Hari/tanggal : Rabu, 27 Mei 2015
Waktu : 09.00 – 10.00 WIB
Tempat : Ruang Kepala SMA Negeri 4 Informan : Kepala SMA Negeri 4
No. Pertanyaan Jawaban
1.
Bagaimana deskripsi dari sekolah yang diteliti?
Sekolah ini berdiri pada tahun 1994.
2. Apa yang menjadi visi dan misi sekolah?
Visinya adalah cerdas spiritual, cerdas sosial, cerdas terampil, cerdas intelektual, dan berbasis saintifik, budaya dan lingkungan. Misinya adalah (1) melaksanakan, mengamalkan ajaran agama yang dianutnya dan bersikap toleran, (2) mewujudkan rasa kebersamaan tanpa diskriminatif, (3) mengembangkan kreatifitas warga sekolah dalam berbagai bidang, (4) menciptakan insan berprestasi dan budaya lokal dan cinta lingkungan, dan (5) menanamkan nilai-nilai kearifan budaya lokal dan cinta lingkungan. 3. Apa yang melatarbelakangi pelaksanaan program pendidikan inklusif di sekolah?
Sebelum pencanangan kota Palangka Raya sebagai Kota Pendidikan Inklusif, sekolah ini sudah diundang dan ditunjuk dari
pilot project yang diselenggarakan
oleh Pemerintah Pusat bersama Pemprov untuk menjalankan program pendidikan inklusif (perwakilan tingkat SMA) pada tahun 2009. Jadi sekolah ini sudah lama memiliki kepedulian untuk menerima semua siswa tanpa diskriminasi, apakah siswa tersebut
146
normal atau berkebutuhan khusus. Hal ini juga berkaitan dengan banyaknya permintaan dan kepercayaan orang tua ABK yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah ini.
Hingga pada Oktober 2014 kemarin, Disdikpora mengeluarkan kebijakan untuk menjadikan Kota Palangka Raya sebagai Kota Pendidikan Inklusif, maka sekolah kami pun sudah siap untuk menjalankan tugas itu meskipun masih banyak hambatan. Sekarang jumlah ABK makin bertambah jadi perlu penanganan khusus yang lebih intens yang harus dipersiapkan oleh sekolah berdasarkan bantuan dari Dinas terkait.
4.
Siapa yang menjadi sasaran dari program tersebut?
Sasaran dari program ini adalah ABK yang memiliki kebutuhan khusus atau kelainan tingkat ringan dan bisa ditolerir oleh sekolah.
5.
Siapa yang menjadi sumber peserta didik dari program
tersebut?
Sumber peserta didik adalah ABK yang memiliki kebutuhan khusus/kelainan kelas ringan dan masih bisa ditolerir. Hal ini disebabkan karena kemampuan sekolah masih terbatas baik dari segi SDM atau GPK dan sarpras. Jadi kami menerima ABK yang masih bisa kooperatif dan mandiri. Jika, ABK tergolong memiliki kelainan/ketunaan yang berat, belum bisa kooperatif dan mandiri maka kami mengusulkan kepada orang tua untuk menyekolahkan anak tersebut di sekolah atau pendidikan khusus. Oleh karena itu, pada saat proses penerimaan peserta didik baru, sekolah ini mendapat bantuan dari psikolog yang bertugas mengidentifikasi jenis kelainan/ketunaan peserta didik baru tersebut.
147
dalam
penyelenggaraan program tersebut?
bahwa sekolah ini menerima ABK sehingga mereka bisa menyekolahkan anaknya di sini. Dengan demikian, sekolah mendapat kepercayaan tinggi dari masyarakat luas bahwa sekolah ini bisa menjalankan tugasnya dalam memberikan pelayanan kepada ABK walau belum maksimal.
7.
Sarana dan prasarana apa yang dimiliki sekolah dalam menyelenggarakan program tersebut?
Lepas dari sarpras yang memang sudah ada dan disediakan oleh sekolah sendiri, sekolah ini juga pernah mendapatkan bantuan dari pusat perihal pelaksanaan program pendidikan inklusif sejak tahun 2009 berupa alat bantu seperti kacamata, tongkat pandu/alat bantu jalan, dan laptop. Hanya dari segi prasarana masih belum lengkap. Jadi sejauh ini, sekolah masih cukup bisa memenuhi kebutuhan ABK sesuai dengan kebutuhan/ketunaan mereka. 8.
Apa saja jenis kebutuhan khusus siswa yang dilayani dalam program tersebut?
Jenis ketunaan ABK di sini ada 6 seperti tuna daksa, tuna rungu ringan, hiperaktif, autis, low vision dan slow learner.
9.
Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan program tersebut di sekolah?
Pelaksanaan program ini melibatkan kerja sama dan dukungan dari semua pihak di sekolah seperti saya sendiri, komite, pengawas, wakasek, walikelas, guru kelas/mapel dan guru BK/pendamping bahkan pihak luar seperti PK-PLK dan psikolog.
10. Bagaimana keterlibatan pakar/ahli dalam penyelenggaraan program tersebut?
Dalam proses penerimaan peserta didik baru, sekolah ini mendapat bantuan dari psikolog dalam mengidentifikasi jenis ketunaan peserta didik baru. Selain itu, sekolah ini pernah mendapat pendampingan PK-PLK oleh perguruan tinggi dalam bentuk pelaksanaan workshop/lokakarya yang dilaksanakan di sekolah ini pada tanggal 22 Nopember 2013 lalu.
148
11.Berasal dari mana sumber dana
pembiayaan program tersebut di sekolah?
Untuk saat ini, dana yang digunakan dalam melayani ABK dan menjalankan program pendidikan inklusif di sekolah ini, berasal dari dukungan APBD yang seyogyanya secara umum juga digunakan dalam melayani siswa reguler. Secara khusus bagi pelayanan ABK, sekolah belum mendapatkan bantuan/dana khusus. 12. Bagaimana ketersediaan Guru Pendamping Khusus (GPK) yang memang berkompetensi dalam menangani ABK di sekolah tersebut?
Sekolah ini belum memiliki GPK. Oleh karena itu, ABK di sini hanya dibimbing langsung dari guru BK sebagai pendamping, di samping dukungan dan penanganan dari guru kelas dan walikelas.
13.
Apakah guru reguler dan atau guru BK/pendamping memperoleh pelatihan khusus untuk
meningkatkan kompetensi?
Sebagian guru pernah mendapatkan pelatihan termasuk saya juga pernah ambil bagian.
14.
Apakah terdapat monev yang
dilakukan oleh dinas pendidikan setempat melalui pengawas sekolah terhadap program tersebut?
Sekolah ini mendapat surat dari Disdikpora yang berisi permohonan dan pemberitahuan agar setiap sekolah segera mengidentifikasi tiap peserta didik yang memiliki kelainan, melakukan pendataan sesuai format dan segera melaporkan ke Disdikpora untuk segera ditindaklanjuti. Surat ini diberikan kepada sekolah pada bulan Nopember 2014.
15.
Dari segi non akademik apakah kegiatan
ekstrakurikuler bagi siswa reguler juga diperuntukkan bagi siswa berkebutuhan khusus?
Semua siswa di sini tanpa terkecuali boleh mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang disesuaikan dengan bakat, kemampuan dan ketertarikan siswa. Di sini banyak ABK juga yang mengikuti kegiatan tersebut.
16.
Apakah yang menjadi kendala dalam
pelaksanaan program tersebut di sekolah?
Kendala yang dihadapi sekolah dalam rangka pelaksanaan program pendidikan inklusif di antaranya adalah belum adanya GPK.
149
Kemudian ketersediaan prasarana juga belum lengkap.
17.
Apa harapan Anda bagi pelaksanaan program tersebut di sekolah?
Mengingat sekarang jumlah ABK semakin bertambah, maka Dinas terkait harus memberikan perhatian yang lebih intens terhadap penyelenggaraan program ini. Contohnya, Dinas memaksimalkan SDM khusus seperti GPK untuk tiap sekolah, pemberian atau pengadaan pelatihan untuk guru-guru, dan pengadaan bantuan sarpras sesuai kebutuhan ABK. Dengan kata lain, sinkronisasi semua aspek harus matang dan terlaksana sehingga sekolah bisa terbantu dalam menjalankan tugasnya dan ABK bisa terlayani dengan maksimal dan sebagaimana mestinya.
18.
Bagaimana
perkembangan atau prestasi siswa dari segi akademik maupun non akademik ketika program sedang berjalan?
Sejauh ini, perkembangan ABK bisa dikatakan baik. Banyak ABK yang mengalami perubahan dan perkembangan seperti lebih percaya diri, mandiri dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Secara akademik, prestasi ABK cukup baik bahkan memang ada yang baik. Dari segi non akademik, ABK cukup berprestasi dan membanggakan. Baru-baru saja ada salah satu ABK kami yang mengikuti lomba OSN di Yogyakarta sebagai perwakilan provinsi Kalteng. Ini merupakan kebanggaan bagi kami di sekolah. Tidak hanya itu, bahkan pada tahun-tahun sebelumnya yakni sejak 2009 sekolah ini menjalankan program pendidikan inklusif, sekolah mampu meluluskan ABK dengan prestasi akademik dan non akademik yang baik. Bahkan lulusan ini banyak yang bisa melanjutkan ke jenjang studi yang lebih tinggi.
150
rungu ringan, hiperaktif, autis, low
vision dan slow learner.