• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIK DAN PENGUJIAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Teoretik 1. Prestasi Belajar

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan). Apabila seseorang belajar, maka ia akan memperoleh hasilnya. Hasil adalah perubahan di dalam diri si pelajar di mana ia dapat mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui. Setiap orang mempunyai hasil yang berbeda-beda dari apa yang telah dipelajari. Keberhasilan siswa yang disebut belajar akan nampak dalam prestasi belajar yang diraihnya. Prestasi belajar siswa akan dapat diketahui dari hasil evaluasi belajarnya. Evaluasi adalah usaha penilaian terhadap suatu hal, bisa dari segi tujuan yang ingin dicapai, gagasan, cara kerja metode pemecahan (Nana Sudjana. 1990 : 20)

Usaha mengevaluasi hasil belajar biasanya dilakukan pengukuran dalam bentuk ujian tertulis, lisan, maupun praktek yang kemudian diberi skor yang biasanya berwujud angka. Hasil pengukuran ini merupakan informasi-informasi data-data yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka yang disebut prestasi belajar (Nasrun. 1979 : 1). Jadi, prestasi adalah hasil dari perubahan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik karena penguasaan

pengetahuan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang bisa diukur dengan tes atau evaluasi hasil belajar.

Faktor-faktor pendorong prestasi belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:235-253) yaitu:

a. Faktor internal

1) Sikap terhadap belajar 2) Motivasi belajar 3) Konsentrasi belajar 4) Mengolah bahan belajar

5) Menyimpan perolehan hasil belajar 6) Menggali hasil belajar yang tersimpan

7) Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar 8) Rasa percaya diri siswa

9) Intelegensi dan keberhasilan belajar 10) Kebiasan belajar

11) Cita-cita siswa b. Faktor eksternal

1) Guru sebagai Pembina siswa belajar 2) Prasarana dan sarana pembelajaran 3) Faktor keluarga

4) Faktor lingkungan 5) Kurikulum sekolah

Sedangkan faktor-faktor pendorong prestasi belajar menurut Heri Triluqman ( http://heritl.blogspot.com/2007/12/belajar-dan-motivasinya.html ) adalah:

a. Faktor dari dalam, yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang berasal dari dalam siswa. Faktor-faktor ini meliputi:

1) Fisiologi, meliputi kondisi jasmaniah secara umum dan kondisi panca indra. Anak yang segar jasmaninya akan lebih mudah proses belajarnya. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi. Kondisi panca indra yang baik akan memudahkan anak dalam belajar.

2) Kondisi psikologis, meliputi kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi, dan kemempuan kognitif.

a) Faktor kecerdasan yang dibawa individu mempengaruhi belajar siswa. Semakin individu itu mempunyai tingkat kecerdasan tinggi, maka belajar yang dilakukannya akan semakin mudah dan cepat. Sebaliknya, semakin individu itu memiliki tingkat kecerdasan rendah, maka belajarnya akan lambat dan mengalami kesulitan belajar.

b) Bakat individu satu dan lainnya tidaklah sama, sehingga belajarnya akan berbeda. Bakat merupakan kemampuan awal anak yang dibawa sejak lahir.

c) Minat individu merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu. Minat belajar yang tinggi menyebabkan belajar siswa lebih mudah dan cepat.

d) Motivasi belajar siswa yang satu dengan yang lain tidak sama. Adapun pengertian motivasi belajar adalah sesuatu yang menyebabkan kegiatan belajar terwujud. Motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: cita-cita siswa, kemampuan belajar siswa, kondisi siswa, dan kondisi lingkungan siswa.

e) Emosi merupakan kondisi psikologi (ilmu jiwa) individu untuk melakukan kegiatan, dalam hal ini adalah untuk belajar. kondisi psikologis siswa yang mempengaruhi belajar antara lain: perasaan senang, kemarahan, kejengkelan, kecemasan, dan lain-lain.

f) Aspek kognitif meliputi aspek pengamatan, perhatian, ingatan, dan daya pikir siswa.

b. Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa. Faktor-faktor ini meliputi:

1) Lingkungan alami, yaitu faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar misalnya keadaan udara, cuaca, waktu, tempat atau gedungnya, alat-alat yang dipakai dalam belajar seperti alat-alat pelajaran.

a) Keadaan udara mempengaruhi proses belajar siswa. Apabila udara terlalu lembab atau kering kurang membantu siswa dalam belajar.

keadaan udara yang cukup nyaman bagi siswa membantu siswa untuk lebih nyaman dalam belajar.

b) Waktu belajar mempengaruhi belajar siswa, misalnya pembagian belajar siswa dalam satu hari.

c) Cuaca yang terang benderang dan cuaca yang mendung akan akan berbeda bagi siswa untuk belajar. Cuaca yang nyaman akan membantu siswa dalam belajar.

d) Tempat atau gedung sekolah mempengaruhi belajar siswa. Gedung sekolah yang efektif untuk belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut: letaknya jauh dari keramaian ( pasar, bioskop, bar, pabrik, dan lain-lain ), tidak menghadap jalan raya, tidak dekat dengan sungai, tidak dekat dengn tempat-tempat yang membahayakan siswa.

e) Alat-alat pelajaran yang digunakan baik itu perangkat lunak (misalnya program presentasi) ataupun perangkat keras (misalnya laptop, LCD)

2) Lingkungan sosial, yaitu manusia atau sesama manusia baik itu ada (kehadirannya) atau tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain pada waktu belajar seringkali mengganggu aktivitas belajar. dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) lingkungan sosial siswa di rumah yang meliputi seluruh anggota keluarga yahng terdiri atas: ayah, ibu,

kakak atau adik serta anggota keluarga lainnya. (2) lingkungan sosial siswa di sekolah yaitu: teman sebaya, teman lain kelas, guru, kepala sekolah serta karyawan lainnya. (3) lingkungan sosial dalam masyarakat yang terdiri dari seluruh anggota masyarakat.

3) Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Faktor instrumental ini antara lain: kurikulun, struktur program, sarana dan prasarana (media pembelajaran), serta guru.

1. Konsentrasi Belajar

Konsentrasi adalah pemusatan pikiran pada suatu hal ( Kamus Bahasa Indonesia Kontenporer : 1991 ). Jadi, konsentrasi merupakan pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Dalam belajar, konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan pelajaran tersebut.

Pada dasarnya, konsentrasi merupakan akibat dari perhatian, terutama perhatian spontan yang ditimbulkan oleh minat terhadap sesuatu hal. Perhatian yang bersifat tak spontan yaitu perhatian yang diciptakan secara sadar oleh kemauan seseorang yang dapat menimbulkan suatu pemusatan pikiran. Seorang pelajar dengan mengembangkan minatnya dan melatih diri dapat berangsur-angsur memperbesar kemampuan konsentrasinya sehingga

merupakan kebiasaan yang mudah dilakukannya sewaktu-waktu diperlukan. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat konsentrasi (The Liang Gie, 1966 : 90 ) :

a. Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Tidak adanya minat dapat mengakibatkan siswa kurang mengerti apa yang sedang dipelajarinya sehingga pikiran siswa terbang ke hal-hal lain.

b. Gangguan sekeliling, seperti suara yang terlalu keras, udara yang sangat panas, atau meja dan kursi yang tidak nyaman.

c. Urusan-urusan kecil yang mengganggu konsentrasi

d. Kesenadaan atau keseragaman pada bahan pelajaran sehingga pikiran menjadi jemu karena terus menerus menghadapi hal yang sama.

e. Menurunnya kesehatan atau keletihan.

Ada beberapa cara mengatasi kesulitan siswa untuk berkonsentrasi (www.studygs.com), yaitu:

a. Melakukan kebiasaan rutin, yaitu dengan membuat jadwal belajar yang efisien.

Siswa yang mempunyai jadwal tetap untuk belajar akan dapat berkonsentrasi dengan baik dari pada siswa yang tidak memiliki jadwal tetap dalam belajar. Hal tersebut dikarenakan siswa yang memiliki jadwal tetap belajar sudah terpusat pikirannya bahwa pada jam dan waktu tersebut anak harus belajar dan mengesampingkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan belajar atau kegiatan-kegiatan lain yang

menganggu jadwal belajarnya. Anak yang tidak memiliki jadwal tetap untuk belajar cenderung seenaknya sendiri dalam menentukan waktu belajarnya. Hal itulah yang terkadang membuat anak merasa malas belajar dan sering kali menunda kegiatan belajarnya.

b. Belajar di lingkungan yang tenang.

Konsentrasi belajar akan tercipta jika tempat belajar yang dipilih adalah tempat yang tenang dan nyaman. Tempat belajar yang ramai dan bising akan menurunkan konsentrasi belajar, demikian pula tempat belajar yang penuh dengan aktivitas yang mengganggu konsentrasi anak. Ada baiknya anak mempunyai kamar atau ruang yang diperuntukkan khusus untuk belajar saja. Ruang belajar tersebut jauh dari kebisingan dan keramaian di dalam ataupun di luar rumah.

c. Mengatur waktu untuk istirahat dengan mengerjakan sesuatu yang lain dari kebiasaan yang baru saja dilakukan. Misalnya, jalan-jalan sehabis duduk.

Konsentrasi belajar tidak dapat diciptakan secara terus menerus tanpa ada jeda untuk istirahat. Jika anak dipaksakan untuk terus belajar, duduk di kursi belajar dan menghadap meja belajar tanpa ada penyegaran atau istirahat, maka yang terjadi justru anak tidak dapat menyerap pelajaran dengan baik. Otak yang terus dijejali dengan hal-hal yang sama dan serius akan membuat anak menjadi jenuh dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Sebaiknya, jika anak merasa penat mulai jenuh untuk belajar maka

anak melakukan penyegaran dengan mencari suasana lain atau berjalan-jalan sebentar meninggalkan kursi belajar. hal tersebut dilakukan agar pikiran anak menjadi segar kembali dan dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.

d. Hindari melamun dengan cara merefleksi tentang bahan pelajaran yang baru saja dipelajari.

Ada kalanya anak akan hilang konsetrasi belajarnya jika anak merasa bahwa pelajaran yang dipelajarinya sudah dikuasainya. Hal tersebut membuat anak bingung harus berbuat apa lagi sehingga yang terjadi adalah pikiran anak melayang-layang ke hal-hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran. Keadaan tersebut dapat disiasati dengan cara merefleksi kembali pelajaran yang baru saja dipelajari sehingga hal-hal yang terlupakan oleh siswa dapat diketahui dan dapat dipelajari lebih dalam lagi.

e. Jika akan masuk kelas, pelajari dulu catatan dari pertemuan sebelumnya dan membaca bahan pelajaran yang akan dibahas di kelas sehingga siswa dapat mengetahui topik utama yang akan dibahas.

Sebelum masuk kelas, seringkali anak terlebih dahulu bermain dengan teman-temannya sehingga pada saat pelajaran berlangsung, pikiran tentang bermain tersebut masih ada dan terus mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Sebaiknya, anak dapat membagi waktu antara bermain dan belajar. Ada baiknya sebelum memulai pelajaran, anak

belajar terlebih dahulu dari catatan pertemuan yang lalu dan membaca pelajaran yang akan dibahas di kelas sehingga siswa dapat mengetahui topik utama yang akan dipelajari di kelas.

f. Menunjukkan perhatian pada saat di kelas untuk mendorong semangat belajar.

Salah satu penyebab dari anak sulit berkonsentrasi diantaranya adalah anak tidak menunjukkan perhatian di kelas. Anak yang bermalas-malasan belajar di kelas dan tidak memperhatikan pelajaran yang sedang dipelajari akan membuat anak semakin sulit berkonsentrasi. Untuk menunjukkan perhatian dikelas, terlebih dahulu anak harus mempunyai minat di dalam mata pelajaran yang sedang dipelajari tersebut. Peran guru sangat penting untuk menumbuhkan minat belajar anak, tetapi kesadaran dalam diri anak tentang bahan pelajaran yang sedang dibahas lebih penting lagi. Untuk itulah, dengan cara menunjukkan perhatian dan kemauan dalam belajar akan mendorong semangat anak dalam belajar.

g. Menghindari gangguan.

Belajar tidak akan menyenangkan apabila anak merasa terganggu. Di sekolah, misalnya. Anak tidak akan dapat berkonsentrasi dengan baik apabila keadaan kelas yang ribut dan teman-teman yang mengganggunya atau mengajak untuk tidak belajar. hal tersebut dapat dicegah dengan cara menolak ajakan teman yang mengganggu belajar dan memilih tempat duduk yang mendukung untuk memperhatikan pelajaran. Begitu juga

dengan di rumah. Suara bising dan berbagai aktivitas yang ada di sekitar rumah dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Maka ada baiknya ruang belajar tidak ditempatkan di tempat yang berdekatan dengan sumber kebisingan atau paling tidak meja belajar tidak menghadap ke jendela karena selain silau cahaya matahari juga mudah menjadi gangguan perhatian oleh hal-hal yang ada di luar jendela.

2. Bimbingan Belajar

Menurut WS. Winkel (1987 : 36) belajar adalah suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrmpilan, dan sikap. Belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan, perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disediakan obat-obatan. Perubahan kegiatan yang dimaksud mencangkup pengetahuan, kecakapan, dan tingkah laku dan ini diperoleh melalui latihan (pengalaman) bukan perubahan yang dengan sendirinya karena pertumbuhan kematangan atau karena keadaan sementara.

Menurut Imron (1996 : 88) faktor-faktor yang mempengaruhi siswa untuk belajar adalah sebagai berikut:

a. Tertarik pada mata pelajaran b. Ingin selalu bergabung dalam kelas

c. Tindakan, kebiasaan, dan moralnya selalu dalam kontrol diri d. Selalu mengingat mata pelajaran dan mempelajarinya kembali e. Ingin identitasnya diakui oleh orang tua

Sedangkan menurut Hamalik (1975 : 4) belajar adalah suatu bentuk perubahan diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Seseorang dikatakan telah belajar jika di dalam dirinya telah terjadi perubahan tertentu, misalnya semula ia tidak dapat membaca menjadi dapat membaca. Tetapi tidak semua perubahan di dapat dari hasil belajar, misalnya bayi yang belum bisa duduk kemudian bisa duduk. Perubahan ini terjadi karena kematangannya.

Menurut Jones (1963 : 22) “Guidance is help given by one person to another in making choise and adjustment and in solving problems.“ Dalam pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing hanyalah membantu agar individu ysng dibimbing mampu membantu dirinya sendiri, sedangkan keputusan yang diambil tergantung kepada individu yang dibimbing.

Hal ini senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Natawidjaya (1987) adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan masyarakat.

Selanjutnya, Walgito (1982 : 11) merumuskan bimbingan sebagai berikut “Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari dan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam kehidupannya, agar mereka itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.

Salah satu tujuan bimbingan belajar adalah memberikan bantuan kepada terbimbing dan memecahkan masalah sehingga pada akhirnya terbimbing dapat mengatasi kesulitannya. WS. Winkel (1987 : 105) mendefinisikan program bimbingan belajar sebagai berikut “ Program bimbingan belajar merupakan salah satu dari bimbingan pada umumnya yang dapat dijabarkan ke dalam dimensi perhatian, nasehat, pengawasan, dan motivasi.” Menurut Swastha (1992:25) bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya agar individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya. Sedangkan menurut Tidjan, dkk (1997:7) bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis terhadap individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya agar tercapai kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuan dalam mencapai penyesuaian diri dengan llingkungan baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan, bimbingan belajar adalah suatu arahan dan bimbingan kepada siswa untuk memberikan materi pengulangan (remedial), pengayaan (enrichment), dan konsultasi siswa (consulting) sehingga siswa bimbingan belajar dapat memadukan secara integral materi pembelajaran maupun pola pikir almiah yang di dapat di sekolah dengan yang diberikan oleh lembaga bimbingan belajar. Lembaga bimbingan belajar merupakan suatu lembaga yang dalam pengelolaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang pendidikan luar sekolah baik yang dilembagakan maupun yang tidak, termasuk dalam hal ini adalah lembaga bimbingan belajar yang pengelolaannya dilakukan oleh seseorang, sekelompok orang, ataupun badan tertentu.

Pendidikan luar sekolah termasuk juga didalamnya adalah lembaga bimbingan belajar mempunyai tujuan (Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991):

a. Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan kehidupannya.

b. Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, kerampilan, dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat dan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

c. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah

Tenaga pendidik lembaga bimbingan belajar terdiri atas tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, peneliti dan pengembang di bidang pendidikan, pustakawan, laboran, teknisi sumber belajar, dan penguji. Peserta didik di lembaga bimbingan belajar mempunyai hak untuk belajar secara mandiri, memperoleh perlindungan terhadap perlakuan yang tidak wajar dari tenaga kependidikan atau lembaga penyelenggara pendidikan yang bersangkutan, memperoleh nilai hasil belajarnya serta pindah ke jalur pendidikan sekolah bilamana memenuhi persyaratan satuan pendidikan yang hendak dimasuki. Namun, di sisi lain, warga belajar berkewajiban untuk ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali warga belajar yang dibebaskan dari kewajiban tersebut oleh penyelenggara satuan pendidikan yang bersangkutan, mematuhi ketentuan peraturan yang berlaku, menghormati ternaga kependidikan, dan ikut memelihara sarana dan prasrana serta kebersihn, ketertiban, dan keamanan pada satuan pendidikan luar sekolah yang bersangkutan. (Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991).

Kurikulum yang dianut adalah sesuai dengan ditetapkan oleh menteri atau menteri lain atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen setelah berkonsultasi dengan menteri. Sedangkan kurikulum yang tidak termasuk dalam ayat ketetapan menteri maka dapat ditetapkan aleh penyelenggara

satuan pendidikan yang berdasarkan ketentuan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional.

3. Lingkungan Belajar Siswa

Lingkungan belajar menurut Soepartinah ( 1985 : 24) adalah tempat anak belajar bertumbuh dan berkembang menuju kedewasaan, serta suasana belajar yang menyertai pertumbuhan dan perkembangan itu. Dikatakan bahwa seluruh lingkungan sekolah yaitu halaman sekolah, ruang kelas dan isinya serta ruang-ruang di dalamnya merupakan faktor –faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anak. Selain itu, lingkungan belajar adalah situasi dan keadaan yang mendukung seseorang untuk menambah pengetahuan yang ia miliki.

Lingkungan belajar siswa merupakan lingkungan belajar yang mendukung peningkatan prestasi belajar siswa yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

a. Lingkungan belajar di keluarga

Kebanyakan orang tua mengharapkan anaknya mencapai prestasi yang tinggi di sekolah. Akan tetapi, orang tua merasa kesulitan untuk mewujudkan keinginannya itu melalui perbuatan yang efektif. Orang tua hendaknya berpartisipasi langsung dalam meningkatkan prestasi belajar anak.

b. Lingkungan belajar di sekolah menurut Winkel ( 1989 : 20 ) merupakan pendidikan formal. Dikatakan formal karena di sekolah terlaksana

serangkaian kegiatan terencana dan terorganisir, termasuk dalam rangka proses belajar mengajar di kelas. Kegiatan ini bertujuan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri anak yang sedang menuju kedewasaan, sejauh perubahan-perubahan itu dapat diusahakan melalui kegiatan belajar. yang dimaksudkan di sini adalah khusus mengenai lingkungan fisik dan sosial yang terdapat di dalam kelas atau sekolah pada umumnya. Lingkungan sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan rasa aman, nyaman, dan memberikan fasilitas belajar yang banyak menunjang prestasi belajar siswa. Siswa yang diterima oleh guru dan teman-teman sekelasnya akan merasa lebih aman dan nyaman. Contoh lingkungan fisik sekolah adalah pengaturan tempat duduk, ukuran kelas, ukuran sekolah, komposisi kelas dan fasilitas belajar.

c. Lingkungan belajar di masyarakat

Dari lahir sampai mati manusia hidup di lingkungan masyarakat. Hidup dalam masyarakat berarti ada interaksi sosial dengan orang-orang sekitar dan dengan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain. Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan kelakuan anak didik. Pendidikan bertujuan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan, dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda. Pendidikan adalah proses belajar mengajar mengenai pola-pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat.

4. Fasilitas Belajar Di rumah

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia. Fasilitas adalah segala sesuatu yang memudahkan (1976:123). Dari pengertian tersebut dapat didefinisikan, fasilitas adalah segala sesuatu yang disediakan untuk mempermudah pencapaian suatu tujuan. Fasilitas yang dimiliki orang tua adalah sarana yang diberikan orang tua kepada anaknya dengan tujuan agar dapat menunjang kelancaran belajar.

Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor ekstern yang dapat berpengaruh terhadap pancapaian prestasi belajar siswa. Macam-macam fasilitas belajar di rumah yang dibutuhkan siswa meliputi:

a. Peralatan sekolah

Peralatan sekolah adalah segala sesuatu yang digunakan siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar. Misalnya, buku paket, buku tulis, alat tulis, dan sebagainya. Siswa yang memiliki peralatan sekolah yang lengkap akan cenderng dapat berkonsentrasi dalam belajarnya karena alat-alat yang dimiliki dapat menunjang belajarnya.

b. Media massa

Media massa adalah sarana penunjang yang dibutuhkan siswa untuk memperoleh pengetahuan umum selain pelajaran yang didapat dari sekolah. Yang dimaksud media massa yaitu seperti Koran dan majalah, sedagkan media elektronik adalah televisi dan radio.

c. Meja dan kursi belajar

Meja dan kursi belajar disediakan agar siswa merasa lebih nyaman di dalam kegiatan belajar di rumah. Permukaan meja belajar sebaiknya tidak diplitur mengkilap, diberi pernis sampai berkaca-kaca atau mengkilap atau dilapisi lembaran kaca jernih karena akan menimbulkan kesilauan. Meja dan kursi belajar hendaknya bersih dari segala hal yang tidak berkaitan dengan kepentingan belajar. Kenyamanan anak dalam belajar akan mempengaruhi konsentrasi belajar anak.

d. Ruang belajar

Ruang belajar adalah ruangan yang digunakan oleh siswa agar dapat belajar dengan baik. Sebaiknya, ruang belajar anak jauh dari kebisingan

Dokumen terkait