• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORI

Dalam dokumen : MEGAWATI NIM S10027 (Halaman 23-43)

BAB I PENDAHULUAN

2.1 TINJAUAN TEORI

2.1.1 Definisi Konsep Dasar Kehamilan

Kehamilan dan persalinan pada seorang wanita merupakan suatu siklus yang normal dan alamiah (Bobak et al 2005). Akan tetapi siklus itu tetap menjadi resiko dan beban tersendiri bagi seorang wanita (Rochjati 2003).

Kehamilan merupakan peristiwa penting bagi seorang wanita, kehamilan adalah ketika seorang wanita mengandung atau membawa embrio di dalam perutnya dimulai dari ketika embrio itu terbentuk sampai saat lahirnya janin (Pieter dan Lubis 2010). Kehamilan adalah sebuah proses yang diawali dengan keluarnya sel telur yang matang pada saluran telur yang kemudian bertemu dengan sperma dan keduanya menyatu membentuk sel yang akan bertumbuh ( BKKBN 2010 ).

2.1.2 Tanda - tanda Kehamilan

Perubahan fisiologis yang timbul selama masa hamil dikenal sebagai tanda kehamilan. Ada 3 kategori tanda kehamilan yaitu :

1. Presumsi adalah perubahan yang dirasakan wanita misalanyan aminore, keletihan, perubahan panyudara.

2. Kemungkinan yaitu perubahan yang di observasi oleh pemeriksa misalnya tanda hegar, ballottement, test kehamilan. 3. Pasti misalanya ultrasonografi, bunyi denyut jantung janin

( Bobak 2005 ).

2.1.3 Asuhan Keperawatan Selama Masa Hamil 1. Trimester I

Trimester I merupakan periode minggu ke-1 sampai minggu ke-13 setelah kehamilan didiagnosis atau perawatan prenatal dilakukan yaitu diagnosis klinis kehamilan sebelum periode menstruasi terlambat selama dua bulan sulit dilakukan pada sekurang kurangnya 25 % sampai 30 % wanita. Gejala kehamilan yang subyektif dan obyektif dapat sangat bervariasi. ( Bobak 2005 ).

2. Trimester II

Trimester II merupakan periode kehamilan minggu ke-14 sampai minggu ke-26. Pada kehamilan trimester kedua biasanya kehamilan telah didiagnosis dengan pasti. Ibu hamil pada trimester II dan keluarganya dapat menyesuaikan diri dengan kehamilan karena kunjungan pertama atau kedua telah dilakukan pada trimester sebelumnya. Ibu hamil merasakan tidak ada masalah utama yang perlu dihadapi, karena pola kunjungan baik dan telah dijadwalkan. Sepanjang trimester

11

kedua, kunjungan bulanan cukup, walaupun kunjungan tambahan dapat dilakukan bila diperlukan ( Bobak 2005 ). 3. Trimester III

Trimester III merupakan periode minggu ke-27 sampai kehamilan cukup bulan (38 – 40 minggu). Pada trimester ini orang tua berorientasi untuk menanti kelahiran anaknya. Ikatan antara orang tua dan janin berkembang pada trimester ketiga. Kekhawatiran orang tua yang berfokus pada efek kemampuan mental dan fisik anak yang mungkin terjadi bercampur khayalan tentang bayi yang akan lahir. Perhatian ibu hamil, biasanya mengaragh ke keselamatan dirinya dan anaknya. Rasa takut terhadap nyer, mutilasi, dan kekhawatiran tentang perilakunya dan kemungkinan ia kehilangan kendali diri selama persalinan merupakan isu–isu yang penting ( Bobak 2005 ).

Ketidaknyamanan fisik dan janin sering mengganggu istirahat ibu. Tanda dan gejala ibu trimester III : Dipsnea, peningkatan urinaria, nyeri punggung, konstipasi, varises. Tanda dan gejala tersebut merupakan tanda dan gejala yang sering dialami oleh kebanyakan wanita ditahap akhir. Peningkatan ukuran abdomen dan kejanggalan mempengaruhi kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari – hari ( Bobak 2005 ).

2.1.4 Kecemasan 1. Definisi

Kecemasan atau dalam bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari bahasa Latin yaitu “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik ( dikutip dalam Trismiati 2012 ). kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat Freud (dikutip dalam Yudha 2009 ).

Kecemasan adalah reaksi terhadap ancaman dari rasa sakit maupun dunia luar yang tidak siap ditanggulangi dan berfungsi memperingatkan individu akan adanya bahaya Freud (dikutip dalam Yudha 2009).

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah perasaan emosional yang ditandai terhadap reaksi ancaman dari rasa sakit, dan ketakutan yang di alami oleh seseorang.

2. Aspek-aspek kecemasan

Aspek-aspek kecemasan yang dikemukakan oleh Calhoun (dikutip dalam Yudha 2009) terdiri dari tiga reaksi, yaitu :

13

a. Reaksi emosional

Reaksi emosional merupakan komponen kecemasan yang berkaitan dengan persepsi individu terhadap pengaruh psikologis dari kecemasan, seperti perasaan keprihatinan, ketegangan, sedih, mencela diri sendiri atau orang lain. b. Reaksi kognitif

Reaksi kognitif merupakan ketakutan dan kekhawatiran yang berpengaruh terhadap kemampuan berfikir jernih sehingga mengganggu dalam memecahkan masalah dan mengatasi tuntutan lingkungan sekitarnya. c. Reaksi fisiologis

Reaksi fisiologis merupakan reaksi yang ditampilkan oleh tubuh terhadap sumber ketakutan dan kekhawatiran. Reaksi ini berkaitan dengan sistem syaraf yang mengendalikan otot dan kalenjar tubuh hingga timbul reaksi dalam bentuk jantung berdetak lebih keras, nafas bergerak lebih cepat, tekanan darah meningkat.

3. Penyebab kecemasan

Lemahnya ego akan menyebabkan ancaman yang memicu munculnya kecemasan. Freud berpendapat sumber sumber ancaman terhadap ego tersebut berasal dari dorongan yang bersifat insting dari id dan tuntutan-tuntutan dari super ego Freud (dikutip dalam Yudha, 2009).

Ego disebut sebagai eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan respon, memutuskan insting-insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Dalam melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif ini, ego harus berusaha mengintegrasikan tuntutan ego, super ego, dan dunia luar yang sering bertentangan. Hal ini sering menimbulkan tegangan berat pada ego dan menyebabkan timbulnya kecemasan Freud (dikutip dalam Yudha 2009) . 4. Jenis-jenis kecemasan

Freud ( dikutip dalam Yudha 2009 ) mengatakan bahwa jenis kecemasan terdiri dari :

a. Kecemasan realistik

Kecemasan realistik merupakan kecemasan yang berasal dari peristiwa nyata di dunia eksternal dan dipersepsikan oleh ego.

b. Kecemasan neurotic

Kecemasan neurotic merupakan kecemasan yang berasal dari id dan seringkali tampak membingungkan dan tidak terfokus. Kecemasan neurotic tidak selalu berkaitan dengan peristiwa eksternal di dunia nyata.

15

c. Kecemasan moral

Kecemasan moral merupakan kecemasan yang muncul dari superego, yang merupakan suara hati yang memberitahu kita tentang adanya sesuatu yang tidak beres 5. Teori kecemasan

Teori kecemasan dibagi menjadi tiga, yaitu: a. Kecemasan sebagai konflik yang tidak disadari.

Freud yakin bahwa kecemasan neuritis merupakan

akibat dari konflik yang tidak disadari antara impuls id

(terutama seksual dan agresif) dengan kendala yang ditetapkan oleh ego dan super ego. Impuls-impuls id menimbulkan 5 ancaman bagi individu karena bertentangan dengan nilai pribadi atau nilai sosial.

b. Kecemasan sebagai respon yang dipelajari.

Teori belajar sosial tidak memfokuskan diri pada konflik internal tetapi pada cara-cara dimana kecemasan diasosiasikan dengan situasi tertentu melalui proses belajar. c. Kecemasan sebagai akibat kurangnya kendali.

Pendekatan yang ketiga menyatakan bahwa orang mengalami kecemasan bila menghadapi situasi yang tampak berada di luar kendali mereka. Menurut teori psikoanalisis, misalnya, kecemasan timbul bila ego menghadapi ancaman impuls yang tidak dapat

dikendalikan. Menurut teori belajar sosial, orang menjadi cemas bila dihadapkan pada stimulus yang menyakitkan, yang hanya dapat mereka kendalikan melalui penghindaran Freud (dikutip dalam Yudha 2009).

6. Tingkat kecemasan

Kecemasan terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu : a. Cemas ringan

Ketegangan yang normal dalam kehidupan sehari-hari dan meningkatkan lapangan persepsinya, kecemasan dapat memotivasi belajar serta menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

b. Cemas sedang

Seseorang masih memungkinkan untuk mewujudkan pada sesuatu yang penting dan mengesampingkan yang lainnya sehingga seseorang mengalami perhatian yang sensitif namun masih bisa melakukan hal yang lebih terarah.

c. Cemas berat

Kecemasan ini menyebabkan persepsi berkurang sehingga cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci, spesifik, dan tidak dapat bepikir tenang, hal ini perilaku untuk mengurangi kebingungan individu ini pada

17

banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada orang lain.

d. Cemas panik

Kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan, teror, individu mengalami panik tidak mampu mengontrol presepsi kalaupun dengan pengaruhan panik merupakan disorganisasi kepribadian, terjadi peningkatan aktivitas motorik, penurunan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, presepsi penyimpangan pemikiran rasional cemas ini jika berlangsung tents menerus dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan terjadinya kelelahan dan kematian (Stuart and Sanden 1998). Beberapa golongan wanita tersebut tidak memerlukan pengertian dari dokter dan keluarganya, pendekatan psikologis yang tepat, kepercayaan dokter dan bidan akan melakukan segala sesuatu untuk meringankan penderitaannya dan untuk menyelamatkan ibu dan janin yang ada dalam kandungan (Alimul 2003)

7. Pengukuran kecemasan

Instrumen untuk pengukuran tingkat kecemasan dapat menggunakan beberapa cara pengukuran yaitu Taylor

Manifestation Anxiety Scale (T-MAS) dan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) (Kusumawati 2010). Hamilton

Rating Scale for Anxiety (HRS-A) yang sudah dikembangkan

oleh kelompok Psikiatri Biologi Jakarta (KPBJ) dalam bentuk

Anxiety Analog Scale (AAS). Validitas AAS sudah diukur oleh

Yul Iskandar pada tahun 1984 dalam penelitiannya yang mendapat korelasi yang cukup dengan HRS-A (r = 0,57-0,84) ( Rahmy 2013 ).

Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan.Menurut skala HARS terdapat 14

symptoms yang nampak pada individu yang mengalami

kecemasan.Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (nol present) sampai dengan 4 (severe) (Rahmy 2013).

Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untukmelakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan

reliable (Rahmy 2013). Dapat diukur menggunakan Hamilton

Rating Scale for Anxiety (HRS) yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang diberi penilaian antara 0-4 dengan penelitian berikut :

19

1 = gejala ringan 2 = gejala sedang 3 = gejala berat 4 = gejala berat sekali

Penilaian atau pemakaian alat ukur ini dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan yang telah dilatih untuk menggunakan melaluui teknik wawancara langsung. Masing-masing nilai (skor) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang yaitu :

≤ 14 = tidak ada kecemasan 14-20 = kecemasan ringan 21-27 = kecemasan sedang 28-41 = kecemasan berat

42-56 = kecemasan berat sekali/panik

Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat ukur HRS-A ini adalah sebagai berikut gejala kecemasan meliputi perasaan cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan pola tidur, gangguan kecerdasan, perasaan depresi (murung), gejala somatik atau fisik(otot), gejala somatik/fisik sensorik, gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), gejala respitori (pernapasan), gejala gastrointestinal (pencernaan), gejala urogenital (perkemihan dan kelamin), gejala autonom dan tingkah laku.

Dari semua gejala kecemasan dijumlahkan (Total Score) (Alimul 2003).

2.1.5 Kecemasan pada ibu hamil

Kecemasan pada ibu hamil adalah kecemasan yang dirasakan ibu hamil yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan bayi dalam kandungannya yang dipengaruhi oleh pengalaman pada kehamilan sebelumnya, status anak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan, kemampuan dan kesiapan keluarga, kesehatan ibu, bayangan ibu terhadap keguguran, bayi cacat, anak kembar, kelahiran prematur serta pandangan ibu tentang hal-hal seputar persalinan ( Maemunah 2007 ).

2.1.6 Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian pendidikan kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah upaya agar masyarakat dapat berperilaku hidup sehat (tahu, mau, dan mampu) memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo 2011).

Promosi kesehatan sendiri adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh, bukan hanya perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungannya (Notoatmodjo 2010).

Dimensi sasaran dalam pendidikan kesehatan ada 3 kelompok, yaitu Pendidikan kesehatan untuk individual,

21

pendidikan kesehatan untuk kelompok, dan pendidikan kesehatan masyarakat, dengan sasaran masyarakat luas (Notoatmodjo 2011).

2. Media Pendidikan Kesehatan

Adalah alat - alat yang digunakan untuk menyalurkan informasi atau pesan-pesan kesehatan serta mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien. Media tersebut dibagi menjadi 3 yaitu : media cetak, media elektronik, dan media papan (Notoatmodjo 2010).

a. Media cetak adalah media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Adapun macam-macamnya adalah :

1) Poster merupak pesan singkat dalam bentuk gambar degan tujuan untuk mempengaruhi agar seseorang bertindak akan suau hal.

2) Leaflet adalah suatu bentuk media publikasi yang berupa kertas selembaran dengan ukuran tertentu, disajikan dalam bentuk lembaran berlipat dan tanpa lipatan.

3) Baligho adalah media informasi yang dipasang di tempat terbuka, di tempat-tempat strategis seperti jalan raya.

4) Majalah adalah jenis media yang ringan,biasanya dicetak pada kertas dengan isi berita, fashion, ramalan serta resep masakan yang memancarkan pikiran serta perasaan seseorang baik tulisan maupun gambar. 5) Lembar balik adalah salah satu media cetakan yang

sangat sederhana dan efektif .

a) Keunggulan flipchart adalah sebagai berikut : (1) Mampu memberi info ringkas dengan cara

praktis

(2) Media yang cocok untuk kebutuhan dalam ruangan atau luar ruangan

(3) Bahan dan pembuatan murah (4) Mudah dibawa kemana-mana

(5) Tidak membutuhkan ketrampilan baca tulis (6) Membantu mengingatkan pesan dasar bagi

fasilitator/pengguna media b) Bagaimana membuat flipchart ?

(1) Tentukan tujuan dan penerapan flipchart (2) Menentukan bentuk flipchart

(3) Sederhanakan informasi/pesan

(4) Merancang draft kasar pada skala kecil (5) Memilih warna sesuai kesan yang

23

(6) Memastikan pesan jelas dan dinamis (7) Menentukan bentuk huruf , dan ukuran yang

sesuai

(8) Uji coba tata letak pada kalangan terbatas c) Desain lembar balik atau flipcart

(1) Ukuran standar 60- 90 cm , atau sesuaikan dengan jumlah peserta

(2) Gunakan ilustasi foto/kartun yang sederhaan dan dikenal khalayak

(3) Penulisan Judul yang menonjol , gunakan huruf besar dan sederhana

(4) Pesan jelas dan ringkas , istilah disederhanakan

(5) Gunakan warna mencolok dan tebal ( Notoadmojo 2010 dan Kholid 2012 ) 3. Media elektronik adalah suatu media bergerak dan dinamis,

dapat dilihat dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronik seperti :

a. Televisi adalah suatu media hiburan dan informasi juga dapat digunkan sebagai media pendidikan. Hal ini dikarenakan, televisi mempunyai karakteristik tersendiri yang idak bisa dimiliki oleh media massa lainnya.

b. Radio adalah media elektronik termurah, baik pemancar maupun penerimanya. Ini berarti terdapat ruang untuk lebih banyak statiun penyiaran dan lebih banyak pesawat penerima dalam sebuah perekonomian nasional.

c. Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie ( semula pelesetan untuk gambar gerak ). Film secara kolektif, sering disebut sinema.

d. Iklan merupakan sarana komunikasi yang digunakan komunikator dalam hal ini perusahaan atau produsen untuk menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik, khususnya pelanggannya melalui suatu media massa.

4. Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya diluar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronik secara statis, misalnya :

a. Papan reklame adalah poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat secara umum di perjalanan.

b. Spanduk yaitu suatu pesan dalam bentuk tulisan dan disertai gambar yang dibuat di atas secarik kain denga dipasang di suatu tempat strategi agar dapat dilihat oleh semua orang.

25

c. X-Banner atau standing banner adalah ungkapan dari sebagian orang menyebutkan dengan X banner, kini menjadi pajangan yang lazim di berbagai tempat.

5. Metode Audio Visual

a. Pengertian Audio Visual

Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Kata ini berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Sadiman dkk, 2009).

Media adalah sebagai alat sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk yang terletak antara dua pihak perantara, penghubung

( Kamus besar Bahasa Indonesia 2011 ). Sedangkan dalam Kamus Kata Serapan, media adalah benda/alat/sarana, yang menjadi perantara untuk menghantarkan sesuatu ( Martinus 2001 )

Media adalah sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian seseorang sehingga proses belajar terjadi ( Sadiman dkk 2009 ).

b. Klasifikasi Media Pengajaran

Klasifikasikan media dalam delapan jenis yaitu:

1) Media audio visual gerak adalah media yang mengandung unsur suara , gambar, garis, simbol, dan gerak. Contohnya: televisi dan film.

2) Media audio visual diam adalah media yang unsurnya hanya suara, gambar, garis, dan simbol. Contohnya: film rangkai bersuara, film bingkai bersuara, dan buku ber-audio.

3) Media audio semi-gerak adalah media yang mengandung unsur suara, garis, simbol, dan gerak. Contohnya: audio pointer.

4) Media visual gerak adalah media yang mengandung unsur gambar, garis, simbol, dan gerak. Contohnya: film bisu.

5) Media visual diam adalah media yang mengandung unsur gambar, garis, dan simbol. Contohnya:

facsimile, gambar, film rangkai, halaman cetak, dan microfilm.

6) Media semi-gerak adalah media yang unsurnya hanya garis, simbol, dan gerak. Contohnya: teleautograph. 7) Media audio adalah media yang unsurnya hanya suara

27

8) Media cetak adalah media yang unsurnya hanya simbol saja. Contohnya: pita berlubang Bretz (dalam Sadiman dkk, 2009: 20-21).

Selain itu adapun Sanaky (2009: 40) membagi jenis dan karakteristik media pengajaran sebagai berikut:

a) Dilihat dari aspek bentuk fisik yaitu media elektronik (slide, film, radio, televisi, video, VCD, DVD, LCD, komputer, internet) dan media non-elektronik (buku, handout, modul, diktat, media grafis, alat peraga). b) Dilihat dari aspek panca indra berupa media audio

(dengar), media visual (melihat), dan media audio-visual (dengar-melihat).

c) Dilihat dari aspek alat dan bahan yang digunakan, yaitu alat perangkat keras (hardware) dan alat perangkat lunak (software).

c. Batasan karakteristik media video

1) Video mampu memperbesa robjek yang kecil bahkan tidak dapat dilihat secara kasat mata.

2) Dengan teknik editing objek yang dihasilkan dengan pengambilan gambar oleh kamera yang dapat diperbanyak.

3) Video memanipulasi tampilan gambar sesekali objek diberikan manipulasi tertentu sesuai dengan tentuan pesan yang ingin disampaikan.

4) Video mampu membuat objek menjadi still picture artinya objek yang ditampilkan dapat disimpan dalam durasi tertentu.

5) Daya tarik yang luar biasa, video mampu mempertahankan perhatian audiens yang melihat video tersebut.

6) Video mampu menampilkan objek gambar dan informasi yang paling baru, hangat dan aktual.

Dalam dokumen : MEGAWATI NIM S10027 (Halaman 23-43)

Dokumen terkait