• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen PADA ISOLAT KLINIS BAKTERI (Halaman 21-36)

2.1 Antibiotika

Antibiotika merupakan suatu substansi antimikroba yang diperoleh dari atau bentuk yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang umumnya adalah jamur maupun zat sintetik lain. Antibiotika dikenal sebagai agen antimikroba, adalah obat yang melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Beberapa antibiotika merupakan senyawa sintetis (tidak dihasilkan oleh mikroorganisme) yang juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, istilah

"agen antibakteri" mengacu pada kedua senyawa alami dan sintetis, akan tetapi banyak orang menggunakan kata "antibiotika" untuk merujuk kepada keduanya.

Meskipun antibiotika memiliki banyak manfaat, tetapi penggunaannya telah berkontribusi tehadap terjadinya resistensi (Katzung, 2007).

Konsep mengontrol penggunaan obat ini sering disebut dengan pengobatan yang rasional yaitu meresepkan obat yang tepat, dalam dosis yang adekuat untuk durasi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan klinis pasien serta dengan harga yang paling rendah. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) Global Strategy, penggunaan antibiotika yang tepat adalah penggunaan antibiotik yang efektif dari segi biaya dengan peningkatan efek terapeutik klinis, meminimalkan toksisitasobat dan meminimalkan terjadinya resistensi (Ambwani et.al, 2006). Pemilihan terapi antibiotika yang rasional harus mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain faktor pasien, bakteri dan antibiotika. Terapi empiris diarahkan pada bakteri yang dikenal menyebabkan infeksi secara umum (Tjay et.al, 2007). Penggunaan antibiotik dalam jumlah yang banyak dan

penggunaannya yang salah diduga sebagai penyebab utama tingginya jumlah patogen dan bakteri komensal resisten di seluruh dunia. Pengurangan jumlah kejadian penggunaan antibiotik yang tidak tepat merupakan cara terbaik untuk melakukan kontrol terjadinya resistensi bakteri (Bruton et.al, 2008).

2.2 Penggolongan Antibiotika

Penggolongan antibiotika secara umum dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur kimia antibiotika (Tjay et.al, 2007) yaitu :

a. Golongan beta laktam, antara lain golongan sefalosporin yaitu generasi pertama (sefadroksil, sefazolin, sefaleksin, sefalotin, sefapirin dan sefadrin), generasi kedua (sefaklor, sefamandol, sefanisid, sefuroksim, sefamisin, sefoksitin, sefametazol dan sefotetan), generasi ketiga (sefotaksim, seftazidim, sefodiksim proksetil, sefatamet pivoksil, seftibuten, sefiksim, sefodizim, seftriakson dan sefoperazo) dan generasi keempat (sefepim, sefipirom). Golongan beta laktam juga termasuk monosiklik dan penisilin (amoksilin).

b. Antibiotika golongan aminoglikosida, dihasilkan oleh jenis-jenis fungi Streptomyces dan Micromonospora. Semua senyawa dan turunan semi-sintesis mengandung dua atau tiga gula-amino di dalam molekulnya, yang saling terikat secara glukosidis. Spektrum kerjanya luas dan meliputi terutama banyak bakteri gram negatif. Obat ini juga aktif terhadap gonococci dan sejumlah kuman gram-positif. Aktifitasnya adalah bakterisid, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Contohnya streptomisin, gentamisin, amikasin, neomisin dan paranomisin.

c. Antibiotik golongan tetrasiklin, khasiatnya bersifat bakteriostatis, hanya melalui injeksi intravena dapat dicapai kadar plasma yang bakterisida lemah. Mekanisme kerjanya berdasarkan diganggunya sintesa protein kuman. Spektrum antibakterinya luas dan meliputi banyak kokus gram positif dan batang gram negatif. Contohnya antibiotika golongan ini yaitu tetrasiklin, doksisiklin dan monosiklin.

d. Antibiotika golongan makrolida, bekerja secara bakteriostatis terhadap terutama bakteri gram-positif dan spectrum kerjanya mirip penisilin-G.

Mekanisme kerjanya melalui pengikatan reversibel pada ribosom bakteri, sehingga sintesa proteinnya dihalangi. Absorbinya tidak teratur, sering menimbulkan efek samping lambung-usus, dan waktu paruhnya singkat, maka perlu ditakarkan sampai 4x sehari. Contoh jenis antibiotika ini adalah eritromisin dan azitromisin.

e. Antibiotika golongan linkomisin, dihasilkan oleh Srteptomyces lincolnensis. Contoh antibiotik ini adalah linkomisin, khasiatnya bakteriostatis dengan spektrum kerja lebih sempit daripada makrolida, terutama terhadap bakteri gram positif dan anaerob. Berhubung efek sampingnya hebat kini hanya digunakan bila terdapat resistensi terhadap antibiotika lain.

f. Antibiotika golongan kuinolon, senyawa-senyawa kuinolon berkhasiat bakterisida pada fase pertumbuhan bakteri, berdasarkan inhibisi terhadap enzim DNA-gyrase bakteri, sehingga sintesis DNAnya dihindarkan.

Golongan ini hanya dapat digunakan pada infeksi saluran kemih (ISK)

tanpa komplikasi. Contoh antibiotik golongan ini yaitu siproflokasin, levoflokasin, oflokasin, norflokasin dan maksiflokasin.

g. Antibiotik golongan kloramfenikol, golongan antibiotik ini memiliki spektrum luas, berkhasiat bakteriostatis terhadap hampir semua bakteri gram positif dan sejumlah bakteri gram negatif. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan sintesa polipeptida bakteri..

2.3 Mekanisme Terjadinya Resistensi Antibiotika

Secara umcum mekanisme kerja antibiotik pada sel bakteri dapat terjadi melalui bebrapa cara yaitu menghambat sintesis dinding sel bakteri, menghambat fungsi membran plasma, menghambat sintesis asam nukleat, menghambat sintesis protein melalui penghambatan pada tahap translasi atau transkripsi meterial genetik dan menghambat metabolisme folat. Perubahan-perubahan dasar dalam hal kepekaan mikroorganisme terhadap antibiotika tanpa memandang faktor genetik. Beberapa hal yang mendasar terjadinya resistensi antibiotika yaitu ; dihasilkannya enzim yang dapat menguraikan antibiotik seperti enzim penisilinase, sefalosporinase, fosforilase, adenilase dan asetilase, perubahan permeabilitas sel bakteri terhadap obat, meningkatnya jumlah zat-zat endogen yang bekerja antagonis terhadap obat perubahan jumlah reseptor obat pada sel bakteri atau sifat komponen yang mengikat obat pada targetnya (Sudigdoadi, 2015).

Perubahan sasaran target antibiotika yaitu modifikasi menjadi insensitif, penurunan fungsi fisiologik dari target. Pencegahan mencapai target terjadi karena Kegagalan obat memasuki sel dan Inaktivasi antibiotik yang mendestruksi obat hingga memodifikasi obat sehingga gagal berikatan dengan target. Resistensi

bakteri juga dapat terjadi secara intrinsik dan gen yang didapat. Resistensi yang terjadi secara intrinsik dengan kromosomal dan berlangsung melalui multiplikasi sel yang akan diturunkan pada turunan berikutnya. Resistensi gen yang didapat terjadi akibat mutasi khromosomal atau akibat transfer DNA (Bezoen et.al, 2001).

2.4 Multiple Drug Resistant Organisms (MDROs)

MDROs merupakan bakteri yang telah menjadi resisten terhadap antibiotika tertentu, dan antibiotik ini tidak dapat lagi digunakan untuk mengontrol atau membunuh bakteri. Bakteri yang kebal terhadap lebih dari satu antibiotik disebut multiple drug resistant organisms (MDROs). Istilah lain yang digunakan termasuk resistensi antibiotika, resistensi antibakteri, dan resistensi antimikroba. MDROs berkembang ketika antibiotika dipakai dalam jangka panjang dan dipakai pada saat yang tidak diperlukan. Pada awalnya, hanya beberapa bakteri dapat bertahan hidup pada terapi dengan antibiotika. Semakin sering antibiotika digunakan, semakin besar kemungkinan bakteri untuk menjadi (Sheryl, 2013).

MDROs dapat menyebar dari pasien ke pasien di tangan petugas kesehatan, menyebar pada objek seperti troli obat-obatan, bed rawat inap, meja operasi, tiang infus dan kateter. Bakteri MDR juga dapat menyebar dari orang ke orang melalui kontak langsung misalnya menyentuh luka berdarah. Infeksi MDRO terjadi paling sering pada anak-anak, orang tua, atau pada orang yang memiliki gangguan kesehatan seperti paru-paru kronis, jantung, atau penyakit ginjal (Jane et.al, 2006).

2.5 Extended Spectrum Beta Lactamases (ESBL)

ESBLs merupakan enzim mempunyai kemampuan untuk menghidrolisis antibiotika golongan penisilin, sefalosporin generasi I, II, III serta golongan aztreonam. ESBL paling banyak dihasilkan oleh Enterobacteriaceae (terutama Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae). ESBLs berasal dari enzim beta-laktamase yang termutasi, mutasi ini menyebabkan peningkatan aktivitas enzimatik beta-laktamase sehingga enzim ini dapat menghidrolisis sefalosporin generasi III dan IV serta aztreonam (Kamlesh et.al, 2015).

Penggunaan antibiotika golongan sefalosporin generasi III secara luas untuk pengobatan infeksi di rumah sakit disebutkan menjadi salah satu faktor risiko infeksi oleh bakteri penghasil ESBLs. Selain resisten terhadap antibiotika golongan sefalosporin, bakteri penghasil ESBLs juga sering menunjukkan resistensi pada penggunaan kuinolon. Selain panggunaan antibiotika secara berlebihan, pasien dengan penyakit berat, LOS (Length of Stay) yang lama dan dirawat dengan alat-alat medis yang sifatnya invasif untuk waktu yang lama juga merupakan risiko tinggi untuk terinfeksi oleh bakteri penghasil ESBLs. Penelitian tentang ESBLs sangat berkembang, yang berasal dari lebih dari 30 negara yang berbeda dan penelitian ini mencerminkan distribusi ESBLs di seluruh Dunia (Kamlesh et.al, 2015).

Gen pengkode ESBL pada bakteri paling banyak berada di plasmid, dalam suatu review artikel yang diterbitkan oleh Indian Journal microciology : ESBLs merupakan plasmid mediated dan termasuk dalam golongan TEM dan SHV.

Canadian External Quality Assesment Advisory Group for Antibiotic menyatakan bahwa gen yang mengontrol produksi beta-laktamase terletak di dalam plasmid

atau kromosom. Hal ini mempermudah kemampuan gen ESBL pindah dari satu organisme ke organisme yang lain, sehingga penyebaran resistensi sangat mudah terjadi antar strain bahkan antar spesies . Plasmid juga bertanggung jawab atas gen pengkode yang membawa gen resistensi untuk golongan obat yang lain misalnya aminoglikosida. Keadaan ini membuat pilihan antibiotika untuk melawan organisme yang memproduksi ESBLs sangat terbatas (Kaur et.al, 2013).

Umumnya ESBL berasal dari gen TEM-1, TEM-2, atau SHV-1 yang mengalami mutasi dan mengubah konfigurasi asam amino di sekitar lokasi aktif dari beta laktam. Keadaan ini membuat spektrum antibiotik beta laktam rentan terhadap hidrolisis oleh enzim ini. Famili Enterobacteriaceae sering mengekspresikan plasmid-encoded beta -lactamase (TEM-1, TEM-2, dan SHV-1) yang mengkode resisten terhadap penisilin namun tidak terhadap sefalosporin.

Namun akhir-akhir ini sudah banyak ditemukan bakteri penghasil beta-laktamase yang resisten terhadap golongan antibiotik cephalosporin. Jenis ESBL yang sering ditemukan adalah SHV beta laktamase (kelas A), TEM beta laktamase (kelas A), CTX-M beta laktamase (kelas A), OXA beta-laktamase (class D) dan PER tipe ESBL (Deepthi et.al, 2010).

Struktur dan mekanisme kerja beta laktamase yaitu semua ESBL memiliki serine yang terletak di active sites kecuali sebagian kecil class B Grup metallo beta-lactamase dan memiliki banyak kesamaan asam amino dengan penicillin binding proteins (PBPs). Beta laktamase akan menyerang ikatan amida di cincin beta laktam penisilin, sefalosporin serta menghasilkan penicillinoic acid dan cephalosporic acid sehingga senyawa anti bakteri menjadi tidak aktif. Plasmid yang memiliki ukuran ≥ 80 Kb dan bertanggung jawab

terhadap pembawa gen ESBL. Pada organisme penghasil ESBL juga sering resisten terhadap antibiotika aminoglikosida, flurokuinolon, tetrasiklin, clorampenikol dan sulfametazol-trimetoprin (Tham, 2012).

Pada ESBL terjadi substitusi asam amino dan mengakibatkan perubahan konfigurasi enzim. Perubahan ini akan merubah fungsi enzim tersebut.

Terbukanya substrat beta laktam biasanya juga dapat meningkatkan kemampuan enzim beta-laktamase, contohnya substitusi asam amino tunggal pada posisi 104, 164, 238, dan 240 menghasilkan ESBLs. Biasanya ESBLs dengan spektrum luas memiliki lebih dari satu substitusi asam amino (Tham, 2012).

2.6 Bakteri penghasil ESBLs

ESBLs diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan urutan asam amino homologi mereka. Praktek pengendalian infeksi yang tepat dan hambatan sangat penting untuk mencegah penyebaran dan bakteri yang memproduksi ESBL. Bakteri telah mengembangkan strategi yang berbeda untuk melawan efek antibiotika, identifikasi mekanisme resistensi dapat membantu dalam penemuan dan desain agen antimikroba baru (Shaikh et.al, 2015).

Meskipun bakteri penghasil ESBLs telah banyak ditemukan pada berbagai Enterobacteriaceae dan Pseudomonadaceae di berbagai belahan dunia, namun mereka paling sering teridentifikasi dalam Klebsiella pneumonia dan Escherechia coli. Pada berbagai belahan dunia 10-40% strain Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae mengekspresikan ESBLs. Bakteri yang pernah dilaporkan sebagai penghasil ESBLs adalah Acinetobacter baumannii, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter spp., Salmonella spp., Morganella morganii, Proteus mirabilis dan Serratia marcescens (Umadevi et.al, 2011).

1. Escherichia coli

Spesies bakteri dari genus Escherichia yang paling sering diisolasi dari spesimen klinik adalah Escherichia coli. Organisme merupakan mikroba normal utama di usus besar, dan juga merupakan bakteri penyebab utama infeksi saluran kemih, pneumonia, meningitis, serta septikemia. Paparan terhadap antibiotika yang tidak tepat akan menyebabkan berkembangnya bakteri Escherichia coli yang resisten, naik melalui plasmid maupun melalui kromosom. Terbentuknya enzim ESBL menyebabkan Escherichia coli. resisten terhadap golongan penisilin, sefalosporin dan aztreonam. Resistensi Escherichia coli terhadap golongan kuinolon disebabkan karena berkurangnya pembentukan porin, sehingga permeabilitas melalui membran luar akan berkurang (Abbot et.al, 2009).

2. Klebsiella pneumonia

Anggota genus Klebsiella tersebar luas di lingkungan (air, tanah, dan tanaman). Bakteri ini dapat hidup dalam keadaan bebas di lingkungan untuk periode waktu yang panjang. Klebsiella juga ditemukan sebagai bakteri komensal yang normal dalam saluran pencernaan vertebrata dan mamalia, termasuk burung, reptil dan bahkan serangga. Pada manusia, Klebsiella pneumoniae merupakan kuman saprofit yang terdapat di nasofaring dan saluran cerna. Klebsiella yang sering dijumpai yaitu Klebsiella pneumoniae dan Klebsiella oxytoca, merupakan kuman patogen yang penting dalam pelayanan kesehatan. Spesies ini sering menyebabkan infeksi nosokomial, seperti septikemia, endokarditis, pneumonia, osteomielitis dan infeksi saluran kemih. Klebsiella sebagai penyebab infeksi nosokomial terkait dengan pemakaian antibiotik spektrum yang luas. Pemakaian antibiotik yang luas ini menyebabkan terjadinya resistensi. Pada tahun 1980-an

ditemukan Klebsiella yang menghasilkan ESBLs. Klebsiella pneumoniae menghasilkan ESBL tipe enzim SHV-1 diperantarai plasmid ataupun kromosomal (Kotra et.al, 2002).

Mekanisme lain yang menyebabkan terjadinya resisten dan multi resisten pada Klebsiella pneumoniae yaitu melalui permeabilitas membran luar.

Permeabilitas membran luar Klebsiella pneumoniae dipengaruhi oleh adanya porin. Klebsiella mempunyai dua porin, yaitu OmpK35 dan OmpK36. Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan ESBL mengalami mutasi pada gen gyrA sehingga hanya mempunyai satu porin saja. Penurunan ekspresi dari membran luar porin ini sering disertai dengan produksi ESBL yaitu tipe TEM atau SHV yang menyebabkan resisten terhadap sefepim atau tipe AmpC yang resisten terhadap imipenem (Jacoby et.al, 2005).

2.7 Tipe Gen ESBLs

Tipe gen ESBL memimiliki variasi genotip, genotip yang paling banyak adalah tipe SHV, TEM, dan CTX-M. Tipe lain yang penting adalah OXA, VEB dan PER (Jasser, 2006).

1. Tipe TEM (Temniore)

ESBL tipe TEM terdiri dari blaTEM-1 dan blaTEM-2. blaTEM-1 pertama kali ditemukan pada tahun 1966 dari Escherochia coli yang diisolasi dari seorang pasien bernama Temoneira di Yunani (hal ini menyebabkan enzim ini disebut sebagai TEM) (Bonomo et.al, 2005). blaTEM-1 beta laktamase adalah enzim yang bertanggungjawab atas resistensi bakteri terhadapat ampisilin, penisilin dan sefalosporin generasi pertama dan dapat diinhibisi oleh asam klavulanat. ESBL menyebabkan sekitar 90% resistensi Escherochia coli terhadap ampisilin dan juga

resistensi Haemophilus influenza dan Neisseria gonorrhoeae terhadap penisilin.

Mutasi spesifik yang terjadi pada blaTEM-1 yang dimediasi melalui proses seleksi antibiotik menyebabkan kemampuan enzim untuk menghidrolisis sefalosporin berspektrum luas dan azteronam (Rupp et.al 2003). ESBLs tipe TEM paling banyak ditemukan pada Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae (Bradford, 2001).

2. Tipe SHV (Sulfhydryl Variable)

ESBL tipe SHV lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan tipe ESBL lainnya. SHV berasal dari kata sulfhidril variable. SHV tipe-1 beta-laktamase yang ditemukan pertama kali pada Klebsiella pneumoniae merupakan enzim yang dikode pada plasmid yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi terhadap penicillin dan sefalosporin generasi pertama. Seperti pada blaTEM-1, mutasi yang terjadi bla SHV-1 menyebabkan kemampuan hidrolisis, blaSHV-1 meningkat sehingga dapat menghidrolisis sefalosporin berspektrum luas dan juga monobaktam. ESBL tipe SHV paling banyak ditemukan pada Klebsiella pneumoniae meskipun juga ditemukan pada Citrobacter diversus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Saat ini telah ditemukan 36 ESBL tipe SHV (Rupp et.al, 2003).

3. Tipe CTX-M (Cefotaxime Munich)

Beberapa tahun belakangan ini, sudah ditemukan sebuah famili plasmid-mediated ESBLs yang memiliki tingkat hidrolisis yang kuat terhadap cefotaksim, dinamakan CTX-M. Tipe ini banyak ditemukan pada Salmonella enterica, dan Escherichia coli, namun ditemukan juga pada beberapa spesies

Enterobacteriaceae lain seperti Klebsiella pneumoniae. Enzim ini terdiri dari CTX-M-1, CTX-M-2 sampai CTX-M-10 (Bradford, 2001).

4. Tipe Lain

Variasi beta laktamase lainnya telah berhasil ditemukan yaitu plasmid mediated atau integron-associated class A enzyme. Tipe ini memiliki titik mutasi yang tidak sederhana dari beta laktamase. Gen OXA tipe ESBLs digolongkan karena kemampuannya menghidrolisis antibiotika oksasilin. Sedangkan tipe lain seperti PER dikarakteristikkan berdasarkan perbedaan geografisnya. Bagian dari ESBL tipe PER hanya 25-27% yang homologi dengan tipe TEM dan SHV. PER-1 memiliki kemampuan untuk menghidrolisis penisilin dan cephalosporin, namun sensitif terhadap inhibisi dari asam klavulanat. PER-1 pertama ditemukan pada strain Pseudomonas aeruginosa di Turki. Pada perkembangannya ditemukan pula pada Salmonella entericaserovar typhimurium, Acitenobacter baumanii, Proteus mirabilis dan Alcaligenes fecalis. PER-2 yang 85 % homolog dengan PER-1, telah didapatkan pada Salmonella typhimurium, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Vibrio cholera. PER-2 kebanyakan terdapat di Amerika Selatan (Rupp et.al, 2003).

Selain tipe PER ada juga tipe Vietnam Extended Spectrum β-lactamase (VEB). VEB-1 memiliki homologi yang paling besar dengan PER-1 dan PER-2 (38%). Memiliki kemampuan resistensi tingkat tinggi terhadap seftazidim, sefotaksim dan aztreonam. VEB-1 pertama kali ditemukan pada isolat Escherichia coli di Vietnam. Sebuah beta-laktamase lain yang memiliki struktur yang identik dengan VEB-1 telah ditemukan juga pada Klebsiella pneumonia, Enterobacter cloaca and Pseudomonas aeruginosa di Thailand. ESBL tipe lainnya yang telah

ditemukan namun jarang dilaporkan karena masih dalam jumlah yang sedikit pada daerah geografis yang terbatas seperti GES, BES, SFO, TLA dan IBC beta laktamase ditemukan pada Enterobacteriaceae (Rupp et.al, 2003).

2.8 Deteksi ESBLs

Metode yang digunakan untuk skrining ESBLs dikeluarkan oleh NCCLS (National Committee for Clinical Laboratory Standards) yang sekarang berganti nama menjadi CLSI (Clinical Laboratory Standard Institute). Berikut adalah 2 jenis uji yang dapat digunakan untuk skrining ESBL :

1. Uji Double Disk Synergy

Metode ini pertama kali ditemukan oleh Jarlier et.al (1988) dengan menggunakan agar Mueller Hinton. Skrining dengan metode uji Double Disk Synergy memiliki tingkat kesulitan yang tidak tinggi dan menggunakan alat dan bahan yang cukup sederhana. Uji double disc synergy dilakukan dengan menggunakan cakram augmentin (20 µg amoksilin dan 10 µg asam klavulanat) dan cakram sefotaksim (30 µg), seftazidim (30 µg) serta cefodoksim (30 µg) yang diletakkan di sekitar cakram augmentin sekitar 16-20 mm. Seperti yang diketahui, ESBL adalah enzim yang mampu menghidrolisis antibiotik golongan penisilin, sefalosporin golongan I,II,III serta aztreonam (Rupp et.al, 2003).

Dengan pemberian asam klavulanat sebagai inhibitor beta-laktamase, maka enzim beta-laktamase dapat dihambat. Oleh karena itu, interpretasi hasil yang positif ESBL dari metode uji double disc synergy adalah dengan adanya peningkatan zona hambat dari sefalosporin ke arah cakram asam klavulanat.

Dikarenakan hasil positif dari uji double disc synergy ini tidak memakai satuan

angka yang pasti sebagai batasan hasil positif dan negatif, tingkat subjektivitas dalam menginterpretasikan hasil merupakan kelemahan dalam metode ini (Rupp et.al, 2003).

Meskipun memiliki kelemahan, metode double disc synergy memilki tingkat sensitivitas yang cukup baik yaitu berkisar 79%-96% Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Giriyapur (2011) dari 313 sampel Enterobacteriaceae, 176 sampel (56,23%) merupakan bakteri penghasil ESBL yang diskrining dengan metode double disk synergy, sementara 200 sampel (63,89%) dinyatakan bakteri penghasil ESBL dengan metode uji phenotypic confirmatory. Hal ini menunjukkan bahwa metode double disc synergy dapat diandalkan untuk skrining bakteri penghasil ESBLs (Giriyapur et al, 2011).

2. Uji Fenotip Komersil

Metode pendeteksian ESBL yang komersil adalah E test, AB Biodisk (Solna, Sweden), Vitek 2 (Biomerieux Vitek, Hazelton, Missouri), MicroScan panels dari Dade Behring MicroScan (Sacramento,California, USA), BD Phoenix Automated Microbiology System dari Becton Dickinson Biosciences (Sparks, MO Maryland,USA) (Taneja, 2007).

Wiegand et.al (2007) telah melakukan suatu studi perbandingan terhadap tes konfirmasi fenotip yang konvensional dibandingkan dengan beberapa tes yang telah tersedia secara komersil. Hasilnya : Phoenix memiliki sensitivitas tertinggi (99%) diikuti oleh Vitek 2 (98%) dan Micro Scan (94%). Sedangkan spesifisitasnya sangat bervariasi yaitu 52% pada Phoenix dan 78 % pada Vitek 2.

Sedangkan pada uji E test strips dengan empat cakram kombinasi (termasuk

seftazidim, sefotaksim, sefuroksim, dan sefiprirom) menunjukkan sensitivitas 94% dan 93% dan spesifisitas 85 % dan 81%.

3. Uji Genotip dengan Polymerase Chain Reaction (PCR)

Dengan teknologi modern, gen penyandi ESBL dapat dideteksi melalui amplifikasi DNA yang dilakukan menggunakan metode molekuler standar, yaitu polymerase chain reaction atau PCR. Deteksi genotip memakai metode PCR membutuhkan investasi peralatan khusus yang dapat mengakibatkan kurangnya penggunaan metode ini karena keterbatasan infrastruktur (Tsering et.al, 2009).

Berbagai metode lainnya untuk amplifikasi DNA telah dikembangkan seperti nucleic acid sequence based amplification (NASBA), strand displacement amplification (SDA), dan helicase dependent amplification (HDA), serta loopmediated isothermal amplification (LAMP) (Laohasinnarong, 2011). Loop-mediated isothermal amplification (LAMP) adalah metode amplifikasi DNA yang paling baru dengan spesifisitas, sensitivitas, dan juga kecepatan yang tinggi pada kondisi isotermal dengan memakai empat buah primer dan Bst DNA Polymerase.

Dibanding dengan PCR, LAMP mempunyai beberapa keunggulan, yaitu hanya membutuhkan peralatan yang cukup sederhana, prosedur cepat, dan pembacaan hasilnya mudah untuk dilakukan sehingga dapat dipergunakan dengan infrastruktur terbatas (Fakruddin, 2011).

BAB III

BAHAN DAN METODE

Dalam dokumen PADA ISOLAT KLINIS BAKTERI (Halaman 21-36)

Dokumen terkait