• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa

Dalam dokumen Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa (1) (Halaman 43-50)

BAB 4 ANALI SI S PENYEDI A BARANG/ JASA

4.2. Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa

jasa. Di bawah ini akan dijelaskan alat bantu atau alat analisa tersebut :

4.1. Supplier Perception Model ( SPCM)

Supplier perception model, adalah alat bantu yang digunakan untuk menganalisa motivasi atau ketertarikan penyedia barang/ jasa terhadap pengadaan yang akan dilakukan.

SPCM adalah m odel yang m enggam bar kan pandangan/ per sepsi/ ketertarikan penyedia barang/ jasa terhadap organisasi/ instansi pembeli. Persepsi ini didorong oleh nilai pengadaan dan tingkat ketertarikan/ motivasi penyedia barang/ jasa dalam menawarkan barang/ jasanya.

4.2. Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa 4.3. Hubungan yang Sesuai Ant ara SPM dan SPCM 4.1. Supplier Percept ion M odel ( SPCM)  

 Daya t arik organisasi/ inst ansi pembeli di mat a penyedia barang/ jasa dapat dikarenakan oleh :

 Apakah strategi usaha organisasi/ instansi pembeli dengan penyedia barang/ jasa sejalan?

 Apakah penyedia barang/ j asa m erasa nyam an m enj adi penyedia barang/ jasa di organisasi/ instansi pembeli tersebut?

kepada para penyedia barang/ jasa?

 Apakah menjadi penyedia barang/ jasa di organisasi/ instansi tersebut memberikan keuntungan lain (reputasi, menaikan kredibilitas penyedia dan lain-lain)?

   

Persepsi penyedia barang/ j asa t erhadap organisasi/ inst ansi pembeli berdasarkan besarnya nilai pendapatan

Tabel 4.1 Tabel Persepsi Penyedia

Nilai Pengadaan Terhadap Persentase Pendapatan

Penyedia

Persepsi Penyedia Terhadap Pembeli

Di atas 15% High/Tinggi (H)

5% s/d 15% Moderately High/Sedang (M)

0,8% s/d 5% Low/Rendah (L)

Di bawah 0,8% Negligible/Diabaikan (N)

Tabel di atas memperlihatkan semakin besar nilai pembelian terhadap penyedia barang/ jasa semakin tinggi tingkat ketertarikan penyedia barang/ jasa terhadap organisasi/ instansi pembeli.

   

Persepsi penyedia barang/ j asa ini dapat dikat egorikan sebagai berikut :

Persepsi penyedia barang/ jasa dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) kategori yaitu : kategori marginal, kategori exploit, kategori develop dan kategori core. Keempat kategori ini memberikan gambaran karakteristik dan motivasi masing-masing penyedia barang/ jasa terhadap organisasi/ instansi pembeli.

• Kategori marginal

Penyedia barang/ jasa pada kategori ini, memiliki kondisi atau karakteristik sebagai berikut :

° Motivasi penyedia barang/ jasa rendah.

° Tingkat prioritas menjual ke organisasi/ instansi pembeli di sisi penyedia barang/ jasa rendah.

° Posisi tawar-menawar organisasi/ instansi pembeli rendah.

° Potensi pengembangan usaha bagi penyedia barang/ jasa kecil.

atau serba ada. Pada umumnya penyedia barang/ jasa jenis ini mengikuti pelelangan apa saja dan mengambil barang dari sumber diatasnya misalnya distributor atau pabrikan.

• Kategori exploit

Penyedia barang/ jasa pada kategori ini, memiliki kondisi atau karakteristik sebagai berikut :

° Nilai pembelian terhadap penyedia barang/ jasa besar tapi penyedia barang/ jasa tidak tertarik membangun kerjasama jangka panjang dengan organisasi/ instansi pembeli.

° Tidak ada langkah-langkah khusus yang ditempuh penyedia barang/ jasa untuk membuat organisasi/ instansi pembeli menjadi klien utama.

° Jika penyedia barang/ jasa paham dengan posisinya, mereka cenderung menaikkan harga jualnya.

Penyedia barang/ jasa kategori ini adalah penyedia yang memiliki barang/ jasa atau dapat menyediakan barang/ jasa yang sifatnya masih standar/ umum. Contohnya seperti grosir, distributor atau pabrikan. Dan untuk jasa/ jasa lainnya seperti konsultan pelaksana pada proyek konstruksi, katering, penyediaan tenaga kerja dan lain-lain. Karena barang/ jasa yang disediakan bersifat umum at au st andar sehingga banyak penyedia yang dapat menyediakan barang/ jasa hal tersebut.

Pada kondisi ini penyedia barang/ jasa biasanya mencoba menawarkan berbagai promosi dan diskon dengan harapan akan mendapatkan volume pembelian dan keuntungan yang tinggi. Di sisi lain, karena penyedia kategori ini cukup banyak, sehingga akan terjadi kompetisi yang tinggi.

Pen y ed ia p ad a k elom p ok in i b elu m menganggap perlu membina jangka panjang at au hubungan khusus kar ena j um lah pem beli at au pot ensi pem belinya j uga banyak.

sebagai berikut :

° Nilai transaksi bisnis dengan penyedia barang/ jasa ini kecil, tetapi mereka senang menjadi penyedia barang/ jasa di organisasi/ instansi pembeli.

° Penyedia barang/ j asa siap meluangkan w akt u dan biaya unt uk membangun kerjasama jangka panjang dengan organisasi/ instansi pembeli.

° Penyedia di kuadran ini sangat ideal untuk pengembangan hubungan kerja jangka panjang.

Contoh penyedia pada kategori ini adalah penyedia yang memiliki produk yang khusus atau tidak standar. Produk khusus ini membuat posisi penyedia barang/ jasa sangat spesifik dan tidak dapat diikuti oleh banyak penyedia barang/ j asa lainnya. Cont ohnya sepert i penyedia yang memproduksi sparepart khusus, atau barang-barang yang didesain sesuai kebutuhan pembeli, tetapi nilai unitnya tidak terlalu mahal.

Untuk jasa contohnya seperti instruktur/ konsultan materi pelatihan PBJ/ I SO/ HSE dan lain-lain. Karena kekhususan barang/ jasa yang disediakan oleh penyedia atau barang/ jasa tersebut menjadi bisnis utama penyedia sehingga penyedia berusaha membangun relasi yang kuat dengan pembeli. Hal ini dilakukan selain unt uk m enj aga t ingkat pendapatan juga untuk menjamin kelangsungan hidup penyedia barang/ jasa.

• Kategori core

Penyedia barang/ jasa pada kategori ini, memiliki kondisi atau karakteristik sebagai berikut :

° Kebutuhan organisasi/ instansi pembeli sudah merupakan bisnis inti dari penyedia barang/ jasa.

Cont oh penyedia bar ang/ j asa kat egor i ini adalah penyedia yang memproduksi barang atau menyediakan jasa yang khusus yang nilainya besar yang tidak dapat disediakan oleh banyak penyedia barang/ jasa yang lain. Biasanya penyedia jenis ini menguasai teknologi khusus atau tinggi yang tidak dikuasai banyak penyedia barang/ jasa.

Contohnya seperti pabrikan pembuat pipa khusus pengeboran, penyedia alat-alat berat (konstruksi atau lain sebagainya), peralatan laboratorium khusus dan lain-lain. Untuk jasa/ konstruksi contohnya seperti perusahaan penyedia jasa pengeboran, pembuatan jalan layang atau bangunan berlantai tinggi.

Kompetisi pada kelompok ini rendah sehingga pembeli biasanya melakukan pendekatan khusus dalam melakukan pengadaan. Dari sisi penyedia karena tidak banyak pembeli yang akan membeli barang/ jasa mereka, sehingga penyedia akan mengusahakan untuk mendapatkan kontrak atau hubungan usaha yang jangka panjang.

  

Hubungan Antara Supply Positioning Model Dengan Supplier Per-ception Model

Or gan isasi/ in st an si pen gadaan h ar u s dapat m elaku kan an alisa dan menghubungkan antara kebutuhan dan kondisi pasar serta ketersediaan penyedia barang/ jasa sebelum menentukan metode pemilihan penyedia barang/ jasa serta jenis kontrak yang tepat.

Gambar 4.2 Hubungan Antara Supplier Perception Model dengan Supply Positioning Model

 Untuk barang/ jasa dengan kategori rutin, tersedia dua jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu penyedia kategori marginal dan

develop.

 Untuk barang/ jasa dengan kategori umum, tersedia dua jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu penyedia kategori exploit dan

develop.

 Untuk barang/ jasa dengan kategori khusus, hanya tersedia satu jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu kategori develop.

 Untuk barang/ jasa dengan kategori kritikal, hanya tersedia satu jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu kategori core.

   

Pengaruh dari Supplier Perception Model

Tabel di baw ah ini memperlihat kan sikap at au hubungan yang harus dikembangkan di sisi pembeli setelah mengetahui bagaimana posisi pembeli dan sikap penyedia barang/ jasa terhadap pengadaan yang dilakukan.

Tabel 4.2 Supplier Perception Model

Pada Tabel 4.2 diperlihatkan bahwa sikap pembeli harus melihat kondisi atau persepsi penyedia barang/ jasa. Hal ini diperlukan agar tujuan proses pengadaan mencapai tujuannya dengan baik.

   

Kerangka dalam Strategi Pengadaan

Dari kedua alat bantu analisa supply positioning model dan supplier perception model terlihat bahwa :

Persepsi (Daya Tarik) Penyedia Barang/Jasa Terhadap Pengadaan

Organisasi/Institusi

Sikap/Hubungan yang Dikembangkan Pembeli

Rendah Jadi pembeli yang baik

Sedang – Tinggi Buat hubungan menuju kontak yang lebih besar

Sedang – Tinggi Buat hubungan jangka panjang

Kompetisi/ pasar ideal terjadi pada kondisi leverage, karena nilai pembelian tinggi dan resiko pengadaan rendah sehingga banyak tersedia penyedia barang/ jasa. Kondisi ini akan memungkinkan t erj adinya persaingan/ kom pet isi yang akan m engakibat kan

  

Strategi Menuju Leverage

Bagaimana meningkatkan nilai pengadaan?

° Mengelompokkan permintaan/ pemaketan yang sama menjadi satu kontrak pengadaan.

° Menggabungkan permintaan barang/ jasa dari beberapa unit kerja/ usaha.

° Beberapa organisasi/ instansi membeli barang/ jasa yang sama secara bersamaan (secara nasional).

Sebagai contoh dalam pengadaan kendaraan bermotor dan obat-obatan, saat ini. Bagi penyedia barang/ jasa secara volume, nilai pengadaan ini menjadi sangat besar dan sangat menarik untuk dikompetisikan.

Bagaimana menurunkan resiko?

° Periksa spesifikasi barang/ jasa untuk menstandarisasikan barang/ jasa yang dicari.

° Mencari sumber atau penyedia barang/ jasa baru.

° Membantu meningkatkan kemampuan penyedia barang/ jasa

Gambar 4.3 Strategi Menuju Leverage

Contoh inisatif ini adalah dengan mempelajari kerumitan dari barang/ jasa yang akan dibeli. Dengan mengetahui ini usahakan melakukan pemecahan atau mengumpulkan barang/ jasa yang bisa distandarkan. Jika pada barang/ jasa dengan kategori bottleneck tersebut bisa masuk menjadi barang/ jasa dalam kuadran marginal sedangkan pada kategori core dapat menjadi barang/ jasa kategori umum.

 Tipe atau potensi hubungan antara penyedia barang/ jasa untuk pengadaan barang/ jasa tertentu akan sangat berhubungan dengan jenis kontrak yang akan dibuat.

 Gambar 4.4 memperlihatkan jenis hubungan dari kiri yang paling lepas/ jarang/ rendah (loose) hingga kekanan yang pal-ing terikat/ dekat/ dalam (deeper).

 Parameter yang menentukan perubahan dari kontinum paling kiri kekanan adalah naiknya resiko karena organisasi/ instansi pembeli mulai membeli barang/ jasa dengan nilai dan resiko yang lebih tinggi.

Gambar 4.4 Hubungan antara Pembeli dan Penyedia

Pada Perpres 54/ 2010 hubungan yang paling kiri seperti pembelian langsung yang buktinya cukup dengan kuitansi, kemudian bergerak ke kanan hanya dengan SPK (surah perintah kerja) dan semakin ke kanan diperlukan hubungan yang lebih kuat dan formal dalam bentuk kontrak payung dengan waktu yang lebih panjang.

   

Hubungan Spot Purchase (Sekali Beli/ Beli Putus) Hubungan antara pembeli dan penyedia barang/ jasa yang pal-ing sederhana, palpal-ing renggang atau hanya sekali transaksi. Pada hubungan ini kondisi yang diinginkan at au dasar

4.2. Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa 4.3. Hubungan

Dalam dokumen Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa (1) (Halaman 43-50)

Dokumen terkait