• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSFORMASI DARI DESA KE NAGARI

Kesempatan untuk menghidupkan kembali identitas lokal dan partisipasi masyarakat terbuka dengan dikeluarkannya UU No. 22 tahun 1999. Pemerintahan nagari yang sebelumnya hanya diakui sebagai kesatuan wilayah adat sekarang dihidupkan kembali dan diakui sebagai organisasi pemerintahan terendah. Pemerintahan desa yang telah memporak-porandakan struktur sosial dalam masyarakat Minang dihapuskan dan dengan demikian diharapkan dengan menghidupakan kembali bentuk pemerintahan asli di Sumatera Barat, partisipasi masyarakat untuk membangun nagari dapat ditumbuhkan lagi seiring dengan pengakuan otonomi nagari.

5.1 Kembali Ke Pemerintahan Nagari

Berlakunya UU No. 22 tahun 1999, direspon oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dengan mengeluarkan Perda Propinsi No. 9/2000 mengenai pembentukan kembali pemerintahan nagari, maka berdasarkan hal itu pemerintah Kabupaten Agam membuat Rancangan Perda Tentang Pemerintahan Nagari yang akan menjadi dasar hukum bagi pengaturan pengalihan Pemerintahan Desa menjadi Pemerintahan Nagari. Ranperda ini selanjutnya disosialisasikan kepada tokoh-tokoh masyarakat mulai dari tingkat kabupaten hingga ke tingkat nagari. Setelah ranperda tersebut disahkan menjadi Perda Kabupaten Agam No. 31 tahun 2001 yang mengatur tentang pokok-pokok pemerintahan nagari. kembali diadakan sosialisasi hingga ke tingkat nagari.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat yang hadir dalam acara sosialisasi “kembali kenagari” yaitu Bapak Pan, ia mengatakan

“…ketika sosialisasi di tingkat Kabupaten dilaksanakan pada awalnya terdapat dua kubu dalam merespon kebijakan kembali ke nagari yaitu kubu ninik mamak yang memberikan respon positif (menerima) dan kubu kepala desa yang memberikan respon negatif (menolak). Selanjutnya setelah dipaparkan kebaikan dan kekurangan pemerintahan nagari dan pemerintahan desa maka disusunlah suatu bentuk pemerintahan nagari yang akan diterapkan saat itu. Bentuk nagari yang akan diterapkan mengambil hal-hal yang dianggap positif dalam bentuk pemerintahan nagari yang lama seperti melibatkan unsur adat dalam struktur pemerintahan nagari namun dalam pemerintahan nagari yang lama unsur

""

perempuan dan pemuda tidak dilibatkan. Pada masa pemerintahan desa perempuan dan pemuda mempunyai lembaga tersendiri yaitu melalui Karang Taruna dan PKK. Dalam pemerintahan nagari yang baru, unsur ini tetap dipertahankan. Dengan kata lain nagari yang akan dihidupkan kembali tidak sama dengan nagari dulu dan sekaligus berbeda dengan pemerintahan desa”.

Hal ini sesuai dengan Perda Propinsi Sumbar No. 9/2000 Pasal 1 ayat (7), nagari didefinisikan sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam Daerah Propinsi Sumatera Barat yang terdiri dari himpunan beberapa suku yang mempunyai wilayah yang tertentu batas-batasnya, mempunyai kekayaan sendiri, berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dan memilih pimpinan pemerintahannya. Dalam pasal ini, kalimat mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat (adat salingka nagari) diakui (recognized seperti apa adanya) dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia ditinggalkan, sehingga nagari dapat berarti nagari yang disusun baru, bukan nagari seperti apa adanya (Abna, 2008).

Di Nagari IV Koto Palembayan, sosialisasi awalnya direspon negatif oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari generasi muda. Menurut aparat kecamatan yang saat itu hadir dalam proses sosialisasi, generasi muda mencurigai bahwa kebijakan kembali kenagari hanyalah ambisi dari para ninik mamak untuk menguatkan kembali posisi mereka di tengah masyarakat. Namun setelah dijelaskan bahwa pemuda juga turut dilibatkan dalam pemerintahan nagari akhirnya kelompok ini dapat menerima kebijakan kembali kenagari ini (wawancara dengan aparat kecamatan tanggal 26 Februari 2009).

Selanjutnya kelima desa yang terdapat dalam Nagari IV Koto Palembayan kembali digabungkan. Nagari yang kemudian dihidupkan kembali ini selanjutnya mengalami perombakan baik dalam struktur pemerintahannya maupun aturan dalam penyelenggaraan pemerintahan nagari. Gambar 8, akan memberikan ilustrasi mengenai kasus pecahnya Nagari IV Koto Palembayan yang awalnya memiliki tujuh jorong menjadi lima desa dan kembali bertransformasi menjadi nagari serta dihidupkannya kembali ke tujuh jorong tersebut.

$##

Gambar 8. Transformasi dari desa ke nagari Tahun 1979 Desa Desa Desa Desa Desa Struktur pemerintahan • 2 3 -4 5 • 01 0 1 Tahun 2000 - sekarang Nagari Jorong Jorong Jorong Jorong Jorong Jorong Jorong

Struktur Pemerintahan Nagari

Wali Nagari Wali Wali Wali Wali Wali Wali Wali BPRN Perangkat Nagari Lainnya: • * • . • Nagari Joron g Joron g Joron g Joron g Joron g Joron g Joron g Struktur pemerintahan • 2 5 • Tahun 1974 69

$#$

Pembentukan Nagari IV Koto Palembayan sebagai wilayah administrasi terendah ditandai dengan dikeluarkannya secara resmi Keputusan Bupati Agam No 456 tahun 2001 pada tanggal 10 November 2001 yaitu lima orang kepala desa dalam wilayah nagari IV Koto Palembayan diberhentikan dan mengangkat pejabat sementara Wali Nagari yaitu Bapak A.Dt.S. Ia menjadi pejabat sementara wali nagari sejak dikeluarkannya SK Bupati No. 456/2001 hingga 12 April 2002. Pada hari yang sama juga langsung terbentuk lembaga BPRN dengan jumlah 23 orang, namun yang kemudian di-SK-kan hanya 19 orang.

Kembali ke nagari ini juga ditandai dengan semangat untuk mengembalikan kekuasaan dalam nagari ketangan ninik mamak. Hal ini tampak pada penunjukan Pejabat Wali Nagari Sementara yang berasal dari unsur ninik mamak, meskipun menurut peraturan yang seharusnya menjadi pejabat sementara wali nagari adalah kepala desa yang tertua.

Berikut ini orang-orang yang pernah menjabat sebagai wali nagari di Kenagarian IV Koto Palembayan:

1. As. Dt. S (2001 – 2005)

As. Dt. S adalah putra asli Nagari IV Koto Palembayan yang telah berhasil, sebelumnya ia adalah seorang notaris di Jakarta. Dilihat dari gelar datuk yang disandangnya, menunjukan bahwa ia merupakan seorang penghulu dikaumnya dengan kata lain dapat dikatakan ia merupakan bagian dari kelompok genealogis. Sebagai pejabat sementara wali nagari, ia bertugas untuk melakukan persiapan untuk pemilihan wali nagari sebagai mana yang telah diatur dalam Perda Kabupaten Agam No. 31/2001. Dalam pemilihan tersebut beliau mencalonkan diri dan terpilih menjadi Wali Nagari IV Koto Palembayan.

Karena masih berada dalam tahap transisi, kepemimpinannya diwarnai oleh seringnya penggantian perangkat nagari. Menurut salah seorang yang pernah menjadi sekretaris nagari, hal itu disebabkan karena waktu itu untuk mengisi posisi perangkat nagari baik sebagai sekretaris, bendahara maupun kepala urusan “asal tunjuk saja”. Kebanyakan dari mereka adalah orong-orang yang sudah punya pekerjaan dan bahkan ada yang sudah menjadi PNS, sehingga dengan alasan kesibukan kerja di tengah jalan akhirnya mereka berhenti menjadi perangkat nagari. Seringnya penggantian perangkat (baik karena pengunduran diri

$#%

maupun diberhentikan) juga karena perselisihan (perbedaan pandangan dan pendapat) antara Wali Nagari dan perangkat nagari. Berikut ini adalah susunan perangkat nagari diakhir masa jabatan Wali Nagari IV Koto palembayan yang pertama.

Tabel 13. Nama- nama perangkat pemerintah Nagari IV Koto Palembayan tahun 2005 Jabatan Nama TMT Pelan tikan Akhir Jabatan Wali Nagari H. Asmawel Dt Sajatino 12/ 04 /2002 31/03/2 005 Sekretaris Sumardius Katik Mudo 01/01 /2005 28/07/2 005 Kaur Pemerintahan Freddy Manitik 01/01 /2005 28/07/2 005 Kaur Pemberdayaan Pemerintah Nasar Dt Marajo 01/04 /2003 31/12/2 003 Ketentraman dan Ketertiban Zulkarnain Sutan Mudo 01/07 /2003 28/07/2 005 Kaur Adm Keuangan Dan Aset Nurbetty 01/07 /2002 28/07/2 005 Kaur Kesejahteraan Rakyat Sustriwati 01/01 /2004 28/07/2 005

Sumber: arsip di kantor Nagari IV Koto Palembayan

Pada masa kepemimpinannya, Wali Nagari yang pertama ini telah berhasil mengeluarkan peraturan nagari yang pertama pada tanggal 4 Agustus 2003 yaitu Peraturan Nagari Tentang Kehidupan Beragama. Peraturan ini dibuat sebagai salah satu implementasi dari Adat Basandi Syarak, Syarak Basan Kitabullah.

$#&

Peraturan ini juga sebagai wujud dari gerakan kembali kesurau yaitu dengan menghidupkan kembali kegiatan wirid (pengajian) di samping shalat berjamaah.

Peraturan nagari tentang kehidupan beragama ini menarik untuk dikaji lebih lanjut (oleh ahli hukum) karena agama tidak termasuk ke dalam urusan yang didesetralisasikan. Seperti yang diungkapkan oleh Prasodjo (2006) dalam Anggora (2008) Salah satu perubahan besar konstruksi hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan UU No. 22 tahun 1999 dan juga UU No. 32 tahun 2004 dibandingkan dengan UU sebelumnya adalah dianutnya prinsip kewenangan sisa (residu of powers) dalam pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan. Kewenangan Kabupaten dan Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik, luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lainnya yang ditetapkan sebagai kewenangan pemerintah pusat. Dengan demikian semua kewenangan pada dasarnya sudah ada pada kabupaten dan kota, sehingga tidak perlu dilakukan penyerahan secara aktif oleh pusat.

Perna lain yang juga telah dibuat, beberapa beberapa diantaranya, Peraturan Nagari Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Nagari IV Koto Palembayan yang menjelaskan sumber-sumber keuangan dan pengeluaran nagari. Selanjutnya terdapat peraturan nagari tentang pembentukan LPMN, yang isinya sama persis dengan Perda Kabupaten Agam No 10 tahun 2003 tentang Pedoman Pembentukan LPMN dan peraturan lainnya.

Pemberlakukan pemerintahan nagari selanjutnya diikuti restrukturisasi pemerintahan nagari. Berdasarkan Perda Kabupaten Agam No. 31 tahun 2001 dibentuklah lembaga Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN) yang berisikan wakil dari jorong/dusun yang ada, wakil dari tokoh-tokoh masyarakat (ninik mamak, cadiak pandai, alim ulama), wakil perempuan dan wakil dari pemuda. Lembaga ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi mereka. Ini dimungkinkan karena BPRN berisi orang-orang yang mewakili masyarakat dari tiap-tiap jorong/dusun dalam nagari. Jumlah anggota BPRN sesuai dengan perda No. 31/2001 berjumlah ganjil paling sedikit tujuh orang. BPRN memilih fungsi legislasi dalam pemerintahan nagari.

$#'

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa tokoh dan perangkat nagari, dalam kenyataannya hanya sebagian kecil dari anggota BPRN yang aktif atau mau terlibat dalam setiap kegiatan. Sebagian dikarenakan ketidakpahaman mereka terhadap fungsi BPRN, sebagian lagi karena memang jarang diundang karena tempat tinggalnya yang jauh dari kantor nagari. Mereka yang duduk sebagai anggota BPRN (lampiran 2) sebagian tidak terbiasa dengan cara kerja formal karena lembaga ini merupakan lembaga baru yang dibentuk dengan sistem organisasi modern.

Selanjutnya terdapat lembaga Kerapatan Adat Nagari (Tabel 14), yang pada zaman desa telah ada, sekarang memiliki fungsi yang lebih luas, selain menyelesaikan sengketa sako dan pusako juga berfungsi sebagai mitra Wali Nagari dalam menjalankan roda pemerintahan nagari. KAN beranggotakan seluruh ninik mamak yang ada di Nagari IV Koto Palembayan. Karena jumlahnya yang sangat banyak (lebih dari 80 orang) membuat komunikasi menjadi tidak intensif diantara sesama anggota KAN.

Tabel 14. Nama–nama pengurusan KAN Nagari IV Koto Palembayan

Jabatan Nama / gelar

Ketua Mawardi Dt. Rajo Nan Panjang

Sekretaris Fachri Dt. Sinaro Basa

Bendahara Rizal Islami, B.A Dt. Malako Panjang Anggota N.M Nan 30 A. Dt. Sati Anggota N.M Nan 19 J. Dt. Balidah Ameh Anggota N.M Nan 17 Dt. Panghulu Basa Anggota N.M Nan 14 N. Dt. Kayo

$#(

Semestinya lembaga ini bekerja sama dengan Wali Nagari terutama untuk menjalankan fungsi Wali Nagari yang berkaitan dengan menjaga kelangsungan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Namun yang terjadi Wali Nagari lebih banyak berkoordinasi dengan lembaga Bamus saja atau dengan pengurus inti KAN yang hasilnya seringkali tidak disosialisasikan pada para anggota KAN lainnya, Lagi-lagi karena alasan tempat tinggal anggota KAN yang berjauhan.

Lembagaan desa yang tetap dipertahankan adalah Karang Taruna dan PKK. Seperti halnya pada masa pemerintahan desa Karang Taruna beranggotakan para pemuda dengan program yang tidak jelas. Sementara lembaga PKK, jika dulu diketuai oleh istri kepala desa, saat ini diketuai istri wali nagari, jadi tidak berbeda.

Lembaga baru yang dibentuk diawal pemerintahan nagari adalah:

1. Lembaga Bundo Kanduang, dibentuk tanggal 1 januari 2003 dan diresmikan tanggal 26 Desember 2003. Lembaga ini didirikan sebagai salah satu upaya untuk lebih melibatkan kaum perempuan dalam kehidupan bernagari, meskipun lembaga ini tidak harus ada, karena pembentukannya hanya diatur oleh peraturan nagari bukan peraturan daerah. Berdasarkan wawancara dengan salah seorang pengurus lembaga Bundo Kanduang, ia mengatakan bahwa fungsi lembaga Bundo Kandung adalah untuk memperjuangkan peranan perempuan serta memberikan penyuluhan mengenai pemahaman tentang adat istiadat kepada kaum perempuan. Lembaga ini bersama-sama dengan PKK berjalan seiringan karena semua anggota lembaga Bundo Kanduang juga menjadi anggota PKK.

2. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dalam Nagari (LPMN), terbentuk tanggal 1 Januari 2004. Lembaga ini wajib ada pada tiap-tiap nagari sesuai dengan Perda Kabupaten Agam No. 10 Tahun 2003 pasal 2 yang berbunyi: “Pada setiap nagari harus dibentuk LPMN dengan peraturan nagari”. Berdasarkan perda tersebut LPMN mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. Menyusun rencana pembangunan yang partisipatif b. menggerakan swadaya gotong-royong masyarakat c. melaksanakan dan mengendalikan pembangunan

$#

Dalam Profil Nagari IV Koto Palembayan tahun 2008 disebutkan bahwa Kegiatan LPMN saat ini adalah, merencakan dan melaksanakan kegiatan bulan bakti goro masyarakat, kegiatan goro badunsanak nagari, kegiatan pemeliharaan jalan non struktur nagari, serta kegiatan merehab rumah tidak layak huni. Berikut ini adalah susunan kepengurusan LPMN

Gambar 9. Bagan Susunan Kepengurusan LPMN Tahun 2004 Sumber:Perda Kabupaten Agam No 10/2003

Keterangan:

: Garis Komando : Garis Koordinasi

3. Lembaga Majelis Ulama Nagari (MUNA), lembaga ini bertugas untuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan beranggotakan alim ulama.

4. Lembaga Parik Paga Nagari (PPN), dibentuk pada tanggal 27 Juni 2003 dengan koordinator pertamanya adalah Ashari Bagindo. Pada masa ini PPN memiliki tugas yang kurang jelas hanya dikatakan bertugas untuk mengawasi pelaksanaan peraturan adat. PPN ini merupakan modifikasi dari lembaga Dubalang. Pada masa nagari dulu sebelum tahun 1979, Wali Nagari memiliki perangkat, yang salah satunya adalah Dubalang yang bertugas menjaga keamanan dalam nagari sehingga disebut juga Pagar Nagari.

5. Majelis Musyawarah Adat dan Syarak (MAMAS), berdasarkan Perda Kabupaten Agam No. 31 tahun 2001 beranggotakan unsur-unsur dari ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, bundo kanduang dan komponen masyarakat lain yang tumbuh dan berkembang dalam nagari. Tugas dan fungsi

Koordinator Sekretaris Bidang Perencanaan Pembanguna n Bidang Pengg. Swadaya Masy Bidang Pelaksana Pembangunan Bidang Pengendalian Pembangunan Bendahara

$#

MAMAS adalah memberikan pertimbangan kepada Pemerintah Nagari dalam upaya menjaga dan memelihara adat basandi syarak, syarak ba sandi kitabullah di nagari. Pada masa ini lembaga MAMAS diketuai oleh B. Angku Balidah Ameh dengan jumlah anggota 12 orang.

6. Lembaga Pelindung Masyarakat (Linmas), didirikan pada tanggal 6 juni 2005. Seperti halnya PPN, lembaga ini juga tidak mempunyai tugas yang jelas, hanya disebutkan untuk menjaga keamanan dalam nagari.

Begitu banyak lembaga baru yang dibentuk dalam nagari. Beberapa diantara lembaga-lembaga ini memiliki tugas dan fungsi yang hampir mirip bahkan tumpang tindih, dalam kenyataannya lembaga-lembaga tersebut hanya ada nama tanpa kerja nyata. Seperti Lembaga Linmas yang fungsinya hampir mirip dengan PPN, lembaga ini praktis hanya ada nama tanpa program kerja apalagi karya nyata. Lembaga-lembaga tersebut dibentuk karena peraturan yang mengharuskannya untuk dibentuk, terlepas apakah masyarakat membutuhkannya atau tidak. Meskipun telah mengakui nagari sebagai wilayah yang otonom, tampaknya intervensi pemerintah masih cukup besar, bahkan sampai perlu menentukan lembaga apa yang harus ada dalam nagari. Semestinya pemerintah lebih membuka ruang bagi “keberagaman” dengan memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk membentuk sendiri lembaga yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

2. Pejabat Sementara Wali Nagari (Sum. Kt. S)

Pada tahun 2005, sebelum sempat menyelesaikan masa jabatannya, Wali Nagari yang pertama Nagari IV koto Palembayan meninggal dunia, oleh karena itu ditunjuklah sekretaris wali nagari saat itu sebagai Pjs wali Nagari selama lebih kurang lima bulan. Dalam kurun waktu tersebut, ia bertugas untuk mempersiapkan pemilihan wali nagari yang baru. Setelah dilakukan pemilihan umum untuk memilih wali nagari, maka terpilihlah Bapak Am yang sebelumnya merupakan anggota BPRN.

3. Bapak Am

Bapak Am diresmikan sebagai Wali Nagari IV Koto Palembayan yang kedua pada tanggal 12 Februari 2006. Pada masa kepemimpinannya masih terdapat beberapa kali pergantian perangkat nagari. Ia juga mewarisi sejumlah

$#!

masalah yaitu ketidakpahaman masing-masing anggota lembaga-lembaga dalam nagari sehingga lembaga-lembaga tersebut nyaris tidak berfungsi. Di masa kepemimpinannya yang hanya dua tahun (mengundurkan diri karena sakit) berbagai upaya dilakukan untuk menumbuhkan pemahaman mengenai fungsi lembaga-lembaga tersebut, diantaranya setiap minggu mengadakan pertemuan guna membahas rencana kerja masing-masing lembaga. Pelaksanaan kegiatan kembali ke surau dan kegiatan wirid/pengajian, pada masa ini lebih digiatkan. Besarnya perhatian kepada kehidupan beragama, sedikit banyak dipengaruhi oleh posisi Bapak Am yang merupakan salah seorang pemuka agama di Nagari IV Koto Palembayan ini.

Pada masa pemerintahan Wali Nagari yang kedua ini terjadi perubahan dasar hukum pemerintahan nagari dari Perda Kabupaten Agam No. 31/2001 menjadi Perda No. 13/2007. Salah satu dampak dari perubahan perda ini adalah perubahan lembaga-lembaga dalam nagari. Lembaga BPRN dihapuskan dan diganti dengan Lembaga Bamus, Lembaga MAMAS dan MUNA juga dihapuskan karena kedua lembaga tersebut tugas dan fungsinya saling tumpang tindih dengan lembaga KAN.

Pembentukan anggota Bamus terkesan terburu-buru dan menuai banyak protes karena para anggota yang terpilih dianggap tidak mewakili tiap jorong dan unsur dalam masyarakat. Dari daftar hadir pembentukan Bamus Nagari, ternyata hanya dihadiri oleh 26 orang (termasuk pemerintah dan perangkat nagari). Berikut penuturan salah seorang mantan anggota BPRN dan juga tokoh Masyarakat dari Jorong Lambeh, Bapak Sa.Dt.Putih :

“Kami tidak diberi undangan dan tidak diikutsertakan pada saat pembentukan anggota Bamus sehingga tidak satu pun warga Jorong Lambeh yang hadir. Kami tidak memiliki wakil di Bamus, sehingga kalau ada masalah tidak ada orang yang bisa diajak bicara, misalnya mengenai jalan di jorong kami yang sangat buruk. Saya sendiri adalah mantan anggota BPRN, namun sampai sekarang saya tidak pernah menerima surat pemberhentian. Wali Nagari yang kedua (Bapak Am), tidak sekalipun mengundang saya sebagai tokoh masyarakat untuk diikutsertakan dalam membuat progam untuk nagari, juga tidak ada sosialisasi apa pun mengenai program yang dibuat, ke masyarakat Lambeh ini, kami sepertinya ditinggalkan saja. Ketika ditanya apakah sudah ada anggota Bamus yang datang atau ditempatkan di Lambeh. Ia menjawab: “tidak ada yang datang kesini, padahal banyak permasalahan terutama kondisi jalan yang akan kami sampaikan. Saya berharap orang-orang di pemerintahan

$#"

nagari dapat datang ke sini melihat sendiri permasalahan yang sedang kami hadapi”.

Protes pembentukan anggota Bamus juga datang dari beberapa orang yang diundang untuk rapat, mereka mempertanyakan mengapa tidak mengundang perwakilan dari tiap-tiap jorong. Pada saat itu wali nagari berpendapat bahwa waktunya sudah mendesak untuk segera membentuk Lembaga Bamus dan sumber daya manusia dari warga tiap-tiap jorong yang dianggap kurang sehingga tidak perlu diundang. Berdasarkan Perda No. 30 tahun 2007, yang waktu itu baru dikeluarkan, masin-masing nagari harus segera melakukan pemilihan anggota Bamus paling lambat 15 hari setelah perda tersebut dikeluarkan. Jadi alasan aparat penyelenggara tidak mengundang perwakilan jorong karena waktu yang terbatas, dapat dibenarkan. Meskipun menuai protes, namun acara tetap dilanjutkan. Anggota Bamus (lampiran 3) yang terpilih tersebut, selanjutnya dikukuhkan melalui Keputusan Bupati Agam No. 877 tahun 2007.

Dengan alasan kesehatan yang kurang baik, bulan Maret 2008 Bapak Am mengundurkan diri dari jabatan wali nagari. Pada masa kepemimpinannya tidak satupun dihasilkan peraturan nagari. Hal ini bisa jadi karena beliau hanya menjabat selama lebih kurang dua tahun. Dari laporan pertanggungjawabannya, dituliskan bahwa permasalahan yang dihadapi dan belum terselesaikan selama ia menjabat sebagai wali nagari adalah sebagai berikut:

a. RPJM yang belum dapat diselesaikan karena Tim Penyusun tidak punya cukup waktu karena banyak kesibukan lain.

b. Diperlukan pelatihan dan pembinaan untuk perangkat nagari, lembaga nagari dalam hal bernagari sehubungan dengan dikeluarkannya Perda No. 12 dan 13 tahun 2007.

c. Sarana dan prasarana transportasi di dalam nagari yang sangat terbatas yang bisa menjadi kendala dalam melaksanakan pemerintahan nagari.

d. Dalam rangka Babaliak ka Nagari (kembali ke nagari) yang juga berarti kembali ke mesjid/surau masih terkendala karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk menghidupkan/meramaikan mesjid/surau.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Am, terungkap bahwa beliau memang menghadapi permasalahan dalam menanamkan pemahaman akan fungsi

$$#

dan tugas perangkat dan lembaga nagari yang sesuai dengan Perda Kabupaten Agam No. 12 dan 13 tahun 2007. Di samping itu kondisi wilayah yang luas dan infrastruktur jalan yang buruk menjadi kendala terutama dalam penyebaran informasi kepada masyarakat. Misalnya ketika ada rapat di kantor wali nagari yang mengharuskan untuk mengundang tokoh-tokoh masyarakat. Ini kurang bisa terlaksana karena tempat tinggal mereka yang berjauahan dan sulitnya transportasi, akhirnya yang diundang adalah tokoh-tokoh masyarakat yang tinggalnya di sekitar kantor wali nagari saja.

4. Pejabat Wali Nagari Sementara (Bapak Fred)

Bapak Fred yang waktu itu menjabat sebagi sekretaris diangkat menjadi Pejabat Wali Nagari karena wali nagari sebelumnya mengundurkan diri karena alasan kesehatan yang kerang baik sebelum berakhirnya masa jabatan. Sebagai pejabat wali nagari, ia bertugas mempersiapkan proses pemilihan wali nagari definitif dalam waktu paling lama enam bulan. Setelah diadakan pemilihan wali nagari, maka terpilihlah Bapak Ron yang resmi dilantik pada tanggal 12 Februari 2009.

5.2 Pemerintahan Nagari Saat Ini

Pemerintahan nagari yang sekarang dilaksanakan berdasarkan peraturan terbaru yaitu Perda Kabupaten Agam No. 12 dan 13 tahun 2007 yang resmi disahkan tanggal 10 Desember 2007. Pemerintahan nagari saat ini terdiri dari