• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen PROPOSAL PENELITIAN HIBAH BERSAING (Halaman 8-15)

Selain memerlukan karbohidrat, lemak dan protein, tubuh juga memerlukan vitamin dan mineral. Meski diperlukan dalam jumlah yang sedikit, namun mineral dan vitamin mempunyai beberapa peran penting dalam metabolisme tubuh. Salah satu vitamin yang kita perlukan dalam tubuh adalah vitamin C. Vitamin yang larut dalam air ini, dalam nama kimianya juga dikenal dengan nama asam askorbat. Vitamin C ini termasuk dalam salah satu golongan antioksidan kuat yang dapat melawan berbagai radikal bebas ekstraseluler. Karakteristik dari vitamin ini adalah mudah teroksidasi oleh panas, cahaya maupun logam. Dengan kata lain vitamin ini mudah sekali rusak (Kim et al.

2002).

Sejarah penemuan vitamin C dimulai ketika Albert Szent Gyorgyi pada tahun 1928–1932 berhasil mengisolasi asam askorbat yang sekarang dikenal dengan nama vitamin C, dan menyebabkan dia dianugrahi penghargaan nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran tahun 1937 (Gyorgi AS. 1931.). Beberapa peran penting vitamin C dalam

9 tubuh adalah menjaga dan meningkatkan sistem imunitas sehingga mampu melawan infeksi penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Naidu KA. 2003.)

.

Gambar 1. Rumus Kimia Vitamin C

Asam dehidroaskorbat (DHA) adalah bentuk asam askorbat (vitamin C) yang teroksidasi. Asam dehidroaskorbat dapat digunakan sebagai suplemen pangan vitamin C.

Sebagai bahan kosmetik, asam dehidroaskorbat digunakan untuk memperbaiki penampilan kulit (Kits, 2012).

Makanan yang menjadi sumber vitamin C adalah sayuran dan aneka jenis buah segar diantaranya; tomat, kentang, asparagus, cabe, stroberi, jeruk, jambu biji, mangga, nanas, kol, susu, mentega, ikan dan hati (Berhnar, 1994).

Kebutuhan setiap orang akan vitamin C bervariasi tergantung dari umur, status kesehatan dan kebiasaan setiap orang. Orang yang mempunyai kebiasaan merokok, minum alkohol, mengkonsumsi obat tertentu seperti obat anti kejang, obat tidur, obat kontrasepsi oral, berpengaruh terhadap kebutuhannya akan dosis vitamin C yang diperlukan. Selain itu, keadaan sakit, olah raga, demam akan meningkatkan kebutuhan vitamin C (Kim et.al. 2002).

Vitamin C di dalam tubuh diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, suatu protein ekstraseluler yang menghubungkan semua serabut tubuh yang terdapat pada sel kulit, tulang, tulang rawan dan jaringan lain di dalam tubuh. Struktur kolagen yang baik membuat kulit terlihat kencang, tulang kuat, pendarahan kecil dan luka menjadi ringan.

Sebagai antioksidan, vitamin C mampu menangkal dan menetralisir semua radikal bebas di seluruh tubuh. Vitamin C juga mempercepat penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Melalui efek pencahar, vitamin C mampu mempercepat pembuangan feses atau kotoran dari tubuh.

10 Kekurangan vitamin C atau yang dikenal dengan istilah hipoascorbemia akan menyebabkan beberapa gejala seperti; pilek, bibir pecah-pecah, sariawan, kulit kasar, gigi mudah goyang dan lepas karena gusi tidak sehat, otot lemah, radang sendi, pendarahan di bawah kulit sekitar mata dan gusi serta mudah mengalami depresi. Kekurangan vitamin C pada fase remaja juga mengakibatkan pertumbuhan tulang berhenti. Sel tulang epipise terus berploriferasi namun tidak ada kolagen baru yang terbentuk sehingga tulang akan menjadi mudah rapuh. Penyakit lain yang juga berhubungan dengan kekurangan vitamin C adalah kolesterol tinggi dan jantung (Daviset.al. 1991 )

Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata arbsorbsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20-120 mg/hari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram hanya diarbsorbsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitary, dan retina.

Vitamin C di ekskresikan terutama melalui urin,sebagian kecil di dalam tinja dan sebagian kecil di ekskresikan melaului kulit (Jackson et.al, 2002).

Kelebihan vitamin C yang dikonsumsi melalui makanan tidak menimbulkan gejala yang berarti, namun mengkonsumsi vitamin C dalam bentuk suplemen dosis tinggi akan menyebabkan gejala hiperoksaluria dan meningkatkan resiko terkena batu ginjal.

Kelebihan konsumsi vitamin C juga mengakibatkan gangguan percernaan, kram perut, mual, gas lambung berlebih, dan diare (Anonim, 2013d). Parisa dan Siamak (2010) melaporkan bahwa konsumsi vitamin C (asam askorbat) dalam jangka waktu yang panjang menyebabkan tikus perlakuan mengalami hiperglikemia (diabetes) dan juga peningkatan kehilangan bobot badan.

2.2. Hati

Hati adalah salah satu organ kelenjar, yang terletak di dalam rongga perut sebelah kanan. Hati mempunyai beberapa fungsi diantaranya; sebagai organ detoksifikasi karena hati membantu ginjal karena hati memecah beberapa senyawa racun menjadi urea, amonia dan asam urat. Berbagai jenis fungsi hati dijalankan oleh sel hati yang disebut dengan sel hepatosit. Lobus hati terbentuk dari sel parenkimal dan sel non-parenkimal.Sel parenkimal pada hati disebut hepatosit, menempati sekitar 80% volume hati dan

11 melakukan berbagai fungsi utama hati. 40% sel hati terdapat pada lobus sinusoidal (Kmiec, 2001).

Lumen lobus terbentuk dari SEC dan ditempati oleh 3 jenis sel lain, seperti sel Kupffer, sel Ito, limfosit intrahepatik seperti sel pit. Sel non-parenkimal menempati sekitar 6,5% volume hati dan memproduksi berbagai substansi yang mengendalikan banyak fungsi hepatosit. Hati juga berperan dalam sistem kekebalan dengan banyaknya sel imunologis pada sistem retikuendotelial yang berfungsi sebagai tapis antigen yang terbawa ke hati melalui sistem portal hati. Perpindahan fase infeksi dari fase primer menjadi fase akut, ditandai oleh hati dengan menurunkan sekresi albumin dan menaikkan sekresi fibrinogen. Fasa akut yang berkepanjangan akan berakibat pada simtoma hipoalbuminemia dan hiperfibrinogenemia (Ballmer and Studer, 1994).

Sebagai kelenjar hati menghasilkan empedu (cairan kehijauan yang terasa pahit) yang berasal dari sel darah merah yang telah rusak atau mati. Empedu mengandung garam empedu, bilirubin dan biliverdin. Sekresi empedu ini berguna untuk pencernaan lemak. Selain empedu, hati juga menghasilkan sebagian besar asam amino, faktor koagulan (pembeku darah), albumin, angiotensinogen, IGF-1 dan banyak enzim lainnya Delarea et. al. 2010).

Kemampuan hati untuk melakukan regenerasi merupakan suatu proses yang sangat penting agar hati dapat pulih dari kerusakan yang ditimbulkan dari proses detoksifikasi dan imunologis. Regenerasi tercapai dengan interaksi yang sangat kompleks antara sel yang terdapat dalam hati, antara lain hepatosit, sel Kupffer, sel endotelial sinusoidal, sel Ito dan sel punca; dengan organ ekstra-hepatik, seperti kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, pankreas, duodenum, hipotalamus (Galun and Axelrod, 2002).

Hati merupakan organ yang menopang kelangsungan hidup hampir seluruh organ lain di dalam tubuh. Oleh karena lokasi yang sangat strategis dan fungsi multi-dimensional, hati menjadi sangat rentan terhadap datangnya berbagai penyakit. Hati akan merespon berbagai penyakit tersebut dengan meradang, yang disebut hepatitis. Seringkali hepatitis dimulai dengan reaksi radang patobiokimiawi yang disebut fibrosis hati.(Sebastiana, 2009). Untuk mengetahui adanya kerusakan hati dilakukan beberapa tes darah sederhana seperti uji kadar spartate aminotransferase (AST atau SGOT) dan alanine aminotransferase (ALT atau SGPT). Enzim-enzim ini biasanya terkandung

12 dalam sel-sel hati. Jika hati terluka, sel-sel hati menumpahkan enzim-enzim kedalam darah, menaikan tingkat-tingkat enzim dalam darah dan menandai kerusakan hati.(Ashoka Babu et al., 2012).

2.3. Ginjal

Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang.

Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial.

Bagian paling luar dari ginjal disebut korteks, bagian lebih dalam lagi disebut medulla. Bagian paling dalam disebut pelvis. Pada bagian medulla ginjal manusia dapat pula dilihat adanya piramida yang merupakan bukaan saluran pengumpul. Ginjal dibungkus oleh jaringan fibros tipis dan mengkilap yang disebut kapsula fibrosa ginjal dan diluar kapsul ini terdapat jaringan lemak perirenal. Di sebelah atas ginjal terdapat kelenjar adrenal. Ginjal dan kelenjar adrenal dibungkus oleh fasia gerota. Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut (terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan arus dan kotranspor. Hasil akhir yang kemudian diekskresikan disebut urine.

Sebuah nefron terdiri dari sebuah komponen penyaring yang disebut korpuskula (atau badan Malphigi) yang dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus). Setiap korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang disebut glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman. Setiap glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen. Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan. Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori dari glomerulus dan kapsula Bowman karena adanya tekanan dari darah yang mendorong plasma darah. Filtrat yang dihasilkan akan masuk ke dalan tubulus ginjal.

13 Seperti yang kita ketahui bahwa Ginjal termasuk organ penting yang memiliki fungsi , yaitu menyaring dan mengeluarkan racun maupun kelebihan mineral dari dalam tubuh melalui urin. Jika fungsi ginjal terganggu akibat peradangan atau karena penyakit batu ginjal maka dengan sendirinya tubuh akan mengalami keracunan. Dalam dunia kedokteran, kasus penyakit batu ginjal merupakan penyakit yang relatif tinggi jumlah penderitanya khususnya di Indonesia. Batu ginjal sering disebut nephrolithiasis atau renal calculi merupakan massa keras yang mengkristal seperti batu batu kecil yang dapat terbentuk pada bagian saluran kencing dimana saja termasuk pada kandung kemih, dalam ginjal yaitu di renal pelvis dan calix renalis. Terbentuknya kristalisasi itu karena kadar urine yang terlalu pekat karena kurangnya mengkonsusmsi air putih setiap hari sehingga zat-zat yang ada di dalam urine membentuk kristal batu. Hal-hal lain yang dapat menjadi penyebab batu ginjal adalah adanya infeksi, obstruksi, kelebihan sekresi hormon paratiroid, peningkatan kadar asam urat, terlalu banyak menkonsumsi vitamin D atau kalsium yang tidak larut dengan sempurna (Multaram, 2013).

Selain itu, indikasi adanya kerusakan atau penurunan fungsi ginjal bisa dilihat dari kadar kreatinin plasma yang meningkat. Hal ini sebagai akibat ketidakmampuan ginjal mengeluarkan kreatinin ke dalam urin dan dalam jumlah besar kreatinin masuk kembali ke dalam darah hingga kadarnya dalam plasma meningkat di atas batas normal (Soesanti dan Darmawan, 2009).

2.4. Kolagen

Kolagen adalah salah satu protein yang menyusun tubuh manusia. Keberadaannya adalah kurang lebih mencapai 30% dari seluruh protein yang terdapat di tubuh. Kolagen adalah struktur organik pembangun tulang, gigi, sendi, otot, dan kulit. Serat kolagen memiliki daya tahan yang kuat terhadap tekanan ( Katili, 2009).

Kolagen biasanya di sintesa oleh sel fibroblas, dimana dalam sintesa kolagen tersebut diperlukan vitamin C sebagai koenzim.

Terdapat 29 jenis kolagen namun 90% adalah dari jenis kolagen I, II, III dan 1V.

Kolagen I terdapat pada kulit, tendon, pembuluh darah, ligamen, organ, tulang (komponen utama tulang) dan gigi. Kolagen II: tulang rawan (komponen utama tulang rawan) , mata. Kolagen III: jaringan retikular. Kolagen IV: membentuk jaringan epithel

14 (serat yang melapisi permukaan rongga dan organ seperti ginjal, kantung mata, atau endothelium yang melapisi permukaan dalam pembuluh darah.

Produksi kolagen berkurang sekitar 1.5% setiap tahun setelah usia 25 tahun .Tanda-tanda berkurangnya kolagen dirasakan 10 tahun kemudian. Setelah usia 45-50 tahun, tubuh kita akan kehilangan hampir separuh dari kolagen yang ada. Jadi, semakin tua, semakin berkurang kolagen dalam tubuh . Untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan kolagen dapat diperoleh dari makanan untuk mencegah berbagai penyakit seperti osteoarthritis (sakit sendi), osteoporosis, arteriosclerosis selain untuk kegunaan kolagen untuk kosmetik dan pelembab kulit (Anonimus. 2013e).

2.5. Organ Reproduksi Betina

Organ reproduksi betina terdiri atas organ reproduksi primer dan organ reproduksi sekunder. Organ reproduksi primer adalah ovarium sedangkan organ reproduksi sekunder adalah saluran reproduksi yang terdiri dari tuba fallopi (oviduct), uterus, serviks, vagina dan vulva. Fungsi organ sekunder ini adalah menerima dan menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina, memberi makan dan melahirkan individu baru (Toelihere 1985) .

Ovarium adalah alat reproduksi primer karena berfungsi sebagai penghasil sel telur (ovum) dan hormon. Ukurannya sangat bergantung pada umur dan status reproduksi betina sedangkan bentuknya bervariasi sesuai dengan spesies. Dua komponen pada ovarium yang sangat penting adalah follikel dan korpus luteum (Adelien, 2001).

Hormon yang dihasilkan oleh ovarium adalah estrogen dari sel-sel folikel dan progesteron dari sel-sel korpus luteum. Hormon ini berperan penting dalam menyiapkan alat-alat reproduksi untuk kebuntingan dan memelihara kandungan sampai melahirkan anak. Proses produksi hormon ovarium dikendalikan oleh hormon gonadotrofin dari hipofise seperti : FSH, LH.LTH atau prolaktin yang merangsang pertumbuhan follikel, menyebabkan ovulasi dan pembentukan korpus luteum serta menyebabkan korpus luteum bersekresi (Djanuar 1985).

15

Dalam dokumen PROPOSAL PENELITIAN HIBAH BERSAING (Halaman 8-15)

Dokumen terkait