KARYA NORBERTUS RIANTIARNO
2.3 Tokoh dan Penokohan Drama Opera Julini
2.3.1 Tokoh Protagonis
Tokoh protagonis dalam drama Opera Julini yang akan dianalisis adalah
Julini dan Roima. Selanjutnya, pengenalan tokoh Julini dan Roima akan dibahas dalam penokohan tiap tokoh.
2.3.1.1 Julini
Julini, seorang wadam yang telah meninggal sejak sepuluh tahun lalu karena terkena peluru nyasar saat demonstrasi, masuk dalam golongan wadam transgender, wadam yang secara fisik masih dengan alat kelamin laki-lakinya
karena tidak operasi kelamin (1). Julini belum mengoperasi alat kelaminnya menjadi perempuan dikarenakan pertimbangan ekonomi karena operasi memang tidak murah (Atmojo, 1986: 39-40). Wadam dengan nama asli Bambang Julino (34 tahun) ini diharuskan melewati tiga gerbang dunia lain dengan tujuan untuk menjemput Roima, kekasih yang masih dicintainya bahkan sampai Julini telah mati (2). Julini bangga menjadi kekasih Roima, tidak ada lelaki lain yang Julini cintai selain Roima. Kecintaannya pada Roima menunjukkan bahwa Julini sebagai seorang wadam mampu memberikan kesetiaan hatinya hanya pada seorang laki- laki (3), (4). Julini memanggil Roima dengan panggilan abang sebagai panggilan
sayangnya terhadap Roima. (1)
ROIMA:
Peristiwa dulu itu. Aku penyebabnya. Kalau kamu tidak mati, kita pasti sudah bahagia. Kita cari duit supaya kamu bisa operasi ganti kelamin. Lalu kita pergi ke penghulu, menikah. Dua kali kita gagal
menikah. Sekarang kamu jangan pergi. Aku tidak mau gagal lagi.
(OJ: 416)
(2)
JAGA-1:
Kamu salah masuk gerbang. Ada dua gerbang, satu untuk perempuan, satunya lagi untuk pria. Kamu masuk gerbang untuk
perempuan. Tentu saja ditolak sebab kamu pria. JAGA-2:
Komputer jelas-jelas memberitahu kamu itu laki-laki. Dengar! Saya bacakan. Nama, Bambang Julino. Umur, 34.
Jenis kelamin, laki-laki.
Status, tidak menikah. Kebangsaan, tak terbaca. Agama, tak terbaca. Alamat, tak terbaca. Kasus, mati kena peluru nyasar. Jelas?
(OJ: 379)
(3)
JULINI:
Saya kenal mereka. Duilah, Gusti, itu Roima, Tibal, Tuminah. Itu Roima, suamiku … pujaanku … kekasih jiwaku ….
GUIDE:
Percuma mendekati mereka. Mereka tidak akan bisa melihat kamu. Kamu tidak punya kontak dengan mereka. Dunia kamu dan
dunia mereka berbeda. JULINI:
Bagaimana? Tidak mungkin Roima tidak kenal saya ….
Tidak mungkin, oh, tidak mungkin ….
GUIDE:
jangan lupa, kamu sudah mati.
(OJ: 310)
(4)
JULINI:
Lalu untuk apa disuruh dandan kayak ondel-ondel begini. Katanya disuruh menjemput calon suami. Itu dia suami saya, Roima. Tidak
ada lelaki lain yang saya sayangi selain Roima. JULINI:
Lalu siapa yang akan jadi calon suami saya, kalau Roima tidak bisa melihat saya? Saya tidak ingin punya suami lain, selain dia. (OJ:
314)
Sebagai wadam transgender, Julini menunjukkan perilaku laiknya perempuan pada umumnya. Julini dengan naluri keperempuanannya merias wajah dan kukunya dengan eye sedow, cat bibir, dan cat kuku ketika muncul dalam alam
kematiannya (5), (6). Selain itu, sebagai seorang wadam Julini memiliki sifat genit dan suka merayu lelaki (7), (8).
(5)
LAILA:
Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ:
435)
(6)
LAILA:
Cat kukunya mengkilat, cocok dengan cat bibir. Ini luar negeri, ya?
(7)
JULINI:
Kamu ini penunjuk jalan asli apa palsu, sih? Dari tadi kalau ditanya, jawabnya melulu ‘aku belum bisa bilang’. Memangnya apa yang bisa? Nanti saya perkosa baru tahu rasa. Bikin geregetan orang saja.
Eee, lama-lama saya lihat, si Mas ini ganteng juga. Pakai dasi, rambut rapih, minyak wangi.
(OJ: 357)
(8)
JULINI:
Ogah. Saya perempuan. Sejak lahir saya sudah merasa sebagai perempuan. Makin tua makin yakin saya perempuan. Seumur hidup saya selalu pakai rok. Enak saja disuruh berubah. Lagian mana ada laki-laki yang pantatnya bahenol kayak Julini? Mana ada
laki-laki yang bibirnya seksi kayak saya. Cari. Pasti nggak ada.
(OJ: 379)
(9)
JULINI:
Ini kenyataan, tapi juga khayalan. Ini khayalan tapi juga kenyataan. Pokoknya bolak-balik begitu seperti kaca, dilihat dari sebelah mana
saja, ya, tetep kelihatan. Abang masih suka ‘gituan sebelum sarapan?
JULINI:
Aih, ini yang Julini suka. Abang selalu terus terang. Julini memang jelek, tapi servis, servis kan memuaskan?
(OJ: 415)
Julini suka menggunakan istilah dalam percakapannya dengan tokoh lain. Istilah tersebut antara lain istilah kutilang ‘kumisan tinggi langsing’ dan latunas
‘laki-laki tuna susila’ seperti pada kutipan (10) dan (11). (10)
JULINI:
Roima makin ganteng dia, makin keren, makin jantan, makin seksi. Saya betul-betul gemes lihat kamu. Roima, kamu sekarang sudah
jadi kutilang, ya? GUIDE: Apa?
JULINI:
Kumisan. Tinggi. Langsing. Aiihhh ….
(OJ: 312)
(11)
JULINI:
Latunas, laki-laki tuna susila, istilah sopannya. Cabo laki istilah kasarnya. Orang-orang bilang kami begitu. Padahal Julini ini wanita. Tulen. Betul, banyak lelaki lain mampir di dada Julini. Tapi mereka cuma langganan. Yang saya layani lantaran uangnya, bukan
lantaran cinta. Hanya Roima. Ibaratnya, sekali merdeka tetap merdeka. Sekali Roima, tetap Roima. Dunia langsung gelap kalau dia tidak ada. Lebih baik saya yang tidak bisa lihat Roima, daripada
sebaliknya. Apa ini sulapan?
(OJ: 315)
Julini yang sudah mati masih dan terus dicintai bahkan diidolakan oleh teman-temannya sesama wadam (12), Julini dibuatkan sebuah patung sebagai penghargaan semasa hidup Julini yang disebut dengan Musoleum Patung Julini yang secara tidak langsung menjadi sebuah ikon dari keberadaan wadam. Patung Julini didirikan oleh pejabat yang didemo oleh para wadam dan bandit. Namun, Patung Julini dinilai istri pejabat dan anak-anak buah pejabat terlalu vulgar karena selain membuat kawasan itu semakin kumuh, patung Julini bertelanjang dada dan memegang sebuah pisang (13), (14). Karena dianggap merusak pemandangan kota, Patung Julini rencananya akan dirobohkan (15).
(12)
DUING:
Roima dan Julini, memang luar biasa. Wadam mana yang tidak tahu kisah asmara mereka. Lakon cinta yang sudah jadi legenda. Dan Julini sampai sekarang masih tetap idola kita. Pantas kalau dia
dijadikan patung.
(OJ: 341)
(13)
JULINI:
Mana telanjang dada lagi. Bisa masuk angin kamu nanti. Aduh tangannya pegang pisang. Idiih. Siapa sih yang bikin patung ini?
(OJ: 358)
(14)
ISTRI:
Alllaa, siapa saja, apa peduliku. Tapi tindakanmu Pak, hanya membuat mereka makin bertingkah. Aku setuju kalau musoleum dan patung itu dirobohkan lagi. Apalagi bentuk patungnya kayak
gitu itu. Ih, porno. Jijik. Bikin kotor pemandangan kota saja.
(OJ: 404)
(15)
POLISI-2:
Soal merobohkan patung banci super itu bagaimana, Pak?
(OJ: 405)
Tidak diterimanya Julini dalam masyarakat semakin terlihat ketika Julini yang sudah mati dan berada dalam alam kematian. Meskipun Julini berhasil melewati dua gerbang pertama, tetapi pada gerbang terakhir Julini tidak berhasil lolos karena di sana terdapat dua pintu, yaitu pintu untuk perempuan dan pintu untuk laki-laki. Julini selalu yakin bahwa dirinya adalah perempuan tulen, karena itu Julini tidak bisa memasuki pintu untuk perempuan yang sesungguhnya mengharuskan Julini masuk ke pintu untuk laki-laki. Julini ditolak oleh pintu
untuk perempuan. Seberapa pun perjalanan Julini memperjuangkan
keperempuanannya tidak akan pernah ada habisnya karena di mana pun Julini berada, keberadaannya sebagai wadam sulit diterima bahkan di alam kematian sebagai tempat terakhir bagi arwah Julini (16), (17), (18). Meskipun begitu, Julini dengan status wadamnya menunjukkan bahwa Julini tidak berhenti menyerah dan selalu berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya adalah seorang perempuan.
(16)
GUIDE:
Selamat jalan Julini, masih banyak yang harus kamu lewati. Lautan kecap, padang api, sungai darah, danau angin, pegunungan tengkorak, jembatan pisau, tangga kapas, sumur tanpa dasar.
GUIDE:
Aku kasihan padamu, karena perjalananmu tidak akan habis.
(OJ: 376)
(17)
JULINI:
Eh, ada penjaga. Mas, Mas, situ jaga gerbang ini, ya? Eh, ada dua. Mas? Mas. Nggak pada punya kuping kali, ya?
Ya sudah, saya masuk saja.
(MASUK TAPI BERJUTA GARIS CAHAYA MENAHANNYA. JULINI TERPELANTING DITONJOK
CAHAYA-CAHAYA ITU)
Aduuh, toobaat. Apa sih maksudnya? Katanya disuruh masuk? Kok tidak bisa? Mas? Mas? Situ yang jaga gerbang ini, ya? Duh, ini sama
gelonya ya dengan penunjuk jalan tadi. Masa nggak bisa masuk? (MENCOBA UNTUK MASUK LAGI. TAPI BEGITULAH, KEMBALI BERJUTA GARIS CAHAYA MENONJOKNYA
HINGGA DIA TERPELANTING) Aduh, aduh, edan.
(OJ: 377)
(18)
JULINI:
Mana saya tahu? Yang saya tahu, saya macet di sini. Ibaratnya kalau kita lagi meladeni langganan, kita tutup anu kita, padahal dia udah
ngebet. Sekarang kebalik. Kita ngebet, anu dia ditutup. Lihat enggak tuh, di situ. Ada dua pintu. Satu untuk laki-laki, satunya lagi
untuk perempuan. Saya boleh masuk asal lewat pintu untuk laki- laki. Saya perempuan. Saya tidak mau.
JULINI: Begitulah, kita ditolak. (OJ: 437)
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh kesimpulan penokohan tokoh Julini adalah seorang wadam transgender dengan nama asli Bambang Julino, kekasih Roima yang setia (1), (2), (3), (4); Julini suka merias diri, bangga pada jati dirinya sebagai wadam transgender, sifatnya genit dan suka merayu laki- laki (5), (6), (7), (8), (9). Julini menggunaan istilah khusus agar tak kalah bereksistensi (10), (11). Selain itu, Julini menjadi idola dan ikon melalui Musoleum Patung Julini, tetapi masyarakat menilai wadam itu vulgar, bebas, tidak sopan, kotor, vulgar tanpa mengerti norma, dan menyimpang dari kodrat (12), (13), (14), (15). Namun, Julini yakin bahwa dirinya adalah perempuan tulen meskipun ditolak dan sulit diterima bahkan di alam kematian. Hal ini tidak membuat Julini berhenti menyerah dan selalu berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan (16), (17), (18).
2.3.1.2 Roima
Roima adalah seorang laki-laki pimpinan kawanan bandit dan juga wadam. Bersama Tibal, Roima menjalankan rencana-rencana kawanannya (19). Sebagai laki-laki tulen, Roima mencintai Julini apa adanya. Setelah ditinggal mati oleh Julini, Roima masih selalu teringat kepada Julini. Bahkan Roima sering merasa bersalah atas kematian Julini. Roima memang menjalin hubungan dengan Tuminah, tapi hal itu tidak membuat Roima berhenti mencintai Julini. Sebenarnya yang dicintai Roima hanya Julini. Roima menunjukkan bahwa Roima sangat setia dan tidak pernah berpindah ke lain hati (20), (21), (22).
Kisah kasih Roima yang pernah mejalin hubungan dengan seorang wadam dan juga seorang perempuan memperlihatkan bahwa Roima berorientasi seksual sebagai biseksual4. Biseksual adalah orang-orang yang mempraktikkan baik
homoseksualitas maupun heteroseksual sekaligus (Supratiknya, 1995: 95). Meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan, tetapi sebagai manusia biseksual Roima mau melakukan hubungan seksual dengan Julini maupun Tuminah. Dalam kedua hal tersebut, Roima sama-sama berperan sebagai laki-laki. Ketika bersama dengan Tuminah, jelas sekali Roima berperan sebagai laki-laki seperti biasa, sedangkan ketika bersama dengan Julini, dapat dikatakan bahwa Roima berlaku seperti homoseksual yang berperan sebagai laki-laki (22), (23).
(19)
ROIMA:
Pada saatnya nanti kita bukan lagi bandit-bandit kasar yang bisanya cuma berkelahi. Kita akan menguasai ekonomi negeri ini. Dengan organisasi yang rapi dan ketat, dengan modal yang kuat, saya yakin rencana kita pasti terwujud. Inilah janji saya; pasti datang satu masa, nanti, kalian akan menjadi orang terhormat, orang yang dihargai, bukan
lagi kecoa yang cuma berani merangkak di bawah kaki orang lain.
(OJ: 308)
(20)
ROIMA:
Aku datang Jul. kamu pasti sudah tahu kenapa aku datang. Aku tidak pernah bisa melupakan kamu. Karena aku, kamu pergi. Karena aku, kamu tertembak mati. Aku menyesal. Aku goblok, tidak pernah sanggup bilang terima kasih. Apa yang kuperoleh ini,
semuanya karena kamu. Belum sempat membalas, kamu sudah mati.
(OJ: 414)
(21)
ROIMA:
Jul, kamu mau memaafkan? Aku selalu merasa bersalah.
4
Mempunyai sifat kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan); tertarik kepada kedua jenis kelamin (baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan), KBBI, hlm. 199.
ROIMA:
Peristiwa dulu itu. Aku penyebabnya. Kalau kamu tidak mati, kita pasti sudah bahagia. Kita cari duit supaya kamu bisa operasi ganti kelamin. Lalu kita pergi ke penghulu, menikah. Dua kali kita gagal
menikah. Sekarang kamu jangan pergi. Aku tidak mau gagal lagi.
(OJ: 416)
(22)
ROIMA:
Aku masih tetap ingat kamu, aku tidak tahu kalau itu yang dinamakan cinta. Kamu tidak ada bandingannya.
Biar kamu jelek seperti celepuk.
(OJ: 415)
(23)
TUMINAH:
Kamu pikir apa gunanya segala perhiasan dan cat kuku itu? Semuanya demi Roima. Tapi Duing, boleh aku terus terang, sudah hampir satu tahun aku tidak ‘gituan dengan Roima. Aku tidak tahu
sebabnya. Mungkin dia punya pacar lagi, tapi rasanya tidak, entahlah. Mungkin aku sudah tidak menggairahkan lagi.
(OJ: 340)
Roima memiliki impian bahwa suatu saat dia bersama kelompok bandit dan para wadam punya kehidupan yang lebih baik. Melalui usaha-usaha seperti perjudian, pelacuran, bioskop, dan hotel yang telah mereka jalankan bersama, Roima membangun kehidupan yang lebih baik meskipun usaha-usaha tersebut mereka jalankan secara sembunyi-sembunyi karena mereka adalah kaum terpinggirkan (24), (25). Bagi Roima, kekayaan dan keberhasilan atas segala yang dia miliki akan sangat berpengaruh terhadap pandangan orang lain bahwa orang- orang terpinggirkan juga mampu berkedudukan sama dengan para kalangan terhormat dan berkelas (26). Dalam hal ini kekayaan sangat berpengaruh dalam segala hal kehidupan. Roima hanya lelah dan jenuh dengan kehidupannya yang tidak pernah jauh dari kriminalitas dan penghinaan (27).
(24)
ROIMA:
Itu celakanya. Rencana ini pasti makan waktu lama. Tidak bisa seketika. Betul, kekuatan adalah kekuasaan. Dan kekuasaan bisa dibentuk dengan uang. Kita harus punya banyak uang. Usaha itu sudah kurintis. Kita punya usaha perjudian, tempat pelacuran,
bioskop dan hotel-hotel.
(OJ: 334)
(25)
ROIMA:
Kami sedang merencanakan sesuatu yang besar. Kalau berhasil keuntungannya bakal berlipat. Kalian sebagai kepala cabang harus simpan rahasia ini rapat-rapat. Bocor sedikit saja, kita semua
mampus.
(OJ: 312)
(26)
ROIMA:
Aku tahu untuk apa aku kerja keras. Hanya kuda atau kerbau saja Yang tidak tahu untuk apa kerja keras. Kita kaya sekarang.
Memang.
Tapi apa bisa mengangkat diri kita ke dalam kalangan terhormat? TUMINAH:
Apa kamu gila hormat? ROIMA:
Aku belum selesai omong. Kita ini orang rendah, karena kita bandit-bandit kasar yang hanya mengandalkan tinju dan belati. Kehormatan? Apa itu tidak penting untuk orang-orang macam kita
yang selama ini ‘ngumpet di dalam comberan? ROIMA:
Apa kamu tidak ingin suatu saat nanti, kita bisa bergaul dengan kalangan jas dan dasi itu, membicarakan golf, lukisan dan turunnya
harga minyak di pasaran dunia? Aku ingin.
Aku ingin suatu saat nanti, kita satu meja makan dengan kalangan jas dan dasi itu, membicarakan macam-macam soal, tanpa malu-
malu. Kita sedang bergerak ke arah itu. Masa kita tidak mau belajar? Kita orang bodoh, tapi kita punya kesempatan untuk jadi
pintar. Jangan sia-siakan. Kita punya uang sebagai modal. Kita tidak ingin terus menerus jadi kuda tunggangan.
Kita harus jadi majikan.
(27)
ROIMA:
Selama ini, usaha-usaha kita jalankan sembunyi-sembunyi. Kita upah orang-orang kepercayaan kita. Sebab begitu kita nongol,
polisi langsung akan menciduk kita.
Aku tidak ingin jadi orang di belakang layar terus. Aku ingin mereka tahu inilah aku, otak dari semua usaha ini. Aku tidak ingin
ngumpet dan buronan seumur hidup.
(OJ: 337)
Roima merupakan pemimpin yang bersifat tegas, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, berhati-hati dalam merencanakan sesuatu, dan berusaha menjaga kerahasiaan kelompok (28). Meskipun Roima berkedudukan sebagai pemimpin bandit, Roima adalah pemimpin yang menghargai orang lain terutama bandit-bandit anak buahnya dan juga para wadam (29), (30). Selain kebaikan hatinya, Roima juga mampu dan berhati-hati dalam mengambil keputusan yang bijak. Namun, dalam perjalanan memimpin kelompok bandit, Roima sering berselisih pendapat dengan Tibal karena mereka tidak sepaham dan masing- masing memiliki sifat yang berlawanan. Roima sadar bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, perselisihan antara Roima dan Tibal terjadi sehingga membuat Roima merasa ragu-ragu dan putus asa akan kemampuannya dalam memimpin kawanan bandit dan wadam (31), (32).
(28)
ROIMA:
Aku setuju dia dihukum, tapi aku tidak setuju cara kamu yang di luar perikemanusiaan itu. Kalau mau bunuh, bunuh lekas. Jangan
disiksa begitu, kita bukan orang biadab. ROIMA:
Memang kita bandit, tapi kita bukan orang gila. Sekarang apa yang kamu inginkan dari pengkhianatan ini? Bunuh? Baik. Bunuh dia lekas. Bunuh. Tidak ada yang mau? Baik. Mana belatimu Bajenet?
Sini.
(OJ: 395)
(29)
ROIMA:
Tibal, jangan kelewatan begitu.
Bleki sudah menyerahkan diri kepada kita. Sudah selayaknya kita memperlakukan dia dengan baik.
(OJ: 311)
(30)
ROIMA:
Tenang. Tenang. Kita bubaran.
Jangan berkelompok. Semuanya pergi berpencar. Kita ketemu seminggu lagi di tempat pertemuan nomor tiga,
jam dua belas. Bubar.
(OJ: 318)
(31)
ROIMA:
Aku memang selalu ragu-ragu, aku tidak bisa jadi pemimpin. Aku tidak sanggup.
(OJ: 397)
(32)
ROIMA:
Dan keinginan untuk bersatu, tidak mungkin bisa lahir dari dendam. Dia harus tumbuh, alamiah, lahir karena kesadaran
sendiri. Itulah kekuatan yang sebenarnya. ROIMA:
Betul, aku harus banyak teman. Ah, Tuminah, kenapa kita jadi begini? Mungkin lebih enak hidup seperti lima belas tahun lalu.
Miskin dan dikejar-kejar, tapi tidak rumit seperti sekarang.
(OJ: 398)
Kesimpulan penokohan tokoh Roima dari penjelasan di atas adalah Roima merupakan pimpinan kelompok bandit dan wadam. Roima selalu merasa bersalah atas kematian Julini; Roima sangat mencintai Julini walaupun Roima dekat dengan Tuminah; dan Roima berorientasi seksual sebagai biseksual (19), (20), (21), (22), (23). Impian Roima adalah memperbaiki kehidupannya melalui usaha-
usahanya agar Roima memiliki kekayaan dan kesuksesan dan menjadi manusia terhormat karena lelah dan jenuh dengan kehidupannya (24), (25), (26), (27). Sebagai pemimpin, Roima bersifat tegas, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, berhati-hati merencanakan sesuatu, menjaga rahasia kelompok dengan baik, pemimpin yang menghargai orang lain, bijaksana, berhati nurani, dan tidak suka kekerasan. Namun, ada kalanya Roima juga merasa rapuh, ragu-ragu dan putus asa akan keberhasilan impiannya (28), (29), (30), (31), (32).