• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ikan Lele (Clarias gariepinus)

Menurut Windriani (2017), Klasifikasi ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias

Spesies : Clarias gariepinus

Gambar 2. Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus)

Ikan lele sangkuriang adalah jenis ikan tawar yang sangat banyak diminati oleh masyarakat, harganya yang merakyat juga tekstur dan rasa yang gurih dan nikmat membuat ikan ini sangat familiar dan banyak digandrungi oleh semua kalangan masyarakat dari usia muda sampai yang tua. Ikan ini memiliki tingkat konversi pakan menjadi bobot tubuh yang baik. Pemeliharaan ikan bertujuan untuk menghasilkan ikan siap konsumsi (Ardika et al., 2020).

Ikan lele sangkuriang secara umum memiliki tubuh yang licin, berlendir, tidak bersisik dan bersungut atau berkumis. Lele sangkuriang memiliki kepala yang panjang, hampir mencapai seperempat dari panjang tubuhnya. Kepalanya pipih ke bawah (depressed) dengan bagian atas dan bawah kepalanya tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang. Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dilengkapi 4 buah sungut (kumis).

Mulut lele dilengkapi gigi atau hanya berupa permukaan kasar di mulut bagian depan. Di dekat sungut, terdapat alat olfaktori yang berfungsi untuk perabaan dan penciuman serta penglihatan yang kurang berfungsi dengan baik. Ikan ini memiliki tiga buah sirip tunggal, yakni sirip punggung (dorsal), sirip ekor (caudal), dan sirip dubur (anal). Sirip punggung dan sirip dubur tersebut berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Sirip dadanya dilengkapi dengan sirip yang keras dan runcing yang disebut patil. (Windriani, 2017).

Habitat ikan lele sangkuriang di sungai dengan arus yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Pada siang hari ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat gelap. Di Indonesia ikan lele merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang penting. Lele lokal atau yang sering disebut walking catfish merupakan lele Sumatera Utara habitat asli di Indonesia.

Dinamakan walking catfish karena kemampuanya untuk berjalan didaratan untuk mencari makanan atau lingkungan yang cocok. Lele sangkuriang berjalan dengan menggunakan sirip pektoral untuk mengangkat tubuhnya dan berjalan (Heri, 2019).

Ikan lele sangkuriang merupakan salah satu komoditas budidaya yang memiliki berbagai kelebihan, diantaranya adalah pertumbuhannya cepat dan

memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi. Jika ikan lele sangkuriang diberi pakan yang banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat. Faktor lain yang menguntungkan adalah sumber protein berbasis insekta tidak berkompetisi dengan manusia sehingga sangat sesuai untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak, termasuk unggas dan ikan (Siagian, 2020).

Maggot

Klasifikasi maggot (Hermetia illucens) menurut Suciati dan Mokolensang et al. (2017) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Kelas : Insecta Ordo : Diptera Famili : Stratiomyidae Genus : Hermetia

Spesies : Hermetia illucens

Maggot (Hermetia illuncens) adalah organisme yang berasal dari telur lalat black soldier fly (BSF) dan salah satu orgnisme pembusuk karena mengonsumsi

bahan-bahan organik untuk tumbuh. Keunggulan dari maggot lalat black soldier yaitu memiliki tekstur yang kenyal dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim alami yang dapat meningkatkan kemampuan daya cerna ikan terhadap pakan. (Sepang et al., 2021).

Larva lalat (maggot) ini tergolong kebal dan dapat hidup di lingkungan yang cukup ekstrim, seperti di media/sampah yang banyak mengandung garam, alkohol, acids/asam dan amonia. Mereka hidup di suasana yang hangat, dan jika udara lingkungan sekitar sangat dingin atau kekurangan makanan, maka maggot

tidak mati tapi mereka menjadi fakum /idle/tidak aktif menunggu sampai cuaca menjadi hangat kembali atau makanan sudah kembali tersedia. Mereka juga dapat hidup di air atau dalam suasana alkohol. Serangga ini memiliki beberapa karakter diantaranya dapat mereduksi sampah organik, dapat hidup dalam toleransi pH yang cukup tinggi, tidak membawa gen penyakit, mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi (40-50%), masa hidup sebagai larva cukup lama (± 4 minggu), dan mudah dibudidayakan (Suciati & Faruq, 2020).

Berdasarkan berbagai insekta yang dapat dikembangkan sebagai pakan, kandungan protein larva cukup tinggi, yaitu 40-50% dengan kandungan lemak berkisar 29-32%. Maggot memiliki fungsi pakan alternatif untuk ikan yang dapat diberikan dalam keadaan segar. Walaupun penggunaan maggot tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya pakan, namun maggot dapat diaplikasikan bersama pakan komersil sehingga biaya produksi dapat ditekan. Maggot juga memiliki kandungan anti jamur dan antimikroba sehingga apabila dikonsumsi ikan akan tahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur (Amandanisa & Suryadarma, 2020).

Harga pakan ikan saat ini memiliki harga yang semakin naik, untuk menekan harga pakan maka diperlukan alternatif seperti penambahan protein dari protein hewani. Salah satu bahan pakan alternatif sebagai sumber protein hewani adalah maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan. Sumber protein dari bahan baku yang berbeda lebih baik dibandingkan dengan sumber protein dengan bahan baku yang sama.

Dalam penelitian Siagian (2020) terdapat nilai laju pertumbuhan bobot spesifik pada setiap perlakuan mengalami peningkatan ikan lele sangkuriang yang

dipelihara dengan pemberian komposisi pakan berbeda memberikan dampak lebih baik terhadap nilai laju pertumbuhan spesifik dimana perlakuan yaitu C (pemberian pakan pelet HI-PRO-VITE 781-1+50 % larva BSF) menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan pelakuan A (pemberian pakan 100%

pellet HI-PRO-VITE 781-1).

Pakan

Pakan dalam budidaya ikan dapat dibedakan menjadi pakan alami dan buatan. Pakan alami adalah pakan yang terdapat di lingkungan ikan hidup dan tidak dilakukan pengolahan pakan. Pakan buatan (pelet) merupakan makanan yang diramu dari beberapa macam bahan makanan yang nilai nutrisi dan daya cernanya sudah diatur kemudian diolah menjadi bentuk khusus. Kandungan nutrisi dalam pakan merupakan unsur yang penting dalam budidaya perikanan.

Secara umum nutrisi yang harus terkandung di dalam pakan ikan diantaranya adalah protein, lemak, asam lemak esensial, karbohidrat, kalsium dan fosfor.

Pakan komersial yang beredar di pasaran sudah diramu sehingga nutrisi yang terkandung sudah lengkap (Bagayo et al., 2019).

Nutrisi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam budidaya ikan. Beberapa komponen nutrisi yang sangat penting dan harus tersedia dalam pakan ikan antara lain adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin serta mineral.

Nutrisi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ikan. Kekurangan salah satu nutrisi dapat menurunkan laju pertumbuhan, menyebabkan penyakit, sedangkan kelebihan nutrisi dapat menyebabkan laju pertumbuhan terhambat (Niode at al., 2016).

Pakan yang baik memiliki komposisi zat gizi yang lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Pemberian pakan yang nilai nutrisinya kurang baik dapat menurunkan kelangsungan hidup ikan dan pertumbuhannya akan lambat (tumbuh kerdil), bahkan dapat menimbulkan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi (malnutrisi). Banyaknya zat-zat gizi yang diperlukan ikan untuk pertumbuhannya berbeda-beda (Amalia et al., 2018).

Peningkatan pertumbuhan ikan dapat dilakukan dengan pemberian pakan yang berfungsi sebagai pemasok energi untuk memacu pertumbuhan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah ketersediaan pakan bagi ikan budidaya baik itu pakan alami maupun pakan buatan yang tersedia secara kualitas dan kuantitas. Salah satu masalah pada usaha budidaya ikan adalah pengadaan pakan yang tidak seimbang dengan kebutuhan ikan yang akan mengakibatkan produksi ikan tidak optimal. Pemberian pakan yang tepat sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ikan. Jenis pakan yang dikonsumsi dapat berupa pakan alami dan pakan buatan yang mengandung nutrien yang dapat memenuhi kebutuhan ikan. Selain itu pemberian pakan diharapkan dapat menyebabkan keseimbangan pemenuhan gizi oleh ikan (Niode at al., 2016).

Pakan akan diproses dalam tubuh ikan dan unsur-unsur nutrisi atau gizinya akan diserap untuk dimanfaatkan membangun jaringan dan daging, sehingga pertumbuhan ikan akan terjamin. Kecepatan laju pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kualitas pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, kondisi lingkungan mendukung, dapat dipastikan laju pertumbuhan ikan akan menjadi cepat sesuai dangan yang diharapkan Pakan

berperan penting sebagai makanan yang sangat dibutuhkan oleh ikan (Amalia et al., 2018).

Pakan yang komponennya terdiri dari dua atau lebih sumber protein dapat memicu pertumbuhan ikan selama penggabungan itu saling melengkapi kekurangan masing-masing sumber bahan pakan, sehingga akan memberikan hasil yang lebih baik daripada pakan yang hanya mengandung satu sumber protein.

Walaupun karbohidrat dalam pakan diperlukan dalam jumlah yang rendah namun apabila kekurangan atau kelebihan akan mempengaruhi keseimbagan energi sehingga pemanfaatan protein dan lemak untuk pertumbuhan terganggu (Sarumaha et al., 2021).

Protein

Komponen protein mempunyai peran penting dalam suatu formula pakan ternak karena terlibat dalam pembentukan jaringan tubuh dan terlibat aktif dalam metabolisme vital seperti enzim, hormon, antibodi dan lain sebagainya Protein yang bersumber pada insekta lebih ekonomis, bersifat ramah lingkungan dan mempunyai peran yang penting secara alamiah. Insekta dilaporkan memiliki efisiensi konversi pakan yang tinggi dan dapat dipelihara serta diproduksi secara massal. Di samping itu, budidaya insekta dapat mengurangi limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan (Siagian, 2020).

Faktor yang berpengaruh terhadap indeks glikemik dalam makanan adalah protein. Semakin tinggi kandungan protein dalam makanan maka indeks glikemiknya semakin rendah. Salah satu karakteristik protein adalah mampu memicu sekresi insulin tanpa meningkatkan glukosa darah. Hal ini dapat terjadi karena sekresi insulin yang dipicu oleh adanya protein relatif lebih lemah jika

dibandingkan dengan karbohidrat. Selain itu proses pencernaan protein juga dapat memicu pelepasan hormon (kolesistokinin) yang dapat meningkatkan rasa kenyang. Oleh karena itu protein merupakan makronutrien yang memiliki efek rasa kenyang yang lebih lama dibandingkan dengan karbohidrat dan lemak (Probosari, 2019).

Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga, Jenis dan umur ikan menentukan jumlah kebutuhan protein. Untuk mengetahui kebutuhan energi pada ikan, harus terlebih dahulu mengetahui tingkat kebutuhan protein optimal dalam pakan bagi petumbuhan. Pertumbuhan sangat erat kaitannya dengan ketersediaan protein dalam pakan. Protein dalam pakan dengan nilai biologis tinggi akan memacu penimbunan protein tubuh lebih besar dibanding dengan protein yang bernilai biologis rendah. Protein adalah nutrien yang dibutuhkan dalam jumlah besar pada formulasi pakan ikan (Masitoh et al., 2015).

Ikan lele sangkuriang merupakan salah satu komoditas budidaya yang memiliki berbagai kelebihan, diantaranya adalah pertumbuhannya cepat dan memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi. Jika ikan lele diberi pakan yang banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat. Faktor lain yang menguntungkan adalah sumber protein berbasis insekta tidak berkompetisi dengan manusia sehingga sangat sesuai untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak, termasuk unggas dan ikan (Siagian, 2020).

Lemak

Kandungan nutrisi pakan yang lengkap selalu dikaitkan dengan bahan yang digunakan dalam menyusun formulasi pakan. Salah satu nutrien pakan yang

penting yang dibutuhkan ikan yaitu protein dan lemak. Lemak merupakan sumber energi yang terbesar bagi tubuh ikan. Lemak sebagai pengganti sumber energi yang disumbangkan oleh protein, sehingga protein dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pertumbuhan. Kebutuhan lemak bagi ikan berbeda-beda dan sangat tergantung dari stadia ikan, jenis ikan dan lingkungan (Marzuqi dan Anjusary, 2013).

Komposisi nutrisi pakan yang digunakan menunjukkan semakin banyak Peningkatan lemak yang tinggi pada pakan akan meningkatkan kandungan energi dalam bahan pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Council (1993) bahwa penggunaan lemak yang tinggi pada pakan akan menghasilkan penimbunan lemak yang terlalu banyak sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan bahkan dapat menurunkan kualitas daging ikan (Sarumaha et al., 2021).

Lemak adalah salah satu zat makanan utama yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ikan, karena lemak memiliki nilai sumber energi yang tinggi yang dapat digunakan aktifitas sehari-hari ikan seperti berenang, mencari makan, menghindari musuh, pertumbuhan, dan ketahanan tubuh. Lemak dan minyak merupakan bagian terbesar dan terpenting kelompok lipid, yaitu sebagai komponen makanan utama bagi organisme hidup. Lemak dan minyak penting karena adanya asam-asam lemak esensial yang terkandung di dalamnya (Munisa et al., 2015).

Kadar Air

Dalam Penelitian Musdalifah (2016) tingginya kadar air pada perlakuan disebabkan karena kadar air tepung tinggi sehingga semakin banyak konsentrasi penambahan tepung maka kadar air yang dihasilkan tinggi. Tingkat kekeringan

pakan sangat menentukan daya tahan pakan karena apabila pakan buatan mengandung banyak air maka akan menjadi lembab. Dalam kondisi ini apabila pakan disimpan terlalu lama akan ditumbuhi jamur. bahwa semakin lama bahan dikeringkan hasil bahan semakin baik karena kadar air yang semakin menurun (Musdalifah, 2019).

SNI menetapkan standar mutu kadar air yaitu menetapkan 12%, serat kasar sebesar 10,10% sementara SNI menetapkan 3%, serta lemak sebesar 12,72%

sementara SNI menetapkan 12%. Kandungan Nutrisi bahan baku pakan digunakan pada kondisi kadar air ˂3%. Semakin tinggi kadar air dalam bahan baku pakan, persentase kandungan nutrisi semakin rendah. Kadar air yang semakin tinggi pada bahan baku pakan menyebabkan kelembaban yang tinggi sehingga mutu dan pertumbuhan bakteri tinggi sehingga mempengaruhi kehigenisan dari baha baku pakan (Sihite, 2013).

Pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan akan terhenti, dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai waktu simpan yang lama. Disamping itu juga pengolahan dapat digunakan untuk meningkatkan nilai Kadar air dan kadar protein akan mengalami perubahan akibat adanya perlakuan lama pengeringan (Yuarni et al., 2015).

Feeding Convertion Ratio (FCR)

Dalam hal budidaya salah satu hal yang diperhatikan adalah konversi pakan untuk mengurangi biaya produksi. Konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah bobot ikan yang dihasilkan. Semakin kecil nilai konversi pakan berarti tingkat efisiensi

pemanfaatan pakan lebih baik, sebaliknya apabila konversi pakan besar, maka tingkat efisiensi pemanfaatan pakan kurang baik. Dengan demikian konversi pakan menggambarkan tingkat efisiensi pemanfaatan pakan yang dicapai (Iskandar dan Elrifadah, 2015).

Konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah bobot pakan dalam keadaan kering yang diberikan selama kegiatan budidaya yang dilakukan dengan bobot total ikan pada akhir pemeliharaan dikurangi dengan jumlah bobot ikan mati dan bobot awal ikan selama pemeliharaan. Nilai konversi pakan digunakan untuk mengetahui baik buruknya kualitas pakan yang diberikan untuk pertumbuhan ikan. Rendahnya konversi pakan berarti makin tinggi efisiensi pakan tersebut dan sebaliknya makin tinggi nilai konversi pakan maka makin rendah efisiensinya (Arifin dan Rumondang, 2017).

Feed convertion rasio (FCR) adalah suatu ukuran yang menyatakan ratio

jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg ikan budidaya. Jika nilai FCR = 1 artinya untuk memproduksi 1 kg daging ikan dalam sistem akuakultur dibutuhkan 1 kg pakan semakin besar nilai FCR, maka semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg ikan daging kultur. FCR seringkali dijadikan indikator kinerja teknis dalam mengevaluasi suatu usaha akuakultur (Mardhiana et al., 2017).

Feeding Rate

Salah satu upaya dari manajemen pakan ialah pengaturan dalam waktu pemberian dan jumlah/dosis pakan yang diberikan. Upaya tersebut sangat penting untuk meningkatkan efisiensi pakan, pertumbuhan ikan, serta menjaga kualitas perairan, sehingga dapat mendukung keberhasilan dalam suatu usaha budidaya,

dan pakan merupakan pemasok energi untuk meningkatkan pertumbuhan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Dua hal utama dalam manajemen pakan adalah penerapan kuantitas atau jumlah pakan yang diberikan (feeding rate) dan frekuensi pemberian pakan (feeding frequency) (Akbar et al., 2020).

Feeding rate adalah jumlah pakan yang diberikan setiap hari pada ikan dan dihitung berdasarkan biomassa. Persentase pakan (feeding rate) yang cukup, berkualitas tinggi, dan tidak berlebihan merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan usaha budidaya ikan. Pemberian pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya ikan. Apabila pakan yang diberikan terlalu sedikit maka pertumbuhan ikan menjadi lambat dan terjadi persaingan antar ikan dalam memperoleh pakan (Zahra et al., 2019).

Frekuensi pemberian pakan ditentukan oleh spesies dan ukuran ikan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi nafsu makan ikan seperti laju pengosongan lambung ikan. Pembudidaya ikan yang ingin memaksimalkan konsumsi pakan, pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan harus memperhatikan nafsu makan dan tingkat kekenyangan ikan yang dibudidayakannya karena masing-masing ikan mempunyai perbedaan dalam hal tersebut dan secara umum pengosongan perut akan merangsang nafsu makan sehingga interval optimum (Akbar et al., 2020).

Pada penelitian Akbar et al (2020) mengenai feeding rate berbeda dimana pakan yang berlebih dimanfaatkan tubuh untuk pertambahan bobot, semakin tinggi nilai feeding rate maka semakin besar berat ikan yang dihasilkan.

Pertumbuhan ikan terjadi apabila energi yang disimpan lebih besar dibandingkan dengan energi yang digunakan untuk aktivitas tubuh ikan. Energi tersebut didapatkan dari pakan yang diberikan. Pada perlakuan 3% pertumbuhan beratnya

lebih rendah dibandingkan perlakuan 5%. hal ini dikarenakan ketersedian energi pada perlakuan 5% lebih tinggi dari perlakuan 3%.

Pertumbuhan Ikan Lele

Secara umum pertumbuhan merupakan parameter yang utama dalam mengetahui pengaruh makanan terhadap aktivitas metabolsime tubuh. Definisi pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang dan berat, sedangkan pertumbuhan bagi populasi sebagai pertambahan jumlah. Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu keturunan, jenis kelamin, parasit dan penyakit sedangkan faktor eksternalnya adalah pakan dan suhu perairan. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan bergantung kepada ketersediaan bahan pakan yang dapat dikonsumsinya (Makhrojan, 2019).

Pertumbuhan merupakan proses bertambahan panjang dan berat suatu organisme yang dapat dilihat dari perubahan ukuran panjang dan berat dalam satuan waktu. Pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar, adapun faktor dari dalam meliputi sifat keturunan, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan dalam memanfaatkan makanan, sedangkan faktor dari luar meliputi sifat fisika, kimia dan biologi perairan.

pertumbuhan merupakan perubahan ukuran ikan baik dalam berat, panjang maupun volume selama periode waktu tertentu yang disebabkan oleh perubahan jaringan akibat pembelahan sel otot dan tulang yang merupakan bagian terbesar dari tubuh ikan sehingga menyebabkan penambahan berat atau panjang ikan (Mulqan et al., 2017).

Pertumbuhan ikan berhubungan erat dengan padat tebar, pakan dan lingkungan. Peningkatan padat tebar akan diikuti dengan peningkatan jumlah

pakan, buangan metabolisme tubuh, konsumsi oksigen dan dapat menurunkan kualitas air. Padat tebar ikan mempengaruhi derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan, sehingga memungkinkan terjadinya kegagalan dalam proses produksi. Tingkat kematian ikan akan dapat ditekan jika didukung oleh cara pengelolaan yang tepat. Dengan pengelolaan yang baik dalam budidaya seperti penentuan padat tebar yang tepat maka tingkat kelangsungan hidup ikan akan maksimal (Prasetio et al., 2016).

Kelangsungan Hidup Ikan Lele

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan ditentukan oleh kualitas induk, kualitas telur, kualitas air serta perbandingan antara jumlah makanan dan kepadatannya. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan, maka diperlukan makanan yang memenuhi kebutuhan nutrisi ikan. Makanan yang dimakan oleh ikan digunakan untuk kelangsungan hidup dan untuk pertumbuhan (Rihi, 2019).

Kelulushidupan ikan tidak dipengaruhi secara langsung oleh pakan.

Ketersediaan makanan dalam penelitian ini diduga cukup untuk memenuhi kebutuhan ikan. Tingginya kelangsungan hidup menunjukkan kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok bahkan dapat meningkatkan pertumbuhan. Tingkat kelangsungan hidup dapat dipengaruhi oleh kualitas air terutama suhu dan kandungan oksigen. Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Suhu air sangat berkaitan dengan konsentrasi oksigen terlarut dan laju konsumsi oksigen ikan (Delima et al., 2017).

Kelangsungan hidup ikan sangat bergantung pada daya adaptasi ikan terhadap makanan dan lingkungan, status kesehatan ikan, padat tebar, dan kualitas air yang cukup mendukung pertumbuhan. Faktor probiotik diketahui memberikan pengaruh terhadap kelulushidupan. Probiotik pada budidaya ikan banyak dilakukan misalnya penggunaan jenis Bacillus spp. sebagai prebion dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas air melalui penyeimbangan populasi mikroba dan mengurangi jumlah patogen dan secara bersamaan mengurangi penggunaan senyawa-senyawa kimia dan meningkatkan pertumbuhan serta kesehatan hewan inang (Pratama et al., 2017).

Tingkat kelangsungan ≥ 50% tergolong baik, kelangsungan hidup 30-50%

sedang dan kurang dari 30% tidak baik. Kelangsungan hidup ikan sangat bergantung pada daya adaptasi ikan terhadap makanan dan lingkungan, kesehatan ikan, padat tebar, dan kualitas air yang cukup mendukung pertumbuhan (Mulyani et al., 2014).

Kualitas Air

Air sebagai media hidup ikan sebaiknya tetap dijaga kualitasnya agar tetap menjadi media yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan atau organisme lain yang dibudidayakan. Mengingat akan pentingnya kondisi perairan yang baik maka perlu dilakukan upaya untuk tetap menjaga kualitasnya namun tetap dalam kondisi yang aman, murah, praktis dan harus ramah lingkungan (Lestari et al., 2013).

Kualitas air merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan. Sumber air yang baik dalam kegiatan budidaya seharusnya

memenuhi kriteria baku mutu air sehingga ikan dapat tumbuh dan berkembang dengan semestrinya. Pengembangan budidaya perikanan secara intensif dicirikan dengan adanya peningkatan kepadatan ikan dan suplai pakan yang seluruhnya menggunakan pakan buatan (Panggabean et al., 2016).

Ikan lele sangkuriang mampu bertahan hidup dalam kondisi kualitas air yang buruk namun keadaan itu akan berpengaruh pada pertumbuhannya. kondisi air sebagai media hidup biota air, harus disesuaikan dengan kondisi optimal bagi biota yang dipelihara. Kualitas air tersebut meliputi kualitas fisika, kimia dan biologi. Faktor fisika misalnya suhu, kecerahan dan kedalaman. Faktor kimia diantaranya pH, DO, CO2 dan N𝑯𝟑-N (Kusumawati et al., 2018).

Suhu air optimum dalam pemeliharaan ikan lele sangkuriang secara

Suhu air optimum dalam pemeliharaan ikan lele sangkuriang secara

Dokumen terkait