• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSFORMASI DARI DESA KEMBALI KE NAGARI NURAINI BUDI ASTUTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TRANSFORMASI DARI DESA KEMBALI KE NAGARI NURAINI BUDI ASTUTI"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

TRANSFORMASI DARI DESA KEMBALI KE NAGARI

(Studi Kasus Di Kenagarian IV Koto Palembayan,

Sumatera Barat)

Oleh :

NURAINI BUDI ASTUTI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2009

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “Transformasi Dari Desa Kembali Ke Nagari, Studi Kasus Di Kenagarian IV Koto Palembayan, Sumatera Barat” adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalan teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2009 Nuraini Budi Astuti NRP I353070011

(3)

ABSTRACT

Nuraini Budi Astuti. Transformation from Desa (Sub-District Government) to Nagari (Local System of Government) (A Case Study of Kenagarian IV Koto Palembayan, Province of West Sumatera). Under the Supervision of Lala M. Kolopaking and Nurmala K. Pandjaitan).

The decentralization process in West Sumatera has become an interesting case to study after its decision to return to the traditional system of government called nagari as the lowest structure of government. Based on Law No.22/1999 amended by Law No. 32/2004, the Regional Government of West Sumatera has introduced Regional Regulation No. 9/2000 as the legal foundation which regulates the implementation of Nagari government. This study, which was conducted in Nagari IV Koto Palembayan, Agam Regency, Province of West Sumatera, was intended to 1) describe and analyze the change from nagari to desa and its return to nagari system of government, 2) analyze potential conflicts in the transformation from desa to nagari, 3) provide inputs for a better implementation of the local system of government. With a qualitative method of research, data and information were collected by in-depth interviews, observation and a study of literature as well as written documents. From the research results it was found that 1) the government’s intervention through policies and regulations were the major factors of the social change, 2) the dynamic transformation from desa to nagari was accompanied by the competition for dominance or power between genealogical group and groups of individuals, 3) the transformation from desa to nagari has created a dilemmatic condition of some potential conflicts. The policies to synergize modern institutions and traditional ones in practice have not been easy to implement and become the trigger of conflicts. If such condition is not well controlled, it could become an inhibiting factor (negative function) in the implementation of nagari system of government. On the other hand, conflicts could also strengthen the nagari system (positive function) if they are well managed through various institutions existing in the community.

(4)

RINGKASAN

NURAINI BUDI ASTUTI. Transformasi dari desa Kembali Ke Nagari (studi Kasus Di Kenagarian IV Koto Palembayan, Sumatera Barat). Dibimbing oleh Dr. LALA M. KOLOPAKING, MS sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Dr. Nurmala K. Pandjaitan, MS, DEA sebagai Anggota Komisi Pembimbing.

Secara tradisional masyarakat Minang hidup berkelompok dalam suatu ikatan genealogis dan teritorial yang otonom dengan pemerintahan kolektif berdasarkan hukum adat dalam sebuah sistem pemerintahan yang disebut nagari. Keberadaan pemerintahan nagari praktis hilang secara de jure dari Sumatera Barat sejak diberlakukannya UU No. 5 tahun 1979 mengenai bentuk pemerintahan terendah yaitu desa, kebijakan ini membuat nagari terpecah ke dalam bentuk desa. Jatuhnya rezim pemerintahan orde baru telah membawa perubahan dari sistem pemerintah sentralistik menjadi desentralistik. Pemerintah kemudian mengeluarkan UU No. 22 tahun 1999 yang memberikan peluang untuk menghidupkan kembali bentuk pemerintahan asli jika masyarakat setempat menginginkannya. UU No. 22/1999 ini selanjutnya disempurnakan oleh UU No. 32/2004.

Desentralisasi, yang diimplementasikan dengan pemberian otonomi kepada daerah, memungkinkan adanya proses pemberdayaan masyarakat karena tersedianya ruang untuk berpartisipasi dan menentukan sendiri model pembangunan berdasarkan kebutuhan lokal. Penerapan desentralisasi tentu saja menuntut adanya reorganisasi dari struktur pemerintahan lokal. Hal ini direspon oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dengan mengelurkan Perda No 9/2000 yang kemudian disempurnakan dengan Perda No. 2/2007. Proses kembali ke nagari ini dilaksanakan secara bertahap, hingga tahun 2006 telah terbentuk 519 pemerintahan nagari.

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan dan menganalisa dinamika perubahan pemerintahan nagari ke pemerintahan desa dan kembali ke pemerintahan nagari dengan melihat peran yang dimainkan oleh masing-masing komponen dalam struktur pemerintahan nagari. 2) Menganalisa potensi konflik akibat transformasi sistem pemerintahan dari desa kembali ke nagari.

Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di Kenagarian IV Koto Palembayan, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini berusaha menggambarkan dan menganalisa dinamika yang terjadi dalam proses perubahan pemerintahan nagari ke desa dan kembali kenagari lagi serta potensi konflik yang menyertai perubahan tersebut.

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum berubah ke dalam bentuk pemerintahan desa, nagari telah mengalami intervensi yang menyebabkan struktur pemerintahan nagari berkali-kali mengalami perombakan. Sejak zaman kemerdekaan, dalam pemerintahan nagari telah dibentuk lembaga khusus yang memainkan fungsi legislasi seperti DPN, DPRN dan lain-lain yang bertujuan untuk mengurangi dominasi Wali Nagari dalam pemerintahan nagari. Pada tahun 1974 pemerintahan nagari kembali hanya memiliki satu kelembagaan yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif dan yudikatif sekaligus.

Selanjutnya berdasarkan UU No. 5/1979 yang mengharuskan penyeragaman bentuk pemerintahan terendah, nagari kemudian berubah menjadi desa. Nagari IV Koto Palembayan sendiri terpecah menjadi lima desa.

(5)

Pemerintahan desa yang bercorak nasional mengakibatkan institusi-institusi lokal menjadi terpinggirkan. Pada masa ini kelompok individu menggeser dominasi kelompok genealogis dalam pemerintahan desa. Seiring dengan bergulirnya reformasi dan diimplementasikannya kebijakan desentralisasi berdasarkan UU No. 22/1999, Pemerintah Daerah Sumatera Barat memutuskan untuk kembali menghidupkan pemerintahan nagari.

Nagari sekarang berbeda dengan nagari yang dulu (sebelum dikeluarkannya UU No. 5/1979). Pemerintah berusaha untuk memadukan organisasi modern dengan institusi tradisional dalam pemerintahan nagari saat ini, artinya ada upaya untuk mensinergikan kebijakan pemerintah dan aksi social berdasarkan adat istiadat ditingkat nagari. Untuk mewujudkan sineergi tersebut, pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi yang mengatur pembentukan lembaga-lembaga dalam nagari. Lembaga-lembaga ini diharapkan dapat menjadi wadah yang menampung partisipasi masyarakat dalam membangun nagari. Dalam kenyataannya, lembaga-lembaga tersebut justru tidak bekerja optimal, bahkan saling tumpang tindih.

Sejak Nagari IV Koto Palembayan kembali dihidupkan, pemerintah nagari masih menghadapi permasalahan dalam menanamkan pemahaman mengenai bentuk nagari saat ini. Hal ini tidak terlepas dari adanya perbedaan dalam memaknai implementasi kembali ke nagari. Pada satu sisi terdapat kelompok genealogis (ninik mamak) yang memandang, bahwa kembali ke nagari sebagai momentum untuk mengembalikan dominasi ninik mamak dalam nagari. Di sisi lain, pemerintah telah mengatur dan membatasi kedudukan ninik mamak (yang tergabung dalam KAN) sebagai lembaga yang memberikan pertimbangan kepada wali nagari dalam menangani urusan yang berkaitan dengan adat istiadat.

Pada akhirnya, pengakuan kembali nagari sebagai pemerintahan terendah, justru menempatkan nagari pada kondisi yang dilematis. Nagari menerima intervensi pemerintah yang menempatkan nagari sebagai bagian dari birokrasi negara. Di sisi lain proses ini mengurangi otonomi nagari karena membuat nagari secara substansial berbentuk desa, dan mengurangi ciri utama dari pemerintahan nagari format lama, atau tradisi masyarakat Minang yaitu “kepemimpinan kolektif”. Selain itu keinginan pemerintah untuk mensinergikan kelembagaan lokal dengan organisasi modern, di lapangan justru menimbulkan berbagai berpotensi konflik. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi hambatan dalam mewujudkan nagari yang otonom karena konflik dapat melemahkan pemerintahn nagari (negatif fungsional).

Di sisi lain, jika berbagai potensi konflik yang ada bisa dikelola dengan baik, justru akan memperkuat pemerintahan nagari (positif fungsional). Hal ini dapat dicapai jika dalam nagari terdapat wadah yang berfungsi sebagai katup penyelamat. Berbagai wadah yang ada saat ini seperti, surau, kerapatan adat, rapat kaum, lembaga Bundo Kandung serta wirid pengajian, sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal. Wadah yang ada itu dapat digunakan sebagai media konsiliasi antara kelompok-kelompok yang bertikai, sehingga konflik dapat disalurkan atau diselesaikan dengan cara damai.

(6)

@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undang – undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB

(7)

TRANSFORMASI DARI DESA KEMBALI KE

NAGARI

(Studi Kasus Di Kenagarian IV Koto Palembayan, Sumatera

Barat)

NURAINI BUDI ASTUTI

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Mayor Sosiologi Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Penelitian : Transformasi Dari Desa Kembali Ke Nagari (Studi Kasus Di Kenagarian IV Koto Palembayan, Sumatera Barat)

Nama : Nuraini Budi Astuti

NRP : I353070011

Mayor : Sosiologi Pedesaan

Disetujui, Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, M.S Dr. Nurmala K. Pandjaitan, M.S, D.E.A

Ketua Anggota

Diketahui,

Koordinator Mayor Dekan

Sosiologi Pedesaan Sekolah Pascasarjana IPB

Dr. Nurmala K. Pandjaitan, M.S, DEA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Transformasi Dari desa Kembali Ke Nagari, yan merupakan Studi Kasus Di Kenagarian IV Koto Palembayan, Sumatera Barat.

Demikianlah tesis ini disusun dengan harapan dapat memberikan informasi dan gambaran mengenai pelaksanaan desentralisasi dan otonomi di tingkat nagari. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan tesis ini dimasa mendatang. Semoga tesis ini dapat bermanfaat.

Bogor, Juli 2009

(11)

UCAPAN TERIMA KASIH

Selama masa penyelesaian tesis ini, tentunya tidak terlepas dari dorongan dan dukungan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis merasa sangat bersyukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat, karunia, dan hidayah yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis. Dengan segala kerendahan hati pula, penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Lala M Kolopaking, M.S selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Dr. Nurmala K. Pandjaitan, MS. DEA selaku Anggota Komisi Pembimbing, atas kesabarannya memberikan arahan dan motivasi untuk menyempurnakan tesis ini. 2. Ayahanda Nasril Amir (alm) dan Ibunda Suparmi, atas segala kasih sayang yang

tidak terhingga dan menjadi sumber kekuatan terbesar bagi penulis agar segera menyelesaikan tesis ini.

3. Bapak Ronny Akmal, SE, selaku Wali Nagari IV Koto Palembayan beserta seluruh perangkat nagari, atas segala kemudahan dan kerjasamanya selama penulis berada di lokasi penelitian.

4. Pak Cik Nurman Hakim dan keluarga, atas kesediaannya dalam menampung, menemani dan menjadi guide selama penulis selama di lokasi.

5. Bapak Dr. Endry Martius, MSi, selaku Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, atas izin dan rekomendasinya sehingga penulis dapat menimba ilmu di IPB ini.

6. Bapak dan Ibu dosen pada Mayor Sosiologi Pedesaan, atas limpahan ilmunya yang sangat berharga.

7. Rekan – rekan senasib dan seperjuangan di Mayor Sosiologi Pedesaan, atas dukungan moralnya.

8. Semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian studi ini.

(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis, Nuraini Budi Astuti, dilahirkan di Padang pada tanggal 19 Januari 1978, merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Nasril Amir dan Suparmi. Penulis menempuh pendidikan di SD Negeri 67 Padang, SMP Negeri 26 Padang, SMA Negeri 2 Padang dan menyelesaikan Program Sarjana di Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas Padang.

Sejak tahun 2005 hingga sekarang penulis bekerja sebagai tenaga pengajar di Universitas Andalas. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikan Magister Sains pada Mayor Sosiologi Pedesaan di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

DAFTAR ISTILAH ... xvii

I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 9 1.4 Manfaat Penelitian ... 9 II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Masyarakat Minang Dan Sejarah Pemerintahan Nagari ... 10

2.2 Konsep Tanah Ulayat ... 16

2.3 Konsep Pemerintah Dan Pemerintahan ... 18

2.4 Pemerintahan Nagari Menurut Peraturan Perundang-undangan ... 19

2.5 Konsep Pemerintahan Desa ... 22

2.6 Penelitian Terdahulu ... 24

2.7 Transformasi Sosial ... 27

2.8 Teori Fungsionalisme Konflik ... 30

2.9 Kerangka Pemikiran ... 32

III METODE PENELITIAN ... 37

3.1 Lokasi Penelitian ... 37

3.2 Metode Penelitian ... 37

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 39

3.4 Teknik Analisa Data ... 40

IV NAGARI KE DESA DALAM KONTEKS WILAYAH PENELITIAN ... 42

4.1 Wilayah dan Struktur pemerintahan ... 42

4.2 Sumber Daya Manusia ... 44

4.3 Sumber Daya Nagari ... 45

4.4 Sejarah Nagari IV Koto Palembayan ... 48

4.5 Pemerintahan Desa ... 58

4. 6 Ikhtisar ... 64

V TRANSFORMASI DARI DESA KE NAGARI ... 67

5.1 Kembali Ke Pemerintahan Nagari ... 67

(14)

5.3 Otonomi Nagari ... 87

5.4 Ikhtisar ... 96

VI DILEMA DALAM TRANSFORMASI DESA KE NAGARI ... 98

6.1 Transformasi Nagari: Perubahan yang Tidak Diharapkan ... 98

6.2 Pola Dan Arah Perubahan ... 102

6.3 Potensi Konflik dalam Pemerintahan Nagari ... 106

6.4 Faktor-Faktor yang Peka Memicu Konflik ... 125

6.5 Katup Penyelamat ... 126

6.5 Managemen Konflik ... 129

6.6 Ikhtiar ... 131

VII SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN ... 133

7.1 Kesimpulan ... 133

7.2 Implikasi Kebijakan ... 134

DAFTAR PUSTAKA ... 135

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Jumlah nagari di Sumatera Barat ... 3

2 Jumlah informan dan subjek kasus ... 35

3 Matriks data penelitian ... 41

4 Batas-batas Nagari IV Koto Palembayan ... 44

5 Luas Nagari IV Koto Palembayan berdasarkan pemanfaatannya ... 44

6 Jumlah penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin ... 45

7 Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan formal ... 45

8 Jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaan ... 46

9 Jumlah petani berdasarkan jenis kepemilikan lahan ... 46

10 Luas wilayah berdasarkan tingkat kesuburan ... 47

11 Luas penguasaan lahan berdasarkan status tanah di Nagari IV Koto Palembayan ... 48

12 Perbandingan nagari dan desa ... 64

13 Nama–nama perangkat pemerintah Nagari IV Koto Palembayan tahun 2005 ... 71

14 Nama–nama pengurusan KAN Nagari IV Koto Palembayan ... 73

15 Perbedaan pemerintahan desa dan nagari ... 87

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Perubahan nagari Tipe 1 ... 3

2 Perubahan nagari Tipe 2 ... 4

3 Perubahan nagari Tipe 3 ... 4

4 Proses pembentukan nagari ... 11

5 Bagan alur pemikiran transformasi pemerintahan nagari ... 35

6 Struktur pemerintahan nagari ... 43

7 Evolusi nagari dari bentuk asli kebentuk desa ... 66

8 Transformasi dari Desa ke Nagari ... 70

9 Bagan Susunan Kepengurusan LPMN Tahun 2004 ... 74

10 Alur Pembentukan dan Penetapan Peraturan Nagari ... 91

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Denah lokasi penelitian ... 139 2 Nama-nama anggota BPRN Nagari IV Koto Palembayan

tahun 2002 ... 140 3 Susunan anggota Bamus Nagari IV Koto Palembayan

periode 2007 – 2013 ... 141 4 Susunan tim untuk perundingan dan penyelesaian sengketa

tapal batas ... 142 5 Undang – Undang 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase

(18)

DAFTAR ISTILAH

BAMUS BADAN MUSYAWARAH

BMASN BADAN MUSYAWARAH ADAT dan SYARAK NAGARI

BPAN BADAN PERWAKILAN ANAK NAGARI

BPD BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

DAUN DANA ALOKASI UMUM NAGARI

DHN DEWAN HARIAN NAGARI

DPN DEWAN PERWAKILAN NAGARI

DPRN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT NAGARI

DPRW DEWAN PERWAKILAN RAKYAT WILAYAH

KAN KERAPATAN ADAT NAGARI

LINMAS PERLINDUNGAN MASYARAKAT

LMD LEMBAGA MASYARAKAT DESA

LKMD LEMBAGA KETAHANAN MASYARAKAT DESA

LPMN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NAGARI

MAMAS MAJELIS MUSYAWARAH ADAT SYARAK

MUNA MAJELIS ULAMA NAGARI

PKK PENDIDIKAN KETERAMPILAN KELUARGA

PPN PARIK PAGA NAGARI

POLMAS POLISI MASYARAKAT

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara tradisional masyarakat Minang hidup berkelompok dalam suatu ikatan genealogis dan teritorial yang otonom dengan pemerintahan kolektif berdasarkan hukum adat dalam sebuah sistem pemerintahan yang disebut nagari. Keberadaan pemerintahan nagari praktis hilang secara de jure dari Sumatera Barat sejak di berlakukannya UU No.5 tahun 1979 mengenai bentuk pemerintahan terendah yaitu desa. Pelaksanaan UU No.5 tahun 1979 ini efektif diberlakukan di Sumatera Barat pada tahun 1983. Pada saat itu 543 nagari dihapuskan dan jorong/dusun ditingkatkan statusnya menjadi desa sehingga jumlahnya menjadi 3516 desa.

Melalui SK Gubernur No 347/GSB/1984 maka nagari kemudian hanya menjadi kesatuan masyarakat hukum adat setelah sebelumnya juga merupakan kesatuan pemerintahan terendah. Pengaturan mengenai urusan adat diserahkan kepada Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang merupakan kumpulan niniak mamak, cadiak pandai dan alim ulama (tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan) dalam nagari tersebut. Jadi, walaupun selama pemerintahan desa, nagari seolah-olah tidak ada, namun secara de facto, pemerintahan nagari masih berjalan, namun hanya mengurusi masalah yang berkaitan dengan kegiatan adat-istiadat. Ini disebabkan pemerintahan desa tidak bisa menggantikan fungsi informal dari pemerintahan nagari. Dengan demikian, pada masa tersebut terjadi pemisahan yang tajam antara unsur adat dengan unsur administrasi pemerintahan.

Banyak diantara desa-desa tersebut yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria sebagai sebuah pemerintahan desa, diantaranya adalah jumlah penduduk yang terlalu sedikit yaitu kurang dari 1000 jiwa, bahkan terdapat desa yang penduduknya hanya sekitar 500 jiwa. Keadaan ini membuat pemerintahan desa tidak berjalan efektif. Hal ini terjadi karena desa itu hanyalah berawal dari sebuah jorong/dusun (Syahmunir, 2006).

Selanjutnya untuk meningkatkan fungsi dan peranan Pemerintah Desa, maka Pemda Sumatera Barat mengeluarkan Instruksi Gubernur No.11 tahun 1988 (mengikuti Permendagri No. 4 tahun 1981) tentang petunjuk penataan kembali wilayah administrasi desa. Sehubungan dengan Penataan Wilayah Desa (PWD)

(20)

ini (yang dilaksanakan secara bertahap) diperoleh data bahwa sampai tahap III jumlah desa telah berkurang menjadi 2059 desa dan bahkan pada tahap IV tahun 1993, bahkan terdapat 93 desa yang kembali ke wilayah nagari lama. Meskipun telah dilakukan upaya penataan pemerintahan desa, namun itu belum mampu menjawab permasalahan atau memenuhi tuntutan masyarakat. Persoalannya bukan hanya pada luas wilayah dan jumlah penduduk, akan tetapi terletak pada sistem pemerintahan yang tidak berakar pada sistem sosial budaya masyarakat (Syahmunir, 2006).

Jatuhnya rezim pemerintahan orde baru telah membawa perubahan dari sistem pemerintah sentralistik menjadi desentralistik. Pemerintah kemudian mengeluarkan UU No. 22 tahun 1999 yang memberikan peluang bagi dihidupkannya kembali bentuk pemerintahan terendah asli jika masyarakat setempat menginginkannya. UU No. 22/1999 ini selanjutnya disempurnakan oleh UU No. 32/2004, menurut Dharmawan (2008) secara eksplisit dan implisit hendak mengedepankan cita-cita penegakan prinsi-prinsip demokratisme (kesetaraan, kesejajaran, etika-egalitarian), keunggulan lokal komitmen pada rule of the game yang telah disepakati, apresiasi terhadap keberagaman, prinsip buttom up, desentralisme administratif yang elegan dan berwibawa di tingkat lokal serta berkemampuan mengatasi persoalan riil di lapangan. Salah satu dari good governance principle, yaitu control of power yang diwujudkan secara operasional dalam prinsip transparansi ketata-pemerintahan dan akuntabilitas (pengelolaan keuangan) publik juga menjadi salah satu ciri utama UU tersebut.

Desentralisasi, yang diimplementasikan dengan pemberian otonomi kepada daerah, memungkinkan adanya proses pemberdayaan masyarakat karena tersedianya ruang untuk berpartisipasi dan menentukan sendiri model pembangunan bedasarkan kebutuhan lokal. Menerapan desentralisasi tentu saja menuntut adanya reorganisasi dari struktur pemerintahan lokal. Hal ini direspon oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dengan mengelurkan Perda No. 9/2000 yang kemudian disempurnakan dengan Perda No. 2/2007. Proses kembali ke nagari ini dilaksanakan secara bertahap, hingga tahun 2006 telah terbentuk 519 pemerintahan nagari (Tabel 1).

(21)

Tabel 1. Jumlah nagari di Sumatera Barat

No Kabupaten/kota Jumlah Nagari* Jumlah Nagari**

1 Agam 73 81 2 50 Kota 70 76 3 Tanah Datar 75 75 4 Solok (Kota) 1 - 5 Solok (kabupaten) 82 74 6 Solok Selatan - 12 7 Padang panjang 4 - 8 Bukittinggi 5 - 9 Padang 13 - 10 Pesisir Selatan 36 37 11 Padang Pariaman 65 46

12 Sawah Lunto Sijunjung 58 46

13 Darmas Raya - 21 14 Sawah Lunto 5 - 15 Payakumbuh 7 - 16 Pasaman 49 32 17 Pasaman barat - 19 Total 543 519

Sumber: di olah dari arsip pemerintah daerah Sumatera Barat 2007 * nagari sebelum UU No 5/1979, ** nagari setelah UU No 22/1999

Dari data yang ada tampak bahwa dibeberapa kabupaten terdapat beberapa nagari baru. Ini mengindikasikan bahwa ketika nagari terpecah-pecah ke dalam bentuk pemerintahan desa, terdapat beberapa desa yang kemudian setelah diterapkan kebijakan kembali ke nagari tidak bergabung kembali dengan nagari asalnya. Untuk wilayah kota, saat ini tidak lagi terdapat nagari karena pemerintahan terendah telah berbentuk kelurahan.

Dari keterangan di atas, dapat dibuat tipologi perubahan nagari sebagai berikut:

Tipe 1 menggambarkan perubahan sebuah nagari yang terpecah menjadi beberapa desa (sesuai dengan jumlah jorongnya) akibat diberlakukannya UU No 5/1979, dengan diterapkannya PWD tahun 1993, desa-desa tersebut bergabung menjadi satu desa dan selanjutnya setelah diterapkan UU No 22/1999, kembali ke nagari semula. Perubahan ini relatif tidak ada masalah. Untuk Tipe 1 terdapat 93 kasus. Nagari Desa Desa Desa Nagari Desa Nagari Desa Desa Nagari Desa

(22)

Gambar 2. Perubahan nagari Tipe 2

Tipe 2 menggambarkan perubahan sebuah nagari yang terpecah menjadi beberapa desa (sesuai dengan jumlah jorongnya) akibat diberlakukannya UU no 5/1979, dan selanjutnya setelah diterapkan UU no 22/1999, kembali ke nagari semula. Prosesnya lebih sulit dari tipe satu karena menyatukan daerah-daerah yang sebelumnya telah terpecah-pecah. Untuk Tipe 2 terdapat 366 kasus

Gambar 3. Perubahan nagari Tipe 3

Tipe 3 menggambarkan sebuah nagari yang pecah menjadi beberapa desa dan selanjutnya setelah UU No 22/1999 beberapa desa kembali ke nagari awal dan desa lainnya membentuk nagari sendiri. Proses kembali ke nagari menimbulkan konflik karena terdapat sebagian kelompok/wilayah yang tidak mau bergabung dengan nagari asal. Untuk Tipe 3 terdapat 30 kasus

Setelah desa-desa bertansformasi menjadi nagari, maka permasalahan yang timbul kemudian, bentuk nagari seperti apa yang akan diterapkan kembali, apakah nagari asli dengan bentuk kepemimpinan kolektif ataukah nagari sebelum diterapkannya UU No.5 Tahun 1979, nagari berada di bawah pimpinan wali nagari. Simarmata (2006) menyatakan bahwa pada sebagian orang membayangkan bahwa kembali ke nagari berarti kembali ke pemerintahan adat atau mengembalikan nilai-nilai budaya dan adat Minangkabau. Pikiran ini tumbuh subur di kalangan rakyat dan pemangku adat serta sebagian akademisi dan aktivis Ornop. Sementara dari kalangan legislator dan pemerintahan daerah

Nagari Desa Desa Desa Nagari Nagari

(23)

mengembangkan cara pandang yang lain. Pemerintahan nagari yang akan dihidupkan adalah yang bisa menjawab tantangan sekaligus modern. Sebuah nagari yang merupakan perpaduan antara kelembagaan tradisional dan organisasi modern.

Nagari yang sejak tahun 1984 hanyalah sebuah kesatuan wilayah adat dan hanya mengurusi persoalan yang berkaitan dengan adat sekarang harus dimodernkan, karena ia juga mengurusi persoalan administrasi. Oleh sebab itu birokrasi modern harus diterapkan ke dalam struktur pemerintahan nagari. Castle L (1986) mengutip apa yang dikemukakan oleh Webber, bahwa birokrasi modern, bersifat rasional dan impersonal bagaikan mesin, falsafah dasar organisasinya untuk mencapai efisiensi dan efektifitas yang tinggi.

1.2. Perumusan Masalah

Keberadaan nagari di Sumatera Barat seolah timbul tenggelam seiring dengan intervensi pemerintah mengenai kebijakan pemerintahan terendah. Perubahan dari nagari ke desa berdampak cukup besar bagi struktur masyarakatnya. Nagari dan desa sesungguhnya merupakan dua bentuk yang saling bertolak belakang. Pemerintahan nagari bercirikan egaliter, mandiri dan berorientasi pada masyarakat. Sementara desa adalah cermin dari pemerintahan yang feodalistis, sentralistis dan top down. Perubahan pemerintahan dari nagari ke desa tidak saja hanya sekedar perubahan nama, tetapi juga sistem, orientasi dan filosofinya. Sementara itu perubahan dari desa kembali ke nagari masih menemui kendala dalam mencari bentuk tepat.

UU No. 22/1999, yang mengakhiri penyeragaman bentuk pemerintahan desa telah mendorong munculnya kebijakan untuk menghidupkan kembali bentuk-bentuk asli pemerintahan terendah di beberapa wlayah di Indonesia. Pemerintah Daerah Sumatera Barat sendiri mencoba untuk mensinergikan unsur adat dan birokrasi modern dalam satu kelembagaan formal yaitu pemerintahan nagari. Seperti yang diutarakan oleh Eko S (2005) nagari yang sekarang diharapkan mampu memadukan self-governing community (otonomi asli yang berbasis adat) dan local-self government (desentralisasi dari pemerintah).

UU No. 32/2004 yang mengamanatkan diselenggarakannya desentralisasi, diwujudkan dengan pembagian kewenangan dan keuangan dari pemerintah

(24)

supra-nagari kepada supra-nagari, yang kemudian supra-nagari bertanggung jawab menggunakan kewenangan dan keuangan itu untuk meningkatkan pelayanan publik, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, yang hasil akhirnya adalah kesejahteraan dan kemandirian anak-anak nagari. Ternyata di lapangan konsep tersebut tidak mudah untuk diimplementasikan. Peralihan dari desa ke nagari telah membuat masyarakat dalam nagari seolah berada dalam fase transisi. Proses penanaman pemahaman akan wewenang dan tanggung jawab diantara lembaga-lembaga dalam nagari berjalan lambat, karena disaat yang sama sebagian elite lokal masih berpikiran akan model nagari yang lama sementara sebagian yang lain berpatokan pada pembagian kewenangan berdasarkan peraturan formal.

Seperti pendapat yang diutarakan oleh Dharmawan (2008), sekalipun UU No. 32/2004 mengapresiasi keberadaan tata aturan adat (pasal 203 dan pasal 216), namun otoritas adat dengan sistem tata-pemerintahan asli, sulit beradaptasi/menyelaraskan dengan keberadaan sistem pemerintahan formal dalam konsep desa. Alhasil dalam merespon peluang desentralisasi atau otonomi lokalitas (desa/nagari) yang ditawarkan oleh negara melalu platform UU No. 32/2004, otoritas adat seringkali berbenturan secara kelembagaan dengan otoritas formal (pemerintahan desa/nagari) yang legitimate menurut hukum positif kenegaraan.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Nurrochmat dan Purwandari (2006), mereka menemukan bahwa tata pemerintahan asli ternyata dapat berdampingan dengan dengan sistem pemerintahan formal. Ini seperti yang terjadi di Bali pemerintahan terendah memiliki dua kelembagaan formal yang dapat berkoordinasi secara efektif yaitu desa adat yang bernama “pakraman” (mengurusi masalah adat) dan desa dinas atau “perbekel” (mengurusi masalah pemerintahan). Bentuk lain seperti yang terdapat di Aceh dan Papua, dalam pemerintahan terendahnya memiliki dua kelembagaan yaitu formal dan informal. Di Aceh, kelembagaan desa mengurusi masalah pemerintahan dan kelembagaan mukim mengurusi masalah sosial budaya. Sementara, di Papua terdapat kelembagaan kampung yang mengurusi masalah pemerintahan dan kelembagaan ondoafi yang mengurusi masalah adat. Di Sumatera Barat sendiri hanya terdapat

(25)

satu kelembagaan formal yaitu nagari yang mengurusi dua urusan yaitu kedinasan dan adat.

Di sinilah letak permasalahannya, karena hanya terdapat satu kelembagaan formal saja yaitu nagari yang mengurusi masalah kedinasan dan adat, maka pemerintah harus merestrukturisasi pemerintahan nagari agar dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. Unsur tradisional tetap dipertahankan agar dapat mengurusi urusan adat dan disisi lain birokrasi modern juga harus dikembangkan agar dapat menangani urusan kedinasan.

Masuknya birokrasi modern ke dalam pemerintahan nagari, pada akhirnya menjadi salah satu sumber konflik. Seperti yang ditulis oleh Sjofjan Thalib (2006) (dalam Abna, 2008), kendala yang ditemui setelah kembali ke dalam pemerintahan nagari antara lain: terjadinya kesalahpahaman dalam memandang nagari sebagai masyarakat hukum adat teritorial saja, pada hal nagari adalah persekutuan hukum adat genealogis matrilineal teritorial; banyaknya lembaga kenagarian yang ditetapkan dalam perda-perda yang menyimpang dari struktur asli, sehingga diperlukan banyak dana dan tenaga untuk menjalankan tugas mereka; terjadinya kebingungan masyarakat nagari karena nagari sekarang yang ditata secara rinci melalui perda kabupaten dengan menerapkan prinsip trias politica yang tidak dikenal mereka sebagai nagari baru bentukan pemerintah atasan; serta telihat ekses adanya keberatan dari KAN untuk menyerahkan aset nagari kepada pemerintah nagari karena dianggap mendominasi kekuasaan mereka.

Tumpang tindih peran dan tidak jelasnya fungsi masing-masing komponen dalam pemerintahan nagari, sebenarnya berpangkal dari Perda Sumatera Barat No. 9/2000 yang mengatur pembentukan lembaga-lembaga dalam nagari, yaitu: yang pertama terdapat lembaga Wali Nagari dan perangkatnya sebagai eksekutif yang menjalankan tugas-tugas pemerintahan dalam nagari, selanjutnya lembaga Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN) yang menjalankan fungsi legislasi yaitu mengawasi pelaksanaan dari pelaksanaan peraturan-peraturan nagari dan lembaga Badan Musyawarah Adat dan Syarak Nagari (BMASN) yang tugasnya menyangkut urusan adat. Sementara itu juga terdapat lembaga nonstruktural yaitu Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang fungsinya tidak secara jelas diatur dalam

(26)

perda No. 9/2009 tapi secara tradisional mempunyai fungsi menyelesaikan sengketa “sako-pusako” (gelar dan harta warisan) dan hal-hal yang menyangkut urusan adat istiadat. Menurut Sayuti Dt Rajo Pangkulo (dalam Simarmata, 2006) ketiga lembaga ini anggotanya beririsan dan mempunyai tugas dan fungsi yang hampir mirip.

Untuk membenahi tumpang tindih tugas dan fungsi lembaga – lembaga dalam pemerintahan nagari, Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat mengeluarkan Perda No. 2/2007, dalam perda ini lembaga BPAN dan BMASN dihilangkan dan diganti dengan Badan Musyawarah Nagari (Bamus Nagari). Disebutkan bahwa tugas, wewenang, kewajiban dan hak Bamus Nagari diatur lebih lanjut dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (pasal 13). Sementara lembaga KAN tetap merupakan lembaga nonstruktural yang diakui yang fungsinya memelihara kelestarian adat serta menyelesaian perselisihan sako dan pusako (pasal 1 nomor 13). Ketika Perda No. 2/2007 ini diberlakukan secara otomatis Perda No. 9/2000 tidak berlaku lagi, hal ini membuat struktur pemerintahan dalam nagari kembali mengalami perombakan.

Dari penjelasan tersebut dapat diduga bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam pemerintahan nagari saat ini, selain berbentuk perubahan yang direncanakan atau disengaja (intended change) namun juga menimbulkan perubahan yang tidak direncanakan atau tidak disengaja (unintended change). Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam nagari akibat implementasi kebijakan pemerintah sesungguhnya meliputi semua aspek sosial dan budaya dalam masyarakat, karena luasnya cakupan tersebut maka penelitian ini lebih difokuskan pada perubahan yang terjadi dalam struktur pemerintahan akibat perubahan sistem pemerintahan dari desa ke nagari.

Dari uraian di atas, maka pertanyaan yang kemudian timbul dan dijawab melalui penelitian ini adalah bagaimana pemerintahan nagari saat ini dijalankan, apa yang membedakannya dengan bentuk pemerintahan desa, bagaimana peran yang dimainkan oleh masing-masing komponen dalam struktur pemerintahan nagari serta bagaimana konflik/potensi konflik yang berkembang akibat transformasi sistem pemerintahan dari desa ke nagari.

(27)

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka secara spesifik tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan dan menganalisa dinamika perubahan pemerintahan nagari ke pemerintahan desa dan kembali ke pemerintahan nagari dengan melihat peran yang dimainkan oleh masing-masing komponen dalam struktur pemerintahan nagari.

2. Menganalisa potensi konflik akibat transformasi sistem pemerintahan dari desa kembali ke nagari.

3. Memberikan masukan bagi pengaturan tata pemerintahan lokal di Provinsi Sumatera Barat.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dalam tataran teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan tata pemerintahan lokal. Pada tataran praktis, penelitian ini dimaksudkan sebagai wujud kritik terhadap kebijakan pemerintah. Selanjutnya informasi yang disajikan dalam penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi tata pemerintahaan lokal yang lebih baik di masa datang.

(28)

II. TINJAUAN PUSATAKA

2.1. Masyarakat Minang Dan Sejarah Pemerintahan Nagari

Masyarakat Minang merupakan etnik yang unik, walaupun adat istiadatnya berlandaskan pada syariat Islam yang patrilineal (keturunan berdasarkan garis ayah) tapi dalam masyarakatnya diterapkan sistem matrilineal (keturunan berdasarkan garis ibu), ini sesuatu yang sesungguhnya agak bertolak belakang. Dalam kehidupan sosial, keberadaan balai adat dan masjid merupakan dua institusi penting bahkan menjadi syarat untuk membentuk sebuah nagari. Keduanya menjadi simbol bagaimana masyarakat Minang mengintegrasikan dua norma yang berbeda dalam kehidupan sosial mereka “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adat bersendi agama, agama bersendikan Al-Quran).

Unit sosial terkecil dalam masyarakat Minang berbentuk extended family. Sebuah extended family terdiri dari beberapa keluarga inti yang tinggal bersama dalam satu “rumah gadang”. Pemimpin dalam rumah gadang disebut “tungganai”. Ia merupakan saudara laki-laki tertua atau yang dituakan dari pihak ibu. Sistem kekerabatan matrilineal dalam extended family inilah yang menjadi dasar bagi struktur sosial masyarakat Minang.

Kepemimpinan dalam masyarakat tetap berada ditangan laki-lak, walaupun garis keturunan dibuat berdasarkan garis ibu. Dalam hal ini, mamak yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu, memainkan peranan yang menentukan. Selanjutnya, berdasarkan garis keturunan ibu ini jugalah terbentuk suku-suku sebagai suatu kesatuan genealogis yang merupakan kelompok-kelompok pembentuk nagari. Berikut ini adalah sejarah pembentukan dan perkembangan nagari yang merupakan bentuk asli sistem pemerintahan dalam masyarakat Minang.

Berdasarkan keyakinan mayarakat Minang, nenek moyang mereka berasal dari sebuah daerah di kaki gunung Merapi yang bernama Pariangan. Hal ini tampaknya sejalan dengan pendapat ahli sejarah, De Rooy (dalam MS Amir, 2006), yang menyatakan bahwa Pariangan adalah nagari tertua di Minangkabau. Seiring dengan pertambahan populasi, yang berakibat dari semakin sempitnya lahan pertanian, maka masyarakatnya menyebar ke daerah-daerah di sekitarnya.

(29)

Hal senada juga dapat dijumpai dalam tulisan Westenenk (1981) dalam tulisannya de minangkabausche nagari, disebutkan bahwa pembangunan-pembangunan pertama dari berbagai nagari berasal dari nagari tertua yaitu Pariangan, yang terletak di sebelah selatan kaki Gunung Merapi daerah Padang Panjang.

Penyebaran penduduk, biasanya dilakukan berkelompok-kelompok, yang terdiri dari orang-orang dari suku yang sama. Daerah yang baru dibuka dan didiami oleh satu suku dinamakan kampung. Biasanya kampung terletak di puncak bukit atau lereng-lereng gunung, dengan rumah yang masih sangat sederhana. Sementara daerah yang mereka buka dan jadikan tempat bercocok tanam dinamakan taratak. Selanjutnya dengan datangnya pendatang yang masuk ke kawasan tersebut maka kampung tempat hunian tadi disebut dusun. Maka dimulailah kehidupan bertetangga dengan jumlah suku yang bertambah, biasanya tahap ini hanya terdiri dari dua suku asal.

Populasi masyarakat yang terus bertambah membuat masyarakat dusun mulai turun ke kaki bukit dan bermukim di sana terutama dipinggiran anak-anak sungai yang memiliki daerah dataran yang luas. Kegiatan pertanian dilakukan di daerah ini dengan membuka sawah dan ladang, mereka juga mulai memelihara ternak. Tempat ini dinamakan Koto. Di daerah yang dinamakan koto inilah masyarakat mulai membangun rumah yang lebih baik, bahkan juga Rumah Gadang. Karena mayarakatnya telah banyak dan berkembang, maka dibangunlah balai adat, yang merupakan persyaratan lain keberadaan nagari. Dengan masuknya agama Islam, maka disamping balai adat, dalam nagari juga diharuskan terdapat sebuah masjid, selain juga terdapat surau pada tiap-tiap kaum (MS Amir, 2006).

Berdasarkan perkembangan penduduk yang mendiami suatu daerah terbentuklah tiga daerah yang merupakan cikal bakal terbentuknya nagari, yaitu:

Ketiga bentuk pemukiman itu kemudian membentuk sebuah nagari, Koto kemudian menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi nagari. Demikianlah awal

Taratak Dusun Koto

Nagari

(30)

terbentuknya nagari-nagari yang lama-kelaman jumlahnya semakin banyak. Berikut ini adalah syarat-syarat untuk dapat terbentuknya sebuah nagari yang tertuang dalam pepatah setempat:

Nagari ba kaampek suku, Dalam suku ba buah paruik, Kampuang nan ba Tuo, Rumah Gadang Ba tungganai. Maksud dari pepatah tersebut adalah:

a. Suatu daerah baru dapat disebut “nagari” bila sekurangnya telah memiliki empat suku yang berbeda. Ketentuan ini dimaksudkan supaya dalam nagari yang baru itu dimungkinkan perkawinan antar suku yang berbeda sesuai dengan perkawinan eksogami.

b. Baru dapat dikatakan satu suku jika terdiri dari beberapa paruik yang merupakan sekelompok orang dengan moyang yang sama, berdasarkan garis keturunan ibu.

c. Bila kumpulan paruik sudah bertambah besar atau bertambah banyak jumlah keluarganya, maka untuk tiap kelompok yang saparuik, diangkat salah seorang mamak yang tertua atau yang dituakan sebagai “Tuo Kampuang”, dengan tugas antara lain mengawasi penggunaan tanah ulayat, dengan kata lain merupakan pembantu penghulu tanpa gelar datuk. d. Dalam tiap Rumah Gadang terdapat tungganai. Semua saudara laki-laki

ibu dinamakan “mamak rumah”, yang tertua dinamakan “tungganai” (Lebih lanjut lihat MS Amir, 2003).

Sistem pemerintahan dalam nagari secara umum dapat dikelompok ke dalam dua bentuk yaitu berdasarkan Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago. Seperti yang diungkapkan oleh Effendi N (2006), secara tradisional pemimpin dalam Masyarakat Minang adalah penghulu. Penghulu biasanya berhak dan memiliki hak istimewa/khusus untuk menjadi pemimpin sebuah nagari. Penghulu dalam memimpin nagari berada dalam kelembagaan kolektif yang biasa dikenal dengan Kerapatan Adat atau Kerapatan Adat Nagari, secara kolektif, penghulu bersama alim ulama dan cerdik pandai tergabung dalam tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan. Untuk menjalankan sistem pemerintahan nagari, tradisi sosial politik nagari yang berlaku secara adat adalah berdasarkan: Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago.

(31)

Kelarasan Koto Piliang bersifat aristrokasi, artinya pemerintah berpusat pada beberapa aristokrat atau elit politik. Sistem pemerintahan pada kelarasan ini digambarkan dengan berjenjang naik bertangga turun, berpucuk bulat berurat tunggang yang mengisyaratkan hirarki kepemimpinan. Dalam kelarasan ini para penghulu bergabung dalam suatu Dewan Penghulu yang diketuai oleh seorang Penghulu Pucuak (pucuk/puncak). Ketua dewan penghulu berhak mengambil keputusan terakhir sesuai dengan adat aristokrat. Susunan kepemimpinan Kelarasan Koto Piliang adalah sebagai berikut:

a. Penghulu berposisi sebagai penghulu pucuk atau ketua adat tertinggi. Ia disebut mahkota dalam nagari. Warna kebesarannya adalah hitam

b. Malin mengurus soal keagamaan, mereka disebut sebagai suluh bendang (cahaya penerang) oleh nagari. Warna kebesarannya putih

c. Manti, menjadi penengah dalam segala perselisihan, menjadi cahaya dan permata dalam nagari, warna kebesarannya adalah ungu.

d. Dubalang, adalah kepala keamanan dalam nagari. Ia disebut pagar nagari dengan warna kebesarannya merah.

Keempat pejabat di atas sering disebut dengan “Urang Ampek Jinih”. Mereka beserta keluarganya adalah golongan aristokrasi dalam nagari.

Kelarasan Bodi Caniago bersifat demokratis, anggota dewan penghulu mempunyai kedudukan yang sama. Sistem pemerintahannya digambarkan dengan, duduak samo randah tagak samo tinggi, yang mengisyaratkan kesetaraan, misalnya seperti yang terdapat pada Nagari Simarasok.

Sifat pemerintahan nagari di Minangkabau berbeda-beda antara dua sifat kelarasan tersebut. Dari kedua sistem ini, persamaannya adalah penghulu sama dengan kepala atau pemimpin adat dan dapat juga dikatakan sebagai pemimpin masyarakat Minang. Ia memimpin dan mewakili orang-orang sesukunya. Seorang penghulu haruslah memiliki persyaratan substansial yaitu: lubuk akal, lautan budi, tahu di adat dan pusako, tahu manimbang samo barek, tau ma agak ma agiah (sumber akal dan budi, mengerti adat istiadat dan bersikap adil). Penghulu dengan demikian dianggap sebagai pelindung dan pemimpin rakyat dalam arti sebenarnya.

(32)

Westenenk (1981), lebih lanjut menjelaskan bahwa kerajaan Minangkabau tersusun dari nagari-nagari, persekutuan (gemeenten) yang bisa dikatakan mempunyai pemerintahan sendiri. Kemunduran dari generasi raja bisa jadi disebabkan karena pemerintahan yang berkuasa tidak mempunyai pengaruh terhadap organisasi ke dalam nagari itu. Tidak mengherankan bahwa raja, seluruhnya berada di luar rakyat. Selanjutnya nagari mempunyai “geanstelijkheid” sendiri dan peradilan adat sendiri yang dipangku oleh gabungan kepala-kepala rakyat yang keputusannya dapat dibanding kepada suatu rapat gabungan dari kepala-kepala rakyat dari federasi-federasi adat di nagari yang bersangkutan. Demikianlah pemerintahan nagari berjalan waktu itu bersifat kolektif.

Pada masa penjajahan Belanda, sistim kerajaan sudah tidak ada lagi namun pemerintahan nagari tetap dipertahankan. Pada masa ini pemerintah kolonial mengubah tatanan pemerintahan nagari agar mendukung pemerintahan, maka dibentuklah sebuah badan yang bernama Kerapatan Nagari sebagai lembaga pemerintahan terendah. Penghulu-penghulu yang dulunya memimpin nagari secara bersama-sama sekarang diharuskan untuk memilih salah satu di antara mereka sebagai Kepala Nagari. Jadi pada masa ini seorang kepala nagari telah berperan ganda selain sebagai wakil masyarakatnya di tingkat nagari (peran formal) ia juga merupakan wakil pemerintah Belanda (peran informal).

Pada tahun 1914 dikeluarkan Ordonansi Nagari yang membatasi anggota kerapatan nagari hanya pada penghulu yang diakui pemerintah Hindia Belanda. Disamping lembaga Kerapatan Nagari (KN) yang berisikan orang-orang yang disetujui oleh pemerintah Belanda, juga terdapat lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang dibentuk sendiri oleh masyarakat setempat. KAN beranggotakan unsur-unsur ninik mamak, cerdik pandai dan alim ulama yang mendapat legitimasi dari masyarakat .

Benda-Beckmann and Benda-Beckmann (2001), mengatakan bahwa ketika Belanda memasuki daerah Padang (Minang) dan kemudian terlibat dalam Perang Paderi, Belanda memasukan pemerintahan nagari ke dalam sistem administrasi Belanda dan politik-ekonomi kolonial. Selanjutnya pemerintah Belanda mengintervensi dan merobah organisasi politik tradisional dalam nagari.

(33)

Jika pada awalnya nagari dipimpin oleh para pemimpin suku (penghulu), Belanda merubahnya dengan mengangkat seorang Kepala Nagari sebagai pemimpin tertinggi dalam nagari yang representatif dalam berhubungan dengan pemerintahan Belanda.

Pada masa Orde Lama sistem demokrasi dalam nagari mencapai titik terendah. Ini berpangkal dari Maklumat Residen No. 22 tahun 1946 yang menyatakan bahwa struktur lembaga nagari terdiri dari Wali Nagari, Dewan Perwakilan Rakyat Nagari (DPRN) dan dewan Harian Nagari. Wali Nagari menjadi penguasa tunggal dalam nagari karena ia juga sekaligus sebagai pemimpin DPRN dan DHN.

Berdasarkan SK Gubernur No.50/GP/1950, selanjutnya nagari di hapuskan dan diganti dengan pemerintahan wilayah. Ini menimbulkan keresahan dan tantangan dari masyarakat serta Niniak Mamak Pemangku Adat. Konferensi Niniak Mamak/Pemangku Adat tahun 1953 di Bukittinggi memutuskan agar pemerintaha nagari dikembalikan. Hasilnya dengan SK Presiden RI dan melalui SK Mendagri tanggal 7 Februari 1954, sistem pemerintahan nagari di hidupkan kembali. Pada masa ini timbul gerakan dari masyarakat nagari untuk kembali menghidupkan Kerapatan Adat Nagari. Dan hal itu terwujud melalui SK Gubernur No.15/GSB/1968. KAN kembali hadir dan menjalankan fungsinya dalam nagari (lebih jauh lihat Syahmunir, 2006).

Setelah peraturan tersebut dikeluarkan, wali nagari masih menjadi pemimpin dalam nagari, namun kedudukannya tidak lagi sekuat sebelumnya. Pada masa ini, niniak mamak yang tergabung dalam KAN, kembali memainkan peran penting, tidak saja dibidang yang berkaitan dengan adat, namun juga pemerintahan, mereka menjadi penentu politik lokal. Setiap putusan yang akan dibuat oleh Wali Nagari harus mendapat persetujuan dari KAN.

Dari penjelasan mengenai sejarah dan perkembangan pemerintahan nagari dapat dilihat bahwa ninik mamak (yang tergabung dalam KAN) merupakan para pemimpin dalam nagari. Kekuasaan mereka ditopang oleh extended family yang merupakan dasar bagi struktur sosial masyarakatnya sebagai mana telah disinggung sebelumnya. Oleh karena itu kuat atau lemahnya pengaruh ninik mamak sangat tergantung dari eksistensi extended family itu sendiri.

(34)

Nagari kemudian dihidupkan kembali, sebagian orang (terutama dari kelompok ninik mamak/KAN) mempunyai harapan bahwa mereka akan mendapatkan kekuasaan/otoritas sebagaimana nagari dulu dengan pemerintahan kolektifnya. Namun keadaan sudah berubah, kekuasaan ninik mamak tidak lagi sekuat dulu, salah satunya disebabkan oleh pergeseran bentuk extended family kebentuk keluarga inti. Artinya mereka tidak lagi mempunyai penopang yang kuat untuk mewujudkan harapan/keinginan tersebut. Hal ini sebagai mana yang terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Witrianto (2005), bahwa saat ini terdapat kecenderungan melemahnya kekuasaan mamak seiring dengan bergesernya extended family ke bentuk keluarga inti dan menguatnya peran ayah. 2.2. Konsep Tanah Ulayat

Berbicara tentang nagari, artinya sedikit banyak juga harus menyinggung mengenai tanah ulayat karena wilayah nagari merupakan himpunan dari tanah- tanah ulayat. Pada dasarnya yang dimaksud dengan hak ulayat adalah tanah milik bersama. Menurut Hukum Adat Minangkabau tanah adalah kepunyaan bersama anggota masyarakat (kaum, suku dan nagari) yang tidak boleh diperseorangkan. Cornelis Van Vollenhoven dalam Kamal M (2000), merumuskan hak ulayat sebagi hak yang dimiliki oleh suatu masyarakat hukum adat untuk menguasai seluruh tanah seisinya di dalam lingkungan wilayahnya. Jadi hak ulayat mencakup tanah dan seisinya. Oleh Van Vollenhoven, hak ulayat memiliki 6 (enam) tanda- tanda khusus, yaitu:

1. Hanya masyarakat hukum itu sendiri beserta warga-warganya dapat dengan bebas mempergunakan tanah liar yang terletak dalam wilayahnya.

2. Orang asing (luar masyarakat hukum) hanya boleh menggunakan tanah itu dengan izin, penggunaan tanpa izin dipandang suatu delik.

3. Untuk penggunaan tanah tersebut kadang-kadang bagi warga masyarakat dipungut recognitie, tetapi bagi orang luar masyarakat hukum selalu dipungut recognitie.

4. Masyarakat adat bertanggung jawab terhadap delik-delik tertentu yang terjadi di dalam wilayahnya, delik mana tidak dapat dituntut pelakunya.

5. Masyarakt adat tidak dapat melepaskan hak ulayat, memindahkannya ataupun mengasingkannya secara menetap

(35)

6. Masyarakat adat masih mempunyai campur tangan (intensif dan kurang intensif) terhadap tanah-tanah yang sudah diolah.

Imam Sudiyat (1979) dalam Syahmunir (2005), merumuskan sebuah definisi mengenai tanah ulayat yang diturunkan dari istilah beschikkingsrecht yang dibuat oleh Van Vollenhoven, sebagai berikut:

“Hak ulayat adalah suatu hak yang melekat pada suatu masyarakat hukum Indonesia yang hubungannya dengan tanah bersifat kekal, yang perwujudannya ke luar bersifat integritas yang harus dihormati oleh dunia luar, sedangkan berlaku ke dalam berupa wewenang untuk mengatur dan mengurus tanah tersebut yang penyelenggaraannya ditujukan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran, kebahagiaan serta kesejahteraan para warga masyarakat tersebut”. Mhd. Koesnoe dalam Syahmunir (2005) berpendapat bahwa berdasarkan teori Hukum Adat dan hukum normatif maka “tidak ada persekutuan hukum tanpa tanah ulayat”. Ini mengandung arti bahwa hak ulaya masih ada dan akan tetap ada selama persekutuan hukum masih ada. Oleh karena itu untuk pembuktiannya harus dilakukan menurut sistem Hukum Adat dan bukan menurut perundang-undangan yang disusun berdasarkan stelsel hukum Barat.

Pemerintah sendiri berpegang pada pasal 5 ayat (4) UU No.41 tahun 1999, yang berbunyi: “Apabila dalam perkembangan masyarakat hukum adat yang bersangkutan tidak ada lagi maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada pemerintah”. Ini sangat jelas, bahwa pemerintah dalam menentukan ada tidaknya hutan adat (hak ulayat) berdasarkan fungsi dan statusnya, yang digunakan adalah hukum positif yang tertulis dan bukan hukum adat (yang biasanya tidak tertulis).

Di Sumatera Barat Sendiri hak ulayat dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:

1. Hak Ulayat kaum, yaitu tanah yang berasal dari kegiatan “taruko1” atau bekas yang ditempati nenek moyang dan diwariskan secara matrilineal.

2. Hak Ulayat Suku, awalnya berasal dari tanah ulayat kaum namun telah lama sekali dan kaum yang bersangkutan telah berkembang menjadi beberapa kaum dalam satu suku sehingga penguasaan atas tanah tidak lagi oleh satu kaum tertentu namun dikuasai bersama oleh satu suku tertentu.

3. Hak Ulayat Nagari, tanah yang dimiliki bersama oleh masyarakat nagari yang bersangkutan yang bukan ulayat kaum dan bukan pula ulayat suku tertentu.

1

(36)

Pengurusannya menjadi wewenang pemerintah nagari (Dt. Rajo Mangkuto A, 2001)

2.3. Konsep Pemerintah dan Pemerintahan

Pemerintah adalah salah satu cabang kekuasaan dalam konsep trias politika yang dikenal dengan eksekutif (Hendarto, 2007). Sementara pemerintahan lebih diartikan sebagai kekuasaan yang ditujukan dalam manajemen sumberdaya sosial dan ekonomi negara untuk tujuan pembangunan (World Bank, 1989 dalam Wiratraman, 2007).

Secara definitif pemerintah itu mempunyai arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas pemerintah itu meliputi seluruh organ kekuasaan di dalam negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Bahkan dalam arti luas ini pemerintah diartikan sebagai pelaksanaan tugas seluruh badan-badan, lembaga-lembaga dan petugas-petugas yang diserahi wewenang untuk mencapai tujuan negara. Dalam arti sempit pemerintahan hanya mencakup organisasi fungsi-fungsi yang menjalankan tugas pemerintah (eksekutif) (MD Mahfud, 1993: 74).

Merujuk pada UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dalam pasal 1 huruf d disebutkan bahwa Pemerintah Daerah adalah penyelenggara Pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut azaz desentralisasi. Konsep ini kemudian disempurnakan oleh UU No. 32 tahun 2004, dalam ketentuan Pasal 1 angka 2, dinyatakan bahwa Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sedangkan pemerintah daerah dalam pasal 1 angka 3 UU tersebut diartikan sebagai Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Artinya, pemerintah daerah merupakan unsur eksekutif karena DPRD (legislatif) tidak termasuk organ dari pemerintah daerah.

Permendagri pasal 1 No. 4 tahun 2007 menyebutkan bahwa: Pemerintahan desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan

(37)

masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan republik Indonesia. Selanjutnya pasal 1 no 5 menjelaskan, bahwa Pemerintah Desa atau disebut dengan nama lain adalah kepala desa dan perangkat desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

Jika konsep tersebut diturunkan hingga tingkat nagari, maka pemerintah nagari adalah penyelenggara pemerintahan nagari yaitu wali nagari. Sedangkan unsur legislatif dalam nagari adalah Bamus (Badan Permusyawaratan Nagari) yang merupakan representasi dari anak nagari meliputi unsur-unsur, ninik mamak, cerdik pandai, alim ulama, bundo kandung, wakil pemuda dan di beberapa tempat juga ditambah dengan perwakilan dari tiap jorong.

2.4. Pemerintahan Nagari Menurut Peraturan Perundang-Undangan Dalam Perda Sumbar No. 9/2000 Pasal 1 ayat (7) nagari didefinisikan sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam Daerah Propinsi Sumatera Barat yang terdiri dari himpunan beberapa suku yang mempunyai wilayah yang tertentu batas-batasnya, mempunyai kekayaan sendiri, berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dan memilih pimpinan pemerintahannya. Dalam pasal ini, kalimat mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat (adat salingka nagari) diakui (recognized seperti apa adanya) dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia ditinggalkan, sehingga nagari dapat berarti nagari yang disusun baru, bukan nagari seperti apa adanya.

Adapun struktur pemerintahan nagari yang diamanatkan dalam perda No. 9 tahun 2000 (pasal 4) adalah: ”untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat di nagari, dibentuk Pemerintah Nagari, Badan Perwakilan Anak Nagari dan Badan Musyawarah Adat dan Syarak Nagari”. Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur dalam struktur pemerintahan nagari:

1. Pemerintahan nagari dipimpin oleh Wali Nagari yang dipilih lansung oleh warga masyarakat nagari, termasuk para perantau yang sedang berada di nagari, dibantu oleh sekretaris nagari dan perangkat nagari lainnya.

2. Badan Perwakilan Anak Nagari terdiri dari anggota-anggota yang dipilih oleh warga masyarakat nagari.

(38)

3. Badan Musyawarah Adat dan Syarak Nagari terdiri dari utusan Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang dan Komponen Masyarakat lainnya yang tumbuh dan berkembang dalam nagari

Ketentuan mengenai struktur pemerintahan nagari selanjutnya mengalami perubahan, dengan dikeluarkannya Perda No. 2 tahun 2007. Berdasarkan perda yang terbaru ini, lembaga dalam pemerintahan nagari hanya terdiri dari Wali Nagari (beserta perangkatnya) dan Badan Musyawarah Nagari (Bamus Nagari). Selanjunya dalam pasal 12 disebutkan bahwa anggota Bamus Nagari terdiri dari unsur ninik mamak/tokoh adat/kepala suku/penghulu, alim ulama/tokoh agama, cadiak pandai/ cendikiawan, bundo kanduang/tokoh perempuan dan komponen masyarakat lainnya yang tumbuh dan berkembang dalam nagari bersangkutan dengan mempertimbangkan representasi jorong (dusun) yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat.

Tujuan dari Sistem Pemerintahan Nagari sebagai subsistem terendah dari sistem pemerintahan RI harus singkron dengan tujuan dari negara Indonesia, Pemerintahan Propinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota. Menurut konsideran (menimbang) UU No. 34/2004, dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat UUD RI Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas perbantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peranserta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. Bahwa efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan golobal dengan memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara.

Uraian di atas menyimpulkan bahawa tujuan penyelenggaraan pemerintahan nagari adalah untuk mewujudkan masyarakat nagari yang adil dan

(39)

makmur (sejahtera) dengan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan (adat salingka nagari), melalui peningkatan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraannya (Abna B, 2008).

Dalam konteks otonomi, nagari yang dipahami sebagai sebuah pemerintahan terendah, pada prinsipnya merupakan republik-republik kecil, yang dalam peraturan perudang-undangan disebutkan sebagai “kesatuan masyarakat hukum” yang mempunyai makna sebagai masyarakat yang mengatur dirinya sendiri (self governing community). Konsep-konsep itu digunakan untuk memahami otonomi. Otonomi sendiri sering dipahami sebagai hak dan kewenangan mengatur serta mengurus rumah tangganya sendiri dan kepentingan masyarakat setempat.

Mengatur berarti membuat dan melaksanakan peraturan yang mengikat warga, atau menentukan batas-batas yang boleh dilakukan oleh warga. Di nagari, misalnya, mempunyai aturan adat yang sangat kuat dalam hal pengelolaan (terutama tentang aturan tentang pembatasan penjualan) tanah pusako. Pada prinsipnya aturan lokal dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan hubungan antar manusia dengan alam dan Tuhan. Sementara konsep “mengurus” berarti mengelola barang-barang publik (tanah, air, hasil hutan, pasar, tempat ibadah, dan lain-lain) untuk kepentingan bersama dengan menggunakan hukum adat setempat. Konsep mengurus berarti mencakup kegiatan menggunakan membagi, merawat dan lain-lain.

Menurut Eko S (2005), terdapat tiga unsur pentimg yang terkandung dalam otonomi lokal, yaitu: pertama, keleluasaan lokal untuk mengambil keputusan dalam rangka mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan kebutuhan dan maspirasi masyarakat. Kedua, kekebalan dari “campur tangan” pemerintah (intervensi) pemerintah yang bisa mengganggu keleluasaan dan menghambat kemandirian. Dalam otonomi lokal, pemerintah tidak campur tangan, tetapi memberikan “uluran tangan”, jika campur tangan berarti mengurusi hal-hal yang bukan menjadi urusannya, maka “uluran tangan” berarti berperan sebagai fasilitator dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kemandirian. Ketiga, kemampuan (kapasitas) lokal untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri untuk

(40)

mencapai tujuan-tujuan seperti, meningkatkan kesejahteraan, kemandirian, pemerintahan yang baik, pemberdayaan, dan lain-lain.

2.5. Konsep Pemerintahan Desa

Berdasarkan UU No5 tahun 1979, desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah lansung di bawah camat dan berhak untuk mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hak menyelenggarakan rumahtangganya dalam pengertian ini bukanlah merupakan hak otonomi, bahkan UU No 5 tahun 1979 mensyarakatkan pemisahan administrasi desa dari hak adat istiadat dan hak asal usul. UU ini memang dibuat untuk menyeragamkan pemerintahan desa karena pengaturan yang tidak seragam mengenai pemerintahan desa dianggap dapat menjadi hambatan untuk melaksanakan pembinaan dan pengendalian yang intensif guna peningkatan taraf hidup masyarakat, oleh karena itu secara tegas dinyatakan bahwa kebijakan mengenai desa diarahkan pada penyeragaman bentuk dan susunan pemerintahan desa dengan corak nasional

Pengaturan mengenai desa mengalami perubahan seiring dengan terbitnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang ini secara nyata mengakui otonomi desa. Otonomi yang dimiliki oleh desa menurut UU No. 22 Tahun 1999 adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya bukan berdasarkan penyerahan wewenang dari Pemerintah. Sehingga yang disebut Desa atau nama lainnya, yang selanjutnya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di daerah kabupaten. Dengan demikian, otonomi yang dimiliki desa adalah otonomi asli, yaitu otonomi yang berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat. Sehingga dalam kenyataannya pasti akan timbul berbagai keanekaragaman, baik dari segi nama, susunan pemerintahan, maupun bentuk-bentukan geografisnya. Tegasnya, terdapat keadaan-keadaan khusus yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dari sinilah sebenarnya prinsip-prinsip "Kebhinekaan" itu ada dan berkembang secara nyata

(41)

dalam masyarakat. Sehingga secara riil hak-hak, asal-usul, dan istiadat dihormati sebagai modal pembangunan desa.

Pengaturan mengenai desa kembali mengalami perubahan seiring dengan terbitnya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pengaturan mengenai desa di dalam UU No. 32 Tahun 2004 kemudian ditindaklanjuti oleh PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa.

Berkaitan dengan otonomi daerah, bagi pemerintah desa; yang keberadaannya berhubungan langsung dengan masyarakat dan sebagai ujung tombak pembangunan. Desa semakin dituntut kesiapannya baik dalam hal merumuskan kebijakan desa (dalam bentuk Perdes), merencanakan pemba-ngunan desa yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta dalam memberikan pelayanan rutin kepada masyarakat. Demikian pula dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan inovasi masyarakat dalam mengelola dan menggali potensi yang ada sehingga dapat menghadirkan nilai tambah ekonomis bagi masyarakatnya. Dengan demikian, maka cepat atau lambat desa-desa tersebut diharapkan dapat menjelma menjadi desa-desa yang otonom, yakni masyarakat desa yang mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan yang dirasakannya.

Salah satu ukuran keberhasilan pelaksanaan otonomi desa adalah pemerintah desa semakin mampu memberikan pelayanan kepada masyarakatnya dan mampu membawa kondisi masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik. Dengan terselenggaranya Otonomi Desa, maka hal itu akan menjadi pilar penting Otonomi Daerah. Keberhasilan Otonomi Daerah sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya Otonomi Desa. Namun demikian, realitas yang terjadi pada era otonomi dan desentralisasi yang muatannya sarat akan nilai-nilai demokrasi dan transparansi ini cenderung sering menghadirkan permasalahan yang kompleks di desa. Pada era tersebut, proses politik berjalan seperti lebih cepat daripada kemampuan untuk mengelola manajemen pemerintahan desa yang otonom (Usman B, 2007).

2.6. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai pemerintahan nagari ini bukanlah hal yang baru. Sebelumnya telah ada beberapa kajian/penelitian mengenai pemerintahan nagari.

(42)

Pencantuman penelitian terdahulu ini bertujuan untuk memperlihatkan pada posisi mana penelitian yang akan dilakukan ini berada. Berikut ini dipilih dua hasil kajian mengenai pemerintahan nagari. Pemilihan kedua hasil kajian ini didasarkan atas pertimbangan, bahwa informasi yang tercakup pada kedua kajian ini telah cukup mewakili hasil kajian lainnya, berikut rinciannya:

1. Studi Pelaksanaan Pemerintahan Nagari dan Efektifitasnya Dalam Pelaksanaan Pemerintahan di Sumatera Barat oleh Sjofjan Thalib tahun 2002 (dalam Abna, 2008)

Pada tahun 2002, diawal pembentukan pemerintahan nagari, Sjofjan Thalib melakukan kajian mengenai pelaksanaan pemerintahan nagari dengan mengambil kasus di beberapa nagari. Hasil penelitian tersebut diulas oleh Abna (2008) sebagai berikut:

a. Perda-perda kabupaten yang telah terlaksana cukup efektif dalam proses kembali ke nagari dan palaksanaan tugas keadministrasian bagi masyarakat nagari, ditandai oleh tidak adanya keluhan dari masyrakat yang berurusan dengan pemerintah nagari.

b. Berkenaan dengan tugas-tugas lembaga kenagaraian, perencanaan serta pelaksanaan pemberdayaan nagari/masyarakatnya belum berjalan seperti yang diharapkan, karena personalianya yang begitu banyak menunggu juklak dan juknis dari tugas mereka;

c. Kendala yang ditemui setelah kembali ke dalam Pemerintahan Nagari antara lain: terjadinya kesalahpahaman dalam memandang nagari sebagai masyarakat hukum adat teritorial saja, pada hal nagari adalah persekutuan hukum adat genelogis matrilineal teriotorial, sehingga anak nagari yang dirantau sebagai SDM potensial tidak diikutsertakan dalam proses kembali ke nagari dan perencanaan pembangunan nagari; banyaknya lemabaga kenagarian yang ditetapkan dalam perda-perda yang menyimpang dari struktur asli, sehingga diperlukan banyak dana dan tenaga untuk menjalankan tugas mereka; terjadinya kebingungan masyarakat nagari karena nagari sekarang yang ditata secara rinci melalui perda kabupaten dengan menerapkan prinsip trias politica yang tidak dikenal mereka sebagai nagari baru bentukan pemerintah atasan;

Gambar

Tabel 1. Jumlah nagari di Sumatera Barat
Gambar 2. Perubahan nagari Tipe 2
Gambar 4. Proses Pembentukan Nagari
Gambar 5. Bagan alur pemikiran transformasi pemerintahan nagari
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan rencana pencegahan pandemi negara, para mahasiswa yang tiba di Taiwan hanya dapat melakukan karantina selama 14 hari (tidak termasuk tanggal ketibaan) di

Pemodelan bentuk kasko merupakan tahap awal dalam desain freeboard minimum (f=D-T), dimana pemodelan ini penting untuk mengetahui bentuk dan karakteristik model

atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penambahan Daun Trembesi (Samanea Saman) Dengan Level

Pada perawatan kuretase gingiva pasien pada regio gigi 42 dan 32 dilakukan kembali scaling dan root planning untuk memastikan tidak ada.partikel kalkulus yang

Variabel Tingkat Suku Bunga Tabungan Bank Konvensional (SBT) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap jumlah tabungan mudharabah PT Bank Syariah Mandiri periode

penelitimelihat bahwa lembaga DPRDmempunyai peran penting dalam lingkungan daerahnya dalam menentukan arah pembangunan yang baik, peneliti melihat ada beberapa

Hal ini tidak lepas dari adanya bantuan dari berbagai pihak dan juga sarana yang tersedia sebagai penunjang saya dalam penulisan artikel ini, untuk itu