• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRAKEOSTOMI PADA ANAK

Dalam dokumen Trakeostomi (Halaman 37-54)

TRAKEOSTOMI PADA ANAK

Penatalaksanaan masalah saluran nafas pada anak-anak kadang-kadang merupakan tugas yang sulit dan memerlukan evaluasi cermat serta rencara yang dalam. Hasil yang terpenting adalah saluran nafas aman yang mampu dilakukan tindakan oleh suatu tim perawatan untuk anak secara nyaman dengan morbiditas dan mortalitas yang rendah.

Keputusan apakah untuk manajemen yang dilakukan pada anak dengan masalah-masalah saluran nafas dengan intubasi endotrakeal atau dengan trakeostomi membutuhkan sebuah tim yang tdd. anli pediatrik, ahli intensive care, ahli anestesiologi serta ahli THT. Tim yang banyak berpengalaman sangat diperlukan. Sebagai tambahan, waktu membuat keputusan dan periode manajemen yang terus menerus, sebuah tim dari perawat berpendidikan, ahli speech pathology, ahli terapi pernafasan, pekerja sosial serta psikolog sangat membantu. Pertimbangan pengalaman dan kemampuan menangani pada penggunaan fasilitas medis juga penting. Orang tua merupakan bagian vital dari tim. Sering tercatat bahwa ketika trakeostomi dibutuhkan, respon awal orang tua sangat negatif. Setelah keputusan dibuat dan trakeostomi dilaksanakan, orang tua

merasa lega mengenai metode tindakan saluran nafas ini sering mengemukakan pertanyaan ‘Mengapa tindakan ini tidak dilakukan lebih awal?’. Respon ketiga yang dapat diprediksi dari orang tua anak dengan trakeostomi adalah saat memutuskan untuk dekanulasi, ketika orang tua memiliki perhatian dan keberatan mengenai penyerahan tindakan trakeostomi untuk saluran nafas.

3.1. Anatomi

Terdapat beberapa perbedaan, baik anatomi maupun fisiologi saluran nafas pada anak dan dewasa, antara lain :8,9,10

1. Jalan nafas pada anak relatif lebih pendek ( leher pendek, struktur anatomi lebih kecil, struktur vital saling berdekatan )

2. Letak laring posisinya lebih tinggi. Kartilago cricoid terletak setinggi vertebra servikalis ke III dan turun sampai pada vertebra servikalis ke VI padaorang dewasa

3. Kartilago tiroid tidak mengemuka / menonjol sepeti konfigurasi pada orang dewasa, sehingga kartilago krikoid yang kemudian menjadi patokan mudah untuk mengidentifikasi pada anak

4. N. Laringeus Rekurens terletak di lateral trakea, karena pre vertebra diisi lemak

5. Persendian antara kepala dan leher mobile dan dagu mungkin lebih terpisah dari garis tengah selama operasi

3.2. Tekhnik Operasi 7,8,9

Berdasarkan anatomi tersebut di atas, pelaksanaan trakeostomi pada anak memerlukan lebih banyak perhatian yang rinci dibanding dewasa.Adapun tekhnik operasinya adalah sebagai berikut :

1. Tindakan trakeostomi pada anak dilakukan di bawah anestemi umum di ruang operasi dengan suatu ventilasi yang terkontrol seperti dengan menggunakan masker, endotrakeal tube atau pada beberapa kasus dengan bronkoskop

2. Anak ditempatkan di meja dengan bantalan bahu agar leher hiperekstensi untuk membawa trakea lebih anterior dan membuat palpasi menjadi lebih

mudah. Kepala dapat diikat pada posisi ini, atau ahli anestesiologi mungkin dapat mengektensikan kepala dan memegang pada posisi itu selama prosedur dilakukan

3. Palpasi hati-hati pada leher penting praktis untuk menandai petunjuk. Struktur yang paling menonjol pada SN adalah katilago krikoid. Struktur ini ditandai dengan pulpen seperti pada superior notch dari kartilago tiroid dan sternal notch.

4. Anestesi lokal dengan vasokonstriktor, lidocaine 1% dengan epinephrine 1 : 100.000 digunakan untuk menginfiltrasi daerah leher anterior. Leher kemudian disiapkan dengan cairan desinfektan seperti povidone-iodine dan area tersebut ditutup. Penting bagi ahli anestesi mempunyai jalan masuk ke wajah dan endotracheal tube selama prosedur. Area ini lebih baik dibiarkan tidak tertutup dan perhatian yang hati-hati dilakukan untuk memastikan daerah steril.

5. Insisi kulit dapat dilakukan dengan cara transversal atau vertical. Insisi horizontal akan memuaskan secara kosmetik, sedang insisi vertical mempunyai keuntungan :

 Memiliki sedikit vaskuler  retraksi lebih mudah,

 Posisi kanul trakeostomi post operasinya lebih baik

 Tidak menyebabkan menurunnya insisi yang berat dari kanul trakeostomi 6. Insisi dilakukan melalui kulit, lemak subkutan dan otot platisma (sepanjang

kurang lebih 1,5 cm) kemudian dilanjutkan diseksi secara vertikal dengan teliti dan hati-hati. Otot2 pengikat (strap muscles) diretraksikan ke lateral, dan seluruh diseksi dilakukan pada bidang superior ke inferior. Asisten menarik jaringan dengan forsep bergigi dan meretraksikan dengan retraktor vena. Perdarahan dihentikan dengan elektrokauter dan bila perlu pembuluh darah besar diligasi.

7. Isthmus tiroid dapat diretraksikan ke superior atau inferior sesuai keperluan atau dipotong jika perlu. Isthmus sangat kecil pada bayi dan selalu dapat dicabangkan dengan elektrokauter.

8. Setelah kartilago krikoid diidentifikasi, trakea akan teridentifikasi dan cincin trakea ke II dan ke III dibersihkan dari jaringan lunak.

9. Aspirasi jarum pada trakea merupakan prosedur yang dapat diterima pada anak untuk memastikan suatu pembuluh darah besar jangan sampai dikelirukan dengan jalan nafas

10.Traksi jahitan dibuat antero lateral pada ke dua sisi garis tengah., menembus dua cincin trakea sebelum dibuat insisi vertical pada garis median cincin ke II dan ke III. Jaringan trakea tidak dieksisi pada anak. Pada titik ini, ahli anestesi akan memberitahukan kehilangan tekanan positif. Saat endotracheal tube ditarik ke proksimal, tempat trakeostomi kemudian diretraksikan ke lateral dengan jahitan traksi untuk mendapatkan penempatan yang mudah dari tube trakeostomi. Endotracheal tube tetap pada tingkat glotis dan sedikit kedalam ruang subglotis pada titik ini untuk memberikan ventilasi yang lebih jauh melalui endotracheal tube seharusnya dapat menjadi masalah dengan penempatan trakeostomi

11.Suction catheter yang lunak dapat ditempatkan melalui tempat trakeoetomi sebelum penempatan tube untuk mendapatkan visualisasi terbaik serta menyingkirkan darah & sekresi.

12.Setelah kanul ditempatkan, tali kanul trakeostomi kemudian diamankan, dan simpul ditalikan dilateral pada sisi lain dari leher

13.Luka trakeostomi jangan ditutup rapat karena dapat menimbulkan emfisema subkutan. Selain itu, karena jika penempatan kurang hati-hati dari tube yang terjadi postoperatif, menunda pengangkatan tube dari leher dan penempatan kembali tube secara cepat.

Gbr. 4.19 Prosedur trakheostomi pada anak9

3.3. Komplikasi.8

Komplikasi trakeotomi pediatrik secara khusus dibagi ke dalam : komplikasi intraoperatif, early postoperative & late postoperative. Pada anak < 1 tahun dilaporkan 3,3%, 13,3% & 38,3& berturut-turut. Keseluruhan angka mortalitas untuk kelompok umur ini dilaporkan 42%, lebih banyak merefleksikan proses alamiah penyakit yang mendasarinya. Angka mortalitas untuk prosedurnya sendiri dilaporkan 1,6%. Seperti yang diharapkan, komplikasi yang lebih tinggi terlihat pada bayi prematur & bayi yang menggunakan trakeostomi untuk OSNA. Di lain pihak angka kejadian ketika intubasi endotrakeal yang lama pada nenatus menjadi populer.

Perdarahan merupakan komplikasi intraoperatif yang ternayak. Diseksi terbatas yang hati-hati pada trakea dengan kontrol yang sangat cermat dari perdarahan akan mengurangi komplikasi ini. Perdarahan menetap yang berarti yang tidak dikontrol dengan elektroakuter, iikatan jahitan, dan tampon longgar dengan Gelfoam dapat diindikasikan sebagai pembekuan abnormalitas. Emfisema subkutan adalah hasil terperangkapnya udara dalam jaringan lunak dan dapat dikurangi tidak dengan menjahit insisi kulit dan mengikat disseksi pada garis tengah trakea. Emfisema subkutan yang ekstensif ditangani dengan melebarkan luak pada leher, dan kadang-kadang diperlukan penempatan drain. Kemajuan untuk pneumomediastinum dan pneumotoraks dapat terjadi.

Pneumomediastinum dan pneumotoraks dapat terjadi dari luka yang berbentuk kubah dari pleura selama prosedur trakeostomi. Dapat juga terjadi ruptur alveoli disebabkan oleh peningkatan tekanan negatif intatoraks. Batuk yang berlebihan dapat juga menyebabkan masalah ini. Diseksi minimal dapat

menurunkan komplikasi ini. Foto x-ray dilakulan pada recovery room untuk menentukan posisi tube yang dapat digunakan untuk mendeteksi udara pada raung ini. Pneumotoraks yang besar dapat digunakan untuk penempatan chest tube.

Injuri esofageal atau fistel trakeoesofageal dapat juga dihindari dengan diseksi midline yang sangat teliti dan menghindari pipa makan & stetoskop esofageal selama prosedur trakeotomi. Insisi ke dalam dinding trakea anterior dapat dilakukan terlalu dalam, menyebabkan kerusakan pada dinding posterior trakea dan sebagian dinding trakea dan esofagus. Injuri pada n. laringeus rekuren dapat dihindari dengan diseksi midline dan insisi trakea vertikal midline.

Tube trakeostomi menyumbat merupakan komplikasi postoperatif dini yang terbanyak dan secara umum dihindari dengan suctioning & humidifikasi yang adekuat.

Komplikasi postoperatif dini dapat termasuk accidental decanulation. Ikatan trakeostomi harus hati-hati diamankan untuk menghindari komplikasi ini. Jika ini terjadi pada beberapa hari pertama sebelum saluran dibentuk dengan sangat baik, ikatan traksi akan membantu penempatan kembali tube. Seluruh pengurus anak seharusnya berpikir bagaimana memperluas leher dengan tepat dan menempatkan kembali tube trakeostomi jika terjadi dekanulasi accidental/ secara kebetulan. Suatu ide yang baik mempunyai ekstra tube dengan ukuran sama dan satu ukuran yang lebih kecil pada sisi tempat tidur untuk kebutuhan emergensi. Sebagai tambahan, jika tube trakeostomi tidak dapat ditempatkan kembali, tube endotrakeal berukuran tepat dapat ditempatkan melalui stoma trakeostomi. Rencana melakukan pemasangan di sisi tempat tidur seharusnya diindikasikan apabila anak ini dapat diresusitasikan melewati laring & trakea bagian atas jika tracheostomy tube tidak dapat ditempatkan kembali. Ini akan merupakan indikasi untuk operator bahwa kantung ke mulut atau intubasi endotrakeal dari atas memungkinkan pada pasien ini. Obstruksi laring dan masalah-masalah trakea bagian atas dapat ditangani dengan cara ini , dan seharusnya juga dilakukan di tempat tidur. Menggunakan kateter suction yang lembut dan bersih dapat dilakukan pada lokasi menbukanya trakea dan tracheostomy tube, atau endotracheal tube dapat dimasukkan lewat atas kateter suction.

Trakeitis dan infeksi stoma dapat ditangani dengan perawatan lokal, penyedotan yang hati-hati sesuai keperluan, dan humidifikasi adekuat. Kultur selalu dilakukan hanya jika pengukuran rutin lokal tidak efektif.

Pada khususnya neonatus, tube trakeostomi yang lembut dapat melakukan jalannya keatas melawan dinding trakea melakukan perubahan posisi dan dapat menobstruksi secara temporer. Bagaimanapun penting tim perawat mengerti bahwa posisi kepala dan posisi tubuh dapat mempengaruhi patensi airway. Komplikasi lambat termasuk dekanulasi accidental, tersumbatnya tube, trakeitis, dan infeksi stoma trakea. Sebagai tambahan, beberapa komplikasi ditingkatkan oleh durasi absolut dari keperluan tube trakeostomi. Erosi dinding trakea dapat terjadi dari tekanan tube trakeostomi pada dinding trakea anterior. Arteri innominate yang menyilang dianterior trakea pada superior thoracic inlet, dan tube dapat mengikis area tersebut. Manset (cuffed) tube selalu tidak digunakan pada anak-anak, tetapi juga dapat menyebabkan erosi dinding trakea. Trakeostomi letak rendah dibawah cincin ke3 dapat menjadi predisposisi masalah ini. Tube trakeostomi yang terlalu besar juga menambah problem ini. Jika terdapat beberapa pertanyaan pada waktu penempatan tube, laringoskopi dan bronkoskopi dapat mengevaluasi ukuran relatif dari lumen trakea dan ukuran tube. Beberapa perdarahan dari trakeostomi dapat menjadi indikasi suatau problem mayor yang potensial. Sering terdapat inflamasi sedang trakea dari trauma pengeringan atau penyedotan, tetapi penampakan langsung untuk mengidentifikasi sumber perdarahan dibutuhkan. Ini dapat dilakukan melewati tube trakeostomi sendiri atau melewati stoma dengan flexible scope.

Tergantung pada indikasi untuk trakeostomi dan kondisi anak, pemeriksaan laringoskopi/bronkoskopi formal harus dilakukan setiap 6-9 bulan ketika trakeostomi ditempatkan. Ini terutama penting pada anak-anak problem neurologi dan spinal yang mempunyai posisi tubuh abnormal.

Fistel trakeosesofageal lambat dapat terjadi dari erosi dinding posterior. Tube nasogastrik yang indwelling dapat menjadi predisposisi untuk problem ini.

Granuloma trakea sangat banyak di dinding anterior pada bibir superior dari stoma trakea. Ini dapat menjadi jaringan granulasi dini dan kemudian menjadi

massa fibrosa dan dapat menjadi pedunculated atau sessile.Tube yang terlalu besar dan kurang perawatan luka dapat menjadi predisposisi untuk problem ini. Jika granuloma diluar batas dan tidak menyebabkan obstruksi, observasi dapat adekuat. Jika granuloma besar atau pedunculated, sekali-kali mengangkatnya sebelum mengobstruksi stoma selama mengganti tube trakeostomi. Pengangkatan selalu dilakukan dibawah visual langsung dengan bronkoskop di tempat, mendorong granuloma ke dalam stoma, dimana bisa didapatkan kembali dan dikeluarkan melewati stoma dengan diseksi tajam.

Kolaps suprastomal dan stenosis trakea pada sisi yang sama dapat terjadi dari tekanan tube trakeostomi dengan kondritis lokal dan melemahkan cincin trakea dengan menghasilkan kolaps. Insisi trakea tranversal dapat juga menambah problem ini. Pengangkatan jendela kartilago yang sakit disarankan pada anak- anak, dapat menyebabkan problem ini. Jika kolaps suprastomal membuat dekanulasi sulit, prosedur rekonstruksi mungkin diperlukan untuk mengoreksi ini. Revisi saluran trakeostomi dengan bantuan jahitan dari dinding anterior yang kolaps melewati strap muscles mungkin cukup, atau rekonstruksi trakea dengan graft kartilago mungkin diperlukan. Bayi-bayi kecil yang memerlukan prolonged trakeostomi lebih cenderung mendapatkan masalah ini.

Stenosis subglotik sebagai hasil trakeotomi dapat dikurangi dengan menghindari trakeostomi tinggi dan perawatan trakeostomi secara teliti. Krikotirotomi dianjurkan pada anak-anak seperti komplikasi ini dapat terjadi. Trakeostomi pada hipoxia, anak tidak tenang yang kondisinya memburuk selama observasi dan tidak mampu diintubasi emergensi lebih baik dihindari dengan direncanakan lebih awal trakeotomi.

Menetap, fistel trakeokutaneus dilaporkan tinggi sebanyak 20%-40%. Usai pada trakeotomi dan durasi trakeostomi terlihat menjadi faktor yang berhubungan. Lebih banyak trakeostomi dilakukan untuk kebutuhan waktu lama saat ini, keperluan untuk kanulasi yang lama meningkat, dan komplikasi ini kemungkinan lebih tinggi. Setelah dekanulasi, jika fistel trakeokutaneus menetap lebih dari 6 – 12 bulan, penanganan termasuk eksisi saluran fistel dengan multilayer closure dan postoperative drain. Ini akan mengurangi resiko emfisema subkutan. Metode

lain yang mungkin digunakan adalah reinsersi trakeotomi baru dengan dekanulasi cepat setelah beberapa hari kemudian.

3.4. Dekanulasi 8

Sebelum dekanulasi, masalah utama memerlukan trakeostomi harus dievaluasi dan ditentukan mengalami perbaikan dimana trakeostomi tidak lama diperlukan. Sebagai tambahan, Saluran nafas harus dipelajari secara endoskopik untuk meyakinkan bahwa tidak ada masalah baru yang terjadi oleh trakeostomi sendiri. Fungsi pita suara seharusnya dinilai juga. Granuloma suprastoma harus diputuskan. Setelah kriteria ini ditemukan, tube trakeostomi yang lebih kecil secara progresif ditempatkan sampai tube terkecil untuk kepentingan praktis dalam menempatkan dan dapat menyumbat untuk perpanjangan waktu yang adekuat untuk menentukan jika anak mampu bernafas melewati laring. Sumbatan ini selalu dilakukan hanya pada saat jika anak keluar dari rumah sakit. Sumbatan wktu malam selalu dadakan dalam pengawasan tempat tidur rumah sakit hanya sebelum dekanulasi. Pengamatan tidur dilakukan hanya jika keadaan mengindikasi evaluasi menjadi penting. Permasalahan respirasi sentral akan memerlukan ini. Sumbatan lama untuk penyakit paru kronis yang mendasari dengan saluran nafas kecil mungkin penting untuk membuktikan kriteria dekanulasi. Pada bayi-bayi kecil, saat tube trakeostomi terkecil dapat secara komplit memenuhi trakea karena itu sumbatan tidak memungkinkan. Fenestrated tube secara umum tidak digunakan selama proses dekanulasi, seperti jaringan granulasi dari iritasi fenestrasi yang umumnya terjadi pada anak-anak. Sekali tube diangkat, tekanan tingkat sedang dipergunakan, dan anak dimonitor di rumah sakit 24 – 48 jam.

3.5. Pemilihan Tube Trakheostomi 8

Lumen yang sempit pada trakea anak dan perbedaan anatomi lain yang jelas dianjurkan pemakaian tracheostomy tube palstik untuk pediatrik daripada tracheostomy tube metal kecil untuk dewasa. Soft tube yang lentur lebih mudah mengikuti bentuk trakea bayi atau anak. Berbagai macam ukuran panjang dengan

bervariasi diameter dalam & luar penting untuk kisaran umur dan anak yang sedang berkembang. Tube trakeostomi pediatrik dari polyvinyl chloride diperkenalkan pada 1965 oleh Aberdeen dan memulai perkembangan lebih banyak pada tube trakeostomi pediatrik modern. Polyvinyl chloride (Shiley & Portex) dan Silastic tube (Argyle & Bivona) lebih lentur dan cenderung mengumpulkan lebih sedikit sekresi. Mereka tidak mempunyai inner cannule dan karena kemampuannya yang lunak meningkat, dapat melakukan dekanulasi sewaktu-waktu dengan lebih mudah. Tube trakeostomi yang kecil secara umum tidak mempunyai cuff(manset). Pipa Shiley & Bivona keduanya tersedia pada ukuran standar pediatrik seperti juga bermacam-macam ukuran neonatus. Pipa silicone yang lebih lembut mungkin terutama pemting pada anak dengan abnormalitas spinal dengan bentuk atau deviasi abnormal trakea. Holinger & Jackson metal tracheostomy tube mempunyai inner cannule dan mungkin penting pada prosedur rekonstruksi saat stent mungkin diikat dengan kawat ke pipa trakeostomi. Inner cannule menyediakan cara untuk mebersihkan lumen pipa dengan trakeostomi yang ditempatkan untuk periode yang lama. Lebih banyak kecocokan dan standarisasi untuk sistem ukuran dan penomoran standar dari tube endotrakeal telah dikembangkan, tetapi kemajuan lebih lanjut diperlukan.

Pemilihan tube tracheostomi tergantung pada status harapan anak. Jika anak diharapkan menjadi diventilasi dengan tekanan positif, snug-fitting tube (tube ketat rapi) disediakan sedikitnya pada permulaan untuk mencegah kebocoran, dan sebuah noncuffed tube selalu lebih disukai. Jika anak tidak mendapatkan dukungan ventilasi, tube yang kecil dapat ditempatkan untuk menyediakan tekanan yang paling sedikit pada trakea dan penyediaan udara untuk mengedarkan ke trakea dan naik ke vocal cord untuk fonasi. Diameter dalam dari tube trakeostomi seharusnya bagaimanapun adekuat untuk mendapatkan penyedotan dan pasase udara yang adekuat. Laringoskopi dan bronkoskopi dapat dilaksanakan pada tempat ini jika ukuran dan posisi tube trakeostomi dalam keraguan. Luka trakeostomi jangan ditutup karena tutup yang komplit dapat menimbulkan kemungkinan perkembangan emfisema subkutan. Anak kemudian

dipindahkan ke pediatric ICU untuk perawatan trakeotomi yang sangat hati-hati dan spesifik.

3.6. PERAWATAN POST OPERATIF 8 a. Di rumah sakit

Ventilator perlu diperhatikan secara umum oleh staf intensive care. Suctioning dilakukan setiap 1-2 jam dan kemudian menurun sampai p.r.n. pada beberapa hari pertama sesuai kepentingannya dalam mengontrol sekresi. Sedasi dan pengendalian penting dilakukan karena itu tube trakeostomi tidak salah menyangkutkannya atau salah penempatan selama 5-7 hari pertama. Foto x-ray dada postoperatif didapatkan pada ruang operasi lain atau ICU untuk menentukan posisi tube dan terutama panjang tube berkenaan dengan karina.

Jika anak tidak pada ventilator, anak mampu secara umum mendapatkan makan per oral untuk hari berikutnya. Tali pengikat trakeostomi dirubah selama minggu pertama oleh staf dokter sesuai keperluannya untuk pembersihan, dan tube trakeostomi pertama berubah dibentuk secara umum pada postoperatif hari 5- 7. Jika anak pada ventilator, tube ventilator harus diposisikan pada midline dada atau abdomen karena itu tidak ada sisi tube trakeostomi yang berputar, yang mana akan cenderung salah penempatan tube atau menyangkut di lumen atas melawan dinding trakea.

Setelah 5-7 hari ketika saluran yang baik terbentuk, jahitan traksi diangkat, dan keluarga atau penjaga rumah mulai belajar merawat trakeostomi, kesulitan di masalah-masalah trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmonaer serta mempersiapkan peralatan di rumah untuk akhirnya keluar dari RS. Di rumah sakit tim beah trakeostomi, nurse educator, respiratory therapist, speech therapist, serta occupational dan physical therapist kadang-kadang dilibatkan dalam perawatan anak.

b. Di rumah

Di rumah yang sangat penting adalah tanggung jawab orang dewasa yang mendampingi anak dengan trakeostomi sepanjang waktu & mampu melakukan

resusitasi bila anak terjadi masalah. Perawatan trakeostomi secara manual tersedia banyak di RS dan tersedia secara komersial. Sedikitnya 1 trakeostomi manual yang tersedia dicatat oleh orang tua anak dengan trakeostomi, membuat ini sangat membantu para keluarga. Sebagai tambahan, kaset video tentang trakeostomi dan belajar dengan boneka trakeostomi tentang tehnik2 penting. Ketika anak di rumah, penting seluruh peralatan berfungsi, dan sebaiknya memberitahukan perusahaan listrik, perusahaan telefon, tim emergensi, dan polisi lokal dimana terdapat anak dengan trakeostomi di rumah. Setelah anak pulang, tim trakeostomi selalu akan follow up anak dengan kunjungan reguler dan juga termasuk ahli pediatrik primer anak untuk tim perawatan.

1. Nasehat bagi keluarga pasien dengan trakeostomi

Reaksi orang tua atau keluarga lainnya sehubungan dengan trakeostomi ini bermacam – macam, dijelaskan pada mereka bahwa perasaan – perasaan itu adalah wajar. Harus ada komunikasi dua arah, mulai dari perasaan marah, tidak percaya diri, bersalah sampai yang bisa menerima dan mengerti. Perlu dua arah antara pasien dan keluarga lainnya dan kesadaran akan kenyataan yang dihadapi, sehingga mereka menjadi lebih percaya diri.

2. Latihan Perawatan di Rumah

Latihan perawatan di rumah telah dapat dimulai sebelum tindakan trakeostomi dilakukan, seperti memberi penjelasan tentang anatomi dan fungsi laring.

Perlu diberi pengertian tentang :

- Sebab – sebab mengapa dilakukan tindakan trakeostomi

- Bahwa trakeostomi dapat mengembalikan sebagian dari fungsi laring. - Udara pernafasan melalui kanul tidak cukup hangat, lembab dan tidak

tersaring dengan baik.

Supaya orang tua dapat dengan cepat mempelajari perawatan trakeostomi, mereka harus menyediakan banyak waktu sehingga seluruh program pendidikan bisa mereka ikuti. Mulanya mereka diajak mengamati, kemudian mengerjakan di bawah pengawasan, sampai akhirnya mereka dapat melakukannya sendiri.

- Perawatan stoma dan kulit, karena epitelialisasi berlangsung cepat, maka stoma dan kulit harus dijaga tetap kering dan bersih, dengan garam fisiologis dan antiseptik ringan, sehingga bebas dari iritasi dan infeksi.

Dalam dokumen Trakeostomi (Halaman 37-54)

Dokumen terkait