• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi Idul Fitri dari Tradisi Ritual Menjadi Tradisi Virtual

Iedul Fitri Di Masa Pandemi Covid 19 Tranformasi Tradisi Ritual Menjadi

B. Transformasi Idul Fitri dari Tradisi Ritual Menjadi Tradisi Virtual

Mentransformasikan ajaran agama dari perspektif “melangit” menjadi “membumi” sudah menjadi keharusan. Mendudukkan ajaran agama dari sekedar “ritual” menjadi “aktual” perlu segera dilakukan. Agama yang dipahami dari konteks teosentris menjadi antroposentris harus dimasifkan. Hal ini untuk memastikan bahwa memang ajaran agama memiliki peran vitalnya dan sesuai kaedah shalih li kulli zamanin wa

makanin, relevan dengan segala ruang dan waktu.

Dalam persoalan amaliyah fiqhiyah seperti halnya tata cara salat Idul Fitri dan lainnya, beberapa alternatif dalam mengimplementasikannya demikian terbuka. Ruang dialog antara amaliyah fiqhiyah dengan konteks konstruksi sosial lokalitasnya menjadi keniscayaan. Kaedah fiqhiyah menyebutkan taghayyur al-ahkaam bi taghayyur al-azminah wa al-amkinah, perubahan hukum sangat dipengaruhi oleh perubahan ruang waktu dan tempat. Berdasarkan kaedah ini, maka pelaksanaan tata cara ibadah Idul Fitri dan ibadah-ibadah lainnya sungguh sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakatnya.Dalam konteks masa pandemi Covid-19, memahami ajaran agama secara nalar sehat sangat dipentingkan. Jangan sampai, dalam situasi Covid-19 yang jelas-jelas mengancam kelangsungan kehidupan kemanusiaan itu diperparah dengan faham dan implementasi ajaran agama yang kurang tepat. Di sinilah, pentingnya penggunaan akal (al-aql) dan perspektif agama dengan baik.

Jika mengaca pada sejarah, Idul Fitri oleh Rasulullah SAW di antaranya dijadikan sebagai momentum untuk menyelesaikan persoalan umat, yakni mengangkat derajat anak yatim. Dalam sebuah riwayat yang cukup populer dikisahkan bahwa

Rasulullah mengangkat anak yatim dari sahabatnya yang gugur membela agama, tetapi mengalami nasib yang malang. Sang ibunda anak yatim itu telah menikah lagi, sementara harta warisan peninggalan almarhum ayahnya telah dihabiskannya, bahkan sang ayah tirinya telah mengusir anak yatim tersebut. Maka, Rasul pun mengangkat anak yatim itu untuk diposisikan sebagaimana anak kandungnya sendiri. Tentu, sang anak yatim itu merasakan kebahagiaan tersendiri.

Keteladanan Rasulullah pada saat Idul Fitri, sebagaimana dinyatakan di atas, menjadi penting diperhatikan. Rasulallah SAW menempatkan Idul Fitri sebagai bagian dari proses menghargai hak-hak kemanusiaan dan membantu masyarakat tertindas, dalam hal ini anak yatim, demikian nyata. Bukan pada aspek asesoris dalam beridul fitri, seperti mengenakan baju baru atau melaksanakan salat di masjid, tetapi lebih pada yang substanstif. Sebuah syair menyatakan laysa al-‘ied liman labisa al-jadiid. Innama al-‘ied liman thaa’atuhu taziid. (Hari raya itu bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru, akan bagi orang yang ketaatannya selalu bertambah).

Untuk itu, memahami dan mengimplementasikan agama secara rasional menjadi penting. Nabi sendiri pernah bersabda: “al-diinu huwa al’aqlu. Laa diina liman laa ‘aqla lahu”. (Agama adalah akal. Tidaklah beragama bagi orang yang tidak mempergunakan akal dalam memahami agama). Diakui, memang, tidak semua ajaran agama dapat dirasionalisasikan. Ada dimensi, terutama aspek teologis, yang tidak semuanya bisa difahami secara akliyah. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa kita melepaskan rasionalitas dalam beragama, terlebih dalam memahami dari substansi ajaran agama itu sendiri. Melepaskan rasionalitas dalam beragama itu sama artinya melepaskan dari

Kesakralannya__Nur Aini Latifah

fungsi agama. Agama menjadi tidak fungsional, kaku, dan sulit

difahami oleh manusia.3

Dalam situasi wabah pandemi Covid-19, para ahli kesehatan telah banyak memberikan arahan bagaimana proses penularan virus ini dan dampaknya bagi orang yang tertular, yang memang hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya. Kerumunan dan kontak secara fisik merupakan media efektif atas tertukar dan menularkannya virus yang sangat berbahaya ini, dengan dalih apapun termasuk dalam beribadah. Artinya, meski atas nama pelaksanaan beribadah, jika kerumunan dan kontak langsung secara fisik itu terjadi maka potensi tertularnya covid-19 itu sangat tinggi. Jika kita tetap memaksakan diri beribadah idul fitri atau ibadah-ibadah lainnya di masjid, yang berpotensi terjadinya kerumunan dan kontak langsung antara satu orang dengan orang lain, bisa jadi ibadahnya akan menjadi sia-sia. Sebab, ia telah mempertaruhkan keselamatan jiwa manusia yang lebih besar.4

Demikian pula dengan tradisi ritual pada bulan syawal tahun ini mau tidak mau, atau suka tidak suka harus berubah jika kita menginginkan tetap bersilaturahmi dengan kondisi sehat, yaitu dengan menggunakan berbagai media dan sarana komunikasi yang semakin canggih. Kalau selama ini bersilaturmi dengan bertemu langsung dan berjabat tangan maka karena kondisi Covid19 ini kita berubah menjadi tradisi virtual dengan saling mengirimkan ucapan mohon maaf lahir dan bathin serta selamat hari raya dengan berbagai media sosial seperti group

3 Suwendi, Transformasi Idul Fitri di Masa Pandemi Covid-19, Buletin Arrahiem.Id, 2020.

4 Sri Rumiati, Merayakan Idul Fitri 2020 di Tengah Larangan Mudik, Jogjakarta, 2020. Blog.Kompasiana.

WhatsApp, Lina, Skype,Video Call, Face Book dan Instagram untuk

menyampaikan dan bertemu muka. Sehingga kedekatan fisik yang selama ini seolah wajib dilakukan oleh anak-anak sebagai sungkem bakti pada orang tua harus diubah dengan tradisi virtual dengan media online.

Memang rasanya akan berbeda jika kita bandingkan dengan tradisi ritual sungkeman dan saling silaturahmi kepada sanak saudara dan tetangga serta sahabat kerabat semua. Banyak yang mengatakan Lebaran tahun ini seperti kehilangan ruhnya, suasananya sepi, jalanan sepi, tiada keceriaan anak-anak yang sibuk kesana kemari mengumpulkan :angpau: atau sedekah lebaran, aneka makanan kue dan minuman biasanya tersedia di meja tamu, keluarga berkumpul makan ketupat lebaran sambil bermaaf-maafan, Lampu hias menerangi jalanan dan asesoris lebaran terpasang di setiap sudut kampung, dan semua terlihat bahagia dengan wajah-wajah penuh riang gembira dengan memakai busa baru dan semua serba baru. Biasanya suara bedug bertalu-talu diiringi takbir mengumandakan kebesaran Asma Allah pada Malam Takbiran disuarakan menggunakan Toa

Masjid bersahut-sahutan suaranya dari masjid dan

mushola,lebaran dirayakan dengan gegap gempita, namun saat ini suara takbir itu sayup-sayup terdengar lirih karena ada larangan takbir keliling dan menggunakan TOA untuk takbiran. Hati ini terasa terenyuh dengan kondisi ini, namun apa daya jika kita menginginkan sehat dan selamat, terpaksa kita harus menahan diri untuk merayakan kemeriahan dan kegembiraan idul fitri tahun ini dengan kesederhanaan dan suasana pilu, mengharu biru. Serasa tidak seperti lebaran.

Dan peristiwa sedih, jengkel dan seakan tidak bisa menerima dengan Situasi dan kondisi ini, kita alami di Idhul Fitri tahun ini, karena simpang siurnya informasi yang kita terima, hampir saja kita tidak menjalankan sholat Ied. Bagaimana tidak,

Kesakralannya__Nur Aini Latifah

ketika kita berniat sholat Ied di Kampung orang tua kita ternyata semua akses jalan menuju kediaman orang tua kita total di tutup portal serta di jaga oleh beberapa anggota polisi dan warga kampung atau di Lockdown. Bahkan dalam perjalanan kembali pulang kerumah kami dapati hampir semua masjid di pinggir jalan raya sepi tidak mengadakan shalat Ied berjama’ah. Ternyata hal tersebut memang menjadi keputusan Gubernur Jawa Timur dengan membuat peraturan agar tidak melaksanakan sholat Iedul Fitri di masjid atau mushola sehingga sebagian besar Masjid Jami kita beberapa desa tutup. Namun warga dipersilahkan sholat Ied dirumah berjamaah dengan keluarganya sendiri. Meskipun begitu banyak di beberapa desa yang kita lalui, mereka per lingkungan mengadakan sholat Ied berjamaah di jalan-jalan gang kampung dengan akses masuk gang atau jalan tersebut di tutup toatal. Beruntung kami masih sempat balik pulang ke rumah dan sholat Ied dirumah bersama keluarga, Sungguh terasa miris, pilu dan sedih lebaran tahun ini, sunyi senyap.