• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka …

Dalam dokumen LINDA SITOMPUL S4111064 (Halaman 21-43)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka …

Dividen merupakan hak pemegang saham biasa (common stock) untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Jika perusahaan memutuskan untuk membagi keuntungan dalam dividen, semua pemegang saham biasa mendapatkan haknya yang sama. Hanafi (2004) menyatakan bahwa dividen merupakan kompensasi yang diterima oleh pemegang saham, di samping capita l gain. Dividen ini untuk dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Dividen ditentukan berdasarkan dalam rapat umum anggota pemegang saham dan jenis pembayarannya tergantung kepada kebijakan pemimpin. Pembuat keputusan tentang dividen ini disebut kebijakan dividen atau dengan kata lain kebijakan dividen (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.

1. Teori Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Dividend pa yout ratio menentukan jumlah laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran dividen.

commit to user

6

Alokasi penentuan laba sebagai laba ditahan dan pembayaran dividen merupakan aspek utama dalam kebijakan dividen (Van Horne et a l.,1998).

Kebijakan dividen menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, dan laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau laba yang ditahan untuk diinvestasikan kembali (Husnan,1996). Dengan demikian dimungkinkan membagi laba sebagai dividen dan pada saat yang sama menerbitkan saham baru. Kebijakan dividen bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (ea rning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan didalam perusahaan, yang berarti laba tersebut harus ditahan di dalam perusahaan (Riyanto 2001).

Laba ditahan (retained earning) merupakan salah satu dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Sedangkan dividen merupakan aliran kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham atau “ equity investors”. Setiap perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut di satu pihak dan juga dapat membayarkan dividen kepada para pemegang saham di lain pihak, tetapi kedua tujuan tersebut selalu bertentangan. Sebab jika makin tinggi tingkat dividen yang dibayarkan, berarti semakin sedikit laba yang ditahan, dan sebagai akibatnya ialah menghambat tingkat pertumbuhan (rate of growth) dalam pendapatan dan harga sahamnya.

Kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar dari pendapatan yang tersedia maka untuk pembayaran deviden semakin kecil. Persentase dari

commit to user

6

pendapatan yang akan di bayarkan kepada pemegang saham sebagai ca sh dividend disebut dividend pa yout ratio. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin tingginya dividend pa yout ratio yang ditetapkan oleh perusahaan berarti makin kecil dana yang tersedia untuk ditanamkan kembali di dalam perusahaan yang ini berarti akan menghambat pertumbuhan perusahaan (Riyanto 2001).

Kebijakan terhadap pembayaran dividen merupakan keputusan yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Kebijakan ini melibatkan dua pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda, yaitu pihak pertama para pemegang saham dan pihak kedua perusahaan itu sendiri. Dividen diartikan sebagai pembayaran kepada para pemegang saham oleh pihak perusahaan atas keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan dividen adalah kebijakan yang berhubungan dengan pembayaran dividen oleh pihak perusahaan, berupa penentuan besarnya pembayaran dividen dan besarnya laba ditahan untuk kepentingan pihak perusahaan (Alexander, et.a l, 1993 dalam Prihantoro,2003).

Beberapa teori yang berkaitan dengan dividend pa yout ratio dan asumsi – asumsi yang mendasarinya:

a. Dividen tidak relevan

Menurut Modigliani & Miller (1961) dalam Saxena (1999), dividend pa yout ratio tidak mempunyai pengaruh pada harga saham perusahaan atau biaya modalnya. Modigliani dan Miller menyatakan bahwa dividend pa yout ratio adalah tidak relevan, selanjutnya nilai

commit to user

6

perusahaan ditentukan oleh ea rning power dari aset perusahaan. Sementara itu keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagikan dalam bentuk dividen atau akan ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Untuk membuktikan teorinya, Modigliani dan Miller mengemukakan berbagai asumsi sebagai berikut:

a) Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan perusahaan b) Tidak ada biaya emisi atau flotation cost dan biaya transaksi

c) Kebijakan penganggaran modal perusahaan independen terhadap dividendpa yout ratio

d) Investor dan manajer mempunyai informasi yang sama tentang kesempatan investasi di masa yang akan datang.

e) Distribusi pendapatan di antara dividen dan laba ditahan tidak berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor.

b. Bird in The Hand Theory

Menurut Gordon (1963) dan Lintner (1956), tingkat keuntungan yang disyaratkan akan naik apabila pembagian dividen dikurangi karena investor lebih yakin terhadap penerimaan dividen daripada kenaikan nilai modal (ca pita l gain) yang akan dihasilkan dari laba ditahan. Pendapat Gordon (1963) dan Lintner (1962) oleh MM diberi nama bird in the hand fa lla cy. Gordon dan Lintner beranggapan investor memandang bahwa satu burung di tangan lebih berharga daripada seribu burung di udara. Namun, MM berpendapat bahwa tidak

commit to user

6

semua investor berkepentingan untuk menginvestasikan kembali dividen mereka di perusahaan yang sama dengan memiliki resiko yang sama, oleh sebab itu tingkat resiko pendapatan mereka di masa yang akan datang bukannya ditentukan oleh DPR tetapi ditentukan oleh tingkat resiko investasi baru.

c. Ta x preference theory

Adalah suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan ca pita l gains maka para investor lebih menyukai ca pita l ga ins karena dapat menunda pembayaran pajak.

Berdasarkan ketiga konsep teori tersebut di atas, perusahaan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :

a) Jika manajemen percaya bahwa dividend irreleva nce theory dari Modigliani dan Miller itu benar maka perusahaan tidak perlu memperhatikan besarnya dividen yang harus dibagikan.

b) Jika perusahaan menganut bird in the ha nd theory maka perusahaan harus membagi seluruh EAT (Ea rning After Ta x) dalam bentuk dividen.

c) Jika manajemen cenderung mempercayai ta x preference theory maka perusahaan harus menahan seluruh keuntungan.

Menurut Brigham & Houston (2001) dua teori lain yang dapat membantu untuk memahami kebijakan dividen adalah :

commit to user

6

a )Information content or signa ling hypothesis

Di dalam teori ini Modigliani dan Miller berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas kenaikan normal biasanya merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa yang akan datang.

Sebaliknya, suatu penurunan dividen yang dibawah penurunan normal diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan mengalami masa sulit di masa mendatang. Namun demikian sulit dikatakan apakah kenaikan atau penurunan harga setelah adanya kenaikan atau penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau mungkin preferensi terhadap dividen.

b) Clientele Effect

Menyatakan bahwa pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok investor yang membutuhkan penghasilan saat ini lebih menyukai suatu DPR yang tinggi, sebaliknya kelompok investor yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.

2. Agency Theory (Teori Agensi)

Teori keagenan menjelaskan bahwa kepentingan manajer dan kepentingan pemegang saham seringkali bertentangan, sehingga dapat menyebabkan terjadi konflik diantara keduanya (Jensen & Meckling,

commit to user

6

1976). Hal ini terjadi karena manajer berusaha untuk mengutamakan kepentingan pribadinya yang tidak sesuai dengan keinginan pemegang saham dimana kepentingan manajer dapat menambah biaya perusahaan yang mengurangi keuntungan perusahaan. Menurunnya keuntungan perusahaan menyebabkan penerimaan pemegang saham juga menurun. Konflik yang terjadi ini dapat dikurangi dengan adanya suatu mekanisme kontrol atau pengawasan sehingga dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan tersebut. Mekanisme pengawasan menimbulkan adanya biaya agensi (Agency Cost).

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi adanya biaya keagenan adalah dengan pembayaran dividen yang dapat menjadi bonding bagi manajer. Jadi kebijakan dividen digunakan sebagai salah satu cara untuk mengurangi biaya keagenan, pembayaran dividen yang lebih besar akan memperbesar kesempatan untuk mendapatkan dana tambahan dari sumber eksternal (Crutchley & Hansen, 1989).

Pembagian dividen ini membuat pemegang saham mendapatkan pendapatan tambahan selain dari ca pita l gain. Dividen juga membuat pemegang saham mempunyai kepastian pendapatan (Crutchley & Hansen, 1989).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi dividen yang diuji di penelitian ini:

a. Biaya Agensi

Biaya agensi adalah biaya yang ditanggung oleh pemegang saham untuk mencegah atau meminimalkan masalah agensi (Jensen et a l, 1992).

commit to user

6

Ada tiga kategori biaya keagenan yaitu :

a) Pengeluaran untuk memonitor aktifitas-aktivitas manajer misalnya biaya audit.

b)Pengeluaran-pengeluaran untuk membuat struktur organisasi yang dapat membatasi perilaku manajer yang tidak diinginkan misalnya dengan mengangkat investor ke dalam dewan direksi

c) Opportunity cost yang timbul akibat kondisi dimana manajer tidak dapat segera mengambil keputusan tanpa persetujuan pemegang saham (Brigham et a l., 1999)

Biaya agensi dapat dibedakan menjadi 2 jenis (Jensen & Mecking, 1976) yaitu :

a) Biaya agensi ekuitas luar yang terjadi karena perbedaan kepentingan antara pemilik-manajer dengan pemegang saham luar sebagai akibat penjualan klaim ekuitas atas perusahaan. Pemilik dan manajer hanya akan menanggung sebagian biaya dari operasional perusahaan yang digunakannya untuk mengkonsumsi penghasilan tambahan dari sumberdaya perusahaan. Konflik potensial berasal dari keadaan ketika kepemilikan manajer turun sehingga dorongan untuk mencurahkan usaha pada aktivitas-aktivitas yang kreatif juga menurun.

b)Biaya agensi hutang yang terjadi karena perbedaan kepentingan antara pemegang saham (stockholder) dengan pemegang hutang (debt holder). Dengan penerbitan hutang, maka kreditur mengkonsumsi sebagian laba dari biaya bunga yang dibayarkan, sementara itu manajer memegang

commit to user

6

pengendalian yang sangat menentukan untuk tingkat profitabilitas dan risiko perusahaan melalui aliran kas, misalnya manajer melakukan ekspansi yang menyebabkan risiko lebih besar. Jika investasi tersebut berhasil maka sebagian besar keuntungan akan menjadi hak pemegang saham karena bunga atas hutang bersifat tetap. Tetapi bila investasi tersebut gagal, maka kreditur akan ikut menanggung kerugian tersebut, sehingga disimpulkan bahwa investasi tersebut hanya baik untuk pemegang saham.

Distribusi sumber daya tunai mengurangi ukuran dana internal yang dihasilkan yang tersedia bagi manajer, memaksa mereka lebih sering masuk ke dalam pasar modal untuk memperoleh pendanaan eksternal, sehingga manajer menjadi subjek pengawasan pasar modal. Dalam rangka untuk mengamankan dana yang dibutuhkan, manajer akan memiliki insentif untuk mengungkapkan kedua informasi dan mengurangi biaya agensi (Easterbrook, 1984, dan Moh'd et a l., 1995.). Oleh karena itu, pembayaran dividen menguntungkan pemegang saham dengan mengurangi biaya agensi yang terkait dengan pemantauan manajer yang memperluas peran ini ke pasar modal.

Pembayaran dividen juga berfungsi untuk mengurangi "free ca sh flow" dari menjadi terbuang karena proyek-proyek tidak menguntungkan atau net present va lue (NPV) negatif. Ketika suatu perusahaan telah menghabiskan semua peluang pertumbuhan yang menguntungkan dan proyek dengan NPV positif, a gency problem antara pemegang saham dan manajer akan

commit to user

6

lebih parah karena perusahaan memiliki ca sh flow yang berlebihan (Jensen, 1986). Pembayaran dividen yang besar kepada pemegang saham mengurangi dana diskresioner yang tersedia untuk manajer, sehingga mengurangi potensi masalah invesmen yang berlebihan dan sesuai dengan itu meminimalkan konflik pemegang saham – manajer. Namun, Jensen (1986) berpendapat bahwa hutang juga bisa berfungsi secara efektif sebagai mekanisme pengganti untuk dividen dalam mengurangi biaya agensi dari free ca sh flow. Argumentasi ini mungkin berlaku untuk Indonesia karena sistem keuangan di Indonesia berdasarkan bank (bank-based) dan bank memainkan peran penting dalam pembiayaan kegiatan usaha. Sebagian besar dari struktur modal perusahaan Indonesia adalah hutang jangka pendek dan jenis fasilitas kredit yang dominan yang diberikan oleh bank Indonesia yang secara alamiah jangka pendek. Akibatnya perusahaan harus tunduk pada pengawasan bank, pengawasan akan lebih sering ketika mereka melakukan pendekatan ke bank untuk pembiayaan.

Proksi untuk biaya agensi pada penelitian ini adalah persentase saham biasa suatu perusahaan yang dipegang oleh orang dalam (INSD - insiders). Proksi ini telah banyak digunakan dalam literatur (Rozeff, 1982, Lloyd et a l, 1985., Jensen, et a l., 1992, dan Holder et a l.,1998). Telah berpendapat bahwa biaya agensi mungkin dapat dikurangi jika orang dalam (manajer, direktur, dan pejabat eksekutif lainnya) meningkatkan kepemilikan mereka di perusahaan, karena ini dapat membantu untuk menyelaraskan kepentingan keduanya, manajer dan pemegang saham (Jensen dan

commit to user

6

Meckling, 1976). Oleh karena itu, semakin tinggi proporsi kepemilikan manajer dalam perusahaan, semakin kurang kebutuhan untuk menggunakan dividen sebagai perangkat untuk mengurangi biaya agensi. Oleh karena itu, proporsi kepemilikan insider (INSD) diharapkan untuk memiliki hubungan negatif ke dividend pa yout.

b.Ukuran Perusahaan

Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori yaitu perusahaan besar (la rge firm), perusahaan menengah (medium firm), dan perusahaan kecil (sma ll firm). Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan kepada total aset perusahaan (Machfoedz, 1994 dalam Ulfah, 2012)

Ukuran perusahaan merupakan suatu faktor yang penting bukan hanya sebagai proksi pada biaya keagenan (dimana dapat diharapkan lebih tinggi pada perusahaan dengan ukuran yang lebih besar) tetapi juga disebabkan biaya transaksi yang berhubungan dengan penerbitan saham sehubungan dengan ukuran perusahaan (Smith, 1977). Bagaimanapun (Smith & Watts, 1992) menunjukkan, dasar teori pada pengaruh dari ukuran (size) terhadap dividend pa yout ratio sangat kuat. Perusahaan besar dengan akses pasar yang lebih baik seharusnya membayar dividen yang tinggi kepada pemegang sahamnya, sehingga antara ukuran perusahaan dan pembayaran dividen memiliki hubungan yang positif.

Sedangkan Al-Malkawi (2008) menyatakan bahwa sebuah perusahaan besar biasanya memiliki akses lebih baik ke pasar modal dan menemukan

commit to user

6

lebih mudah untuk meningkatkan dana dengan biaya lebih rendah dan kendala lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan kecil. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada dana internal menurun dengan meningkatnya ukuran perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan besar lebih cenderung untuk membayar dividen lebih tinggi untuk pemegang saham.

Sejumlah studi empiris telah didokumentasikan bahwa ukuran adalah signifikan dalam menentukan kebijakan dividen perusahaan, dan berpengaruh positif berhubungan dengan dividen (Lloyd et a l., 1985, Barclay et a l., 1995., Redding, 1997, Holder et a l. 1998, Fama & French, 2001).

Ada pengukuran-pengukuran yang berbeda dari ukuran perusahaan, misalnya kerja, penjualan, aset, dan kapitalisasi/pemodalan. Dalam penelitian ini, kapitalisasi pasar ekuitas umum perusahaan digunakan sebagai pengukur untuk ukuran (SIZE). Ukuran ini telah sering digunakan oleh penelitian sebelumnya (Al-Malkawi, 2008., Deshmukh, 2003). Berdasarkan pembahasan tersebut di atas dan konsisten dengan penelitian sebelumnya, besarnya variabel diharapkan memiliki hubungan positif dengan dividend pa yout.

c. Profitabilitas

Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang berhasil diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Dividen adalah merupakan sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karenanya dividen akan dibagikan jika perusahaan memperoleh keuntungan.

commit to user

6

Keuntungan yang layak dibagikan kepada para pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seluruh kewajiban tetapnya yaitu beban bunga dan pajak. Karena dividen diambil dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividend pa yout ratio. Perusahaan yang memperoleh keuntungan cenderung akan membayar porsi keuntungan yang lebih besar sebagai dividend. Semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka akan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Atribut profitabilitas ini diwakili oleh tingkat keuntungan setelah pajak dibagi dengan total a ssets (Chang dan Rhee, 1990) yang merupakan salah satu rasio profitabilitas.

Menurut Kasmir (2008), rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan yang ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Pada dasarnya penggunaan rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi suatu perusahaan. Manfaat rasio profitabilitas ini tidak terbatas hanya pada pemilik usaha atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak luar perusahaan terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan.

Terdapat beberapa jenis rasio profitabilitas untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan, antara lain :

commit to user

6

a) Gross profit ma rgin (GPM)

Pengukuran ini adalah ukuran persentase dari setiap hasil penjualan sesudah perusahaan membayar harga pokok penjualan. Semakin tinggi gross profit ma rgin maka semakin baik.

b)Operating profit ma rgin (OPM)

Pengukuran ini adalah ukuran persentase dari setiap hasil penjualan sesudah semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi kecuali bunga dan pajak.

c) Net profit ma rgin (NPM)

Pengukuran ini adalah ukuran untuk mengukur persentase keuntungan perusahaan setelah dikurangi semua biaya dari pengeluaran termasuk bunga dan pajak.

d)Return on a ssets (ROA)

Pengukuran ini adalah ukuran keefektifan manajemen dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia.

e) Return on Equity (ROE)

ROE adalah tingkat pengembalian atas ekuitas pemilik perusahaan. Ekuitas pemilik adalah jumlah aktiva bersih perusahaan sehingga perhitungan ROE sebuah perusahaan dapat dihitung dengan membagi total ekuitas dengan laba bersih perusahaan. Pengukuran ini adalah ukuran pengembalian yang diperoleh pemilik atas investasi.

Pada penelitian ini profitabilitas diproksikan dengan return on a ssets (ROA).

commit to user

6

Ang (1997) menyatakan bahwa Return on Asset adalah tingkat keuntungan bersih yang berhasil diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Return on Asset diukur dari laba bersih setelah pajak (ea rning a fter ta x) terhadap total assetnya yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam penggunaan investasi yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam rangka menghasilkan probabilitas perusahaan. ROA yang merupakan salah satu ukuran profitabilitas juga merupakan ukuran efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik karena tingkat kembalian investasi (return) yang semakin besar (Puspita, 2009)

d.Leverage Keuangan

Menurut Al-Malkawi (2008) struktur keuangan perusahaan terdiri dari hutang (kewajiban) dan pembiayaan ekuitas. Pembiayaan jangka panjang biasanya mengacu pada struktur modal perusahaan, dan sejauh mana perusahaan bergantung pada pembiayaan hutang yang disebut levera ge keuangan. Selain keuntungan dari pajak (pemotongan bunga/interest atas penghasilan), penggunaan pendanaan hutang dapat menaikan/lever-up laba pemegang saham atas ekuitas. Namun, levera ge mengandung risiko, yaitu, ketika sebuah perusahaan memperoleh pembiayaan hutang dan berkomitmen untuk beban keuangan tetap diwujudkan dalam bunga

commit to user

6

pembayaran dan jumlah pokok, maka kegagalan untuk memenuhi kewajiban ini dapat membuat perusahaan ke dalam likuidasi. Risikonya berkaitan dengan tingginya derajat levera ge keuangan karena dapat mengakibatkan rendahnya pembayaran dividen karena perusahaan perlu untuk menjaga arus kas internal mereka untuk membayar kewajiban mereka daripada mendistribusikan uang tunai untuk pemegang saham.

Selain itu, Rozeff (1982) menunjukkan bahwa, perusahaan dengan leverage keuangan tinggi cenderung memiliki rasio pembayaran dividen rendah untuk mengurangi biaya transaksi terkait dengan pembiayaan eksternal. Selain itu, ada juga beberapa perjanjian hutang yang berlaku dengan pembatasan pembayaran dividen. Adanya restriksi dividen dalam perjanjian hutang mendorong terjadinya konflik tersebut. Menurut Kalay (1982), adanya pembatasan dividen yang dijumpai dalam perjanjian hutang dimaksudkan untuk mengontrol biaya agensi hutang yang timbul dari pembayaran dividen yang mungkin didanai dari penerbitan hutang baru dan atau dari investasi yang terlebih dahulu (foregoing investment). Sebagai salah satu konsekwensi pembatasan tersebut, pihak perusahaan terikat dengan perjanjian tersebut. Bila perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan, jumlah investasi minimal perusahaan kemungkinan besar dikonversi kedalam dividen yang rendah. Hasil penelitian DeAngelo dan DeAngelo (1996) menunjukan bahwa perusahaan mengurangi jumlah dividen yang dibayarkan ketika sedang mengalami kesulitan keuangan. Hasil penelitian mereka juga menunjukkan adanya pengurangan dividen

commit to user

6

walaupun tidak terikat dengan perjanjian hutang. Menurut Deskmukh (2005) para manajer memotong dividen ketika sedang menghadapi kesulitan keuangan untuk menghindari kemungkinan tidak membayar di masa datang. Biaya yang terjadi akan sangat mahal bila perusahaan meniadakan pembagian dividen. Karena para manajer lebih suka mengurangi dividen dibandingkan dengan pemutusan pembagian dividen, perusahaan dengan tingkat kesulitan keuangan yang tinggi akan membagi dividen yang lebih rendah untuk menjaga kebijakan dividen yang stabil.

Oleh karena itu, hal yang lainnya menjadi sama, hubungan terbalik antara hutang dan pembayaran dividen tampaknya masuk akal. Beberapa penelitian telah melaporkan hubungan negatif antara hutang dan dividen (Jensen et a l, 1992., Agrawal & Jayaraman, 1994 dan Gugler & Yurtoglu, 2003).

Selanjutnya, sebagaimana didalilkan oleh Jensen (1986), hutang dapat berfungsi sebagai perangkat pengganti untuk dividen dalam mengurangi biaya agensi dari arus kas bebas. Artinya, ketika sebuah perusahaan mendapatkan hutang, itu membuat komitmen tetap untuk kreditur, yang mengurangi dana diskresioner yang tersedia untuk manajer dan memusatkan mereka untuk pengawasan hutang-pemasok. Ini menunjukkan bahwa, perusahaan dengan levera ge tinggi diharapkan memiliki pembayaran dividen yang rendah. Seperti yang dinyatakan Sudarsi (2002), peningkatan hutang ini akan mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi kewajiban

commit to user

6

perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan membayar deviden.

Untuk menguji sejauh mana hutang dapat mempengaruhi keputusan dividen, studi ini menggunakan rasio leverage keuangan yang didefinisikan sebagai rasio dari total hutang terhadap total aset (FLEVER – financia l

Dalam dokumen LINDA SITOMPUL S4111064 (Halaman 21-43)

Dokumen terkait