• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA PERBANKAN SYARIAH BRI SYARIAH KCP S.PARMAN MEDAN

Bab ini merupakan bab yang paling pokok dari penulisan skripsi ini, dalam bab ini akan diuraikan mengenai Prosedur Pemberian Perjanjian Pembiayaan Murabahah Pada BRI Syariah KCI.S.Parman Medan, Sejarah BRI Syariah KCI.S.Parman Medan, Prosedur Pemberian Perjanjian Pembiayaan Murabahah Pada BRI Syariah KCI.S.Parman Medan, Dampak adanya Pembiayaan Bermasalah yang disebabkan oleh nasabah dalam pembiayaan murabahah pada BRI KCI.S.Parman Medan, Hal yang menyebabkan nasabah melakukan pembiayaan bermasalah dalam perjanjian Murabahah pada BRI Syariah KCI.S.Parman Medan dan diakhiri dengan Langkah-langkah Pihak Bank tersebut untuk mencegah terjadinya Pembiayaan bermasalah dalam Perjanjian Murabahah.

Pada bab akhir ini, penulis akan merumuskan suatu kesimpulan dari pembahasan permasalahan yang dilanjutkan dengan memberikan beberapa saran yang diharapkan akan dapat berguna didalam praktek.

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP PEMBIAYAAN BERMASALAH PADA PERBANKAN SYARIAH

A. Gambaran Umum Perbankan Syariah

Atas dorongan kebutuhan masyarakat terhadap layanan jasa Perbankan Syariah, Bank Syariah pertama kali berdiri pada tahun 1992. Dari semenjak Tahun 1992 ini pemerintah menerapakan sisem dual banking system (Perbankan ganda).

Komitmen pemerintah dalam usaha pengembangan Perbankan Syariah baru mulai terasa pada tahun 1998 yang memberikan kesempatan yang luas pada Perbankan Syariah untuk berkembang.

Pada tahun berikutnya, kepada Bank indonesia (Bank central) diberi amanah untuk mengembangkan Perbankan Syariah di Indonesia. pengembangan Perbankan Syariah dilakukan dengan strategi pengembangan yang bertahap yag sesuai dengan Prinsip Syariah.

- Tahap pertama, dimasudkan untuk pengembangan industri (2002-2004) - Tahap kedua, melalui fase untuk memperkuat struktur industri Perbankan

Syariah (2005-2009).

- Tahap ketiga, Perbankan Syariah diarahkan untuk dapat memenuhi standar keuangan dan mutu pelayanan internasional (2010-2012).

- Tahap keempat, mulai terbentuknya integrasi lembaga keuangan Syariah (2013 2015).

- Dan pada tahun 2015, diharapkan Perbankan Syariah indonesia telah memiliki pangsa yang signifikan ikut ambil bagian dalam mengembangkan ekonomi indonesia yang mensejahterakan masyarakat luas.8

1. Pengertian Perbankan Syariah

8

Zainul Arifin Memahami Bank Syariah Lingkup Peluang Tantangan dan prospek Penerbit : Alvabet Anggota IKAPI Jakarta, November 2008 Hal. 115

Pengertian Perbankan Syariah menurut Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Pasal 1 memberikan penjelasan tentang Perbankan Syariah adalah Segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Sedangkan Dalam Kerangka Dasar Akuntansi Syariah, yang disusun oleh Dewan Standart Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia) , Dewan Syariah Nasional (MUI), Bank Indonesia, Departemen Keuangan dan Praktisi menjelaskan tentang Perbankan Syariah merupakan ketentuan hukum islam yang mengatur aktivitas umat manusia yang berisi perintah dan larangan, baik yang menyangkut hubungan interaksi vertikal dengan tuhan maupun interaksi horisontal dengan sesama makhluk9

Di sisi lain Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang mendorong dan mengajak masyarakat untuk ikut-aktif berinvestasi melalui berbagai produknya, sedangkan di sisi lain Bank Syariah aktif untuk melakukan investasi di masyarakat.

Prinsip Syariah yang berlaku dalam kegiatan umum (Transaksi Syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan Stakeholder entitas yang melakukan Transaksi Syariah.

9

Kegiatan usaha Perbankan Syariah pada dasarnya merupakan perluasan jasa perbankan bagi masyarakat yang membutuhkan dan menghendaki pembayaran imbalan yang tidak didasarkan pada sistem bunga, melainkan atas dasar Prinsip Syariah sebagaimana digariskan Syariah / hukum atau aturan-aturan ajaran agama Islam.

Bank Syariah dalam menjalankan operasinya tidak menggunakan sistem bunga sebagai dasar penentuan imbalan yang akan diterima atas pembiayaan yang diberikan dan atau pemberian imbalan atas dana masyarakat. Ini sangat bebanding tebalik sekali dengan Bank konvensional dimana setiap imbalan selalu dihitung dalam bentuk bunga. Tingkat bunga merupakan suatu aspek yang penting yang selalu terkait dengan jalannya sistem kegitan bank konvensional.

Sejak dulu,sistem bunga dalam melakukan suatu Transaksi sudah menjadi polemik dikalangan zaman filsafat yunani dan romawi. Banyak juga kalangan agama non muslim sepeti agama yahudi dan kristen yang melarang inplementasi sistem bunga.

Terlepas dari haram atau tidaknya sistem bunga, pada dasarnya banyak kelemahan yang terdapat pada perbankan konvensional dalam menerapkan sistem bunga. Tapi harus kita sadari juga, banyak kalangan masyarakat luas lebih tertarik memilih bunga bank daripada beriventasi. Salah satu pemicu masyarakat memilih sistem bunga penyebabnya adalah implikasi negatif sistem bunga bank tidak dirasakan langsung secara individual dalam waktu dekat. Implikasi negatif ini baru

akan dirasakan secara makro dalam jangka waktu yang lebih panjang dan kerusakan yang tiba-tiba.

Dengan adanya sistem bunga yang diterapkan di bank sebenarnya lama-lama akan menjebloskan diri kita sendiri ke jurang kehancuran di masa yang akan datang. Dengan demikian muncullah suatu sistem Perbankan Syariah yang menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat tentang dampak negatif bunga bank.

Terlepas dari haram atau tidaknya bunga bank, bunga bank mengakibatkan dampak negatif seperti antara lain adalah penyebab krisis ekonomi, menciptakan budaya malas dan memperlebar jurang sosial dan masih banyak penyebab lainnya.

Perkembangan akan manfaat Bank Syariah ternyata dirasakan juga oleh beberapa Negara Eropa , Amerika Serikat, Australia , Afrika dan Asia. Bahkan Singapura sebagai negara sekuler pun juga mengakomodasi sistem keuangan Syariah.

Menurut beberapa artikel yang penulis baca bank-bank raksasa seperti ABN,Amro, City bank, dan HSBC ternyata sudah lama menerapkan sistem Keuangan Syariah.dan ANZ Australia yang juga membuka Unit Syariah.

Menurut laporan the banker yang menyebutkan bahwa Bank Islam bukan hanya didirikan dan dimiliki oleh negara atau kelompok muslim saja, tetapi juga di Negara-Negara Non Muslim seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Luxemburg, Swiss, Denmark, Afrika Selatan, Australia, India, Srilangka, Filipina, Siprus, Virgin Island, Cayman Islam, dan Bahama.

Bahkan kajian mengenai Perbankan Syariah ini merambah sampai dengan beberapa universitas di negara-negara barat. Perhatian dunia barat akan ekonomi Syariah ini dikarenakan keunggulan doktrin dan sistem ekonomi Syariah. Banyak ekonom non muslim yang menaruh perhatian pada ekonomi Syariah dan memberikan rasa salut pada ajaran Syariah ini seperti Prof.Volker Ninhaus dari Jerman (Bochum university), William Shakpeare dan Rodney Wilson.10

Keberadaan sistem Perbankan Syariah saat ini dirasakan dapat memenuhi kebutuhan sebagian masyarakat yang tidak bersedia memanfaatkan jasa-jasa bank konvensional karena prinsip keyakinan atau kepercayaan. Pada dasarnya

Perkembangan Bank Syariah di indonesia dimasudkan antara lain menyediakan alternatif pelayanan kepada masyarakat baik dalam bentuk penyimpanan dana atau jenis-jenis lainnya maupun berupa pembiayaan yang dilakukan berdasrkan Prinsip Syariah. Adanya Produk Syariah memberikan tempat bagi masyarakat yang belum bisa menerima sistem bank konvensional disebabkan oleh karena hambatan keyakinan yang dianutnya.

Upaya pengembangan Perbankan Syariah di indonesia merupakan kegiatan yang mendasar dan memiliki dampak luas, bukan saja bagi perekonomian nasional tetapi juga kegiatan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu untuk mengembangkan Perbankan Syariah tersebut perlu diikutsertakan unsur-unsur yang dapat membantu perkembangan sistem Perbankan Syariah antara ahli Bankir Syariah, para ahli ekonomi, hukum dan Perbankan Islam, serta para ulama.

10

Agustianto Ekonomi Syariah Untuk Kepentingan Bangsa Penerbit: Harian Republika , Jakarta, Kamis 15 Januari ,2009 Hal.3.

produk pada Perbankan Syariah ini bersifat universal (umum), maksudnya tidak hanya dikhususkan untuk suatu masyarakat tertentu , meskipun prinsip operasi Bank Syariah ini didasarkan pada Syariah Islam yaitu hukum-hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.11

Di indonesia, regulasi mengenai Bank Syariah tertuang dalam Undang-Undang Perbankan Syariah yang baru yaitu Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 yang mana menjelaskan tentang Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya Bank Syariah terdiri atas Bank Umum Syariah, Unit Usaha Syariah dan Badan Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Baik dalam Undang Nomor 10 tahun 1998 maupun dalm Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 dijelaskan bahwa ‘Syariah’ adalah aturan berdasarkan hukum islam’.

Ketentuan mengenai Perbankan Syariah ini pada dasarnya didasarkan pada hukum islam yang mana dituangkan dalam suatu ketentuan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia(MUI) yang dikenal dengan ‘Fatwa Dewan Syariah Nasioanal’. Fatwa inilah yang dipergunakan sebagai referensi atau rujukan dalam melaksanakan kegiatan usaha yang dilakukan oleh Entinitas Syariah, termasuk Bank Syariah. Karena bahwa dalam hukum islam banyak mazhab banyak sumbernya, sehingga mana yang dipergunakan itu telah dilakukan pembahasan yang sangat mendalam oleh Majelis Ulama Indonesia (Dewan Syariah Nasional).

11

Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan Perbankan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia , Jakarta, 2005. Hal. 407

Walaupun ketentuan Perbankan Syariah bersumber dari hukum islam bukan berarti yang melaksanakan Bank Syariah termasuk nasabahnya hanya boleh beragama islam. Namun banyak juga Bank Syariah yang dikelola oleh non islam, dan memiliki nasabahnya non islam, dan harus meengikuti ketentuan-ketentuan dalam Perbankan Syariah ini sesuai Syariah dan islami.

Perbankan Syariah bersifat universal, artinya tidak diperuntukkan untuk golongan atau kalangan apa saja, tanpa membedakan suatu agama tertentu, semua masyarakat bisa masuk dan berinvestasi di dalam Bank Syariah ini, yang terpenting adalah setiap yang ingin berinvestasi didalalam perbankan syariah ini harus tunduk akan peraturan bank tersebut yang syarat akan nilai agamanya khusussnya syariat atau ajaran agama islam. ini salah satu juga menunjukkan eksistensi akan dunia Perbankan Syariah mendapat kemajuan yang sangat pesat. bahkan sejak zaman rasullullah pun dulu, rasul pun banyak mencontoh beberapa transaksi jual beli dengan non muslim.

2. Landasan Hukum Perbankan Syariah

Landasan Perbankan Syariah di Indonesia tidak lepas dari sejarah perkembangan Perbankan Syariah di indonesia. Perbankan Syariah perkembangan di indonesia melalui beberapa tahap priode yaitu :

1. Priode sebelum tahun 1992

Sebelum tahun 1992 di indonesia telah berdiri Bank Syariah dalam bentuk BPR Syariah, yaitu BPRS Mardhatillah, BPRS Berkah Amal Sejahtera, Al Mukaromah dimana sebagai pendiri adalah alumni ITB atau masjid salman(masjid dalam lingkungan kampus ITB Bandung). Pada priode ini BPRS didirikan sesuai dengan

perundang-undangan perbankan yang berlaku saat itu (Bank konvensional),dan tidak ada ketentuan yang mengatur tentang Bank Syariah disamping masyarakat yang belum memungkinkan untuk diajak untuk bertransaksi Syariah sehingga BPR Syariah tersebut mati secara pelan-pelan.

2. Priode tahun 1992 sampai dengan tahun 1998

Dalam priode ini lahir puluhan BPR Syariah dan satu Bank Umum Syariah, yaitu Bank muamalat indonesia. Pada priode ini Bank Syariah didirikan berdasarkan Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan.

Dalam undang-undang nomor 7 tahun 1992 ini tidak dibahas secara langsung, tentang Bank Syariah , hanya dalam pasal 6 huruf m dan pasal 13 huruf c yang mengatur tentang usaha Bank Syariah yaitu :

Usaha Bank Umum : ‘menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan daln peraturan pemerintah’(pasal 6 huruf m).

Usaha Bank Pembiayaan Rakyat : “ menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapakan dalam peraturan pemerintah’(pasal 13 huruf c) .

Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan tersebut pemerintah mengeluarkan dana ketentuan Perbankan Syariah yaitu:

a. Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 1992 tentang bank berdasarkan bagi hasil. Sehingga undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan dan peraturan pemerintah tersebut sebagai landasan hukum berdirinya Bank Umum Syariah

Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1992 tentang bank perkreditan rakyat bardasarkan bagi hasil. Sehingga undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan dan peraturan pemerintah tersebut sebagai landasan hukum bersirinya bank perkreditan rakyat dalam priode ini.

Pada priode ini tidak ada ketentuan lain kecuali ketentuan tersebut diatas, seperti peraturan bank indonesia, ketentuan tentang akuntansi dan sebagainya. Pada priode in masing Dewan Pengawas Syariah mengeluarkan fatwa masing-masing sehingga ketentuan Syariah BPR Syariah yang satu berbeda pula dengan fatwa yang dikeluarkan oleh DPS Bank muamalat indonesia.

Pada priode ini Bank Syariah dalam menjalankan kegiatan usaha dibidang Syariah sesuai kemampuan masing-masing , berdasarkan fatwa masing-masing Dewan Pengawas Syariah yang bersangkutan.

3. Priode tahun 1998 sampai dengan tahun 2008

Dari pengalaman dan kajian yang dilakukan ternyata Bank Syariah memiliki karakteristik yang berbeda dengan bank konvensional , maka undang-undang nomor 10 tentang perbankan telah disempurnakan disempurnakan dengan undang-undang nomor 7 tentang perbankan.

Dalam undang-undang nomor 10 tahun 1998 ketentuan-ketentuan Bank Syariah misalnya :

a. Dalam pasal 1 angka 13 disebutkan ‘Prinsip Syariah’ adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain antara bank dan pihak lan untuk penyimpanan dan /atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan usaha lainnya yang dinyatakan sesuai Syariah , antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah) atau barang modal berdasarkan prnsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau dengan adanya pemilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

b. pasal 6 huruf m “ menyediakan pembiayaan barang modal berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank indonesia.

c. masih banyak pasal-pasal yang mengatur tentang Perbankan Syariah.

Didalam undang-undang nomor 10 tahun 1998 telah banyak membahas tentang Perbankan Syariah, maka untuk itu pemerintah mencabut dua peraturan pemerintah tersebut di atas dan diganti dengan Peraturan Pemerintah nomor 30 tahun 1998. sebagai peraturan pelaksana bank indonesia sejak tahun 1999 banyak mengeluarkan peraturan yng mengatur tentang Bank Syariah. ketentuan-ketentuan ini

merupakan landasan hukum berdirinya Badan Pembiayaan Rakyat Syariah dan Bank Umum Syariah seperti Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah dan beberapa cabang syariah dari bank konvensional, seperti BRI syariah, BNI syariah, BTN syariah, Bank Jabar Syariah dan lain-lain.

4. Priode setelah tahun 2008

Mulai pada tahun 2008 ini terbentuklah peraturan khusus yang mengatur tentang Perbankan Syariah, dimana kebutuhan masyarakat akan adanya Perbankan Syariah ini terus meningkat semakin pesat, dan produk yang ditawarkan berbeda dengan bank konvensional. Untuk itulah pemerintah membuat suatu undang-undang khusus tentang Perbankan Syariah ini yaitu undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Ketentuan Pasal 69 undang-undang nomor 21 tahun 2008 ini menjelaskan:

“Pada saat undang-undang ini mulai berlaku, segala ketentuan mengenai Perbankan Syariah yang diatur dalam undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 10 thun 1998(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 tahun 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790) beserta peraturan pelaksanaannya dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini.”12

12

Wiroso Produk perbankan syariah Penerbit : LPFE Unisakti Jakarta , 2009 Hal. 44

Jadi meskipun undang-undang tentang Perbankan Syariah ini telah berdiri sendiri dan khusus, bukan berarti undang diatasnya tdak berlaku, undang-undang sebelumnya tetap juga berlaku, sepanjang tidak ada hal-hal yang bertentangan tentang Perbankan Syariah nomor 21 tahun 2008.

3. Fungsi Bank Syariah

Fungsi dasar bank adalah menyediakan tempat utuk menitipkan uang dengan aman dan menyediakan alat pembayaran untuk membeli barang dan jasa. Setiap bank tentu memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan pemenuhan kebutuhan bank itu sendiri, begitu juga dengan Bank Syariah juga tentu memiliki fungsi.

Yang mana fungsi tiap bank ada yang sebagai penghubung (intermediary) antara pihak yang kelebihan dana dan membutuhkan dana, dan lain-lain. Begitu pun juga dengan fungsi Bank Syariah. Disini penulis ingin menjelaskan beberapa fungsi dalam Bank Syariah.

Dalam undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah pasal 4 menjelaskan tentang fungsi Bank Syariah sebagai berikut :

1. Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat

2. Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi social dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.

3. Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).

Dari penjelasan di undang undang diatas tentunya fungsi pada Bank Syariah juga berbeda dengan perbankan konvensional, yang membedakannya dimana di dalam fungsi pada Bank Syariah ini kita melihat adanya 3 fungsi yaitu: manajer investasi, investor, jasa keuangan dan sosial. Ketiga fungsi ini akan penulis jabarkan satu persatu dalam skripsi penulis yang akan penulis uraikan sebagai berikut :

1. manajer investasi

Salah satu fungsi yang penting dalam Bank Syariah adalah manajer investasi, adalah bahwa Bank Syariah tersebut merupakan manajer investasi dari pemilik dana yang dihimpun, karena besar kecilnya pendapatan (bagi hasil) yang diterima oleh pemilik dan yang dihimpun sangat tergantung pada keahlian, kehati-hatian dan profesionalisme dari Bank Syariah.13

13

Sofyan Syafri Harahap, Wiroso, Muhammad Yusuf Akuntansi Perbankan Syariah Penerbit : LPFE Usakti Jakarta, 2004 Hal. 5

Fungsi ini pada prakteknya banyak yang tidak memahami, dan kebanyakan masih menggunakan paradigma dari bank konvensional. Penyaluran dana yang dilakukan Bank Syariah hendaknya mendapatkan hasil. Dan apabila investasi yang dilakukan Bank Syariah macet atau kurang lancar dalam hal ini, tentu sangat berpengaruh pada pendapatan yang diperoleh kecil dan pendapatan yang diterima pemilik dana pun juga kecil.

Besarnya dana atau investasi yang dilakukan oleh Bank Syariah bukanlah otomatis pendapatan bagi hasil besar yang diterima oleh pemilik dana yang dihimpun.

Bank Syariah dalam hal ini dapat mengelola investasi atas dana nasabah dengan mengunakan akad mudharabah.

2.investor

Dalam investor ini, Bank Syariah dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya dengan menggunakan alat investasi yang sesuai dengan Syariah. Keuntungan yang diperoleh dibagi secara proporsional sesuai nisbah yang disepakati antara bank dan pemilik dana.14

14

PAPSI Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia Penerbit :Ikatan akuntan Indonesia Jakarta, 2003 Hal .1

3. Jasa keuangan

Di dalam jasa keuangan ini, instrumen pada Perbankan Syariah yang tersedia bukan merupakan produk-produk yang ditawarkan Bank Syariah kepada nasabahnya, meainkan hanya merupakan instrumen keuangan yang dimanfaatkan Bank Syariah untuk manajemen likuiditasya untuk sementara dan berjangka pendek.

Instrumen pada Perbankan Syariah di indonesia yang tersedia ada 2 yaitu : sertifikat investasi mudharabah antar bank (SIMA) dan sertifikat wadiah bank indonesia(SWBI).

SIMA merupakan instrumen Keuangan Syariah yang diperjualbelikan di pasar uang atar Bank Syariah (PUAS) yang dikeluarkan oleh Bank Syariah yang kekurangan likuiditas. Sedangkan SWBI merupakan fasilitas yang disediakan oleh bank indonesia untuk Bank Syariah yang mempunyai kelebihan likuiditas sementara.15

B. Pembiayaan Bermasalah pada Bank Syariah

Pembiayaan adalah suatu tindakan atas dasar perjanjian yang dalam perjanjian tersebut terdapat balas jasa (prestasi dan kontra prestasi) yang keduanya dipisahlan oleh unsur waktu.

Bank sebagai lembaga keuangan yang bertindak mewakili pemerintah dalam memberikan fasilitas pembiayaan selalu mensyaratkan adanya jaminan. Hal ini dimaksudkan agar tercapai kepastian hukum.

Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan Perbankan Syariah ini, semakin banyak juga masalah yang timbul dari Perbankan Syariah ini salah satunya adalah masalah pembiayaan yang terus meningkat.

Meningkatnya pemberian pembiayaan adalah dikarenakan 2 alasan yakni yang pertama dilihat dari sisi internal, permodalan masih cukup kuat dan portofolio pembiayaan meningkat, sedangkan yang kedua adalah alasan eksternal bank adalah

15

semakin membaiknya prospek usaha nasabah. Namun juga tidak menutup kemungkinan terjadinya pembiayaan yang bermasalah atau kredit macet atas kredit yang diberikan16

Untuk mengetahui layak atau tidaknya, besar atau kecilnya pemberian kredit atau pembiayaan maka bank melakukan analisa fakor-faktor yang bisa

.

Salah satu dampak atau bahaya yang timbul dari pembiayaan bermasalah adalah tidak terbayarnya kembali pembiayaan tersebut, baik sebagian maupun seluruhnya dalam melakukan kegiatan usahanya. Disini bank harus mempunyai dana agar dapat menyalurkannya kepada masyarakat atau nasabah.

Yang membedakan antara pembiayaan dengan kredit adalah terletak pada sistemnya, dimana pada pembiayaan dikenal dengan sistem bagi hasil atau keuntungan. Sedangkan kredit dalam memberikan pinjaman itu menggunakan sistem bunga. Dalam hubungan islam hubungan pinjam-meminjam tidak dilarang, bahkan dianjurkan agar terjadi hubungan saling menguntungkan, yang pada gilirannya berakibat pada hubungan persaudaraan.

Dalam aplikasinya, sebelum bank merealisasikan kredit atau pembiayaan kepada nasabah terlebih dahulu bank melakukan analisa kredit atau pembiayaan setelah survey atas angunan usaha nasabah yang bersangkutan. Disini dapat dilihat oleh bank bagaimana kondisi usaha nasabah yang sebenarnya, apakah layak diberikan kredit atau pembiayaan terhadap nasabah yang bersangkutan.

16

M.Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek Buku Kesatu Penerbit : PT.Citra Aditya Bakti, Bandung 2002 Hal.10

Dokumen terkait