Isu-isu strategis dalam pengelolaan air limbah permukiman di Indonesia antara lain:
1. Akses masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan air limbah permukiman Sampai saat ini walaupun akses masyarakat terhadap prasarana sanitasi dasar mencapai 90,5% di perkotaan dan di pedesaan mencapai 67% (Susenas 2007) tetapi sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah setempat tersebut belum memenuhi standar teknis yang ditetapkan. Sedangkan akses layanan air limbah dengan sistem terpusat baru mencapai 2,33% di 11 kota (Susenas 2007 dalam KSNP Air Limbah).
2. Peran Masyarakat
Peran masyarakat berupa rendahnya kesadaran masyakat dan belum diberdayakannya potensi masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan air limbah serta terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman berbasis masyarakat.
3. Peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan meliputi lemahnya penegakan hukum dan belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang dibutuhkan
dalam sistem pengelolaan air limbah permukiman serta belum lengkapnya NSPM dan SPM pelayanan air limbah.
4. Kelembagaan
Kelembagaan meliputi kapasitas SDM yang masih rendah, kurang koordinasi antar instansi dalam penetapan kebijakan di bidang air limbah, belum terpisahnya fungsi regulator dan operator, serta lemahnya fungsi lembaga bidang air limbah.
5. Pendanaan
Pendanaan terutama berkaitan dengan terbatasnya sumber pendanaan pemerintah dan rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah yang merupakan akibat dari rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan air limbah. Selain itu adalah rendahnya tarif pelayanan air limbah sehingga berakibat pihak swasta kurang tertarik untuk melakukan investasi di bidang air limbah.
V. Drainase
Isu-isu strategis dalam pengelolaan Sistem Drainase Perkotaan di Indonesia antara lain:
1. Belum adanya ketegasan fungsi sistem drainase
Belum ada ketegasan fungsi saluran drainase, untuk mengalirkan kelebihan air permukaan/mengalirkan air hujan, apakah juga berfungsi sebagai saluran
air limbah permukiman (“grey water”). Sedangkan fungsi dan karakteristik
sistem drainase berbeda dengan air limbah, yang tentunya akan membawa masalah pada daerah hilir aliran. Apalagi kondisi ini akan diperparah bila ada sampah yang dibuang ke saluran akibat penanganan sampah secara potensial oleh pengelola sampah dan masyarakat.
2.Pengendalian debit puncak
Untuk daerah-daerah yang relatif sangat padat bangunan sehingga mengurangi luasan air untuk meresap, perlu dibuatkan aturan untuk menyiapkan penampungan air sementara untuk menghindari aliran puncak. Penampungan- penampungan tersebut dapat dilakukan dengan membuat
sumur-sumur resapan, kolam-kolam retensi di atap-atap gedung, didasar-dasar bangunan, waduk, lapangan, yang selanjutnya di atas untuk dialirkan secara bertahap.
3.Kelengkapan perangkat peraturan
Aspek hukum yang harus dipertimbangkan dalam rencana penanganan drainase permukiman di daerah adalah:
Peraturan Daerah mengenai ketertiban umum perlu disiapkan seperti pencegahan pengambilan air tanah secara besar-besaran, pembuangan sampah di saluran, pelarangan pengurugan lahan basah dan penggunaan daerah resapan air (wet land), termasuk sanksi yang diterapkan.
Peraturan koordinasi dengan utilitas kota lainnya seperti jalur, kedalaman, posisinya, agar dapat saling menunjang kepentingan masing-masing.
Kejelasan keterlibatan masyarakat dan swasta, sehingga masyarakat dan swasta dapat mengetahui tugas, tanggung jawab dan wewenangnya.
Bentuk dan struktur organisasi, uraian tugas dan kualitas personil yang dibutuhkan dalam penanganan drainase harus di rumuskan dalam peraturan daerah.
4.Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan saluran drainase terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah ke dalam saluran drainase, kurang peduli dalam perawatan saluran, maupun penutupan saluran drainase dan pengalihan fungsi saluran drainase sebagai bangunan, kolam ikan dll.
5.Kemampuan Pembiayaan
Kemampuan pendanaan terutama berkaitan dengan rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah daerah yang merupakan akibat dari rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan drainase baik dari segi pembangunan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Permasalahan pendanaan secara keseluruhan berdampak pada buruknya kualitas pengelolaan drainase perkotaan.
6.Penanganan Drainase Belum Terpadu
Pembangunan sistem drainase utama dan lokal yang belum terpadu, terutama masalah peil banjir, disain kala ulang, akibat banjir terbatasnya masterplan drainase sehingga pengembang tidak punya acuan untuk sistem lokal yang berakibat pengelolaan sifatnya hanya pertial di wilayah yang dikembangkannya saja.
VI. Penataan Bangunan Dan Lingkungan
Isu-isu Strategis Sektor PBL di Kota Baubau, antara lain : 1. Penataan Lingkungan Permukiman
Masih kurangnya penerapan dan pengawasan aturan garis SEMPADAN Jalan dan Sungai.
Kepadatan bangunan dan ketinggian bangunan pada kawasan pusat perdagangan tidak sesuai dengan RTRW Kota Baubau.
2. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Masih kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan Bangunan Gedung.
Masih banyak bangunan gedung yang pengembangannya belum berdasarkan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
Masih banyak bangunan gedung yang belum dilengkapi sarana dan prasarana bagi penyandang cacat
Kota Baubau belum memiliki atau belum membentuk lembaga institusi dan Tim Ahli Bangunan Gedung yang bertugas dalam pembinaan penataan bangunan dan lingkungan.
3. Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan, implementasi dan pengendalian pembangunan
Rendahnya daya organisir diri masyarakat dalam pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan spesifik lokal
Rendahnya kesadaran kritis masyarakat terhadap masalah dan kebutuhan lokal
Tabel 2.1. Kajian Isu – Isu Strategis Kota Baubau
No Aspek Po tensi Peluang Pengembangan T antangan Pengembangan Lo kasi
FISIK LINGKUNGAN 1. Persampahan
Sudah ada SKPD yang menangani masalah pengelolaan
persampahan yakni Dinas kebersihan, pertamanan dan pemadam kebakaran Wilayah cakupan Pelayanan Persampahan di Kota Baubau meliputi 24 Kelurahan 1. Dokumen Perencanaan (MP,FS,DED)
Sudah ada perda yang mengatur tentang teknis pengelolaan sampah di Kota Baubau yakni PERDA No 6 tahun 2009
- Belum ada Masterplan Persampahan skala kota
Penyusunan Buku Putih Sanitasi, SSK & MPS sebagai dasar pelaksanaan Pengelolaan persampahan
Program yang terlaksana dan telah dijalankan saat ini dapat saja menghilang setelah masa pemerintahan saat ini bila tidak dilakukan sinkronisasi program yang akan berjalan oleh pemerintahan berikutnya Wilayah pengembangan cakupan pelayanan persampahan pada 19 Kelurahan di Kota Baubau Tersedianya anggaran pengelolaan
persampahan baik yang bersumber dari APBD, APBN maupun sumber-sumber pembiayaan lainnya
- Data base terkait persampahan masih kurang
2. Pewadahan
Telah tersedia TPA dengan sistem controlled Landfill yang mengarah kepada sanitary landfill
-Masih kurangnya pemilahan sampah Organik & Anorganik (termasuk sampah B3) dari sumbernya
Sosialisasi intensif mengenai kewajiban melakukan pemilahan sampah dari sumbernya termasuk Sampah B3
Tetap menjalankan aturan dan anjuran yang telah ditetapkan melaui Edukasi, penyuluhan, kampanye, sosialisasi, uji coba/percontohan sistem 3 R 3. Pengumpulan Awal
Tersedianya berbagai dokumen pendukung terkait pengelolaan sampah Kota Baubau diantaranya :
-Sarana pengumpulan sampah di tingkat masyarakat masih kurang (gerobak sampah, motor sampah dll)
Pengadaan gerobak sampah dan motor sampah
Target pelayanan dasar bidang persampahan sesuai dengan Permen PU No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimum
ASPEK TEKNIS
TEKNIS OPERASIONAL Masalah
4. Penampungan Sementara Dokumen RPIJM Kota Baubau
2014-2018 dilaksanakan Tahun 2013
-Belum ada Pemilahan sampah (sampah Organik & Anorganik) di Tempat Penampungan Sementara
Peningkatan TPS Biasa menjadi TPS Terpilah dan
Pembangunan TPST 3R Dokumen Buku Putih Sanitasi (BPS)
Tahun 2012
-Masih Kurangnya pembangunan TPS di kawasan permukiman sehingga menimbulkan tumpukan sampah
Pembangunan TPST baru dan sarana penunjang
5. Pengangkutan Dokumen Strategi Sanitasi Kota
(SSK) Tahun 2012
-Belum ada Pemilahan sampah (sampah Organik & Anorganik) di truk pengangkut
Pengadaan Sarana Armada truck sampah 3R
Dokumen Memorandum Program Sektor Sanitasi (MPSS) Tahun 2013
-Penetapan waktu (jam)
pengangkutan sampah disesuaikan dengan ketetapan waktu
pengumpulan sampah di TPS belum berjalan
Sosialisasi aturan tentang penerapan waktu pembuangan sampah ke TPS
Kesiapan Lahan seluas ± 8 Ha milik Pemkot di Lokasi TPA untuk Pembangunan sarana Ruang Laboratorium pengelolaan Gas Metan
- Armada pengangkut sampah masih kurang
Pengadaan Sarana Armada truck sampah 3R dan Pengadaan Sarana Armada Compactor Truck
Kesiapan Institusi Pengelola TPA yaitu Dinas Kebersihan Kota Baubau
-Biaya operasional lebih besar daripada pemasukan
Peningkatan Operasi dan pemeliharaan Prasarana Persampahan
-Metode retribusi sampah disesuaikan dengan cakupan wilayah layanan persampahan belum dikaji dan dilaksanakan secara optimal 6. Pengolahan 3R
-Kegiatan pembinaan/pemantauan sarana daur ulang misalnya Komposter, TPST masih kurang
7. Pengolahan Akhir di TPA
-Pemilahan sampah (Organik & Anorganik) di TPA masih belum optimal
Perencanaan Detail (DED) Peningkatan TPA
- Status TPA Kota Baubau optimalisasi sanitary landfill
Sosialisasi "Rencana" Peningkatan TPA kepada masyarakat sekitarnya - Sudah menghasilkan gas metan
- Penanganan lindi belum optimal 8. Pengendalian Pencemaran di TPA
- Masih minimnya fasilitas pengendalian pencemaran di TPA Wakonti
LeachateTreatment, Sumur monitoring, Buffer zone, Instalasi pengolahan lindi, Perpipaan gas metan, Drainase Air Hujan
9. Sarana Penunjang di TPA
- Masih minimnya sarana penunjang TPA Wakonti
Pengadaan Buldozer, Pengadaan Excavator, Pengadaan Compactor, pembangunan Pos Jaga, Pengadaan Jembatan timbang
ASPEK NON TEKNIS 1. Aspek Kelembagaan
-Kurangnya koordinasi antara 2 SKPD yang menangani Persampahan. Disamping itu, Dinas Kebersihan sendiri tidak hanya menangani masalah kebersihan namun juga pertamanan, pemakaman dan pemadam kebakaran
Komitmen stakeholder dalam hal alokasi pembiayaan dan inovasi teknologi pengolahan sampah
- Lembaga/kader lingkungan di masyarakat masih minim dalam pengelolaan persampahan
Terdapat LSM/BKM bahkan swasta yang berkontribusi dalam pengelolaan persampahan
Aktif Melakukan inventarisasi mitra-mitra potensial baik swasta, BUMN, LSM untuk bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan terkait persampahan
2. Aspek Komunikasi & Media
-Sosialisasi perubahan perilaku, pembinaan kader lingkungan & pola hidup 3R di tingkat basis masih kurang
Melanjutkan program-program melalui media komunikasi terkait pengelolaan sampah, seperti pemasangan Baliho, talkshow dan iklanmelalui Radio Ozon,SAW dan Lawero juga Baubau TV dan Semerbak TV
- Sosialisasi PERDA No. 17 Tahun 2012 - Pembuatan media yang kreatif dan
inovatif masih kurang 3. Aspek Keterlibatan Dunia Usaha
- Penyedia layanan persampahan tingkat basis masih kurang
Tetap Melakukan inventarisasi mitra- mitra potensial untuk bekerjasama dengan
Pemerintah Kota Baubau dalam Pelaksanaan Kegiatan Terkait persampahan
4. Aspek Pemberdayaan / PMJK
-Peran perempuan khususnya ibu rumah tangga sangat minim khususnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga
Adanya proses pengumpulan dan pemilahan sampah sesuai jenisnya kemudian dijual oleh masyarakat, dan membuat kerajinan tangan dari sampah umumnya dilakukan oleh ibu-ibu
- Kader lingkungan tingkat basis masih min
Melanjutkan program- program pemberdayaan yg terkait pengelolaan sampah seperti dari program Bank Sampah
5.
-PERDA No 6 tahun 2009, pelaksanaan & penerapan sanksinya belum berjalan
Melakukan sosialisasi dan kontrol terhadap pelaksanaan Perda No.6 Tahun 2009 tersebut
Belum ada aturan/sanksi mengenai kewajiban menyediakan tempat sampah di rumah
-Belum ada Aturan mengenai Pemilahan sampah (organik & anorganik) dari sumber
- Pengembangan Kawasan percontohan
prioritas belum optimal
Perundangan Terkait Sektor persampahan (Perda, Pergub, Perbub/Perwali, dst)
No Aspek Potensi Peluang Pengembangan T antangan Pengembangan Lokasi FISIK LINGKUNGAN
2. AIR MINUM
ASPEK TEKNIS 1. UNIT AIR BAKU Masih besarnya kapasitas sumber
air baku dari 6 (enam) sumber baik dari mata air maupun air permukaan adalah 330 sampai 415 lt/det, sedangkan kapasitas terpasang tahun 2012 sebesar 74 lt/det sementara kapasitas produksi tahun 2012 baru mecapai 27 lt/det
- Letak sumber air yang jauh dan hanya mengandalkan gravitasi tanpa pompa pendorong untuk sampai ke tempat penampungan (reservoir) sehingga volume air yang dihasilkan tidak maksimal
Memanfaatkan kapasitas sumber air baku untuk meningkatkan kapasitas terpasang maupun produksi serta meningkatkan kinerja pemeliharaan dan pengawasan serta sarana prasarana
Tingkat kerusakan hutan yang dapat mengancam berkurangnya debit air baik air permukaan maupun air tanah sebagai sumber air baku penyediaan air minum.
Cakupan Wilayah Pelayanan Air Minum Kota Baubau
- Kekeruhan air cukup tinggi dan sering terjadi sumbatan pada waktu musim hujan
- Mobilisasi proses pemeliharaan intake kurang maksimal
- Volume bak sedimentasi kurang besar dan banyaknya daun dari pepohonan
yang menutup lubang pipa
penghisapan.
- Tidak ada sarana dan prasarana yang
memadai untuk mempercepat
mobilisasi menuju intake
2. Alternatif sumber-sumber
pembiayaan guna membangun sarana prasarana air minum termasuk instalasi pengeolahan air minum (IPAM)
- Air yang dihasilkan oleh PDAM Kota Baubau belum melalui proses pengolahan air baku menjadi air minum tetapi menyalurkan airnya secara langsung dari sumber air baku kepada pelanggan
Membangun Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) sesuai dengan standar yg dipersyaratkan dan memfungsikan bangunan instalasi yang pernah dibangun
Optimalisasi pembangunan sarana prasarana air minum terkendala dengan keterbatasan anggaran
- Bangunan instalasi pengolahan yang ada di PDAM Kota Baubau adalah bangunan pengolahan lengkap dan ada berapa bangunan saringan pasir lambat yang sudah tidak difungsikan.
Masalah
3. TRANSMISI DAN DISTRIBUSI
- Debit air baku berkurang karena
jaringan pipa transmisi mengalami
penyempitan diameter karena
banyaknya sedimen pasir pada titik tertentu didalam pipa dan kurangnya aksesosoris wash out pada jaringan pipa transmisi
Melakukan monitoring jaringan
pipa secara terjadwal, dan
melakukan sosialisasi kepada
masyarakat
- Masih terdapat kehilangan air yaitu 30,37% karena meter air pelanggan rusak atau tidak terbaca tetapi belum dilakukan penggantian, meter induk
belum ada, meter zona untuk
mengetahui kebocoran pada wilayah tertentu belum berjalan dengan efektif, pemakaian air oleh pelanggan belum pernah dianalaisa dan dibandingkan dengan jumlah pengguna air serta pengecekan atas kebenaran pencatat
meter secara acak belum pernah
dilakukan.
Memetakan seluruh jaringan
distribusi dan transmisi dengan data sesuai dengan jenis, diameter, serta tahun pemasangan untuk jaringan pipa guna program optimalisasi jaringan sehingga teridentifikasi
masa manfaat serta Pengantian
water meter pelanggan yang
berumurdiatas 5 tahun
- Jaringan pipa distribusi sering
tersumbat oleh kotoran dan lumpur karena sistim jaringan pipa distribusi tidak dilengkapi aksesoris wash out.
Melakukan monitoring jaringan
pipa secara terjadwal, dan
melakukan sosialisasi kepada
masyarakat - Jaringan pipa distribusi yang sudah tua
dan posisi ditengah jalan serta banyak yang sudah keropos, meter pelanggan rusak dan adanya sambungan liar.
Penggantian pipa
transmisi/distribusi yang tingkat kebutuhan airnya tinggi secara bertahap disesuai dengan beban
pemakaian pada masing-masing
pelayanan dan untuk yang ditengah jalan direlokasi/diganti ke bahu jalan
- Kontinuitas pendistribusian air masih rendah yaitu 16 jam/hari karena tekanan air yang rendah sehingga beberapa wilayah masih dilakukan penggiliran pelayanan
Melakukan monitoring jaringan
pipa secara terjadwal, dan
melakukan sosialisasi kepada
4. PELAYANAN
- Cakupan pelayanan teknis masih
rendah disebabkan jaringan PDAM
Kota Baubau belum menjangkau
seluruh wilayah kecamatan yang ada
dan sebagian masyarakat masih
menggunakan air sumur/jaringan milik swadaya masyarakat yang dikelola sendiri oleh masyarakat.
- Pertumbuhan pelanggan belum
signifikan karena PDAM kurang
memotivasi masyarakat di wilayah teknis untuk memanfaatkan air PDAM dan perusahaan memiliki kesulitan untuk menambah jarigan transmisi dan distribusi karena terkendala dengan sumber pendanaan.
- Tingkat rata-rata konsumsi air
domestik adalah 11,38
m3/orang/bulan atau 62,37
m3/orang/hari dimana kondisi ini
masih dibawah tingkat konsumsi
minimal (Basic Needs Approach) yaitu 80–100 m3/orang/hari namun telah
memenuhi kebutuhan rata-rata
pelanggan sesuai Permendagri Nomor 26 Tahun 2006 yaitu 10 m3/KK/bulan atau 60 liter/orang/hari.
ASPEK NON TEKNIS 1. KEUANGAN
- Penerapan pedoman akuntansi belum optimal
Meningkatkan sistem pengawasan dan koordinasi
- Tingkat rentabilitas rendah (PDAM sulit berkembang, mengalami kerugian), jumlah saldo kas tidak mencukupi
Meningkatkan pendapatan dan menekan biaya operasi
- Efisiensi penagihan rendah Memperbaiki kerusakan water meter - Tarif rata-rata penjualan masih
dibawah harga pokok produksi
Meningkatkan sosialisasi dan mengoptimalkan pelayanan SPAM - Laporan keuangan belum menyajikan
informasi secara lengkap
Meningkatkan kualitas SDM di bidang keuangan dan komputer - Software Akuntansi dan billing sistem
belum tersedia
Meningkatkan kualitas SDM di bidang keuangan dan komputer 2. KELEMBAGAAN
- Kurangnya SDM dan Kualitasnya belum sesuai dengan kebutuhan (pengetahuan, keterampilan dan sikap)
Meningkatkan sistem rekruitmen SDM yang kompeten serta perencanaan dan pengembangan SDM (trainning, carrier system dll.) - Belum adanya SOP secara tertulis Meningkatkan pemahaman tentang
pentingnya SOP
- Rendahnya disiplin dan motivasi karyawMenerapkan punish and reward - Kurangnya fasilitas pendukung
(kendaraan operasional, komputer, software dll)
Menyiapkan anggaran
- Rendahnya kepuasan pelanggan (kualitas, kontinuitas, kuantitas)
No Aspek Potensi Peluang Pengembangan Tantangan Pengembangan Lokasi FISIK LINGKUNGAN
4. AIR LIMBAH ASPEK NON TEKNIS
1. KELEMBAGAAN
Tersedianya berbagai dokumen terkait dengan pengelolaan limbah Kota Baubau
-Masih ada 3 instansi yang menangani permasalahan air limbah
Penjabaran Peraturan
Pemerintah No.18 Tahun 2016 tentang perangkat daerah
Kota Baubau
Kesiapan Institusi Pengelola IPLT yaitu Dinas Kebersihan,
Pertamanan, Pemakaman
dan Pemadam Kebakaran
Kota Baubau.
- Belum tersedia Tata Laksana (Tupoksi, SOP dll)
Target RPJMN bebas pembuangan tinja secara terbuka di tahun 2014
Tidak terdapat permasalahan dalam penyediaan lahan (lahan sudah dibebaskan)
-Masih rendahnya kualitas dan kuantitas SDM pengelolah air limbah kota
2. PEMBIAYAAN
Pemerintah Kota Baubau bersedia menyediakan alokasi dana untuk
pembangunan pipa lateral & sambungan rumah dan biaya operasi dan pemeliharaan
-Masih kurangnya partisipasi pembiayaan/investasi dari pemerintah, masyarakat maupun swasta
Pembangunan dan Pengelolaan air limbah Kota Baubau baik yang terkait dengan perencanaan, pembangunan infrastruktur maupun monitoring dan evaluasi masih didominasi oleh pemerintah belum ada keterlibatan dari pihak swasta maupun masyarakat
ASPEK PEMBIAYAAN
- Dana alokasi untuk sektor
perumahan yang masih sedikit
Mencari sumber-sumber
pembiayaan perumahan dari dunia usaha/swasta
Kecilnya minat investor menanamkan modal di kota Baubau karena terbatasnya wilayah administrasi.
Kota Baubau
ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT
- Kurangnya Pemahaman rumah
sehat di Masyarakat
Mendorong peran KSM (Kelompok Swadaya Masarakat) dalam hal penyediaan perumahan dan permukiman khususnya perumahan swadaya
Peningkatan jumlah penduduk baik secara alamiah maupun karena urbanisasi akan semakin menuntut perluasan pelayanan
Kota Baubau
ASPEK LINGKUNGAN PERMUKIMAN
- Permasalahan permukiman yg
tinggal di bantaran sungai/kali;
Penetapan dan pembuatan batas GSS dan jalan inspeksi dengan penatapan sempadan sungai 60 meter dan penataan ulang kawasan kumuh di luar GSS melalui
pembangunan infrastruktur.
Kota Baubau
- Permasalahan permukiman yg
tinggal di pesisir pantai
Revitalisasi dan Optimalisasi kawasan permukiman dan keterpaduan dengan kegiatan perdagangan untuk permukiman di pesisir pantai (pemukiman kota pantai).
- Permasalahan permukiman kum
Dilakukan dengan konsep land konsolidation dan urban renewal pada permukiman padat dan
-Permasalahan permukiman yang berada di lahan yang mudah longsor dan curam.
Program relokasi dan pembangunan tanggul untuk daerah permukiman yang rawan longsor
-Kondisi topografi cenderung berbukit dan penyediaan air bersih mengingat sumber air bersih yang sangat terbatas
Rencana pengembangan pemukiman diatur berdasarkan tingkat kepadatan dan kemiringan lahan. Lahan dengan kemiringan antara 0-2% digunakan untuk perumahan kepadatan tinggi dengan KDB< 0.8. Kemiringan 3-15% diperuntukan bagi perumahan kepadatan rendah sampai sedang dengan KDB<0.6 dan 16-25% untuk kepadatan rendah dengan KDB <0.4
Pengembangan kawasan perumahan di Kota Baubau cenderung terpusat di Kecamatan
3. PERATURAN/PERUNDANGAN
-Implementasi aturan, tatacara perizinan mengenai kegiatan pembuangan air limbah bagi permukiman, industri rumah tangga dan perkantoran belum maksimal
-Belum ada Aturan/sanksi bagi pengembang dan masyarakat untuk menyediakan sarana Jamban yang sesuai standar teknis
-Sanksi tatacara perizinan mengenai kegiatan pembuangan air limbah bagi permukiman, industri rumah tangga dan perkantoran belum maksimal
4. PERAN SERTA MASYARAKAT DAN SWASTA
-Belum ada partisipasi aktif dari masyarakat dan swasta dalam pengelolaan air limbah
Perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terkait pengelolaan air limbah rumah tangga dalam hal ini terkait dengan perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan MCK sehat dan septic tank yang sesuai dengan standar teknis dan kesehatan.
ASPEK TEKNIS
-Pemerintah Kota Baubau selama ini dalam pengelolahan air limbah belum mengacu pada aturan dan dasar tekhnis yang tertuang dalam tata kelolah air limbah yang biasa di sebut dengan Masterplan Air Limbah.
Belum adanya masterplan, atutan umum dan aturan teknis yang menjadi acuan rencana pembangunan dan pengelolaan air limbah Kota.
Perencanaan Ketersediaan dokumen perencanaan (master plan, FS, DED)
No Aspek Potensi Peluang Pengembangan T antangan Pengembangan Lokasi FISIK LINGKUNGAN 3. PENGEMBANGAN PERMUKIMAN ASPEK TEKNIS Tersedianya berbagai dokumen pendukung terkait dengan pengembangan permukiman yakni : - Permasalahan Lokasi
Permukiman yang tidak sesuai RTRW
Dokumen RTRW Kota Baubau Tahun 2002 – 2020
-Sarana dan prasarana
lingkungan permukiman yang menurun kualitasnya.
Dokumen RP4D Kota Baubau tahun 2011 Dokumen SPPIP dan RPKPP Kota Baubau
Tahun 2011 ASPEK KELEMBAGAAN
Dokumen RPJMD Kota
Baubau Tahun 2013 –
2017
-Belum adanya Dinas / Badan/ Lembaga Teknis pada SOPD yang secara khusus menangani pembangunan dan
Pengembangan perumahan dan Permukiman;
Pembentukan Dinas yang menangani perumahan dan permukiman
Kota Baubau
Kesiapan lahan seluas 8 ha di Kawasan Palagimata untuk pembangunan Rusunami
-Lemahnya pelaksanaan koordinasi antar instansi terkait;
Peningkatan Kapasitas SDM dan Pelaku Pembangunan Perumahan dan Permukiman
Kesiapan Instansi
Pengelola Rusunawa yakni UPTD Rusunawa Kota Baubau
-Belum terbangunnya sistem informasi manajemen
perumahan permukiman yang terpadu dan terintegrasi;
Peningkatan Kerjasama dengan pihak lain yang terkait
-Pengembangan kualitas SDM yang masih terbatas terutama di bidang Perumahan dan Permukiman;
Kota Baubau
Masalah
Terbatasnya lahan murah untuk pembangunan perumahan dan permukiman karena harga lahan yang tidak terkontrol
Adanya Perda No.1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Baubau Pembangunan perumahan dan
permukiman yang dilaksanakan dengan pola Kasiba dan Lisiba yang Berdiri Sendiri.
-Pemerintahpun belum memiliki