Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2019
Tabel 13. menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan adalah Rp. 6.124.200 dalam satu kali musim terakhir dengan jumlah produksi (perkilo) dengan harga satuan sebanyak Rp. 255.35/kilo. Rata-rata biaya variable dengan total sebanyak Rp. 5.557.274 dan total biaya tetap sebanyak Rp. 204.378 sehingga total pendapatan petani responden rumput laut di Desa Ela-ela kecamatan ujung bulu kabupaten Bulukumba sebesar Rp. 5.557.274 Jadi dari hasil penelitian rata-rata pendapatan usahatani rumput laut yang diterima petani dalam satu tahun adalah sebanyak Rp. 1.313.396,57
5.5. Titik Impas
Analisis Titik Impas (BEP) Usahatani Budidaya Rumput Laut (Eucheuma cottonii) di Kota Tual. Break Event Point adalah suatu kondisi dimana modal telah kembali semua atau pengeluaran sama dengan penerimaan, pada saat BEP dicapai usaha tidak untuk maupun rugi. BEP dapat dihitung dengan mengetahui biaya tetap, biaya produksi dan hasil penjualan, análisis BEP ini dimaksud untuk mengetahui berapa unit minimum yang harus dihasilkan agar usahatani rumput laut tidak mengalami kerugian. Análisis BEP usahatani rumput laut dapat dilihat pada Tabel 14 sebagai berikut:
55
Tabel 14. Analisis Titik Impas (BEP) Usahatani Rumput Laut di Desa Ela-Ela Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba
Uraian Nilai (Rp)
Titik Impas (BEP) Volume Produksi
Total Biaya Produksi (Rp)
Total Harga Penjualan
(Rp/Kg)
6.207.390,6
6.124.200
BEP Volume Produksi (Kg) 0,942
Titik Impas (BEP) Harga Produksi
Total Biaya Produksi (Rp) Total Produksi (Kg)
5.769.407 255,35
BEP Harga Produksi (Kg) 240.391
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2019
Tabel 13. Menunjukkan bahwa analisis titik impas (BEP) usaha rumput laut dalam satu musim di dapat BEP volume produksi sebesar 0,942 kg, dan BEP harga produksi sebesar Rp. 240.391. Hal ini berarti bahwa selama petani memproduksi diatas 0,942 kg dan menjual rumput laut dengan harga rata-rata sebesar Rp 24.000 tiap Kg, maka pendapatan petani tersebut masih dikategorikan rendah di lokasi penelitian di Desa Ela-Ela Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba. Hasil perhitungan yang dilakukan, kondisi Titik Impas (BEP) bagi budidaya rumpu laut di Desa Ela-Ela Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba jika penggunaan lahan yang digunakan seharusnya minimalkan seluas 1.000 m2 dari rata-rata penggunaan lahan pada saat penelitain dilakukan. Meskipun budidaya rumput laut besarnya keuntungan tersebut masih rendahnya penerimaan dan keuntungan yang diterima pembudidayaan petani tersebut. Paling dominan disebabkan oleh besarnya biaya input usaha yang harus dikeluarkan pembudidaya rumput laut di Desa Ela-Ela Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba.
56 VI. PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Total produksi rumput laut sebesar 5.107 kg dengan rata-rata per petani sebesar
255.35 kg. Dengan rata-rata pengeluaran dari petani didapat sebesar Rp. 6.209390,6, Untuk penerimaan yakni sebesar Rp. 6.124.200, dan rata-rata keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 1.313.367,75
2. Sedangkan analisis titik impas (BEP) usaha rumput laut dalam satu musim di dapat BEP volume produksi sebesar 0,942 kg, dan BEP harga produksi sebesar Rp. 240.391. Hal ini berarti bahwa selama petani memproduksi diatas 0,942 kg dan menjual rumput laut dengan harga diatas Rp 240.391 tiap Kg, maka petani tersebut akan mengalami keuntungan masih rendah.
6.2. Saran
Untuk memperbaiki usaha budidaya rumput laut agar lebih menguntungkan lagi bagi petani adalah sebagai berikut:
1. Petani responden rumput laut memerlukan suatu sarana organisasi sebagai pusat informasi dan penyelesaian permasalahan-permasalahan yang sering di alami baik dari segi produksi maupun kegiatan sampai pasca panen.
2. Usaha rumput laut di Desa Ela-Ela Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba masih sangat didominasi oleh pedagang pengumpul terutama dalam hal penentuan harga jualnya rumput laut, karena adanya ikatan yang kuat antara
57
petani rumput laut dan pedagang setempat dalam hal peminjaman modal usaha serta peminjaman biaya hidup sehari-hari mereka, sehingga perlu sosialisasi tentang adanya kredit usaha rakyat (KUR) oleh pemerintah setempat. Sehingga petani rumput laut dapat melakukan usaha secara mandiri tanpa di pengaruhi oleh pedagang tersebut.
58 DAFTARA PUSTAKA
Adiwilaga, A. 2011. Ilmu Usahatani. Penerbit Alumni. Bandung. Adiwilaga, dalam shinta. 2011. Ilmu Usaha Tani. Alumni: Bandung
https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/89527/1/H17ikb.pdf
Ahmadi. 2001. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya : Jakarta
Ardika, 2007. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Dan Meningkatkan Pendapatan
Setiap Masyarakat. Bali:UdayanaUniversity Press
Aslan, laode, 2002. Rumput laut. Jakarta. Kanisusi. Cetakan VII. KANISIUS. Yogyakarta. 97 Hal2019
Ejas, 2015. Petani Rumput Laut Biasanya Bekerja Dari Pagi Hingga Sore Hari. Di akses pada tanggal 28 juni 2019
Eng, 2009. Teknik Budidaya Rumput Laut. Sustainable Aquaculture andIntegrated Coastal Management.In Sustainable Aquaculture edit by Bardach. p. 177-199. Gustiyana, 2003. Pendapatan Usahatani Dan Pendapatan Rumah Tangga. Salemba
empat: Jakarta.
Gustiyana, 2004. Pengertian Pendapatan Usahatani. Prosiding Seminar Nasional AvoER ke-3. Palembang.
Indriani, laode,2003. Komensial Dan Potensial Untuk Di Kembangkan. Di akses pada tanggal 7 juni 2019
Indriani, H dan Suminarsih, E 2003 Budidaya pengolahan dan pemasaran rumput laut. Penebar Swadaya, Jakarta.
Isaskar,2014. Ilmu Ekonomi Pertanian. Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas. Brawijaya. Istiqomah, Abu.
Kadarsan,2011. Pengertian Usahatani. Jurnal Sains ...
Kadarsan.2011.Usahatani . http://punyakadarsan.blogspot.com/2012/06/apa-itu usahatani.html, diakses pada tanggal 10Mei 2016.
Kodi, 2011. Dalam Dunia Pengetahuan Rumput Laut. ANDI OFFSET. Yogyakarta. 134 Hal
59
Melki,2004. Faktor Cahaya Rumput Laut Kappaphycus Alvaresi. Jurnal Penelitian Sains; No. 16, hal 1-8.
Mosher dan shinta, 2011. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Nugraha,2011. Pengembangan Usahatani. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.
Putrid,2017. Petani Rumput Laut. Jakarta: Salemba Medika.
Presetyowati, 2008. Perubahan Warna Sering Terjadi Hanya Karena Faktor
Lingkungan. ISSN : 19779-469X.
Rahim, Abdul dan Diah Retno Dwi Hastuti. 2007. Ekonomika Pertanian (Pengantar,
Teori, dan Kasus). Penebar Swadaya. Depok.
Rangkuti,2005. Analisis Break Even Point. Kompas Gramedia Building. Jakarta. Soegearto et.al.2009. Pemanfaatan Sebagai Bahan Baku Dan Tambahan Dalam
Industri Makanan. Di akses pada tanggal 21juni 2019.
Soedarsono, Dewi. Dr. (2009) . system manajemen komunikasi, teori,model, dan aplikasi , Bandung: simbiosa rekatama media
Soekartawi, 2011. Usahatani Mengalokasikan Sumber Daya Secara Efektif Dan
Efesien. Rajawali Press. Jakarta.
Soekartawi, 2006. Agribisnis Teori dan Aplikasi. Rajawali Press. Jakarta. Shinta,2011. Ilmu Usahatani. Universitas Brawijaya Press, Malang. Suratiyah, 2006. Faktor-Faktor Produksi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ya’la,2008. Prospek Pengembangan Rumput Laut di Kabupaten Morowali, Jurnal
Agroland 15 (2), hal:144 – 148.
Yudi,2002. Budidaya Rumput Laut: Prospek Mata Pencaharian Alternatif di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Penelitian Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB).
60
L
A
M
P
I
R
A
N
61 KUISIONER PENELITIAN
Analisis Break Even Point Usahatani Rumput Laut Kappaphycul Alvarezi Terhadap Pendapatan Petani Di Desa Ela-Ela Kecamatan Ujung Bulu
Kabupaten Bulukumba