. Putusan sela dijatuhkan bila perkara di periksa tetapi belum memasuki materinya, sedangkan putusan akhir dijatuhkan bila pemeriksaan suatu perkara telah selesai dengan materi perkaranya. Jadi perbedaannya pada sejauh mana perkara pidana dapat diperiksa. Dasar hukum putusan sela pada perkara pidana yaitu Pasal 156 ayat 1 KUHAP sedangkan putusan akhir diatur dalam Pasal 182 ayat 3 dan 8 KUHAP.

e. Sifat Putusan Pengadilan

Menurut Pasal 191 KUHAP dapat disimpulkan ada dua macam sifat putusan yaitu :

(1) Putusan Pemidanaan, yaitu putusan yang bersifat menghukum terdakwa karena yang bersangkutan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana.

(2) Putusan yang Bukan Pemidanaan ada dua yaitu : Putusan yang bebas dari segala dakwaan yaitu bila dakwaan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sesuai dengan dakwaan penuntut umum dan putusan lepas dari segala tuntutan yaitu bila persidangan terdakwa benar-benar melakukan tindak pidana tetapi hukum yang bersangkutan tidak dapat dipidana karena dua alasan yaitu alasan pemaaf (Pasal 44 KUHP) dan alasan pembenar (Pasal 49 KUHP).

f. Syarat-Syarat putusan pengadilan

Dalam KUHAP diatur syarat sahnya suatu putusan pengadilan yaitu bila diucapkan pada sidang terbuka (Pasal 195 KUHAP). Jadi syarat sahnya suatu putusan pengadilan memenuhi syarat-syarat :

(1) Memuat Hal-Hal Yang Diwajibkan ( Pasal 197 ayat 1 dan 2 KUHAP). Dalam KUHAP tidak diatur mengenai bentuk dari putusan pengadilan,

sedangkan isi dari suatu putusan pengadilan secara terperinci diatur dalam Pasal 197 ayat 1 KUHAP adapun formalitas yang diwajibkan untuk dipenuhi di dalam putusan hakim sebagaimana diatur dalam pasai 197 (1) dan (2) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yaitu:

(a) Kepala putusam yang dituliskan berbunyi: " DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA".

(b) Nama lengkap, tempat lahir, umur, atau tanggal lahir jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan terdakwa;

(c) Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan;

(d) Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa; (e) Tuntutan pidana sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan; (f) Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum

dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan meringankan terdakwa;

(g) Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali perkara diperiksa oleh hakim tunggal;

(h) Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah dipenuhinya semua unsur dalam tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan;

(i) Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebut jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti;

(j) Keterangan bahwa seluruh surat temyata palsu atau keterangan dimana letaknya kepalsuan itu jika terdapat surat otentik dianggap palsu;

(k) Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan:

(l) Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum,nama hakim yang memutus dan nama panitera.

3. Tinjauan Umum tentang Tindak Pidana

a. Pengertian, Unsur-Unsur dan Jenis Tindak Pidana.

Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu, ada hubungan yang erat pula. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang, dan orang tidak dapat diancam pidana, jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya. “Dan justru untuk menyatakan hubungan yang erat itu; maka dipakailah perkataan perbuatan, yaitu suatu pengertian abstrak yang menunjuk kepada dua keadaan konkret: pertama, adanya kejadian yang tertentu dan kedua, adanya orang yang berbuat, yang menimbulkan kejadian itu”( Moeljatno,2002:54).

Istilah tindak pidana sering dipakai oleh pihak menteri kehakiman, khususnya dalam perundang-undangan. Menurut Moeljatno, meskipun kata "tindak" lebih pendek daripada "perbuatan" tapi "tindak" tidak menunjuk kepada hal yang abstrak seperti perbuatan, tetapi hanya menyatakan suatu keadaan yang konkrit. Kita sering mendengar bahwa istilah, strafbaarfeit sering diartikan dengan tindak pidana, namun sebelumnya kita lihat dulu arti dari strafbaarfeit dari beberapa pakar hukum, antara lain :

Simons rnenerangkan bahwa strabaarfeit adalah kelakuan (handeling) yang diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.

Van Hamel merumuskan strabaatfeit adalah kelakuan orang (menseliike gedraging) yang dirumuskan dalam ret, yang bersifat melawan

hukum, yang patut dipidana ktrafwaardig) dan dilakukan dengan kesalahan.

Jika melihat pengertian-pengertian ini maka disitu diatur dalam pokoknya ternyata:

(1) Bahwa feit dalam strabaarfeit berati handeling, kelakuan atau tingkah laku;

(2) Bahwa pengertian strabaarfeit dihubungkan dengan kesalahan orang yang mengadakan kelakuan tadi ( Moeljatno,2002:56 ). Istilah ini kemudian berkembang menjadi sangat luas dan melahirkan berbagai istilah, sehingga dikatakan bahwa dari strabaarfeit ini menyebabkan penafsiran dan pengertian yang berbeda dari setiap ahli sejarah hukum. Tindak pidana merupakan istirah yang sering dipakai dalam tindak pidana. Istilah tindak pidana dimaksudkan sebagai terjemahan dari istilah bahasa belanda, yaitu strabaafeit. Tindak pidana (strabaarfeit) sendiri sering diartikan sebagai:

(a) Peristiwa pidana; (b) Perbuatan pidana; (c) Pelanggaran pidana;

(d) Perbuatan yang dapat dihukum; (e) Perbuatan yang boleh dihukum

Menurut Mezger, bahwa untuk menyimpulkan suatu hal masuk sebagai perbuatan pidana, maka ada beberapa unsur yang harus ada didalamnya yaitu :

(a) Kelakuan dan akibat;

(b) Hal ikhwal atau keadaan yang meyertai perbuatan; (c) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana; (d) Unsur melawan hukum obyektif;

(e) Unsur melawan hukum yang subyektif ( Moeljatno, 2002:63). Unsur-unsur tindak pidana sendiri dapat dibedakan menjadi dua segi yaitu:

1) Unsur Subyektif

Yaitu hal-hal yang melekat pada diri si pelaku atau berhubungan dengan si pelaku, yang terpenting adalah yang bersangkutan dengan batinnya. Unsur subyektif tindak pidana meliputi:

(i) Kesengajaan (Dolus) atau Kealpaan (Culpa); (ii) Niat atau maksud dengan segala bentuknya; (iii) Ada atau tidaknya perencanaan;

(iv) Adanya perasaan takut;

(v) Adanya kemampuan bertanggung jawab.

2) Unsur Obyektif

Yaitu hal-hal yang berhubungan dengan keadaan lahiriah, yaitu dalam keadaan mana tindak pelaku itu dilakukan dan berada diluar batin si pelaku unsur-unsumya meriputi Sifat melanggar hukum, Kualitas pelaku, Kausalitas, yaitu yang berhubungan antara penyebab yaitu tindakan dengan akibatnya.

Mengenai jenis-jenis tindak pidana berhubungan antara penyebab yaitu tindakan dengan akibatnya. Macam-macam delik antara lain :

(a) Delik menerus dan tidak menerus

Delik menerus adalah perbuatan yang dilarang menimbulkan keadaan yang berlangsung terus. Delik tidak menerus adalah delik yang selesai setelah timbul akibat yang dilarang.

(b) Delik Comissionis dan Delik Omissionis

Delik comissionis adalah delik yang berupa berbuat sesuatu, sedangkan delik omissionis adalah delik yang tidak berbuat sesuatu.

(c) Delik Dolus dan Delik Culpa

Dokumen terkait