BAB II DINAMIKA KONFLIK DAN PROSES REUNIFIKASI KOREA
C. Transisi Pemerintahan Kim Jong-Il ke Masa Pemerintahan
Pertemuan bersejarah antara Presiden Kim Dae Jung dari Korea Selatan dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il merupakan titik balik memasuki era baru. Pertemuan puncak itu memiliki arti yang sangat penting bagi Semenanjung Korea karena didasari saling pengertian antara kedua belah pihak, dimna bangsa Korea akan bersama-sama dapat menciptakan perdamaian. Dengan dimulainya hubungan kerjasama maka perang dingin yang ada diseluruh dunia ini akan mencair. Negara dan bangas Korea akan memegang peranan yang besar untuk memberikan sumbangan bagi masyarakat internasional. Sejak adanya reunifikasi yang telah terjalin di Semanjung Korea telah banyak kerjasama ekonomi antar Korea yang terus berlanjut dan menguntungkan, kerjasama tersebut akan meningkatkan kepercayaan diantara keduanya dan dapat meningkatkan kerjasama ekonomi internasional yang sejahtera. . ( Mas’ud & Yang, 2005 )
Kebijakan Sinar Matahari yang dipropokatori Presiden Kim Dae Jung berhasil membuat hubungan kedua Korea menjadi lebih baik, akan tetapi keberhasilan dan perdamaian yang terjalin diantara keduanya tidak berlangsung lama. Pada tanggal 17 Desember 2011 Presiden Korea Utara Kim Jong-Il wafat disebabkan adanya serangan jantung dan juga kelelahan fisik serta mental karna beratnya mengemban tugas Negara. Pemerintahan Korea Utara pun segera digantikan oleh Putra bungsu Presiden Kim Jong-Il yaitu Kim Jong-Un. Menurut berita yang didapat, sebelum wafat Presiden Kim Jong-Il telah menunjuk Putra bungsunya Kim Jong-Un untuk menggantikannya memerintah Korea Utara. Kim
12
Jong Un adalah Presiden yang masih sangat muda saat baru menjabat, yaitu berusia 28 tahun saat menjadi Presiden Korea Utara. Kim Jong-Un memiliki karakter sangat fasis, nasionalis, dan emosinya seringkali meletup-letup dalam memimpin Korea Utara.
Sejak tahun 2010 Presiden Kim Jong-Il telah mempersiapkan putra bungsunya Kim Jong-Un untuk mengambil alih dan memimpin militer Korea Utara, yang merupakan tulang punggung dari Negara Komunis ini. Kim Jong-Un telah diberi pangkat Jendral Bintang 4 dan telah menjabat sebagai Wakil Direktur Komisi Pusat Militer Korea Utara. Semenjak kecil Kim Jong-Un mengenyam pendidikan di Swiss, bersekolah di Sekolah Internasional bahasa inggris
menggunakan nama samaran “Pak-chol” dan digambarkan sebagai seorang siswa
yang ambisius.(Murtiaja, 2010) Terpilihnya Kim Jong-Un sebagai Presiden Korea Utara menimbulkan kecemasan atas situasi Semenanjung Korea dan melihat nasib bangsa Korea Utara dibawah kepemimpinan Kim Jong-Un, terbukti bahwa dirinya merupakan sosok pemimpin yang tergolong masih sangat muda yang masih membutuhkan banyak pengalaman didalam perpolitikan eksternal maupun internal. Namun, Presiden Kim Jong-Un masih tetap melakukan konsolidasi sebagai pembuktian bahwa dirinya adalah seorang Pemimpin yang dapat dihandalkan dengan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan Presiden baru Korea Utara ini nampak lebih terbuka kepada dunia dalam menciptakan stabilitas di kawasan Asia Timur khususnya di Semenanjung Korea. (Ariyadi, 2013) Berbeda dengan Ayah dan juga Kakeknya yang lebih tertupu dan otoriter.
13
Permasalahn demi permasalah timbul di Korea Utara sejak Presiden Kim Jong-Un masih melanjutkan kebijakan Ayahnya yaitu Military Firstyang menjadikan nuklir sebagai pertahanan diri dan juga alat politik dalam mencapai kepentingan Korea Utara dalam hal bargaining positionselagi Korea Utara memiliki nuklir, hal tersebut dibuktikan dengan meluncurkan roketnya dan melakukan uji coba nuklir yang dapat menimbulkan ketegangan atas tindakan yang dilakukan Presiden Kim Jong-Un. (Ariyadi, 2013) Presiden Kim Jong-Un terkenal dengan sikapnya yang kejam, ketika Presiden Kim Jong-Il memenjarakan musuh-musuhnya akan tetapi Kim Jong-Un lebih memilih untuk menghabiskannya. Meskipun mendiang Ayah dan Kakeknya Kim II Sung dianggap kejam oleh banyak pihak internasional, Kim Jong-Un memerintah dengan tingkat kekejaman yang lebih tinggi. Dalam tiga tahun pemerintahannya sudah beberapa anggota elit Korea Utara telah dieksekusi, pejabat tinggi Korea Utara tidak mengerti jalan pemerintahannya dan penderitaan rakyat Korea Utara semakin dirasakan dengan turunya perekonomian Negara. (Indonesia, 2015)
Semenanjung Korea semakin memanas dengan adanya aksi uji coba nuklir dari Korea Utara, uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara menimbulkan beberapa macam reaksi dari dunia internasional. Kebijakan nuklir Kim Jong-Un yang pertama dilakukan pada tanggal 19 Desember 2011. Terlepas dari pro dan kontra reaksi komunitas internasional, uji coba nuklir yang dilakukan Presiden Kim Jong-Un merupakan bentuk diplomasi internasional untuk menyuarakan kepentingan nasional Korea Utara agar didengar komunitas internasional. Terutama dalam menghadapi sanksi ekonomi dari AS, terasing dari dinamika
14
politik internasional, dan kesulitan untuk berintegrasi dengan komunitas internasional. Tentu saja hal ini membuat Korea Selatan mengalami “Security delima” meskipun Korea Utara memberikan prioritas utama pada peningkatan kekuatan militernya, akan tetapi tetap saja Korea Selatan meminta Amerika Srikat untuk mengatasi hal tersebut. Aksi yang dilakukan Kim Jong-Un tidak lain sebagai ancaman kepada Amerika Srikat dan Korea Selatan, dan Kim Jong-Un terus menerus melakukan peluncuran rudal buatan Negaranya. (Fachri, 2015)
Pemerintahan Korea Utara dibawah ke Pemimpinan Kim Jong-un yang semakin agresif dengan melakukan uji coba nuklir kembali pada tanggal 03 Maret 2014. Amerika Srikat dan Korea Selatan selalu waspada dengan aktivitas yang dilakukan Korea Utara yang dapat mengganggu stabilitas keamanan global. Amerika Srikat dan Korea Selatan mencari cara untuk mengatasi uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara dengan melakukan latihan gabungan militer digunakan untuk mencegah dan menangkal aktivitas uji coba rudal Korea Utara. Amerika Srikat mengerahkan 12.500 pasukan ke Korea Selatan sebagai salah satu bentuk respon Amerika Srikat terhadap uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara pada pemerintahan Kim Jong-Un. Pasukan yang dikirim Amerika Srikat telah ikut berpartisipasi dalam menjaga wilayah di Korea Selatan. (Fachri & Septia, 2015)