• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL TIK PADA UMKM SEKTOR KERAJINAN TRADISIONAL BAMBU DI PROVINSI BANTEN

1.2 Tinjauan Pustaka

Mewujudkan keselarasan dalam pelayanan berbasis TI di butuhkan sebuah arsitektur sistem informasi perusahaan dengan rancangan yang terperinci, logis, komprehensif dan holistik guna merancang dan mengimplementasikan sistem dan komponen sistem secara bersamaan. Arsitektur perusahaan ini (EA) dituangkan dalam bentuk kerangka kerja (Parizaue, 2002).

1.2.1 Zachman Framework

Kerangka kerja Zachman untuk EA memiliki 36 sel yang dapat diilustrasikan seperti pada gambar 1, memiliki karakteristik: (1) Mengkategorikan deliverables dari EA; (2) Kegunaan EA yang terbatas; (3) Banyak diadopsi di seluruh dunia; dan (4) Merupakan alat bantu untuk perencanaan.

1.2.2 Federal Enterprise Architecture Framework (FEAF)

Menyediakan standar untuk mengembangkan dan mendokumentasikan deskripsi arstitektur pada area yang menjadi prioritas utama. Cocok untuk mendeskripsikan arsitektur bagi pemerintahan Federal. FEAF membagi arsitektur menjadi area bisnis, data, aplikasi dan teknologi, dimana sekarang FEAF juga mengadopsi tiga kolom pertama pada Famework Zachman dan metodologi perencanaan EA oleh Spewak. Dapat dilihat di gambar 2.

Karakteristiknya antara lain: (1) Merupakan EA Reference Model; (2) Standar yang dipakai oleh pemerintahan Amerika Serikat; (3) Menampilkan pandangan perspektif yang menyeluruh; dan (4) Merupakan alat bantu untuk perencanaan dan komunikasi.

1.2.3 The Open Group Architecture Technique (TOGAF)

TOGAF digunakan untuk mengembangkan enterprise architecture dengan metode dan alat bantu yang terinci untuk mengimplementasikannya, hal inilah yang membedakan dengan framework EA lain. Salah satu kelebihan menggunakan framework TOGAF ini adalah karena sifatnya yang fleksibel dan bersifat open source.

Architecture, (2) Application Architecture, (3) Data Architecture, (4) Technical Architecture. Ilustrasi pada Gambar 1.

Gambar 1. Enterprise architecture framework dari Zachman, FEAF, dan TOGAF 1.2.4 Pemilihan EA Framework

Urbaczewski dan Mrdalj (2006) menggambarkan bahwa, beberapa komparasi dari ketiga EA framework tersebut bisa dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Komparasi kerangka kerja EA 1 Komparasi berdasarkan pandangan/persepektif

Framework Planner Owner Designer Builder Subcontractor User

Zachman Scope Business Model System Model Technology Model Detailed Representations Functioning System FEAF Objectives/ Scope Planner’s View Enterprise Model Owner’s View Information Systems Model Designer’s View Technology Model

Builder’s View Detailed Specs. Subcontractor’s

View TOGAF Business Architecture View Technical Architecture Views 2 Komparasi berdasarkan abstraksi

Framework What How Where Who When Why

Zachman Data Function Network People Time Motivation

FEAF Architecture (entities=what) Applications Architecture (activities = how) Technology Architecture (locations = where) TOGAF Decision-making guidance IT resource guidance 3 Komparasi berdasarkan fase SDLC

Framework Planning Analysis Design Implementation Maintenance

Zachman Yes Yes Yes Yes No

FEAF Yes Yes Yes Yes Detailed

Subcon’s View

TOGAF Principles that support decision making across enterprise; provide guidance of IT resources; support architecture principles for design and implementation

Berdasarkan kriteria dan gambaran tersebut, maka disimpulkan kerangka kerja tersebut sebagai berikut:

 TOGAF: Fokus pada Enterprise Continuum dengan Architecture Development Method (ADM)

 FEAF: (1) Menjelaskan perusahaan sebagai model referensi tersegmentasi, (2) Panduan tentang proses migrasi dari arsitektur "As Is" menjadi "To Be", (3) Menawarkan pendekatan untuk mengkatalogkan aset dan mengukur keberhasilan EA

 Zachman: (1) Menawarkan matriks untuk artefak arsitektur yang penting bagi pengelolaan, (2) Perusahaan serta pengembangannya, dan beberapa pemangku kepentingan, (3) Baris yang mewakili "perspektif player" yang berbeda (owner, designer, dst.), (4) Kolom yang mewakili "perspektif teknis" (What/Data, How/Process, dst.).

Namun, praktiknya EAF tidak ada yang sempurna, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Bahkan sebuah perusahaan mungkin akan lebih cocok dengan EAF tertentu. Untuk objek penelitian ini karena memiliki pemangku kepentingan yang cukup banyak, membutuhkan perspektif dan motivasi yang berbeda, maka, dari hasil pemetaan kriteria tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk penelitian ini perancangan arsitektur teknologi infromasi untuk UMKM adalah Zachman Framework.

1.3 Metodologi Penelitian

Penelitian ini deskriptif yang menjelaskan atau menggambarkan kondisi yang ada di lapangan, landasan dalam mengembangkan model TIK melalui kerangka kerja Zachman melalui penjelasan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Selain itu, penelitian juga menggunakan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk pengambilan data yang bersifat deskriptif yakni berupa gejala-gejala sosial yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen kependudukan, dan catatan harian saat penelitian dilakukan.

1.3.1 Objek, Lokasi dan Waktu Penelitian

Objek penelitian ini dilakukan pada UMKM di tiga kabupaten wilayah provinsi Banten yaitu Kabupaten Tangerang, Lebak dan Serang dengan sektor yang diteliti adalah kerajinan tradisional bambu. Menurut Mansyur (2015), jumlah UMKM yang tersebar di wilayah Kabupaten Lebak (dari Kecamatan Rangkasbitung, Sajira, Cirinten, Lebak Gedong, Cibeber, Bojongmanik, Cijaku dan Rangkasbitung), Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang (meliputi kecamatan Panongan, Kecamatan Legok, Kecamatan Curug, Kecamatan Cikupa, Kecamatan Balaraja, dan Kecamatan Ciputat) adalah kurang lebih mencapai 1.503 unit usaha. Selain itu, objek penelitian juga memasukan dua komunitas yang dikenal di Provinsi Banten yaitu Banten Creative Community

(BCC) dan Akademi Bambu Nusantara (ABN). Penelitian dilaksanakan dalam waktu sepuluh bulan dimulai dari bulan Januari 2017 dengan tahapan penelitian meliputi: persiapan penelitian, studi kepustakaan, pengambilan data lapangan, pengolahan dan analisis data, pengembangan model TIK, dan penyusunan laporan penelitian.

1.3.2 Teknik Pengambilan Responden dan Informan

Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah semua pengrajin tradisional bambu yang ada di Kabupaten Tangerang, Serang dan Lebak di provinsi Banten. Unit analisis adalah unit usaha kerajinan tradisional bambu. Dibentuk kerangka sampling, kemudian menentukan sampel penelitian sebanyak 109 responden menggunakan teknik simple random sampling. Teknik simple random sampling dipilih karena populasi penelitian homogen dari segi pekerjaan, yaitu pengrajin tradisional bambu yang ada di ketiga kabupaten tersebut. Pemilihan informan dilakukan secara sengaja (purposive). Informan kunci yang dipilih adalah pendiri Akademi Bambu Nusantara karena merupakan salah satu tokoh pejuang dan pegiat bambu.

1.3.3 Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan menggunakan data primer yang didapatkan langsung di lapangan dari responden dan informan dengan menggunakan observasi maupun wawancara mendalam dengan panduan pertanyaan. Data sekunder, diperoleh dari berbagai literatur yang terkait. Teknik pengumpulan data dengan metode kualitatif yaitu melakukan observasi dan wawancara.

Panduan dalam melakukan observasi dan wawancara mendalam mengacu pada pilar-pilar yang diukur dalam

Network Readiness Index (NRI) pada Global Information Technology Reports (GITR, 2015). NRI memiliki empat kategori utama (sub-indeks) yaitu; 1). Environment, 2) Readiness, 3)Usage, dan 4) Impact. Masing- masing memiliki pilar-pilar, terdapat sepuluh sub-kategori (pilar), yaitu: 1) Political and regulatory environment, 2) business and innovation environment, 3) infratructure, 4) Affordability, 5) Skills, 6) Individual usage, 7) business usage, 8) government usage, 9) Economic impacts, dan 10) sosial impacts. secara lengkap jenis dan metode pengumpulan data dapat dilihat di Tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Jenis dan metode pengumpulan data

No Kebutuhan Data Metode

Pengamatan Data sekunder* Wawancara mendalam**

1. Data jumlah pengrajin - -

3. Karakteristik individu pengrajin bambu √ -

4. Political and regulatory environment

5. Business and innovation environment √ √

6. Infratructure √ √ √ 7. Affordability √ √ 8. Skills √ √ 9. Individual usage √ √ 10. Business usage √ √ √ 11. Government usage √ √ √ 12. Economic impacts √ √ √ 13. Sosial impacts √ √

*) : Sumber data dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Provinsi Banten/Internet

**) : Sumber data dari wawancara mendalam kepada populasi/informan menggunakan panduan pertanyaan 1.3.4 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Analisis deskriptif kualitatif, digunakan untuk menggambarkan karakteristik lingkungan masyarakat dan keadaan UMKM kerajinan tradisional bambu di tiga kabupaten melalui wawancara mendalam. Data primer yang diperoleh secara kualitatif akan dikumpulkan dalam sebuah catatan harian kemudian akan dilakukan reduksi data dan disusun menjadi sebuah manuskrip tematik yang akan digunakan sebagai penjelasan data yang diperoleh dari pendekatan kuantitatif.

b. Analisis deskriptif ini juga mengandalkan pengamatan/observasi terhadap lingkungan, kesiapan, penggunaan dan dampak TIK pada UMKM kerajinan tradisinal bambu di tiga wilayah Banten, dengan menggambarkan sepuluh pilarnya yaitu lingkungan politik dan regulasi, lingkungan usaha dan inovasi, infrastruktur, ketersediaan, kemampuan, penggunaan individu, penggunaan usaha, penggunaan pemerintahan, dampak ekonomi dan dampak sosial yang terjadi.

c. Penelitian juga menggunakan beberapa buku, jurnal dan internet yang mempunyai hubungan dengan materi dari penelitian ini, yang hasilnya merupakan data sekunder untuk dijadikan sebagai bahan referensi yang dapat mendukung penelitian yang dilakukan.

1.3.5 Pengembangan Model TIK untuk Objek Penelitian

Metode yang digunakan untuk mengembangkan model TIK adalah dengan menggunakan kerangka kerja Zachman yang akan dijabarkan dalam masing-masing kolomnya yang terdiri dari What, How, Where, Who, When dan Why. Dan masing-masing kolom nantinya akan diuraikan terhadap baris-barisnya (scope, business model, system model, technologi model). Setelah rancangan selesai dilanjutkan pada tahap pengujian model dan evaluasi. Gambaran alur penelitian model TIK ini dapat dilihat dari Gambar 2 berikut ini:

Gambar 2. Alur penelitian 2. PEMBAHASAN

Saat observasi peneliti menemukan bahwa para pelaku UMKM bambu di provinsi Banten sudah menggeliat dengan bermunculannya pegiat bambu dalam bentuk komunitas dalam bentuk organisasi independen di bidang pelestarian, pemanfaatan, pengembangan dan pembinaan sumberdaya yang memberdayakan media bambu.

Terkait dengan perumusan masalah, UMKM terindikasi memiliki keinginan yang kuat untuk menerapkan TIK dalam strategi bisnisnya. Beberapa penerapan TIK yang ada hingga saat ini seperti penerapan media sosial, situs usaha dan mobile apps berbasis Android. Namun, penerapan TIK saat ini belum muncul satu integritas dan saling ketergantungan antar stakeholder dalam UMKM bambu di provinsi Banten, sehingga informasi menjadi terisolasi, tidak utuh dan tidak menyeluruh.