• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

2. Tinjauan Tentang Hukum Acara Pengadilan Agama

Dalam Pasal 54 UU Nomor. 7 Tahun 1989 dinyatakan,”Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini”. Berdasarkan bunyi Pasal 54 tersebut di atas, berlaku asas “Lex Specialis derogat Lex Generalis” yang berarti disamping acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan Pengadilan Agama berlaku Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, namun secara khusus berlaku Hukum Acara yang hanya dimiliki oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.

a. Tahap-tahap Pemeriksaan di Pengadilan Agama

Pemeriksaan perkara di peradilan agama dimulai sesudah diajukannya permohonan atau gugatan dan pihak-pihak yang berperkara telah dipanggil menurut ketentuan yang berlaku (Pasal 55 UUPA). Pemeriksaan untuk sengketa perkawinan terutama perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Tahapan-tahapan cerai talak yang harus dilakukan pemohon atau suami atau kuasanya :

1) Tahap tahap membuat surat Permohonan

a) Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama (Pasal 118 HIR, 142 RBG Jo. Pasal 66 Undang-Undang Nomor.7 tahun 1989)

b) Pemohon di anjurkan untuk meminta petunjuk kepada

Pengadilan Agama atau tentang tata cara membuat surat permohonan (Pasal 119 HIR, 143 RGB Jo. Pasal 48 Undang-Undang Nomor.7 tahun 1989)

commit to user

c) Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika termohon telah menjawab surat permohonan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Termohon.

2) Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/ :

a) Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (Pasal 66 ayat 2 Undang-Undang Nomor.7 tahun 1989)

b) Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah

disepakati bersama tanpa izin pemohon, maka permohonan harus diajukan kepada Pengadilan Agama/Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat 2 Undang-Undang Nomor. 7 tahun 1989)

c) Bila Termohon berkediaman diluar negeri, maka Permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat 3 UU Nomor.7 tahun 1989)

d) Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman di luar

negeri, maka permohonan di ajukan kepada Pengadilan Agama/ yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusar (Pasal 66 ayat 34UU Nomor.7 tahun 1989)

3) Permohonan tersebut memuat :

a) Nama, umur, pekerjaan, agama, dan tempat kediaman Pemohon

dan Termohon ;

b) Posita (Fakta kejadian dan Fakta hukum

c) Petitum (hal-hal yang di tuntut berdasarkan posita).

4) Permohonan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri dan harta bersama dapat di ajukan bersama-sama dengan permohonan

commit to user

cerai talak atau sesudah ikrar talak di ucapkan (Pasal 66 ayat 5 UU Nomor.7 tahun 1989)

5) Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat 4 HIR, 145 ayat 4 RBG Jo. Pasal 89 UU Nomor.7 tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (Prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 RBG ) 6) Proses Penyelesaian Perkara :

a) Pemohon mendaftarkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah

b) Pemohon dan Termohon di panggil oleh Pengadilan Agama/ Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan.

c) Tahapan persidangan :

i. Pada pemeriksaan sidang pertama, Hakim berusaha

mendamaikan kedua belah pihak, dan suami isteri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU Nomor.7 tahun 1989); ii. Apabila tidak berhasil, maka Hakim mewajibkan kepada

kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat 1 PERMA Nomor.2 tahun 2003);

iii. Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara di lanjutkan dengan membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan gugatan rekonpensi/gugatan balik (Pasal 132a HIR, 158 RBG)

d) Putusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah atas

permohonan cerai talak sebagai berikut :

i. Permohonan di kabulkan. Apabila Termohon tidak puas dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/ tersebut.

commit to user

ii. Permohonan di tolak. Pemohon dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Tinggi Agama. Memori Banding yang dibuat Pembanding/kuasanya, selanjutnya Kontra Memori Banding yang dibuat Terbanding/kuasanya sebagai jawaban atas memori banding. Jika atas putusan banding, tidak ada upaya hukum lagi yang diajukan oleh para pihak, maka dapat dilakukan eksekusi. Jika atas putusan banding dilakukan upaya Kasasi maka harus dibuat Memori Kasasi yang dibuat Pemohon Kasasi/kuasanya dan atas memori kasasi tersebut dijawab dengan Kontra Memori Kasasi yang dibuat Termohon Kasasi/kuasanya.

iii. Permohonan tidak diterima. Pemohon dapat mengajukan permohonan baru.

e) Apabila permohonan dapat di kabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka :

i. Pengadilan Agama/ menentukan hari sidang penyaksian ikrar

talak.

ii. Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah memanggil

pemohon dan Termohon untuk melaksanakan ikrar talak; iii. Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak di tetap

sidang penyaksian ikrar talak, suami atau kuasanya tidak melaksanakan ikar talak di depan sidang, maka gugurlah kekuatan hukum penetapan hukum tersebut dan perceraian tidak dapat diajukan lagi berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat 6 UU Nomor. 7 tahun 1989)

f) setelah ikrar talak di ucapkan panitera berkewajiban memberikan akta cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 hari setelah penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat 4 UU Nomor. 7 tahun 1989)

commit to user

b. Bentuk dan Macam Produk Hukum Pengadilan Agama

Salah satu tugas pokok Pengadilan Agama adalah mengadili atau memutus perkara yang diajukan kepadannya yang dituangkan dalam putusan. ”Putusan Hakim adalah suatu pernyataan yang oleh Hakim, sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak”(SudiknoMertokusumo, 2002: 02). Berdasarkan hal tersebut, putusan yang diucapkan oleh Hakim di persidangan adalah harus sama dengan amar putusan yang tertulis (vonis).

”Putusan Pengadilan Agama adalah dalam bentuk tertulis dan Pengadilan Agama adalah lembaga yang berwenang untuk membuat putusan sesuai dengan kewenangan absolut yang diberikan kepadannya” (Chatib Rasyid, 2009: 119). Berdasarkan penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang No 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman jo Pasal 47 Undang-Undang No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dinyatakan, bahwa yang dimaksud perkara yang diterima di pengadilan adalah termasuk perkara voluntair. Dengan demikian, perkara yang diajukan ke Pengadilan Agama adalah perkara contentiosa (persengketaan) dan perkara voluntair (gugat yang bersifat permohonan) (Chatib Rasyid, 2009: 119). Dalam penjelasan Pasal 60 Undang-Undang No 50 tahun 2009 disebutkan ada dua produk Pengadilan Agama, yaitu putusan dan penetapan.

Penetapan adalah putusan pengadilan untuk perkara permohonan, pengertian ini sesuai Pasal 60 Undang-Undang No 50 tahun 2009. Putusan penetapan menyesuaikan diri dengan sifat gugat permohonan, bahwa Undang-Undang menilai putusan yang sesuai dengan permohonan adalah penetapan (beschikking). Untuk penetapan ini berlaku asas kebenaran sepihak, bahwa kebenaran yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran yang berasal dari diri pemohon saja.

commit to user

Penetapan juga tidak mempunyai kekuatan mengikat kepada pihak lain dan tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian ilai kekuatan pembuktian (Yahya Harahap, 2003: 306).

Putusan disebutkan sebagai keputusan pengadilan atas perkara gugatan karena adanya suatu sengketa, sedangkan penetapan adalah keputusan pengadilan atas perkara permohonan.

Adapun macam-macam putusan dalam Pengadilan Agama dapat dibagi dua, yaitu;

1). Putusan Sela

Putusan sela adalah putusan yang dujatuhkan sebelum

putusan akhir yang diadakan dengan tujuan untuk

memungkinkan atau mempermudah kelanjutan pemeriksaan perkara. Dalam hukum acara perdata dikenal beberapa macam putusan sela, yaitu;

a) Putusan Preparatoir, yaitu putusan persiapan mengenai jalannya pemeriksaan untuk melancarkan segala sesuaitu guna mengadakan putusan akhir;

b) Putusan Interlacutoir, yaitu putusan yang isinya

memerintahkan pembuktian;

c) Putusan Incidental, yaitu putusan yang berhubungan dengan insiden, seperti putusan yang bertujuan untuk menghentikan prosedur biasa;

d) Putusan Provisionil, yaitu putusan yang menjawab tuntutan provisi dalam hal penggugat meminta agar diadakan

tindakan pendahuluan sebelum putusan akhir

dijatuhkan(Chatib Rasyid, 2009: 119).

2). Putusan akhir

”Putusan akhir adalah kesimpulan akhir yang diambil oleh Majelis Hakim yang diberi wewenang untuk itu menyelesaikan

perkara dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk

commit to user

dari amarnya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu (Chatib Rasyid, 2009: 118-119);

a) Putusan condemnatoir, yaitu yang amarnya bersifat

menghukum pihak yang dikalahkan untuk memenuhi prestasi. Amar yang bersifat condemnatoir tersebut dirinci sebagai berikut ;

(1) menghukum atau memerintahkan untuk

menyerahkan;

(2) menghukum atau memerintahkan untuk

pengosongan;

(3) menghukum atau memerintahkan untuk membagi; (4) menghukum atau memerintahkan untuk melakukan

sesuatu;

(5) menghukum atau memerintahkan untuk

menghentikan sesuatu;

(6) menghukum atau memerintahkan untuk membayar sesuatu;

(7) menghukum atau memerintahkan untuk

membongkar;

(8) menghukum atau memerintahkan untuk tidak melakukan sesuatu.

b) Putusan Declaratoir adalah putusan yang amarnya

menyatakan, bahwa keadaan tertentu sebagai keadaan yang resmi menurut hukum. Misalnya ”Menyatakan sah atau tidak suatu perbuatan hukum. Amarnya dimulai dengan menyatakan...”;

c) Putusan Konstitutif adalah putusan yang bersifat

mengentikan atau menimbulkan hukum baru. Misalnya

memutuskan suatu ikatan perkawinan. Contoh

”Menyatakan bahwa perkawinan antara A dan B putus karena.

c. Susunan dan Isi Putusan Pengadilan Agama

Berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 60 Undang Nomor 50 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama dan

commit to user

penjelasannya ditemukan dua macam produk Pengadilan Agama, yaitu putusan dan penetapan. Kedua hal tersebut harus dibuat secara tertulis dengan susunan sebagai berikut ;

1) Kepala Putusan

Kepala putusan memuat hal-hal sebagai berikut ; a) judul,yaitu : PUTUSAN

b) No putusan

c) Irah-irahan, yaitu kalimat ”BISMILLAHIRRAHMAAN

IRROHIM” yang diikuti dengan kalimat ”DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”;

2) Identitas

Identitas dalam putusan sama dengan identitas yang ada dalam surat gugatan atau permohonan sebagaimana diatur dalam Pasal 67 Undang No 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Pertama Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yaitu sekurang-kurangnya memuat nama, umur, dan alamat para pihak yang berperkara.

3) Duduk Perkara

Dalam bagian tentang duduk perkara sebuah putusan harus

mengacu kepada ketentuan yang terdapat dalam Pasal 195 R.bg / Pasal 184 HIR dan Pasal 25 Undang-Undang No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu memuat hal-hal sebagai berikut ;

a) Gugatan yang diajukan Penggugat;

b) Jawaban dan tanggapan yang diajukan Tergugat, termasuk

didalamnya eksepsi, jawaban terhadap pokok perkara, tuntutan provisi dan rekonvensi.

commit to user

c) Fakta kejadian dalam persidangan, hal ini dapat berupa sikap para pihak yang berperkara di persidangan, keterangan saksi dan keterangan yang diperoleh dari para pihak tentang alat bukti yang diajukan para pihak;

d) Duduk perkara, adalah menguraikan seluruh fakta yang

terakumulasi mulai dari fakta yang terdapat dalam surat gugatan sampai pada kesimpulan.

4) Pertimbangan Hukum

Pertimbangan hukum adalah suatu tahap dimana Majelis Hakim

mempertimbangkan fakta yang terungkap selama persidangan berlangsung, mulai dari gugatan, jawaban dan eksepsi dari Tergugat yang dihubungkan dengan alat bukti yang memenuhi syarat formil dan meteriil yang mencapai batas minimal pembuktian.

Dalam memutus perkara Hakim harus mempunyai alasan-alasan hukum yang menjadi dasar pertimbangan. Dasar pertimbangan tersebut bertitik tolak dari ketentuan sebagai Pasal-Pasal tertentu dari peraturan perUndang-Undangan, hukum kebiasaan, yurisprudensi dan doktrin hukum. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 14 dan Pasal 50 Ayat (1) UU No 48 Tahun 2009 yang menegaskan bahwa ”segala putusan pengadilan harus memuat alasan-alasan dan dasar-dasar putusan dan mencantumkan Pasal-Pasal peraturan perUndang-Undangan tertentu yang bersangkutan dengan perkara yang diputus atau berdasarkan hukum tak tertulis maupun yurisprudensi atau doktrin hukum”.

5) Amar / Diktum putusan

Amar atau diktum putusan adalah jawaban atas petitum yang

dimintakan oleh Penggugat, sama ada petitum dalam bagian eksepsi, provisi, konvensi maupun dalam rekonvensi. Berdasarkan Pasal 189 Ayat (3) R.bg, Hakim dilarang mengabulkan atau memutus lebih dari yang diminta (petitum).

commit to user 6) Penutup

Dalam bagian penutup disebutkan kapan perkara tersebut

diputuskan dan kapan diucapkan dengan menyebutkan susunan majelis Hakim yang memutus perkara serta susunan Majelis Hakim yang hadir pada saat putusan diucapkan dengan tidak boleh melupakan pencantuman Panitera yang ikut bersidang sebagai pembantu Majelis Hakim. Selain hal tersebut, juga harus dicantumkan tentang hadir atau tidaknya Penggugat dan Tergugat pada saat putusan diucapkan.

Adanya musyawarah Majelis Hakim dalam menjatuhkan putusan

harus sesuai dengan Pasal 14 Undang-Undang No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman jo. 189 Ayat (1) R.Bg. sementara itu, tanggal dijatuhkannya putusan adalah sama dengan tanggal musyawarah Majelis Hakim untuk menghasilkan putusan tersebut. Tanggal putusan yaitu tanggal hari pengucapan putusan dalam sidang terbuka untuk umum oleh ketua sidang dengan dihadiri oleh Hakim anggota dan dibantu oleh panitera yang turut bersidang. Putusan ditandatangani oleh Hakim Ketua Sidang, Hakim Anggota dan Panitera yang turut bersidang, dengan pembubuhan materai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) pada tanda tangan. d. Kekuatan Putusan Pengadilan Agama

Putusan Pengadilan Agama memiliki tiga macam kekuatan pembuktian diantarannya adalah;

1) Kekuatan mengikat kepada para pihak

Putusan Pengadilan Agama yang dijatuhkan oleh Hakim adalah untuk menyelesaikan perkara yang terjadi antara Penggugat dan Tergugat dengan menetapkan siapa yang berhak serta menentukan hukumnya. Menurut Yahya Harahap putusan Pengadilan Agama bersifat mengikat kepada beberapa pihak, diantaranya adalah (Yahya Harahap, 2003 : 310);

commit to user

a) Terhadap pihak yang berperkara

b) Terhadap orang yang mendapat hak dari merk, dan

c) Terhadap ahli waris mereka.

Oleh karena putusan mempunyai kekuatan mengikat maka para pihak yang telah ditentukan mempunyai kewajiban untuk metaati putusan yang ada.

Mukti Arta menyebutkan bahwa putusan Hakim memiliki kekuatan mengikat yang dapat diartikan sebagai berikut (Mukti Arta.1996:264-265);

a) Putusan Hakim itu mengikat pada para pihak yang

berperkara dan yang terlibat dalam perkara itu;

b) Para pihak harus tunduk dan menghormati putusan itu;

c) Terikatnya para pihak kepada putusan Hakim ini, baik dalam arti positif maupun negatif (Pasal 1917, 1920 BW, 134 Rv);

d) Mengikat dalam arti positif, yakni bahwa apa yang telah diputus oleh Hakim harus dianggap benar (Res judicata pro veritate habetur), dan tidak dimungkinkan pembuktian lawan;

e) Mengikat dalam arti negatif, artinya bahwa Hakim tidak

boleh memutus lagi perkara yang pernah diputus sebelumnya antara pihak yang sama serta pokok perkara yang sama (nebis in idem), (Pasal 134 Rv);

f) Putusan Hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum

tetap tidak dapat dirubah, sekalipun oleh pengadilan yang lebih tinggi, kecuali dengan upaya hukum yang luar biasa (yaitu Reguest civil dan derdent verzet);

g) Segala pertimbangan Hakim yang dijadikan dasar

putusan serta amar putusan (dictum) merupakan satu kesatuan dan mempunyai kekuatan mengikat;

h) Sedang mengenai hasil konstatiring Hakim (penetapan) mengenai kebenaran peristiwa tertentu dengan alat bukti tertentu, maka dalam sengketa lain peristiwa tersebut masih dapat disengketakan.

2) Kekuatan Pembuktian

”Putusan Pengadilan Agama berbentuk tertulis, oleh karena itu putusan Pengadilan Agama dapat digolongkan kepada akta

commit to user

otentik yang mempunyai kekuatan pembuktian yang mengikat dan sempurna” (Chatib Rasyid, 2009: 119). Berdasarkan hal tersebut maka putusan pengadilan dapat dijadikan alat bukti yang sempurna tentang penyelesaian apa yang disengketakan oleh para pihak. Selanjutnya putusan Pengadilan Agama tersebut dapat digunakan oleh para pihak untuk alat bukti untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama, kasasi ke Mahkamah Agung RI atau mengajukan permohonan ekseskusi apabila pihak yang dikalahkan tidak bersedia melakukan isi putusan Pengadilan Agama tersebut secara suka rela.

Mukti Arta menyebutkan bahwa putusan Hakim memiliki kekuatan pembuktian yang bararti bahwa (Mukti Arta. 1996:265);

a) Dengan putusan Hakim itu telah diperoleh kepastian tentang sesuatu yang terkandung dalam putusan itu;

b) Putusan Hakim menjadi bukti dalam kebenaran sesuatu yang termuat di dalamnya;

c) Putusan pidana yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat menjadi bukti dalam sengketa perkara perdata mengenai hal itu (tindak pidana) (Pasal 1918 dan 1919 Bw);

d) Demikian pula putusan perdata menjadi bukti dalam

sengketa perdata mengenai hal itu;

e) Apa yang diputuskan Hakim harus dianggap benar dan tidak boleh diajukan lagi perkara baru mengenai hal yang sama dan antara pihak-pihak yang sama pula (nebis in idem).

Salah satu keistimewaan dan perbedaan putusan Pengadilan Agama dengan yang lainnya adalah adanya doktrin-doktrin dari Al-Qur'an, hadits dan aqwal fuqaha. Karenanya jika kita meneliti putusan-putusan yang terdapat pada buku yurisprudensi terutama buku yurisprudensi lama, kita akan menemukan banyak sekali dalil-dalil Al-Qur'an, hadits maupun aqwal fuqaha yang dijadikan sandaran pertimbangan dalam putusan.

commit to user 3). Kekuatan Eksekutorial

Putusan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan eksekutorial hanyalah putusan yang bersifat condemnatoir yang

kepala putusannya tercantum kata

”BISMILLAHI-RRAHMANIRRAHIM” dan diikuti dengan kata ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Chatib Rasyid, 2009: 120). Berdasarkan kata ” Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” inilah yang memberi kekuatan eksekutorial pada putusan-putusan pengadilan.

Pasal 57 Undang-Undang No 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Pertama Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama jo Pasal 4 Undang-Undang No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan kehakiman menegaskan bahwa maksud dari putusan memiliki kekuatan eksekutorial adalah mempunyai kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa terhadap pihak yang tidak melaksanakan putusan tersebut secara suka rela.

Putusan Hakim mempunyai kekuatan eksekutorial yakni kekuatan untuk dilaksanakan apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat negara. Dengan berlakunnya Undang-Undang No 7 Tahun 1989 (sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Pertama atas Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, dan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang No 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama), maka Pengadilan Agama telah dapat melaksanakan sendiri tindakan eksekusi atas putusan yang dijatuhkan itu tidak diperlukan lagi lembaga pengukuhan dan fiat eksekusi oleh pengadilan negeri (Mukti Arto.1996 : 265).

commit to user 3. Tinjauan tentang Perkawinan

a. Pengertian Perkawinan

Di dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan selanjutnya disebut Undang-Undang Perkawinan dinyatakan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam Kompilasi Hukum Islam Buku I Hukum Perkawinan pada Pasal 2, menyatakan bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidzan untuk menaati perintah Allah dan melakukannya merupakan ibadah.

Nikah (kawin) menurut arti asli ialah hubungan seksual tetapi menurut arti majazi (mataphoric) atau arti hukum ialah akad (perjanjian) yang menjadikan halal hubungan seksual sebagai suami istri antara seorang pria dengan seorang wanita. (Moh Idris Ramulyo, 2002: 1)

Menurut Idris Ramulyo, ada beberapa definisi mengenai perkawinan, antara lain: (Idris Ramulyo, 1996:1-3)

1) Sayuti Thalib

Perkawinan adalah perjanjian suci, kuat, dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk keluarga kekal, santun nmenyantuni, kasih mengasihi tentram, dan bahagia.

2) Imam Syafi’i

Pengertian nikah ialah suatu akad yang dengannya menjadi halal hubungan seksual antara pria dengan wanita, sedangkan menurut arti majazi (mathaporic) nikah itu artinya hubungan seksual.

commit to user

3) Mahmud Yunus

Nikah itu artinya hubungan seksual (setubuh) yang bukan bersetubuh dengan tangannya (onani).

4) Hazarin

Perkawinan itu adalah hubungan seksual. Menurut beliau tidak ada nikah bila tidak ada hubungan seksual antara suami istri, maka tidak perlu ada tenggang waktu menunggu (iddah) untuk menikah lagi bekas istri itu dengan laki-laki lain.

5) Ibrahim Hosen

Nikah menurut arti asli dapat juga berarti dengannya menjadi halal hubungan kelamin antara pria dengan wanita, sedangkan menurut arti lain adalah bersetubuh.

Pengertian perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilakukan secara tatacara keagamaan dan juga perkawinan perdata di hadapan petugas Kantor Pencatatan Sipil (Pasal 530 KUHP) (Ali Afandi, 1986:98). Pengertian perkawinan yang sah menurut Undang-Undang Perkawinan Pasal 2, Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu serta Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perUndang-Undangan yang berlaku.

b. Tujuan Perkawinan

Tujuan perkawinan menurut perintah Allah adalah untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur serta untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani manusia, juga untuk membentuk keluarga dan meneruskan keturunan serta mencegah perzinaan. Tujuan perkawinan dalam Islam menurut Soemiyati adalah untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka

commit to user

mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta kasih dan kasih sayang untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh syari’ah (Idris Ramulyo, 1996:26-27).

Menurut ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan, tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam, seperti yang tercantum dalam Pasal 3 Hukum Perkawinan, disebutkan bahwa perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah (keadaan yang tentram), mawaddah, dan rahmah (saling mencintai dan menyantuni).

c. Rukun dan Syarat Perkawinan

Pasal 6 Undang-Undang Perkawinan menyebutkan, bahwa syarat-syarat perkawinan adalah:

(1) Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

(2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin

Dokumen terkait