• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

1. Tinjauan tentang Penguasaan Konsep Belajar IPA

Belajar dapat dipandang suatu perubahan pada diri individu yang disebabkan dari hasil pengalaman, di mana guru terutama melihat siswa dalam bentuk terakhir dari bebagai pengalaman interaksi belajar mengajar. Dari situ terlihat sifat-sifat dan tanda-tanda tingkah laku yang dimilikinya. Seorang siswa dinyatakan telah belajar apabila telah terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa. Perubahan tingkah laku itu antara lain tentang :

1) Penguasaan pengetahuan baru (kognitif) 2) Penguasaan keterampilan baru (psikomotor) 3) Pengembangan sikap dan minat baru (afektif)

Perubahan yang terjadi pada diri seseorang banyak sekali, baik dilihat dari jenis maupun sifatnya. Karena itu tidak semua perubahan dalam diri seseorang itu merupakan perubahan dalam arti belajar.

Menurut Oemar Hamalik (2003: 60), belajar (learning) adalah merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan latihan. Hal di atas sependapat dengan Skinner dalam Muhibbin Syah (1995: 89), bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang berlangsung secara progresif sebagai hasil dari pengalaman dan latihan.

commit to user

Menurut Suhaenah Suparno (2001: 2), belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan suatu perubahan yang relatif permanen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukan. Perubahan-perubahan tersebut tidak disebabkan faktor kelelahan (fatique), kematangan, ataupun karena mengkosumsi obat tertentu.

Sejalan dengan perumusan di atas, menurut Hilgard dan Bower dalam Ngalim Purwanto (1990: 84), mengemukakan bahwa belajar adalah berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat dari seseorang (kelelahan, kecelakaan).

Sedangkan menurut Slameto (1995: 2), berpendapat belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Senada dengan pendapat Oemar Hamalik (2003: 327), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, psikomotor dan afektif. Belajar adalah suatu usaha kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang berulang-ulang. Sedangkan menurut peneliti yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses kegiatan atau usaha dengan melalui latihan dan pengalaman yang berulang-ulang dalam proses belajar agar mendapatkan perubahan tingkah laku yang bersifat lebih baik dan tersimpan dalam jangka waktu yang lama.

commit to user

Seseorang dikatakan telah melakukan kegiatan belajar apabila terjadi adanya perubahan tingkah laku yang baru pada orang tersebut, yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, yang sebelumnya belum bisa menjadi bias, sehingga terjadi perubahan tingkah laku.

Benyamin S. Bloom (Gay, 1985: 72-76; Gagne dan Berliner, 1984: 57-60) dalam Anni, Tri Catharina (2004: 6) mengusulkan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu:

1) Ranah Kognitif

Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan, dan kemahiran intelektual yang mencakup kategori: pengetahuan/ingatan, pemahaman, penerapan/aplikasi, analisis, sintesis, dan penilaian.

2) Ranah Afektif

Taksonomi tujuan pembelajaran afektif, dikembangkan oleh Krathwohl dkk, merupakan penguasaan konsep gaya magnet yang paling sukar diukur. Tujuan pembelajaran ini berhubungan dengan sikap, minat, dan nilai. Kategori tujuan pembelajaran ini mencerminkan hierarki yang berentangan dari keinginan untuk menerima sampai dengan pembentukan pola hidup.

3) Ranah Psikomotorik

Tujuan pembelajaran ranah psikomotorik menunjukkan adanya kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf. Penjabaran ranah psikomotorik ini sangat sukar karena seringkali tumpang tindih dengan ranah kognitif dan afektif.

b. Hakekat Penguasaan konsep gaya magnet Siswa.

Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (sasaran

commit to user

didik), sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Belajar bukan merupakan kegiatan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yang ada pada individu (Sudjana, 1987: 28).

Interaksi guru dan siswa sebagai makna utama proses pembelajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif. Kedudukan siswa dalam proses belajar dan mengajar adalah sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek dalam pembelajaran, sehingga proses atau kegiatan belajar dan mengajar adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Penguasaan konsep gaya magnet dalam kontesktual menekankan pada proses yaitu segala kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Nilai siswa diperoleh dari penampilan siswa sehari-hari ketika belajar. Penguasaan konsep gaya magnet diukur dengan berbagai cara misalnya, proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, dan tes (Depdiknas: 2002).

Menurut Horward Kysley dalam Sudjana (1990: 22) membagi tiga macam penguasaan konsep gaya magnet, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing masing jenis penguasaan konsep gaya magnet dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sedangkan Gagne membagi lima kategori penguasaan konsep gaya magnet, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motorik.

commit to user

Menurut Purwanto (1986) bahwa penguasaan konsep gaya magnet biasanya dapat diketahui melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Penguasaan konsep gaya magnet yang dicapai siswa dipengaruhi dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar siswa atau faktor lingkungan. Faktor kemampuan siswa lebih besar pengaruhnya terhadap penguasaan konsep gaya magnet. Seperti dikemukakan oleh Clark bahwa penguasaan konsep gaya magnet siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Di samping faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis (Sudjana, 1987: 39-40).

Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang diniati dan disadari. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi penguasaan konsep gaya magnet di sekolah, ialah kualitas pengajaran yaitu tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar dan mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu penguasaan konsep gaya magnet siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran, maka ranah-ranah tersebut harus selalu diperhatikan karena satu sama lain saling menunjang dalam kegiatan pembelajaran.

c. Hakekat Pembelajaran IPA

Menurut Srini M. Iskandar (2001: 2) IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. IPA merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang aktif dan dinamis tiada

henti-commit to user

hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal (Suyoso, 1998: 23) dalam http://juhji-science-sd.blog.com/.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Sri Sulistyorini, 2007: 39).

IPA mempunyai objek yaitu benda-benda alam dan peristiwa-peristiwanya yang bersifat: 1) ada saling hubungan antara benda alam satu dengan yang lain, 2) ada saling hubungan antara benda dan peristiwa alam, dan 3) ada saling hubungan antara peristiwa satu dengan peristiwa yang lain, sehingga benda dan peristiwa alam itu bersifat integral. Perkembangan IPA sebagai ilmu pengetahuan mengalami tingkat tingkat sebagai berikut: 1) tingkat coba-coba dan kebetulan, dan sifatnya deskriptif, 2) tingkat perenungan, penggunaan logika, dan sifatnya otoriter dan teoritik, dan 3) tingkat pengamatan, pembuktian dan percobaan (eksperimental), dan sifatnya terbuka dan objektif.

Menurut Suyoso ( 1998: 23) IPA merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif secara dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yang teratur sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara, universal.

Sri Sulistyorini (2007: 39) menuliskan bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengertian yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dari sendiri dan alam sekitar serta prospek

commit to user

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Srini M. Iskandar (2001: 17 ) IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang kejadian bersifat kebendaan dan pada umumnya didasarkan atas hasil observasi, eksperimen dan induksi.

Dalam melaksanakan proses pembelajaran IPA yang benar mencakup 4 komponen : (1) IPA sebagai produk, (2) IPA sebagai proses, (3) IPA sebagai sikap dan, (4) IPA sebagai teknologi (Cain dan Evans, 1993: 4 ).

Pada hakikatnya, IPA dapat dipandang dari segi produk, proses dan dari segi pengembangan sikap. Artinya, belajar IPA memiliki dimensi proses, dimensi hasil (produk), dan dimensi pengembangan sikap ilmiah. Ketiga dimensi tersebut bersifat saling terkait. Ini berarti bahwa proses belajar mengajar IPA seharusnya mengandung ketiga dimensi IPA tersebut.

1) IPA sebagai Produk

IPA sebagai produk merupakan akumulasi hasil upaya para perintis IPA terdahulu yang umumnya telah tersusun secara lengkap dan sistematis dalam bentuk buku teks. Buku teks IPA merupakan body of knowledge dari IPA. Buku teks memang penting, tetapi ada sisi lain IPA yang tidak kalah pentingnya yaitu dimensi “proses”, maksudnya proses mendapatkan ilmu itu sendiri. Dalam pengajaran IPA seorang guru dituntut untuk dapat mengajak anak didiknya memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar. Alam sekitar merupakan sumber belajar yang paling otentik dan tidak akan habis digunakan.

2) IPA sebagai Proses

Yang dimaksud dengan “proses” di sini adalah proses mendapatkan IPA. Kita mengetahui bahwa IPA disusun dan diperoleh melalui metode ilmiah. Jadi yang dimaksud proses IPA tidak lain adalah

commit to user

metode ilmiah. Untuk anak SD, metode ilmiah dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan, dengan harapan bahwa pada akhirnya akan terbentuk paduan yang lebih utuh sehingga anak SD dapat melakukan penelitian sederhana. Di samping itu, pentahapan pengembangannya disesuaikan dengan tahapan suatu proses penelitian atau eksperimen, yakni meliputi: (1) observasi; (2) klasifikasi; (3) interpretasi; (4) prediksi; (5) hipotesis; (6) mengendalikan variabel; (7) merencanakan dan melaksanakan penelitian; (8) inferensi; (9) aplikasi; dan (10) komunikasi. Jadi, pada hakikatnya, pada proses mendapatkan IPA diperlukan sepuluh keterampilan dasar. Untuk memahami sesuatu konsep, siswa tidak diberitahu oleh guru, tetapi guru memberi peluang pada siswa untuk memperoleh dan menemukan konsep melalui pengalaman siswa dengan mengembangkan keterampilan dasar melalui percobaan dan membuat kesimpulan.

3) IPA sebagai Pemupukan Sikap

Makna “sikap” pada pengajaran IPA SD/MI dibatasi pengertiannya pada “sikap ilmiah terhadap alam sekitar”. Beberapa ciri sikap ilmiah itu adalah:

a) Objektif terhadap fakta, artinya tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang.

b) Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang menyokong kesimpulan itu.

c) Berhati terbuka, artinya mempertimbangkan pendapat atau penemuan orang lain sekalipun pendapat atau penemuan itu bertentangan dengan penemuaannya sendiri.

d) Tidak mencampur adukkan fakta dengan pendapat. e) Bersifat hati-hati.

commit to user

Ilmu pengetahuan alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah, antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pada prinsipnya, mempelajari IPA sebagai cara mencari tahu dan cara mengerjakan atau melakukan dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara lebih mendalam.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa IPA merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip prinsip, proses penemuan dan memiliki sikap ilmiah.

Mata pelajaran IPA berfungsi untuk :

1). Memberi pengetahuan tentang berbagai jenis dan lingkungan alam dan lingkungan dalam kaitan dengan manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.

2). Mengembangkan keterampilan proses.

3). Mengembangkan wawasan sikap dan nilai yang berguna bagi siswauntuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.

4). Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi.

5). Mengembangkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (Depdikbud, 1997: 87)

d. Belajar dan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Menurut Nana Sudjana (1989: 28) belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, melihat, mengamati dan memahami sesuatu.

Oemar Hamalik (1999: 37) berpendapat belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Sedangkan menurut Gulo W (2004: 8) belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat.

commit to user

Dari beberapa uraian diatas dapat kita ketahui bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang diarahkan pada tujuan mengubah tingkah laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat pada individu yang belajar.

Secara umum Sekolah Dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah

(UUSPN dalam Darmodjo dan Kaligis, 1992/1993). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pendidikan dan pengajaran dari berbagai disiplin ilmu yang salah satunya adalah IPA. Ilmu Pengetahuan Alam diperlukan oleh siswa Sekolah Dasar karena IPA dapat memberikan iuran untuk tercapainya tujuan pendidikan di Sekolah Dasar.

e. Tujuan Pembelajaran IPA

Salah satu pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. (Depdikbud, 1994: 61). Sri Sulistyorini (2007: 40) mengemukakan tujuan pembelajaran IPA yaitu :

1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan YME berdasarkan keberadaaan, keindahan, dan keteraturan dan ciptaannya.

2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang

adanya hubungan saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

4) Mengembangkan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

5) Meningkatkan kesadaran dalam berperan serta dalam memelihara, menjaga, melestarikan lingkungan alam.

6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dengan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar melanjutkan pendidikan ke SMP. (BSNP, 2006: 14-15).

commit to user

Dari uraian diatas dapat disimpulkan tujuan IPA adalah untuk menguasai konsep, keterampilan, dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maksud dan tujuan tersebut adalah agar siswa memiliki pengetahuan tentang gejala alam, berbagai jenis dan perangai lingkungan melalui pengamatan agar siswa tidak buta akan pengetahuan dasar mengenai IPA.

f. Prinsip-Prinsip Pembelajaran IPA di Sekolah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut siswa tidak hanya belajar dari buku, melainkan dituntut untuk belajar mengembangkan kemampuan dirinya. Melatih keterampilan siswa untuk berfikir secara kreatif dan inovatif merupakan latihan awal bagi siswa berfikir kritis untuk mengembangkan daya cipta dan mengembangkan minat dalam diri siswa secara dini. Guru sebagai faktor penunjang keberhasilan pengajaran IPA dituntut kemampuannya untuk dapat menyampaikan bahan kepada siswa dengan baik. Untuk itu guru perlu mendapat pengetahuan tentang bagaimana mengajarkan suatu bahan pengajaran atau metode apa yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA.

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalahnya. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk pada lingkungan. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan dengan metode yang dapat menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

commit to user

Prinsip utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yaitu:

1) Pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita dimulai melalui pengalaman baik secara inderawi maupun noninderawi.

2) Pengetahuan yang diperoleh ini tidak pernah terlihat secara langsung karena itu perlu diungkap selama proses pembelajaran. Pengetahuan siswa yang diperoleh dari pengalaman itu perlu diungkap di setiap awal pembelajaran.

3) Pemgetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten dengan pengetahuan para ilmuan, pengetahuan yang kita miliki. Pengetahuan yang demikian kita sebut miskonsepsi. kita perlu merancang kegiatan yang dapat membetulkan miskonsepsi ini selama pembelajaran.

4) Dalam setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang dan relasi dengan konsep yang lain. Tugas kita sebagai guru IPA adalah mengajar siswa untuk mengelompokkan pengetahuan yang sedang dipelajari itu ke dalam fakta, data, konsep, simbol dan hubungan dengan konsep lain.

5) Ilmu Pengetahuan Alam atas produk, proses dan prosedur. Karena itu kita perlu mengenalkan ketiga aspek ini walaupun hingga kini masih banyak guru yang lebih senang menekankan pada produk Ilmu Pengetahuan Alam saja. (Leo Sutrisno, 2007: 3 – 5).

Menurut Sri Sulistyorini (2007: 43) untuk mengajarkan IPA dikenal beberapa metode, yakni (1) metode kepada fakta-fakta, (2) metode konsep (3) dan metode proses. Pembelajaran yang menggunakan metode fakta terutama bermaksud menyodorkan penemuan-penemuan IPA. Metode ini tidak mencerminkan gambaran yang sebenarnya tentang sifat IPA. Selanjutnya konsep adalah suatu ide yang mengikat banyak fakta menjadi satu. Untuk memahami suatu konsep, anak perlu bekerja dengan objek-objek yang kongkret, memperoleh fakta-fakta, melakukan

commit to user

ekplorasi dan memanipulasi ide secara mental, tidak sekedar menghafal. Oleh karena itu, metode konsep memberikan gambaran yang lebih jelas tentang IPA dibandingkan dengan metode faktual.

g. Ruang Lingkup Pembelajaran IPA

Ruang lingkup bahan kajian Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Dasar dalam BSNP (2006: 15) meliputi aspek-aspek berikut:

1) Mahluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia,hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan. 2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi : cair, padat dan

gas.

3) Energi dan perubahannya meliputi : gaya, bunyi, panas, magnet listrik, cahaya dan pesawat sederhana.

4) Bumi dan alam semesta meliputi : tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

h. Tinjauan tentang Konsep

Konsep adalah bagian yang sangat penting dalam mempelajari dunia kita. Konsep memiliki kemampuan mengelompokkan objek, event, atau gagasan dengan karakteristik umum, Konsep memungkinkan kita menyederhanakan, mengkategorisasikan serta menghadapi keragaman sekitar kita.

Pendefinisian konsep didasarkan pada: 1) Respon

Respon tampak pada: kemampuan deskriminasi yang artinya mampu memberikan berbagai contoh; yang tak dilihat sebelumnya. Misalnya, di mana seorang pengendara secara konsisten berhenti di semua traffic light pada saat menyala merah, ia mungkin berkata memiliki konsep “berhenti” bagaimanapun ia bisa mengatakan, menulis, atau memahami label verbal. Definisi ini menegaskan

commit to user

perbedaan fundamental antara hafalan dan konseptualisasi. Proses hafalan bisa mencakup pengenalan obyek khusus, atau asosiasi label kata khusus dengan label satu obyek, sedangkan konsep pembentukan melibatkan label umum untuk berbagai kelompok obyek.

2) Stimulus

Stimulus tampak pada kemampuan membedakan contoh dan non contoh. Misalnya, ”persegi” bisa didefinisikan sebagai ”gambar geometri tertutup yang memiliki empat sisi yang sama dan empat sudut yang sama.” Konsep harus dioperasionalkan sebagai kemampuan menyatakan definisi atau mengenal dan mengidentifikasi secara benar gambar geometri yang menunjukkan atribut stimulus di atas. Definisi konsep ini adalah fungsional bagi desainer karena menunjukkan apa yang harus dihadirkan pebelajar, yakni, kriteria atribut yang membedakan contoh-contoh dari non contoh konsep (gambar, tertutup, empat sisi yang sama, sudut yang sama).

i. Tiga Tahapan Penguasaan Konsep

Proses analisis konsep bisa mulai dengan formal atau definisi kamus tetapi harus melangsungkan paling tidak tiga langkah berikut ini: 1) Mengekstrak kriteria atribut dari definisi tersebut, yakni gambar

tertutup, empat sisi yang sama, empat sudut yang sama.

2) Memeriksa (lebih disukai dengan pebelajar yang tak dibuat-buat) apakah atribut itu adalah perlu dan cukup untuk membedakan secara reliable contoh-contoh dari non-contoh.

3) Mempertimbangkan apakah atribut lain (atau sekelompok lebih kecil atribut di atas) akan cukup.

commit to user

Langkah-langkah di atas mencerminkan skeptisme yang memadai mengenai sebagian desainer instruksional relatif pada definisi tradisional yang diberikan dalam teks dan kamus, baik dengan referensi kepada apakah mereka berfungsi (memberi dasar yang reliable untuk

Dokumen terkait