2.1 Hubungan Air dan Kayu
Kayu berasal dari pohon yang dalam pertumbuhan atau kehidupannya membutuhkan air sebagai sarana transportasi hara dari tanah dan hasil asimilasi dari daun ke seluruh bagian jaringan pohon lainnya. Air di dalam kayu berada di rongga sel yang sangat kecil, sehingga sulit untuk keluar. Secara alami, keluarnya air dari dalam kayu membutuhkan waktu berbulanbulan tergantung dari jenis dan ukuran kayunya. Kayu segar mengandung air yang terdapat di rongga dan di bagian dinding sel. Kadar air kayu segar bervariasi menurut jenis dan tempat tumbuh. Pada bagian ini kadar air kayu segar juga dipengaruhi kandungan air tanah tempat tumbuh karena kayu memiliki sifat higroskopis yang mampu melepas dan mengikat air sesuai dengan kelembaban udara di sekitarnya.
Terdapat dua jenis air yang berada di dalam struktur anatomi kayu, yaitu air bebas dan air terikat. Air bebas terdapat pada ruang–ruang sel atau pada ruang atau rongga antar sel yang akan lebih dulu keluar pada proses pengeringan. Air bebas umumnya tidak mempengaruhi sifat dan bentuk kayu kecuali berat kayu (Siau 1984). Sedangkan air terikat terdapat di dalam dinding sel dan sangat mempengaruhi hampir seluruh sifat fisis maupun mekanis kayu dan juga lebih sulit dikeluarkan dibanding air bebas. Keadaan dimana air bebas telah semuanya keluar dari kayu tetapi dinding sel masih jenuh dengan air disebut kadar air titik jenuh serat (Tobing 1988). Sedangkan, air terikat merupakan air yang berada dalam dinding sel kayu. Zat cair pada dindingdinding sel inilah yang berpengaruh kepada sifatsifat kayu (Siau 1984).
Bila seluruh air bebas di rongga sel dan sebagian air terikat telah keluar, kayu akan susut dan akan berpengaruh negatif terhadap keragaan produk kayu. Oleh karena itu, maka kayu tersebut perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum
diolah, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari pengeringan ialah untuk menjaga stabilitas dimensi kayu dalam penggunaannya.
Air diserap dari tanah oleh akar dan diangkut melalui batang pohon, oleh karena itu kayu pada batang pohon hidup mengandung banyak air, berkisar antara 60 – 200 % dari berat kering tanur kayu. Perbandingan antara berat air yang ada dalam suatu batang kayu dengan berat kering tanur kayu yang bersangkutan disebut sebagai kadar air kayu (Soedarisman & Purwoko 1985).
Haygreen dan Bowyer (1982), menambahkan bahwa kadar air kayu merupakan perbandingan antara berat air yang terdapat dalam kayu dengan berat kering tanur kayunya yang telah dikeringkan dengan oven dalam satuan persen. Pada umumnya, kayu yang baru ditebang memiliki kandungan kadar air mencapai lebih dari 100 % dan sangat bervariasi dengan kisaran 40 – 200 %, serta akan mengering hingga sesuai dengan kondisi lingkungannya secara alami. Kayu sebagai bahan bangunan maupun mebel, nilai kadar airnya harus berada pada kisaran antara 8 – 14 % (Desch 1968, diacu dalam Basri & Rahmat 2001).
Tobing (1988) menjelaskan, begitu pohon ditebang, kayu akan segera mengalami penurunan kadar air sebagai akibat dari usaha kayu untuk mencapai keseimbangan dengan kelembaban lingkungan. Air bebas keluar pertama kali dan ketika seluruh air bebas habis, maka kayu mencapai kondisi titik jenuh serat. Pada seluruh jenis kayu, titik jenuh serat berkisar pada kadar air 30 %, hal itu memberikan arti bahwa apabila sepotong kayu telah mencapai kadar air 30 %, maka ruang sel maupun ruang antar sel tidak mengandung air lagi.
Kadar air titik jenuh serat penting dalam pengeringan, hal itu karena : 1. Dibutuhkan energi panas yang lebih besar untuk menguapkan air terikat. 2. Dinding sel tidak menyusut hingga dicapainya titik jenuh serat.
3. Perubahan besar terhadap sifat fisis dan mekanis kayu mulai terjadi setelah kadar air titik jenuh serat tercapai.
Penurunan kadar air akan berjalan terus hingga tiba pada kondisi dimana kayu tidak melepas air atau tidak menyerap air dari lingkungan. Kadar air pada kayu yang sudah seimbang dengan kelembaban lingkungan ini disebut kadar air keseimbangan (Tobing 1988).
2.2 Proses Pengeringan Kayu Pengeringan kayu adalah proses penurunan kadar air kayu sampai mencapai kadar air tertentu atau kadar air yang sesuai dengan kondisi tempat kayu tersebut berada yang disebut dengan kadar air keseimbangan (Coto 1996). Alasan dari kegiatan pengeringan kayu antara lain ialah : 1. Menghindari cacat bentuk dan menjaga stabilitas dimensi kayu terutama setelah proses pengolahan dengan cara memastikan penyusutan kayu telah terjadi sebelum kayu digunakan.
2. Untuk memperbaiki permukaan kayu sebelum tahapan proses pengolahan selanjutnya, seperti perekatan dan pewarnaan.
3. Agar lebih tahan dari pelapukkan dan serangan jamur. 4. Memudahkan impregnasi dengan bahan pengawet.
5. Menurunkan berat kayu serta mengurangi biaya angkutan.
Faktorfaktor yang mempengaruhi pengeringan kayu menurut Tsoumis (1991) adalah sebagai berikut : 1. Panas Molekul air memerlukan panas sebagai energi untuk melepaskan diri dari ikatan antar sesama molekul air pada air bebas yang terdapat dalam rongga sel, dan untuk melepaskan diri dari ikatan tangan hidroksil pada air terikat yang terdapat pada dinding sel. Panas ini harus cukup tersedia untuk menaikkan suhu kayu, sehingga pergerakan air dari dalam kayu menuju ke permukaan akan semakin meningkat. 2. Kelembaban nisbi
Kelembaban nisbi digunakan sebagai penentu kapasitas pengeringan. Semakin rendah kelembaban nisbi maka semakin tinggi kapasitas pengeringan. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi kelembaban nisbi maka akan semakin rendah kapasitas pengeringan.
3. Sirkulasi udara
Sirkulasi udara berfungsi sebagai pengantar panas ke kayu yang digunakan oleh uap air dalam kayu dan memindahkan uap air dan udara di sekitar kayu dimana ia keluar. Kecepatan yang cukup dan
keseragaman sirkulasi udara di semua tempat (permukaan kayu yang akan dikeringkan) merupakan faktor penting agar didapatkan waktu pengeringan yang cepat dan merata (Coto 1996).
4. Vakum
Proses vakum dapat memperlemah ikatan antara sesama molekul H2O atau antara H2O dengan tangan OH di dalam zat kayu.
Coto (2004) menjelaskan bahwa pada tahap permulaan pengeringan, permukaan kayu yang dikeringkan mengalami tegangan tarik, sedangkan bagian tengah atau dalam mengalami tegangan tekan. Pada akhir pengeringan, bagian permukaan mengalami tegangan tekan, sedangkan bagian dalam mengalami tegangan tarik. Hal tersebut terjadi karena adanya gradien kadar air, yakni pada tahap permulaan pengeringan, bagian permukaan yang kering bergerak menyusut akan tetapi tertahan oleh bagian dalam yang masih basah. Pada akhir pengeringan, bagian dalam menyusut karena kadar airnya telah turun di bawah titik jenuh serat, akan tetapi dihalangi oleh bagian permukaan yang lebih panjang dari semestinya akibat tegangan tarik pada tahap permulaan pengeringan (Coto 2004).
Untuk kayukayu yang akan diolah kembali, proses peniadaan tegangan mutlak dilakukan, agar kayu tersebut tidak rusak bila digergaji atau dibubut. Proses peniadaan tegangan dilakukan dengan tahap preheating diawal pengeringan, tahap pengkondisian (conditioning) dan tahap pemerataan kadar air kayu (equalizing) yang dapat dilaksanakan secara bersamaan di akhir pengeringan. Preheating (pengukusan) dapat dilakukan dengan penggunaan suhu rendah selama beberapa hari atau dengan kelembaban tinggi (suhu 90 0C dan kelembaban 90 %) selama 4 jam, dimaksudkan untuk membuat kabut uap yang pekat di dalam kilang pengering, sehingga udara menjadi berkelembaban tinggi dan permukaan kayu menjadi basah, menyebabkan tegangan dalam kayu akan mengendur. Tujuan dari preaheating ialah untuk menyamakan KA awal kayu agar dapat diproses dalam tahapan proses yang sama, menghilangkan tegangantegangan dalam kayu yang terjadi selama proses penimbunan atau pada pengeringan alami (Budianto 1996).
Tahap conditioning ialah tahap penurunan sedikit persentase kadar air kayu di bawah target yang ditetapkan dengan cara menaikkan temperatur dan mengendalikan kelembaban relatif sedikit kering, sehingga kadar air kayu maksimum ialah kadar air yang ditargetkan dan kayu yang kering akan mempunyai kadar air kayu lebih rendah dari target. Sebagai contoh, jika kadar air akhir kayu setelah pengeringan dikehendaki 10 %, maka proses conditioning dimulai setelah kadar air kayu mencapai 8 % (< 10 %). Proses conditioning dianggap selesai bila kadar air semua kayu naik kembali dari 8 % mencapai < 10 % (Mc Millen 1978, diacu dalam Basri 2000). Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah perbedaan tegangan terlalu tinggi antara bagian permukaan dan bagian dalam kayu agar dapat menghindari terjadinya cacat case hardening yang dicirikan dengan fenomena melengkungnya kayu setelah dikeringkan (Budianto 1996). Tahap equalizing bertujuan untuk menghilangkan tegangantegangan dalam kayu yang timbul akibat kurang meratanya kadar air di bagian dalam dan permukaan kayu. Pada akhir proses, kadar air permukaan kayu mencapai 5 – 6 %, tapi bagian dalamnya masih 8 %. Perbedaan kadar air tersebut dapat ditangani dengan cara pembasahan (water spray) sehingga permukaan kayu juga memiliki kadar air 8 % dan dengan demikian, tegangan dalam kayu akan terbebaskan (Budianto 1996).
2.3 Beberapa Sifat Kayu yang Berhubungan dengan Pengeringan
Terdapat beberapa faktor dari sifat dasar kayu yang mempengaruhi efektifitas pengeringan, yaitu :
a. Kayu gubal dan kayu teras
Kayu gubal merupakan bagian dari pohon yang berfungsi sebagai penyalur cairan yang dihisap oleh akar ke daun serta sebagai gudang bahan makanan cadangan, sehingga lebih basah dan mudah dikeringkan. Sedangkan kayu teras merupakan bagian pohon yang jaringannya telah mati dan banyak mengandung zatzat ekstraktif sehingga menurunkan permeabilitas dari kayu tersebut dan mengakibatkan kayu cenderung
menjadi lebih sulit untuk dikeringkan dan lebih mudah mengalami cacat pengeringan seperti pecah permukaan dan pecah dalam (Tobing 1988).
b. Empulur (pith)
Menurut Tobing (1988), sifat pengeringan empulur berbeda dengan sifat pengeringan jaringan kayu lainnya karena memiliki ikatan yang sedikit lemah terhadap jaringan kayu di sekelilingnya. Terkadang mudah lepas terutama pada proses pengeringan dengan suhu yang relatif tinggi. Namun porsinya sangat sedikit dalam pohon, sehingga bagian empulur dalam proses pengeringan tidak terlalu mengganggu mutu kayu hasil pengeringan.
c. Kayu remaja (juvenile wood)
Kayu remaja merupakan bagian kayu yang terbentuk oleh kambium berumur muda, umumnya memiliki banyak serat spiral dan berdinding sel tipis. Bagian kayu ini memiliki potensi mengalami penyusutan yang lebih besar pada bidang radial dibanding pada bagian kayu lain. Pada bagian kayu ini, hal itu seringkali diikuti oleh terjadinya deformasi seperti cacat bungkuk (crook) dan collapse (Tobing 1988).
d. Riap tumbuh
Satu riap tumbuh terdiri dari dua bagian kayu yaitu kayu awal dan kayu akhir. Kedua bagian kayu ini memiliki berat jenis yang berbeda sehingga sifat pengeringan yang ditimbulkan juga berbeda, terutama pada fenomena terjadinya penyusutan pada bidang radial dan tangensial, yang umumnya diikuti oleh deformasi (Tobing 1988).
e. Jarijari kayu
Menurut Tobing (1988), jarijari kayu terdiri dari sel kayu yang berdinding tipis dan karena itu relatif lebih lemah terutama pada jarijari yang sempit, sehingga dalam proses pengeringan, bagian ini sering mengalami cacat seperti retak, pecah atau pecah dalam. Selain itu, kayu yang memiliki jarijari dengan lebar berbeda akan menyebabkan penyusutan ke arah radial dan tangensial. Tingkat penyusutan yang terjadi pada jarijari dengan lebar yang berbeda tersebut, umumnya lebih besar dibanding dengan kayu yang memiliki lebar jarijari yang relatif seragam sehingga mendukung timbulnya cacat deformasi (Tobing 1988).
f. Mata kayu
Mata kayu memiliki berat jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan berat jenis pada bagian kayu di sekitarnya. Orientasi seratnya juga berbeda, sehingga sifat pengeringan yang ditimbulkan juga berbeda. Mata kayu lebih rentan mengalami pecah dan lepas (loose knots) sehingga mempengaruhi mutu kayu hasil pengeringan (Tobing 1988). Mata kayu yang terdapat pada batang yang masih dalam pertumbuhan umumnya masih memiliki ikatan yang lebih erat dengan sel kayu lain di sekitarnya. Adapun mata kayu yang terdapat pada batang yang telah lama rebah atau berada pada kondisi panas pengeringan akan mudah mengalami lepas atau pecah dan retak permukaan.
g. Kayu reaksi
Dalam proses pengeringan, kayu reaksi mengalami penyusutan longitudinal yang lebih besar dibandingkan dengan penyusutan normalnya, sehingga dapat berakibat terbentuknya cacat deformasi seperti bungkuk (crook), memuntir (twist) dan sebagainya (Tobing 1988). h. Serat miring
Serat miring memiliki gejala yang sama dengan kayu reaksi sewaktu dikeringkan yaitu memiliki penyusutan longitudinal yang lebih besar, sehingga yang ditimbulkan juga berupa cacat deformasi (Tobing 1988). i. Tekstur kayu
Menurut Tobing (1988), tekstur yang tidak merata (terdapat tekstur halus hingga kasar pada permukaan papan) berakibat terhadap banyaknya cacat yang dapat terbentuk dalam proses pengeringan, terutama pada cacat pecah dan retak permukaan.
j. Sel pembuluh
Sel pembuluh yang bebas tanpa memiliki sumbatan tylosis maupun
amorf dan memiliki ukuran diameter besar akan memudahkan dan
mempercepat mekanisme pengeringan. Sedangkan sel pembuluh yang diameternya kecil akan menghambat proses pengeluaran kandungan air dari dalam kayu, sehingga berpotensi menimbulkan gradien kadar air yang cukup besar antara bagian permukaan dan bagian dalam kayu yang akan mendorong timbulnya berbagai cacat pengeringan (Tobing 1988). Jumlah poripori yang sedikit dan noktah pada pembuluh yang sempit juga dapat menghambat proses keluarnya air pada proses pengeringan. k. Dinding sel Semakin tebal dinding sel kayu, maka akan semakin banyak jumlah air terikat yang harus dikeluarkan dari dalam kayu dibanding dengan kayu yang memiliki dinding sel lebih tipis, jarak yang harus ditempuh air untuk keluar dari kayu lebih panjang dan massa kayu yang mengalami penyusutan lebih besar. Hal itu mendorong timbulnya cacat deformasi dan cacat pecah atau retak permukaan dan ujung (Tobing 1988).
l. Parenkim
Kayu dengan parenkim berbentuk pita apalagi yang kondisinya rapat beraturan akan sangat memudahkan mekanisme keluarnya air ke arah tebal dan lebar sortimen karena parenkim jenis ini memiliki intensitas jumlah dan penyebaran yang relatif cukup besar sehingga meningkatkan jumlah air yang dapat keluar dari kayu selama proses pengeringan berlangsung dibanding dengan tipe parenkim lainnya (Tobing 1988). Beberapa sifat fisis kayu yang mempengaruhi keberhasilan dari pengeringan antara lain ialah : a. Berat jenis Berat jenis adalah suatu indikator yang dapat digunakan untuk menduga mudah atau tidaknya suatu kayu dikeringkan. Kayu yang memiliki berat jenis lebih tinggi akan mempunyai sifat pengeringan yang lebih lambat serta kemungkinan mengalami cacat yang lebih besar dibanding kayu yang berat jenisnya lebih rendah (Tobing 1988). Berat jenis juga merupakan indikasi tebal dinding sel, semakin tinggi berat jenis zat kayu atau tebal dinding sel maka makin banyak jumlah air absolut di dalam dinding sel serta semakin besar jarak yang harus ditempuh air untuk keluar dari dinding sel sehingga dapat menghambat laju pengeringan. b. Penyusutan (shrinkage) Penyusutan adalah menyusutnya kayu akibat keluarnya air terikat dari dinding sel. Faktorfaktor yang berpengaruh terhadap penyusutan kayu antara lain : kadar air, kerapatan, struktur/anatomi kayu, kadar ekstraktif, kandungan/komposisi bahan kimia, dan sifat mekanis kayu tersebut (Tsoumis 1991).
Keluarnya air dari dinding sel, akan menyebabkan dimensi kayu berkurang atau susut, yang besarnya tergantung dari jumlah air yang keluar dan berat jenis. Makin tinggi berat jenis suatu kayu makin besar susut yang terjadi dan begitu juga sebaliknya. Penyusutan yang terjadi di setiap arah kayu juga berbeda. Hal ini karena kayu memiliki sifat khas yaitu sifat ortotropis. Besarnya susut pada arah longitudinal pada kayu
normal sangat kecil dan secara teknis dapat diabaikan. Sedangkan pada arah tangensial lebih besar dari susut pada arah radial, besar susut tangensial dapat mencapai 1,5 sampai 4 kali susut arah radial (T/R = 1,5 – 4) (Coto 1996).
2.4 Mekanisme Keringnya Kayu
Tobing (1988) menjelaskan, air dari dalam kayu bergerak dari zona yang lebih basah ke zona yang lebih kering. Kayu mengering dari luar ke dalam, artinya agar air bagian dalam kayu dapat dikeluarkan maka permukaan kayu harus lebih kering. Pada proses pengeringan, permukaan kayu segera mencapai keseimbangan dengan udara sekelilingnya dan pada saat ini mulai terjadi gradien kadar air dalam kayu. Agar dicapai pengeringan yang cepat, maka kadar air permukaan kayu harus diusahakan serendah mungkin mendekati kadar air keseimbangan lingkungannya, sehingga tidak menimbulkan cacat pengeringan.
Coto (2004), menerangkan bahwa keluarnya air dari dalam kayu terjadi secara lambat dan bertahap. Bila kayu basah diletakkan pada suatu ruangan dengan kadar air keseimbangan tertentu, maka pertama kali air akan keluar dari permukaan kayu dan segera setelah keluarnya air dari permukaan kayu terjadi kondisi yang dinamakan gradien kadar air kayu, yaitu keadaan dimana bagian permukaan kayu lebih kering dari bagian dalam, sehingga air dari bagian dalam bergerak keluar. Air di dalam kayu bergerak ke segala arah, pergerakan air yang tercepat terjadi pada arah longitudinal, sedangkan yang paling lambat terjadi pada arah tangensial. Air ini dapat bergerak dalam bentuk cairan (air bebas dan air terikat) maupun dalam bentuk uap.
Tobing (1988) menerangkan bahwa terdapat beberapa gaya yang mempengaruhi pergerakkan air secara simultan. Beberapa gaya tersebut antara lain ialah :
1. Gaya kapiler
Gaya kapiler menyebabkan air bebas bergerak melalui lumen, ruang noktah dan membran sel. Gaya ini relatif tidak penting, karena gaya ini
akan segera berhenti apabila permukaan kayunya telah mencapai kadar air di bawah titik jenuh serat.
2. Perbedaan tekanan uap air menyebabkan uap air bergerak melalui lumen, ruang noktah, membran noktah, dan ruang interseluler. Gerakan ini efektif pada temperatur tinggi dan pada kayu dengan berat jenis rendah.
3. Perbedaan kadar air
Perbedaan kadar air menyebabkan air bergerak melalui transitory dinding sel. Gerakan ini penting pada pengeringan kayu dengan temperatur rendah.
Berbeda dengan gerakan air bebas oleh gaya kapiler, uap air dan air terikat bergerak dengan proses difusi. Dibandingkan dengan gaya kapiler, gerakan melalui gaya difusi lebih lambat. Selain itu, pergerakkan uap air di dalam kayu juga dipicu oleh peningkatan suhu, kecepatan sirkulasi udara dan penurunan kelembaban nisbi udara di sekelilingnya. Budianto (1996) menerangkan, bahwa mekanisme keluarnya air dari dalam kayu dipengaruhi oleh faktorfaktor seperti permeabilitas kayu itu sendiri, proses difusi dan penguapan (evaporasi). Tahapan proses evaporasi antara lain ialah : 1. Kayu basah Hampir semua rongga sel dan dinding sel kayu penuh kandungan air dan kadar air dapat mencapai 200 %. 2. Kayu setelah penebangan Setelah pohon ditebang, dinding sel kayu tetap penuh kandungan air, sedangkan rongga sel sebagian berkurang kandungan airnya. Besarnya kandungan air masih di atas 35 %. 3. Titik jenuh serat
Air bebas pada rongga sel kayu telah keluar seluruhnya, namun kandungan air dalam dinding sel masih tertahan di dalam dinding sel. Besarnya kandungan air berkisar antara 25 – 30 %.
Pada kondisi ini, kayu menyesuaikan diri dengan udara sekitarnya, sehingga kandungan air dalam dinding sel yang berlebihan mulai terevaporasi keluar. Bentuk dimensi kayu mulai berubah (menyusut) dengan kadar air sekitar 12 – 20 %.
5. Kering tanur
Rongga sel dan dinding sel tidak mengandung air lagi. Berat kayu tidak dapat turun lebih lanjut (kadar air kayu 0 %).
2.5 Metode Pengeringan Kayu
Budianto (1996) menjelaskan bahwa metode pengeringan kayu secara umum terbagi menjadi dua, antara lain ialah metode pengeringan alami dan metode pengeringan buatan. Pengeringan alami sering juga disebut dengan pengeringan udara, walaupun cara pengeringan ini tradisional dan sederhana namun dapat memberikan hasil yang memuaskan jika dikerjakan dengan semestinya. Pengeringan alami merupakan cara pengeringan kayu dengan menumpuk kayu menurut susunan tertentu dan membiarkan tumpukkan itu beberapa lama di lapangan pada kondisi terbuka ataupun di bawah naungan.
Tujuan dari pengeringan alami ialah untuk menjaga stabilitas dimensi (akibat sifat kembang susut kayu) yang seringkali menimbulkan cacat bentuk, mengurangi berat kayu, meningkatkan kekuatan kayu (dengan berkurangnya kadar air di bawah titik jenuh serat), menghindari serangan agen perusak biologis, mempermudah proses pengerjaan selanjutnya, dan mempermudah pemasukkan bahan pengawet dengan cara menyesuaikan kadar air kayu dengan lingkungan sekitar. Namun pengeringan alami memiliki kelemahan, yakni waktu pengeringannya sangat tergantung dengan kondisi cuaca dan lokasi, sulit mencapai kadar air 15 %, perlu pencegahan terhadap berbagai faktor perusak kayu selama proses pengeringan, waktu pengeringan relatif lama dan perlu area yang cukup luas. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan dan kendalakendala tersebut, maka dikembangkanlah sistemsistem pengeringan lain guna menjamin kelangsungan proses produksi serta guna mengurangi cacat pengering yang terjadi. Sistem pengeringan tersebut dikenal dengan sistem pengeringan buatan (Coto 2004).
Sistem pengeringan buatan tidak tergantung pada kondisi cuaca. Beberapa model pengeringan buatan, antara lain ialah : sistem pengeringan dehumidifier, vakum, fan, dan sistem pengeringan kilang pengering.
1. Metode pengeringan dehumidifier
Prinsipnya ialah pemanasan udara agar kandungan air dalam kayu terevaporasi keluar dengan penurunan kelembaban. Air yang keluar terserap udara di sekitarnya dan udara ini menjadi lembab oleh uap air yang diserap dari kayu. Udara lembab itu dihisap ke dalam mesin untuk disaring melalui proses pendinginan udara. Air kondensasi dibuang keluar dan udara kering disalurkan masuk kembali ke dalam ruang oven melalui elemen pemanas. Udara panas dan kering masuk kembali ke