Ada dua jenis saham yang jamak dipasarkan, yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock)
2.4.6.1. Saham biasa (common stock)
Definisi saham menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut:
1. Menurut Keown (2005;hal261), common stock adalah saham yang mempresentasikan kepemilikan dari sebuah perusahaan.
2. Menurut Zvi Bodie dalam bukunya berjudul “Investment” edisi ke delapan (2011:G-3) common stock adalah ekuitas, atau ekuisitas security, yang diterbitkan dan menjadi kepemilikan publik berdasarkan presentase dari perusahaan tersebut.
3. Menurut John J.Wild dalam bukunya yang berjudul “Financial Statement Analysis”
(2001:220) common stock adalah jenis saham yang mempresentasikan kepemilikan dan pemilik saham memiliki risiko yang sangat tinggi dan imbal hasil yang tinggi tergantung dari kinerja perusahaan.
Dengan merangkum tiga definisi common stock tersebut, common stock adalah jenis saham yang mempresentasikan kepemilikan perusahaan berdasarkan besarnya presentase saham yang dimiliki.
Menurut Keown (2005;hal261), common stock tidak memiliki maturity date tetapi keberadaan saham tersebut tetap ada seiring dengan perusahaam yang menerbitkan saham tersebut. Perusahaan dapat memberikan dividen pada pemegang saham. Tetapi sebelum pengumuman ke publik tentang perusahaan dalam pembagian dividen, jajaran direksi harus mendeklarasikan terlebih dahulu.
Menurut website infovesta (www.infovesta.com) yang ditulis oleh managemen infovesta pada tanggal 30 Januari 2008, saham biasa merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling yunior terhadap pembagian dividen dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (tidak memiliki hak-hak istimewa). Karakteristik lain dari saham biasa adalah dividen dibayarkan jika perusahaan memperoleh laba.
Pemegang saham jenis ini mewakili kepemilikan di perusahaan sebesar modal yang ditanamkan. Keuntungan yang didapatkan oleh pemegang saham ini berupa dividen yang berasal dari keuntungan perusahaan. Pemegang saham ini tidak memiliki jaminan pasti atas return yang dihasilkan perusahaan. Apabila perusahaan mendapatkan
keuntungan, maka pemegang saham akan mendapatkan dividen sebesar alokasi yang ditetapkan oleh RUPS. Namun, apabila perusahaan suatu saat dilikuidasi atau bangkrut, pemegang saham jenis ini adalah yang paling akhir mendapatkan hak atas aset perusahaan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi dan pemegang saham preferen dibayar sebesar nilai par sekuritas mereka.
Selain keuntungan berupa dividen, pemegang saham biasa juga bisa mendapatkan keuntungan dari selisih nilai beli dengan nilai jual sahamnya. Katakanlah, jika anda membeli sebuah saham pada harga Rp500,- dan menjualnya saat harga mencapai Rp600,- maka anda akan memperoleh keuntungan sebesar Rp100,- dikalikan dengan jumlah saham yang anda jual. Keuntungan jenis ini disebut capital gain. Sebaliknya jika harga saham mengalami penurunan, maka anda mengalami kerugian yang disebut capital loss.
Karakteristik lain dari saham biasa, selain klaim atas aset perusahaan paling rendah dibandingkan dengan komponen perusahaan yang lain, juga tidak adanya maturity date atau tanggal jatuh tempo. Orang yang mempunyai saham memiliki hak untuk ambil bagian dalam mengelola perusahaan. Besar kecilnya hak suara yang dimiliki sesuai dengan besar kecilnya saham yang dimiliki, semakin banyak persentase saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara yang dimiliki untuk mengontrol operasional perusahaan.
Pemegang saham biasa memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sesuai dengan proporsi saham dan mempunyai hak untuk mengalihkan kepemilikkan sahamnya kepada orang lain.
2.4.6.2. Saham preferen (preferred stock)
Definisi saham menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut:
1. Menurut Keown (2005;hal256), preferred stock adalah hybrit security dengan campuran karakteristik antara obligasi dengan saham
2. Menurut John J.Wild dalam bukunya yang berjudul “Financial Statement Analysis”
(2001:hal220), preferred stock adalah saham yang masuk kategori kelas khusus karena memiliki preferensi atau fitur tidak dinikmati oleh saham biasa.
3. Menurut Zvi Bodie dalam bukunya berjudul “Investment” edisi ke delapan (2011:G-3) preferred stock adalah saham dalam perusahaan dan perusahaan wajib membayar aliran tetap atau dividen.
Berdasarkan ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa preferred stock adalah tipe saham yang khusus yang berbeda dari saham biasa, dimana pemegang preferred stock dapat menikmati fungsi ganda dari preferred stock tersebut seperti obligasi dan saham.
Menurut Wild (2001:hal220), preferred stock biasanya adalah pemegang saham yang senior dengan pembagian dividen tetap. Pemegang preferred stock mendapatkan dividen terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa mendapatkan dividen.
Pemegang saham preferen dapat berupa obligasi atau kreditur dan pemegang saham biasa. Perbedaan penting antara para pemegang saham preferen dan kreditur adalah bahwa pemegang saham lebih disukai perusahaan karena biasanya pemegang saham preferen tidak memiliki hak untuk menuntut penebusan saham mereka. Namun demikian, beberapa saham preferen memiliki hak untuk menentukan tanggal penebusan yang disesuaikan dengan laporan keuangan perusahaan.
Menurut website infovesta (www.infovesta.com) yang ditulis oleh managemen infovesta pada tanggal 30 Januari 2008, saham jenis preferen memiliki sifat hybrid yang
artinya selain memiliki karakteristik sebagai saham, juga memiliki sifat seperti halnya obligasi. Jika investor memiliki saham jenis ini, investor akan mendapatkan pembayaran secara teratur sebesar harga dari saham dikalikan dengan bunga setiap tahun (sifat obligasi). Apabila saham preferen anda berjenis cumulative, maka jika anda belum menerima pembayaran dividen tahun lalu akan diakumulasikan dengan dividen tahun berjalan. Jenis yang lain yaitu non cumulative, yang artinya anda tidak akan menerima dividen yang tidak dibayarkan periode lalu, sedangkan yang berjenis participating akan menerima peningkatan nilai dividen proporsional mengikuti peningkatan dividen saham biasa. Pemilik saham preferen memiliki hak suara untuk memilih direktur perusahaan, hanya jika dividen tidak dibayarkan selama setahun atau lebih.
Sifat preferen ini tercermin pula pada perlakuan yang diterima saat perusahaan dilikuidasi. Pemilik saham ini akan menerima pembayaran sebesar harga pari saham sebelum dividen atas pemegang saham biasa dibayarkan. Oleh karena banyak sifat saham jenis ini yang menyerupai obligasi, maka beberapa pihak menggolongkannya ke dalam fixed income.
Saham preferen memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap seperti bunga obligasi. Menurut website infovesta (www.infovesta.com) ada persamaan antara saham preferen dengan obligasi :
1. Ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya 2. Selama masa saham berlaku dividen akan tetap
3. Memiliki hak tebus dan dapat ditukar dengan saham biasa
Saham preferen lebih aman dibandingkan saham biasa karena memiliki klaim terhadap kekayaan perusahaan dan pembagian dividen terlebih dahulu. Dan pemiliknya
akan memiliki hak lebih dibanding hak pemilik saham biasa, contohnya hak suara dalam pemilihan direksi sehingga jajaran manajemen akan berusaha sekuat tenaga untuk membayar ketepatan pembayaran dividen preferen agar tidak terlambat. Tetapi saham preferen sulit untuk diperjualbelikan seperti saham biasa karena jumlahnya sedikit.