• Tidak ada hasil yang ditemukan

Padi Gogo

Budidaya tanaman padi di tanah kering dapat dilakukan dengan dua cara yaitu gogo dan ladang (huma). Padi gogo adalah padi yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dengan menerapkan teknologi budidaya modern, sedangkan padi ladang diusahakan secara tidak menetap (berpindah-pindah) dan menerapkan teknologi budidaya tradisional (Basyir et al. 1995)

Pengembangan padi gogo merupakan usaha dalam meningkatkan ketahanan pangan. Produktivitas padi gogo secara nasional di Indonesia masih rendah, berkisar antara 1.68-2.96 t/ha dengan rata-rata 2.58 t/ha. Hasil survey menunjukkan bahwa sebagian besar petani gogo menggunakan benih produksi sendiri yang berasal dari hasil panen musim hujan tahun sebelumnya dan disimpan dengan cara yang kurang baik, sehingga mutunya rendah (Wahyuni et al. 1999). Produktivitas padi gogo dapat mencapai 5.53-6.20 t/ha dengan perbaikan teknik produksi seperti penggunaan varietas unggul, teknik budidaya dan pengendalian hama dan penyakit tanaman (Toha 2007).

Komposisi kimia beras pecah kulit utamanya berupa karbohidrat 84.83%, lainnya adalah protein 9.78%, lemak 2.20%, abu (mineral) 2.09% dan serat kasar 1.10% (Leonard & Martin 1963). Kandungan mineral yang penting dalam benih padi adalah fosfor. Fosfor berfungsi sebagai penyedia energi. Total fosfor pada benih sereal (padi, gandum, barley) sebesar 60-80% berbentuk phytin (Akazawa 1972). Phytin merupakan sumber utama fosfor dan juga mengandung kompleks garam organik kalsium, magnesium, mangan dan kalium. Mineral ini dibebaskan pada saat perkecambahan oleh enzim fitase. Fosfat bebas yang dihasilkan akan diangkut dan digunakan pada titik tumbuh (Copeland & McDonald 1995).

Viabilitas Benih

Viabilitas benih adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal pada kondisi optimum (Sadjad et al. 1999). Viabilitas awal dari benih yang akan disimpan harus maksimal agar mencapai waktu simpan yang lama. Karena

selama masa penyimpanan akan terjadi kemunduran terhadap viabilitas awal tersebut, dimana lajunya tidak dapat dihentikan. Pemilihan benih bermutu merupakan cara untuk mengurangi kemunduran tersebut, sehingga laju kemunduran viabilitas benih dapat diatasi sekecil mungkin (Sutopo 2002).

Mundurnya viabilitas benih merupakan proses yang berjalan bertingkat dan kumulatif akibat perubahan yang diberikan kepada benih tersebut oleh kekuatan yang merusak, baik dari alam maupun secara buatan. Akhir dari kemunduran benih adalah habisnya daya berkecambah benih, akan tetapi sebelum tahap ini dicapai benih sudah berada dalam tahap kemunduran dan praktis benih itu tidak bernilai lagi untuk diusahakan bagi pertanaman, meskipun daya berkecambahnya masih cukup tinggi (Vaughan 1969, diacu dalam Sadjad 1972).

Tolok ukur viabilitas benih adalah daya berkecambah. Pengujian daya berkecambah perlu dilakukan karena suatu kelompok benih terdiri atas populasi individu benih, dimana masing-masing memiliki kemampuan sendiri untuk tumbuh menjadi tanaman dewasa. Evaluasi akan dilakukan pada akhir periode perkecambahan, namun terkadang diperlukan evaluasi awal yang disebut hitungan pertama (Copeland & McDonald 1995).

Vigor Benih

Vigor benih sebagai seluruh sifat yang menentukan aktivitas dan penampakan potensial dari benih selama perkecambahan dan pemunculan bibit (ISTA 2010). Vigor benih mencakup sifat benih yang tumbuh normal, seragam dan cepat pada berbagai kondisi lapang (AOSA 1983).

Sadjad et al. (1999) mengemukakan vigor benih adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal pada kondisi yang tidak optimum atau suboptimum. Benih yang vigor akan menghasilkan tanaman di atas normal jika ditumbuhkan pada kondisi optimum. Kondisi alam atau lapang tidak selalu optimum sehingga benih yang vigor sangat diharapkan.

Benih yang diproduksi tidak selalu segera ditanam atau mengalami penundaan penanaman, waktunya dapat relatif pendek atau panjang. Benih yang masih memiliki vigor yang tinggi setelah mengalami penundaan tanam atau disimpan dikatakan memiliki vigor daya simpan (VDS) yang tinggi. Daya simpan

7

benih menggunakan tolok ukur waktu sedang parameter VDS dapat berupa vigor daya simpan sesudah benih mengalami deraan fisik dan vigor daya simpan setelah benih mengalami deraan alkohol (Sadjad et al. 1999).

Metode pengujian vigor yang ideal memiliki beberapa karakteristik, yaitu: murah, pelaksanaannya cepat, mudah dilakukan, objektif atau dapat distandarisasi dengan mudah dan terhindar dari interprestasi subjektif, reproducible (dapat diulang), berkorelasi erat dengan pertumbuhan di lapang. (Copeland & McDonald 1995). Pengujian vigor menurut AOSA (1983) terdiri atas tiga, yaitu : 1) pengujian kecepatan/laju tumbuh, 2) pengujian dalam keadaan stress seperti pengusangan cepat dan pengujian dalam suhu dingin, 3) pengujian biokimiawi seperti uji tetrazolium dan uji aktifitas asam dekarboksilase glutamic. Metode resmi pengujian vigor benih yang ditetapkan oleh ISTA adalah uji Daya Hantar Listrik (DHL) bagi benih kacang kapri (Pisum sativum) dan Accelerated Ageing Test (AAT) untuk benih kedelai (Glycine max Merr.) dan pengusangan cepat terkontrol untuk benih kol (Brassica spp.) (ISTA 2010).

Menurut Tajbakhsh (2000) daya hantar listrik dapat dijadikan sebagai tolok ukur vigor pada benih gandum. Pengukuran daya hantar listrik didasarkan pada jumlah elektrolit yang keluar kedalam air rendaman benih yang diimbibisikan selama waktu tertentu. Benih gandum yang telah disimpan selama 5 tahun memiliki daya hantar listrik yang lebih tinggi dibanding benih gandum yang tidak mengalami penyimpanan. Kenaikan nilai daya hantar listrik sejalan dengan semakin menurunnya daya berkecambah benih. Tingginya nilai daya hantar listrik pada benih yang disimpan (mengalami kemunduran) disebabkan ketidakmampuan benih untuk mengatur kembali struktur membran dengan cepat selama imbibisi sehingga kebocoran membran semakin meningkat.

Kemunduran Benih

Proses kemunduran benih telah banyak diteliti, hal ini ditinjau dari perubahan-perubahan yang terjadi pada benih, baik secara biokimia maupun secara fisiologis. Perubahan tersebut antara lain perubahan pada aktivitas enzim, respirasi, jalur sintesa, membran, cadangan makanan, dan kebocoran metabolit. (Kozlowski 1972).

Kemunduran benih selama penyimpanan dapat ditunjukkan dengan perubahan pada cadangan makanan. Hasil penelitian Malik dan Shamet (2009) terhadap benih pinus yang disimpan selama 3 bulan pada suhu 19-23 oC didalam pot tanah menunjukkan terdapat penurunan daya berkecambah, kenaikan protein dan total gula.

Perubahan pada membran juga ditunjukkan oleh benih yang mengalami kemunduran. Benih acer yang disimpan selama 7 tahun pada suhu 3 oC dan kadar air 10% menunjukkan tingginya kebocoran membran yang seiring dengan kehilangan daya berkecambah (Pukacka 1991).

Kerusakan membran memberi efek terhadap kebocoran hasil metabolisme. Kebocoran glukosa dari embrio barley yang membrannya mengalami kerusakan adalah sebesar 60-70% dari total gula. Kebocoran hasil metabolisme mengindikasikan kerusakan membran dan ketidakmampuan benih untuk memperbaiki kerusakan membran selama kemunduran benih (Desai et al. 1997). Penelitian Ouyang et al. (2002) menunjukkan terdapat kenaikan kebocoran fosfor pada benih jagung yang diusangkan dibandingkan benih jagung tanpa pengusangan.

Metode Pengusangan

Uji penuaan dipercepat fisik memperlakukan benih dengan suhu tinggi dan kelembaban relatif tinggi (95%) secara cepat. Selama pengujian, benih menyerap kelembaban dari lingkungan, sejalan dengan meningkatnya kelembaban benih dan meningkatnya suhu menyebabkan penuaan benih secara cepat. Benih dengan vigor tinggi akan lebih tahan terhadap kondisi ini dan penuaanya akan lebih lambat dibanding benih dengan vigor rendah. Setelah pengujian ini benih dengan vigor tinggi akan tetap menghasilkan daya kecambah tinggi dibanding benih dengan vigor rendah (ISTA 2010).

Begnami dan Cortelazzo (1995) melakukan penelitian pengusangan cepat pada suhu 42 oC, RH 100% selama 16 hari pada buncis (Phaseolus vulgaris L.), hasilnya menunjukkan terjadi penurunan daya kecambah dari 100% pada 0-4 hari menjadi 22% pada hari keenam dan 0% pada hari keenambelas.

9

Kalpana dan Rao (1996) melaporkan bahwa selama pengusangan cepat pada suhu 40oC, RH 100%, selama 0, 48, 96, 144 dan 192 jam pada tiga kultivar benih pegeonpea (Cacanus cajan L. Mill.) terjadi penurunan kandungan total lipid dan fosfolipid. Penurunan tersebut menyebabkan kerusakan membran yang mempengaruhi vigor benih.

Benih wortel yang diusangkan secara fisik pada suhu 45 oC, RH 100% selama 7 hari menunjukkan penurunan yang signifikan dalam viabilitas benih. Kehilangan dari viabilitas benih berhubungan dengan peningkatan nilai konduktivitas benih (kebocoran elektrolit), peningkatan lipid peroksida dan peningkatan kadar asam lemak jenuh, yang diproduksi selama proses pengusangan cepat fisik (Al-Maskri et al. 2003).

Pengusangan secara kimia menggunakan alkohol (etanol, metanol, n-propanol) juga dapat dilakukan dengan dengan menginduksikannya kedalam benih dalam bentuk uap maupun cairan. Hasil penelitian menunjukkan benih kedelai, jagung dan kenaf yang diusangkan secara kimia mengalami kemunduran (Priestly & Leopold 1980, Pian 1981, Cook & Andrew 1993). Tingkat kemunduran benih tergantung pada lama perlakuan dan konsentrasi etanol. Semakin tinggi konsentrasi etanol dan semakin lama waktu penderaan maka semakin tinggi tingkat kemunduran benih (Salehi et al. 2008).

Benih jagung yang diberi perlakuan pengusangan dengan uap etil alkohol menunjukkan terjadi kebocoran hasil metabolisme yang semakin besar seiring dengan semakin lamanya benih tersebut diusangkan dengan uap etil alkohol. Kebocoran ini berupa kebocoran total gula, total N dan total P (Pian 1981).

Priestley dan Leopold (1980) mengemukakan mekanisme masuknya etanol kedalam benih apabila benih direndam dalam larutan etanol adalah sebagai berikut :

1. Etanol diduga dapat berpenetrasi kedalam komponen lipida dari membran setelah membran sel rusak, memutuskan ikatan lipida, bahkan dapat membuang fosfolipida dari membran.

2. Etanol setelah masuk kedalam benih dapat menyebabkan teracaknya konvigurasi protein yang berasosiasi dengan membran.

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Oktober 2011 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Laboratorium Kromatografi dan Analisis Tumbuhan, Departemen Agronomi dan Hortikultura serta Laboratorium Kimia Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, IPB Darmaga.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan antara lain benih padi yang terdiri atas lima varietas padi gogo yaitu Situ Patenggang, Limboto, Inpago 4, Inpago 5, dan Inpago 6, dan 26 galur padi gogo yang berasal dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Instalasi Muara, Bogor. Deskripsi varietas dapat dilihat pada Lampiran 1-5. Bahan lainnya adalah etanol 96% untuk pengusangan benih; aquabidest untuk pengukuran daya hantar listrik dan kebocoran metabolisme; natrium fosfat, reagent A, reagent B, reagent C dan standar BSA untuk pengukuran kebocoran protein; reagent anthrone dan larutan standar glukosa untuk pengukuran kebocoran total gula; larutan pengestrak (PA), larutan PB, larutan pewarna (PC) untuk pengukuran kebocoran fosfor; tissue towel sebagai media perkecambahan; kantong strimin sebagai wadah benih selama pengusangan dan kertas label.

Peralatan yang digunakan adalah alat pengusangan cepat fisik tipe 1-800-284-5779, alat pengusangan cepat kimiawi (wadah plastik kedap udara berbentuk silinder dengan tinggi 27 cm dan diameter 27 cm), conductivity meter, spektrofotometer, box pengecambahan (17.5 cm x 10.5 cm x 7.5 cm), oven, desikator, timbangan, dan handsprayer.

Metode Penelitian

Kegiatan penelitian ini terdiri atas dua percobaan yaitu : (1) Penetapan metode pengusangan cepat untuk mengidentifikasi vigor daya simpan padi gogo; dan (2) Deteksi vigor daya simpan 26 galur padi gogo.

12

Percobaan 1 Penetapan Metode Pengusangan Cepat untuk Mengidentifikasi Vigor Daya Simpan Padi Gogo

Percobaan ini dilakukan untuk menetapkan satu metode pengusangan cepat dari tiga metode pengusangan cepat, yang sederhana dan sesuai digunakan untuk mengidentifikasi vigor daya simpan padi gogo. Ketiga metode pengusangan cepat yang dilakukan adalah :

Pengusangan Cepat Fisik

Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama terdiri atas pengusangan cepat fisik (suhu 43-45 oC, RH 100%) selama 0, 12, 24, 36, 48, 60, 72, 84, 96, 108 dan 120 jam, dan lima varietas padi gogo yaitu Situ Patenggang, Limboto, Inpago 4, Inpago 5, dan Inpago 6 sebagai faktor kedua. Kombinasi dari kedua faktor menghasilkan 55 perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 165 satuan percobaan dengan setiap ulangan terdiri atas 50 butir benih. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap variabel yang diamati akan diuji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada selang kepercayaan 95% (Gomez & Gomez 1995).

Model linear yang digunakan adalah:

Yijk = µ + Ki+ αj+ βk+ αjβk+ εijk

dimana :

Yijk = nilai pengamatan pada pengusangan fisik ke-j, varietas ke-k, dan kelompok ke-i

µ = nilai tengah pengamatan

Ki = pengaruh kelompok ke-i (i = 1, 2, 3)

αj = pengaruh pengusangan fisik ke-j (j = 0, 12, .... 120 jam)

βk = pengaruh perlakuan varietas ke-k (k = 1, 2, .... 5)

αjβk = pengaruh interaksi perlakuan pengusangan fisik ke-j dan varietas ke-k

Penguapan dengan Etanol 96%

Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama terdiri atas pengusangan dengan uap etanol selama 0, 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140, 160, 180, dan 200 menit, dan lima varietas padi gogo yaitu Situ Patenggang, Limboto, Inpago 4, Inpago 5, dan Inpago 6 sebagai faktor kedua. Kombinasi dari kedua faktor menghasilkan 55 perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 165 satuan percobaan dengan setiap ulangan terdiri atas 50 butir benih. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap variabel yang diamati akan diuji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada selang kepercayaan 95% (Gomez & Gomez 1995).

Model linear yang digunakan adalah:

Yijk = µ + Ki+ αj+ βk+ αjβk+ εijk

dimana :

Yijk = nilai pengamatan pada penguapan dengan etanol ke-j, varietas ke-k, dan kelompok ke-i

µ = nilai tengah pengamatan

Ki = pengaruh kelompok ke-i (i = 1, 2, 3)

αj = pengaruh penguapan dengan etanol ke-j (j = 0, 20, .... 200 menit)

βk = pengaruh perlakuan varietas ke-k (k = 1, 2, .... 5)

αjβk = pengaruh interaksi perlakuan penguapan dengan etanol ke-j dan varietas ke-k

εij = pengaruh galat percobaan ke-ijk

Perendaman dalam Etanol 96%

Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama terdiri atas pengusangan dengan perendaman dalam etanol selama 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, dan 20 menit, dan lima varietas padi gogo yaitu Situ Patenggang, Limboto, Inpago 4, Inpago 5, dan Inpago 6 sebagai faktor kedua. Kombinasi dari kedua faktor menghasilkan 55 perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 165 satuan percobaan dengan setiap ulangan terdiri atas 50 butir benih. Data yang

14

diperoleh dianalisis menggunakan uji F, perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap variabel yang diamati akan diuji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada selang kepercayaan 95% (Gomez & Gomez 1995).

Model linear yang digunakan adalah:

Yijk = µ + Ki+ αj+ βk+ αjβk+ εijk

dimana :

Yijk = nilai pengamatan pada perendaman dalam etanol ke-j, varietas ke-k, dan kelompok ke-i

µ = nilai tengah pengamatan

Ki = pengaruh kelompok ke-i (i = 1, 2, 3)

αj = pengaruh perendaman dalam etanol ke-j (j = 0, 2, .... 20 menit)

βk = pengaruh perlakuan varietas ke-k (k = 1, 2, .... 5)

αjβk = pengaruh interaksi perlakuan perendaman dalam etanol ke-j dan varietas ke-k

εij = pengaruh galat percobaan ke-ijk

Metode pengusangan yang dipilih adalah metode pengusangan yang memiliki nilai R2 tertinggi dari analisi regresi data rata-rata daya berkecambah. Waktu pengusangan yang digunakan adalah waktu pengusangan dimana daya berkecambah mencapai 80%. Hal ini disesuaikan dengan persyaratan sertifikasi benih bina tanaman pangan, dimana daya berkecambah minimal benih padi sebesar 80% (Deptan 2009).

Pengaruh Metode Pengusangan Cepat Terpilih (Perendaman dalam Larutan Etanol) Terhadap Mutu Fisiologi dan Fisikokimiawi Benih

Metode pengusangan yang terpilih, sebelum diaplikasikan pada percobaan kedua yaitu terhadap 26 galur padi gogo, juga dilakukan terhadap kelima varietas yang digunakan pada percobaan pertama dengan tujuan untuk melihat perubahan fisikokimiawi. Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah faktorial rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama pecelupan dalam etanol 96% selama 0 menit dan 3 menit 24 detik dan faktor kedua yaitu lima varietas padi gogo yaitu Situ Patenggang, Limboto, Inpago 4, Inpago 5, dan Inpago 6. Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 30 satuan percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang

nyata terhadap variabel yang diamati akan diuji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada selang kepercayaan 95% (Gomez & Gomez 1995).

Model linear untuk percobaan ini adalah : Yijk= µ + αj+ βk+ αjβk+ εijk

dimana :

Yijk = nilai pengamatan pada perendaman dalam etanol ke-j, varietas ke-k, dan ulangan ke-i

µ = nilai tengah pengamatan

αj = pengaruh perendaman dalam etanol ke-j (j = 0 menit dan 3 menit 24 detik)

βk = pengaruh perlakuan varietas ke-k (k = 1, 2, .... 5)

αjβk = pengaruh interaksi perlakuan perendaman dalam etanol ke-j dan varietas ke-k

εij = pengaruh galat percobaan ke-ijk

Percobaan 2 Deteksi Vigor Daya Simpan 26 Galur Padi Gogo

Percobaan ini dilakukan untuk mendeteksi vigor daya simpan 26 galur padi gogo menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan dua faktor yaitu galur padi gogo dan perendaman dalam etanol 96%. Deteksi vigor dilakukan dengan metode terpilih yaitu dengan merendam galur padi gogo ke dalam etanol 96% selama 0 menit dan 3 menit 24 detik. Setiap perlakuan terdiri atas 50 butir benih dan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh akan diuji dengan uji F, dimana apabila menunjukkan pengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada selang kepercayaan 95% (Gomez & Gomez 1995).

Model linear yang digunakan adalah:

Yijk = µ + Ki+ αj+ βk+ αjβk+ εijk

dimana :

Yijk = nilai pengamatan pada perendaman dalam etanol ke-j, varietas ke-k, dan kelompok ke-i

µ = nilai tengah pengamatan

Ki = pengaruh kelompok ke-i (i = 1, 2, 3)

16

βk = pengaruh perlakuan galur ke-k (k = 1, 2, .... 26)

αjβk = pengaruh interaksi perlakuan perendaman dalam etanol ke-j dan galur ke-k

εij = pengaruh galat percobaan ke-ijk

Pelaksanaan Penelitian

Percobaan 1 Penetapan Metode Pengusangan Cepat untuk Mengidentifikasi Vigor Daya Simpan Padi Gogo

Pengusangan cepat fisik

Masing-masing varietas benih padi gogo dikemas dalam kantong strimin kemudian dimasukkan ke dalam alat pengusangan cepat fisik pada suhu 43-45 oC, RH 100% selama 0, 12, 24, 36, 48, 60, 72, 84, 96, 108, dan 120 jam. Benih yang telah diusangkan selanjutnya dikecambahkan menggunakan metode Uji Di atas Kertas (UDK) yaitu menanam benih 50 butir dalam box pengecambahan yang telah diisi dengan empat lembar kertas towel yang telah dibasahkan kemudian dikecambahkan pada suhu ruang. Variabel yang diamati adalah daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, dan laju pertumbuhan kecambah.

Penguapan dengan Etanol 96%

Masing-masing varietas benih padi gogo dikemas dalam kantong strimin kemudian dimasukkan ke dalam box pengusangan yaitu wadah plastik berbentuk silinder dengan diameter 27 cm dan tinggi 27 cm, di dalamnya terdapat tiga gelas kaca yang masing-masing berisi 300 ml etanol 96%. Kawat kasa diletakkan di atas gelas sebagai tempat meletakkan benih. Benih kemudian diuapi etanol selama 0, 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140, 160, 180, dan 200 menit. Benih yang telah mendapat perlakuan penguapan dengan etanol 96% selanjutnya dikecambahkan menggunakan metode UDK dan diletakkan pada suhu ruang. Variabel yang diamati adalah daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, dan laju pertumbuhan kecambah.

Perendaman dalam Etanol 96%

Masing-masing varietas padi gogo dimasukkan dalam kantong strimin kemudian direndam dalam etanol. Lamanya perendaman adalah 0, 2, 4, 6, 8, 10,

12, 14, 16, 18, dan 20 menit. Benih yang telah direndam dalam etanol 96% kemudian dikeringanginkan, selanjutnya dikecambahkan menggunakan metode UDK dan diletakkan pada suhu ruang. Variabel yang diamati adalah daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, dan laju pertumbuhan kecambah.

Pengaruh Metode Pengusangan Cepat Terpilih (Perendaman dalam Larutan Etanol) Terhadap Mutu Fisiologi dan Fisikokimiawi Benih

Metode yang dipilih selain diaplikasikan pada percobaan kedua yaitu terhadap 26 galur padi gogo, juga dilakukan terhadap kelima varietas yang digunakan pada percobaan pertama. Masing-masing varietas padi gogo dimasukkan dalam kantong strimin kemudian direndam dalam etanol selama 0 menit dan 3 menit 24 detik, kemudian dikeringanginkan, selanjutnya dikecambahkan menggunakan metode UDK dan diletakkan pada suhu ruang. Variabel yang diamati adalah daya berkecambah dan kecepatan tumbuh. Perubahan fisikokimiawi diamati melalui uji daya hantar listrik dan kebocoran hasil metabolisme meliputi kebocoran protein, kebocoran total gula dan kebocoran fosfor.

Percobaan 2 Deteksi Vigor Daya Simpan 26 Galur Padi Gogo

Pada percobaan ini 26 galur padi gogo diusangkan berdasarkan metode yang terpilih yaitu direndam dalam larutan etanol 96% selama 3 menit 24 detik. Benih yang telah direndam dalam etanol 96% selanjutnya ditanam dengan metode UDK dan dikecambahkan pada suhu ruang. Variabel yang diamati adalah daya berkecambah, delta daya berkecambah (selisih antara daya berkecambah kontrol dan perlakuan), kecepatan tumbuh benih, dan delta kecepatan tumbuh (selisih antara kecepatan tumbuh kontrol dan perlakuan).

Pengamatan Variabel yang diamati adalah :

Daya Berkecambah (DB)

Pengamatan dilakukan terhadap kecambah normal pada hari kelima dan ketujuh. Daya berkecambah dihitung dengan rumus :

18

Keterangan:

∑ KN I = Jumlah kecambah normal pada hari kelima setelah dikecambahkan

∑ KN II = Jumlah kecambah normal pada hari ketujuh setelah dikecambahkan Indeks Vigor (IV)

Indeks vigor dinilai berdasarkan persentase kecambah normal yang muncul pada pengamatan hitungan pertama (hari ke-5).

Kecepatan Tumbuh (KCT)

Pengamatan dilakukan setiap hari terhadap persentase kecambah normal dibagi dengan etmal. Nilai etmal kumulatif dimulai saat benih ditanam sampai dengan waktu pengamatan dan dihitung dengan rumus penentuan kecepatan tumbuh (Sadjad et al. 1999).

Keterangan:

KCT = kecepatan tumbuh

N = persentase kecambah normal

t = etmal (jumlah jam dari saat tanam dibagi 24 jam) tn = waktu akhir pengamatan

Laju Pertumbuhan Kecambah (LPK)

Keterangan:

LPK = laju pertumbuhan kecambah

∑BKKN = jumlah berat kering kecambah normal

∑KN = jumlah kecambah normal

Daya Hantar Listrik (DHL)

Pengukuran daya hantar listrik (µMhos/cm/g) dilakukan dengan cara mengukur air rendaman dari 100 butir benih padi dalam 50 ml aquabidest dalam wadah yang ditutup rapat selama 24 jam pada suhu 20 oC. Selain itu juga disiapkan blangko, yaitu 50 ml aquabidest tanpa benih yang juga diletakkan dalam wadah yang ditutup rapat selama 24 jam. Air rendaman diukur daya hantar listriknya dengan conductivity meter. Hasil pengukuran tersebut dibagi dengan berat benih. Daya hantar listrik diukur dengan menggunakan rumus:

Kebocoran Protein

Benih sebanyak 100 butir direndam dalam 50 ml aquabidest selama 24 jam pada suhu 20 0C. Benih yang direndam kemudian dipisahkan dari air rendamannya. Air rendaman benih kemudian dianalisis kandungan proteinnya menggunakan metode Lowry. Air rendaman benih sebanyak 1 ml ditambahkan dengan 0.9 ml reagent A (1.97 g garam rochelle, 85.85 g Na2CO3, dan 500 ml NaOH 1 N yang dilarutkan dalam aquadest hingga volumenya mencapai 1 liter) kemudian dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu 50 oC. Setelah itu didinginkan kemudian ditambahkan 0.10 ml reagent B (19.76 g garam rochelle, 9.99 g CuSO4.5H2O, dan 10 ml NaOH yang dilarutkan dalam aguadest hingga volumenya menjadi 100 ml), kemudian dikocok dan diinkubasi 10 menit pada suhu ruang. Larutan kemudian ditambahkan dengan 3 ml reagent C (1 ml Folin-Ciocalteau yang dilarutkan dengan 15 ml aquadest) kemudian dikocok dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu 50 oC. Larutan kemudian didinginkan, kemudian diukur absorbannya pada panjang gelombang 650 nm menggunakan spektrofotometer.

20

Keterangan:

A = protein dalam air rendaman benih B = volume air rendaman benih W = berat benih

fp = faktor pengenceran

Kebocoran Total Gula

Benih sebanyak 100 butir direndam dalam 50 ml aquabidest selama 24 jam

Dokumen terkait