• Tidak ada hasil yang ditemukan

TInjauan uMuM

Dalam dokumen Annual Reports (Halaman 84-86)

Berdasarkan kondisi perekonomian global, perlambatan ekonomi dunia masih menjadi isu penting sepanjang tahun 2016. Hal tersebut masih dilatarbelakangi oleh penurunan harga minyak dunia dan fluktuasi harga komoditas. Di tengah kondisi tersebut, pada kuartal II 2016, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) memberi pengaruh besar pada situasi perekonomian dunia terutama pada negara-negara yang menjadi mitra dagangnya. Mendekati akhir tahun, hasil Pemilihan Presiden Amerika Serikat serta kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25bps, menjadi pelengkap dinamika perekonomian global di tahun 2016.

overvIew

Global economic slowdown continued to become a major concern over the course of 2016, which was contributed among others by the declining global oil prices and fluctuating commodity prices. The United Kingdom’s decision to withdraw from the European Union in the second quarter of 2016, commonly known as Brexit, further added to global concerns, especially to their trading partners. Approaching the year’s end, the result of the United States’ presidential election and an increase of 25 bps of the Fed rate further contributed to the dynamics of the global economy in 2016.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

MANAGEMENT DISCUSSION AND ANALYSIS

TATA KELOLA PErUSAHAAN GOOD COrPOrATE GOVErNANCE

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PErUSAHAAN COrPOrATE SOCIAL rESPONSIBILITY

Berbagai peristiwa politik dan ekonomi global yang berlangsung sepanjang tahun 2016 tentu berpengaruh pada situasi ekonomi domestik dan regional di Indonesia. Salah satu contoh adalah penurunan harga minyak yang berimplikasi pada rendahnya kontribusi pendapatan sektor migas pada PDB Indonesia, yang berakibat berkurangnya penerimaan devisa negara. Pada sektor komoditas, meskipun mulai menampakkan perbaikan, imbas pelemahan harga yang terjadi di 2015 hingga saat ini masih cukup terasa. Performa ekspor-impor belum dapat diandalkan secara optimal terutama dari sektor pertambangan seperti batu bara. Cina sebagai negara tujuan ekspor batu bara terbesar bagi Indonesia telah melakukan pengurangan impor batu bara sejak tahun lalu guna menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Selain itu, prospek penurunan volume perdagangan di Amerika Serikat akibat wacana ekonomi proteksi dalam negerinya juga menjadi penyumbang besar ketidakpastian akan masa depan tingkat perdagangan antara Indonesia dan AS. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi pola perdagangan global dan kinerja perdagangan Indonesia.

Meskipun kondisi perekonomian global sepanjang tahun 2016 masih terbilang labil, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia nampak semakin besar. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat inflasi yang cukup rendah yaitu sebesar 3,02%. rendahnya inflasi di tahun ini disebabkan oleh kinerja pemerintah dan otoritas terkait yang telah melakukan koordinasi simultan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas moneter. Situasi ekonomi 2015 yang kurang stabil telah menjadi pelajaran bermakna bagi seluruh pihak termasuk pemerintah untuk menguatkan fundamental ekonomi dan menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Pembenahan-pembenahan yang dilakukan pemerintah pada akhirnya mampu mendorong penguatan ekonomi nasional. Meskipun secara keseluruhan program-program yang ada belum dilaksanakan sepenuhnya, namun dampak positif mulai dirasakan masyarakat. Salah satunya adalah pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02%. Pertumbuhan ekonomi nasional didorong perolehan PDB nasional sebesar 5,01%. Berdasarkan perolehan tersebut, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan nampaknya telah menemukan formula yang tepat dalam meningkatkan penerimaan negara baik dalam kerangka aktivitas ekspor-impor maupun aktivitas lainnya. Volume impor bahan kebutuhan pokok seperti beras yang cukup besar, di tahun ini dapat ditekan secara signifikan

Several global economic and political events in 2016 certainly had impacted both domestic and regional economic climates in Indonesia. One of which was the falling oil prices that led to lower income contribution of oil and gas sector to Indonesia’s GDP, which resulted in a decrease in foreign exchange earnings. Despite signs of recovery in the commodity sector, the impact of weakening commodity prices in 2015 still prevailed. Export- import performance remained unstable, particularly in the mining sector such as coal. China, as Indonesia’s largest coal export destination, had cut down its coal import volume since a year ago as a part of its efforts to maintain domestic economic growth. Moreover, the possibility of trading volume reduction that might be enforced in the United States created further uncertainties about the future of trade between Indonesia and the US. This would certainly affect global trade landscape and Indonesia’s trading performance.

Despite uncertain global economic condition, Indonesia remained optimistic on its economic growth. Inflation rate was recorded relatively low at 3.02%, which was contributed by positive impacts from simultaneous collaboration of the government and related authorities in maintaining economic growth and monetary stability. The economic situation in 2015 certainly gave a valuable lesson to all parties, including the government, to strengthen economic fundamentals and maintain Financial System Stability (SSK).

Considerable improvements that the government had implemented were able to ultimately boost national economic growth. Even though the overall governmental programs had not been fully operational yet, the generated positive results were already felt by the public; one of which was the accomplishment of economic growth target of 5.02%, which was driven by GDP of 5.01%. The excellent GDP rate is a convincing proof that the government and all the stakeholders have properly identified the right formula to increase state revenue from the export-import sector and other activities. Significant import volume of staple foods such as rice this year was successfully reduced on the back of national rice surplus of 43.69 million tons out of national consumption of 32.30

TINJAUAN PENDUKUNG BISNIS OVErVIEW ON BUSINESS SUPPOrT PrOFIL PErUSAHAAN COMPANY PrOFILE KILAS KINErJA 2016 FLASHBACK PErFOrMANCE OF 2016 LAPOrAN MANAJEMEN MANAGEMENT rEPOrT

kebutuhan nasional sebesar 32,30 juta ton. Pemerintah juga mencari jalan keluar untuk meningkatkan penerimaan negara dengan cara menggalakkan industri pariwisata.

Di tahun ini, salah satu program pemerintah yang wajib diapresiasi adalah pelaksanaan program pengampunan pajak dalam rangka menghimpun dana tebusan, deklarasi harta, dan repatriasi. Salah satu tujuan program pengampunan pajak tersebut adalah penyaluran dana untuk pembiayaan investasi infrastruktur melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha terkait. Melalui program ini, pemerintah diharapkan mampu membenahi sistem pajak negara guna meningkatkan penerimaan pajak di masa mendatang. Dengan kemapanan investasi di bidang infrastruktur, iklim investasi nasional diharapkan mampu meningkatkan gairah para investor agar kesejahteraan masyarakat dapat terus ditingkatkan.

InfrasTruKTur unTuK PeMBangunan

Dalam dokumen Annual Reports (Halaman 84-86)

Dokumen terkait