BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Tinjauan Umum Tentang Bilyet Giro dan Cek
a. Pengertian bilyet adalah surat perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara giro nasabah tersebut, untuk memindahbukukan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya atau nomor rekening pada bank yang sama tahu bank lainnya. Pengertian giro adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.
Bilyet giro merupakan surat berharga dimana surat tersebut merupakan surat perintah nasabah untuk memindah bukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau pada bank yang lainnya. Dengan demikian pembayaran dana bilyet giro mempunyai dua tanggal dalam teksnya yaitu tanggal penerbitan dan tanggal efektif (jatuh tempo). Sebelum tanggal efektif tiba bilyet giro sudah dapat diedarkan sebagai alat pembayaran kredit, bilyet giro tidak dapat dipindahtangankan melalui endosemen, karena didalamnya tidak ada klausula yang menunjukkan cara pemindahannya.
Pembayaran suatu transaksi dipandang sudah selesai apabila pemindahbukuan yang dimaksud dalam bilyet giro itu sudah dilaksanakan oleh bank. Didalam bilyet giro orang yang menerbitkan adalah pihak yang harus membayar. Menerbitkan surat berharga disini maksudnya adalah penerbit memerintahkan bank dimana ia menjadi nasabah untuk memindah bukukan sejumlah uang dari rekeningnya kepada rekening pihak ketiga yang disebutkan namanya. Pihak yang menerima bilyet giro ini disebut pemegang atau penerima, sedangkan bank sebagai pihak yang memerintahkan melakukan pemindah bukuan disebut tersangkut.
Bilyet giro adalah surat perintah pemindahbukuan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 28/32/KEP/DIR tanggal 4 Juli 1995 tentang Bilyet Giro;
b. Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang
kepada pihak yang disebut di dalamnya atau kepeda pemegang cek tersebut (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998)
2. Syarat-Syarat Sahnya Bilyet Giro dan Cek
a. Syarat-syarat yang berlaku untuk bilyet giro agar pemindahbukuannya dapat dilakukan antara lain:
1) Adanya surat cek tertulis perkataan "bilyet giro" dan nomor serf.
2) Surat harus berisi perintah tak bersyarat untuk memindahbukukan sejumlah uang tertentu atas beban rekening yang bersangkutan.
3) Nama bank yang harus membayar (tertarik). 4) Nama penerima dana dan nomor rekening. 5) Nama bank penerima dana.
6) Jumlah dana dalam angka dan huruf.
7) Penyebutan tanggal dan tempat cek dikeluarkan. 8) Tanda tangan dan atau cap perusahaan.
Masa berlaku dan tanggal berlakunya bilyet giro juga diatur sesuai dengan persy aratan yang telah ditentukan seperti :
1) Masa berlakunya adalah 70 (tujuh puluh) hari terhitung mulai tanggal penarikannya.
2) Bila tanggal efektif tidak ada maka tanggal penarikan berlaku sebagai tanggal effektif.
3) Bila tanggal efektif tidak ada maka tanggal efektif berlaku sebagai tanggal penarikan.
b. Syarat hukum dan penggunaan cek sebagai alat pembayaran giral (KUHDagang Pasal 178) :
1) Pada surat cek tertulis perkataan "cek/cheque" dan nomor serf.
2) Surat harus berisi perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu.
3) Nama bank yang harus membayar (tertarik). 4) Jumlah dana dalam angka dan huruf.
5) Penyebutan tanggal dan tempat cek dikeluarkan. 6) Tanda tangan dan atau cap perusahaan.
Syarat lainnya yang dapat ditetapkan oleh bank: 1) Tersedianya dana.
2) Adanya materai yang cukup.
3) Jika ada coretan atau perubahan harus ditandatangani oleh si pemberi cek. 4) Jumlah uang yang terbilang dan tersebut harus sama.
5) Memperlihatkan masa kadaluarsa cek yaitu 70 (tujuh puluh) hari setelah dikeluarkannya cek tersebut.
6) Tanda tangan atau cap perusahaan harus sama dengan specimen/contoh. 7) Tidak diblokir pihak berwenang.
8) Endorsment cek benar (jika ada). 9) Kondisi cek sempurna.
10) Rekening belum ditutup. 3. Jenis-Jenis
1) Cek atas nama, yaitu yek yang diterbitkan atas nama seseorang atau badan hukum tertentu yang tertulis jelas di dalam cek tersebut.
2) Cek atas unjuk yaitu kebalikan dari cek atas nama. Di dalam cek tidak tertulis nama seseorang atau badan hukum.
3) Cek silang yaitu cek yang dipojok kiri diberi tanda dua tanda garis sejajar, sehingga cek tersebut tidak dapat ditarik tunai melainkan pemindahbukuan. 4) Cek mundur yaitu cek yang diberi tanggal mundur dari tanggal. Hal ini
biasanya terjadi karena kesepakatan antara pemberi dan penerima cek. 5) Cek kosong atau blank cheque merupakan cek yang penarikkannya
melebihi saldo yang ada. 4. Hak dan Kewajiban Para Pihak
Kewajiban pokok penerbit bilyet giro adalah menyediakan dana pada Bank tesangkut. Dana yang tersedia harus cukup dalam rekeningnya pada tertarik sejak tanggal efektif sampai dengan tanggal mulainya daluwarsa. Oleh karena itu dalam penerbitan bilyet giro terlebih dahulu adanya hubungan hukum antara Penerbit/Penarik dengan Pihak Bank. Hubungan hukum ini berbentuk peijanjian penyimpanan dana penerbit pada Bank dengan membuka rekening giro, sedangkan antara penerbit dengan pemegang didahului terjadinya perikatan dasar, misalnya perjanjian jual beli atau sewa-menyewa dan lain-lain. Untuk itu dalam penerbitan
bilyet giro penerbit harus bertanggungjawab terhadap pemegang bahwa bilyet giro yang ia terbitkan dapat dipindah-bukukan pada tanggal efektif. Selain itu penerbit juga wajib membuat catatan-catatan mengenai keadaan keuangan dalam rekeningnya sehingga dapat diketahui kemampuan untuk memenuhi kewajiban sehubungan dengan penarik bilyet giro.
Tenggang waktu penawaran bilyet giro adalah 70 (tujuh puluh) hari, yaitu sejak terhitung sejak tanggal penerbitan. Tenggang waktu tersebut adalah antara tanggal penerbitan dan tanggal efektif, penerbitan diberikan kesempatan untuk mehgusahakan dana guna membayar dengan pemindahbukuan, makin lambat tanggal efektif ditentukan, maka makin banyak waktu bagi penerbit untuk mengusahakan dana. Bilyet giro yang ditawarkan kepada Bank sebelum tanggal efektif atau sebelum tanggal penarikan harus ditolak oleh Bank, tanpa memperhatikan tersedianya atau tidaknya dana dalam rekening penarik. Sedangkan bilyet giro yang diterima oleh Bank setelah tanggal berakhirnya tenggang waktu penawaran dapat dilaksanakan perintahnya sepanjang dananya tersedia dan tidak dibatalkan oleh penarik.
5. Prosedur Pencairan Bilyet Giro dan Cek
a. Mengenai bilyet giro pengaturannya tidak terdapat pada KUHD, tetapi terdapat pada Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 4/670/UPB/PbB tertanggal 24 Januari 1972. Terdapat beberapa alasan bahwa bilyet giro diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia SEBI, yakni:
1) Sampai tahun 1972 belum terdapat pengaturan secara tegas, baik dengan undang-undang maupun dengan peraturan lain mengenai bilyet giro;
2) Pemakaian bilyet giro yang semakin lama semakin berkembang di dalam masyarakat;
3) Mengingat pentingnya dan manfaat bilyet giro sebagai sarana perbankan; 4) Menghindari pemakaian bilyet giro yang berbeda-beda
persyaratan-persyaratan didalamnya yang dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan, pemalsuan dan memudahkan pengawasan.
Berdasarkan dari pengertian bilyet giro yang membuat kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat, masyarakat lebih senang menggunakan cek, namun sejak adanya sanksi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1964 tentang Pelarangan Penarikan Cek Kosong, yang dapat memberikan sanksi pidana cukup berat, maka masyarakat pun beralih kembali pada bilyet giro.
Mengenai pencairan bilyet giro dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu: 1) Bank tertarik menerima bilyet giro dari penarik dan memindahkan dana
tersebut dalam bilyet giro dengan nota kredit kepada bank dari penerima dana, untuk dikreditkan ke dalam rekening penerima dana yang namanya tercantum dalam bilyet giro yang bersangkutan;
2) Bilyet giro langsung diserahkan oleh penarik kepada penerima dana, yang kemudian oleh yang bersangkutan disalurkan kerekeningnya sendiri pada bank tertarik atau bank lainnya. Dalam hal dana tersebut disetor pada bank yang berlainan, maka bank nasabah penyetor memperhitungkan bilyet giro
tersebut melalui kliring kepada bank tertarik; bilyet giro tersebut diperlakukan sama dengan warkat-warkat kliring lainnya.
Diterbitkannya suatu bilyet giro atas nama seorang pemegang berarti melakukan pembayaran dari suatu transaksi jual-beli yang sebelumnya telah ada antara penerbit dan pemegang. Jadi penerbitan bilyet giro itu adalah karena suatu sebab dan sebab ini ialah transaksi yang telah dilakukan tadi. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa nilai dari transaksi itu harus diwujudkan secara sama jumlahnya pada bilyet giro. Dengan perkataan lain, bahwa nilai dari bilyet giro itu adalah sama dengan nilai perikatan dasarnya.
b. Prosedur pencairan surat cek yaitu surat yang memuat kata cek, yang diterbitkan pada tanggal dan tempat tertentu, dengan mana penerbit memerintahkan tanpa syarat kepada bankir untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada pemegang
atau pembawa, di tempat tertentu. Dengan demikian surat cek adalah surat tagihan utang (schuldvorderingspapier) yang bersifat suatu perintah untuk membayar. Dasar terjadinya penerbitan dari sepucuk cek adalah karena adanya perikatan dasar yang terjadi sebelumnya.
6. Penolakan dan Pembatalan Bilyet Giro a. Alasan dan Prosedur Penolakan Bilyet Giro
Apabila pemegang menawarkan bilyet giro kepada bank tertarik, dan ternyata bilyet giro tersebut kosong, maka bank tertarik wajib menolaknya dengan alas an dana yang tersedia tidak cukup dan penolakan tersebut harus disertai Surat Keterangan Penolakan (SKP), antara lain memuat nama dan alamat lengkap penarik yang bersangkutan. Bilyet giro yang ditolak karena alasan lain, tetapi dananya tidak
cukup dan ditolak sebagai bilyet giro kosong. Bank tertarik wajib segera melaporkan penolakan tersebut dan menyampaikan satu tembusan SKP kepada Bank Indonesia bagian lalu lintas pembayaran giral bagi bank-bank di Jakarta atau kantor cabang Bank Indonesia setempat bagi bank-bank di luar Jakarta. Bilyet giro kosong itu beserta SKP dikembalikan kepada pemegangnya untuk diselesaikan dengan penariknya. Tetapi saldo penarik yang bersangkutan tidak perlu dibekukan oleh bank.
Surat Keterangan Penolakan bank tersebut hamper sama dengan akta protes non pembayaran. Penyelesaian dengan penarik mirip dengan pelaksanaan hak regres terhadap debitur wajib regres. Jika seorang nasabah menarik bilyet giro kosong pada suatu bank 3 kali dalam waktu 6 bulan, maka bank yang bersangkutan wajib menutup rekening nasabah tersebut. Dalam hal terjadi penerbitan bgilyet giro kosong 3 kali dalam waktu 6 bulan pada beberapa bank, maka Bank Indonesia menginstruksikan kepada bank-bank pemelihara rekening untuk menutup rekening nasabah yang bersangkutan. Dalam hubungan ini, agar nasabah mengentahui dan menyadari kemingkinan dikenakan sanksi tersebut.
Menurut Surat Edaran (SEBI) No. 28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995, surat bilyet giro dapat saja dilakukan penolakan oleh pihak bank. Bank penerima wajib menolak bilyet giro dalam hal:
1) Tidak terlalu sebagai bilyet giro bila tidak memenuhi syarat normal.
2) Ditawarkan kepada bank sebelum tanggal penarikan atau sebelum tanggal efektif. 3) Tanggal efektif dicantumkan tidak dalam tenggang waktu penawaran.
4) Terdapat perubahan tetapi tidak ditandatangani oleh penarik di tempat kosong yang terdekat dengan perubahan.
5) Telah daluwarsa.
6) Saldo rekening penarik tdak cukup.
7) Ditawarkan kepada tertarik setelah penawaran dan telah diterima surat pembatalan bilyet giro oleh bank yang bersangkutan dari penarik.
8) Tandatangan berbeda.
Bilyet giro yang ditolak bank penerima dikembalikan pada pemegang dengan Surat Keterangan Penolakan dalam rangkap 3 (tiga) masing-masing untuk pemegang, penarik dan arsip bank yang bersangkutan. Penarik tidak boleh membatalkan bilyet giro selama dalam tenggang waktu penawaran 70 hari. Pembatalan hanya dapat dilakukan setelah tanggal berakhirnya tenggang waktu penawaran dengan surat pembatalan, yang ditunjuk kepada tertarik dengan menyebutkan:
1) Nomor bilyet giro 2) Tanggal penarikan
3) Jumlah dana yang dipindahbukukan b. Pembatalan Bilyet Giro
Selama tenggang waktu penawaran, penarik tdak boleh membatalkan bilyet giro selama tenggang waktu penawaran (tenggang waktu 70 hari). Pembatalan bilyet giro hanya dapat dilakukan setelah tanggal berakhirnya tenggang waktu penawaran dengan suatu surat pembatalan yang ditujukan kepada tertarik dengan menyebutkan nomor bilyet giro, tanggal penarikan, jumlah dana yang dipindahbukukan. Ini berarti
jika dalam tenggang waktu penawaran terjadi pembatalan, bank tertarik tetap melaksanakan perintah pemindahbukuan dan tindakan tersebut adalah sah.
Setelah tenggang waktu penawaran berakhir 70 hari bilyet giro tdak dapat dibatalkan. Walalupun dibatalkan tidak mempunyai kekuatan. Setelah tenggang waktu berakhir maka setiap penarik dapat membatalkan bilyet giro yang sudah ditariknya itu. Hak pembatalan ini timbul karena selama tenggang waktu penawaran ternyata pemegang tidak menawarkan haknya untuk memperoleh pemindahbukuan dana. Namun bukan berarti hak pemegang menjadi hilang, hak pemegang hanya dapat direalisasikan diluar ketentuan surat berharga.
Jika setelah tenggang waktu penawaran berakhir penarik juga tidak
membatalkan bilyet giro, maka ketentuan Pasal 6 ayat (3) SKBG pemindahbukuan oleh bank tertarik tetap dapat dilaksanakan sepanjang dananya masih tersedia. Jika dana sudah tidak ada, jalan yang ditempuh oleh pemegang adalah menagih langsung kepada penarik. Atau setelah penarik menyediakan dana pada bank tertarik, perintah pemindahbukuan melalui bilyet giro masih dapat dilaksanakan, asalkan masih dalam tenggang waktu 6 bulan setelah berakhirnya tenggang waktu penawaran (Abdulkadir Muhammad, 2003:239). Ketentuan pembatalan bilyet giro mencakup tentang:
a) Kemungkinan pengajuan permohonan pembatalan kepada Bank Indonesia yang mebawahi kantor Bank Umum sebagai tertarik.
b) Pedoman pengajuan permohonan pembatalan dan pemberian keputusan Bank Indonesia.
c) Pengenaan biaya administrasi permohonan pembatalan. d) Koreksi atas daftar hitam.
Permohonan pembatalan tersebut dapat diajukan Bank Umum yang bersangkutan kepada Bank Indonesia setempat yang mewilayahi apabila terjadi penolakan terhadap pengunjukan bilyet giro yang semestinya dananya tidak cukup, tetapi karena kesalahan administrasi, oleh tertarik terlanjur ditolak dengan alasan dananya tidak cukup. Bank Indonesia akan memproses permohonan pembatalan dan memberikan keputusannya.
7. Upaya Hukum Yang Dilakukan Dalam Bilyet Giro dan Cek Kosong a. Upaya Preventif
Secara umum dapat disepakati bahwa cek itu adalah instrumen surat berharga yang melibatkan 3 (tiga) pihak, yaitu: penarik (drawer), tertarik (drawee) dan penerima (payee) dimana drawer memerintahkan kepada drawee untuk melakukan pembayaran sejumlah uang tertentu kepada payee (pihak tertentu atau pengganti atau pembawa) ada suatu saat tertentu, dan ditandatangani oleh drawer. Yang istimewa, dan ini yang membedakan cek dengan surat berharga jenis wesel (bill of exchange) adalah bahwa drawee dari suatu cek selalu sebuah bank. Sedangkan di sisi lain, drawee dari suatu wesel dapat terdiri dari indjvidu perorangan atau badan hukum.
Bilyet giro di pihak lain adalah perintah untuk melakukan pemindahbukuan, dan bukan perintah untuk melakukan pembayaran, dari rekening nasabah penyimpan dana ke rekening pihak lain tertentu yang namanya dan nomor rekeningnya
disebutkan dalam perintah pemindahbukuan tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa (a) jika seorang pemegang cek secara langsung dapat mencairkan dana sejumlah yang disebut dalam cek, pemegang bilyet giro hanya akan dapat menerima manfaat atas sejumlah uang yang disebutkan dalam bilyet giro dengan cara memindahbukukan dana tersebut ke rekening yang disebutkan oleh penerima bilyet giro; (b) Cek dapat dengan mudah dipindahtangankan, sedangkan bilyet giro tidak dirancang untuk dapat dipindahtangankan dengan mudah. Disamping itu, jika bilyet giro dapat diterbitkan dengan tanggal mundur, penerbitan cek tidak dapat dilakukan dengan tanggal mundur karena berdasarkan peraturan perundang- undangan yang ada, cek tidak dapat disanggupi, tidak dibenarkan disebutkan adanya tanggal pembayaran cek, cek harus dapat dibayarkan pada saat diunjukkan.
Jika dilihat dalam prakteknya, banyak penerbitan cek yang dilakukan dengan tanggal mundur (misal dalam pembayaran cicilan atas leasing kendaraan bermotor atau kredit kepemilikan kendaraan bermotor), sedangkan bilyet giro juga sering diterbitkan secara blangko, tanpa menyebut nama penerima dan nomor rekening bank dari penerima, dan memberikan peluang kepada penerima untuk memindahtangankan haknya kepada pihak lain dengan mudah, karena penerima baru kemudian dapat mengisi sendiri nama dan nomor rekening banknya. Bahwa dalam prakteknya diketemukan cek yang diterbitkan dengan tanggal mundur (sama dengan ketentuan bilyet giro) dan banyak diketemukan juga bilyet giro yang diterbitkan secara blangko, sehingga dengan demikian mudah dipindahtangankan (sama dengan sifat cek).
b. Upaya Represif
Bank Indonesia diberi status sebagai "pemberi izin" untuk pendiri-pendiri usaha perbankan.Dalam hubungan inilah Bank Indonesia mempunyai "kemampuan" untuk bertindak terhadap bankir. Jika ingin memperoleh izin pendirian bank dan ingin tetap aaman izin tersebut berlaku, dengan ancaman manakala tidak dipenuhi maka izin itu sewaktu-waktu dapat dicabut oleh Bank Indonesia, maka tiada jalan lain harus patuh terhadap otoritas Bank Indonesia. Wewenang Bank Indonesia itu sepenuhnya hanya sebatas dalam hukum Administrasi Negara. Dengan kata "kemampuan" Bank Indonesia itu hanyalah dapat ditujukan kepada penyelenggara bank, dan tidak dapat dipergunakan untuk nasabah-nasabah bank dalam perbuatan-perbuatan perdata.
Demikian produk-produk perundang-undangan yang dilahirkan oleh Bank Indonesia hanya berlaku sebagai hukum administrasi untuk penyelenggara perbankan, dan tidak dapat mengikat nasabah-nasabah bank dalam perbuatan perdata. Oleh sebab itu jika kita ingin mengatur hukum surat-surat berharga mutlak harus dilakukan melalui undang-undang yaitu dengan peraturan perundang-undangan yang diciptakan di lembaga legislatif untuk memberikan kepastian hukum yang bersifat represif.