BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Tinjauan tentang Model Pembelajaran Quantum Teaching
1. Pengertian Model Pembelajaran
Trianto (2011: 52) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Fungsi dari model pembelajaran ini adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran ini dipengaruhi sifat materi dan materi yang akan guru ajarkan, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut, dan kemampuan dari peserta didik.
Agus Suprijono (2011: 46) berpendapat bahwa model pembelajaran merupakan suatu pola yang digunakan oleh guru sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelompok maupun tutorial. Jadi dalam melaksanakan pembelajaran guru menggunakan model-model pembelajaran. Karena dalam pelaksanaan pembelajaran guru mengalami kesulitan sehingga
33
dengan adanya pola yang terbentuk dari model-model pembelajaran tersebut memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.
Pendapat lain menurut Syaiful Sagala (2010: 176) model mengajar merupakan kerangka konseptual yang didalamnya berisi prosedur sistematik dan pengorganisasian dari pengalaman belajar siswa dalam mencapai tujuan belajar tertentu yang memiliki fungsi sebagai pedoman untuk guru dalam melaksanakan proes belajar mengajar.
Dari uraian pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa hekekat model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan oleh guru sebagai perancang pembelajaran dalam menyususn dan melaksanakan pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2. Pengertian Model Quantum Teaching
Bobbi DePorter, Mark R, dan Sarah S.N (2001:16) mendefinisikan
Quantum Teaching sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Tubuh kita secara fisik adalah materi.
Quantum Teaching menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, NLP (Neurolinguistik) dengan teori, keyakinan, dan metode belajar. Model
Quantum Teaching menjadi seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif untuk semua umur dan kelas.
Menurut Menurut Aris Shoimin (2014: 138) Quantum Teaching
merupakan penggubahan gaya belajar yang meriah, dengan segala nuansanya.
Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan antara, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching berfokus pda
34
hubungan dinamis pada lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Quantum Teaching pertama kali digunakan di Supercamp.
Supercamp dalam pembelajarannya menggunakan pola pembelajaran yang menggabungkan percaya diri, keterampilan belajar dan keterampilan berkomunikasi dalam lingkugan yang menyenangkan. Tujuan pokok Quantum Teaching yaitu meningkatkan partisipasi siswa melalui penggubahan keadaan, meningkatkan motivasi dan minat belajar, meningkatkan daya ingat dan meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan daya dengar, dan meningkatkan kehalusan perilaku.
Sedangakn model pembelajaran Quantum Teaching menurut Hamruni (2012: 56) merupakan model yang menggabungkan sugestologi, teknik, pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode yang spesifik. Quantum Teaching merancang suatu pembelajaran secara harmonis dengan mengombinasikan unsur keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampila dalam hidup. Falsafah yang digunakan adalah agar belajar bisa berhasil dengan efektif, maka aktivitas belajar harus menyenangkan. Untuk mendukung falsafah tersebut, dipersiapkan lingkungan yang kondusif, sehingga semua siswa dapat merasa penting, aman dan nyaman selama belajar.
Berdasarkaan pendapat para ahli di atas dapat dsimpulkan bahwa model pembelajaran Quantum Teaching merupakan model pembelajaran yang menekankan pada penciptaan lingkungan belajar siswa yang nyaman dan menyenangkan sehingga merangsang fungsi otak siswa. Dengan tindakan tersebut
35
memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan melalui upaya yang normal dan dibarengi dengan kegembiraan.
3. Prinsip Model Pembelajaran Quantum Teaching
Metode pembelajaran Quantum Teaching memiliki beberapa prinsip yang harus diketahui oleh seorang guru. Menurut Bobbi DePorter, Mark R, dan Sarah S.N (2010: 36), prinsip-prinsip Quantum Teaching ada lima. Prinsip-prinsip tersebut akan diuraikan seperti dibawah ini.
1) Segalanya berbicara
Segalanya berbicara mulai dari lingkungan kelas hingga gerakan tubuh anda mengirimkan pesan tentang belajar yang akan disampaikan dalam pembelajaran. Sehingga gerakan tubuh dapat dijadikan alat bantu untuk menyampaikan materi pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran tidak hanya guru yang berhak berbicara, akan tetapi siswa juga mempunyai hak untuk bicara. Hak siswa berbicara untuk saling berargumentasi dan bertanya tentang materi pelajaran yang diajarkan. 2) Segalanya bertujuan
Seorang guru atau siswa harus mempunyai tujuan dalam suatu pembelajaran. Seorang guru harus mempunyai tujuan yang jelas dalam menyusun materi pembelajaran yang akan diberikan pada siswa. Siswa juga harus tahu apa tujuan dari meraka mempelajari materi yang diajarkan oleh guru. Hal ini agar guru maupun siswa tidak melenceng dari tujuan utama melakukan proses pembelajaran suatu materi.
36 3) Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka pelajari, karena otak manusia berkembang yang akhirnya menggerakkan rasa ingin tahu. Sehingga seorang guru harus memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi diawal pelajaran. Sehingga siswa akan berfikir untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan.
4) Akui setiap usaha
Menghargai setiap usaha siswa baik itu besar maupun kecil. Seorang siswa yang bertanya atau menjawab pertanyaan baik salah atau benar, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Sehingga hal ini akan mendorong siswa lebih giat lagi dalam belajar dan akan menumbuhkan motivasi belajar siswa yang tinggi.
5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Rayakan atas keberhasilan siswa dalam mempelajari suatu materi yang disampaikan dengan baik, sehingga siswa dapat menguasai materi tersebut. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Sebagai seorang pendidik harus memberikan pujian kepada siswa yang aktif berinteraksi pada saat pelajaran, baik bertanya maupun menjawab pertanyaan tentang materi yang disampaikan.
Penggunaan model pembelajaran Quantum Teaching dapat membantu siswa belajar dengan baik dan menumbuhkan motivasi belajar. Metode pembelajaran Quantum Teaching melibatkan semua aspek kepribadian manusia, pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh. Pembelajaran yang menarik dan meriah tidak
37
akan membuat bosan saat proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini tentunya membuat siswa menyukai pelajaran yang diajarkan.
4. Karakteristik Model Pembelajaran Quantum Teaching
Secara umum, menurut Bobbi DePorter, Mark R, dan Sarah S.N (2001: 52) Quantum Teaching (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1) Berpangkal pada psikologi kognitif. 2) Bersifat humanistik
Manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi. 3) Bersifat konstruktivistis
Artinya memadukan, mensinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulan yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
4) Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.
Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
38
5) Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
6) Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
7) Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
8) Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
9) Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
10)Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar.
Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya
39
dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
11)Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi.
Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
12)Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.
5. Kelebihan Model Pembelajaran Quantum Teaching
Menurut Aris Shoimin (2014:145-146) terdapat beberapa kelebihan pembelajaran Quantum Teaching, diantaranya sebagai berikut.
1) Dapat membimbing peserta didik kearah berpikir sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2) Karena Quantum Teaching lebih melibatkan siswa, saat proses pembelajaran perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
3) Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
4) Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5) Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan, dan dapat mencoba melakukan sendiri.
6) Karena model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar, secara tidak langsung guru terbiasa untuk berfikir kreatif setiap harinya.
40
7) Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimenegerti oleh siswa
Sedangkan menurut Miftahul A‟la (2010: 41-43), ada empat keunggulan model pembelajaran Quantum Teaching yang cukup menonjol diantaranya adalah sebagai berikut.
1) Adanya unsur demonstrasi dalam pengajaran. Pembelajaran Quantum Teaching memberikan kesempatan yang luas pada seluruh siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam tahapan-tahapan kajian terhadap suatu mata pelajaran
2) Adanya kepuasan pada diri siswa.
3) Ada unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang diajarkan.
4) Adanya unsur kemampuan dalam merumuskan temuan yang dihasilkan siswa, dalam bentuk konsep, teori, model, dan sebagainya.
6. Langkah-langkah Model Pembelajaran Quantum Teaching
Dalam menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching menurut Miftahul A‟la (2010: 33-40) terdapat langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut.
1) Pengkondisian awal
Melalui pengkondisian awal akan memungkinkan dilaksanakannya proses pembelajaran yang lebih baik. Kegiatan yang dilakukan dalam pengkondisian awal meliputi: penumbuhan rasa percaya diri siswa, motivasi diri, menjalin hubungan, dan keterampilan belajar.
41 2) Penyusunan rancangan pembelajaran
Tahap ini sama artinya dengan tahap persiapan dalam pembelajaran biasa. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah penyiapan alat dan pendukung lainnya, penentuan kegiatan selama proses belajar mengajar, dan penyusunan evaluasi.
3) Pelaksanaan metode pembelajaran Quantum Teaching
Tahap ini merupakan inti penerapan model pembelajaran Quantum Teaching. Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R yang dijelaskan sebagai berikut.
a. Penumbuhan minat (T= Tumbuhkan minat)
Dalam tahap ini, guru berperan penting dalam menumbuhkan minat belajar peserta didiknya, agar nantinya dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dari diri siswa sehingga mampu meningkatkan minat belajar dari peserta didik tersebut. b. Pemberian pengalaman umum (A= Alami)
Pada langkah ini guru memberikan kesempatan siswa untuk menceritakan pengalaman yang telah siswa alami terkait dengan materi yang akan diajarkan, sehingga ada motivasi dari siswa yang pernah mengenal materi tersebut untuk lebih mengembangkan pengalamannya juga bagi yang sama sekali belum pernah mengenal menjadi lebih tertarik dan tertantang untuk mempelajarinya.
c. Penamaan atau penyajian materi (N= Namai)
Pada kegiatan ini guru menyampaikan materi yang akan dipelajari secara lengkap setelah siswa menceritakan pengalaman yang telah diperoleh sehingga dalam penamaan siswa telah memiliki bekal dan penguasaan materi oleh siswa
42
dapat lebih maksimal. Untuk menghindari kebosanan dan untuk menggali kemampuan siswa, dalam penyajian materi guru menggunakan metode ceramah bermakna dan guru hanya sebagai fasilitator.
d. Demonstrasi pengetahuan siswa (D = Demonstrasi)
Demonstrasi dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil tugas mandiri yang telah diberikan oleh guru sebelumnya, baik kepada teman kelompoknya maupun kepada seluruh siswa. Dengan cara ini, diharapkan rasa percaya diri siswa lebih meningkat karena diberi kesempatan untuk menunjukkan “hasil karyanya” (hasil tugas mandiri).
e. Pengulangan yang dilakukan oleh siswa (U = Ulangi)
Pengulangan dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulas kembali materi yang telah disampaikan oleh guru, caranya dengan bercerita kepada teman kelompoknya maupun kepada seluruh siswa. Dengan demikian siswa yang tidak memperhatikan guru saat mengajar dapat dihindari, karena setelah guru memberikan materi maka guru akan menunjuk salah seorang siswa untuk menjelaskan kembali materi yang telah diberikan dengan penjelasan dan atau dengan mempraktikan langsung.
f. Perayaan atas usaha siswa (R = Rayakan)
Perayaan merupakan salah satu bentuk motivasi yang dilakukan oleh guru dengan memberikan pujian kepada siswa yang berhasil maupun yang tidak berhasil menjawab pertanyaan dan tidak secara langsung menyalahkan jawaban siswa yang kurang tepat, selain itu perayaan dilakukan dengan melakukan tepuk tangan bersama-sama ketika jam pelajaran berakhir. Kondisi ini diharapkan dapat
43
menumbuhkan semangat belajar. Begitu pula jika ada yang tidak berhasil juga diberikan pujian atas usaha yang dilakukan agar tidak patah semangat dan lebih giat lagi berlatih.
4) Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan terhadap proses dan produk untuk melihat keefektifan model pembelajaran yang digunakan. Langkah- langkah pembelajaran metode pembelajaran ceramah bermakna dan dilaksanakan dengan tahap- tahap sebagai berikut.
a. Guru mengecek pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan
b. Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan metode ceramah, di sini siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting di buku tulis.
c. Guru memberikan contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada siswa tentang materi.
d. Guru memberikan latihan soal atau memberi pekerjaan rumah.
e. Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil pekerjaan siswa dan mengambil kesimpulan.
f. Guru mengadakan evaluasi.
Sedangkan menurut Menurut Aris Shoimin (2014: 142-145) terdapat langkah-langkah pembelajaran Quantum Teaching meliputi adalah sebagai berikut.
44
a. Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik, dan selalu gembira (tersenyum).
b. Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan atau menggembirakan. Ini karena “learning is most effective when it’s fun”. Kegembiraan di sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
c. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bisa membawa kegembiraan yaitu sebagai berikut.
1) Pengaturan meja kursi diubah dengan berbagai bentuk seperti bentuk U atau lingkaran
2) Beri tanaman atau hiasan lain di luar maupun di dalam kelas
3) Pengecatan warna ruangan, meja, dan kursi yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas.
4) Ruangan kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan, kata mutiara pemacu semangat, misalnya kata: “Apa pun yang dapat Anda lakukan atau ingin Anda lakukan, mulailah. Keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya.”
d. Guru memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajar. Guru dapat memengaruhi suasana emosi siswa dengan cara sebagai berikut.
45
1) Kegiatan-kegiatan pelepas stress seperti menyanyi bersama, mengadakan permainan, dan sebagainya.
2) Aktivitas-aktivitas yang menambah kekompakan seperti tur, makan bersama, dan sebagainya.
3) Menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan, yaitu melalui bimbingan konseling, baik petugas BP/BK maupun guru
e. Memutar musik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Namun sekali-kali akan diputarkan instrumental dan bisa diselingi jenis music lain untuk bersenang-senang dan jeda selama pembelajaran.
f. Sikap guru kepada peserta didik adalah sebagai berikut.
1) Pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan.
2) Perlakuan peserta didik sebagai manusia sederajat.
3) Selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja peserta didik. 4) Mendukung peserta 100% dan ajak semua anggota kelas untuk saling
mendukung.
5) Memberi peluang peserta didik untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran. g. Terapkan 8 kunci keunggulan ini ke dalam rencana pembelajaran setiap hari.
Kaitkan kunci-kunci ini dengan kuriikulum.
1) Integritas: bersikap jujur, tulus, dan menyeluruh. Perilaku guru selaras dengan nilai-nilai tersebut.
46
2) Kegagalan awal kesuksesan. Memahami bahwa kegagalan hanya memberikan informasi yang guru butuhkan untuk sukses.
3) Berbicara dengan niat baik. Berbicara dengan pengertian positif, bertanggung jawab untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus.
4) Hidup pada saat ini: memusatkan perhatian pada saat ini dengan sebaik-baiknya.
5) Komitmen:penuhi janji dan kewajiban, laksanakan visi dan lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
6) Tanggung jawab: bertanggung jwab atas tindakan guru.
7) Sikap luwes dan fleksibel: bersikap terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu guru memperoleh hasil yang diinginkan.
8) Keseimbangan: menjaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa. Menyisihkan waktu untuk membangun dan memelihara tiga bidang ini. h. Guru merupakan quantum teacher dalam berkomunikasi mempunyai
ciri-cirisebagai berikut.
1) Antusias: menampilkan semangat untuk hidup 2) Berwibawa: menggerakan orang.
3) Positif: melihat peluang setiap saat.
4) Supel: mudah menjalin hubungan dengan beragam peserta didik. 5) Humoris: berhati lapang untuk menerima kekalahan.
47
7) Menerima: mencari di balik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai-nilai inti.
8) Fasih: berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur. 9) Tulus: memiliki niat dan motivasi positif.
10)Spontan: dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil.
11)Menarik dan tertarik: mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup peserta didik dan peduli akan diri peserta didik.
12)Menganggap peserta didik “mampu” : percaya akan keberhasilan peserta didik.
13)Menentapkan dan memelihara harapan tinggi: membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap peserta didik untuk berusaha sebaik mungkin.
i. Semua peserta didik diusahakan untuk memiliki modul/buku sumber belajar lainnya, dan buku yang bisa dipinjam dari perpustakaan.
j. Dalam melakukan penilaian, guru harus berorientasi pada:
1) Acuan/patokan. Semua kompetensi perlu dinilai sesuai dengan acuan kriteria berdasarkan indicator hasil belajar.
2) Ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi berikutnya.
3) Metode penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain: tes tertulis, observasi, wawancara, portofolio, dan demonstrasi.
48
7. Penerapan Model Quantum Teaching dalam Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan (MMP)
Dalam pembelajaran membaca menulis permulaan ini, peneliti menerapkan model Quantum Teaching dengan langkah-langkah yang memodifikasi dari pendapat Miftahul A‟la dan Aris Shoimin sebagai berikut. a. Pengkondisian awal
Kegiatan yang dilakukan dalam pengkondisian awal dengan menyanyikan lagu sesuai dengan tema dan sub tema pembelajaran. Untuk selanjutnya menuju pada kegiatan apersepsi. Guru menginformasikan tema, sub tema, dan tujuan pembelajaran.
b. Pelaksanaan metode pembelajaran Quantum Teaching
Tahap ini merupakan inti penerapan model pembelajaran Quantum Teaching. Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R yang meliputi:
1) Penumbuhan minat (T= Tumbuhkan minat)
Dalam tahap ini, guru memperkenalkan materi dengan bentuk permaian tebak gambar yang dilakukan oleh siswa. Kegiatan tebak gambar ini didukung dengan kotak yang didesain menjadi kotak yang berwarna dan menarik sehingga para siswa antusias dan termotivasi untuk melakukan permaina. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Ahmad Rofi‟uddin dan Darmiyati Zuchdi (1998/1999:38) yang menyatakan bahwa salah satu alernatif yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa adalah dengan memanfaatkan permainan dalam kegiatan pembelajaran membaca menulis.
49 2) Pemberian pengalaman umum (A= Alami)
Pada langkah ini guru memberikan contoh kepada siswa cara membaca menulis yang benar. Guru menunjuk beberapa perwakilan siswa untuk membaca menulis. Hal ini dilakukan oleh guru supaya siswa benar-benar memperhatikan dan meresapi apa yang mereka peroleh saat proses pembelajaran membaca menulis.
3) Penamaan atau penyajian materi (N= Namai)
Pada kegiatan ini siswa mencoba apa yang siswa lihat. Guru juga memberikan bimbingan kepada siswa ketika proses membaca menulis berlangsung.
4) Demonstrasi pengetahuan siswa (D = Demonstrasi)
Pada langkah demonstrasi, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) secara berkelompok dilanjutkan dengan mempresentasikan hasil diskusi dari tugas mandiri yang telah diberikan oleh guru sebelumnya, baik kepada teman kelompoknya maupun kepada seluruh siswa. Dengan cara ini, diharapkan rasa percaya diri siswa lebih meningkat karena diberi kesempatan untuk menunjukkan “hasil karyanya” (hasil tugas mandiri).
5) Pengulangan yang dilakukan oleh siswa (U = Ulangi)
Pengulangan dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulang kembali kegiatan membaca. Kegiatan ini dilakukan secara individu. Selain itu juga memiliki tujuan untuk mengevaluasi seberapa besar peningkatan kemampuan membaca menulis siswa.
50 6) Perayaan atas usaha siswa (R = Rayakan)
Perayaan merupakan salah satu bentuk motivasi yang dilakukan oleh guru dengan memberikan pujian berupa tepuk tangan, sanjungan, barang kepada siswa yang berhasil maupun yang tidak berhasil menjawab pertanyaan dan tidak secara langsung menyalahkan jawaban siswa yang kurang tepat, selain itu perayaan dilakukan dengan melakukan tepuk tangan bersama-sama ketika jam pelajaran berakhir. Kondisi ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar. Begitu