• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa (1)"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGADAAN

(2)
(3)

0.1 Modul Pelatihan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah ... v

0.2 Modul Strategi Pengadaan ... vi

0.3 Tuj uan ... vii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Pengertian dan Definisi ... 3

1.2. Mengapa Stategi Pengadaan Perlu Dilakukan? ... 7

1.3. Ruang Lingkup Penerapan Strategi Pengadaan ... 7

1.4. Para Pihak dalam Strategi Pengadaan ... 9

BAB 2 TUJUAN DAN STRATEGI PENGADAAN ... 11

2.1. Penetapan Tujuan Pengadaan ... 11

2.2. Analisis SWOT - Alat Bantu PenetapanTujuan ... 12

2.3. Value For Money Model (Mengukur Pencapaian Tujuan) ... 16

2.4. Menselaraskan Tujuan Pengadaan dan Program kerja Pemerintah. ... 19

BAB 3 ANALI SA BESARAN BELANJA, RESI KO DAN PRI ORI TAS PENGADAAN ... 21

3.1. Supply Positioning Model (SPM) ... 21

3.2. Penentuan Prioritas Pengadaan ... 26

BAB 4 ANALI SI S PENYEDI A BARANG/ JASA ... 33

4.1. Supplier Perception Model (SPCM) ... 33

4.2. Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa ... 40

4.3. Hubungan yang Sesuai Antara SPM dan SPCM ... 44

BAB 5 DORONGAN DAN BATASAN PENERAPAN STRATEGI PENGADAAN ... 47

5.1. Reformasi Pengadaaan ... 47

5.2. Batasan Penerapan Strategi Pengadaan ... 50

5.3 Tantangan dan Usaha Perubahan ... 57

BAB 6 PENERAPAN STRATEGI PENGADAAN ... 59

6.1. Penerapan Strategi Pengadaan Berdasarkan Jenis Barang/ Jasa ... 59

(4)

Gambar 1.1 Hubungan Visi, Misi dan Strategi ... 3

Gambar 1.2 Proses Pengadaan pada Perpres 54/ 2010 ... 5

Gambar 1.3 Strategi Pengadaan ... 5

Gambar 1.4 Strategi Organisasi dan Strategi Pengadaan ... 6

Gambar 2.1 Contoh Analisis SWOT dan Pilihan Strategi ... 13

Gambar 2.2 Analisis SWOT Sebagai Alat Bantu Penetapan Strategi ... 14

Gambar 2.3 Keselarasan Rencana Jangka Menengah Nasional, Renstra dan Pengadaan ... 19

Gambar 3.1 I lustrasi Sumbu X dan Sumbu Y... 21

Gambar 3.2 Supply Positioning Model... 22

Gambar 3.3 Supply Positioning Model Dalam Kuadran ... 23

Gambar 3.4 Supply Positioning Model Barang Berdekatan ... 26

Gambar 3.5 Pendekatan Klasifikasi ABC ... 27

Gambar 3.6 Klasifikasi ABC vs PI P ... 31

Gambar 3.7 Kategorisasi Prioritas ... 32

Gambar 4.1 Supplier Perception Model ... 33

Gambar 4.2 Hubungan Antara Supply Positioning Model dengan Supplier Perception Model... 37

Gambar 4.3 Strategi Menuju Leverage ... 39

Gambar 4.4 Hubungan antara Pembeli dan Penyedia ... 40

Gambar 5.1 Posisi Pengadaan dalam Pengelolaan APBN/ APBD ... 50

Gambar 5.2 Garis Besar Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah ... 50

Gambar 5.3 Pengadaan Melalui Swakelola ... 51

Gambar 5.4 Pengadaan Melalui Penyedia Barang/ Jasa ... 51

Gambar 6.1 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Routine... 59

Gambar 6.2 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Leverage... 61

Gambar 6.3 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Bottleneck ... 63

Gambar 6.4 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Critical... 65

Gambar 6.5 Kegiatan Membuat RUP ... 66

Gambar 6.6 Penerapan Strategi Pengadaan pada Perpres 54/ 2010 ... 68 Gambar 6.7 Bagan Alir Penyusunan RUP Barang/ Jasa Pemerintah Di Lingkungan

(5)
(6)

Tabel 2.1 Uraian Tujuan Pengadaan ... 11

Tabel 2.2 Contoh Penerapan Analisis SWOT ... 15

Tabel 2.3 Pembobotan Biaya (Contoh) ... 17

Tabel 2.4 Pembobotan Waktu (Contoh) ... 17

Tabel 2.5 Skor/ Bobot Nilai Manfaat ... 18

Tabel 2.6 Contoh Perhitungan Skor/ Bobot Nilai Manfaat ... 19

Tabel 3.1 Ringkasan Karakteristik Masing-Masing Kuadran ... 25

Tabel 3.2 Pendekatan Klasifikasi ABC ... 28

Tabel 3.3 Pendekatan Klasifikasi ABC (Setelah Diurutkan) ... 28

Tabel 3.4 Kriteria Sasaran Pengadaan ... 29

Tabel 3.5 Kriteria PI P (Potential I mpact on Performance) ... 30

Tabel 3.6 Klasifikasi ABC vs PI P ... 30

Tabel 3.7 Tabel Penentuan Prioritas ... 31

Tabel 3.8 Tabel Contoh Kasus Penentuan Prioritas ... 32

Tabel 4.1 Tabel Persepsi Penyedia ... 34

Tabel 4.2 Supplier Perception Model ... 38

Tabel 4.3 Hubungan antara SPM dan SPCM ... 44

Tabel 4.4 Potensi dan Resiko Kontrak ... 45

Tabel 5.1 Dasar Hukum Utama ... 52

Tabel 5.2 Dasar Hukum Terkait ... 52

Tabel 5.3 Prinsip dan Etika Pengadaan ... 53

Tabel 5.4 Jenis-Jenis Metode Pemilihan Penyedia Barang/ Jasa ... 55

Tabel 5.5 Jenis-Jenis Kontrak ... 56

Tabel 5.6 Perubahan Paradigma Pengadaan ... 57

Tabel 6.1 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Routine... 60

Tabel 6.2 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Leverage... 62

Tabel 6.3 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Leverage dengan Pertimbangan Switching Cost ... 63

Tabel 6.4 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Bottleneck ... 64

Tabel 6.5 Strategi untuk Barang/ Jasa Kategori Critical ... 66

(7)

Pemerintah

Kurikulum pelatihan berbasis kompetensi disusun berdasarkan hasil

analisis kompet ensi j abat an kerj a yang melibat kan para ahli yang

mempunyai pengalaman kerja (pelaku langsung) di bidang pekerjaan

yang dianalisis. Karena unit-unit kompetensi setiap bidang tugas sektor

pengadaan barang dan j asa sangat banyak, maka proses analisis

kompetensi jabatan kerja difokuskan pada jabatan kerja dan kompetensi

yang diprioritaskan.

Dalam rangka meningkatkan kompetensi para pelaku pengadaan barang

dan jasa pemerintah, LKPP telah mengembangkan standar kompetensi

k e r j a na siona l indone sia - pe nga da a n ba r a ng da n j a sa

pemerintah (SKKNI -PBJP). SKKNI -PBJP ini menggambarkan tingkat

kem am puan m elaksanakan (skill) , kem am puan m em aham i dan

menganalisa (knowledge) dan kemampuan untuk menampilkan sikap dan

tingkah laku kepada orang lain dalam melaksanakan tugas (attitude)

pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dipergunakan sebagai dasar

penyusunan kurikulum dan silabus kurikulum pelat ihan berbasis

kompetensi (KPBK) strategi pengadaan.

Pelat ihan ini akan memberikan penget ahuan dan kemampuan bagi

anggota pengguna anggaran (PA)/ KPA dan calon anggota KPA maupun

PPK dalam melakukan proses penyusunan strategi pengadaan sejak awal

sampai dengan selesai dan melaksanakan budaya kerja yang sesuai dengan

tuntutan pekerjaan.

0.2. Modul St rat egi Pengadaan

0.3. Tuj uan

(8)

Gambar 0.2 Posisi Modul Strategi Pengadaan

Modul ini terdiri dari 6 (enam) bab, dimulai dengan pengantar yang

menj elaskan lingkup modul st rat egi pengadaan, diikut i dengan

pendahuluan, kemudian pembahasan tentang penentuan tujuan dan

strategi pengadaan, analisa kebutuhan, resiko dan prioritas,

analisa penyedia barang/ j asa, kebij akan dan bat asan, sert a

Gambar 0.1 Desain Modul Pelatihan PBJP

MODUL

0.2. Modul Strategi Pengadaan

Modul ini disusun berdasarkan standar kompetensi kerja khusus

pengadaan barang/ jasa pemerintah dengan kode unit PR.10.01

tentang menetapkan strategi pengadaan barang/ jasa.

Unit ini berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan serta sikap

kerja yang diperlukan untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan

penetapan strategi pengadaan barang/ jasa pemerintah.

(9)

Gambar 0.3 Ruang Lingkup Modul Strategi Pengadaan

0.3. Tujuan

Perumusan t uj uan pelat ihan mengacu kepada pencapaian minimal

kompetensi yang ditentukan, dan indikator kompetensi yaitu : dalam

kondisi (K), mampu dan mau melakukan (X), sebanyak (Y) dengan kualitas

(Z) selesai dalam tempo (T). Tentang kondisi (K) yang diwarnai oleh

variabel-variabel tingkat produktifitas tenaga kerja dan latar belakang/

tingkat/ mutu pendidikan formal serta pengalaman kerja, maka penetapan

waktu/ lama dan metodologi pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi

peserta pelatihan dan tersedianya sarana pelaksanaan pelatihan.

0.3.1. Tujuan Umum

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta akan dapat melaksanakan strategi

pengadaan barang/ jasa, dengan mengikuti prinsip dasar & kebijakan

pengadaan, untuk masing-masing sifat pengadaan yang dilakukan.

0.2. Modul St rat egi Pengadaan

0.3. Tuj uan

(10)

mampu :

1. Dapat menjelaskan prinsip dasar pengadaan dan strategi pengadaan barang/

jasa di I ndonesia.

2. Dapat melakukan ident ifikasi analisis sw ot unt uk penyusunan st rat egi

pengadaan.

3. Dapat mengidentifikasi kerangka penyusunan strategi pengadaan barang/ jasa

berdasarkan supply positioning model.

4. Menj elaskan hubungan penyedia dan pem beli bar ang/ j asa t er m asuk

penyelarasan jenis kontrak untuk masing-masing pengadaan.

5. Dapat melakukan ident ifikasi dorongan dan bat asan penerapan st rat egi

pengadaan termasuk kaitan dengan Perpres 54/ 2010.

6. Dapat menerapkan pemilihan dan penyusunan RUP st rat egi pengadaan

berdasarkan jenis dan prosesnya.

(11)

PENDAHULUAN

Besarnya pengeluaran melalui pengadaan barang/ jasa dalam suatu organisasi/ instansi

terhadap total anggaran atau biaya bervariasi bergantung dari jenis organisasi/ instansi

tersebut (swasta, pemerintah atau organisasi nirlaba), nilai ini dapat berkisar antara 30%

-60% dari nilai pengeluaran organisasi/ instansi. Pada pengadaan pemerintah nilai ini dapat

berkisar antara 35% -40% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada perusahaan swasta kegiatan ini

dilakukan untuk pengadaan barang atau jasa lainnya dalam menghasilkan barang/ jasa

yang menjadi sumber penghasilan perusahaan. Hal ini akan menyebabkan tambahan

keuntungan perusahaan selain diperoleh dari tambahan hasil penjualan juga sangat

bergantung pada pengelolaan kegiatan pengadaan.

Pada organisasi/ instansi dimana nilai pengadaannya besar, pengadaan dianggap menjadi

salah satu profit centre. Dengan kata lain untuk menaikkan keuntungan salah satu usaha

yang dilakukan adalah melakukan pengadaan dengan tepat dan benar. Pengadaan menjadi

suatu kegiatan strategis dalam organisasi/ instansi yang harus dikelola dengan tepat dan

disesuaikan dengan visi dan misi organisasi/ instansi.

Paradigma baru yang saat ini berkembang memposisikan pengadaan menjadi suatu kegiatan

yang bukan rutin/ administatif tetapi menjadi kegiatan yang strategis. Kegiatan pengadaan

menjadi suatu kegiatan penting dalam memberikan nilai tambah pada organisasi/ instansi

baik bagi kepent ingan menaikkan keunt ungan, meningkat kan pelayanan maupun

meningkatkan efisiensi biaya.

Tabel di bawah ini memperlihatkan perbedaan paradigma lama dengan paradigma baru

tentang pengadaan :

No Perihal Paradigma Lama Paradigma Baru

1 Biaya Administrasi Tinggi Rendah 2 Harga Beli Tidak mempergunakan

harga pasar

Mendekati harga pasar (M ark et Driven) 3 Jumlah Paket

Pengadaan (Kontrak)

Banyak (Individual) Lebih Sedikit (Group/ Shared) 4 Pelaksanaan Transactional/

Clerical

Strategis 5 Metode Manual Memakai Alat Bantu

Elektronik (Procurem ent, e-Buying, P rocurem ent

Card, dan lain-lain) 6 Lingkup Kecil/Fungsional Luas, Bagian dari

(12)

pemerintah sehingga tujuan pengadaan menjadi tujuan bersama yang harus dicapai.

Beberapa batasan pada pengadaan pemerintah seperti keberpihakan pada Usaha Kecil

Menengah (UKM), memprioritaskan penyedia barang/ jasa dengan Tingkat Kandungan

Dalam Negeri (TKDN) yang t inggi unt uk membangun indust ri dan perusahaan

nasional, good governance, lindungan lingkungan menjadi tantangan tersendiri dalam

mewujudkan efisiensi dan efektifitas mencapai tujuan pengadaan.

Ketika menetapkan tujuan dan target pengadaan, kita akan menentukan apa yang

ingin dicapai misalnya, tingkat kualitas, inovasi barang/ jasa, jaminan keberlanjutan

pengadaan, kesiapan dan kualitas penyedia barang/ jasa, lamanya proses administrasi

pengadaan dan penghematan biaya yang dapat dilakukan dibandingkan dengan pengadaan

sebelumnya jika ada.

Memiliki strategi pengadaan berarti mengetahui cara untuk mencapai tujuan pengadaan

dan target di atas. Berbagai barang/ jasa karena berbeda nilai dan dampak atau resikonya

(13)

Gambar 1.1 Hubungan Visi, Misi dan Strategi

1.1.1. Pengertian Strategi

Strategi dalam sebuah organisasi/ instansi adalah cara atau usaha terbaik

yang dilakukan dalam menj alankan misi organisasi/ inst ansi unt uk

mencapai visi atau tujuan jangka panjang organisasi/ instansi.

Pada gambar di atas dijelaskan sebagai berikut :

Vi si: Kem an a o r g an i sasi / i n st an si ak an d i b aw a, menggambarkan keadaan yang ingin dicapai di masa depan,

sesuatu yang akan menjadi tujuan jangka panjang organisasi/

instansi.

M isi: Mendeskripsikan apa yang akan dilakukan dalam mencapai visi organisasi/ instansi tersebut.

St rat egi: Cara atau usaha terbaik yang dilakukan dalam mencapai tujuan baik jangka panjang maupun jangka pendek

organisasi/ instansi.

Strategi dalam konteks pembahasan modul ini akan dibagi menjadi 2

(dua) yaitu strategi umum (grand strategy) yang lebih bersifat pada

perencanaan dan strategi operasional yang bersifat lebih pada cara

pelaksanaan (implementation strategy).

1.2. M engapa St at egi Pengadaan Perlu Dilakukan?

1.3. Ruang Lingkup Penerapan St rat egi Pengadaan

(14)

barang/ jasa sebagai bagian dari fungsi dan tujuan pemerintah memberikan layanan kepada

masyarakat. Pengadaan ini dapat berbentuk pengadaan barang, pekerjaan konstruksi,

jasa lainnya atau konsultansi. Sumber dana pengadaan ini berasal dapat dari sumber

pendapatan negara seperti pajak, bagi hasil, pengelolaan aset/ sumber daya alam atau

pinjaman luar negeri, bantuan dan hibah.

Tidak seperti di perusahaan swasta dimana seluruh kegiatannya dilandasi dengan tujuan

mendapatkan keuntungan, pengadaan di sektor pemerintah lebih banyak pada akuntabilitas

publik dan transparansi manfaat hasil pengadaan (value for money). Pengadaan pemerintah

baik nasional maupun internasional saat ini ditantang untuk melakukan tata kelola (good

governance) yang baik dengan peningkatan efektifitas dan efisiensi, atau dengan kata lain

pemerintah dituntut menunjukan: value for money dari hasil pengadaan.

Pengadaan dilaksanakan dengan menerapkan prinsip umum

dan etika pengadaan. Keputusan diambil berdasarkan tujuan

yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, semua pihak

diberlakukan sama dan memiliki akses yang sama ke

pemerintah.

Tujuan utama pengadaan pemerintah adalah sebagai berikut:

1. Mendapatkan barang/ jasa dengan kualitas yang

baik, kuantitas yang tepat, waktu kirim yang tepat, harga kompetitif dan sumber

yang benar.

2. Meminimalisir biaya administrasi pengadaan.

3. Melakukan pengadaan dengan mengikuti prinsip dasar pengadaan yaitu : efektif,

efisien, transparan, terbuka, bersaing, adil, tidak diskriminatif, akuntabel dan

menenuhi kebijakan publik.

1.1.3. Pengertian Pengadaan Pemerintah Berdasarkan Perpres 54/

2010

Pengadaan barang/ jasa pemerintah yang selanjutnya disebut dengan pengadaan

barang/ jasa adalah kegiatan untuk memperoleh barang/ jasa oleh kementerian/ lembaga/

satuan kerja perangkat daerah/ institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan

(15)

terima pekerjaan/ barang. Pengadaan dapat dilakukan melalui sw akelola atau

melalui penyedia barang/ jasa dengan mengikuti prinsip, kebijakan dan etika

pengadaan.

Gambar 1.2 Proses Pengadaan pada Perpres 54/2010

1 .1 .4 . Pengert ian St rat egi Pengadaan Pemerint ah Berdasarkan

Perpres 54/ 2010

Strategi pengadaan adalah usaha terbaik yang dilakukan untuk mencapai tujuan pengadaan

dalam mendapatkan barang/ jasa yang tepat kualitas, tepat kuantitas, tepat w aktu,

tepat sumber dan tepat harga berdasarkan aturan/ prosedur, etika, kebijakan dan prinsip pengadaan.

Gambar 1.3 Strategi Pengadaan

“Dalam konteks pengadaan barang/ jasa pemerintah, tantangan terbesar saat ini adalah

bagaim ana m enyeim bangkan t unt ut an m elakukan ef isiensi dan kew aj iban

pemberdayaan usaha kecil menengah (penyedia barang/ jasa) yang mungkin belum

(16)

Mengingat pengadaan merupakan kegiatan yang menjadi salah satu kegiatan utama dalam

menjalankan roda K/ L/ D/ I sehingga tujuan pengadaan haruslah searah atau selaras dengan

tujuan atau program kerja K/ L/ D/ I.

Gambar 1.4 Strategi Organisasi dan Strategi Pengadaan

Gambar 1.4 di atas memperlihatkan pengadaan harus sesuai atau sinkron dengan visi,

misi, dan program kerja K/ L/ D/ I.

RUP dirancang sesuai dengan program kerja dan prioritas pencapaian tujuan serta

mempertimbangkan keterbatasan dana. Dalam pelaksanaan pengadaan dilakukan

usaha-usaha untuk mendapatkan barang/ jasa dengan cara yang tepat.

Di bawah ini diperlihatkan contoh salah satu hubungan visi, misi, program kerja dan

tujuan pengadaan SKPD (Dinas Pertanian RI ).

Visi

“Mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam pertanian,

hutan, kebun dan pembangunan peternakan yang berkelanjutan dan lestari”.

Misi

1. “Pemanfaatan sumber daya lahan pertanian, hutan dan pembangunan bidang

peternakan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat”

2. ....

Program Kerja

1. “Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian”

2. ....

Rencana Umum Pengadaan

1. Pengadaan konsultan pengelolaan paska panen,

pembuat perbaikan kemasan dan alat bantu promosi

(17)

kerja.

1.2. Mengapa Stategi Pengadaan Perlu

Dilakukan?

Strategi pengadaan perlu dilakukan karena :

 Untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan prioritas pengadaan dengan tepat dan benar.

 Untuk mengenal dan mengetahui persepsi penyedia barang/ jasa terhadap organisasi/ institusi pengadaan atau kondisi

kompetisi pasar yang berjalan.

 Untuk mengetahui jenis hubungan yang tepat antara organisasi/ institusi dengan penyedia barang/ jasa terhadap barang/ jasa

yang akan diadakan.

 Untuk dapat memilih atau menentukan jenis kontrak yang tepat dengan para penyedia barang/ jasa.

 Untuk dapat menentukan cara dan metode pengadaan yang paling tepat terhadap barang/ jasa yang diperlukan.

1.3. Ruang Lingkup Penerapan Strategi

Pengadaan

Strategi pengadaan dapat dilakukan pada tahap :

Perancangan kebijakan di LKPP

Keluarannya berupa aturan atau pedoman untuk melakukan

pengadaan barang/ jasa pemerintah dengan lebih strategis

dan efisien.

Contoh-contoh produk strategis tersebut antara lain :

 Kebijakan pengadaan langsung tanpa tender untuk barang/ jasa yang harga pasar/ kompetisi pasarnya telah

terjadi seperti pengadaan mobil, obat-obatan, sewa

hot el, gedung kant or dan kemungkinan beberapa

barang/ jasa lainnya ke depan. Produk kebijakan ini

m er upakan hasil dar i kaj ian pener apan st r at egi 1.2. M engapa

St at egi

1.1. Pengert ian dan Definisi

(18)

apakah akan mengganggu program UKM dan TKDN dan hal-hal lain

sehingga keputusan merupakan strategi pengadaan terbaik saat ini untuk

barang/ jasa tersebut.

 Kewajiban penerapan e-procurement pada tahun 2012 merupakan t erobosan pada peningkat an infrast rukt ur at au alat bant u unt uk

mendukung pengadaan yang lebih transparan, hemat waktu dan biaya

administrasi.

 Kewajiban membentuk dan melakukan pengadaan melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP) tahun 2014, merupakan insiatif sebagai implementasi

komitmen dalam menangani pengadaan dengan lebih profesional.

Tahap Pelaksanaan Pengadaan

Pada tahap pelaksanaan strategi pengadaan dilakukan pada pembuatan RUP

dan Kaji Ulang RUP dalam kegiatan:

 Mengidentifikasi kebutuhan barang/ jasa;

 Menganalisa keadaan pasar dan persepsi penyedia barang/ jasa;

 Membuat pemaketan;

 Menentukan metode pengadaan; dan

(19)

fungsinya adalah sebagai berikut :

Tabel 1.2 Para Pihak dalam Pengadaan Pemerintah

Tabel 1.2 di atas memperlihatkan para pihak yang terlibat dalam strategi

pengadaan, para pihak tersebut diharapkan dapat memahami modul

strategi pengadaan ini agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan

lebih efektif dan efisien atau “Being Efficient from Effectiveness”.

Keterangan PARA PIHAK

LKPP PA/KPA PPK Pejabat Pengadaan Tahapan Pembuat

Kebijakan

Perencanaan Persiapan Pelaksanaan

Persiapan Pemilihan

Penerapan kebijakan yang ada

Pembuatan RUP Kaji Ulang RUP Kaji Ulang Rencana Pemilihan Pengadaan

Dokumen Masukan

Masukan dari pelaku, Perkembangan teknologi dan metode pengadaan, sanggah dan lain-lain

Rencana Kerja K/L/D/I

RUP Rencana Pemilihan

Pengadaan

Proses yang Dilakukan

Review semua masukan atau kasus-kasus pengadaan dari seluruh K/L/D/I

Identifikasi kebutuhan, Analisa resiko dan prioritas, Analisa Penyedia Barang/Jasa dan Kompetisi Pasar, Penyusunan KAK.

Kaji Ulang: • Identifikasi

Kebutuhan, • Anggaran

Biaya, • KAK, • Penetapan

Spesfikasi dan HPS, • Penentuan

Jenis Kontrak.

Penetapan revisi sistem pengadaan terdiri dari :

• Sistem Pemilihan, • Metode

Penyampaian Dokumen, • Metode Evaluasi, • Penetapan

Metode Kualifikasi, • Penetapan

Tahapan Jadual Pengadaan. Keluaran Revisi atau

reformasi aturan pengadaan

RUP yang telah disusun berdasarkan prioritas

Rencana Pelaksanaan Pengadaan yang lebih realistis.

Dokumen Pengadaan, Dokumen Kualifikasi dan Dokumen

1.2. M engapa St at egi

(20)
(21)

TUJUAN DAN STRATEGI PENGADAAN

Sesuai dengan bab pendahuluan, strategi pengadaan adalah usaha

atau cara terbaik untuk mencapai tujuan pengadaan. Pada bab ini dijelaskan

lebih rinci tentang mendefinisikan tujuan pengadaan serta hubungan antara

tujuan dan strategi pengadaan.

2.1. Penetapan Tujuan Pengadaan

Dalam perencanaan pengadaan, t uj uan pengadaan adalah unt uk

mendapatkan barang/ jasa yang tepat kualitas, tepat kuantitas, tepat

waktu, tepat sumber dan tepat harga yang dijelaskan menjadi lebih

rinci sehingga setiap unsur tujuan tersebut menjadi lebih akurat dan

terukur.

No Tujuan

Pengadaan Kriteria Bagi Pembeli Contoh 1 Kualitas Fungsionalitas • Apakah barang/jasa diperoleh

memenuhi 100% kebutuhan? Adaptabilitas dan

Flexibilitas

• Berapa tinggi tingkat fleksibilitas

barang/jasa yang bisa diterima atau ditentukan?

Durasi • Berapa lama umur barang/jasa yang

diadakan?

Inovasi/Keunikan • Apakah tingkat

inovasi/keunikan/kebaruan produk diperlukan menjadi kriteria kualitas?

2 Kuantitas Jumlah • Jumlah yang diterima sesuai dengan kebutuhan?

• Apakah dikirim sekaligus atau secara

parsial?

3 Waktu Delivery/Penyelesaian • Berapa lama barang/jasa diterima/diselesaikan?

4 Sumber Kredibilitas & kompetensi • Apakah penyedia barang/jasa adalah perusahan yang kompeten dan dapat dipercaya serta tidak melanggar hukum?

Jaminan • Apakah penyedia barang/jasa dapat

menjamin hingga waktu yang ditentukan barang/jasa yang akan diadakan?

Maintenance/Customer

Service

• Apakah penyedia barang/jasa dapat

menjamin barang/jasa yang akan diadakan hingga waktu yang ditentukan?

5 Harga Value For Money • Apakah barang/jasa memberikan Value for Money terbaik?

Tabel 2.1 Uraian Tujuan Pengadaan

2.2. Analisis

2.4. M enselaraskan Tuj uan

Pengadaan dan Program Kerj a Pem erint ah

(22)

dasar dalam menentukan penilaian atau bobot pada tahap evaluasi

nantinya. Contoh pendefinisian tujuan/ kriteria :

1. Untuk menghasilkan kualitas listrik di gedung yang belum

memiliki hubungan listrik PLN, panitia pengadaan perlu membeli

Genset dengan kriteria utama : yang dapat hidup selama 24

jam terus menerus selama 1 (satu) tahun, hanya diperlukan

waktu berhenti selama 2 (dua) jam untuk rutin maintenance

setiap bulannya dan sanggup menahan tingkat beban kejut

(naik/ turun) hingga 60% dalam waktu 3 detik.

2. Untuk keperluan pembangunan proyek selama 3 (tiga) bulan

panitia memerlukan Genset dengan konsumsi BBM per jamnya

yang paling rendah.

Dari kedua kriteria di atas kita akan mendapatkan barang yang berbeda,

pada kriteria pertama yang diutamakan adalah : durasi/ ketahanan dan

fleksibilitas atau faktor teknis menjadi dominan. Sedangkan pada kriteria

kedua faktor harga yang menjadi dominan sedangkan faktor teknis tidak

terlalu diprioritaskan.

2.2. Analisis SWOT - Alat Bantu Penetapan Tujuan

Untuk melaksanakan pengadaan yang baik, maka diperlukan pembenahan

kepada organisasi pelaksananya, salah satu alat yang digunakan adalah

analisis SWOT. Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi keadaan

organisasi/ instansi. Dengan mengetahui kondisi internal organisasi/ instansi:

Strength (kekuatan) dan Weakness (kelemahan), serta kondisi eksternal:

Opportunity (kesempatan) dan Threat (ancaman), diharapkan kita dapat

merumuskan tujuan dan strategi organisasi/ institusi ke depan dengan

lebih baik.

Di bawah ini dijelaskan beberapa kegunaan analisis SWOT.

 Untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal (S dan W) dan

eksternal (O dan T) organisasi/ instansi dengan lebih tepat

dan akurat.

2.4. M enselaraskan Tuj uan

Pengadaan dan Program Kerj a Pem erint ah 2.1. Penet apan

(23)

 Unt uk m enget ahui kekuat an dan kelem ahan organisasi/ inst ansi dalam menentukan pencapaian tujuan jangka panjang dan jangka pendek.

 Untuk menetapkan strategi pencapaian tujuan jangka panjang (meraih peluang) atau jangka pendek (memperbaiki kelemahan).

Bagaimana melakukan analisis SWOT?

Gambar 2.1. Contoh Analisis SWOT dan Pilihan Strategi

 Biasanya beberapa personil kunci/ utama (Key Person) dalam organisasi/ instansi melakukan brainstorming, membuat semua daftar yang mungkin masuk dalam

kategori masing-masing S, W, O dan T organisasi/ instansi (ilustrasi pada Tabel

2.1).

 Daftar ini kemudian diperingkatkan sehingga keluar beberapa daftar yang pal-ing tepat menggambarkan keadaan organisasi/ instansi saat ini.

 Dari daftar S, W, O dan T tersebut dibuatlah tujuan jangka panjang dan jangka pendek organisasi/ instansi.

 Dari tujuan yang telah dibuat, disusun strategi operasional dan estimasi waktu pencapaian tujuan tersebut, dimana alternatifnya adalah :

 Strategi SO : strategi menggunakan strength atau menggunakan kekuatan untuk meraih peluang atau mencapai tujuan.

 Strategi ST : strategi menggunakan strength atau menggunakan kekuatan untuk menutupi atau mengatasi ancaman dalam mencapai tujuan.

(24)

kekurangan untuk mengatasi ancaman dalam pencapaian tujuan.

Gambar 2.2 Analisis SWOT Sebagai Alat Bantu Penetapan Strategi

CONTOH PENERAPAN

Suatu organisasi/ instansi dalam hal ini instansi Bappeda akan melaksanakan pengadaan

untuk pembangunan sistem informasi perencanaan pembangunan, dengan nilai anggaran

Rp. 200 juta, dimana keluaran yang ingin diperoleh berupa :

1. Sistem informasi berbasis website dan online.

2. Telah mengakomodir biaya online selama 1 tahun.

Maka Bappeda melakukan analisa sebagai berikut :

ANALI SI S FAKTOR I NTERNAL ORGANI SASI

1. Kekuatan (strength)

a. Memiliki anggaran pengadaan sebesar Rp. 200 juta.

b Menjadi salah satu program prioritas.

2. Kelemahan (weakness)

a. Belum memiliki staf/ pegawai yang memahami teknologi

informasi.

b. Belum memiliki infrastruktur pendukung yang memadai.

ANALI SA LI NGKUNGAN EKSTERNAL

3. Peluang (opportunity)

(25)

Keterangan

Peluang (Opportunity) Ancaman (Threats)

1 Konsultan Teknologi

Informasi telah banyak 1

Diperlukan pemutakhiran data dari setiap organisasi/instansi

2 Biaya pengembangan TI

semakin kompetitif 2

Terjadinya resistansi terhadap publikasi

informasi

Kekuatan (Strength) STRATEGI (SO) STRATEGI (ST)

1 Memiliki anggaran

pengadaan sebesar 200 jt

Dengan anggaran 200 jt dan banyak tersedia

konsultan TI, maka diharapkan mendapatkan

hasil pengadaaan yang baik

Dengan anggaran tersebut diharapkan pemutakhiran data dapat lebih cepat dan

uptodate

2 Menjadi salah satu program

prioritas

Kelemahan (W eak ness) STRATEGI (WO) STRATEGI (WT)

1

Belum memiliki staf/pegawai yang memahami teknologi

informasi

Konsultan TI agar mengajarkan kepada

pegawai yang akan menggunakan sistem tersebut secara maksimal

Pegawai yang telah mendalami sistem tersebut agar dapat memutakhirkan data secara lebih cepat 2

Belum memiliki infrastruktur pendukung

yang memadai

b. Terjadinya resistensi terhadap publikasi informasi.

Tabel 2.2 Contoh Penerapan Analisis SWOT

PI LI HAN ASUMSI STRATEGI

1. Dengan anggaran Rp. 200 juta dan banyak tersedia konsultan TI , maka

diharapkan didapatkan hasil pengadaan yang baik.

2. Konsultan TI agar mengajarkan kepada pegawai yang akan menggunakan sistem

tersebut secara maksimal.

3. Dengan anggaran tersebut diharapkan pemutakhiran data dapat lebih cepat

dan up to date.

4. Pegawai yang telah mendalami sistem tersebut agar dapat memutakhirkan

data secara lebih cepat.

Pada dasarnya pengadaan barang/ jasa adalah kegiatan jual beli dimana komponen

utamanya : adanya pembeli, adanya barang/ jasa yang akan dibeli dan adanya penjual.

Dalam konteks pengadaan barang/ jasa pemerintah, pembeli adalah K/ L/ D/ I , penjual

adalah penyedia barang/ jasa atau institusi K/ L/ D/ I itu sendiri dan barang/ jasa

adalah kebutuhan baik kebutuhan operasional maupun investasi yang dibiayai melalui

APBN/ APBD. Dalam konteks operasional normal pembeli selalu menginginkan suatu hasil

(26)

Dalam konteks pengadaan selain besarnya nilai barang/ jasa yang akan

diadakan perlu juga diperhitungkan biaya administrasi yang dikeluarkan

untuk melakukan pengadaan tersebut. Proses yang panjang dan tidak

efisien akan membuat biaya administ rasi pengadaan sangat t inggi.

Penerapan strategi pengadaan yang tepat selain akan mencapai tujuan

pengadaan dengan efisien j uga akan menekan biaya administ rasi

pengadaan. Biaya administrasi (akumulasi semua biaya tenaga/ sdm, alat

bantu dan material pendukung serta proses melakukan pengadaan itu

sendiri).

2.3.

Value For Money Model ( Mengukur

Pencapaian Tujuan)

Dalam konteks pengadaan pemerintah salah satu kriteria yang menyatakan

keberhasilan mencapai tujuan pengadaan adalah dari melihat nilai/ manfaat

yang dihasilkan oleh pengadaan itu sendiri.

Persamaan di bawah ini memberi gambaran semakin besar nilai V, semakin

besar nilai dalam mencapai tujuan pengadaan atau semakin dekat dengan

tujuan pengadaan yang direncanakan.

Dimana : V =Value (nilai, manfaat, kinerja)

Dari persamaan di atas terlihat bahwa V (value = nilai, manfaat, kinerja)

ditentukan oleh :

Q = Quality atau kualitas barang/ jasa yang dihasilkan,

SL = Service level (responsivenes, kinerja atau performance) Penyedia Barang/ Jasa,

T = Time (delivery time) atau penyelesaian pekerjaan, apakah tepat waktu atau tidak, dan

C = Cost atau biaya yang dipakai.

2.4. M enselaraskan Tuj uan

Pengadaan dan Program Kerj a Pem erint ah 2.1. Penet apan

(27)

panitia pengadaan).

Nilai V akan besar jika terjadi kombinasi mendapatkan : kualitas barang/ jasa yang baik,

penyedia yang responsif, waktu pekerjaan/delivery time yang cepat dan dengan harga

atau biaya terendah.

Untuk menggunakan rumus tersebut maka langkah-langkah adalah :

1. Mendefinisikan variabel dan bobot nilai.

2. Bobot nilai menggunakan skala prosentase (% ).

CONTOH

Akan dilaksanakan pengadaan pembangunan gedung sekolah dengan ketentuan sebagai

berikut :

1. Nilai anggaran Rp. 10 milyar.

2. Lama pengerjaan 200 hari kalender kerja (1 minggu, 5 hari kerja).

3. I ndikator kualitas : tersedianya gedung sekolah sesuai dengan spesifikasi teknis

(luas bangunan 400 m persegi, tinggi bangunan 4.5 meter, atap ....).

4. I ndikator penyedia : peralatan, tim, dan pola pengerjaan.

PEMBOBOTAN

1. Biaya

BIAYA BOBOT

6.000.000.000 - 7.000.000.000 100%

7.000.000.000 - 8.000.000.000 90%

8.000.000.000 - 9.000.000.000 80%

9.000.000.000 - 10.000.000.000 70%

WAKTU (HARI) BOBOT

120 - 140 100%

140 - 160 90%

160 - 180 80%

180 - 200 70%

Tabel 2.3 Pembobotan Biaya (Contoh)

2. Waktu

(28)

- Kualitas tembok .... % .

- Kualitas cat .... % .

- Kualitas atap .... % .

4. Performa

- Jumlah tim sesuai dengan ketentuan.

- Jumlah peralatan sesuai dengan ketentuan dan dalam keadaan baik.

Hasil Pengadaan :

- C = anggaran yang digunakan 8.5 miliyar, maka diberi skor 80 %

- T = pengerjaan selama 150 hari, maka diberikan skor 90 %

- Q = kualitas bangunan, berdasarkan pengamatan diberi skor 83 %

- SL= performa tim dan peralatan pendukung 85 %

Maka Nilai (value) dari kegiatan tersebut adalah :

V = Q x SL / (T x C) = 83 % x 85 % / (90 % x 80 % ) = 98 %

Dapat disimpulkan bahwa nilai kualitas yang dicapai dari pengadaan tersebut sebesar

98% , yang berarti dikategorikan baik.

No Variabel Skor (Nilai/Bobot Dapat Dirancang Sendiri)

1 Q Nilai 10, untuk kualitas memenuhi 100% sesuai spesifikasi.

Nilai 0 s/d 5, untuk yang tidak memenuhi spesifikasi.

2 SL Nilai 10, jika semua yang diminta atau dipersyaratkan telah dipenuhi.

Nilai 5, jika tidak memenuhi persyaratan.

3 T Nilai 10, jika 100% tepat waktu.

Nilai 5, jika terlambat 10 hari atau lebih.

4 C Nilai 10, jika harganya paling rendah.

Nilai 5, jika harganya paling tinggi.

Tabel 2.5 Skor/Bobot Nilai Manfaat

Formula ini juga dapat digunakan sebagai alat ukur atau kinerja masing-masing paket,

mengukur kinerja pengadaan masing-masing SKPD atau akumulasi pada seluruh K/ L/ D/ I

tersebut sudah mencapai tujuan atau belum. I su penyerapan yang tidak optimum juga

dapat dijadikan salah satu variabel (waktu) sehingga mengurangi nilai manfaat yang

(29)

tingkat pelayanan penyedia barang/ jasa diberi nilai dari yang paling jelek

0 hingga yang paling baik 10, waktu kirim (10) untuk tepat waktu dan

set iap ket erlam bat an per hari dikurangi 1, harga beli sesuai OE

mendapatkan nilai 5, setiap kenaikan atau penurunan 2% dari OE akan

mendapatkan penambahan atau penurunan 1 nilai.

Dari Tabel 2.3 di atas, terlihat bahwa penyedia A memberikan nilai manfaat

atau value for money yang lebih tinggi dari penyedia B.

2.4. Menselaraskan Tujuan Pengadaan dan

Program Kerja Pemerintah.

Gambar 2.3 di bawah memberikan ilustrasi bahwa pengadaan pemerintah

disusun sejalan dengan visi atau misi organisasi/ instansi yang bersifat

jangka panjang dan program kerja yang bersifat tahunan (jangka pendek).

Pengadaan menjadi bagian terpenting dalam mengelola APBN/ APBD

karena pengadaan adalah pintu keluar terbesar APBN/ APBD saat ini.

No. Kriteria Skor Penyedia A Skor Penyedia B

1 Kualitas Sesuai spesifikasi (10) Sesuai spesifikasi (10)

2 Service Level 8 Lokasi On-Time (8) 6 Lokasi On-Time (6)

3 Waktu Rata-rata keterlambatan 2 hari (8)

Rata-rata keterlambatan

1 hari (9)

4 Harga 4 % dibawah OE (7) 2 % dibawah OE (6)

V(Value)/Nilai 4480 3240

Tabel 2.6 Contoh Perhitungan Skor/Bobot Nilai Manfaat

Gambar 2.3 Keselarasan Rencana Jangka Menengah Nasional, Renstra dan Pengadaan

2.2. Analisis SWOT -Alat Bantu Penet apan Tuj uan

2.3. Value For Money Model ( Mengukur Pencapaian Tuj uan

2.4. M enselaraskan Tuj uan

Pengadaan dan Program Kerj a Pem erint ah

(30)

Diskusi Kelompok

1. Pilih salah satu instansi anda bekerja saat ini sebagai jenis organisasi/

instansi kelompok.

2. Buatlah Analisis SWOT organisasi/ instansi tersebut dan tujuan organisasi/

instansi 5 (lima) tahun ke depan.

3. Tentukan strategi yang diambil dalam mencapai tujuan organisasi/ instansi.

4. Buatlah program kerja organisasi/ instansi dalam mencapai tujuan tersebut.

5. Buatlah daftar prioritas pengadaan barang/ jasa terkait untuk mencapai tujuan

organisasi.

pengelolaan APBN/ APBD tersebut adalah sebagai berikut:

 Pembuatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah untuk periode 5 (lima)

tahun.

 Pembuatan Renstra (Rencana Strategis) K/ L dan pemerintah daerah membuat Renstra (Rencana Strategis) SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).

 Dari Renstra K/ L dan Renstra SKPD disusun Renja (Rencana Kerja) K/ L dan Renja (Rencana Kerja) SKPD yang berlaku untuk 1 (satu) tahun.

(31)

ANALI SA BESARAN BELANJA,

RESI KO DAN PRI ORI TAS

PENGADAAN

Agar memberikan nilai maksimal (best value for money) dalam pengadaan

barang dan jasa pemerintah, maka perlu diterapkan strategi yang tepat.

Strategi yang tepat akan menghasilkan barang/ jasa sesuai dengan tujuan

yang diinginkan. Dalam proses penentuan strategi pengadaan tersebut,

pertama diperlukan alat bantu untuk menentukan kategori barang/ jasa

yang dibeli, tingkat resikonya jika barang/ jasa tersebut tidak ada dan

membuat prioritas pengadaan dalam konteks penggunaan anggaran

terbatas.

3.1. Supply Positioning Model ( SPM)

Supply posit ioning model adalah alat bant u yang digunakan unt uk

mengidentifikasi kebutuhan pengadaan pada suatu organisasi/ instansi

sehingga dapat ditentukan prioritas pengadaan.

Model ini direpresentasikan dengan 2 (dua), yaitu sumbu X dan Y. Yang

memiliki arti sebagai berikut : 3.1. Supply

Posit ioning Model ( SPM)

Gambar 3.1 Ilustrasi Sumbu X dan Sumbu Y

 



Sumbu X : Jumlah/ Nilai Pengadaan per Tahun

Untuk Setiap Jenis Barang/ Jasa

Sumbu ini merepresentasikan nilai pengadaan/ pembelian rata-rata

3.2. Penent uan Priorit as Pengadaan

Nilai Pengadaan per Tahun (Rp)

(32)

dan 20% jumlah barang/ jasa (paket) mewakili 80% total nilai pengadaan.

   

Sumbu Y : Dampak/ Resiko Barang/ Jasa Tersebut Terhadap Kegiatan

Organisasi/ I nstansi

Sumbu Y, memperlihatkan tingkat resiko/ dampak barang/ jasa yang akan diadakan

terhadap organisasi/ instansi. Semakin tinggi, maka semakin besar dampak/ resiko/

pentingnya barang/ jasa tersebut terhadap organisasi/ instansi. Distribusi barang/

jasa pada supply positioning model jika dikelompokkan dengan mempertimbangkan

resiko/ dampaknya terhadap organisasi/ instansi dapat dikelompokkan sebagai

berikut :

T = Tinggi S = Sedang

R = Rendah D = Dapat diabaikan

Gambar 3.2 Ilustrasi Supply Positioning Model

Pada Gambar 3.2 terlihat barang yang termasuk pada kelompok T (Tinggi) adalah barang

yang memiliki tingkat prioritas yang tinggi, baik dari sisi nilainya yang tinggi juga tingkat

pentingnya barang/ jasa tersebut dalam mencapai tujuan organisasi/ instansi. Kemudian

(33)

 Membuat skala prioritas atas penggunaan waktu dan biaya dalam pengadaan. (menentukan dimana proses administrasi perlu kompleks atau sederhana).

 Membuat strategi pengadaan terhadap barang/ jasa yang diperlukan tersebut.

Mengingat ket erbat asan anggaran penent uan priorit as, sangat pent ing dilakukan

perencanaan pengadaan. Hal ini akan menjamin pelaksanaan program dapat tercapai

sesuai tujuan yang sudah ditetapkan.

   

Bagaim ana m em plot barang/ j asa at au m em posisikan pengadaan barang/ jasa dalam supply positioning model?

 Untuk menentukan batas besarnya nilai pengadaan per tahun dapat dilakukan dengan mempelajari nilai pembelian sebelumnya kemudian menentukan batasan

rendah sedang dan tinggi (misalnya batasan ini diambil Rp. 200 juta).

 Untuk menentukan tinggi/ rendahnya dampak barang/ jasa terhadap organisasi/ instansi dapat dilakukan dengan membuat skala resiko (misal dari 1 s/ d 10)

barang/ jasa tersebut dengan kriteria yang disepakati secara internal.

Dalam penggunaan SPM sebagai alat bantu untuk menerapkan strategi pengadaan, barang/

jasa pada SPM dikelompokkan dalam 4 (empat) kuadran sebagai berikut:

(34)

dan resiko/ dampak jika barang/ jasa tersebut rendah sehingga tidak akan

menyebabkan organisasi/ instansi tersebut berhenti beroperasi/ bekerja.

Barang dengan kategori ini tipenya biasa, sifat dan spesifikasinya standar, atau

gampang diperoleh di pasar sepert i : alat t ulis kant or (ATK), peralat an

sederhana, sparepart umum atau barang-barang yang pembuatannya tidak

perlu teknologi khusus. Penyedia barang jenis ini umumnya dapat berupa toko,

grosir, supplier serba ada dan lain-lain. Untuk jasa biasanya adalah jasa-jasa

yang sederhana yang penyedianya juga banyak.

 Kuadran umum (Leverage)

Adalah kategorisasi barang/ jasa yang total nilaipembeliannya tinggi tetapi

resiko/ dampaknya j ika barang/ j asa t ersebut rendah at au t idak akan

membuat organisasi/ instansi tersebut berhenti beroperasi/ bekerja. Biasanya

barang/ jasa pada kuadran ini memiliki banyak penyedia barang/ jasanya.

Barang pada kuadran ini belum memerlukan teknologi tinggi atau spesifik,

umumnya banyak tersedia di pasar dan penyedia barangnya juga banyak. Barang

pada kuadran ini dapat sama dengan barang yang terdapat pada kategori

ru-tin tetapi hanya berbeda jumlah atau volumenya. Ketersediaan penyedia

barangnya juga umumnya banyak. Untuk jasa biasanya adalah jasa yang sama

dengan kuadran rutin tetapi volume atau lama pekerjaannya yang lebih besar.

Contohnya seperti pengadaan konstruksi jalan, rumah, sekolah, pengadaan

alat transportasi dan lain-lain yang nilainya besar tetapi tingkat resikonya tidak

terlalu tinggi.

 Kuadran khusus (Bottleneck)

Adalah kategorisasi barang/ jasa yang total nilai pembeliannya rendah

tetapi resiko/ dampaknya terhadap kegiatan organisasi/ instansi tinggi. Jika

bar ang/ j asa t er sebut t idak t er sedia, m aka dapat

menyebabkan organisasi/ inst ansi t ersebut berhent i

beroperasi/ bekerja.

(35)

Contohnya seperti sparepart untuk mesin-mesin khusus seperti generator, alat

berat, mesin-mesin yang hanya dipakai untuk kegiatan khusus. Mengingat barang

ini bersifat khusus dimana umumnya penyedia barangnya juga terbatas atau

sedikit.

Untuk jasa biasanya adalah jasa-jasa yang penyedia jasanya memerlukan

keahlian khusus, dan jumlah penyedia jasanya tidak banyak.

Contohnya seperti mencari konsultan membuat modul-modul pelatihan khusus,

pekerjaan pengelasan bawah air, pemadam kebakaran dan lain-lain.

 Kuadran kritikal (Critical)

adalah kategorisasi barang/ jasa yang total nilai pembeliannya tinggi dan

resiko/ dampaknya terhadap kegiatan organisasi/ instansi tinggi. Jika barang/

jasa tersebut tidak tersedia, maka dapat menyebabkan organisasi/ instansi

tersebut berhenti beroperasi/ bekerja.

Barang pada kuadran ini adalah barang yang bersifat khusus atau spesifik yang

penyedia barangnya terbatas. Umumnya membuat barang jenis ini memerlukan

teknologi atau rekayasa teknologi yang unik atau khusus.

Cont ohnya sepert i mesin-mesin generat or, pompa dan lain-lain dengan

pembangkit gas, air, angin, atau tenaga surya.

Untuk contoh jasa seperti jasa seismik ekplorasi, pengeboran horizontal,

pembuatan jalan layang dan lain-lain. Penyedia untuk barang/ jasa kategori ini

umumnya sedikit.

Jika diringkas karakteristik masing-masing kuadran terlihat sebagai tabel berikut:

Keterangan Rutin Umum Khusus Kritikal

Resiko Pengadaan terhadap

Organisasi/Institusi Rendah Rendah Tinggi Tinggi Jenis Barang/Jasa Standar Standar Variatif

(Tidak Standar)

Variatif (Tidak Standar) Jumlah Penyedia Barang/Jasa Banyak Banyak Sedikit Sedikit

Jumlah Pembelian Rendah Tinggi Rendah Tinggi Daya Tarik Penyedia Barang/Jasa Rendah Tinggi Rendah Tinggi

(36)

3.1. Supply Posit ioning Model ( SPM)

3.2. Penent uan Priorit as Pengadaan Posisi bar ang/ j asa pada supply posit ioning m odel sangat

mempengaruhi st rat egi pengadaan unt uk barang/ j asa yang

berdekatan tetapi berbeda kuadran ada kemungkinan akan memiliki

strategi yang sama dalam pengadaannya.

Gambar 3.4 Supply Positioning Model Barang Berdekatan

Pada Gambar 3.4 terlihat bahwa barang/ jasa dengan item a walau

masih dalam kuadran rutin tetapi memiliki karakteristik yang sudah

berbeda. Sedangkan barang/ jasa item b dan item c walau berada

dalam kuadran yang berbeda tetapi memiliki karakter yang hampir

sama atau strategi pengadaan yang diambil bisa hampir sama (lihat

lebih rinci pada Gambar 3.4).

3.2. Penentuan Prioritas Pengadaan

Dalam mewujudkan program kerja menjadi rencana pengadaan dalam

anggaran terbatas perlu dilakukan prioritas. Prioritas ini dilakukan dengan

menganalisa, menyusun RUP dan mengkaj i ulang RUP, pengguna

anggaran (PA)/ KPA, PPK atau Unit Layanan Pengadaan (ULP) atau pejabat

pengadaan sering menghadapi situasi dimana jumlah paket (spesifikasi

dan HPS) yang dikaji ulang cukup banyak sementara waktu yang tersedia

sangat terbatas. Untuk itu perlu dilakukan prioritas.

Alasan melakukan prioritas :

 Jumlah anggaran terbatas.

(37)

 Barang/ jasa yang nilainya tinggi.

 Barang/ jasa yang teknologinya berubah sangat cepat.

 Merupakan barang/ jasa baru.

Landasan melakukan prioritas untuk pengadaan barang/ jasa yang jumlahnya banyak dan

kompleks adalah :

1. Nilai Total (Expenditure)

a. Merupakan nilai total pengadaan barang/ jasa.

b. Menggunakan pendekatan klasifikasi abc dan konsep Pareto.

2. Dampak terhadap Kinerja (I mpact)

a. Ditentukan oleh PI P (potential impact on performance) suatu barang/ jasa

terhadap organisasi/ instansi pengguna barang/ jasa.

b. Ditentukan dengan value for money (value creation) model.

3. Pendekatan Klasifikasi ABC dan Konsep Pareto

Langkah-langkah klasifikasi abc :

1. Kumpulkan data seluruh item (nama, harga, rata-rata penggunaan).

2. Hitung nilai penggunaan.

3. Buat peringkat dari nilai penggunaan.

4. Buat nilai penggunaan kumulatif.

5. Hitung persentase nilai penggunaan kumulatif.

6. Klasifikasikan dalam kelas-kelas : A, B, dan C.

Gambar 3.5 Pendekatan Klasifikasi ABC

(38)

Tabel 3.2 Pendekatan Klasifikasi ABC

No No Part Satuan Order per Tahun (x)

Volume Satuan (000 Rp)

per Tahun

1 SP-001 Unit 3 80 200 48.000

2 SP-002 Unit 2 90 40 7.200

3 SP-003 Unit 1 40 50 2.000

4 SP-004 Unit 5 100 55 27.500

5 SP-005 Unit 3 70 60 12.600

6 SP-006 Unit 2 40 300 24.000

7 SP-007 Unit 1 30 70 2.100

8 SP-008 Unit 2 160 60 19.200

9 SP-009 Unit 3 160 56 26.880

10 SP-010 Unit 4 80 60 19.200

11 SP-011 Unit 2 100 70 14.000

12 SP-012 Unit 3 30 200 18.000

13 SP-013 Unit 4 50 66 13.200

14 SP-014 Unit 4 80 100 32.000

15 SP-015 Unit 4 56 65 14.560

16 SP-016 Unit 1 100 60 6.000

17 SP-017 Unit 2 60 50 6.000

18 SP-018 Unit 2 90 30 5.400

19 SP-019 Unit 4 40 100 16.000

20 SP-020 Unit 2 160 120 38.400

(39)

dicapai, baik dalam tahun ini atau lima tahun ke depan, untuk selanjutnya kita

sebut dengan tujuan organisasi/ instansi.

Mengingat pengadaan barang/ jasa merupakan salah satu pos utama organisasi/

instansi dalam mengeluarkan biaya, sehingga pengadaan harus ditujukan untuk

menunjang tercapainya sasaran organisasi/ instansi. Hal ini biasanya tertuang dalam

tujuan pengadaan barang/ jasa, yang untuk mudahnya disebut dengan sasaran

pengadaan.

Setiap tujuan pengadaan pasti memiliki dampak yang berbeda terhadap kinerja

organisasi/ instansi, untuk memudahkan disebut PI P. Sehingga pada PI P dikenal 3

(tiga) tingkat : T (tinggi), S (sedang), dan R (rendah).

Contoh penetapan kriteria sasaran pengadaan untuk barang/ jasa jenis tertentu

pada suatu unit kerja sebagai berikut :

Tabel 3.4 Kriteria Sasaran Pengadaan

No Sasaran Pengadaan Rating PIP

1 Keandalan Tinggi (Fungsi & Flexibilitas ) T

2 Produk Inovatif R

3 Tepat Waktu S

4 Harga Kompetitif R

5 Mutu Tinggi S

Rating PI P di atas ditetapkan berdasarkan sasaran pengadaan untuk barang/ jasa

tertentu, rating PI P ini dapat berubah bergantung pada jenis barang/ jasa. Misalnya

(dalam kasus pembelian sparepart di atas). Tujuan pengadaan adalah : sebelum

listrik PLN masuk, maka sumber listrik dari genset yang dimana genset tersebut

dijamin bisa beroperasi menerus selama 24 jam perhari dan 7 hari perminggu

tanpa perlu perawatan tinggi.

Untuk mendukung tujuan pengadaan di atas diperlukan pengadaan sparepart genset

yang memiliki keandalan tinggi. Dalam kasus ini fungsi dan fleksibilitas/ keandalan

menjadi sasaran pengadaan dimana memiliki rating PI P : t (tinggi) dan yang

lainya seperti dicantumkan pada Tabel 3.4 di atas. Sasaran pengadaan ini menjadi

(40)

No PART KLASIFIKASI ABC RATING PIP

1 SP 002 A T

2 SP 009 A S

3 SP 004 A R

Barang/Jasa yang Dibeli : Sparepart Diesel Genset Rating

PIP

Sasaran Pengadaan

HasilEvaluasi

SP-002 SP-004 SP-009

T

Keandalan Tinggi (Free Maintenance selama 6 bulan kontrak ) (paling lambat 3 hari setelah jadual)

2 (dua) hari setelah jadual

S R

Harga Kompetitif (dibawah HPS)

Harga 5% dibawah HPS

R S

Mutu tinggi (Reject min 5%)

Tingkat Reject

<3%

S R

Produk Inovatif Alternatif

Produk

R

Rating PIP Keseluruhan T R S

Tabel 3.5 Kriteria PIP (Potential Impact on Performance)

Berdasarkan Tabel 3.5 di atas, terlihat bahwa SP-002 memiliki dampak total

(rat-ing PI P keseluruhan) T (t(rat-inggi) diikuti dengan SP-009 (S) dan SP-005 (R). Nilai ini

bergantung pada penentuan sasaran pengadaan dan kategorisasi barang/ jasa

tersebut dalam kuadran supply positioning model.

Sekarang, setiap jenis pengadaan memiliki 2 (dua) indikator : rating PI P dan

klasifikasi abc. Misalnya untuk kasus sparepart :

(41)

Gambar 3.6 Klasifikasi ABC vs PIP

Bila hendak dilakukan langkah prioritas berdasarkan kedua indikator di atas, maka

dalam SPM dilakukan pemisahan sebagai berikut:

PRIORITAS

INDIKATOR

PIP ABC

I TINGGI TINGGI TINGGI

II SEDANG SEDANG

TINGGI SEDANG

SEDANG SEDANG TINGGI

II RENDAH TINGGI SEDANG RENDAH RENDAH

RENDAH RENDAH TINGGI SEDANG

TIDAK DI PRIORITAS

KAN

RENDAH RENDAH

(42)

Dengan demikian, berdasarkan supply positioning modeldapat disimpulkan bahwa:

PRIORITAS PENGADAAN

Pertama SP 002

Kedua SP 004

Ketiga SP 009

Gambar 3.7 Kategorisasi prioritas

Tabel 3.8 Tabel Contoh Kasus Penentuan Prioritas

Dengan mengetahui ini kita dapat melakukan prioritas sparepart mana yang akan

dilakukan pertama dan penentuan bobot dalam sistem penilaian atau evaluasi.

Diskusi Kelompok

1. Pilih salah satu institusi anda bekerja saat ini sebagai jenis organisasi

kelompok.

2. Buatlah pengelompokan barang/ jasa untuk masing-masing kuadran.

3. Dari daftar tersebut tentukan Tujuan Pengadaan dan buatlah peringkat

(43)

ANALI SI S PENYEDI A BARANG/ JASA

Setelah mengetahui prioritas barang/ jasa yang akan diadakan, langkah

berikut nya adalah mendesain at au menent ukan j enis kont rak at au

hubungan terbaik antara organisasi/ instansi pembeli dan penyedia barang/

jasa. Di bawah ini akan dijelaskan alat bantu atau alat analisa tersebut :

4.1. Supplier Perception Model ( SPCM)

Supplier perception model, adalah alat bantu yang digunakan untuk

menganalisa motivasi atau ketertarikan penyedia barang/ jasa terhadap

pengadaan yang akan dilakukan.

SPCM adalah m odel yang m enggam bar kan pandangan/ per sepsi/

ketertarikan penyedia barang/ jasa terhadap organisasi/ instansi pembeli.

Persepsi ini didorong oleh nilai pengadaan dan tingkat ketertarikan/ motivasi

penyedia barang/ jasa dalam menawarkan barang/ jasanya.

4.2. Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa

4.3. Hubungan yang Sesuai Ant ara SPM dan SPCM

4.1. Supplier Percept ion M odel ( SPCM)

 

 Daya t arik organisasi/ inst ansi pembeli di mat a penyedia barang/ jasa dapat dikarenakan oleh :

 Apakah strategi usaha organisasi/ instansi pembeli dengan penyedia barang/ jasa sejalan?

 Apakah penyedia barang/ j asa m erasa nyam an m enj adi penyedia barang/ jasa di organisasi/ instansi pembeli tersebut?

(44)

kepada para penyedia barang/ jasa?

 Apakah menjadi penyedia barang/ jasa di organisasi/ instansi tersebut memberikan keuntungan lain (reputasi, menaikan kredibilitas penyedia dan lain-lain)?

   

Persepsi penyedia barang/ j asa t erhadap organisasi/ inst ansi pembeli berdasarkan besarnya nilai pendapatan

Tabel 4.1 Tabel Persepsi Penyedia

Nilai Pengadaan Terhadap Persentase Pendapatan

Penyedia

Persepsi Penyedia Terhadap Pembeli

Di atas 15% High/Tinggi (H)

5% s/d 15% Moderately High/Sedang (M)

0,8% s/d 5% Low/Rendah (L)

Di bawah 0,8% Negligible/Diabaikan (N)

Tabel di atas memperlihatkan semakin besar nilai pembelian terhadap penyedia

barang/ jasa semakin tinggi tingkat ketertarikan penyedia barang/ jasa terhadap

organisasi/ instansi pembeli.

   

Persepsi penyedia barang/ j asa ini dapat dikat egorikan sebagai berikut :

Persepsi penyedia barang/ jasa dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) kategori

yaitu : kategori marginal, kategori exploit, kategori develop dan kategori core.

Keempat kategori ini memberikan gambaran karakteristik dan motivasi

masing-masing penyedia barang/ jasa terhadap organisasi/ instansi pembeli.

• Kategori marginal

Penyedia barang/ jasa pada kategori ini, memiliki kondisi atau karakteristik

sebagai berikut :

° Motivasi penyedia barang/ jasa rendah.

° Tingkat prioritas menjual ke organisasi/ instansi pembeli di sisi penyedia barang/ jasa rendah.

° Posisi tawar-menawar organisasi/ instansi pembeli rendah.

° Potensi pengembangan usaha bagi penyedia barang/ jasa kecil.

(45)

atau serba ada. Pada umumnya penyedia barang/ jasa jenis ini mengikuti

pelelangan apa saja dan mengambil barang dari sumber diatasnya misalnya

distributor atau pabrikan.

• Kategori exploit

Penyedia barang/ jasa pada kategori ini, memiliki kondisi atau karakteristik

sebagai berikut :

° Nilai pembelian terhadap penyedia barang/ jasa besar tapi penyedia barang/ jasa tidak tertarik membangun kerjasama jangka panjang

dengan organisasi/ instansi pembeli.

° Tidak ada langkah-langkah khusus yang ditempuh penyedia barang/ jasa untuk membuat organisasi/ instansi pembeli menjadi klien utama.

° Jika penyedia barang/ jasa paham dengan posisinya, mereka cenderung menaikkan harga jualnya.

Penyedia barang/ jasa kategori ini adalah penyedia yang memiliki barang/

jasa atau dapat menyediakan barang/ jasa yang sifatnya masih standar/

umum. Contohnya seperti grosir, distributor atau pabrikan. Dan untuk jasa/

jasa lainnya seperti konsultan pelaksana pada proyek konstruksi, katering,

penyediaan tenaga kerja dan lain-lain. Karena barang/ jasa yang disediakan

bersifat umum at au st andar sehingga banyak penyedia yang dapat

menyediakan barang/ jasa hal tersebut.

Pada kondisi ini penyedia barang/ jasa biasanya mencoba menawarkan

berbagai promosi dan diskon dengan harapan akan mendapatkan volume

pembelian dan keuntungan yang tinggi. Di sisi lain, karena penyedia kategori

ini cukup banyak, sehingga akan terjadi kompetisi yang tinggi.

Pen y ed ia p ad a k elom p ok in i b elu m

menganggap perlu membina jangka panjang

at au hubungan khusus kar ena j um lah

pem beli at au pot ensi pem belinya j uga

(46)

sebagai berikut :

° Nilai transaksi bisnis dengan penyedia barang/ jasa ini kecil, tetapi

mereka senang menjadi penyedia barang/ jasa di organisasi/ instansi

pembeli.

° Penyedia barang/ j asa siap meluangkan w akt u dan biaya unt uk

membangun kerjasama jangka panjang dengan organisasi/ instansi

pembeli.

° Penyedia di kuadran ini sangat ideal untuk pengembangan hubungan

kerja jangka panjang.

Contoh penyedia pada kategori ini adalah penyedia yang memiliki produk

yang khusus atau tidak standar. Produk khusus ini membuat posisi penyedia

barang/ jasa sangat spesifik dan tidak dapat diikuti oleh banyak penyedia

barang/ j asa lainnya. Cont ohnya sepert i penyedia yang memproduksi

sparepart khusus, atau barang-barang yang didesain sesuai kebutuhan

pembeli, tetapi nilai unitnya tidak terlalu mahal.

Untuk jasa contohnya seperti instruktur/ konsultan

materi pelatihan PBJ/ I SO/ HSE dan lain-lain.

Karena kekhususan barang/ jasa yang disediakan

oleh penyedia atau barang/ jasa tersebut menjadi

bisnis utama penyedia sehingga penyedia berusaha

membangun relasi yang kuat dengan pembeli. Hal

ini dilakukan selain unt uk m enj aga t ingkat

pendapatan juga untuk menjamin kelangsungan

hidup penyedia barang/ jasa.

• Kategori core

Penyedia barang/ jasa pada kategori ini, memiliki kondisi atau karakteristik

sebagai berikut :

° Kebutuhan organisasi/ instansi pembeli sudah merupakan bisnis inti

dari penyedia barang/ jasa.

(47)

Cont oh penyedia bar ang/ j asa kat egor i ini adalah penyedia yang

memproduksi barang atau menyediakan jasa yang khusus yang nilainya

besar yang tidak dapat disediakan oleh banyak penyedia barang/ jasa yang

lain. Biasanya penyedia jenis ini menguasai teknologi khusus atau tinggi

yang tidak dikuasai banyak penyedia barang/ jasa.

Contohnya seperti pabrikan pembuat pipa khusus pengeboran, penyedia

alat-alat berat (konstruksi atau lain sebagainya), peralatan laboratorium

khusus dan lain-lain. Untuk jasa/ konstruksi contohnya seperti perusahaan

penyedia jasa pengeboran, pembuatan jalan layang atau bangunan berlantai

tinggi.

Kompetisi pada kelompok ini rendah sehingga pembeli biasanya melakukan

pendekatan khusus dalam melakukan pengadaan. Dari sisi penyedia karena

tidak banyak pembeli yang akan membeli barang/ jasa mereka, sehingga

penyedia akan mengusahakan untuk mendapatkan kontrak atau hubungan

usaha yang jangka panjang.

  

Hubungan Antara Supply Positioning Model Dengan Supplier Per-ception Model

Or gan isasi/ in st an si pen gadaan h ar u s dapat m elaku kan an alisa dan

menghubungkan antara kebutuhan dan kondisi pasar serta ketersediaan penyedia

barang/ jasa sebelum menentukan metode pemilihan penyedia barang/ jasa serta

jenis kontrak yang tepat.

(48)

 Untuk barang/ jasa dengan kategori rutin, tersedia dua jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu penyedia kategori marginal dan

develop.

 Untuk barang/ jasa dengan kategori umum, tersedia dua jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu penyedia kategori exploit dan

develop.

 Untuk barang/ jasa dengan kategori khusus, hanya tersedia satu jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu kategori develop.

 Untuk barang/ jasa dengan kategori kritikal, hanya tersedia satu jenis atau kategori penyedia barang/ jasa yang cocok, yaitu kategori core.

   

Pengaruh dari Supplier Perception Model

Tabel di baw ah ini memperlihat kan sikap at au hubungan yang harus

dikembangkan di sisi pembeli setelah mengetahui bagaimana posisi pembeli

dan sikap penyedia barang/ jasa terhadap pengadaan yang dilakukan.

Tabel 4.2 Supplier Perception Model

Pada Tabel 4.2 diperlihatkan bahwa sikap pembeli harus melihat kondisi atau

persepsi penyedia barang/ jasa. Hal ini diperlukan agar tujuan proses pengadaan

mencapai tujuannya dengan baik.

   

Kerangka dalam Strategi Pengadaan

Dari kedua alat bantu analisa supply positioning model dan supplier perception

model terlihat bahwa :

Persepsi (Daya Tarik) Penyedia Barang/Jasa Terhadap Pengadaan

Organisasi/Institusi

Sikap/Hubungan yang Dikembangkan Pembeli

Rendah Jadi pembeli yang baik

Sedang – Tinggi Buat hubungan menuju kontak yang lebih besar

Sedang – Tinggi Buat hubungan jangka panjang

(49)

  

Strategi Menuju Leverage

Bagaimana meningkatkan nilai pengadaan?

° Mengelompokkan permintaan/ pemaketan yang sama menjadi satu kontrak pengadaan.

° Menggabungkan permintaan barang/ jasa dari beberapa unit kerja/ usaha.

° Beberapa organisasi/ instansi membeli barang/ jasa yang sama secara bersamaan (secara nasional).

Sebagai contoh dalam pengadaan kendaraan bermotor dan obat-obatan,

saat ini. Bagi penyedia barang/ jasa secara volume, nilai pengadaan ini

menjadi sangat besar dan sangat menarik untuk dikompetisikan.

Bagaimana menurunkan resiko?

° Periksa spesifikasi barang/ jasa untuk menstandarisasikan barang/ jasa

yang dicari.

° Mencari sumber atau penyedia barang/ jasa baru.

° Membantu meningkatkan kemampuan penyedia barang/ jasa

Gambar 4.3 Strategi Menuju Leverage

Contoh inisatif ini adalah dengan mempelajari kerumitan dari barang/ jasa yang

akan dibeli. Dengan mengetahui ini usahakan melakukan pemecahan atau

mengumpulkan barang/ jasa yang bisa distandarkan. Jika pada barang/ jasa

dengan kategori bottleneck tersebut bisa masuk menjadi barang/ jasa dalam

kuadran marginal sedangkan pada kategori core dapat menjadi barang/ jasa

(50)

 Tipe atau potensi hubungan antara penyedia barang/ jasa untuk pengadaan barang/ jasa tertentu akan sangat berhubungan

dengan jenis kontrak yang akan dibuat.

 Gambar 4.4 memperlihatkan jenis hubungan dari kiri yang paling lepas/ jarang/ rendah (loose) hingga kekanan yang

pal-ing terikat/ dekat/ dalam (deeper).

 Parameter yang menentukan perubahan dari kontinum paling kiri kekanan adalah naiknya resiko karena organisasi/ instansi

pembeli mulai membeli barang/ jasa dengan nilai dan resiko

yang lebih tinggi.

Gambar 4.4 Hubungan antara Pembeli dan Penyedia

Pada Perpres 54/ 2010 hubungan yang paling kiri seperti pembelian

langsung yang buktinya cukup dengan kuitansi, kemudian bergerak

ke kanan hanya dengan SPK (surah perintah kerja) dan semakin

ke kanan diperlukan hubungan yang lebih kuat dan formal dalam

bentuk kontrak payung dengan waktu yang lebih panjang.

   

Hubungan Spot Purchase (Sekali Beli/ Beli Putus) Hubungan antara pembeli dan penyedia barang/ jasa yang

pal-ing sederhana, palpal-ing renggang atau hanya sekali transaksi.

Pada hubungan ini kondisi yang diinginkan at au dasar

4.2. Tipe Hubungan Pembeli dan Penyedia Barang/ Jasa

(51)

Tidak ada hubungan khusus dengan penyedia barang/ jasa.

Umumnya penyedia barang/ jasa melihatnya bukan sebagai prioritas utama. Biaya akan tinggi jika menggunakan banyak penyedia barang/ jasa.

Cocok untuk kebutuhan yang sangat jarang.

Cocok untuk produk standar, switching cost (biaya ganti penyedia) yang

rendah dan nilai pengadaan yang tidak terlalu tinggi.

Sebagai contoh pembelian ATK dengan nilai di bawah 5 juta rupiah yang dapat

dilakukan dengan pengadaan langsung.

  

Hubungan Regular Trading (Pembelian Berulang)

Hubungan antara pembeli dan penyedia barang/ jasa yang mulai berulang.

Penjual mulai mengenali pembeli dan pembeli mulai menumbuhkan rasa

percaya atau pertimbangan pembelian kembali kepada penyedia. Adapun

karakteristik pada pola hubungan ini adalah:

• Pembelian spot purchase yang berulang.

• Usahakan penyedia barang/ jasa tetap kompetitif.

• Saling pengertian akibat transaksi yang sering terlaksana.

• Penyedia barang/ jasa yang sering dipakai akan lebih memperioritaskan

organisasi/ instansi pembeli.

• Organisasi/ instansi pembeli bisa mendapatkan penyedia barang/ jasa pilihan.

• Cocok apabila kita belum mengetahui benar kebutuhan kita, atau jika

kebutuhannya bervariasi.

  

Hubungan Call off

Hubungan ant ara pem beli dengan penyedia barang/ j asa m ulai t im bul

kepercayaan. Penyedia sudah mulai mengetahui kebutuhan pembeli dengan

lebih rinci. waktu tertentu. Pembeli cukup memesan (call) penyedia, penyedia

sudah menget ahui kebut uhan pembeli. Biasanya

hubungan ini sudah mulai diikat dengan perjanjian

yang dimana pada perjanjian disebutkan kesepakatan

har ga unt uk per iode t er t ent u. Biasanya pada

hubungan call-off, volume minimal bisa dicantumkan

Gambar

Gambar 1.1 Hubungan Visi, Misi dan Strategi
Tabel 1.2 Para Pihak dalam Pengadaan Pemerintah
Gambar 2.1. Contoh Analisis SWOT dan Pilihan Strategi
Tabel 2.2 Contoh Penerapan Analisis SWOT
+7

Referensi

Dokumen terkait

Persiapan Pengadaan dapat dilaksanakan setelah RKA-K/L disetujui oleh DPR atau RKA Perangkat Daerah disetujui oleh DPRD. Untuk Pengadaan Barang/Jasa yang pelaksanaan kontraknya

Acuan bagi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kelompok Kerja (Pokja) Pemilihan dan Pejabat Pengadaan di lingkungan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dalam

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai salah satu lembaga negara yang diberi hak dan kewenangan dalam melaksanakan dan mengelola

b. Kepala UKPBJ untuk Pencantuman Barang/Jasa yang diselenggarakan oleh Pengelola Katalog Elektronik Sektoral atau Lokal. Peserta Verifikasi yang lulus pada proses

Peta Proses Bisnis tersebut mengacu pada Rencana Strategis LKPP 2015 – 2019 serta Organisasi dan Tata Kerja LKPP berdasarkan Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa

bahwa penyelenggaraan sayembara/kontes merupakan salah satu contoh barang/jasa yang dapat diadakan melalui swakelola sebagaimana dalam ketentuan Lampiran I butir 1.5

bahwa salah satu petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a yaitu untuk

Pengadaan untuk barang/jasa yang diatur dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan lainnya meliputi Pengadaan Barang/Jasa yang telah diatur ketentuannya dalam