TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis .1 Pasar Modal
2.1.1.1 Pengertian Pasar Modal
Pasar modal mempunyai peranan yang strategis dalam pembangunan nasional dan merupakan alternatif penghimpunan dana selain sistem perbankan (pasar keuangan). Pengertian pasar modal menurut Tandelilin (2001) adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal menurut Tandelilin bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi.
Beberapa pakar juga mendefinisikan tentang pasar modal antara lain yang dikemukakan oleh Usman dkk (1997) yang menyatakan bahwa secara teoritis pasar modal (capital market) didefinisikan sebagai perdagangan instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang, baik dalam bentuk modal sendiri (stocks) maupun hutang (bonds), baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities) maupun oleh perusahaan swasta (private sectors). Usman menyatakan bahwa pasar modal berbeda
dengan pasar keuangan (financial market) karena pasar modal merupakan suatu konsep yang lebih sempit dari pasar keuangan.
Pasar modal didefinisikan sebagai suatu situasi dimana penjual dan pembeli dapat melakukan negosiasi terhadap pertukaran suatu komoditas atau kelompok komoditas, dan komoditas yang diperjualbelikan di sini adalah modal (Ang, 1997). Pakar lainnya Patrick dan Wai dalam Yuliati dkk (1996) menyatakan pasar modal dalam arti sempit adalah pasar terorganisir (organized market) yang memperdagangkan saham dan obligasi dengan menggunakan jasa pialang/makelar, komisioner dan penjamin emisi (underwriter).
Berdasarkan UU RI No. 8 tahun 1995 (Undang-Undang tentang Pasar Modal), Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Undang-undang ini menimbang bahwa pasar modal mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat. Pasar modal agar dapat semakin berkembang membutuhkan adanya suatu landasan hukum yang kukuh untuk lebih menjamin kepastian hukum pihak-pihak yang melakukan kegiatan di pasar modal serta melindungi kepentingan masyarakat pemodal dari praktik yang merugikan.
2.1.1.2 Tujuan Pasar Modal
Manfaat pasar modal bisa dirasakan baik oleh investor, emiten, pemerintah maupun lembaga penunjang. Keberadaan pasar modal nasional menurut Keppres No. 52 tahun 1976 bertujuan untuk:
1. Mempercepat proses perluasan pengikutsertan masyarakat dalam pemilikan saham perusahaan-perusahaan swasta, guna menuju pemerataan pendapatan masyarakat.
2. Lebih menggairahkan partisipasi masyarakat dalam pengerahan dan penghimpunan dana untuk digunakan secara produktif dalam pembiayaan pembangunan nasional.
2.1.1.3 Manfaat Pasar Modal
Menurut Yuliati, dkk (1996) fungsi pasar modal meliputi sebagai berikut:
1. Bagi pemerintah (sektor pembangunan), pasar modal merupakan wahana untuk memobilisasi dana masyarakat (dalam negeri dan luar negeri), di mana dana tersebut tidak memiliki efek inflatoir (meskipun tergolong sebagai dana murah). Kehadiran pasar modal juga selaras dengan azas demokrasi, yaitu meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan dan memeratakan hasil-hasil pembangunan. Melalui pasar modal, dana masyarakat akan dialokasikan ke sektor yang paling produktif dan efisien, sehingga akan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
2. Bagi dunia usaha, pasar modal merupakan alternatif untuk memperoleh dana segar, yaitu dengan go public. Alternatif ini dapat dimamfaatkan untuk memperbaiki struktur modal perusahaan (menghindari perusahaan dari debt to equity ratio yang tinggi) dan meningkatkan nilai perusahaan. Karena dana yang diperoleh dari pasar modal merupakan dana murah (meskipun memiliki opportunity cost), maka biaya modal perusahaan dapat ditekan. Hal ini berarti kemungkinan untuk melakukan ekspansi akan semakin besar. Keadaan ini akan memberi efek positif bagi penyerapan tenaga kerja, pemamfaatan teknologi dan sumber daya alam yang ada.
3. Bagi investor, pasar modal merupakan salah satu alat penyaluran dana (investasi), selain deposito berjangka dan tabungan (serta investasi pada aset riil). Kehadiran pasar modal akan memperbanyak pilihan investasi, sehingga kesempatan untuk memilih investasi yang sesuai dengan preferensi investor akan semakin besar.
2.1.1.4 Instrumen Pasar Modal
Yang dimaksud dengan instrumen pasar modal adalah semua surat-surat berharga (marketable securities) yang diperdagangkan di bursa efek. Dengan mengetahui instrumen apa saja yang tersedia di pasar modal maka investor dalam melakukan investasi dengan senantiasa dapat mengharapkan dan mendapatkan return yang memadai dan disertai kesediaan menanggung risiko sampai sejumlah batas tertentu yang mampu ditanggung dari masing-masing instrument. Bentuk instrument di pasar modal dapat dibagi atas beberapa macam yakni (Samsul, 2006): 1. Saham biasa (common stock)
Saham adalah tanda bukti memiliki perusahaan di mana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang saham (shareholder atau stakeholder). Bukti bahwa seseorang atau suatu pihak dapat dianggap sebagai pemegang apabila mereka sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam buku yang disebut Daftar Pemegang Saham (DPS). Manfaat yang diperoleh dari pemilikan saham adalah deviden (bagian dari keuntungan yang dibagikan kepada pemilik saham); capital gain (keuntungan yang diperoleh dari selisih positif harga beli dan harga jual saham), dan manfaat nonfinansial, yaitu mempunyai hak suara dalam aktivitas perusahaan.
2. Saham preferen (freferred stock)
Saham jenis ini adalah saham yang memiliki hak terlebih dahulu untuk menerima laba dan memiliki hak laba kumulatif dibandingkan dengan saham biasa. Hak kumulatif yang dimaksud adalah hak untuk mendapatkan laba yang tidak
dibagikan pada suatu tahun yang mengalami kerugian, tetapi akan dibayar pada tahun yang mengalami keuntungan, sehingga saham preferen ini akan menerima laba dua kali. Hak istimewa ini diberikan kepada pemegang saham preferen karena merekalah yang memasok dana ke perusahaan sewaktu mengalami kesulitan keuangan.
3. Obligasi (bonds)
Surat hutang ini adalah tanda bukti perusahaan memiliki utang jangka panjang kepada masyarakat yaitu diatas 3 tahun. Pihak yang membeli obligasi tersebut disebut pemegang obligasi (bondholder) dan pemegang obligasi akan menerima kupon sebagai pendapatan dari obligasi yang dibayarkan setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali. Penerbit obligasi membayar bunga atas obligasi tersebut pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan secara periodik (biasanya setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali), dan pada akhirnya menebus nilai hutang tersebut pada saat jatuh tempo dengan mengembalikan jumlah pokok pinjaman ditambah bunga yang terutang.
4. Bukti right
Right merupakan surat berharga yang memberikan hak untuk membeli saham pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu dimana hak membeli ini dimiliki oleh pemegang saham lama. Harga tertentu di sini berarti harganya sudah ditetapkan di muka dan biasa disebut harga pelaksanaan atau harga tebusan (strike price atau exercise price). Pada umumnya, strike price dari bukti right berada di bawah harga pasar saat diterbitkan. Apabila pemegang saham lama yang menerima bukti right tidak mampu atau tidak berniat menukarkan bukti right dengan saham, maka bukti right tersebut dapat dijual di Bursa Efek melalui broker efek. Apabila pemegang bukti right lalai menukarkannya dengan saham dan waktu penukaran sudah kadaluarsa, maka bukti right tersebut tidak berharga lagi, atau pemegang bukti right akan menderita rugi sebesar harga beli right tersebut.
5. Warant
Warant seperti halnya right adalah surat berharga yang memberi hak untuk membeli saham pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu. Warant tidak saja dapat diberikan kepada pemegang saham lama, tetapi juga sering diberikan kepada pemegang obligasi sebagai pemanis (swetener) pada saat perusahaan menerbitkan obligasi. Pemegang warant tidak akan menderita kerugian apa pun seandainyawarant itu tidak dilaksanakan. Pada saat harga pasar melebihi stike price warant, maka warant sudah saatnya untuk ditukar dengan saham.
Namun pemegang warant masih dapat menunggu sampai harga saham mencapai tingkat tertinggi sepanjang waktu berlakunya belum kadaluwarsa. Apabila pemegang warant tidak ingin menebusnya, maka warant itu dapat dijual di bursa efek melalui broker efek.
6. Indeks saham dan indeks obligasi
Indeks ini adalah angka indeks yang diperdagangkan untuk tujuan spekulasi dan lindung nilai (hedging). Perdagangan yang dilakukan tidak memerlukan penyerahan barang secara fisik, melainkan hanya perhitungan untung rugi dari selisih antara harga beli dan harga jual. Mekanisme perdagangan produk derivative ini dilakukan secara future dan option sehingga berbeda dengan saham, obligasi, bukti right, maupun warant karena indeks saham dan indeks obligasi ini diperdagangkan secara berjangka.
2.1.2 Saham Sebagai Pilihan Investasi
Saham adalah sekuritas yang paling banyak diperdagangkan di Bursa Efek. Saham (stock atau share) dapat diartikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau suatu perusahaan atau perseroan terbatas dengan mamfaat yang dapat diperoleh berupa :
1. Deviden, merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemilik saham;
2. Capital gain, merupakan keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan harga belinya;
3. Manfaat non finansial antara lain berupa konsekuensi atas kepemilikan saham berupa kekuasaan, kebanggan dan khususnya hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.
Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan yang ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan investor di dalam perusahaan tersebut (Husnan, 1998). Saham diperjualbelikan pada bursa efek, yaitu tempat yang dipergunakan untuk memperdagangkan efek sesudah pasar perdana (initial public offer).
Saham memiliki tiga macam nilai yaitu nilai nominal, nilai efektif dan nilai intrinsik (Situmorang, 2008) yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum dalam saham tersebut;
2. Nilai efektif, yaitu nilai yang tercantum dalam kurs resmi kalau saham tersebut diperdagangkan di bursa;
3. Nilai intrinsik, yaitu nilai ekonomis saham.
Saham merupakan surat berharga yang paling popular dan dikenal luas di masyarakat. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas (Situmorang, 2008) :
1. Saham biasa (common stock), yaitu saham yang menempatkan pemiliknya pada posisi paling junior dalam pembagian dividen dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi setelah perusahaan melunasi kewajiban hutangnya.
2. Saham preferen (preferred stock), yaitu saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor.
2.1.3 Earning per Share (EPS)
Rasio earning per share merupakan salah satu indikator yang paling umum dipakai untuk menilai perusahaan oleh kepentingan umum (public interest). Rasio earning per share digunakan untuk menunjukkan berapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham dalam setiap lembar saham (Darmadji, 2001, dalam Astutik, 2005). Earning per share merupakan perbandingan antara laba bersih dengan jumlah saham beredar. Dampak yang signifikan yang didapat dari perhitungan EPS terhadap harga saham akan sangat berperan penting dalam pengambilan keputusan (decision making) oleh investor.
Pentingnya rasio earning per share ini dalam pengambilan keputusan oleh investor terletak pada kenyataan bahwa hal ini sangat berkaitan dengan kinerja internal perusahaan dan citra publik di pasar, tercermin melalui rasio pasar saham internal (Monica, dkk, 2009). Dengan kata lain, setiap investor pasar saham akan memulai analisis yang diperlukan untuk pengambilan keputusan mulai dari EPS Walaupun rasio EPS ini dijadikan dasar petunjuk untuk menggambarkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh investor atau pemegang saham, tetapi hal ini dalam praktiknya dari kebijakan pihak manajemen atau / dan pihak direksi perusahaan tidak semua keuntungannya itu dapat dibagikan. Karena ada sebagian keuntungan yang diperoleh tersebut akan dimasukkan ke dalam pos laba ditahan.
Besarnya earning per share suatu perusahaan dapat diketahui dari informasi laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan. Meskipun beberapa perusahaan tidak mencantumkan rasio EPS di dalam laporan keuangannya, tetapi besarnya EPS dapat kita hitung berdasarkan informasi laporan neraca dan laporan laba rugi perusahaan. Menurut Tandelilin (2001), rumus untuk menghitung EPS suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
EPS =
2.1.4 Price Earning Ratio (PER)
Price Earning Ratio (PER) atau disebut juga earning multiplier merupakan metode penilaian yang relatif umum sering digunakan di negara maju dan negara berkembang. Price earning ratio merupakan suatu perbandingan antara harga pasar suatu saham (market price) dengan earning per share (EPS) dari saham yang bersangkutan. Menurut Tandelilin (2001), informasi PER mengindikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan. Dengan kata lain, PER menunjukkan besarnya harga setiap satu rupiah earning perusahaan.
Kegunaan dari PER ini adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh EPS-nya (Ang, 1997). Dalam penggunaan PER biasanya para praktisi akan menentukan apakah ia lebih optimistik atau pesimistik
dibandingkan dengan pasar secara keseluruhan. Jika ia lebih optimistik terhadap prospek pertumbuhan perusahaan, maka ia akan membeli saham dan jika sebaliknya maka ia akan menjual sahamnya (Agus, 2001, dalam Inayah, 2007).
Menurut Ang (1997), Penilaian PER dapat dirumuskan sebagai berikut : PER =
2.1.5 Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan salah satu dari beberapa indikator rasio keuangan yang sangat penting dalam pasar keuangan / pasar modal karena rasio ini mengukur bagaimana kinerja perusahaan yang dilihat dari aspek leverage atau utang perusahaan. Debt to equity ratio digunakan utnuk mengukur kinerja perusahaan dalam menutup sebagian ataupun seluruh utang yang dimilikinya dengan dana yang berasal dari total modal perusahaan.
Debt to equity rasio adalah rasio yang membandingkan antara total utang (baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang) dengan total modal sendiri (total shareholder’s equity). Yang dimaksud dengan total modal sendiri adalah total modal saham yang disetor dan laba yang ditahan yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan
semakin besar pula jumlah kewajibannya. Secara matematis Debt to Equity Ratio (DER) dapat diformulasikan sebagai berikut (Ang, 1997) :
DER =
2.1.6 Volume Perdagangan Saham
Volume perdagangan adalah banyaknya jumlah lembar saham suatu emiten yang diperdagangkan di pasar modal pada periode tertentu dengan tingkat harga yang disepakati oleh pihak penjual dan pembeli saham melalui perantara perdagangan saham (pialang saham). Volume perdagangan saham merupakan salah satu indikator yang sangat penting dalam aspek analisis teknikal pada penilaian harga saham. Volume perdagangan juga mencerminkan kekuatan interaksi tarik menarik antara permintaan dan penawaran sebagai tanda perubahan menguat dan melemahnya pasar.
Dengan naiknya volume perdagangan maka keadaan pasar dapat dikatakan menguat, demikian pula sebaliknya (Ang, 1997). Dengan adanya peningkatan volume perdagangan saham maka semakin besar pula peningkatan terhadap harga saham sehingga dapat mempengaruhi peningkatan pertumbuhan laba perusahaan yang akan meningkatkan return yang akan diterima investor. Dengan naiknya harga saham, maka akan terjadi capital gain yang meningkatkan return saham. Begitu juga sebaliknya. Penurunan volume perdagangan saham akan menurunkan harga saham sehingga bereaksi terhadap
menurunnya return saham yang diterima. Volume perdagangan dalam penelitian ini dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :
TV =
2.1.7 Return Saham
Return dari suatu investasi adalah merupakan suatu indikator yang sangat penting untuk investor karena return inilah mengapa para investor ingin menanamkan modalnya dalam suatu investasi. Pengukuran terhadap return yang dapat direalisasikan (realized return) diperlukan oleh investor untuk menilai seberapa baik mereka mendapatkan keuntungan dari investasi yang dilakukan atau seberapa baik manajer dapat mengolah investasi yang telah dilakukan oleh investor tersebut.
Menurut Jones (2000) mengatakan bahwa “return is yield dan capital gain (loss)”. Menurut Ang (1997) mengatakan bahwa return saham adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas suatu investasi yang dilakukan. Return saham memungkinkan investor untuk membandingkan keuntungan aktual (realized return) dan keuntungan yang diharapkan (expected return) yang disediakan oleh berbagai saham pada tingkatan pengembalian dan tingkat resiko yang diinginkan. Tujuan investor dalam berinvestasi adalah untuk meningkatkan nilai kekayaan dengan cara memaksimalkan return tanpa
melupakan faktor risiko yang dihadapinya (Annisa, 2011). Menurut Jones (2000), komponen suatu return terdiri dari dua jenis yaitu:
1. Yield adalah penerimaan kas periodik dari suatu investasi. Yield untuk saham adalah dividen.
2. Capital gain atau capital loss yaitu keuntungan yang diterima karena adanya selisih antara harga jual dan harga beli suatu instrumen investasi, yang berarti bahwa instrumen investasi harus diperdagangkan di pasar.
Adapun tidak selamanya perusahaan membagikan dividen kas (yield) secara periodik kepada pemegang sahamnya, maka return saham dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Jogiyanto, 2000, dalam Gian, 2011) sebagai berikut:
Rt = Dimana:
Rt = Return saham pada hari ke t
Pt = Harga penutupan saham pada hari ke t Pt-1 = Harga penutupan saham pada hari ke t-1