BAB II TINJAUAN UMUM
C. Tinjauan Umum Tentang Hipertensi
20
rehabilitasi fisik/medis (seperti pemasangan protese), rehabilitasi mental (psychorehabilitation) dan rehabilitasi sosial, sehingga setiap individu dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berdaya guna.
C. Tinjauan Umum Tentang Hipertensi
21
Tabel 1.1. Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO – ISH Kategori Tekanan darah Tekanan darah
Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Normal-tinggi 130-139 85-89
Grade 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99 Sub-group: perbatasan 160-179 100-109 Grade 2 (hipertensi sedang) > 180 >110 Grade 3 (hipertensi berat) ≥ 140 < 90 Sub-group: perbatasan 140-149 < 90
Sumber: Suparto (2010)
Tabel 1.2. Klasifikasi Hipertensi Pada Anak-Anak dan Dewasa
Kelompok Normal Hipertensi Umur
>2 tahun < 104/70 > 112/74 3 - 5 tahun < 108/70 > 116/74 6 - 9 tahun 114/74 122/78 10 - 12 tahun 122/78 > 126/82 13 - 15 tahun 130/80 > 136/86 16 - 18 tahun 136/84 > 140/90 20 - 45 tahun 120-125/75-80 135/90 45 - 65 tahun 135-140/85 140/90-160/95
>65 tahun 150/85 160/90
Sumber : Battegay, dkk (2005) 3. Penyebab Hipertensi
Menurut Benson, dkk (2012), penyebab hipertensi yang sering kali diantaranya aterosklerosis (penebalan dinding arteri yang
22
menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah), keturunan, bertambahnya jumlah darah yang dipompa ke jantung, penyakit ginjal, kelenjar adrenal dan sistem saraf simpatis. Pada ibu hamil kelebihan berat badan, tekanan psikologis, stres dan ketegangan bisa menyebabkan juga hipertensi berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Hipertensi esensial (hipertensi primer atau idiopatik) adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya, hal ini ditandai dengan terjadinya peningkatan kerja jantung akibat penyempitan pembuluh darah tepi. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk dalam kelompok ini. Penyebabnya adalah multifaktor, terdiri dari faktor genetik, gaya hidup dan lingkungan.
b. Hipertensi sekunder, merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit sistemik lain yaitu, seperti renal arteri stenosis, hyperldosteronism, hyperthyroidism, pheochromocytoma, gangguan hormon dan penyakit sistemik lainnya. Prevalensinya hanya sekitar 5-10% dari seluruh penderita hipertensi.
4. Gejala Hipertensi
Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara lain gejala ringan seperti :
1) Pusing atau sakit kepala,
2) Sering gelisah wajah merah tengkuk terasa pegal, 3) Mudah marah,
23 4) Telinga berdengung, 5) Sukar tidur,
6) Sesak napas,
7) Rasa berat ditengkuk, 8) Mudah lelah,
9) Vertigo,
10) Mata berkunang-kunang, dan 11) Mimisan (keluar darah dari hidung).
Sedangkan, menurut Crea (2008), gejala hipertensi adalah atau cemas dan kepala pusing, dada berdebar-debar dan lemas, sesak nafas, berkeringan dan pusing.
5. Faktor Risiko Hipertensi
Menurut Elsanti (2009), faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat dan tidak dapat dikontrol, antara lain:
a. Faktor Risiko Tidak Dapat Dikontrol:
1) Jenis Kelamin
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormone estrogen setelah menopause.
24 2) Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus, hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. Pada wanita, hipertensi sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause.
3) Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.
b. Faktor Resiko Dapat Dikontrol:
1) Merokok
Fakta otentik menunjukan bahwa merokok dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Kebanyakan efek ini
25
berkaitan dengan kandungan nikotin. Asap rokok (CO) memiliki kemampuan menarik sel darah merah lebih kuat dari kemampuan menarik oksigen, sehingga dapat menurunkan kapasitas sel darah merah pembawa oksigen ke jantung dan jaringan lainnya.
2) Status Gizi
Masalah kekurangan atau kelebihan gizi pada orang dewasa merupakan masalah penting karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara untuk mengukur status gizi seseorang. Seseorang dikatakan kegemukan atau obesitas jika memiliki nilai IMT ≥ 25.0. Obesitas merupakan faktor risiko munculnya berbagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes melitus.
6. Diagnosis Hipertensi
Menurut Yogiantoro M, (2014), diagnosis hipertensi esensial ditegakkan berdasarkan data anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis
26
yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderita hipertensi, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan, seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan lainnya, riwayat penyakit dalam keluarga, gejala yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas atau kebiasaan (merokok, konsumsi makanan, riwayat dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan dan lain-lain) (Yogiantoro M, 2014).
Dalam mendiagnosis seseorang terkena hipertensi dapat dilakukan dua cara, yaitu:
1) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan pengukuran tekanan darah pada penderita dalam keadaan nyaman dan relaks. Pengukuran dilakukan dua kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian diperiksa ulang dengan kontrolatera.
2) Pemeriksaan Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang penderita hipertensi terdiri dari tes darah rutin, glukosa darah (sebaiknya puasa), kolesterol total serum, kolesterol LDL dan HDL serum, trigliserida serum (puasa), asam urat serum, kreatinin serum, kalium serum, hemoglobin dan hematokrit, urinalisis dan elektrokardiogram. Pemeriksaan lainnya seperti pemeriksaan ekokardiogram, USG karotis dan femoral, foto rontgen, dan fundus kopi (Yogiantoro M, 2014).
27 6. Komplikasi Hipertensi
Hipertensi dapat berpotensi menjadi komplikasi berbabagai penyakit diantaranya adalah stroke hemorragik, penyakit jantung, penyakit arteri koronaria anuerisma, gagal ginjal dan ensefalopati hipertensi (Shanty, 2011).
a. Stroke
Stroke adalah kerusakan jaringan otak yang disebabkan karena berkurangnya atau terhentinya suplai darah secara tiba-tiba.
Jaringan otak yang mengalami hal ini akan mati dan tidak dapat berfungsi lagi. Kadang pula stroke disebut dengan CVA (Cerebrovascular Accident). Hipertensi menyebabkan tekanan yang lebih besar padda dinding pembuluh darah, sehingga dinding pembuluh darah menjadi lemah dan pembuluh darah rentan pecah.
Demikian pula dengan hemorrhagik stroke juga dapat terjadi pada bukan penderita hipertensi.
Pada kasus seperti ini biasanya pembuluh darah pecah karena lonjakan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan atau faktor emosional.
Pecahnya pembuluh darah di suatu tempat di otak dapat menyebabkan sel-sel otak yang seharusnya mendapat pasokanoksigen dan nutrisi yang dibawa melalui pembuluh darah tersebut menjadi kekurangan nutrisi yang akan mati. Darah yang
28
tersembur dari pembuluh darah yang pecah tersebut juga dapat merusak sel-sel otak yang berada disekitarnya.
b. Penyakit Jantung
Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri, sebagai akibatnya terjadi hipertropi ventrikel untuk meningkatkan kekuatan kontraksi.
Kebutuhan oksigen oleh miokardium akan meningkatkan akibat hipertrofi ventrikel, hal ini mengakibatkan peningkatkan beben kerja jantung yang pada akhirnya menyebabkan angina dan infark miokardium. Disamping itu juga secara sederhana dikatakan peningkatan tekanan darah mempercepat aterosklerosis dan arteriosklerosis.
c. Penyakit Arteri Koronaria
Hipertensi umumnya diakui sebagai faktor risiko utama penyakit arteri koronaria, bersama dengan diabetes mellitus. Plak terbentuk pada percabangan arteri yang kearah aterikoronaria kiri, arteri koronaria kanan dan agar jarang pada arteri sirromflex.
Aliran darah kedistal dapat mengalami abstruksi secara permanen maupun sementara yang disebabkan oleh akumulasi plak atau pengumpulan.
Sirkulasi kolateral berkembang di sekitar obstruksiarteromasus yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi ke miokardium.
Kegagalan sirkulasi kolateral untuk menyediakan suplai oksigen
29
yang adekuat ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria.
d. Pelebaran Pembuluh Darah (Aneurime)
Pembuluh darah terdiri dari beberapa lapisan, tetapi ada yang terpisah sehingga memungkinkan darah masuk. Pelebaran pembuluh darah bisa timbul karena dinding pembuluh darah aorta terpisah atau disebut aorta disekans. Kejadian ini dapat menimbulkan penyakit aneurisme dimana gejalanya adalah sakit kepala yang hebat, sakit di perut sampai ke pinggang belakang dan ginjal. Aneurisme pada perut dan dada penyebab utamanya pengerasan dinding pembuluh darah karena proses penuaan (aterosklerosis) dan tekanan darah tinggi memicu timbulnya aneurisme.
D. Tinjuan Umum Tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) 1. Pengertian Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup (Kemenkes RI, 2016).
30
2. Tujuan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) a. Tujuan Umum
Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk berperilaku sehat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.
b. Tujuan Khusus
1) Meningkatkan partisipasi dan peran serta masyarakat untuk hidup sehat.
2) Meningkatkan produktivitas masyarakat.
3) Mengurangi beban biaya kesehatan.
3. Ruang Lingkup Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) Kegiatan utama yang dilakukan dalam rangka GERMAS pada tahun 2016 adalah peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan edukasi hidup sehat.
Fokus kegiatan GERMAS pada tahun 2017 ada tiga yaitu : a. Peningkatan Aktivitas Fisik
Tubuh manusia diciptakan Tuhan untuk bergerak, agar manusia dapat melakukan aktivitas. Aktivitas fisik yang teratur dan menjadi satu kebiasaan akan meningkatkan ketahanan fisik. Aktivitas fisik dapat ditingkatkan menjadi latihan fisik bila dilakukan secara baik, benar, teratur dan terukur.Latihan fisik dapat meningkatkan ketahanan fisik, kesehatan dan
31
kebugaran. Latihan fisik yang dilakukan dengan mengikuti aturan tertentu dan ditujukan untuk prestasi menjadi kegiatan olahraga.
Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan ketahanan fisik,kesehatan dan kebugaran masyarakat. Selain itu sasaran kegiatan adalah seluruh masyarakat terutama anak sekolah, ibu hamil, pekerja dan lansia.
b. Penyediaan Pangan Sehat dan Percepatan Perbaikan Gizi Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian vitamin, mineral yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan berperan sebagai antioksidan atau penangkal senyawa jahat dalam tubuh serta mencegah kerusakan sel. Serat berfungsi untuk memperlancar pencernaan dan dapat menghambat perkembangan sel kanker usus besar.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup turut berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula dan kolesterol darah.
Setiap orang dianjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400 gram perorang perhari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 gram perorang perhari bagi remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran
32
konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur.
Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran berperilaku hidup sehat melalui mengkonsumsi buah dan sayur bagi seluruh lapisan masyarakat. Adapun sasaran kegiatan ini adalah seluruh kalangan masyarakat.
c. Peningkatan Pencegahan dan Deteksi Dini Penyakit
Pemeriksaan/skrining kesehatan secara rutin merupakan upaya promotif preventif yang diamanatkan untuk dilaksanakan oleh bupati/walikota sesuai Permendagri no 18/
tahun 2016 dengan tujuan untuk: mendorong masyarakat mengenali faktor risiko PTM terkait perilaku dan melakukan upaya pengendalian segera ditingkat individu, keluarga dan masyarakat; mendorong penemuan faktor risiko fisiologis berpotensi PTM yaitu kelebihan berat badan dan obesitas, tensi darah tinggi, gula darah tinggi, gangguan indera dan gangguan mental; mendorong percepatan rujukan kasus berpotensi ke FKTP dan sistem rujukan lanjut.
Tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1) Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan mendeteksi faktor risik bersama yang menjadi penyebab terjadinya penyakit tidak menular terutama jantung, kanker, diabetes dan penyakit paru kronis
33
yaitu diet tidak sehat (kurang mengonsumsi sayur dan buah, mengonsumsi makanan tinggi garam, gula, lemak dan diet gizi tidak seimbang), kurang beraktifitas fisik 30 menit setiap hari, menggunakan tembakau/rokok serta mengonsumsi alkohol.
2) Mendorong dan menggerakkan masyarakat untuk melakukan modifikasi perilaku berisiko tersebut diatas menjadi perilaku hidup sehat mulai dari individu, keluarga dan masyarakat sebagai upaya pencegahan PTM.
3) Mendeteksi masyarakat yang mempunyai risiko hipertensi dan diabetes melitus serta mendorong rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk ditatalaksana lebih lanjut sesuai standar.
4) Mengurangi terjadinya komplikasi, kecacatan dan kematian prematur akibat penyakit tidak menular karena ketidaktahuan/keterlambatan untuk mendeteksi PTM utamanya hipertensi dan diabetes melitus pada tahap dini.
5) Mendorong dan menggerakkan masyarakat khususnya para ibu untuk memeriksakan diri agar terhindar dari kanker leher rahim dan kanker payudara dengan deteksi dini tes IVA/SADANIS.
34
Sasaran kegiatan ini adalah setiap individu/ penduduk usia
>15 tahun dan seluruh Desa/Kelurahan di setiap Kabupaten/
Kota. Selain itu, kegiatan pemeriksaan/skrining kesehatan secara rutin sebagai upaya pencegahan yang harus dilakukan oleh setiap penduduk usia >15 tahun keatas untuk mendeteksi secara dini adanya faktor risiko perilaku yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit jantung, kanker, diabetes dan penyakit paru kronis, ganguan indera serta gangguan mental.
E. Tinjauan Umum Tentang Variabel yang diteliti 1. Tinjauan Umum Tentang Niat
Menurut Albery & Munafo (2011), niat (intention) merupakan perilaku yang ditentukan oleh sikap, norma subjektif dan pengendalian perilaku yang disadari. Kecenderungan untuk memilih melakukan tindakan atau tidak, intensi (niat) ini ditentukan sejauh mana individu memilih untuk melakukan perilaku tertentu mendapat dukungan dari orang lain yang berpengaruh (Albery & Munafo, 2011).
Niat (intention) adalah kecenderungan untuk melakukan tindakan terhadap objek. Niat dianggap sebagai sebuah “penangkap” atau perantara antara faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku.
Niat juga mengindikasikan seberapa keras seseorang mempunyai kemauan untuk mencoba. Niat menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk melakukan sesuatu dari niat yang
35
berhubungan dengan perilaku selanjutnya. Niat berkaitan dengan keinginan terhadap suatu hal yang biasanya diikuti oleh tingkah laku yang mendukung keinginan tersebut (Chan, 1999).
Menurut Fishbein dan Ajzen (1980), niat terdiri dari empat elemen, yaitu:
1) Tingkah laku yang spesifik,
2) Objek target diarahkannya tingkah laku, 3) Situasi dilakukan tingkah laku,
4) Waktu dilakukannya tingkah laku.
2. Tinjauan Umum Tentang Promosi Kesehatan
Menurut Green dalam (Notoatmodjo, 2012), promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang direncanakan untuk memudahkan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Pada dasarnya tujuan utama promosi kesehatan adalah untuk mencapai 3 hal, yaitu :
1) Peningkatan pengetahuan atau sikap masyarakat, 2) Peningkatan perilaku masyarakat,
3) Peningkatan status kesehatan masyarakat.
Green juga mengemukakan bahwa perilaku ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu :
36
1. Faktor predisposisi (predisposising factors), yang meliputi pengetahuan dan sikap seseorang.
2. Faktor pemungkin (enabling factors), yang meliputi sarana, prasarana, dan fasilitas yang mendukung terjadinya perubahan perilaku.
3. Faktor penguat (reinforcing factors) merupakan faktor penguat bagi seseorang untuk mengubah perilaku seperti tokoh masyarakat, undang-undang, peraturan-peraturan dan surat keputusan.
3. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Umum dan Khusus Terhadap Penyakit-Penyakit Tertentu
Menurut Leavell dan Clark (1965), perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (general and specific protection) adalah upaya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan keterampilan individu untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain.
Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (general and specific protection) merupakan tindakan yang masih dimaksudkan untuk mencegah penyakit, menghentikan proses interaksi bibit penyakit pejamu-lingkungan dalam tahap prepatogenesis, tetapi sudah terarah pada penyakit tertentu. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang sehat akan tetapi memiliki risiko tertentu.
37
4. Tinjauan Umum Tentang Diagnosis Awal dan Perawatan Tepat Waktu
Menurut Leavell dan Clark (1965), diagnosis awal dan perawatan tepat waktu (early diagnosis and prompt treatment) merupakan tindakan menemukan penyakit sedini mungkin dan melakukan penatalaksanaan segera dengan terapi yang tepat.
Tujuan utama dari tindakan diagnosis awal dan perawatan tepat waktu adalah sebagai berikut :
1) Mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular dan tidak menular.
2) Mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat.
Diagnosis awal dan perawatan tepat waktu dapat dilakukan dengan cara skrining. Skrining yang dimaksud adalah pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya sehingga kita dapat mengetahui volume tekanan darah secara dini. Selain itu, diagnosis awal dan perawatan tepat waktu dilakukan pula karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di masyarakat. Bahkan kadang-kadang terdapat masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya.
38 F. Kerangka Teori
Gambar 1.1 Kerangka Teori Perilaku Pencegahan Hipertensi dari Theory Reasoned Action (TRA) (Fishbein & Ajzen, 1980), dan Teori Five Level of
Prevantion (Leavell & Clark, 1965) Kepercayaan
Keyakinan
Kepercayaan
terhadap keuntungan dan kerugian
Evaluasi terhadap hasil keuntungan dan kerugian
Norma Keyakinan
Percaya terhadap sikap orang lain untuk berperilaku
Motivasi untuk mematuhi sikap orang lain
Sikap
Norma Subjektif
Niat
Pre-Phatogenesis
Health Promotion
General &
Specific Protection
Early Diagnosis Promt Treatment
Phatogenesis
Disability Limitation
Rehabilitation
Perilaku