BAB IV HASIL TEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL TEMUAN
3) Trend psikologi sekarang menurut para responden
Trend psikologi sekarang menurut para responden menerapkan berbagai pendekatan ilmu yang diterapkan sejak dini, antara lain dengan memadukan berbagai kecerdasan, seperti dinyatakan responden MS:”Mengembangkan karakter, kecerdasan sosial-emosional, kecerdasan kognitif, psikomotorik, KMI atau kecerdasan ganda, keseimbangan otak kanan dan otak kiri...sejak dini.” Penerapan berbagai bidang ilmu ini diteguhkan oleh para responden, yakni responden Y1,Y3,Y4,Y5,IK1,IK3,PK1,PK3,F1,F2,F3 (lampiran 3, hal: 35,5,9,11, 13,17,21,23,27,29,31,33).
Namun beberapa responden berpendapat bahwa ada kecenderungan lebih mengedepankan segi intelektual sehingga kematangan kepribadian menjadi kurang seimbang seperti diungkapkan oleh responden Y6 yang diteguhkan oleh responden IK2,PK2:”...lebih mengutamakan perkembangan intelektual tetapi kurang menyeimbangkan kematangan afeksi ...” (lampiran 3, hal: 15,19,25). 4) Trend pendidikan sekarang menurut para responden
Trend pendidikan sekarang tidak lagi menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber informasi pengetahuan bagi peserta didik seperti dikatakan oleh responden
Y5:”... guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan tetapi murid lebih mandiri mencari pengetahuan dengan cara diskusi kelompok, mengakses dari internet, maupun dari audio visual...” pendapat ini diteguhkan oleh responden Y1,Y4,BL1 (lampiran 3, hal: 13,5,11,37).
Pendidikan sekarang ini didukung oleh tenaga pendidik yang semakin kompeten dan profesioanl dengan ditandainya sertifikasi guru, seperti dinyatakan responden PK3: ”...pendidikan SDM selalu ditingkatkan ...terbukti dengan adanya sertifikasi melalui ujian...”, pendapat senada disampaikan juga oleh responden Y3,Y6,IK3,PK2,F1,F2,F3,MS,BL2 (lampiran 3, hal: 28,13,15,21, 25,29,32,33,35,40).
Namun menurut beberapa responden, tidak semua guru memiliki jiwa pendidik bila dibandingkan dengan lulusan SPG. Guru yang seharusnya dapat
digugu dan ditiru justru terkesan kurang bisa diteladani. Beberapa pendapat responden, yakni Y3 yang diteguhkan oleh responden F1,F3:”...guru seharusnya digugu dan ditiru pada kenyataannya tidak semua guru dapat menjadi
panutan terutama guru yang masih muda, terkesan kekanak-kanakan dan cara
berpakaian kurang mencerminkan sebagai pendidik juga semangat pengabdiannya menurun karena lebih berorientasi pada materi.” (lampiran 3, hal: 9,29, 33). Responden IK3 berpendapat:”...SDM pada umumnya sarjana dengan berbagai titel namun meski bertitel tidak menjamin dapat menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik...” (lampiran 3, hal: 21).
Menerapkan bahasa asing dalam proses pembelajaran seperti dikatakan responden F2 yang diteguhkan oleh responden Y2, dan BL1:”...menggunakan berbagai bahasa asing ...” (lampiran 3, hal: 31,7,37).
Upaya penanaman nilai-nilai akhlak dan moral dihidupkan kembali dengan menerapkan berbagai pendekatan seperti, pendidikan karakter dan pedagogi reflektif, seperti diungkapkan responden IK3:”...penekanan pendidikan karakter atau pedagogi reflektif...digiatkan kembali...” (lampiran 3, hal: 21). Pendapat responden yang lain, yakni Y3 yang diteguhkan oleh responden Y5,Y6,PK2,F1:”...menanamkan pembagunan karakter, nilai-nilai moral dan akhlak...” (lampiran 3, hal: 9,13,15,25,29). Bahkan menurut responden BL1 diteguhkan oleh F3, pendidikan sekarang memasukkan sikap anti korupsi dalam mata pelajaran, dikatakan:”...pendidikan anti korupsi menjadi salah satu mata pelajaran...” (lampiran 3, hal: 37-38,33). Sikap peduli lingkungan juga ditanamkan melalui pendidikan, seperti diungkapkan oleh responden BL2:”...menanamkan nilai keutamaan antara lain: kedisiplinan, nilai-nilai moral dan kemanusiaan, serta peduli lingkungan dengan membuat sampah organik, menjaga dan memelihara lingkungan dan membuat penghijauan lingkungan...” (lampiran 3, hal: 40).
Sarana pembelajaran dalam pendidikan sekarang ini ditunjang oleh alat-alat teknologi multi media yang mendukung proses pembelajaran, seperti diungkapkan oleh responden BL2 :”...menggunakan alat-alat teknologi multi media sebagai sarana...dan dalam mencari sumber pembelajaran...” yang didukung oleh responden Y2,Y3,Y4,Y5,IK1,IK2,IK3,PK1,PK2,PK3,F1,F2,MS,BL1,BL2
(lampiran 3, hal: 33.7,9,11,13,17,19,22, 23,25,28,29, 31,36, 37,40). Di sisi lain, sarana multi media dapat menyebabkan guru dan peserta didik menjadi kurang kreatif dalam mengerjakan tugas-tugas karena cenderung copy paste dari internet, seperti dikatakan oleh responden MS:”...internet mempermudah proses pembelajaran dan mempermudah bagi guru dan siswa dalam mencari sumber pembelajaran namun di sisi lain kreativitas guru dan siswa semakin menurun karena cenderung copy paste dari internet.” (lampiran 3, hal: 35). Menurut pendapat responden PK1, kecenderungan copy paste dimungkinkan karena kurangnya praktek, dikatakan:”...kurangnya praktek mengakibatkan peserta didik cenderung copy paste dalam mengerjakan tugas-tugas.” (lih. pada lampiran 3, hal: 22). Namun adanya internet dapat mendukung terselenggaranya pendidikan jarak jauh, seperti diungkapkan oleh responden IK2:”...terselenggara pendidikan jarak jauh lewat internet...” (lampiran 3, hal: 19).
Model pembelajaran dalam pendidikan sekarang sangat variatif dan peserta didik mengalami sendiri karena praktek langsung, seperti menanam dan mengamati tumbuhnya tanaman, pengembangan keterampilan maupun pengembangan bakat seni. Pendapat ini diungkapkan oleh responden, yakni MS:”...model pembelajaran sangat variatif, seperti cooking class, menanam dan mengamati pertumbuhan tanaman...” (lampiran 3, hal: 35). Responden Y4 mengatakan:”...pengetahuan tidak hanya diperoleh secara teori tetapi juga praktek langsung seperti seni budaya, latihan vocal, berpuisi,
drumband, dsb...” (lampiran 3, hal: 11). Sedangkan responden PK3
dengan pengetahuan dan keterampilan...baik tingkat SLTA maupun akademik...contohnya lulusan ATMI.” (lampiran 3, hal: 27). Pendidikan sekarang juga mengembangkan bakat dan talenta para peserta didik, seperti diungkapkan oleh responden F3:”...mengembangkan multi talent siswa secara optimal...sesuai dengan bakat dan minat peserta didik secara optimal...” (lampiran 3, hal: 33).
5) Trend kepemimpinan sekarang menurut para responden
Trend kepemimpinan sekarang pada prinsipnya dimulai dari diri sendiri dalam menggerakkan fungsi kepemimpinan sehingga upaya mempengaruhi anggota atau karyawan dapat lebih efektif, seperti pendapat responden PK1:”...partisipatif dan tut wuri handayani sehingga lebih berpengaruh kepada anggota serta lebih efektif dalam mencapai tujuan. Pada dasarnya kepemimpinan dimulai dari diri sendiri...” (lampiran 3, hal: 23-24).
Kepemimpinan sekarang ini melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan maupun dalam mengembangkan karya demi tercapainya visi dan tujuan bersama seperti diungkapkan oleh responden PK3:”Komunikatif, mengajak karyawan untuk maju bersama dalam mewujudkan visi, misi...melibatkan karyawan untuk memajukan karya...”; pendapat ini diteguhkan oleh responden Y1,IK1,F2 (lampiran 3, hal: 28,5,18,32). Melibatkan anggota atau karyawan akan tampak pula dalam sistem demokrasi dalam suatu organisasi, seperti dikatakan oleh responden Y3 yang diteguhkan oleh responden PK1,MS:”...menjunjung tinggi demokrasi dan musyawarah, memberikan kebebasan kepada anggota dalam mengungkapkan pendapat...” (lampiran 3, hal: 9-10,23,35). Namun kebebasan
berpendapat ini terkadang cenderung berlebihan, seperti diutarakan oleh responden Y3:”...kebebasan berpendapat...terkadang menjadi berlebihan dalam mengungkapkan pendapat...” (lampiran 3, hal: 9). Responden Y2 berpendapat bahwa kepemimpinan otoriter itu masih tetap terjadi, katanya:”...sebenarnya secara umum masih ada unsur otoriter...” (lampiran 3, hal: 7).
Adanya manajemen yang baik menjadi trend kepemimpinan sekarang disertai adanya pembagian tugas kepada anggota sesuai dengan bidang kompetensinya akan sangat mendukung keberhasilan suatu organisasi, seperti dikatakan oleh responden F1:”...manajemen dengan sistem yang dibangun secara baik...” pendapat ini diteguhkan oleh responden IK3:”Ada pembagian tugas sesuai dengan kemampuan dan bidangnya sebagai bentuk manajemen... (lampiran 3, hal: 29,22).
Peningkatan mutu SDM juga ditingkatkan sehingga semakin menunjang pencapaian yang menjadi cita-cita bersama, seperti yang diungkapkan responden Y5 yang diteguhkan oleh responden BL2:”...meningkatkan mutu pendidikan SDM sesuai dengan kompetensinya sehingga semakin profesional dalam bidangnya, diberi kepercayaan penuh...sehingga karyawan semakin mencintai pekerjaannya...” (lampiran 3, hal: 13,40).
Perhatian personal dan kesejahteraan anggota atau karyawan juga menjadi
trend kepemimpinan sekarang ini sehingga anggota merasa nyaman di tempat
kerjanya, serta kepercayaan penuh kepada anggota sehingga mereka semakin mencintai pekerjaannya, seperti dikatakan responden Y5:”Menerapkan semangat
persaudaraan, menyapa, merangkul, perhatian kepada karyawan, memperhatikan kesejahteraan material dan spiritual...diberi kepercayaan penuh sehingga karyawan semakin mencintai pekerjaannya...” pernyataan ini diteguhkan oleh responden Y6,PK2,MS,BL1,BL2 (lampiran 3, hal: 13,15,25,35.38,40).
Kepemimpinan zaman sekarang tidak lagi ada jarak antara bawahan dengan atasan yang terkesan menakutkan dan harus dihormati melainkan memiliki relasi egaliter dengan stafnya, seperti dinyatakan oleh responden Y6 yang diteguhkan olah responden IK2:”...memberi rasa aman, mengembangkan semangat persaudaraan, menempatkan diri sederajat dengan anggota, yang membedakan hanyalah fungsi dan perannya...” (lampiran 3, hal: 15,19).
Kepemimpinan sekarang ini memberdayakan anggota atau karyawan, mampu mempengaruhi anggota dengan baik, berani ambil resiko dengan bertanggungjawab, mempunyai visi dan misi yang jelas, seperti diungkapkan oleh responden F1:”Menempatkan karyawan sebagai mitra kerja,...memberdayakan karyawan, mampu mempengaruhi karyawan untuk menjadi lebih baik, berani ambil resiko, bertanggungjawab, mempunyai visi dan tujuan yang jelas” (lampiran 3, hal: 29). Responden F3 juga sependapat dengan menambahkan usaha untuk senantiasa menyesuaikan antara perkataan dan tindakan, katanya:”Berusaha
menyesuaikan tutur kata dan tindakan...” (lampiran 3, hal: 33). c. Pengalaman pergulatan perwujudan spiritualitas pendiri
Pengalaman pergulatan perwujudan spiritualitas pendiri ini ditanyakan kepada para responden suster yunior tahun yuniorat pertama hingga ke enam.
1) Pengalaman pergulatan responden dalam mewujudkan spiritualitas ulah tapa beserta hasilnya
Pengalaman pergulatan perwujudan spiritualitas ulah tapa para responden adalah sebagai berikut:
Responden Y1 mengatakan pergulatannya:”Saya mengalami kesulitan dalam latihan rohani khususnya dalam menciptakan keheningan. Juga dalam menerima setiap pribadi yang kurang saya sukai...” Hasilnya dikatakan”...dapat merasakan kehadiran Allah dan merasa bebas dalam berelasi juga dalam melayani” (lampiran 3, hal: 5).
Pergulatan responden Y2 diceritakan:”...bersikap menghargai segala yang ada,...juga dalam hal mengatur waktu pribadi dalam menjalin relasi pribadi dengan Allah...”Hasilnya dikatakan:”...saya dapat terlatih bisa rela...juga pengendalian diri tidak tidur siang...mampu bersyukur karena dapat latihan sabar menunggu... kesadaran baru bahwa suatu saat butuh orang lain...(lampiran 3, hal: 7-8).
Perwujudan spiritualitas ulah tapa responden Y3 diungkapkan :”... dalam menciptakan keheningan batin terutama pada waktu latihan rohani dalam hidup doa karena kecenderungan dalam diri saya inginnya ngobrol....” Hasilnya diceritakan:”...masih tetap setia dalam menanggapi panggilan...” (lampiran 3, hal: 10).
Responden Y4 mengatakan pergulatannya:”...berusaha memberi diri secara total dalam hidup doa dan mau berubah menjadi lebih baik.” Hasilnya diungkapkan:”...masih tetap setia pada panggilan dan tetap semangat...”
(lampiran 3, hal: 12).
Responden Y5 mensharingkan pergulatan dirinya dalam mewujudkan spiritualitas ulah tapa, dikatakan:”Melawan ego diri...meski belum konsisten.” Hasilnya diceritakan:”...bangga...dan bersyukur atas bantuan Tuhan” (lampiran 3, hal: 14).
Pergulatan perwujudan spiritualitas pendiri dalam hal ulah tapa untuk responden Y6 diceritakan:”...menciptakan keheningan batin dan berusaha menyeimbangkan antara hidup rohani dengan tugas perutusan dalam studi...” Hasilnya dikatakan:”...lebih bahagia, lebih mampu mengolah emosi, melayani dan memberi sapaan dengan tulus” (lampiran 3, hal: 16).
Pergulatan para responden di atas dibenarkan oleh pengamatan rekan sejawat peneliti, yakni para ibu komunitas dan pimpinan karya serta para formator yunior, berikut ini:
Responden IK1 mengatakan:”...tampak dari sikap tidak menuntut... menunda waktu istirahat untuk menerima tamu...” (lampiran 3, hal: 18).
Responden IK2 mengamati adanya perbedaan dalam upaya perwujudan spiritualitas ulah tapa, katanya:”Mereka berusaha menyikapi segala kesulitan dengan penuh iman...meski belum semua...karena sebagian daya juangnya sangat kurang” hasilnya dikatakan:”...yang sungguh berusaha... mampu bersikap tenang dalam menyikapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi...untuk yang kurang berusaha ...tampak reaktif” (lampiran 3, hal: 20).
Responden IK3 melihat adanya perjuangan dalam perwujudan spiritualitas ini, katanya:”...belajar untuk peka kepada situasi orang lain...membutuhkan
perjuangan untuk bisa ke luar dari diri sendiri, terbuka menerima teguran, tekun dalam hidup doa dan refleksi...” sedangkan hasilnya dilihat ada perkembangan dalam beberapa hal, katanya:” Cara berpikir dan bergaul, hidup persaudaraan menjadi berkembang, jujur dan terbuka meski masih terus berproses……….” (lampiran 3, hal: 22).
Responden PK1 kurang dapat melihat adanya pergulatan perwujudan
spiritualitas ulah tapa khususnya bagi responden yang tinggal sekomunitas dengannya, katanya:”Kurang begitu tampak ...karena sebatas kegiatan rohani yang dijalankan secara bersama...belum muncul dari kesadaran diri sendiri...ada kemungkinan...dipengaruhi oleh pendidikan dasarnya di postulat dan novisiat.” Hasilnya dikatakan:”...masih mampu bertahan dalam panggilannya sampai sekarang.” (lampiran 3, hal: 24).
Responden PK2 melihat pergulatan ulah tapa para responden tersebut dalam hidup doa meski dilihat belum disiplin secara konsisten, dikatakan:”Mereka berusaha menghayati hidup doa secara disiplin...” Hasilnya dikatakan: ”Mereka tidak terlambat dalam waktu doa bersama meski belum konsisten.” (lampiran 3, hal: 26).
Responden PK3 kurang mengetahui secara persis pergulatan perwujudan spiritualitas ulah tapa, karena berdasarkan pengalaman sejak sebelum kehadiran yunior yang sekarang, mereka belum pernah sharing dengannya, dikatakan:” Saya kurang tahu persis karena sejak awal datang, yunior yang tinggal bersama dalam komunitas sini belum pernah datang untuk pendampingan...mungkin punya trik-trik sendiri...namun masih mau...minta ijin dan tidak pilih-pilih
dalam hal makan...” Hasilnya dikatakan: “Menerima situasi sebagaimana adanya.” (lampiran 3, hal: 28).
Responden F1 melihat bahwa para yunior masih bergulat dengan dirinya sendiri, dikatakan:”...masih bergulat dengan diri sendiri……...” Hasilnya dikatakan:”Terkesan belum mampu memaknai hidup.” (lampiran 3, hal: 30). Responden F2 melihat bahwa para yunior berupaya mencari kehendak Allah dalam keheningan batin dengan mencontoh para suster senior, dikatakan:”...berusaha mewujudkan keheningan batin untuk mencari kehendak Allah...dengan mencontoh para suster senior.” Hasilnya dikatakan:”Catatan, tidak semua lho ya…..mereka mau mendekati pribadi suster senior yang “sulit” bukan menghindari...sehingga semakin kenal dan akhirnya mampu mencontoh penghayatan hidup rohani dan mampu menciptakan keheningan batin secara pribadi.” (lampiran 3, hal: 32).
Responden F3 melihat adanya usaha dari para yunior untuk terus-menerus mengurangi kelemahan dalam dirinya, katanya:”Mereka berusaha mengurangi kekurangan atau kelemahan dalam diri” hasilnya:’Mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai yunior untuk melakukan bimbingan secara rutin tiap bulannya kepada pimpinan karya, pimpinan komunitas dan formator meski belum semua…...”(lampiran 3, hal: 33).
2) Pengalaman pergulatan responden dalam mewujudkan spiritualitas pengendalian diri beserta hasilnya
Pengalaman pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri para responden adalah sebagai berikut:
Pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri responden Y1 diutarakan:”...kesulitan untuk bisa meninggalkan kecenderungan, yakni mudah tersinggung dan iri hati...” hasilnya dikatakan:“Saya tidak tenggelam pada situasi rasa tersinggung itu.” (lampiran 3, hal: 6).
Responden Y2 bergulat dalam hal kerelaan berbagi milik pribadi, ia mengatakan:”...memberikan suatu barang yang masih saya butuhkan atau saya sukai terasa berat untuk merelakannya.” Hasilnya diceritakan:”... saya dapat terlatih bisa rela...juga tidak tidur siang karena saya harus terima tamu peserta retret...juga mampu bersyukur karena dapat latihan sabar menunggu...memperoleh kesadaran baru bahwa suatu saat saya pasti butuh orang lain juga.” (lampiran 3, hal: 7-8).
Pengalaman pergulatan pengendalian diri responden Y3 dikatakan: ”...selektif dan prioritas kebutuhan, tidak ikut-ikutan menggosip, tidak mudah menilai negatif terhadap orang lain.” Hasilnya dikatakan:”Saya masih tetap setia dalam menanggapi panggilan hingga saat ini.” (lampiran 3, hal: 10).
Responden Y4 mensharingkan pengalamannya berkaitan dengan peristiwa yang belum lama dialaminya, diceritakan:”...karena teguran suster pimpinan yang keras membuat saya tidak mau makan malam bersama, ...” Hasilnya diungkapkan:“Bahagia, senang, lepas-bebas karena saya telah berani mengungkapkan isi hati saya kepada suster yang bersangkutan.” (lampiran 3, hal: 12).
Responden Y5 menyebutkan pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri, katanya:”...hidup sederhana dalam berpakain, makan,
kepemilikan dan dalam menggunakan sarana serta bersedia berelasi dengan orang-orang yang sederhana.” Hasilnya dikatakan:“Saya mengalami kebahagiaan.” (lampiran 3, hal: 14).
Responden Y6 menceritakan pergulatannya yang sedang diperjuangkan, katanya:”...terus-menerus meninggalkan...rasa malas, sikap cuek tidak meminta maaf tanpa merasa bersalah bila saya tidak disiplin dalam mengikuti acara-acara komunitas...” hasilnya dikatakan:”...bahagia dan mampu menjalin komunikasi secara lebih mendalam serta akrab dengan setiap pribadi dalam komunitas." (lampiran 3, hal: 16).
Pengamatan responden sebagai rekan peneliti mengenai pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri dari para yunior adalah sebagai berikut: Responden IK1 mengatakan:”...terbuka dalam mengungkapkan kebutuhan pribadi termasuk meminta uang transport...berarti kan mau rendah hati dan melawan rasa takut.” Selanjutnya responden juga mengatakan bahwa pergulatan spiritualitas pengendalian diri ini belum begitu tampak, dikatakan:”...para suster yunior masih belum diberi tanggungjawab penuh...masih dalam pembinaan khusus baik oleh para formator, pimpinan komunitas, maupun pimpinan karya; sehingga pergulatan perwujudan spiritualitas akan pengendalian diri belum begitu tampak.” (lampiran 3, hal:18).
Responden IK2 melihat pergulatan para yunior dalam hal membuat refleksi bulanan meskipun belum semua yunior melakukan hal yang sama, katanya:”Mereka berusaha untuk tidak mengikuti kemauan diri dalam menunda-nunda tugas khususnya dalam membuat refleksi bulanan.” Hasilnya
dikatakan:”Refleksi berjalan rutin setiap bulannya meski belum semua yunior...” (lampiran 3, hal:20).
Responden IK3 memberikan pendapatnya mengenai pengamatan pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri para yunior dalam hal mengatur waktu, penggunaan sarana dalam situasi bebas di saat tidak ada yang mengontrol maupun dalam hal menerima teguran, dikatakan:”Dalam hal pengaturan waktu...inginnya ikut cepat pulang dengan karyawan...juga dalam menjalankan doa,...penggunaan sarana-sarana dalam situasi bebas tidak ada yang mengontrol,...kalau ada kesalahan mau menerima teguran meski awalnya menolak.” Hasilnya dikatakan:”Terbuka dalam berkomunikasi dan dalam kerja...tidak lagi ambil keputusan sendiri tetapi mau bertanya...sebagai bentuk kerendahan hati.” (lampiran 3, hal:22).
Responden PK1 mengamati adanya usaha dari para yunior untuk mengalahkan kecenderungan diri yang hanya menyenangkan diri sendiri namun menurutnya masih perlu diingatkan, katanya:”...saya lihat berusaha mengalahkan keinginan untuk memiliki benda-benda yang nge-trend dan mengalahkan kehendak diri demi ketaatan menerima tugas yang kurang disukai, mengalahkan kecenderungan untuk bepergian atau jalan-jalan meski masih harus diingatkan.” Hasilnya dikatakan:”Mereka bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan.” (lampiran 3, hal:24).
Pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri para yunior diamati oleh responden PK2 dalam hal sikap hidup sederhana meski dilihat belum konsisten, katanya:”...berusaha terus-menerus untuk memiliki sikap hidup
sederhana dalam berpakaian dan penggunaan fasilitas yang tersedia meski belum konsisten.” Hasilnya dikatakan:”Mereka memiliki sikap menerima segala yang disediakan termasuk makanan yang disajikan.” (lampiran 3, hal:26).
Responden PK3 mengamati pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri para yunior dalam hal mengelola emosi, dikatakan:”Mengelola emosi. Akhir-akhir ini kalau sedang marah...diam, kemudian pergi ke kapel untuk berdoa dan berefleksi...” Namun hasilnya dilihat belum konsisten melainkan masih perlu diingatkan, dikatakan:”Gembira, mudah membantu, peka namun terkadang berlebihan kurang bisa menempatkan diri ...cenderung melangkahi batas kewenangannya. Ada kalanya juga mau minta maaf meski harus disadarkan terlebih dahulu.” (lampiran 3, hal:28).
Responden F1 juga melihat adanya perjuangan untuk hidup sederhana namun masih dilihat pilih-pilih sehingga hasilnya dilihat masih kurang tampak, katanya:”...hidup sederhana namun masih tampak pilih-pilih.” Hasilnya dikatakan:”Kurang tampak memiliki motivasi dan daya juang untuk mewujudkan nilai spiritualitas tersebut (spiritualitas pengendalian diri)” (lampiran 3, hal: 30). Responden F2 melihat pergulatan perwujudan spiritualitas pengendalian diri dalam diri para yunior dalam beberapa hal yang menyangkut kesadaran eksistensi sebagai religius, dikatakan:”Berusaha memilah-milah dan prioritas kepentingan, misalnya tidak lagi terus-menerus membuka internet tetapi menggunakan internet pada waktu ada kebutuhan penting...,dalam penggunaan uang, mengolah emosi dan afeksi menyangkut kemurnian hati dan semakin membangun kesadaran
bahwa dirinya adalah seorang religius.”Hasilnya dikatakan:”Dewasa dalam mengambil keputusan.” (lampiran 3, hal: 32).
Responden F3 melihat pergulatan para yunior mengenai perwujudan spiritualitas pengendalian diri dalam hal mengatasi kekurangn dalam diri para yunior sendiri, katanya:”Mereka berusaha mengurangi kekurangan atau kelemahan dalam diri.” Hasilnya dikatakan:’Mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai yunior untuk melakukan bimbingan secara rutin tiap bulannya kepada pimpinan karya, pimpinan komunitas dan formator meski belum semua…..”(lampiran 3, hal: 33).
3) Pengalaman pergulatan responden dalam mewujudkan spiritualitas cinta kasih yang melayani beserta hasilnya
Pengalaman pergulatan perwujudan spiritualitas cinta kasih yang melayani dari para responden adalah sebagai berikut:
Responden Y1:”...tidak selalu bisa dengan sepenuh hati dalam melayani...” hasilnya katanya:”...menjadi memahami makna pelayanan sehingga ...saya semakin bisa tulus dalam mengerjakan tugas pelayanan sehari-hari.”(lampiran 3, hal: 6).
Responden Y2:”...terasa berat pada saat melayani orang yang kurang saya sukai...” hasilnya dikatakan:”...saya semakin dapat mencintai orang yang kurang saya sukai karena kesadaran dalam diri bahwa pelayanan sebagai bentuk melayani Yesus sendiri.” (lampiran 3, hal: 8).
Responden Y3:”...memberikan diri secara total melalui tugas pelayanan...juga berusaha menyeimbangkan waktu untuk bekerja di unit karya
dengan waktu untuk berkomunitas.” hasilnya diceritakan:“Saya semakin terbuka dalam mensharingkan pengalaman apa adanya di komunitas...” (lampiran 3, hal: 10).
Responden Y4:”...memberi diri di tempat tugas...dengan cara mencarikan donatur...” hasilnya dijawab dengan rasa syukur:“Membahagiakan, karena orang-orang...mau menjadi donatur dan membawa perubahan bagi anak-anak yang tadinya tidak sekolah akhirnya bisa sekolah dan dapat membeli baju seragam...juga orang tua mereka tergerak hatinya untuk menyekolahkan anak-anaknya.” (lampiran 3, hal: 12).
Responden Y5:”...melayani dan menerima setiap pribadi ...terutama pribadi yang tidak saya sukai.” Hasilnya dikatakan dengan bangga:”Saya bersyukur karena semakin mampu menghayati spiritualitas sebagai religius SFS” (lampiran 3, hal: 14).
Responden Y6:”...menghilangkan rasa takut terhadap jenasah orang meninggal dan menghilangkan rasa jijik terhadap orang sakit...” Hasilnya dikatakan dengan penuh syukur: “Mampu bersyukur atas karya Allah yang memberikan kemampuan dalam diri saya untuk melayani dan memiliki kesediaan hati dalam menerima tugas tanpa pilih-pilih” (lampiran 3, hal: 16).
Pengamatan para responden sebagai rekan peneliti membenarkan pergulatan yunior dalam mewujudkan spiritualitas cinta kasih yang melayani, seperti dikatakan sebagai berikut:
Responden IK1 mengatakan pengamatannya bahwa para yunior mewujudkan spiritualitas cinta kasih yang melayani dengan kepekaan mereka, meski belum
semua yunior, dikatakan:”...tampak dengan mau terlibat dalam kegiatan kebersamaan, membantu suster yang tua, mentaati aturan, tidak pilih kasih, mau membaur. Meskipun adakalanya ada suster yunior yang kurang peka atau sebenarnya tahu namun tidak dilakukan. Sikap ini ada kemungkinan karena dipengaruhi oleh faktor keteladanan dari para suster yang lebih senior” (lampiran 3, hal: 18).