BAB III METODE PENELITIAN
3.8 Teknik Analisis Data
3.8.3 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk menguji apakah variabel independen mempunyai pegaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengujuian hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 ditolak jika nilai signifikansi Wald
< 0,1 dan masing-masing koefisien regresi sesuai dengan arah yang diprediksikan. Uji sig- Wald digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen mempengaruhi variabel dependen di dalam model regresi logistik.
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Analisis Statistik Deskrif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi atau gambaran menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen, yaitu pajak, debt covenant, good corporate governance (GCG), dan exchange rate terhadap variabel dependen yaitu transfer pricing. Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengenai nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi. Berdasarkan analisis statistik deskriptif diperoleh gambaran sampel pada Table 4.1
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Sumber : Lampiran 3
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
Tunneling Incentive 64 ,00 4,86 ,4275 ,63549
Ukuran Perusahaan 64 7,99 13,52 9,9135 1,99435
Good Corporate Governance (GCG)
64 ,0 1,0 ,750 ,4364
Pajak 64 -5,72 ,58 ,0856 ,79542
Mekanisme Bonus 64 -44,98 23,78 1,3958 7,20178
Transfer Pricing 64 0 1 ,88 ,333
Valid N (listwise) 64
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa data observasi yang menjadi sampel adalah sebanyak 64 (N). Hasil analisis deskriptif untuk variabel keputusan melakukan transfer pricing (Y) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,88. Selanjutnya untuk nilai minimum, nilai maksimum serta standar deviasi masing-masing sebesar 0, 1, dan 0,333.
Untuk variabel tunneling incentive (X1) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,4275. Hal ini menunjukkan bahwa tunneling incentive yang diproksikan dengan persentase kepemilikan asing, yang dimiliki oleh perusahaan tambang yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019 rata-rata sebesar 42 % saham dimiliki oleh pihak asing. Dapat dikatakan bahwa kepemilikan saham perusahan-perusahaan tersebut cenderung terkonsentrasi pada sebagian kecil pihak. Untuk variabel tunneling incentive (X1), didapat nilai minimum sebesar 0,00 yang berasal dari Bukit Asam Tbk (PTBA) tahun 2017, sedangkan nilai maksimum 4,86 berasal Timah Tbk (TINS) pada tahun 2016, serta standar devisasi sebesar 0,63549.
Variabel ukuran perusahaan (X2) memiliki nilai rata-rata sebesar 9,9135. Angka tersebut menunjukkan perusahaan tambang yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019 yang memiliki log total aset tersebut akan melakukan transfer pricing. Nilai minimum 7,99 berasal dari Resource Alam Indonesia Tbk(KKGI) tahun 2016,sedangkan nilai maksimum 13,52 berasal dari Aneka Tambang Tbk(ANTM) tahun 2018,serta standar deviasi sebesar
1,99435.
Variabel Good Corporate Governance (GCG) (X3) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,750. Dan standar deviasi sebesar 0,4364
Variabel pajak (X4) menunjukkan bahwa nilai rata-rata sebesar ,0856 atau 85%. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indoneisa pada tahun 2016-2019 yang diproksikan dengan effective tax rate pada perusahaan sampel tersebut akan melakukan transfer pricing. Sedangkan untuk nilai minimum sebesar -5,72 yang terjadi pada perusahaan Aneka Tambang (ANTM) pada tahun 2017 dan nilai maksimum sebesar 0,58 yang terjadi pada perusahaan Resource Alam Indonesia (KKGI) pada tahun 2018, serta standar deviasi sebesar 0,79542
Variabel mekanisme bonus (X5) memiliki nilai rata-rata sebesar 1,3958 Angka tersebut menunjukkan bahwa rata-rata indeks laba bersih perusahaan tambang yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019. Nilai minimum sebesar -44,98 berasal dari Aneka Tambang Tbk (ANTM) tahun 2016, sedangkan nilai maksimum sebesar 23,78 berasal dari Surya Esa Perkasa (ESSA) Tahun 2018 . Standar deviasi variabel mekanisme bonus (BONUS) adalah sebesar 7,20
4.2 Analisis Regresi Logistik
Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik di mana variabel dependennya merupakan variabel dikotomi atau variabel dummy. Karena variabel dependen tersebut hanya memiliki dua kategori dan hanya memiliki rentang nilai 0 dan 1. Variabel dependen yang terdapat dalam penelitian ini adalah transfer pricing, di mana penelitian yang dilakukan dalam sampel adalah berdasarkan ada tidaknya transaksi penjualan kepada perusahaan yang memiliki hubungan istimewa (afiliasi). Nilai 1 untuk perusahaan yang melakukan transaksi dengan pihak afiliasi dan nilai 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan transaksi dengan pihak afiliasi. Berikut adalah tabel hasil uji koefisien regresi logistik:
Tabel 4.2
Tunneling Incentive (X1) -0,547 0,373
Ukuran Perusahaan (X2) -0,577 0,013
Good Corporate Governance (GCG)
Dari Tabel 4.2 menghasilkan model persamaan regresi logistik sebagai berikut:
Logit (Y) = 5,484 - 0,547 X1- 0,577 X2 + 3,058 X3 - 0,169 X4 - 0,137 + ε
Hasil persamaan regresi logistik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Nilai dari koefisien variable tunneling incentive (X1) sebesar -0,547 yang bertanda negatif mengindikasikan bahwa setiap kenaikan Tunneling Incentive yang diukur dengan persentase kepemilikan asing, maka keputusan transfer pricing akan mengalami penurunan. Dengan nilai signifikansi 0,373 (lebih besar dari 0,05)
2. Nilai dari koefisien variabel Ukuran Perusahaan (X2) adalah sebesar - 0 , 5 7 7 yang bertanda negatif , dengan nilai signifikansi 0,013 (lebih kecil dari 0,1) mengindikasikan bahwa semakin meningkatnya Ukuran Perusahaan akan memberikan dampak negatif terhadap keputusan perusahaan melakukan Transfer Pricing.
3. Nilai dari koefisien good corporate governance (X3) adalah sebesar 3,058 yang bertanda positif dan signifikan dengan nilai signifikansi 0,002 (lebih kecil dari 0,1) yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan good corporate governance yang diukur dengan variabel dummy dengan auditor KAP The Big Ten diberi angka 1 (satu) dan auditor bukan KAP The Big Ten diberi angka 0 (nol) maka memberikan dampak positif terhadap keputusan perusahaan melakukan transfer pricing
4. Nilai dari koefisien Pajak (X4) adalah sebesar -0,169 yang bertanda negatif dan dengan nilai signifikansi sebesar 0,688 yang mengindikasikan bahwa semakin meningkatnya Pajak
Perusahaan maka keputusan perusahaan melakukan transfer pricing akan menurun
5. Nilai dari koefisien Mekanisme Bonus (X5) adalah -0,137 dan dengan nilai signifikansi sebesar 0,073 yang mengindikasikan bahwa semakin meningkatnya mekanisme bonus maka keputusan perusahaan melakukan transfer pricing akan menurun.
4.2.1 Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit Test)
Penilaian keseluruhan model dilakukan untuk menilai apakah model fit dengan data atau tidak. Dalam teknik analisis regresi logistik adalah menggunakan Overall Model Fit Test.Overall Model Fit Test dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likehood (-2 LogL) pada awal (Block number = 0) dengan nilai -2 Log Likehood (-2 LogL) pada akhir (block number = 1). Adanya pengurangan nilai antara 2 Log Likehood (2 LogL) awal (intial 2 LogL function) dengan nilai -2 Log Likehood (--2 LogL) akhir menunjukkan bahwa model yang dihipotesakan fit dengan data (Ghozali, 2016). Berikut adalah tabel perbandingan -2 Log Likehood (-2 LogL) pada awal (Block number = 0) dengan nilai -2 Log Likehood (-2 LogL) pada akhir (block number = 1).
Tabel 4.3
Hasil Uji Overall Model Fit Test Keteranga
n
-2 Log Likehood (-2 LogL)
(Block Number = 0) 71,979
(Block Number = 1) 55,099
Sumber: lampiran 4
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diperoleh informasi mengenai model di mana -2 Log Likehood (-2 LogL) awal (Block number = 0) dengan -2 Log Likehood (- 2 LogL) akhir (Block number = 1). Nilai -2 Log Likehood (-2 LogL) awal (Block number = 0) adalah sebesar 71,979 sedangkan nilai -2 Log Likehood (--2 LogL) akhir (Block number = 1) adalah sebesar 55,099. Hal ini menunjukkan adanya penurunan setelah masuknya beberapa variabel independen dalam penelitian. Penurunan ini menujukkan model regresi yang baik atau dengan kata lain model yang dihipotesakan fit dengan data.
4.2.2 Menilai Kelayakan Model Regresi (Hosmer dan Lemeshow Test) Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test. Penilaian kelayakan model regresi dilakukan agar hasil yang didapatkan dapat digunakan.
Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok atau sesuai dengan model (tidak ada perbedaan dengan model data sehingga dapat dikatakan fit). Jika nilai Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test Statistic ≤ 0,05, maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya sehingga goodness of fit model tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika nilai Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test Statistic > 0,05, maka hipotsis nol tidak dapat ditolak dan berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok
dengan data observasinya. (Ghozali, 2016). Berikut adalah Table hasil Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test.
Tabel 4.4
Hasil Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test
Step Chi-square Df Sig. Keterangan
1 8,619 8 0,375 Hipotesis nol
diterima
Sumber : lampiran 5
Berdasarkan Tabel 4.4 hasil Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test di atas dapat diketahui bahwa besarnya nilai statistik Hosmer dan Lemeshow Test Goodness of Fit Test adalah chi square sebesar 8,619 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,375 di mana nilainya lebih besar dari 0,05,
maka hipotesis nol diterima yang berarti bahwa model fit dengan data. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya.
4.2.3 Uji Koefisien Derterminasi R2 (Nagelkerke’s R Square)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan dan mempengaruhi variabel dependen. Koefisien determinasi pada regresi logistik dapat dilihat pada nilai Nagelkerke’s R Square. Berikut adalah table dari hasil pengujian koefisien determinasi:
Table 4.5 Hasil Uji Koefisien
Determinasi
Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square
1 55,099 0,232 0,343
Sumber : lampiran 6
Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa nilai Nagelkerke’s R Square sebesar 0,343 yang berarti bahwa variabelitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 34,3%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian ini.
4.2.4 Matriks Klasifikasi
Matriks klasifikasi akan menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan melakukan transfer pricing. Dalam regresi logistik, nilai matriks klasifikasi dapat dilihat pada classification table.
Tabel 4.6 Classification table
Observed
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa tingkat prediksi 100% perusahaan melakukan transaksi transfer pricing dan 50% tidak melakukan transaksi transfer pricing. Secara keseluruhan model dengan variabel independen tunneling incentive, ukuran perusahaan, good corporate governance (GCG), pajak dan mekanisme bonus secara statistik dapat diprediksi sebesar 95%.
4.3 Uji Hipotesis
Setelah melakukan uji kelayakan pada model penelitian, maka tahap selanjutnya adalah melakukan uji hipotesis. Uji hipotesis ini dilakukan untuk menguji apakah variabel independen dalam penelitian ini mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Hipotesis akan diuji menggunakan taraf signifikansi atau tingkat alpha sebesar 5% atau dengan kata lain taraf kepercayaan 95%. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 5% (0,05), maka dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen. Berikut adalah hasil pengujian hipotesis yang dilakukan:
Tabel 4.7
Hasil Pengujian Hipotesis
Variabel Koefisien B Sig. Keterangan
Tunneling incentive -0,547 0,373 Tidak bepengaruh
Ukuran Perusahaan -0,577 0,013 Berpengaruh negatif dan signifikan
Good Corporate
Governance (GCG) 3,058 0,002 Berpengaruh positif
dan signifikan
Pajak -0,169 0,688 Tidak bepengaruh
Mekanisme Bonus -0,137 0,073 Tidak bepengaruh Sumber : Lampiran 8
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa variabel pajak memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,547 dengan nilai signifikansi 0,373 yang lebih besar dari alpha 5% (0,05). Hal tersebut dapat diartikan bahwa pajak tidak bepengaruh terhadapa transfer pricing. Oleh karena itu ,maka hipotesis (H1) ditolak.
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,577 dengan nilai signifikansi 0,013 lebih kecil dari alpha 5%
(0,05). Hal tersebut dapat diartikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap transfer pricing. Oleh karena itu, maka hipotesis (H2) diterima.
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa variabel good corporate governance (GCG) memiliki koefisien regresi positif sebesar 3,058 dengan nilai signifikansi 0,002 lebih kecil dari alpha 5%
(0,05). Hal tersebut dapat diartikan bahwa good corporate governance (GCG) berpengaruh terhadap transfer pricing. Oleh karena itu,maka hipotesis (H3) diterima
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa variabel pajak memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,169 dengan nilai signifikansi sebesar 0,688 yang lebih besar dari alpha 5% (0,05).
Hal tersebut dapat diartikan bahwa pajak tidak berpengaruh terhadap transfer pricing. Oleh karena itu, maka hipotesis (H4) ditolak
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa variabel mekanisme bonus memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,137 dengan nilai signifikansi 0,073 lebih besar dari alpha 5% (0,05). Hal tersebut dapat diartikan bahwa mekanisme bonus tidak berpengaruh terhadap transfer pricing. Oleh karena itu ,maka hipotesis (H5) ditolak.
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian
4.4.1 Pengaruh Tunneling Incentive terhadap Keputusan untuk Melakukan Transfer Pricing
Hipotesis Pertama dalam penelitian ini adalah tunneling incentive berpengaruh terhadap transfer pricng. Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa variabel tunneling incentive memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,547 dan tingkat signifikansi adalah sebesar 0,373 (lebih besar dari 0,05).
Hal ini menandakan bahwa tunneling incentive tidak berpengaruh terhadap transfer pricing. Hipotesis Pertama pada penelitian ini ditolak. Tunneling incentive yang diproksikan dengan kepemilikan saham pengendali, mengindikasikan bahwa adanya pemegang saham pengendali tidak mempengaruhi manajemen dalam membuat keputusan transfer pricing.
Hal tersebut dimungkinkan karena perusahaan berusaha untuk menstabilkan keuntungan perusahaan dengan transfer pricing tanpa menimbulkan konflik dalam perusahaan. Menurut Koestaman dan Diyanty (2013), semakin tinggi ekspropriasi (pengambil alihan sumber daya) yang dilakukan oleh pemegang saham pengendali, maka akan menyebabkan dividen kas yang dibayarkan semakin rendah. Sehingga akan menimbulkan konflik antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham minoritas. Dimana konflik ini berdampak pada kegiatan operasi dan investasi perusahaan.
Hasil dalam penelitian ini berlawanan dengan penyusunan hipotesis yang telah dijabarkan sebelumnya. Tetapi, penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Koestaman dan Diyanty (2013).
4.4.2 Pengaruh Ukuran Perusahan terhadap Keputusan untuk Melakukan Transfer Pricing
Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah ukurnan perusahaan berpengaruh transfer pricing.Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,577 dan tingkat signifikansi variabel ukuran perusahaan adalah sebesar 0,013( lebih kecil dari 0,05). Hal ini menandakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap keputusan melakukan
transfer pricing. Hipotesis kedua pada penelitian ini diterima.
Semakin besar ukuran perusahaan akan meningkatkan kompleksitas dalam kegiatan operasional perusahaan tersebut.
Sehingga biaya-biaya yang ditimbulkan juga meningkat, menyebabkan perusahaan menentukan kebijakan-kebijakan untuk menekan biaya tersebut
Izadinia, et al. (2013) menyatakan bahwa ukuran perusahaan akan berdampak pada jumlah beban pajak yang harus dibayar.
Pengaturan beban pajak dilakukan dengan mengalihkan pendapatan ke negara dengan tarif pajak yang lebih rendah, yang biasanya melalui praktik transfer pricing.
Sedangkan Jayengsari dan Soetedjo (2013) menyatakan bahwa ukuran perusahaan memotivasi terjadinya praktik manajemen laba oleh manajemen karena adanya aturan seperti aturan pajak, hukum anti- monopoli, peraturan perbankan, dan lain lain. Dengan adanya hukum anti- trust atau penghindaran pajak, perusahaan dengan ukuran besar cenderung menurunkan keuntungan mereka.
Penurunan keuntungan ini dilakukan dengan cara mengalihkan pendapatan ke negara lain dengan tarif pajak yang lebih rendah melalui praktik transfer pricing.
Dalam penelitian ini juga membuktikan bahwa ukuran perusahaan memberikan pengaruh signifikan terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing. Hasil ini didukung oleh
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Izadinia, et al. (2013) serta Jayengsari dan Soetedjo (2013).
4.4.3 Pengaruh Good Corporate Governance (GCG) terhadap Keputusan untuk Melakukan Transfer Pricing
Hipotesis ketiga pada penelitian adalah Good Corporate Governance (GCG) bepengaruh terhadap transfer pricing.
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.2 untuk variabel Good Corporate Governance (GCG) yang diukur dengan variabel dummy dengan auditor KAP The Big Ten diberi angka 1 (satu) dan auditor bukan KAP The Big Ten diberi angka 0 (nol). Variabel good corporate governance (GCG) yang memiliki koefisien regresi positif sebesar 3,058 dan nilai signifikansi sebesar 0,002 (lebih kecil dari 0,05) . Artinya apabila variabel good corporate governance (GCG) meningkat, maka keputusan perusahaan untuk melakukan transfer pricing menurun. Sebaliknya apabila variabel good corporate governance (GCG) mengalami penurunan, maka keputusan perusahaan untuk melakukan transfer pricing juga meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa good corporate governance (GCG) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing. Hipotesis ketiga pada penelitian ini diterima.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosa (2017) yang mendapatkan hasil bahwa good
corporate governance (GCG) berpengaruh positif dan signifikan terhadap indikasi perusahaan melakukan transfer pricing.
4.4.4 Pengaruh Pajak terhadap Keputusan Perusahaan untuk Melakukan Transfer Pricing.
Hipotesis keempat pada penelitian ini adalah pajak bepengaruh terhadap transfer pricing. Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa variabel pajak memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,169 dan nilai signifikansi sebesar 0,688 (lebih besar dari 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa variabel pajak tidak berpengaruh terhadap keputusan melakukan transfer pricing. Hipotesis pada penelitian ini ditolak. Hasil yang ini menunjukan bahwa transfer pricing tidaklah menjadi mekanisme penghematan pajak yang dilakukan oleh perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Peneliti memiliki dugaan bahwa sampel pada penelitian ini melakukan mekanisme penghematan pajak melalui kegiatan tax planning dengan cara mengefisiensikan beban pajak seminimal mungkin dalam peraturan perpajakan yang berlaku.
Penelitian Marfuah (2014) yang menyatakan bahwa otoritas fisikal (aparat perpajakan) secara subyektif memandang tujuan dilakukannya transfer pricing adalah untuk menghindari pajak. Terkait dengan isu transfer pricing, secara umum otoritas
fiskal harus memperhatikan dua hal mendasar agar koreksi pajak terhadap dugaan transfer pricing mendapat justifikasi yang kuat sehingga perusahaan dapat meminimalkan praktik transfer pricing. Kedua hal prinsipil tadi adalah ; afiliasi atau hubungan istimewa dan kewajaran arm’s lenght principle.
Hasil Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Marfuah (2014) yang menyatakan bahwa pajak tidak berpengaruh terhadap keputusan melakukan tansfer pricing 4.4.5 Pengaruh Mekanisme Bonus terhadap Keputusan untuk
Melakukan Transfer Pricing
Hipotesis kelima pada penelitian ini adalah mekanisme bonus bepengaruh terhadap transfer pricing. Berdasarakan hasil pengujian pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa varibel mekanisme bonus memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,137 stingkat signifikansi variabel mekanisme bonus adalah sebesar 0,073 (lebih besar dari 0,05). Hal ini menandakan bahwa mekanisme bonus tidak berpengaruh terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing. Hipotesis pada penelitian ini ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung teori akuntansi positif yang menjelaskan para manajer perusahaan dengan rencana bonus cenderung untuk memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode masa kini. Para manajer menginginkan imbalan yang tinggi dalam setiap
periode. Jika imbalan mereka bergantung pada bonus yang dilaporkan pada pendapatan bersih, maka kemungkinan mereka bisa meningkatkan bonus mereka pada periode tersebut dengan melaporkan pendapatan bersih setinggi mungkin.
Penelitian Mispiyanti (2015) menunjukkan bahwa mekanisme bonus tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan Transfer pricing. Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing sebesar 0,999 yang lebih besar dari 0,05. Sehingga menyatakan bahwa mekanisme bonus tidak berpengaruh pada keputusan Transfer pricing perusahaan tidak dapat diterima atau tidak terbukti. Mekanisme bonus merupakan salah satu strategi atau motif perhitungan dalam akuntansi yang tujuannya adalah untuk memberikan penghargaan kepada direksi atau menejemen dengan melihat laba secara keseluruhan. Adanya kebijakan bonus yang sudah tepat, maka pemilik berharap manajemen dapat meningkatkan kinerja perusahaan melalui efisiensi pembayaran pajak.
Hasil dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang diilakukan oleh Mispiyanti (2015) yang menyatakan bahwa mekanisme bonus tidak berpengaruh terhadap keputusan melakukan transfer pricing.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tunneling incentive tidak berpengaruh terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing.
2. Ukuran Perusahaan berpengaruh negative dan signifikan terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing.
3. Good corporate governance (GCG) berpengaruh positif dan signifikan terhadap untuk melakukan transfer pricing.
4. Pajak tidak berpengaruh terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing.
5. Mekanisme Bonus tidak berpengaruh terhadap keputusan untuk melakukan transfer pricing.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi mengenai transfer pricing. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan transfer pricing, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan kontribusi bagi pemerintah agar lebih mengetatkan dan memperjelas isi dari peraturan mengenai transfer pricing, terutama peraturan mengenai penerapan prinsip-prinsip kewajaran dalam transaksi hubungan istimewa sehingga perusahaan benar-benar menerapkan kegiatan transfer pricing berdasarkan harga wajar, serta memberikan sosialisasi atau arahan kepada wajib pajak mengenai transfer pricing.
Hal ini dimaksudkan agar perusahaan tidak menyalahgunakan transaksi transfer pricing, sehingga pendapatan pajak yang diterima oleh negara akan lebih tinggi lagi.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan kontribusi bagi pengguna informasi keuangan agar lebih dapat berhati-hati dan lebih cermat dalam menganalisis terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh direksi guna kepentingan pribadinya.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian mengenai transfer pricing dapat menambahkan variable penelitian lain yang dapat mempengaruhi adanya transaksi transfer pricing serta untuk meningkatkan R-Square penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Adrian, Sutedi. 2012. Good Corporate Governance. Sinar Grafika. Jakarta.
Ali, Irfan, 2002. Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agensi. Lintasan Ekonomi Vol. XIX No. 2 Juli 2002.
Astera Primanto, Bhakti (2002) “Transfer Pricing Suatu Kajian Perpajakan”, Jurnal Perpajakan Indonesia, No.7/2002, hal 30-34.
Annisa, Nuralifmida Ayu., dan Kurniasih, Lulus. 2012. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Tax Avoidance. Jurnal Akuntansi & Auditing. Vol 8 No. 2 Hlm 95-189
Bathala, Chenchuramaiah, 1994. Managerial Ownership, Debt Poilicy, and the Impact of Institusional Holdings : An Agency Perspective, Financial Management. Vol. 23 No. 3.
Cooper dan Emory, 1996. Metode Penelitian Bisnis, Jakarta : Erlangga.
Danang, Sunyoto, 2013. Metode Penelitian Akuntansi, PT. Refika Aditama Anggota Ikaapi.
Ghozali, Imam, 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Ketujuh, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 23.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponogoro
Harimurti, F, (2007). Aspek Perpajakan Dalam Praktik Transfer Pricing. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan, Vol.7 (1), 53-61.
Hartati Winda, Desmiyawati, Julita, 2014. Tax Minimization, Tunneling Incentive, dan Mekanisme Bonus Terhadap Keputusan Transfer Pricing Seluruh Perusahaan yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Universitas Riau, Pekanbaru.
Honrngren, Charles T & George Foster, Cost Accounting – A Managerial ephasis, 6 th edition , Adolph and Milton F, Usry, Cost Accounting. New Jersey:
Prentice Hall & Matz, 1987.
Indriaswari, Yasfiana Nuril, 2017. Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive, dan Mekanisme Bonus Terhadap Keputusan Transfer Pricing pada Perusahaan
Indriaswari, Yasfiana Nuril, 2017. Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive, dan Mekanisme Bonus Terhadap Keputusan Transfer Pricing pada Perusahaan