Hari/tanggal : Rabu, 8 April 2015
Waktu :10.30 – 11.30 WIB Tempat : Ruang BK SMP Negeri 3
Informan : Guru BK/Pendamping SMP Negeri 3
No. Pertanyaan Jawaban
1.
Sarana dan prasarana apa yang dimiliki sekolah dalam menyelenggarakan program tersebut?
Pemko pernah memberikan kursi roda sebanyak 4 buah sebagai alat bantu bagi ABK namun belum kami gunakan. Untuk prasarana lainnya belum ada seperti ruang khusus dll.
2.
Apa saja jenis kebutuhan khusus siswa yang dilayani dalam program tersebut?
Jenis kebutuhan khusus/kelainan dari ABK di sini hanya tuna daksa (tidak bisa berjalan) dan slow learner.
3.
Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan program tersebut di sekolah?
Program tersebut melibatkan semua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, komite sekolah, pengawas sekolah, wakasek (bidang SIM, Kesiswaan, Kurikulum, Sarana Prasarana, dan Humas), seluruh guru kelas, guru BK/pendamping dan walikelas, dan staf TU.
4.
Bagaimana keterlibatan pakar/ahli dalam penyelenggaraan program tersebut?
Sekolah belum pernah mendapatkan bantuan tenaga profesional. Kami hanya mengandalkan kemampuan dari guru BK saja. 5. Bagaimana ketersediaan Guru Pendamping Khusus (GPK) yang memang berkompetensi dalam menangani ABK di sekolah tersebut?
Di sini masih belum ada GPK jadi penanganan/pendampingan ABK langsung saya dan 4 guru BK lainnya yang bertanggungjawab. Jadi, guru BK bertugas langsung dalam menangani dan mendampingi ABK di sekolah.
139
6.Apakah guru reguler dan atau Anda
memperoleh pelatihan khusus untuk
meningkatkan kompetensi?
Saya sudah mengikuti pelatihan dan workshop sebanyak 3 kali perihal pendidikan inklusif yang diselenggarakan oleh Disdikpora. Saya pernah mendapat tugas dari Kepala Disdikpora untuk mengikuti kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) penyusunan kurikulum PK-PLK Prov. Kalteng tahun 2015 pada tanggal 23-28 Maret 2015 lalu. Tujuan dari kegiatan ini salah satunya adalah memeberikan bimbingan teknis penyusunan kurikulum kepada guru-guru SLB dan sekolah inkusif dalam melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah dengan baik dan benar.
7.
Apakah Anda sudah menyusun perencanaan pendampingan sebelum mendampingi ABK?
Tidak ada perencanaan atau penyusunan materi/lembar kerja khusus bagi ABK secara tertulis. Semua dilakukan sesuai jadwal kerja atau piket kami selaku guru BP dalam melayani jika ada siswa yang bermasalah atau perlu pendampingan khusus di ruang BK secara berkesinambungan. Namun jika ada hal yang krusial dan mendadak dari guru kelas yang membutuhkan penanganan atau pendampingan khusus dari kami maka kami akan mendatangi kelas dan langsung menangani ABK tersebut.
8.
Bagaimana proses pendampingan di dalam atau luar kelas?
Kami memberi bimbingan dan pendampingan secara berkesinambungan. Kemudian, kami membuat catatan khusus dari proses tiap siswa. Dengan harapan, melalui catatan ini kami bisa menilai permasalahan dan perkembangan ABK.
9.
Dari segi non akademik apakah kegiatan
ekstrakurikuler bagi siswa reguler juga diperuntukkan bagi
Semua siswa di sini memiliki kebebasan untuk memilih dan mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, termasuk diikuti oleh ABK. Jadi kegiatan ini
140
siswa berkebutuhan khusus?
terbuka untuk semua siswa sesuai dengan kemampuan, hobi dan bakat dari anak itu sendiri.
10.
Apakah sarana dan prasarana yang ada sudah bermanfaat bagi ABK?
Sejauh ini karena jenis ketunaan atau kelainan yang dimiliki ABK di sini hanya ada 2 saja, jadi ABK yang tuna daksa seperti seorang ABK yang lumpuh maka ada alat bantu kursi roda yang disediakan oleh orang tuanya sendiri. Meskipun, sekolah sudah mendapat bantuan kursi roda dari Pemko, namun karena belum adanya pemeriksaan dari Dinas terkait maka kami belum berani menggunakan kursi ini untuk anak tersebut.
Sejauh ini sarana berupa kursi roda sudah ada namun belum digunakan dan prasarana masih belum ada juga. Sehingga manfaat pengadaannya pun belum terlihat.
11.
Apakah sarana dan prasarana yang ada sudah bermanfaat bagi Anda dalam
mendampingi/melayani ABK?
Manfaat dari pengadaan sarpras belum terlihat begitu sigifikan. Hal ini dikarenakan belum adanya pengarahan dan penggunaan alat bantu korsi roda. Selain itu, prasarana juga belum ada sehingga belum ada manfaat yang terlihat dari segi prasarana. Sejauh ini sekolah hanya menggunakan dan memanfaatkan sarpras yang ada dari sekolah.
12.
Apakah yang menjadi kendala dalam
pelaksanaan program tersebut di sekolah?
Kendala yang ada adalah GPK belum ada. Kemudian, guru mata pelajaran (misal mapel olahraga) belum mampu membuat RPP adaptif yaitu RPP khusus bagi ABK. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa guru yang belum mendapatkan pelatihan, sosialisai atau workshop sehingga wawasan tentang penanganan ABK belum ada. Selain itu, belum adanya pengawasan atau kegiatan monitoring khusus dari Pemko terhadap proses pelaksanaan
141
program di sekolah. Hal ini berakibat pada salah satunya yaitu penggunaan kursi roda yang belum bisa diarahkan atau dilaksanakan.
13. Apa harapan Anda bagi pelaksanaan program tersebut di sekolah?
Harapan saya semoga kendala-kendala di atas tadi bisa teratasi segera mungkin demi menunjang pelaksanaan program tersebut.
14.
Bagaimana
perkembangan atau prestasi siswa dari segi akademik maupun non akademik ketika program sedang berjalan?
Sejauh ini, sekolah masih menggunakan kurikulum umum dan standar KKM yang sama bagi ABK yang slow learner. ABK yang slow learner memakai kurikulum akomodatif standar nasional di bawah rerata sementara tuna daksa memakai kurikulum reguler atau umum kurikulum 2013. Pencapaian prestasi untuk ABK slow learner dikatakan masih standar atau hanya rata-rata KKM. Sementara anak tuna daksa juga mencapai standar KKM sesuai kurikulum umum/reguler. Dari bidang non akademik, memang ada beberapa ABK yang berprestasi misal dalam bidang keterampilan memasak.