• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL HUJAN

2.1.1 Tokoh Utama

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian (Nurgiyantoro, 2005, 176-177). Dalam karya sastra tokoh memegang peranan penting dalam pembentukan cerita seperti pada novel Hujan Bulan Juni, terdapat dua tokoh utama, yaitu Sarwono dan Pingkan.Sarwono dan Pingkan menjadi tokoh utama karena keduanya paling banyak dicerotakan dan sangat menentukan perkembangan alur cerita secara keseluruhan serta memiliki peranan yang penting dalam membentuk kecemasan tokoh Aruni dan digambarkan berdsasrkan fungsinyamasing-masing.

Tokoh tambahan atau tokoh bawahan adalah tokoh yangkemunculannya hanya sedikit.Beberapa tokoh tambahan dalam novel ini adalah Toar, Tante Henny dan Katsuo.

Sarwono merupakan tokoh utama dalam novel Hujan Bulan Juni. Sarwono diceritakan terus menerus didalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko damono. Sarwono memiliki kadar keutamaan yang lebih penting daripada tokoh-tokoh lain dalam novel tersebut. Dalam cerita, tokoh Sarwonomerupakan seorang Magister dan menjadi dosen muda di FISIP UI.

(1) Ayahnya bangga dia bisa menjadi Sarjana Magister pertama di lingkungan keluarga besar Eyang Tirto, kakeknya entah berapa generasi, yang tentu saja tidak pernah dikenalnya. (Damono, 2015: 16).

(2) Dosen muda seperti Sarwono memang harus sigap menyusun rencana penelitian, kalau mau survive, sebab gaji sebagi pengajar hampir nol milainya (Damono, 2015: 58).

Sarwono memiliki pacar bernama Pingkan.Ia bisa mengenal Pingkan dikarenakan Pingkan adalah adik dari Toar, yang merupakan sahabat SMA Sarwono. Sarwono pun berkerja di tempat yang sama di mana Pingkan juga bekerja yaitu sebagai dosen muda di Universitas Indonesia.

(3) Sejak pertama mengenal Sarwono ketika masih berpura-pura belajar bersama dengan Toar, Pingkan tahu bahwa lelaki muda itu tidak hanya baik perangainnya tetapi juga cerdas. (Damono, 2015: 29).

(4) Juga jauh dalam hatinya ia suka memasalahkan mengapa sering terjadi hubungan antarkolega di kampus, yang oleh mahasiswa pernah disinggung sebagai incest. Sarwono pernah mendengar itu, ia kemudian berpikir apakah hubungannya dengan Pingkan bias juga diklarifikasikan sebagai incest. Segera dijawabnya sendiri, Tapi kan dari fakultas lain. Mungkin si mahasiswa yang suka ngeledek itu tetap saja bilang itu juga incest sebab sama-sama berasal dari satu profesi, di lembaga yang sama juga (Damono, 2015: 42).

Sarwono menjadi tokoh utama dalam cerita karena Sarwono memiliki konflik batin terkait hubungan bersama pacarnya yaitu Pingkan yang mendapatkan masalah. Hubungan sarwono bersama kekasihnya, Pingkan memiliki banyak perbedaan yang cukup besar yaitu perbedaan agama serta perbedaan budaya.Sarwono berasal dari Jawa dan keluarganya yang masih memegang teguh adat Jawa. Sedangkan kekasih Sarwono merupakan darah campuran dari Jawa dan Manado.

(5) Di Solo ia jadi Manado; di Manado ia dibilang Jawa. Di mana gerangan Indonesia Raya seperti yang dikatakan Sarwono? Yang menjadi label itu nama atau darah? Tentu saja dulu ayahnya tidak tertarik memberinya nama BAwuk atau Tumbu, misalnya. Itu semua nama Jawa; ayahnya seorang Palenkahu. Ibunya tidak pernah bisa atau mau menyebut dirinya Jawa, meskipun memang Jawa. Konon, di Makassar perempuan pendatang dari Jawa pernah diakitkan dengan profesi yang dianggap haram oleh masyarakat. Jadi, Bu Palenkahu yang nama aslinya entah siapa, teta[pi yang di KTP ditulis Hartini tetap saja dianggap liyan di antara orang Makassar (Damono, 2015: 22-23).

(6) Rupanya tante-tante itu membawa amanat kaumnya agar membujuk Bu Palenkahu mengawasi anak perempuannya, khawatir kalau jatuh ke tangan si Jawa itu, ya Sarwono itu (D amono, 2015:85).

Tokoh utama yang berikut adalah Pingkan. Pingkan merupakan tokoh utama dalam novel Hujan Bulan Juni karena Pingkan juga sebagai penggerak alur dalam cerita dan Pingkan merupakan kekasih dari Sarwono.

Pingkan merupakan anak perempuan dari Pak Palenkahu dan Ibu Hartini.Ia merupakan keturunan dari Manado dan Jawa.Ayah Pingkan berasal dari Manado sedangkan Ibunya berasal dari Jawa, tetapi Pingkan lahir dan besar di Jawa.Pingkan adalah adik

kandung dari Toar, Sahabat SMA sarwono. Saat SD, Pingkan menjadi yatim piatu, karena ayahnya meninggal akibat sakit malaria yang ia derita.

(7) Ketika pertama kali mengenalnya di rumah Toar Palenkahu, temannya SMA, Sarwono langsung merasa dirinya menjadi tokoh utama sebuah sinetron dan adik Toar itu dalam otaknya yang sempat muncul sebagai Audrey Hepburn atau Grace Kelly tapi jelas bukan MAk Wok (Damono, 2015: 11).

(8) Pak Palenkahu sudah lama meninggal, konon karena malaria yang parah ketika sedang bertugas sementar di Ambon.Pingkan masih SD waktu itu. (Damonoi, 2015: 17).

(9) “Kami ini jawa bukan, Manado tidak lagi,” kata Toar pada suatu ahri kepada Sarwono. “Ibu kan Jawa kowek entah dari mana, Bapak Tonsea. Aku lahir di Makasar, Pingkan di sini. Bingung? Jelas!” (Damono, 2015: 17-18).

Pingkan juga menjadi tokoh utama dalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono karena alur dalam novel tersebut menceritakan tentang hubungan Pingkan bersama kekasihnya, yaitu Sarwono. Novel Hujan Bulan Juni banyak bercerita tentang Pingkan dan asal-usul Pingkan yang menjadi permasalah utama dalam hubungannya bersama Sarwono. Mulai dari budaya yang berbeda hingga keluarga Pingkan dari Menado tidak menyetujui hubungan Pingkan bersama Sarwono dan lebih memilih Pingkan menjalin hubungan dengan seorang dosen muda dari Menodo yang merupakan pilihan keluarganya karena keluarga Pingkan ingin Pingkan kerja, dan menjalani hidupnya di Manado saja, kota tempat ayahnya berasal.

(10) Tante yang baik hati itu malah pernah berterus terang, agar Pinkan nanti selesai belajar di Jepang pulang saja ke Menado, mengajar di UNSRAT . “Beasiswanya didapat lewat UI, tante, jadi harus langsung kembali mengajar di sana,” jawabnya waktu itu (Damono, 2015: 67).

(11) “Tetapi kalau kau kawin dengan orang UNSRAT kan ada alasan pindah kemari,” katanya mendesak. “Pak Tumbelaka yang ganteng itu, yang ketemu kamu kamu ketika Sarwono ceramah, bilang sama Tante senang kalau bias menjadi menantu tante. Hehehe (Damono, 2015: 68).”

Dokumen terkait