BAB II. KERANGKA TEORI
2.2 Training
2.2.1 Pengertian Training (Pelatihan)
Menurut Salim (2014:7) Training adalah pelatihan dalam rangka memberikan ilmu dan pengetahuan mengenai hal-hal tertentu yang dibawakan oleh seorang trainer yang menguasai materi tersebut.
Menurut Hamalik (2007:10)Training adalah suatu fungsi manajemen yang perlu dilaksanakan terus-menerus dalam rangka pembinaan ketenagaan dalam suatu organisasi yang dilaksanakann secara berkesinambungan, bertahap dan terpadu untuk mencapai tujuan tertentu terkait dengan upaya pencapaian tujuan organisasi.
Menurut Handoko (2001:104), Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performasi pekerjaan pada suatupekerjaan tertentu yang sedang menjadi jawabnya atau suatu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaan supaya efektif. Pelatihan biasanya harus mencakup pengalaman belajar, aktifitas-aktifitas yang terencana dan desain sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan yang berhasil diidentifikasikan. Pelatihan dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagai ketrampilan dan teknik pelaksanaan pekerjaan tertentu, terperinci dan rutin.
Menurut Siagian (1988 : 175) pelatihan adalah proses belajar mengajar dengan menggunakan tekhnik dan metode tertentu secara konsepsional yang
dimaksudkan untuk mmeningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja seseorang atau sekelompok orang.
Menurut Moekijat (1991:4) Pelatihan adalah suatu proses yang diperlukan untuk membantu pegawai menambah kecakapan dan pengetahuan yang berhubungan erat dengan pekerjaan di mana karyawan tersebut bekerja.
2.2.2 Tujuan Training (Pelatihan)
Secara umum, pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan dan membina tenaga kerja,baik struktural maupun fungsional,yang memiliki kemampuan dalam profesinya,kemampuan melaksanakan loyalitas,kemampuan melaksanakan dedikasi dan kemampuan berdisiplin yang baik. Kemampuan profesional mengandung aspek kemampuan keahlian dalam pekerjaan,kemasyarakatan,dan kepribadian agar lebih berdaya guna dan berhasil guna (Hamalik,2007:16).
Secara Khusus, pelatihan bertujuan untuk :
a. Mendidik,melatih serta membina tenaga kerja yang memiliki keterampilan produktif dalam rangka pelaksanaan program organisasi di lapangan.
b. Mendidik,melatih serta membina unsur-unsur ketenagakerjaan yang memiliki kemampuan dan hasrat belajar terus untuk meningkatkan dirinya sebagai tenaga kerja yang tangguh,mandiri,beretos kerja yang tinggi dan produktif.
c. Mendidik, melatih serta membina tenaga kerja sesuai dengan
bakat,minat,nilai dan pengalamannya masing-masing (individual).
d. Mendidik dan melatih tenaga kerja yang dimiliki derajat relevansi yang tinggi dengan kebutuhan pembangunan.
Jenis pelatihan dapat ditentukan berdasarkan jenis pekerjaan,dan masing-masing memiliki tujuan tertentu. Tujuan pelatihan berdasarkan jenis pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Pelatihan induksi
Bertujuan untuk membantu tenaga kerja baru untuk melaksanakan pekerjaannya,kepadanya diberikan informasi selengkapnya tentang seluk beluk organisasi bersangkutan.
b. Pelatihan kerja
Bertujuan untuk memberikan instruksi khusus dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas sesuai dengan jawatan dan jenis pekerjaanya.
c. Pelatihan Pengawas
Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenai pemeriksaan,pengawasan,dan pelatihan tenaga lainnya.
d. Pelatihan manajemen
Bertujuan untuk memberikan latian yang diperlukan dalam jabatan manajemen puncak (Top Management)
e. Pengembangan Pemimpin
Bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memimpin bagi tenaga unsur pimpinan dalam suatu organisasi/lembaga.
Menurut Hamalik (2007:20) Model pelatihan adalah suatu bentuk pelaksanaan pelatihan yang di dalamnya terdapat program pelatihan dan tata cara pelaksanaannya. Berdasarkan kategori dan jenis pelatihan dapat ditentukan suatu model pelatihan.
Menurut Hamalik (2007:20) Terdapat 9 model pelatihan. Masing-masing model memiliki tujuan dan prosedur penyelenggaraan yang berbeda-beda. Secara keseluruhan penting dilaksanakan berdasarkan kebutuhan organisasi/lembaga. Model-model pelatihan tersebut adalah :
1. Public Vacational Training (Rrefreshing Course)
Memberikan latihan kepada calon tenaga kerja. Pelatihan dikaitkan dengan kebutuhan organisasi,dan diselenggarakan di luar organisasi/perusahaan.
2. Apprentice Training
Untuk memenuhi kebutuhan arus pegawai baru yang tetap dan serba bisa. Prosedur latihan dalam kelas. Praktik kerja lapangan berlangsung dalam jangka waktu lama,dengan pengawasan terus menerus.
3. Vestibule Training (Off the job Training)
Latihan diselenggarakan dalam suatu ruangan khusus yang berada di luar tempat kerja biasa,yang meniru kondisi-kondisi kerja sesungguhnya. Tujuannya yaitu untuk melatih tenaga kerja secara tepat,misalnya karena perluasan pekerjaan. Materi latihan dititikberatkan pada metode kerja teknik produksi dan kebiasaan kerja.
Untuk memberikan kecakapan yang diperlukan dalam pekerjaan tertentu sesuai dengan tuntutan kemampuan bagi pekerjaan tersebut,dan sebagai alat untuk kenaikan jabatan. Kegiatannya terdiri dari membaca materi,praktek rotasi,kursus khusus,,penugasan,dan lain-lain.
5. Pre employment Training (Pelatihan sebelum penempatan)
Mempersiapkan tenaga kerja sebelum ditempatkan/ditugaskan pada suatu organisasi untuk memberikan latar belakang intelektual,mengembangkan seni berfikir dan menggunakan akal. Materi lebih luas dan bersifat teoritik. Pelatihan diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luar organisasi perusahaan.
6. Induction Training (Latihan Penempatan)
Untuk melengkapi tenaga baru dengan keterangan-keterangan yang diperlukan agar memiliki pengetahuan,tentang praktek dan prosedur yang berlaku di lingkungan organisasi/lembaga tersebut,seperti: Kebijakan,peraturan,kesejahteaan sosial,dan hal-hal yang diharapkan oleh atasan dan rekan sekerja.
7. Supervisory Training (Latihan Pengawas)
Mengembangkan keterampilan sebagai pengawas. Kepada peserta diberikan informasi tentang teori dan penerapan praktis mengenai teknik-teknik pengawasan serta latihan tenaga kerja lainnya.
Untuk menyiapkan tenaga kerja yang cakap dalam jenis pekerjaan tertentu dengan cara bekerja langsung dalam pekerjaan bersangkutan,memberikan pelayanan sebagai seorang asisten/pembantu.
9. Sistem Kemagangan (Internship Training)
Menyiapkan tenaga yang terdidik dan terlatih dengan cara menempatkan tenaga yang sedang disiapkan sebagai tenaga kerja pada suatu lembaga/perusahaan selama jangka waktu tertentu dengan bimbingan tenaga ahli dari balai latihan dan staff para organisasi/perusahaan tersebut.
Model Pelatihan yang dipilih dan diselenggarakan ditentukan oleh fungsi pelatihan,kebijakan ketenagaan,permasalahan dalam organisasi,kategori ketenagaan,dana dan waktu yang tersedia (Hamalik,2007:22).
2.2.4 Proses Training (Pelatihan)
Menurut Sunarto (2007:109), Mengelola proses pelatihan dapat melangkah jauh menuju meningkatkan efektivitasnya.Jika program pelatihan disusun dan dilaksanakan dengan baik,baik organisasi maupun karyawannya akan memperoleh manfaat. Mengikuti proses yang lengkap membantu manajer memenuhi tujuan program pelatihan.
Sumber : Sunarto,2007
Langkah pertama dalam proses pelatihan adalah menentukan kebutuhan yang diperlukan karyawan dalam mendukung pekerjaannya. Misalnya jika karyawan tidak tahu cara mengoperasikan mesin untuk melakukan pekerjaan mereka,program pelatihan mengoperasikan mesin jelas diperlukan. Ketika kelompok pekerja kantor berkinerja buruk,masalahnya dapat berupa motivasi,rancangan pekerjaan yang tidak efisien,atau kurangnya keahlian dan pengetahuan. Penyebab terakhir dapat diatasi dengan pelatihan. Ketika program pelatihan dikembangkan,manajer seharusnya merancang tujuan spesifik yang merinci partisipan mana yang ikut serta dalam pelatihan. Manajer seharusnya
Mengukur kebutuhan pelatihan: -Siapa yang dilatih?
-Apa yang perlu mereka ketahui? -Apa yang sudah mereka ketahui?
Menetapkan tujuan pelatihan -Spesifik -Dapat diukur
Merencanakan evaluasi pelatihan: -Apakah orang yang dilatih menyukai pelatihan?
-Dapatkah mereka memenuhi tujuan pelatihan? -Apakah mereka berkinerja lebih baik?
Mengembangkan prog pelatihan: -isi -metode -durasi -lokasi -pelatih Melaksanakan Pelatihan Mengevaluasi Pelatihan
Memodifikasi program pelatihan berdasarkan evaluasi
merencanakan untuk mengevaluasi program pelatihan setelah karyawan menyelesaikannya.