• Tidak ada hasil yang ditemukan

CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

CITRA WADAM

DALAM DRAMA

OPERA JULINI

KARYA NORBERTUS RIANTIARNO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Winda Dorothea Putri Pranawengrum

NIM: 094114018

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN

SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

CITRA WADAM

DALAM DRAMA

OPERA JULINI

KARYA NORBERTUS RIANTIARNO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Winda Dorothea Putri Pranawengrum

NIM: 094114018

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN

SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2014

(3)
(4)
(5)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 29 Agustus 2014

Penulis

(6)

v

Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah

untuk Kepentingan Akademis

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Winda Dorothea Putri Pranawengrum

NIM : 094114018

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “Citra Wadam dalam

Drama Opera Julini Karya Norbertus Riantiarno”.

Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma

hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk

pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan di internet

atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya

maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya

sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 29 Agustus 2014

Yang menyatakan,

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya skripsi berjudul “Citra Wadam dalam Drama Opera Julini Karya Norbertus Riantiarno”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat meraih gelar sarjana Sastra Indonesia.

Skripsi ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis, di antaranya:

1. S. E. Peni Adji, S.S., M.Hum., selaku ibu juga dosen pembimbing I yang dengan sabar mendampingi, merangkul, mengarahkan, dan memberi masukan serta dukungan dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi penulis.

2. Drs. B. Rahmanto, M.Hum., selaku dosen pembimbing II, atas bimbingan, bantuan, serta kritik yang diberikan kepada penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi.

3. Bapak dan Ibu dosen Sastra Indonesia; Fr. Tjandrasih Adji, M.Hum. (selaku ibu juga dosen yang pernah menjadi Dosen Pembimbing Akademik penulis), Drs. Hery Antono, M.Hum. (selaku Kaprodi juga Dosen Pembimbing Akademik pengganti), Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Drs. F.X. Santosa, M.S., Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum., dan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., serta dosen-dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas keakraban, kekeluargaan, serta bimbingan yang diberikan kepada penulis untuk menimba ilmu di Program Studi Sastra Indonesia. 4. Kedua orangtua penulis, Bapak Darsono Eko Noegroho dan Ibu Neny

Witantri, serta Mas Dany Brakha Putra Pranawa, keluarga tercinta yang telah membiayai, bersabar, mendukung, menginspirasi, dan mengasihi yang terangkum dalam doa yang tak ada habisnya diberikan kepada penulis.

5. Kekasih, Oktavianus Ari Dwi Kristanto atas suka duka yang mengiringi terselesaikannya skripsi ini dengan selalu bersabar, pengertian, mengasihi, menginspirasi, mengingatkan, dan memotivasi penulis.

6. Staf Sekretariat Program Studi Sastra Indonesia dan Fakultas Sastra yang membantu mengurus keperluan akademik penulis selama menjalani studi.

(8)

vii

7. Pengelola dan staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang

membantu penulis dalam menyediakan buku-buku yang dibutuhkan untuk penelitian ini.

8. Ketua kelas Prodi Sastra Indonesia angkatan 2009, Sony, juga seluruh teman-teman Prodi Sastra Indonesia angkatan 2009; Janice, Tami, Tanta, Dita, Tita, Lala, Dian, Nuri, Charles, Bono, dan Tony terima kasih atas pertemanan, dukungan, bantuan, semangat, dan kebersamaannya dari awal perkuliahan sampai kapan pun, serta Grace, Indah, Ervita, Lydia, Niken, Risti, Lukas, dan Wahid yang telah memilih melanjutkan kehidupannya di tempat yang lain.

9. Sahabat-sahabat terbaik sejak bangku SMP; Anik, Tika, Resa, Dedeh, dan

Rara karena memberi semangat, membantu, memotivasi, mengingatkan, sampai memarahi penulis tanpa henti demi terselesaikannya skripsi ini. 10. Saudara sepupu penulis, Mikhael Prastian Pandu Bongso, terima kasih

atas bantuannya menemani penulis lembur dalam mempersiapkan ujian pendadaran.

11. Semua pihak yang ikut membantu dan mendukung penyusunan skripsi ini

yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari, skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan, saran, dan kritik yang membangun dari para pembaca demi lebih baiknya skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Yogyakarta, 29 Agustus 2014

(9)

Sing ora tak karepake

Saiki kudu tak tindakake

Nanging karana berkahing Gusti

Aku bisa nglakoni

Urip kuwi ajar nresnani sing ora sampurna lan ajar narima sing ora keduga..

-Dany Brakha-

Gedhekna geni kang wus murup ing uripmu,

Supaya tansah dadi pepadhang kanggo uripmu lan pepadha.

Gawea urup kuwi tansah mewayu wayuning bawana.

-Ari Kris-

Karya sederhana ini kudedikasikan untuk

Bapak Darsono Eko dan Ibu Neny Witantri serta Mas Dany Brakha,

Mas Ari Kristanto,

Prodi Sastra Indonesia USD,

Segenap sahabat dan teman-teman Prodi Sastra Indonesia

(10)

ABSTRAK

Pranawengrum, Winda Dorothea Putri. 2014. “Citra Wadam dalam Drama

Opera Julini Karya Norbertus Riantiarno”. Skripsi Strata Satu (S1).

Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Skripsi ini membahas citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Wadam merupakan sebuah masyarakat marjinal dengan berbagai aspek kehidupan yang sangat menarik untuk diperhatikan. Sudah bisa dipastikan kehadiran mereka di dunia fana ini bukan karena kehendak mereka sendiri, melainkan merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, hingga sekarang masih banyak kalangan dari masyarakat kita yang belum bisa menerima keberadaan wadam dan komunitasnya. Skripsi ini bertujuan (1) mendeskripsikan tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dan (2) mendeskripsikan citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno.

Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah studi sastra yang fokus dalam menemukan hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Data dikumpulkan menggunakan metode studi pustaka dan observasi nonpartisipan dengan teknik catat. Analisis data menggunakan metode formal dan metode analisis isi. Metode formal digunakan untuk menganalisis unsur tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini, sedangkan metode analisis isi digunakan untuk menganalisis konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini. Hasil analisis data disajikan dengan metode deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini meliputi tokoh dan penokohan serta citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Tokoh protagonis dalam drama ini yaitu Julini dan Roima; tokoh antagonis yaitu Tibal dan Pejabat; tokoh tritagonis yaitu Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda. Delapan tokoh yang menunjukkan identitasnya sebagai wadam yaitu Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda.

Konstruksi citra wadam yang terdapat dalam drama Opera Julini adalah (1) transgender, (2) mengubah penampilan menjadi perempuan, (3) genit atau centil, (4) vulgar, (5) suka menggoda lelaki, (6) posesif, (7) mengubah nama, (8) suka bersolek, (9) suka berebut lelaki dan berkelahi seperti perempuan, (10) pantang menyerah, (11) tidak diterima dalam masyarakat, (12) memperjuangkan pengakuan sebagai wadam, (13) membentuk komunitas wadam, (14) strata sosial kelas bawah, (15) bekerja sebagai pelacur, (16) persahabatan erat, (17) setia kawan, (18) menciptakan bahasa khusus, dan (19) suka bercanda.

(11)

ABSTRACT

Pranawengrum, Winda Dorothea Putri Pranawengrum. 2014. “The Image of

Transvestite in Opera Julini Play by Norbertus Riantiarno”.

Undergraduate Thesis. Indonesian Letters Study Programme,

Department of Indonesian Letters, Faculty of Letters, Sanata Dharma University.

This thesis discusses about the image of transvestite in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno. Transvestite is a minor community which consists of people who have various interesting life aspects to notice. Their existence in this earthly world is surely not based on their own will, but it is the Almighty God’s will. However, many people in the society still cannot accept the existence of transvestite community. The aims of this thesis are (1) to describe both character and characterization in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno and (2) to describe the image of transvestite in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno.

This thesis employs sociological literature approach. The sociological literature approach is a literary study which focuses in finding the relation between literary work and the society. The data are collected by using library research method and written observation of non-participant. The analysis employs both formal and content analysis methods. The formal method is used to analyze the elements of the character and characterization in Opera Julini play, while the content analysis is used to analyze the construction of transvestite image in Opera Julini play. The result of data analysis is served by using descriptive qualitative method.

The result of this thesis covers the character and characterization also the image of transvestite in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno. The protagonists in the play are Julini and Roima; the antagonists are Tibal and Pejabat; the tritagonists are Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni and Wanda. The eight characters who show their identity as transvestites are Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni and Wanda.

The construction of transvestite image happened in Opera Julini play consist of (1) transgender, (2) transform to female appearance, (3) flirtatious, (4) vulgar, (5) love to seduce men, (6) possessive, (7) changing names, (8) love to dress up, (9) love to fight over men and to quarrel like ladies, (10) impregnable, (11) socially rejected, (12) struggle the confeesion as transvestites, (13) to form a community of transvestite, (14) lower class, (15) work as a prostitute, (16) solid friendship, (17) sense of solidarity, (18) creating new terms, and (19) love to tease.

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………...

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………..

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ………

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………..

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ……….

(13)

1.6.4.2 Citra Sosial Wadam dalam Masyarakat Indonesia …... 16

1.6.4.2.1 Aspek Masyarakat ………... 16

1.6.4.2.2 Aspek Komunitas Wadam ………... 18

1.7 Metode Penelitian ……… 20

1.7.1 Pendekatan ……….. 20

1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ………. 21

1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data ……….. 22

1.7.4 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ………... 22

1.8 Sumber Data ……… 23

1.9 Sistematika Penyajian ……….. 23

BAB II UNSUR TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO ………...…… 24

2.1 Pengantar ……….. 24

2.2 Sinopsis Drama Opera Julini ...……….………... 24

2.3 Tokoh dan Penokohan Drama Opera Julini ………....……… 31

2.3.1 Tokoh Protagonis ……… 31

2.3.1.1 Julini ………. 31

2.3.1.2 Roima ………... 38

2.3.2 Tokoh Antagonis ………..……….. 44

2.3.2.1 Tibal ………. 45

2.3.2.2 Pejabat ……….. 49

2.3.3 Tokoh Tritagonis ……… 53

2.3.3.1 Duing ……… 54

2.3.3.2 Laila ……….. 57

2.3.3.3 Ike ………. 62

2.3.3.4 Esyi ………... 65

2.3.3.5 Tea ……… 67

2.3.3.6 Syeni ………. 69

2.3.3.7 Wanda ………... 70

(14)

2.4 Rangkuman ……….. 72

3.2.1.2 Mengubah Penampilan menjadi Perempuan …………

3.2.2 Psikis Wadam ……….

3.2.2.7 Suka Berebut Lelaki dan Berkelahi seperti Perempuan

3.2.2.8 Pantang Menyerah ………

3.3 Citra Sosial Wadam ……….

3.3.1 Wadam dalam Masyarakat ……….

3.3.1.1 Tidak Diterima dalam Masyarakat ………...

3.3.1.2 Memperjuangkan Pengakuan sebagai Wadam ……….

3.3.1.3 Membentuk Komunitas Wadam ………...

3.3.1.4 Strata Sosial Kelas Bawah ...……….

3.3.1.5 Bekerja sebagai Pelacur ………...

3.3.2 Wadam dalam Komunitasnya ……….

3.3.2.1 Persahabatan Erat ……….

3.3.2.2 Setia Kawan ………..

3.3.2.3 Menciptakan Bahasa Khusus ………...

(15)

3.4 Rangkuman ……….. 103

BAB IV PENUTUP ………. 105

4.1 Kesimpulan ……….. 105

4.2 Saran ……… 109

DAFTAR PUSTAKA ……….. 110

SUMBER TELEVISI DAN ONLINE ………. 112

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara normatif, berdasarkan jenis kelamin manusia dibedakan menjadi

dua jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Kedua kelompok manusia

tersebut diharapkan secara sosial memiliki sifat dan peran yang sesuai dengan

kategori gendernya masing-masing. Di antara kedua kelompok manusia tersebut

terdapat sekelompok individu yang merasa bingung dengan peran jenis

kelaminnya. Individu dengan gangguan identitas gender biasa disebut waria

(wanita pria), atau bisa juga disebut wadam yang merupakan akronim dari kata

hawa dan adam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 1552).

Menurut Atmojo (1986: 2, 41), dalam pengertian umum, wadam adalah

seorang laki-laki yang berdandan dan berlaku sebagai wanita. Biasanya, istilah

wadam memang ditujukan untuk penderita transeksual (seseorang yang memiliki

fisik berbeda dengan keadaan jiwanya). Nama lain transeksualisme adalah gender

dysphoria syndrome yang berarti pada pokoknya yang didapati ialah

ketidakpuasan individu tersebut dengan gender yang mereka miliki, yakni

identitas gender dan tingkah laku gender.

Ada banyak kontroversi yang muncul dari keberadaan wadam, ada

masyarakat yang pro terhadap wadam tetapi juga masih banyak yang kontra.

Kontroversi tersebut berupa tidak adanya kesesuaian antara fisik dan psikis, maka

timbul konflik pribadi wadam dengan kelompok masyarakat. Heterogenitas inilah

(17)

yang memengaruhi persepsi atau penilaian seseorang terhadap wadam (Atmojo,

1986: 98). Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih kesulitan

menerima wadam sebagai suatu identitas gender, karena di Indonesia belum ada

undang-undang maupun asas hukum bagi pengadilan yang mengatur soal

pergantian kelamin (Ibid., 76).

Naskah drama Opera Julini merupakan bagian ketiga dari drama trilogi

Opera Kecoa. Hal menarik dalam drama Opera Kecoa karya Norbertus

Riantiarno khususnya drama Opera Julini, ini adalah drama berlatar kehidupan

prostitusi di kolong jembatan, khususnya wadam. Drama Opera Julini ini

menceritakan kehidupan masyarakat kelas sosial rendah yang tersingkir

diibaratkan seperti kecoa yang hidup di comberan yang kumuh dan kotor. Mereka

dianggap najis, sumber maksiat, dan tanpa moral. Mereka selalu dilukai oleh

penguasa atau golongan atas dan tak sanggup membalas. Khususnya wadam,

dalam drama ini wadam adalah pemilik status sosial terendah. Dalam kelompok

masyarakat dengan budaya heteroseksual, sosok wadam masih menjadi fenomena

sosial tersendiri bagi masyarakat sosial rendah.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya memilih naskah drama Opera Julini

sebagai bahan penelitian karena drama Opera Julini merupakan puncak akhir

cerita yang memberikan gambaran paling jelas mengenai nasib yang dialami para

wadam. Bahkan sampai saat meninggal pun wadam masih merasakan penolakan.

Tokoh wadam dalam drama Opera Julini memberikan gambaran yang cukup jelas

(18)

juga mampu menyajikan tokoh wadam beserta wataknya dengan sangat baik

melalui cerita komedi-ironinya yang sangat menarik.

Drama Opera Julini secara umum mengisahkan tentang kehidupan rakyat

miskin yang terpinggirkan. Di dalamnya hidup kelompok wadam. Salah satu

wadam tersebut bernama Julini yang pada trilogi ketiga yaitu drama Opera Julini

sudah mati. Julini sebagai wadam yang sudah mati, masih diharuskan melewati

banyak gerbang untuk sampai ke tempat tujuan akhir (alam kematian), yang pada

akhirnya dihadapkan dengan pilihan ke mana orientasi seksual para wadam, pintu

untuk laki-laki atau pintu untuk perempuan. Arwah Julini beserta arwah wadam

lainnya memilih pintu untuk perempuan, tetapi ditolak. Di dunia nyata, kelompok

bandit Roima dan Tibal semakin berkembang. Namun, keegoisan dan keangkuhan

Tibal berakhir pada peristiwa pembunuhan Roima oleh Tibal. Di sisi lain

permasalahan dan tekanan dari pemerintah untuk memusnahkan kelompok bandit

terus terjadi. Teror, kerusuhan, salah wewenang, bawahan bertindak semaunya,

semakin kacau ketika pejabat sakit mata dan nyaris buta. Dalam kerusuhan kota

tersebut, sekelompok wadam menjadi korban senapan mesin akibat keteledoran

dua polisi mabuk, padahal para wadam itu baru saja selesai mengikuti penataran

P-6 (Pendidikan Pedoman Penghayatan Perilaku Pantang Pertengkaran).

Naskah ini menggunakan setting cerita yang mengangkat kehidupan

sekelompok wadam yang tinggal di kolong jembatan di Jakarta. Bagaimana

wadam sangat sulit mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga sebagian besar

bekerja sebagai pelacur. Jika ditinjau dari segi budaya kita, keberadaan para

(19)

Orientasi seksual yang tidak sama dengan fisik menjadi hal tabu bagi masyarakat

heteroseksual, sehingga belum ada jalan keluar bagi kasus keberadaan wadam.

Konflik interpersonal wadam bersamaan dengan segala macam penolakan dari

masyarakat membentuk watak, perilaku, dan karakter tersendiri bagi wadam. Hal

tersebut pada akhirnya membangun terbentuknya suatu citra pada wadam, baik

positif maupun negatif.

Citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dipilih

sebagai topik dalam penelitian ini didasarkan alasan sebagai berikut. Pertama,

pada drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno banyak ditemukan tokoh

wadam yang juga menjadi tokoh yang paling berpengaruh dalam proses

berjalannya cerita. Kedua, terkait dengan banyak ditemukannya wadam pada

drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno, terbukti bahwa wadam

merupakan fenomena sosial yang perlu diteliti. Ketiga, ada berbagai macam sikap

dan sifat yang dimiliki oleh wadam serta sikap dan pandangan orang lain terhadap

wadam yang terdapat dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno yang

mengkonstruksikan citra wadam.

Drama Opera Julini karya Norbertus Rantiarno merupakan teks sastra

yang akan dijadikan bahan penelitian. Teks-teks sastra dalam drama tersebut akan

dianalisis unsur tokoh dan penokohannya sebelum lebih jauh menganalisis citra

wadam. Selanjutnya analisis tokoh dan penokohan digunakan sebagai batu

lompatan untuk mengkonstruksi citra wadam yang diasumsi merupakan cerminan

(20)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dalam 1.1, permasalahan yang dibahas dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini karya

Norbertus Riantiarno?

2. Bagaimana citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus

Riantiarno?

1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan konstruksi citra

wadam dalam drama Opera Julini. Secara khusus tujuan penelitian ini dapat

dirinci sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini

karya Norbertus Riantiarno.

2. Mendeskripsikan citra wadam dalam drama Opera Julini karya

Norbertus Riantiarno.

1.4 Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini adalah konstruksi citra wadam dalam drama Opera

Julini karya Norbertus Riantiarno yang diperoleh dari analisis tokoh dan

penokohan. Secara umum hasil penelitian tentang citra wadam ini muncul karena

(21)

Manfaat teoretis penelitian ini adalah memberikan sumbangan ilmu

pengetahuan di bidang sosiologi sastra yaitu memberikan contoh kajian penerapan

teori tokoh dan penokohan dalam naskah drama serta konstruksi citra wadam

yang tergambar oleh drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Manfaat

praktis penelitian ini adalah sebagai rujukan penelitian tentang studi gender

khususnya wadam, serta sebagai rujukan penelitian mengenai terbentuknya

bahasa khusus wadam dalam kajian sosiolinguistik. Dengan demikan, diharapkan

penelitian ini dapat membantu pembaca memahami drama Opera Julini karya

Norbertus Riantiarno secara lebih mendalam.

1.5 Tinjauan Pustaka

Topik tentang wadam secara umum pernah dibahas oleh Atmojo (1986),

Soedijati (1995), dan Yangni (2004).

Atmojo dalam bukunya berjudul Kami Bukan Lelaki (1986) yang

didasarkan pada penelitian terhadap sejumlah kelompok wadam. Hasil penelitian

tersebut mengungkapkan bahwa wadam bukan termasuk dalam kelompok gay

(homoseksual), tetapi termasuk dalam kelompok transeksual. Berdasarkan hasil

penelitiannya, sifat transeksual diperoleh karena tidak sengaja—bawaan sejak

lahir—dan akan semakin kuat ketika sifat transeksual tersebut didukung oleh

konstruksi sosial dan kultural. Misalnya pada konstruksi kultural diketahui adanya

kesenian Reog Ponorogo yang telah lama memperkenalkan homoseksualitas dan

(22)

berlaku sebagai wanita yang tak jarang kebiasaan pemain laki-laki berperan

sebagai wanita itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari (Atmojo, 1986: 3-6).

Sementara itu, Soedijati dalam penelitiannya berjudul Solidaritas dan

Masalah Sosial Kelompok Wadam (1995) menjelaskan, wadam adalah seseorang

yang memiliki fisik pria, tetapi psikis wanita yang diperoleh sejak lahir. Para ahli

di bidang kelainan seks berpendapat bahwa kaum wadam memiliki hasrat

hubungan seks yang sangat tinggi dengan laki-laki. Untuk memenuhi hasrat seks

itu mereka sebagian besar melakukan kegiatan “turun jalan”, hubungan seks

secara tetap dengan pacar dan ada pula dengan cara membayar laki-laki yang

diinginkan dan bersedia melayani. Tidak adanya kesesuaian antara fisik dan

psikis, menyebabkan mereka berperilaku menyimpang yang menimbulkan

masalah-masalah sosial. Meskipun wadam kaum marjinal, tetapi kondisi mereka

memudahkan interaksi secara efektif yang menguatkan solidaritas antarwadam

sehingga mereka dapat membentuk organisasi yang kompak.

Selanjutnya, Yangni (2004: 22-23), menjelaskan pertemuan seorang

wadam dengan wadam lainnya dalam situasi tertentu dan wilayah tempat tinggal

tertentu memunculkan pembicaraan mengenai aktivitas yang sama. Aktivitas yang

dilakukan wadam merupakan aktivitas homoseksual yang muncul melalui pola-

pola perilaku teratur yang dilakukan mereka. Aktivitas tersebut dimanifestasikan

dengan bahasa mereka, yaitu bahasa wadam yang berasal dari aktivitas seksual

homoseksual. Menjadi kaum marjinal di tengah budaya heteroseksual, ekspresi

dan representasi kaum wadam yang berupa bahasa digunakan untuk

(23)

Drama trilogi Opera Kecoa karya Norbertus Riantiarno sebelumnya

pernah diteliti oleh Sasanti dalam „Kekerasan Struktural oleh Pemerintah terhadap

Kaum Urban Miskin di Jakarta dalam Drama Trilogi Opera Kecoa Karya

Norbertus Riantiarno: Tinjauan Sosiologi Sastra‟ (2007), yang menyatakan

tentang kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat dalam drama trilogi Opera

Kecoa yang terdiri atas dua tingkatan anggota masyarakat, yaitu pemerintah

sebagai kelas atas dan kaum urban miskin sebagai masyarakat kelas bawah.

Kekerasan struktural dominan dilakukan oleh pemerintah. Dalam hal ini kaum

urban miskin sebagai korban tidak dapat melacak secara langsung pelaku

kekerasan struktural karena ketika kekerasan ini terjadi kebanyakan korbannya

menanggap bahwa hal yang mereka alami wajar terjadi dalam kehidupan dan

hubungan sosial mereka, sehingga bagi kaum urban miskin bentuk kekerasan ini

tidak dapat diketahui secara langsung, tapi dampak dari kekerasan inilah yang

akan sangat mereka rasakan.

Berdasarkan kajian sosiologi sastra, Sasanti menemukan adanya kekerasan

struktural oleh pemerintah terhadap kaum urban miskin dalam drama trilogi

Opera Kecoa karena penggunaan kekuasaan secara berlebih, ketidaksamaan

struktur sosial, perekonomian yang tidak merata, penggunaan jabatan untuk

memperoleh keunggulan, dan monopoli kekuasaan. Akibat dari kekerasan

struktural oleh pemerintah terhadap para kaum urban miskin adalah kekuasaan

yang dimiliki tiap kelas sosial tidak seimbang. Sementara itu, dalam penelitian ini,

yang diteliti merupakan trilogi bagian ketiga drama Opera Kecoa yaitu drama

(24)

sastra untuk menemukan konstruksi citra wadam yang terkandung dalam drama

tersebut.

1.6 Landasan Teori

Suatu penelitian memerlukan teori-teori atau pendekatan yang tepat dan

sesuai dengan objeknya. Landasan teori dalam penelitian ini memaparkan tokoh

dan penokohan dalam drama, kajian sosiologi sastra, pengertian wadam, dan citra

wadam dalam karya sastra.

1.6.1 Tokoh dan Penokohan dalam Drama

Dalam penelitian ini, digunakan teori tokoh dan penokohan untuk

menganalisis drama Opera Julini. Dengan menganalisis unsur tokoh dan

penokohan, peneliti dapat mengetahui hubungan antartokoh dalam kehidupan

sosial mereka yang terjadi dalam drama Opera Julini yang kemudian oleh peneliti

digunakan untuk menganalisis citra wadam dalam drama Opera Julini.

1.6.1.1 Tokoh dalam Drama

Tokoh adalah pemegang peran dalam roman atau drama. Penokohan

adalah penciptaan citra tokoh dalam karya susastra (KBBI, 2008: 1476). Tokoh

adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam

berbagai peristiwa dalam lakon (Rahmanto dan Peni Adji, 2007: 3.18). Penelitian

ini akan menganalisis tokoh dalam drama Opera Julini karya Norbertus

(25)

a. Tokoh Protagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama-tama berprakarsa

dan berperan sebagai penggerak lakuan. Tokoh protagonis juga tokoh

yang pertama-tama akan menghadapi masalah dan terbelit dengan

kesulitan-kesulitan. Dalam sebuah lakon biasanya ada satu atau dua

orang tokoh protagonis (Rahmanto dan Peni Adji, 2007: 3.19).

b. Tokoh Antagonis

Tokoh antagonis adalah tokoh yang berperan sebagai

penghalang dan masalah bagi protagonis. Biasanya ada seorang tokoh

antagonis dan beberapa orang tokoh yang ikut berperan sebagai

penghalang dan masalah bagi tokoh protagonis (Ibid., 3.19).

c. Tokoh Tritagonis

Tokoh tritagonis adalah tokoh yang berpihak pada protagonis

atau antagonis, atau berfungsi menjadi penengah pertentangan antara

kedua golongan tokoh tersebut (Ibid., 3.19).

1.6.1.2 Penokohan dalam Drama

Dalam penokohan terdapat watak para tokoh yang digambarkan

berdasarkan (i) fisik: meliputi umur, jenis kelamin, ciri tubuh, cacat jasmaniah,

ciri khas yang menonjol, suku, bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek,

kurus/gemuk, suka senyum/cemberut, dan sebagainya yang berkaitan dengan

identitas sosiologis dan psikologis, (ii) psikologis: meliputi kegemaran,

(26)

kompleks psikologis yang dialami yang membedakan tokoh yang satu dengan

yang lain, dan (iii) sosiologis: meliputi jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras,

agama, ideologi, dan sebagainya yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang

(Rahmanto dan Peni Adji, 2007: 3.21).

1.6.2 Sosiologi Sastra

Penelitian sosiologi sastra memiliki perspektif khusus, yaitu berkacamata

sosiologis. Dalam perspektif sosiologis, sastra dianggap memiliki arti penting bagi

kehidupan sosial. Perspektif sosiologis yang mempertimbangkan segi-segi

kemasyarakatan ini disebut sosiologi sastra. Perspektif tersebut menunjukkan

perhatian terhadap sastra sebagai hasil refleksi sosial, yang diciptakan oleh

sastrawan sebagai anggota masyarakat. Sastra dipandang mampu menangkap rasa

sosial suatu bangsa. Sastra juga mampu mengulas sejarah sosial. Sastra juga

sebagai pantulan budaya masyarakat. Tugas sosiologi hanya untuk menemukan

sejarah dan refleksi sosial (atau bias) dalam karya sastra (Endraswara, 2011: 93-

102).

Setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal-balik yang rumit dari

faktor-faktor sosial dan kultural, dan karya sastra itu sendiri merupakan objek

budaya yang rumit. Tak ada karya sastra besar yang diciptakan berdasarkan

gagasan sepele dan dangkal; dalam pengertian ini sastra adalah kegiatan yang

sungguh-sungguh. Setiap karya sastra yang bisa bertahan lama pada hakikatnya

(27)

maupun dalam hubungannya dengan orang-seorang. Dengan demikian, sastra

adalah gambaran sistem moral masyarakatnya (Endraswara, 2011: 110).

Menurut Ratna (2012: 332-333), karya sastra ditulis oleh pengarang,

diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek

tersebut adalah anggota masyarakat. Karya sastra hidup dalam masyarakat,

menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada

gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat. Masyarakat jelas sangat

berkepentingan terhadap tiga aspek tersebut. Sama dengan masyarakat, karya

sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya

dalam suatu karya. Melalui teori sosiologi sastra, peneliti dapat mengkonstruksi

citra wadam dalam drama Opera Julini yang diasumsikan merupakan cerminan

kondisi wadam di masyarakat.

1.6.3 Pengertian Wadam

Menurut Atmojo (1986: 2), secara umum wadam adalah seorang laki-laki

yang berdandan dan berlaku sebagai wanita. Istilah wadam memang ditujukan

untuk penderita transeksual (seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan

keadaan jiwanya).

Wadam bukan homoseksual, melainkan tergolong dalam transeksual. Perlu

dibedakan pengertian antara homoseksual dan transeksual, karena jika dilihat dari

cara melakukan hubungan seksual keduanya tampak menggunakan cara yang

sama. Homoseksual adalah relasi seks dengan jenis kelamin yang sama; atau rasa

(28)

memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya (Kartono, 1989:

247, 266).

1.6.4 Citra Wadam

Konsep citra pada penelitian ini mengadopsi citra perempuan dalam teori

citra perempuan oleh Sugihastuti, karena penelitian mengenai citra wadam selama

ini belum pernah dilakukan. Mengetahui bahwa sikap dan sifat wadam yang

berperilaku menyerupai perempuan maka teori citra perempuan oleh Sugihastuti

akan digunakan dalam penelitian ini.

Citraan adalah gambaran-gambaran angan atau pikiran. Setiap gambar

pikiran disebut citra. Citra artinya rupa, gambaran, dapat berupa gambaran yang

dimiliki orang banyak mengenai pribadi sistem kerja mental (bayangan) visual

yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase, atau kalimat dan merupakan unsur dasar

yang khas dalam karya prosa dan puisi (Sugihastuti, 2000: 45).

Citra perempuan yang dimaksud dalam hal ini adalah semua gambaran

mental spiritual dan tingkah laku keseharian perempuan, yang menunjukkan

“wajah” dan ciri khas perempuan sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk

sosial (Ibid., 7). Dengan demikian, perempuan dicitrakan sebagai makhluk

individu yang beraspek keluarga dan masyarakat (Ibid., 46).

Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis citra diri dan sosial

wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dan akan

memfokuskan hanya pada tokoh wadam. Citra diri wadam meliputi ciri fisik dan

(29)

dan citra wadam dalam komunitasnya. Penulis meneliti ciri fisik dan psikis untuk

mengetahui secara jelas peranan wadam dalam kehidupan sehari-hari. Penulis

meneliti citra wadam dalam masyarakat dan citra wadam dalam komunitasnya

untuk mengetahui peranan wadam dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Dalam hal ini, penulis hanya meneliti citra wadam dalam masyarakat dan

komunitasnya karena di dalam drama Opera Julini tidak ditemukan adanya cerita

kontak sosial wadam dengan keluarga.

1.6.4.1 Citra Diri Wadam

1.6.4.1.1 Aspek Fisik

Secara fisik, wadam bertubuh laki-laki seperti pada umumnya (memiliki

alat kelamin laki-laki, memiliki jakun, suara yang berat), tetapi juga tidak sedikit

dari mereka yang sudah mengubah identitas fisik yang mereka bawa sejak lahir.

Memahami bahwa wadam tidak merasa nyaman dengan keadaan fisiknya semakin

menunjukkan bahwa wadam adalah transeksual terbukti bahwa di antara mereka

terlihat ada usaha menghilangkan ciri kelaki-lakiannya, meskipun masih banyak

juga wadam sebagai transgender. Namun, pilihan seorang wadam untuk tidak

mengubah ciri kelaki-lakiannya kebanyakan karena pertimbangan ekonomi.

Berdasarkan pernyataan mengenai fisik wadam di atas, perlu ditegaskan

bahwa wadam terdiri dari dua jenis, yaitu (i) transeksual dan (ii) transgender.

Transeksual adalah orang yang mengubah dirinya secara total ke dalam gender

yang terkait dengan identitas gendernya, sedangkan transgender merupakan term

(30)

mengekspresikan atau bertindak secara tidak tradisional diasosiasikan dengan

jenis kelamin sewaktu ia dilahirkan (Listiorini: 34). Oleh karena itu, transeksual

dapat digunakan untuk menggolongkan wadam yang sudah mengubah fisik laki-

lakinya menjadi perempuan melalui operasi, sedangkan transgender cenderung

digunakan untuk menyebut wadam yang tidak atau belum mengubah ciri fisiknya.

1.6.4.1.2 Aspek Psikis

Menurut Haerudin (2012: 13), studi gender lebih menekankan pada

perkembangan aspek maskulinitas atau femininitas seseorang. Gender merupakan

bentukan sosial-budaya masyarakat yang dapat berubah dari satu tempat ke

tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Tidak sedikit laki-laki yang

justru sangat lekat dengan identitas feminitasnya—penakut, pemalu, dan

lainnya—, dan perempuan sangat lekat dengan identitas maskulinitasnya—

perkasa, berani, tegas, dan lainnya.

Pembawaan dan cara berpikir wadam adalah seperti wanita (Atmojo, 1986:

83). Perilaku yang ditunjukkan wadam antara lain perilakunya halus, menyukai

hal-hal yang dilakukan wanita, berteman dengan wanita (hanya sebatas teman),

memakai pakaian wanita, senang becermin, suka merias wajahnya secara

berlebihan, suka menari, bahasa tubuh yang berlebihan, dan penggunaan bahasa

yang cenderung sekenanya sebagai cara untuk meluapkan perasaan sedih sehingga

mereka mendapat semacam katarsis 1 (Ibid., 60). Selain itu, usaha lain wadam

yang sering dijumpai sehari-hari dalam rangka mendapat pengakuan dari orang

1

(31)

lain selain dengan mengoperasi ciri kelaki-lakiannya adalah dengan mengganti

nama (Atmojo, 1986: 40). Nama asli wadam yang tadinya terdengar sangat laki-

laki diubah menjadi nama seperti nama wanita, misalnya Rian Adi Firmansyah

menjadi Risma Ance, Fredrick Ricky Patty menjadi Fanila Daun, dan sebagainya.

Wadam yang dianggap aneh juga seorang manusia yang juga bisa

merasakan cinta dan kasih sayang. Tidak sedikit wadam yang menjalin hubungan

dengan laki-laki tentunya. Selain sebagai sasaran untuk melampiaskan nafsu,

kehadiran seorang pacar bagi wadam sangatlah penting terutama sebagai syarat

“kelengkapan” dirinya sebagai wanita, meskipun banyak juga wadam yang

mejeng 2 di jalanan untuk kepentingan kelangsungan hidup—menjual diri agar

tetap memperoleh uang—karena minimnya pendidikan dan keterampilan (Ibid.,

69).

1.6.4.2 Citra Sosial Wadam dalam Masyarakat Indonesia

1.6.4.2.1 Aspek Masyarakat

Kaum marjinal gerak-geriknya selalu mendapat perhatian dan membuka

kemungkinan untuk dikomentari lebih banyak oleh kaum yang mendominasi.

Tidak jarang wadam diperlakukan sebagai manusia ajaib yang patut ditertawakan,

diolok-olok, atau bentuk-bentuk penolakan yang lain. Bahkan wadam dianggap

sebagai penyebar dosa yang patut disingkiri yang kemudian mengakibatkan

sempitnya gerak pergaulan sampai pada hal lapangan pekerjaan. Sejak lahir

wadam sudah banyak konflik, dihadapkan dengan pilihan untuk menjadi laki-laki

2

(32)

atau perempuan kemudian kontak dengan masyarakat sekelilingnya yang penuh

norma-norma dan aturannya sendiri yang membuat mereka mengalami frustasi

yang dalam (Atmojo, 1986: 98). Sikap dari masyarakat, penolakan keluarga,

kontroversi, dan diskriminasi yang diperoleh wadam hanyalah menjadi pemicu

terjadinya tekanan pada diri mereka. Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat

dilema psikologis yang mereka hadapi dari sikap melecehkan sebagian besar

orang terhadap wadam. Wadam seringkali menimbulkan kontroversi dan

diskriminasi sehingga amat sulit diterima di masyarakat. Penolakan terjadi ketika

tidak sedikit wadam yang sudah mencoba bekerja di kantor-kantor dan toko-toko,

tetapi mereka terpaksa keluar karena tidak tahan dengan hinaan orang-orang di

sekitarnya (Ibid., 24).

Uang menjadi kebutuhan paling mendesak bagi wadam, karena dengan

uang mereka menutupi biaya hidupnya mengingat mereka sebagian besar tinggal

sendiri. Namun, terkadang usaha mencari uang diwarnai tindakan kekerasan

seperti pemerasan, pencopetan, dan lain-lain, tetapi hal itu berkaitan dengan

moralitas tiap individu. Tidak semua wadam seperti itu seperti halnya manusia

pada umumnya ada yang baik dan ada yang jahat (Ibid., 71). Tampaknya,

penilaian masyarakat terhadap wadam tentang pemerasan dan pencopetan juga

dipengaruhi dengan anggapan bahwa wadam adalah makhluk yang berdosa.

Penggantian identitas, kelamin dan identitas diri, menjadi salah satu cara

(33)

1.6.4.2.2 Aspek Komunitas Wadam

Sebagai makhluk sosial, wadam juga butuh berinteraksi dengan orang lain.

Interaksi dalam tahap dasar berupa komunikasi antarpribadi yang terjalin pada

wadam dengan orang-orang terdekatnya. Tidak terkecuali pada hubungan

pertemanan sesama wadam. Para wadam yang ditolak oleh orangtuanya pergi dari

keluarga dan berkumpul bersama orang-orang yang mau menerimanya, sesama

wadam (Atmojo, 1986: 21). Dalam suatu komunitas wadam, belum tentu wadam

satu dan wadam yang lainnya kenal dekat atau akrab. Kalau mereka saling simpati

itu dikarenakan perasaan senasib sebagai wadam, bukan berarti tidak ada

persahabatan antarwadam.

Selain latar belakang yang sama, wadam-wadam ini memlih teman sesama

wadam karena alasan kecocokan masing-masing. Hubungan pertemanan sesama

wadam yang terjalin disebabkan oleh adanya kepedulian dari mereka akan rekan

yang mempunyai latar belakang yang sama. Seringkali mereka membutuhkan

teman untuk berbagi dan bercerita tentang keluh kesah yang hanya dimengerti

oleh kalangan wadam sendiri. Contoh permasalahan yang dihadapi mereka salah

satunya adalah penolakan dari pihak keluarga saat mereka memutuskan diri

menjadi wadam. Mereka membutuhkan teman bercerita dan memberikan solusi

terhadap masalahnya dan tidak semua orang bisa mengerti masalah yang

dihadapinnya. Hanya wadam yang dapat mengerti masalah yang dialami sesama

wadam (Rusdiana: 5).

Bahasa berfungsi sebagai penghubung antara pengguna bahasa yang satu

(34)

bahasa lebih mudah untuk memahami dan juga bisa dipahami oleh si pengguna

bahasa itu sendiri. Banyak kalangan yang mengubah bahasa baik golongan

ataupun tingkatan usia. Begitu banyak komunitas yang ada di Indonesia dan

begitu banyak pula variasi bahasa yang terbentuk untuk memudahkan komunikasi,

salah satunya adalah komunitas wadam. Komunitas yang satu ini tergolong unik

dan eksklusif. Hal ini dikarenakan bahasa merupakan hasil kreativitas berbahasa,

oleh karena itu bahasa yang dimiliki komunitas wadam ini termasuk bahasa slang3

sebab tak banyak orang mengerti dan paham tentang bahasa ini kecuali komunitas

itu sendiri yaitu wadam (http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/08/skripsi-

penggunaan-bahasa-slang-dalam.html).

Waria atau gay yang kehidupannya ditandai dengan skenario bermain-

main yang ramai, kemungkinan akan bermain-main pula dengan bahasa. Seperti

para remaja yang cenderung untuk melakukan hal-hal yang kadang dianggap tidak

biasa di masyarakat umum dan salah satu alasan mereka melakukannya adalah

karena menunjukkan identitasnya, maka mereka kadang-kadang menciptakan dan

menggunakan bahasa-bahasa yang tidak umum. Bahasa itu diambil dari bahasa

Indonesia atau bahasa Daerah yang kemudian diubah, ditambah, dikurangi atau

sebaliknya, dan sebagainya. Bahasa semacam itu (bahasa yang digunakan kaum

tertentu, kaum minoritas) merupakan sebuah wacana perlawanan atas konstruksi

kebahasaan umum (Yangni, 2004: 16-17).

3

(35)

Berdasarkan paparan di atas, penulis menggunakan teori tokoh dan

penokohan untuk menganalisis tokoh wadam beserta beberapa tokoh yang

berpengaruh besar terhadap terbentuknya citra wadam (Julini, Roima, Tibal,

Pejabat, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda) berdasarkan fungsinya.

Hasil tersebut akan disaring menjadi hanya tokoh wadam saja (Julini, Duing,

Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda). Penokohan tokoh wadam tersebut

digunakan untuk menemukan konstruksi citra diri (fisik dan psikis) serta citra

sosial (masyarakat dan komunitas) wadam yang ada pada naskah drama Opera

Julini karya Norbertus Riantiarno.

1.7 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap, yaitu (i) pendekatan, (ii)

pengumpulan data, (iii) analisis data, dan (iv) penyajian hasil analisis data.

1.7.1 Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

objektif dan pendekatan sosiologis. Pendekatan objektif bertumpu pada karya

sastra itu sendiri yang berpusat pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis

intrinsik (Ratna, 2012: 73). Dalam penelitian ini unsur tokoh penokohan yang

menjadi jembatan untuk mendapatkan analisis citra wadam dalam drama Opera

Julini.

Pendekatan sosiologis berdasarkan hubungan antara karya sastra dan

(36)

pengarang, (ii) pengarang adalah anggota masyarakat, (iii) pengarang

memanfaatkan kekayaan pada masyarakat, dan (iv) hasil karya sastra

dimanfaatkan kembali oleh masyarakat (Ratna, 2012: 60).

Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa citra wadam dalam drama Opera

Julini merupakan cerminan fenomena di masyarakat yang sesungguhnya. Konsep

cermin adalah sastra sebagai refleksi sosial (Endraswara, 2011: 95). Apa saja yang

ada dalam sastra, asalkan mencerminkan kehidupan sosial, dianggap penting

sehingga layak untuk diteliti.

1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menganalisis data mengenai citra wadam di masyarakat dan

citra wadam dalam drama Opera Julini karya N. Riantiarno yang terbit pada tahun

1982 oleh penerbit Matahari, Jakarta.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu

peneliti membaca banyak pustaka, termasuk karya sastra secara cermat (Nazir,

1985: 111-132). Penelitian ini menggunakan teknik catat, yaitu mencatat data-data

berupa kata, kalimat, dan paragraf yang mengungkapkan makna karya sastra

(Moleong, 1989: 167-176). Dalam penelitian ini, teknik catat digunakan untuk

mencatat data yang diperoleh dari teks-teks naskah drama yang berupa dialog,

penggalan dialog, maupun teks samping. Selain itu, penelitian ini menggunakan

metode observasi nonpartisipan yang berarti observasi memusatkan kepada

pengamatan, tidak mengikutsertakan peneliti di dalamnya, peneliti hanya sekadar

(37)

digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi) untuk

mempelajari perilaku manusia, proses kerja, dan gejala-gejala alam.

1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data

Metode analisis data merupakan tahap ketika data diberi arti atau makna

yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian (Nazir, 1985: 405). Dalam

penelitian ini digunakan metode formal dan metode analisis isi.

Metode formal menganalisis unsur-unsur karya sastra dengan totalitasnya.

Metode formal bertugas menganalisis unsur-unsur, sesuai dengan peralatan yang

terkandung dalam karya sastra (Ratna, 2012: 49-51). Metode ini digunakan untuk

menganalisis unsur tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini.

Metode analisis isi mengungkapkan isi karya sastra sebagai bentuk

komunikasi antara pengarang dan pembaca sebagai bentuk komunikasi (Ratna,

2012: 48-49 dan Endraswara, 2011: 160-181). Metode ini digunakan untuk

menganalisis konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini.

1.7.4 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Analisis data disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu

hasil analisis data berupa pemaknaan karya sastra yang disajikan secara desrkriptif

(Ratna, 2012: 46-48). Hasil analisis penelitian ini berupa penafsiran mengenai

(38)

1.8 Sumber Data

Data merupakan bahan penelitian. Karya sastra yang menjadi objek

penelitian ini adalah naskah drama dengan indentitas sebagai berikut:

Judul : Opera Julini (Drama Trilogi Opera Kecoa Bagian Ketiga)

Pengarang : Norbertus Riantiarno

Tahun Terbit : 2004

Penerbit : Matahari

Tebal : x + 159 halaman

Ukuran : 14,5cm x 20,5cm x 1cm

1.9 Sistematika Penyajian

Penelitian ini dibagi menjadi tiga bab. Sistematika penelitian ini dirinci

sebagai berikut:

Bab I berisi pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini

dibagi menjadi delapan sub bab yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat hasil penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode

penelitian, dan sistematika penyajian.

Bab II berisi deskripsi analisis tokoh dan penokohan dalam drama Opera

Julini karya Norbertus Riantiarno yang menjadi dasar analisis citra. Bab III berisi

deskripsi citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Bab

(39)

BAB II

UNSUR TOKOH DAN PENOKOHAN DRAMA OPERA JULINI

KARYA NORBERTUS RIANTIARNO

2.1 Pengantar

Sebelum drama Opera Julini dikaji dengan teori citra, peneliti akan

menganalisis struktur drama Opera Julini yang meliputi unsur tokoh dan

penokohan yang menjadi dasar penelitian sebelum meneliti ke hal yang lebih

mendalam. Analisis tokoh dan penokohan diperlukan untuk melihat hubungan

sosial antartokoh serta memahami makna keseluruhan drama Opera Julini terkait

dengan citra wadam. Analisis tokoh dan penokohan meliputi tokoh protagonis,

tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Untuk menganalisis tokoh dan penokohan

dalam drama Opera Julini, perlu diketahui terlebih dahulu sinopsis cerita drama

Opera Julini. Selanjutnya, akan diuraikan analisis unsur tokoh dan penokohan

drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno.

2.2 Sinopsis Drama Opera Julini

Pada suatu pagi seorang pejabat berjoging ditemani dengan seorang aspri

setianya. Tidak lama kemudian datanglah dua orang polisi menemui pejabat dan

melaporkan mengenai keadaan kota yang ada dalam keadaan aman juga baik.

Namun, tak disangka ketika pejabat berhenti berjoging sampailah dia di suatu

tempat di kolong jembatan. Kala itu pejabat sungguh-sungguh terkejut

menyaksikan sendiri kondisi rakyatnya yang sangat miskin, terlantar, dan hidup

(40)

serba kekurangan. Tanpa sebab, usai menyaksikan kehidupan rakyatnya yang

miskin dan jauh dari kesejahteraan tiba-tiba pejabat mengalami kebutaan.

Sepulangnya pejabat ke rumah bukannya disambut dengan baik karena sakit

matanya, tetapi justru mendapati sang istri pejabat yang marah-marah mengungkit

masa lalu pejabat yang pernah berselingkuh dengan Tuminah seorang pelacur

perempuan. Istri pejabat marah karena menemukan foto mesra pejabat dengan

Tuminah yang masih disimpan oleh pejabat. Kebutaan pejabat pun disangkut-

pautkan dengan kejadian perselingkuhan beberapa tahun silam karena Tuminah

adalah seorang pelacur sehingga dianggap kotor oleh istri pejabat. Karena merasa

bersalah kepada istrinya, pejabat merobek-robek foto itu dan membuangnya.

Di alam kematian, seorang Guide yang bertugas memandu arwah-arwah

yang telah mati mengajak dan mengawal arwah Julini berkeliling melihat-lihat

dunia nyata tempat di mana Julini pernah hidup. Beralih dari alam Julini yang

sudah mati, di kolong jembatan markas besar para bandit, arwah Julini dan Guide

datang dari sisi alam lain menyaksikan Roima, pemimpin kelompok bandit

berpidato. Meskipun sudah mati, Julini masih tetap memuja-muja Roima,

kekasihnya yang masih hidup. Usaha arwah Julini untuk mendekati Roima sia-sia,

karena Roima tentu saja tak bisa melihat arwah Julini yang sudah mati. Di tengah-

tengah pidato Roima, tiba-tiba datang tiga orang polisi dengan maksud memeriksa

kawasan para bandit. Mengetahui kedatangan polisi, para bandit kalang kabut

berpencar melarikan diri agar tidak tertangkap polisi. Pencarian ketiga polisi itu

berakhir sia-sia karena tidak satu pun bandit ditemukan untuk ditangkap, tapi

(41)

rumah pejabat, mata pejabat yang sakit dan buta tak kunjung sembuh. Dokter pun

sampai datang untuk menyembuhkan mata pejabat, tetapi semakin dokter itu

berusaha menyembuhkan, justru mata Pejabat menjadi semakin sakit.

Malam harinya, bandit-bandit berkumpul kembali untuk membahas

terbongkarnya markas mereka. Kepanikan melanda para bandit terutama Tibal

dan Roima sebagai pimpinan para bandit. Emosi keduanya tidak terkontrol.

Karena kejadian itu, Tuminah pun ikut terkena imbas kemarahan Roima. Di dunia

alam lain, Guide mengajak arwah Julini mengunjungi teman-teman lamanya di

bawah Plaza Julini sebuah tempat berkumpulnya para wadam. Arwah Julini

melihat Laila dan Tea berkelahi memperebutkan Bob. Ike, Esyi, Syeni, dan

Wanda bukannya melerai kedua temannya yang berebut lelaki itu, tetapi mereka

justru semakin memeriahkan suasana perkelahian itu dengan saling mendukung

salah satu temannya. Tak lama kemudian ada suara yang membuat para wadam

berhenti membuat keributan. Suara tadi adalah petugas yang mengamankan semua

kawasan. Petugas itu menyuruh para wadam pergi mengikuti penataran P-6

karena dianggap sebagai biang keributan. Setelah menyaksikan kejadian itu,

arwah Julini pergi bersama Guide untuk melihat Musoleum Patung Julini, patung

Julini yang dibangun oleh pejabat sebagai penghormatan atas kematian Julini dan

dibangun karena pejabat didemo oleh para wadam sepuluh tahun lalu. Usai itu

arwah Julini bersama Guide pergi melanjutkan perjalanannya.

Malam hari di kantor urusan bordil milik Tibal dan Roima, Tuminah dan

Bajenet sibuk menyeleksi para perempuan yang ingin bekerja pada mereka

(42)

dalam seleksi itu. Tiba-tiba Duing datang membawa berita dan memberitahu

Tuminah bahwa para wadam digiring petugas ke kantor polisi untuk ditatar P-6.

Tuminah melaporkan kejadian itu kepada bos, Tibal dan Roima, karena merasa

khawatir bahwa Laila akan dengan mudahnya membocorkan rahasia kelompok

termasuk lokasi markas para bandit dan wadam. Di tempat lain, polisi-1 dan

polisi-2 malam-malam datang ke rumah pejabat membawa berita mengenai

bangkit kembalinya komplotan Kumis—para bandit—yang sekarang dipimpin

oleh Tibal dan Roima, yang sepuluh tahun lalu memimpin para wadam

demonstrasi di kantor pejabat. Tak lama setelah pejabat memerintahkan polisi-1

dan polisi-2 untuk segera menghabisi komplotan bandit itu dengan tujuan agar

tidak lagi terjadi kerusuhan, tiba-tiba mata Pejabat menjadi semakin sakit dan tak

kunjung sembuh.

Di alam kematian Guide mengantar arwah Julini ke sebuah gerbang

menuju alam lain dan meninggalkannya bersama dua orang penjaga. Di gerbang

menuju alam lain itu terdapat dua pintu, pintu untuk perempuan dan pintu untuk

laki-laki. Di tempat itu arwah Julini berusaha dengan keras berkali-kali masuk ke

pintu untuk perempuan, tetapi selalu saja terpental dan tak pernah bisa masuk

karena sesungguhnya Julini adalah seorang laki-laki. Karena Julini iri melihat

arwah Kumis bisa masuk begitu saja ke dalam pintu untuk laki-laki sedangkan

arwah Kasijah dan arwah Tarsih bisa masuk ke dalam pintu untuk perempuan,

arwah Julini memutuskan untuk diam tidak mau bicara dan tetap menunggu

(43)

Malam hari di kolong jembatan, markas rahasia para bandit, Tibal

memaki-maki Laila yang telah membocorkan semua kejahatan para bandit kepada

polisi. Tibal menyuruh anak buahnya, Bajenet, untuk menyiksa Laila dan

membunuhnya perlahan-lahan menggunakan pisau belati dengan cara mengiris

kemaluan Laila sedikit demi sedikit. Melihat hal itu Roima tidak tahan dengan

ulah penyiksaan Tibal terhadap Laila, sehingga membuat Roima mengambil

keputusan untuk tetap membunuh Laila dengan pisau belati tetapi tanpa

memberikan penyiksaan pada Laila. Pengalaman tersebut semakin menyadarkan

Tibal dan Roima bahwa mereka adalah dua pemimpin yang tidak sepaham. Dalam

keadaan hati yang sengit, Tibal pergi bersama Bajenet dan Bleki meninggalkan

Roima. Roima menyuruh Bonar untuk membuang mayat Laila. Sebagai kekasih

Roima, melihat Roima mengalami kejadian berat Tuminah mendekati Roima dan

berusaha menenangkannya. Di tempat lain, karena merasa tersaingi oleh Roima,

ternyata diam-diam Tibal bersama dengan Bajenet dan Bleki merencanakan

pembunuhan terhadap Roima agar Tibal bisa bebas memimpin kelompok bandit

tanpa harus berselisih paham dengan Roima.

Malam di rumah pejabat, pejabat bersama dengan polisi-1 dan polisi-2

membuat rencana untuk menumpas para bandit dengan cara mendekati para

wadam dan menginterogasinya. Di tempat lain, di bawah patung Julini, para

wadam berkumpul bersama dan secara tiba-tiba para wadam dikejutkan Tea

dengan berita bahwa Laila telah mati dibunuh Roima. Mendengar berita kematian

Laila, semua wadam pergi menuju pintu air Waduk Kuningan tempat di mana

(44)

Di jalanan malam, di tengah-tengah pembicaraan para gelandangan gila

Sawil dan Bilun, polisi-1 dan polisi-2 yang telah diperintahkan pejabat untuk

menghabisi para bandit datang sambil mabuk-mabukan. Kedua polisi yang sedang

mabuk itu seharusnya memeriksa kawasan kumuh di kolong jembatan, tetapi

mereka justru pergi menuju warung minuman untuk kembali melanjutkan

bermabuk-mabukan. Tiba-tiba Roima datang mendekati patung Julini dengan

perasaan sedih. Dalam bayangan Roima, patung Julini menjadi hidup, berbicara

dengan Roima dan mereka seolah saling berkasih-kasihan seperti sedia kala ketika

Julini masih hidup. Namun, dalam sekejap bayangan Julini menghilang karena

peristiwa Roima yang disekap oleh Bleki dan dibunuh oleh Tibal di tempat yang

sama Tibal pernah membunuh Kumis, mantan pemimpin kelompok bandit.

Suatu malam, para pelacur perempuan yang lolos bekerja di rumah bordil

milik Tibal dan Roima diberi kursus etika. Tidak lama tiba-tiba Duing datang

mengejutkan Tuminah dengan membawa kabar buruk, yaitu kematian Roima.

Kematian Roima membuat Tuminah sangat sedih dan kacau. Di bawah patung

Julini, para wadam sangat menyesalkan kematian Roima. Tiba-tiba datanglah

polisi-1 dan polisi-2 mendatangi para wadam di bawah patung Julini sambil

mabuk-mabukan. Karena mabuk, kedua polisi itu tidak menyadari bahwa ternyata

mereka justru menembaki dan membunuh para wadam dengan senapan mesin

hingga tak tersisa seorang wadam pun. Jasad para wadam yang telah mati berubah

menjadi kupu-kupu dan beterbangan mengejar kedua polisi lalu menghilang

begitu saja ke langit. Menyusul para wadam, Tuminah dan Duing datang ke Plaza

(45)

telah mati dan Roima pun juga mati. Di tempat yang sama, Tibal dan anak

buahnya kebingungan karena markas mereka semua hancur terbakar. Tiga puluh

truk tentara dan tanknya meluluhlantahkan markas para bandit. Sia-sialah semua

usaha apa pun yang pernah dikerjakan Tibal dan Roima.

Di rumah pejabat, istri pejabat memaki polisi yang membuat kerusuhan

dengan membunuh para wadam. Namun, aspri sang pejabat memberi kabar bahwa

tentara telah menyebar di semua kawasan untuk mengamankan keadaan dan

memusnahkan kawanan bandit. Mengetahui hal itu pejabat melanjutkan perintah

menyuruh polisi agar terus mengamankan kota. Entah mengapa tiba-tiba mata

pejabat yang sakit semakin sakit dan membuatnya mulai menyerah dengan

kondisinya yang tidak bisa melakukan apa-apa jika harus memimpin kota dengan

keadaan mata yang buta.

Di gerbang dengan dua pintu—pintu untuk laki-laki dan pintu untuk

perempuan—, arwah Julini bertemu dengan arwah teman-teman wadamnya yang

sudah mati juga. Karena mereka semua sebenarnya laki-laki dan tidak bisa masuk

ke pintu untuk perempuan, para wadam pun mengikuti niatan Julini untuk diam

dan menunggu sampai pintu untuk perempuan itu terbuka bagi mereka. Di sisi

lain, Pejabat bermaksud mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, ternyata

Menteri menolak permintaan pejabat dan justru akan menaikkan pangkat pejabat

atas keberhasilannya menumpas kelompok bandit. Sementara itu, Bleki mencari-

cari Tibal yang menghilang entah ke mana. Pada akhirnya, di alam kematian

(46)

2.3 Tokoh dan Penokohan Drama Opera Julini

Salah satu unsur penting dalam karya sastra adalah tokoh. Pembedaan

tokoh yang dilakukan berdasarkan peran tokoh dibagi menjadi tokoh protagonis,

tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Tokoh protagonis merupakan tokoh yang

pertama-tama menghadapi masalah dan berperan sebagai penggerak cerita. Tokoh

antagonis merupakan tokoh lawan dari tokoh protagonis, sebagai musuh dan

sebagai penghalang bagi tokoh protagonis. Tokoh tritagonis merupakan tokoh

yang mendukung tokoh protagonis maupun tokoh antagonis.

Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang

ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2005: 165). Penokohan tidak

hanya menyebutkan siapa nama tokoh, tetapi juga memperkenalkan watak tokoh

kepada pembaca. Oleh karena itu, penokohan dapat membantu memperjelas

keadaan fisik, psikis, dan sosiologis para tokoh.

2.3.1 Tokoh Protagonis

Tokoh protagonis dalam drama Opera Julini yang akan dianalisis adalah

Julini dan Roima. Selanjutnya, pengenalan tokoh Julini dan Roima akan dibahas

dalam penokohan tiap tokoh.

2.3.1.1 Julini

Julini, seorang wadam yang telah meninggal sejak sepuluh tahun lalu

karena terkena peluru nyasar saat demonstrasi, masuk dalam golongan wadam

(47)

karena tidak operasi kelamin (1). Julini belum mengoperasi alat kelaminnya

menjadi perempuan dikarenakan pertimbangan ekonomi karena operasi memang

tidak murah (Atmojo, 1986: 39-40). Wadam dengan nama asli Bambang Julino

(34 tahun) ini diharuskan melewati tiga gerbang dunia lain dengan tujuan untuk

menjemput Roima, kekasih yang masih dicintainya bahkan sampai Julini telah

mati (2). Julini bangga menjadi kekasih Roima, tidak ada lelaki lain yang Julini

cintai selain Roima. Kecintaannya pada Roima menunjukkan bahwa Julini sebagai

seorang wadam mampu memberikan kesetiaan hatinya hanya pada seorang laki-

laki (3), (4). Julini memanggil Roima dengan panggilan abang sebagai panggilan

sayangnya terhadap Roima.

(1)

ROIMA:

Peristiwa dulu itu. Aku penyebabnya. Kalau kamu tidak mati, kita pasti sudah bahagia. Kita cari duit supaya kamu bisa operasi ganti kelamin. Lalu kita pergi ke penghulu, menikah. Dua kali kita gagal

menikah. Sekarang kamu jangan pergi. Aku tidak mau gagal lagi.

(OJ: 416)

(2)

JAGA-1:

Kamu salah masuk gerbang. Ada dua gerbang, satu untuk perempuan, satunya lagi untuk pria. Kamu masuk gerbang untuk

perempuan. Tentu saja ditolak sebab kamu pria.

JAGA-2:

Komputer jelas-jelas memberitahu kamu itu laki-laki. Dengar! Saya bacakan. Nama, Bambang Julino. Umur, 34.

Jenis kelamin, laki-laki.

Status, tidak menikah. Kebangsaan, tak terbaca. Agama, tak terbaca. Alamat, tak terbaca. Kasus, mati kena peluru nyasar. Jelas?

(OJ: 379)

(3)

JULINI:

(48)

GUIDE:

Percuma mendekati mereka. Mereka tidak akan bisa melihat kamu. Kamu tidak punya kontak dengan mereka. Dunia kamu dan

dunia mereka berbeda.

JULINI:

Bagaimana? Tidak mungkin Roima tidak kenal saya ….

Tidak mungkin, oh, tidak mungkin ….

GUIDE:

jangan lupa, kamu sudah mati.

(OJ: 310)

(4)

JULINI:

Lalu untuk apa disuruh dandan kayak ondel-ondel begini. Katanya disuruh menjemput calon suami. Itu dia suami saya, Roima. Tidak

ada lelaki lain yang saya sayangi selain Roima.

JULINI:

Lalu siapa yang akan jadi calon suami saya, kalau Roima tidak bisa melihat saya? Saya tidak ingin punya suami lain, selain dia. (OJ:

314)

Sebagai wadam transgender, Julini menunjukkan perilaku laiknya

perempuan pada umumnya. Julini dengan naluri keperempuanannya merias wajah

dan kukunya dengan eye sedow, cat bibir, dan cat kuku ketika muncul dalam alam

kematiannya (5), (6). Selain itu, sebagai seorang wadam Julini memiliki sifat genit

dan suka merayu lelaki (7), (8).

(5)

LAILA:

Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ:

435)

(6)

LAILA:

Cat kukunya mengkilat, cocok dengan cat bibir. Ini luar negeri, ya?

Referensi

Dokumen terkait

Ketertutupan Pikiran / Closed-Mindedness yaitu anggotakelompok tidak mengindahkan pengaruh atau masukan dari luar terhadap kelompok, maksudnya adalah suatu kelompok

UMUM BAPPEDA, LITBANG Berkas yang dikirim kurang atau salah dari persyaratan : Tidak Mengirimkan Berkas Sesuai Pengumuman PADA SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUP

Hal ini disebabkan metode Activity Based Costing melibatkan enam pemicu biaya, yaitu unit yang diproduksi, jam tenaga kerja, jam mesin, kwh, luas tanah, dan liter

Hasil penelitian Sudaryono (2004) yang menguji pengaruh computer anxiety dari 254 dosen akuntansi Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di wilayah Jakarta, Semarang,

Justice Collaborators adalah saksi yang juga sebagai pelaku suatu tindak pidana yang bersedia membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap suatu tindak pidana atau akan

Empat artikel penelitian terdiri atas masing-masing satu artikel studi tentang peranan probiotik pada penderita gagal ginjal kronik terminal;satu artikel tentang

Berdasarkan uji kelayakan media pembelajaran yang terdiri dari validasi dari ahli media dan ahli materi serta uji coba produk dan ujicoba pemakaian pada siswa,